Keesokan harinya Siu Nie Ay bersama dengan Kong Hay telah berdiri di puing-puing bekas pondok Coa Leng In yang terbakarnya, dimana tempat itu terletak di balik pegunungan yang mengitari pemukiman Klan Coa.
“Apa yang terjadi, baru dua hari yang lalu aku melewati daerah ini,
namun sekarang tempat ini seperti telah dibakar seseorang”, kata Kong Hay.
“Ponakan Hay, kita periksa dulu tempat ini, mungkin benda yang kita cari ada di sekitar sini.” kata Siu Nie Ay.
“Bibi, apakah masih mungkin benda itu berada disini?”, kata Kong Hay lagi.
“Walau kemungkinan itu tipis sekali, kita masih dapat menemukan sesuatu yang lain,
yang akan mengarahkan kita pada seseorang yang sudah tahu atau bahkan sudah memilikinya”, kata Siu Nie Ay..
Setelah beberapa lama kemudian mereka memeriksa tempat itu, mereka tidak menemukan kecurigaan tentang goa Coa Leng In, karena penyamaran yang dibuat oleh Coa Leng In sangat sempurna ditambah lagi Sian Li menambahkan Ilmu ilusi pada permukaan pintu goa tersebut.
Dengan tanpa hasil Siu Nie Ay dan Kong Hay, lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk segera melaporkan kepada Kong Beng.
Di kalangan para petinggi Klan Benua Chong Yang, sebetulnya telah diketahui bahwa benda-benda pusaka itu ada 3 jenis,
Sebuah Kitab Teknik Beladiri Kategori Dewa kelas Sempurna,
satu Artefak Pelindung Tubuh dan
satu Buah Darah Naga yang berumur ribuan tahun.
Benda-benda ini konon berasal dari Benua Tengah yang ratusan tahun lalu menggemparkan Dunia Persilatan, namun pada ratusan tahun lalu seorang tokoh Benua Tengah telah membawa keluar benda-benda tersebut.
Dan dalam pelariannya tokoh yang dimaksud terluka parah dikejar-kejar oleh para ahli dari Benua Tengah.
Benua Tengah adalah keberadaan yang tabu di sebutkan oleh benua yang lainnya, karena yang berada sebagai penduduk di benua itu konon adalah para manusia dewa,
benua itu dikenal oleh Ras Iblis dan Ras Manusia disebut dengan Benua Thian Agung yang misterius karena belum ada seseorang yang menemukannya.
Itu pun harus disebut dengan setengah berbisik dengan ucapan yang sangat hati-hati.
Artefak Pelindung Diri dan Kitab Teknik Beladiri yang di maksud sebenarnya telah didapatkan oleh Coa Leng In, sementara Buah Darah Naga malah telah diasimilasikan oleh Han Long demi kultivasi 9 Tubuh Bintang.
Tokoh yang melarikan diri dari Benua Thian Agung adalah seorang tokoh yang tingkat kultivasinya telah mencapai Tingkat Raja Dewa.
Dia seorang tokoh yang tidak terikat oleh Sekte manapun di dunia beladiri, pada ratusan tahun lalu ketika semua benua di dunia beladiri masih terbuka, dimana semua orang yang memiliki kepandaian tinggi dapat berjalan-jalan antar benua dengan mudah,
tokoh ini dengan menggunakan kepandaiannya dia dapat menetap dan mencuri dari tiga Sekte terkenal pada masa itu di Benua Thian Agung, orang ini bernama Yap Kun Tek.
Tingkat kultivasi Raja Dewa bagi orang-orang Benua Chong Yang adalah tingkatan yang mustahil dicapai, karena penguasa Sekte ternama di benua Chong Yang dalam hal ini dipegang oleh Sekte Samudera Naga, baru mencapai tingkat kultivasi Tingkat Raja.
Dimana untuk mencapai Tingkat Raja Dewa masih ada Tingkat Orang Suci dan Tingkat Manusia Dewa dimana masing-masing tingkatan itu terbagi dalam 9 tahapan lagi.
Maka bagi tokoh-tokoh Sekte Benua Chong Yang, keberadaan Benua Thian Agung adalah harapan terakhir untuk mencapai ketinggian kultivasi yang dimaksud.
Di Benua Thian Agung, konon dapat mencapai kultivasi yang diidam-idamkan oleh seluruh benua di dunia persilatan karena energi di benua Thian Agung berkali-kali lipat lebih padat, dari benua lainnya karena letaknya berada pada titik pusat rotasi dunia.
Sementara itu di Hutan Kabut Putih, Kong Beng dan Cong Min sedang menghadapi ribuan binatang buas, terlihat mereka berdua dalam posisi terkurung oleh macam-macam binatang buas, sudah ada beberapa luka yang berdarah mengotori pakaian keduanya.
“Paman Beng kita tidak dapat masuk lebih dalam lagi ke hutan ini”,
kata Cong Min berteriak di tengah kepungan para binatang.
“Kerahkan kemampuanmu, kita akan membuat jalan berdarah” kata Kong Beng.
Aarrrrggghhhh!!!,
HHHaummm, !!!
Jeritan-jeritan para binatang buas itu seperti menjawab kata-kata Kong Beng.
Ukuran tubuh binatang buas ini puluhan kali lipat dari Kong Beng dan Cong Min,ada yang berbentuk singa namun tubuhnya menyerupai badak dengan kulit yang tebal dan sekeras baja, ada pula yang bersayap seperti elang namun berkepala seperti ular dengan leher yang panjang ketika mulutnya terbuka dapat selebar buaya, belum lagi binatang seperti ular raksasa namun memiliki kaki 4 buah dengan dilengkapi cakar yang sangat tajam.
Rupanya mereka telah mencapai area Hutan Kabut Putih yang dihuni oleh para binatang yang bisa membunuh para kultivator Tingkat Imajinasi Roh ke-6.
Mereka berdua memaksakan dirinya karena menduga benda-benda yang mereka cari pasti terletak di bagian inti Hutan Kabut Putih, dan tadinya mereka beranggapan bahwa Hutan Kabut Putih tidak seseram bayangan orang karena mereka berpatokan bahwa ada seorang anak yang berhasil menembus ke lantai 9 Pagoda Teleportasi pada ujian Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga.
Yang tidak mereka ketahui adalah keberadaan Han Long yang berhasil menembus lantai 9 Pagoda Teleportasi, yang kebetulan daerah teleportasi itu ke Hutan Kabut putih,
dimana bagi Han Long, hutan itu telah dijelajahinya bersama Sian Li, sang Ibu dan menaklukkan para binatang buas tersebut, dan Hutan Kabut Putih adalah arena bermainnya sejak dia berumur 5 tahun.
Bahkan bintang-binatang itu oleh Han Long sering digunakan sebagai teman berlatihnya,
di bawah pengawasan Sian Li, sang Ibu.
Seperti diketahui, tingkat kultivasi Kong Beng pada Tingkat Imajinasi Roh ke-5 Awal,
dan Cong Min pada Tingkat Imajinasi Roh ke-2 Menengah atau Lanjutan.
Menghadapi satu ekor binatang buas penghuni Kabut Hutan Putih yang sebanding dengan Imajinasi Roh Tingkat ke-6, hanyalah perbuatan yang konyol,
apalagi menghadapi ribuan binatang itu.
“Paman tolong aku!!!!”, jeritan menyayat dari Cong Min terdengar,
Ketika Kong Beng melirik ke arah suara itu,
terlihat dada Cong Min tertembus oleh sebuah cakar binatang.
Dengan mengerahkan Jurus terakhir “Kilat Petir Menghujam Gunung”,
Kong Beng melompat ke arah Cong Min,
namun jeritan itu adalah nafas terakhir dari Cong Min.
Dengan perasaan sedih Kong Beng hanya dapat menatap jasad Cong Min,
yang sementara dikunyah oleh binatang buas di depannya.
Antara marah dan kesedihan, Kong Beng hanya menyesali apa yang terjadi,
yang harus dilakukannya sekarang ini adalah berusaha melepaskan diri dari kepungan para binatang buas ini.
Hhheeeiiiiyyyaaaaa!!!
Teriakan Kong Beng melepaskan energinya dengan kekuatannya yang tersisa,
bermaksud mengejutkan para binatang yang mengepungnya,
hal itu memberikan cukup waktu walau hanya beberapa saat namun cukup bagi Kong Beng melompat dan melarikan diri dari kepungan binatang buas itu,
dengan cepat tanpa menoleh lagi, Kong Beng melarikan diri meninggalkan jasad Cong Min yang sementara di mangsa dan diperebutkan para binatang buas.
Di sebuah Manor yang disebut Manor Kabut Putih, Patriak Han Wi Teng berada pada aula pertemuan yang terletak di tengah-tengah lingkungan Manor, sedang duduk di kepala meja dengan ditemani oleh para penatua Klan Han, wajah mereka terpancar keceriaan dan kegembiraan dengan percakapan yang terjadi diantara mereka diselingi dengan tawa-ceria.
“Ha ha ha, usaha yang dikerjakan oleh Klan Han kita selama ini tidak sia-sia,
dibandingkan dengan pencapaian Klan Keluarga lain di Kota yang In”
ujar Tetua Han Weng Penatua ke-4 Klan Han.
“Hm, benar adik Tetua, kita dapat menunjukkan kualitas anak murid kita terutama Han Eng anak Patriak Kepala Klan”, kata Tetua Han Kui Penatua ke-2 menimpali.
“Kegembiraan kita tidak boleh terlalu berlebihan, masih ada yang harus dilakukan,
para junior klan untuk meningkatkan kultivasi mereka,
sebagai syarat Ujian sebenarnya di Ibukota Chong Yang”,
kata Han Leng Penatua ke-3 mengingatkan pada semuanya.
“Aku ingin meminta kesediaan para tetua terhormat Klan Han,
untuk memberikan sumber daya klan untuk kepentingan para anak murid yang sudah lulus ujian Pra Seleksi”, Kata Han Wi Teng kepada semua orang yang hadir.
“Pada zaman Leluhur Han Wi Ong, setiap murid yang berprestasi akan diberikan sumber kultivasi klan tidak terbatas yang ada pada klan kita,
namun bagaimana dengan murid bernama Han Long?,
aku agak ragu jika kita semua memperlakukan dia sama seperti lainnya”, kata Han Kui.
“Ya, aku pun sependapat dengan Tetua Ke-2,
karena Han Long bisa lulus karena perlindungan Han Eng,
dan dia hanya seorang anak yang bodoh”, jawab Han Leng.
“Apakah kita akan dianggap tidak adil di mata anggota murid lainnya?,
karena apapun hasilnya Han Long berhasil lulus”, sela Han Wi Teng,
jawaban Han Wi Teng sebenarnya karena unsur kedekatan Han Long pada Han Eng putrinya, dan dia melihat semenjak Han Eng bergaul dengan Han Long,
kecepatan kultivasi Han Eng terlihat pesat.
“Kepala Klan, hal ini perlu ku ungkapkan karena kita tidak mau membuang sumber daya yang kita miliki dengan hasil yang sia-sia” balas Han Kui.
“Bagaimana dengan Tetua Han Weng?”, kata Han Wi Teng.
“Memang ini sebuah dilema bila kita melihat tingkat kultivasi Han Long yang seperti manusia biasa tanpa kekuatan, tetapi sekalipun dia dalam perlindungan anak Han Eng,
namun dia membuktikan dirinya dapat melampaui anak-anak lainnya”,
jawab Han Weng, yang dikenal sedikit teliti dalam menyikapi sebuah kejadian,
walaupun secara usia, dia lebih muda daripada yang lainnya.
“Sekalipun terlihat bodoh dan kelihatannya tanpa kekuatan, aku mencurigai beberapa hal pada Han Long, apakah para Tetua menyadari setelah Han Eng dekat dengan Han Long, kemajuan Han Eng dalam kultivasi berjalan dengan cepat, bahkan Han Eng tahun ini baru berumur 9 tahun tapi dia sudah mencapai Tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak?”’ Han Wi Teng berusaha menyadarkan para tetua lainnya.
Bagi sebuah klan di Kota Yang In, untuk anak 9 tahun pencapaian rata-rata paling menonjol adalah pada Tingkat kultivasi kekuatan tubuh ke-7 Akhir.
“Namun Kepala Klan, anak Han Eng berkultivasi atas usaha sendiri dengan keras dan pahit, dan didukung oleh sumber daya klan, jadi peristiwa 6 bulan lalu adalah berkat dibalik bencana”, kata Han Kui tetap pada pendiriannya.
Pertentangan untuk mendukung Han Long dalam pemberian sumber daya klan akhirnya diputuskan, bahwa Han Long tetap diberikan sumber daya dan pil-pil penunjang kultivasi namun kualitasnya tidak sebaik yang diberikan kepada Han Eng dan 2 murid lainnya yaitu mereka yang juga lulus pada kelompok umur 16 - 20 tahun, Han Ek dan Han Wo.
Han Long tidak peduli dengan sumber daya kultivasi klan Han, karena tingkat sumber daya yang ada pada klan Han adalah sampah dimatanya, apalagi harus menunjang kultivasi 9 Tubuh Bintang yang sudah terbangun berkat Buah Darah Naga.
Saat ini seperti biasa, para anak murid Klan Han berlatih di belakang area aula, Han Eng sedang berlatih salah satu teknik dari 3 Teknik Beladiri Klan Han yaitu ‘Tarian Pedang Pemecah Gunung’, Teknik yang termasuk Kategori Bumi kelas Lanjutan.
Heiyyyaa!!!, Huh!......
Wuuuussss… ‘ Srrreeeet…, Srrrreeeeetttt…
Han Eng berlatih terus untuk mencapai kesempurnaan gerakan yang ada pada teknik beladiri tersebut.
Beberapa ratus meter jauhnya terlihat para senior Han Eng yaitu Han Ek dan Han Wo berlatih teknik yang sama, jarak Han Ek dan Han Wo berjarak puluhan meter saja dari masing-masing, namun jika seseorang melihat dan merasakan efek yang ditimbulkan oleh ketiganya ada perbedaan tipis, sekalipun Han Ek dan Han Wo sudah pada tahap Kekuatan Jiwa ke-2 Awal dan Menengah, namun angin gerakan yang ditimbulkan oleh Han Eng lebih tajam dan menyengat pada permukaan kulit lawan.
Tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak yang dimiliki Han Eng, tidak mengurangi daya serang teknik beladiri yang dikuasainya, dibandingkan dengan tingkat Kekuatan Jiwa yang dimiliki oleh Han Ek dan Han Wo.
Beberapa jam kemudian Han Eng beristirahat, dengan sedikit peluh yang muncul di dahinya, dia lalu mengatur nafas dengan cara duduk bersila dengan kedua telapak tangan pada posisi rapat dan menyentuh dadanya.
Usia Han Eng akan mendekati 10 tahun dalam tiga bulan lagi, namun postur tubuhnya sudah menandakan keanggunan seorang remaja putri, dengan punggung yang tegak melengkung, disangga oleh pinggul setengah dewasa dan sedikit tonjolan pada dadanya, dengan wajahnya dihiasi dengan hidung kecil mancung,mata yang bersinar cerah dengan bulu mata lentik menambahkan daya tarik yang mempesona dan ada anak rambut yang jatuh di kening dan pipinya menambah kecantikannya semakin lengkap,
para seniornya berpikir bahwa ketika dia beranjak dewasa akan menjadi kecantikan yang mengguncang sebuah negara.
Seringkali kakak seniornya di klan Han selalu berusaha mengambil hatinya dan banyak diantara seniornya bermuka manis, namun yang berhasil bergaul dengan Han Eng hanya beberapa senior termasuk Han Ek dan Han Wo, diluar Han Long.
Keberadaan Han Long di dekat Han Eng hanya dianggap pelayan Sang Putri Klan Han.
Apalagi dengan tampang Han Long yang bodoh tidak serius dan wajah Han Long sering dihiasi oleh senyum yang polos, bahkan yang dilayani oleh Han Long hampir semua kakak senior di klan Han, tidak ada yang mencurigai bahwa Han Long memiliki kekuatan yang dapat mengalahkan Han Ek dan Han Wo,
karena Han Long telah mengembangkan Teknik Kultivasi ‘9 Tubuh Bintang’.
“Dimana si bodoh itu?”, renung Han Eng.
Kalau ada kesulitan dalam Teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung, bahkan Teknik lainnya keluarga klan Han, Han Eng lebih suka mengungkapkannya kepada Han Long daripada ke ayahnya sendiri.
Sekalipun Han Long akan mengatakan bahwa dia tidak mengerti akan Teknik itu namun selanjutnya dia akan berbicara dengan diselingi ‘ha ha hi hi’ secara konyol namun selanjutnya seperti mengarahkan dirinya untuk melakukan gerakan yang terlewati atau teknik pernafasan yang semestinya dalam mengiringi gerakan tersebut.
“Adik Eng, kau berlatih demikian keras,
apakah perlu sesuatu untuk menghilangkan rasa lelahmu?’,
teriak Han Wo menawarkan bantuan.
“Junior Eng, jangan ragu meminta saran kami jika engkau merasa kesulitan dalam Teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung”, kata Han Ek, menempatkan dirinya sebagai seniornya.
“Terima kasih pada kedua kakak, aku hanya mencari si bodoh itu,
dari pagi dia tidak kelihatan, aku telah mencari di pondoknya namun dia tidak ada”
balas Han Eng pada keduanya.
“Baiklah kalau begitu biarkan kakak seniormu ini ikut mencari si bodoh itu”,
kata Han Wo dan disetujui oleh Han Ek.
Lalu keduanya pergi meninggalkan Han Eng.
Dimanakah Han Long berada?.
Han Long saat ini sedang berkultivasi, sebenarnya Han Long tidak pergi kemana-mana, dengan formasi yang ditinggalkan untuk dirinya dari Sian Li, ibunya,
dia merubah ruangan tempatnya seperti dirinya menghilang, kalau setingkat kepala klan saja tidak dapat merasakan atau melihat wujud Han Long dengan formasi dari Sian Li, apalagi kalau hanya setingkat Han Eng.
Ssssshhhhhhh….
Han Long terus mengolah pernafasannya sesuai teori Teknik 9 Tubuh Bintang yang sudah dikuasainya, dengan tingkat kultivasi Kekuatan Jiwa ke-3 Awal dia berusaha mengatur pernafasannya agar dapat beresonansi dengan kondisi konstitusi tubuhnya yang baru.
Dia merasakan betapa sulitnya mengolah teknik pernafasan 9 Tubuh Bintang ini walaupun tubuhnya telah terbangun akibat Buah Darah Naga. baginya teknik yang ada pada Klan Han dapat dilatih dengan sempurna olehnya walau hanya melihat cara Han Eng melatihnya.
Maka Han Long sering kali didapatkan tidak serius malah terlihat bodoh untuk melatih gaya Teknik Klan Han, karena baginya tingkat Teknik Kultivasi Klan Han tidak berharga.
Setelah beberapa jam kemudian dan dengan tekad pantang menyerah,
terdengar letupan di dantiannya yang langsung bergemuruh ke seluruh pembuluh darah sampai ke ujung kuku jari tangan dan kakinya, tanda bahwa tingkat kultivasinya menerobos pada Tingkat Kekuatan Jiwa ke-3 Menengah, dan tahap pertama 9 Tubuh Bintang dapat dikuasainya.
Setelah mengatur nafas, dia lalu beristirahat dan menormalkan kembali posisi tubuhnya dengan santai.
Dia lalu mengingat pada teknik beladiri yang diajarkan oleh Ibunya tentang kekuatan jiwa yaitu, ‘Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa’,
salah satu teknik tentang kekuatan jiwa dan fokus dalam manipulasi kondisi jiwa seseorang dan menghancurkannya.
Teknik ini telah dipraktekkan oleh ibunya ketika memusnahkan orang-orang dari Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah di pondok Coa Leng In. Dan nasib naas menimpa Ming Lok dan kawan-kawannya ketika berhadapan dengan Sian Li.
Saat Han Long melihat ibunya menghabisi orang-orang Sekte tersebut, dia sebenarnya terkejut atas kedahsyatan teknik tersebut karena ibunya tidak melakukan gerakan apapun namun hanya dengan tatapan mata saja.
Padahal teknik yang dikuasai oleh Sian Li baru pada tahap ke-4 dari Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa yang sebanyak 9 tahap itu.
Teknik ini membutuhkan kekuatan pikiran dan konsolidasi energi tubuh yang mengarahkan pada kekuatan mata seseorang, padahal ibunya tidak melatih kultivasi 9 Tubuh Bintang, karena kata ibunya teknik 9 Tubuh Bintang tidak semua orang dapat melatihnya,
hanya yang terpilih saja. sering kali Han Long bingung dengan ungkapan ‘Yang Terpilih’ dari kata-kata ibunya.
Apakah dirinya yang dimaksudkan ‘Yang Terpilih’?, terpilih dari apa?.
Ada 9 tingkatan dalam Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa dimana masing-masing tingkatan hanya dapat dicapai dengan usaha dan latihan yang keras dan kultivasi yang pahit dan sulit.
Teori tingkat pertama Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, tergambar pada pikirannya, gambar-gambar simbol dan kalimat-kalimat pada setiap simbol, berusaha Han Long cerna, semakin diteliti, otak dan pikirannya berdengung dengan rasa sakit yang timbul seperti sengatan panas yang membakar pada tengkoraknya,
seperti akan meledakkan tempurung kepalanya.
Tanpa disadarinya, bibir bawah Han Long berdarah karena digigit oleh giginya,
berusaha bertahan dan bertekad memahami teknik tersebut.
namun akhirnya Han Long jatuh dalam kondisi tidak sadar.
Lima jam berlalu dalam keheningan di tempat Han Long berkultivasi,
Aduhh!,
Ada suara erangan yang dalam keluar dari mulut Han Long ketika dia sadar,
dia menggerakkan tubuhnya, tangannya berusaha menggapai sesuatu namun hanya angin yang dia genggam.
Ketika matanya terbuka, ada kilatan yang menyilaukan matanya, dan seberkas sinar lembut keluar dari mata Han Long. dan tiba-tiba dia melihat bahwa dinding pondoknya telah berlubang sebesar tiga kepal tangan orang dewasa.
Han Long terkejut melihat hasil dari sinar matanya,
karena ada energi yang terlepas dari kedua matanya.
Mulutnya melongo melihat hasil ini, dia buru-buru mengatur nafas dan mengendalikan energi yang akan melompat lagi keluar dari matanya.
“Hiiiiyyy, sedahsyat inikah Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa tingkat pertama?”, gumamnya dalam hati, sambil dirinya bergidik ngeri.
Setelah menenangkan dirinya, Han Long berniat mengakhiri latihannya, dia lalu menyingkirkan formasi penyembunyian dirinya, dan berjalan keluar tetapi melalui pintu belakang pondoknya dan berjalan melingkar karena dia harus menemukan Han Eng agar tidak menimbulkan kecurigaan apapun.
Sementara itu Han Ek dan Han Wo berkeliaran mencari keberadaan Han Long, mereka berangkat dari kediaman Han Long namun mereka tidak dapat menemukan Han long, akhirnya keduanya berpencar dalam pencariannya, mereka berusaha menyenangkan Han Eng, walau bagaimana Han Eng adalah putri Kepala Klan, jika salah satu dari mereka dapat mendekati Han Eng dan menerima perasaan masing-masing mereka, maka jabatan Kepala Klan dapat dimiliki oleh salah satu dari mereka.
Walaupun keduanya bersaing namun semua itu tidak dimunculkannya secara terbuka.
Akhirnya mereka berdua kembali ke arena latihan yang tadi ditinggalkan keduanya.
Dari kejauhan mereka melihat Han Eng sedang bercakap-cakap dengan Han Long,
dengan rasa jengkel mereka berdua menghampiri Han Long bermaksud menegur Han Long.
“Hai bodoh dari manakah kamu seharian ini?”, Tegur Han Wo
“Adik Han Long, dimanakah kamu seharian?” Tanya Han Ek wajar,
karena dia yang menerima Han Long untuk bergabung di kelompok junior Klan Han.
“Kakak-kakak senior, aku baru bermain di hutan dekat manor” Jawab Han Long
“Apakah kepergianmu atas seijin Junior Eng?”, cela Han Wo memotong Han Long.
“Ingat, apapun yang kau lakukan dalam sehari harus seijin junior Eng,
karena dirimu diterima oleh klan hanya sebagai pelayan junior Eng”,
tambah Han Wo dengan mencibir.
“Maaf kakak senior, karena kulihat Senior Eng berlatih aku bosan, maka untuk menghibur diriku, aku berjalan meninggalkan arena latihan untuk berjalan-jalan di sekitar hutan itu” Han Long beralasan.
“Sudahlah kakak Ek dan Kakak Wo, si bodoh ini sudah menjelaskan dirinya, tidak perlu diperpanjang. memang diriku tadi terlalu berkonsentrasi pada latihan, jadi aku tidak memperhatikan dirinya pergi.
Ngomong-ngomong bagaimana dengan hasil latihanmu Han Long?”,
tanya Han Eng kemudian.
Walaupun Han Eng lebih muda dari Han Long karena dari awal perkenalan mereka,
Han Long selalu menyebut Han Eng tidak menyebut nama langsung, namun ditambah dengan sebutan Senior, karena Han Eng adalah anggota lama Klan Han dibandingkan dirinya yang baru bergabung 6 bulan lalu.
“Han Long, kamu harus serius berlatih dan berkultivasi, karena kamu adalah bagian dari Klan Han, jangan sampai memalukan nama klan”, kata Han Wo melampiaskan kejengkelannya.
“Sudahlah kakak Wo, dia tidak suka sekalipun dipaksa”, kata Han Eng.
“Walau begitu dia memiliki tanggung jawab untuk berusaha berkultivasi”, jawab Han Ek sambil matanya menoleh ke Han Long.
“Baiklah Kakak Senior, aku akan mencoba berlatih dengan tekun, teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung sudah kukuasai”, kata Han Long, agar Han Eng tidak terus membelanya.
“Kalau begitu, aku akan menguji penguasaanmu terhadap teknik itu”, kata Han Wo terburu-buru merespon, karena dia ingin memberi pelajaran pada Han Long.
“Terima Kasih Senior Wo, tapi jangan terlalu keras padaku” kata Han Long.
Lalu mereka berempat menuju arena lapangan latihan, dimana di sekeliling lapangan itu banyak anak murid Klan Han berkumpul pada masing-masing kelompok, mendengar akan ada perdebatan antara Han Long dan Han Wo, mereka lalu menyingkir dan akan menonton sebuah pertunjukkan yang menarik, perdebatan Junior melawan Senior klan.
“Ambil gerakanmu!”, kata Han Wo.
“Siap kakak Senior”, kata Han Long,
dia membuat kuda-kuda berdasarkan Teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung dengan tangan memegang sebuah pedang latihan yang terbuat dari kayu demikian juga dengan Han Wo.
Kuda-kuda yang dibuat oleh Han Long terlihat goyah dan tidak kokoh, lalu Han Long berlari menyerang Han Wo,
Wuusss…, Sreeettt…
Han Wo dengan senyum menyeringai, kakinya melangkah maju dengan tangan yang sudah siap untuk memukul sekali jadi, agar Han Long terpukul oleh pedang yang dipegangnya.
Namun tiba-tiba Han Long merubah arah pedangnya, dan langkah kakinya sedikit ditekuk agak berjongkok dan pedang itu memukul ke arah lutut Han Wo.
Plakk….!
Addouwww!!!
Jeritan keluar dari mulut Han Wo, karena tempurung lututnya terpukul oleh pedang ditangan Han Long dan bergeser, menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan,
membuat Han Wo seketika terduduk di arena, dari kedua matanya berair dengan mata merah menahan sakit di lututnya.
“Maaf kakak senior…, aku tidak sengaja memukulmu, tadinya aku sekedar menghindar dari gerakan dahsyatmu yang mengarah pada kepalaku”’ kata Han Long menghampiri Han Wo lalu berjongkok dan meraih lutut Han Wo.
Bukannya reda malah pegangan Han Long pada lututnya menambah penderitaan Han Wo.
“Enyah kau Bocah!!!” hardik Han Wo.
Sambil mengerang dia meminta agar yang lainnya membantu dirinya agar diantar ke ruang pengobatan.
Semua mata menatap tidak percaya, termasuk Han Eng dan Han Ek, karena gerakan yang dibuat oleh Han Long terlihat gerakan menghindar yang tidak lazim,
namun dapat dilakukan oleh Han Long ‘si bodoh’ itu, dan hasil gerakan itu terbukti dapat mematahkan salah satu jurus andalan dalam Teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung.
Han Eng melihat ke arah Han Long dengan tatap mata bersinar, baginya gerakan Han Long memberikan inspirasi tambahan pada Teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung dan memperkaya Teknik tersebut.
“Si bodoh yang aneh, darimana dia dapat melakukan gerakan menghindar tadi, bahkan melukai penyerangnya?, sebaiknya aku harus selalu bersamanya,
sekalipun dia bodoh, namun kebodohannya telah memberikan inspirasi pada setiap teknik beladiri yang ku latih”, renung Han Eng.