Berita tentang Han Wo dikalahkan oleh Han Long hanya dalam satu gerakan, langsung menyebar di seluruh warga Klan Han, dan kabar itu diterima juga oleh jajaran tetua klan Han.
Walaupun kekalahan ini bukan arti yang sebenarnya karena dilakukan tanpa kesengajaan, namun berita itu tetap menjadi topik pembicaraan di kalangan anggota klan, mereka berpikir bahwa Senior yang dianggap jenius seperti Han Wo, yang dihormati oleh para juniornya dengan pembuktian diri yang lulus pada ujian Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga, dapat terpukul oleh seorang anak murid yang bodoh sekelas Han Long.
Han Wo sambil menahan rasa sakit pada lututnya, dia merasakan rasa sakit yang lebih dalam di hatinya, bagaimana mungkin dirinya yang dihormati oleh para junior klan, bahkan rekan-rekan sebayanya atau usia sedikit di atasnya, menerima penghinaan seperti ini. akhirnya dia mengutuk dirinya sendiri.
Di sebelah Timur Kota Yang In, berdiri dengan kokoh sebuah manor Klan Coa. Di dalam lingkungan wilayah itu berdiri bangunan megah yang digunakan sebagai aula pertemuan Klan, dimana saat ini Coa King Hun sedang menerima Kepala Klan Meng dan Kepala Klan Cui, artinya tiga klan keluarga ras iblis berkumpul bersama-sama
Dengan didampingi oleh masing-masing tetua lainnya, mereka membentuk sebuah pertemuan yang dihadiri sekitar 15 orang.
“Kakak Coa King Hun, hasil dari Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga sangat mengecewakan klan Ras Iblis, kita hanya dapat meloloskan 2 anak murid di klan kita masing-masing, sementara Klan Han mereka mengirim sebanyak 4 orang anak murid”. kata Cui Tong, Kepala Klan Cui
“Apakah kita dapat mengajukan protes kepada Penatua Kong Beng?” balas Coa King Hun.
“Maksud kami datang bersama dengan adik Cui Tong, apakah kita dapat jalan keluar dengan melakukan percakapan dengan Penatua Kong Beng?” Kata Meng Ki kepala klan Meng, berharap karena keberadaan Penatua Kong Beng di dalam Klan Coa sehingga dapat menjalin hubungan khusus dengan Kepala Klan Coa.
“Apa yang kalian harapkan?, aku sendiri tidak leluasa bertemu dengan mereka, karena beberapa hari ini setelah kegiatan Pra Seleksi, baik Penatua Kong Beng dan lainnya tidak berada di ruangan mereka”, jelas Coa King Hun.
“Dimana mereka?, apa semuanya pergi kembali ke ibukota Chong Yang secepat itu?” Tanya Cui Tong.
“Hm, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan” jawab Coa King Hun.
Coa King Hun sebenarnya agak gundah dengan hasil yang terjadi dari Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, namun dia sedikit terhibur karena anak-anaknya berhasil lolos yaitu Coa Kun dan Coa Leng In.
Terutama Coa Leng In yang ternyata selama ini diam-diam menyembunyikan tingkat kultivasinya diatas Coa Kun. namun dia sendiri tidak tahu pasti tingkat kultivasi apa yang sudah dicapai oleh Coa Leng In, yang jelas sudah memasuki tahapan Kekuatan Jiwa, dimana sudah mengatasi kultivasi Coa Kun yang masih dalam Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak.
Tiba-tiba seorang berpakaian perwira masuk, dia adalah Cheng Kun kepala pengawal rombongan Penatua Kong Beng, dengan tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-2 Puncak, dia langsung menerobos ruangan, dia tidak peduli terhadap para Kepala Klan dan tetua lainnya, karena yang tertinggi saja yakni Coa King Hun baru pada Imajinasi Roh ke-1 Puncak.
“Kepala Klan Coa, anda diperintahkan untuk menghadap ke Penatua Kong Beng di ruangannya”, perintah Cheng Kun.
Dengan rasa terkejut, Coa King Hun menatap para kepala klan lainnya, karena baru saja mereka berdiskusi tentang keberadaan penatua Kong Beng, malah berita baru diterima oleh mereka melalui pengawalnya.
“Oh, siap kepala Komandan”, jawab Coa King Hun tunduk, karena dia tidak berani membantah orang di depannya, dengan tingkat kultivasinya dia merasa rendah diri.
Coa King Hun segera meninggalkan ruang aula itu dan mengekor pada Cheng Kun, tidak lama kemudian mereka berdua sudah berdiri di depan ruangan dimana Kong Beng dan kawan-kawanya suka melakukan pertemuan.
Cheng Kun mempersilahkan Coa King Hun masuk dan dia melangkan ke lain tempat. Coa King Hun berhadapan dengan Kong Beng yang sedang duduk dengan wajah pucat, sementara Siu Nie Ay duduk disebelahnya dan Kong Hay seorang pemuda remaja 17 tahunan, tidak jauh duduk dengan kursi yang terpisah tanpa didampingi oleh Cong Min.
Kong Hay meski masih belia namun dia sudah mencapai tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-2 Awal.
“Aku dan rombongan akan segera meninggalkan Kota Yang In, namun sebelumnya aku meminta Kepala Klan Coa membantuku untuk mendengar berita dan menyampaikan semuanya kepadaku melalui Kong Hay keponakanku”, kata Kong Beng kemudian setelah mempersilahkan Coa King Hun duduk di hadapannya.
Coa King Hun tidak langsung menjawab, dia sedikit memperhatikan Kong Beng yang wajahnya terlihat pucat seperti menderita luka pada tubuhnya. Namun demi menghormati orang di depannya dia langsung bereaksi,
“Berita apa yang harus ku terima dan sampaikan kepada para tetua terhormat ini?” balas Coa King Hun.
“Di balik pegunungan yang mengitari pemukiman klan mu, perhatikan bila ada sesuatu peristiwa yang tidak biasa”, kata Kong Beng.
“Dan semua hal yang kau lihat atau kau dengar harus dirahasiakan, kecuali kepada Kong Hay” Tambah Siu Nie Ay.
“Kepala Klan Coa, apapun yang terjadi kau harus melaporkan semua itu kepadaku, dan segala tindakan akan diperintahkan olehku” Kata Kong Hay dari tempat duduknya.
“Namun peristiwa apa yang tidak biasa itu?” tanya Coa King Hun penasaran, karena sebagai pemimpin kota Yang In dia harus tahu secara mendetail segala sesuatu yang terjadi di kota yang dipimpinnya, apa yang dimaksud oleh Kong Beng dan kawan-kawannya, dan dimana Cong Min?.
“Hal selanjutnya, kamu dapat berbicara lebih lanjut dengan Kong hay”, Kong Beng memutuskan.
“Aku ada sedikit permintaan penatua Kong Beng, dapatkah anggota klan ku dapat menambah slot untuk mengikuti ujian Sekolah Beladiri Samudera Naga?, demikian juga dengan Klan Meng dan Klan Cui”, kata Coa King Hun, dengan cerdik dia meminta slot tambahan tersebut karena nilai informasi yang akan diberikannya lebih berharga.
“Aturlah semua itu dengan Kong Hay, Namun penambahan itu hanya satu orang saja dari masing-masing klan”, kata Kong Beng memberikan wewenang pada Kong Hay.
Bagi Kong Beng permintaan Coa King Hun adalah hal remeh temeh, karena kegiatan Pra Seleksi itu adalah kegiatan yang diprakarsai oleh dirinya sendiri yang memperoleh persetujuan dari seorang Penatua Dalam Sekte Samudera Naga.
Dengan gembira Coa King Hun mengundurkan diri dari ruangan Kong Beng, dengan semangat menggebu dia lalu mendatangi aula pertemuan keluarga Klan Ras Iblis.
“Bagaimana pertemuan dengan penatua Kong Beng saudara Coa King Hun?” Tanya Meng Ki tidak sabar.
“Ha ha ha…, aku berhasil meyakinkan penatua Kong Beng,
agar kita masing-masing dapat menambah satu slot untuk ujian di Ibukota Chong Yang”.
Kata Coa King Hun dengan bangga
“Apakah berita keberuntungan ini benar-benar terjadi?”, tatap Cui Tong tidak yakin.
“Hm. adik Cui Tong, apakah aku bercanda pada kalian semua, kalau engkau tidak mau meraih kesempatan ini tidak mengapa” balas Coa King Hun sedikit cemberut.
“Aihh….!, tidak begitu, jangan marah kakak Coa King Hun,
saking gembiranya diriku tidak bermaksud menyinggung dirimu”,
Cui Tong buru-buru meralatnya.
Pertemuan itu mendapat hasil yang menggembirakan bagi klan keluarga Ras Iblis, dan Coa King Hun merasa bangga karena sebagai pemimpin kota dia dapat menyelesaikan permintaan dari koleganya, keluarga klan Ras Iblis.
Jauh di dalam kediaman Manor keluarga Klan Coa, dimana Coa Leng In berada.
Ditemani oleh seorang wanita cantik yang matang, dengan pinggang ramping yang disangga oleh pinggul yang bulat bentuk dada yang bulat dan penuh, Yap Ing, seorang wanita Ras Manusia yang menjadi selir dari Coa King Hun, menemani putrinya sambil bercakap-cakap.
“In er, apakah kamu sungguh-sungguh tidak akan melanjutkan ujian ke Ibukota?” tanya Yap Ing.
“Ibu, aku tetap pada keputusanku untuk tetap berada di kota Yang In” kata Coa Leng In.
“Lalu apa maksudmu dengan berlelah-lelah mengikuti ujian kemarin?” kejar Yap Ing.
“Aku hanya menguji diriku sendiri”, kata Coa Leng In.
“Apakah kamu siap menghadapi ayahmu, dimana dia sangat menginginkan kamu berhasil menjadi murid dan bagian dari Sekolah Beladiri Samudera Naga?”, kata Yap Ing dengan wajah serius dan cemas.
“Ibu serahkan semua itu padaku, aku akan jelaskan semuanya pada ayah”. jawab Coa Leng In dengan tenang.
Coa Leng In lalu pamit kepada ibunya karena akan pergi berkultivasi ditempatnya.
Goa Coa Leng In telah hancur dan goa dimana dia biasa berlatih sudah tidak aman lagi, apalagi dia saat ini memegang ‘12 lembar kulit binatang’ yang berisi gambar simbol-simbol dan huruf-huruf kuno pada setiap simbol dan dia belum sempat menguraikan artinya, maka dari itu Coa Leng In memilih tempat baru yang tidak jauh dari rumahnya, masih di dalam Komplek Klan Coa namun dia belum berani mengeluarkan lembaran kulit binatang itu.
Saat ini Coa Leng In telah berada pada tingkat Kultivasi Kekuatan Jiwa ke-2 Awal, dan dia telah menyempurnakan teknik beladiri Guntur Pelangi menjadi Kategori Surga Kelas Sempurna yang kedahsyatan Teknik ini menjadi lebih kuat dan olah teknik yang semakin rumit bila dimainkan oleh Coa Leng In, Bahkan bagi Coa King Hun ketika dia diberi kesempatan melihat Teknik Guntur Pelangi yang diperagakan oleh Coa Leng In, yang ada rahangnya jatuh, dengan mulut terbuka melongo.
Mengapa demikian?, hal ini didasarkan keberuntungan Coa Leng In sewaktu dia secara tidak disadarinya seperti dituntun menemukan Goa di balik pegunungan pemukiman klan Coa.
Dengan Pil Mustika Darah yang sudah dia telan, telah meningkatkan pengaruh Kultivasinya dengan cepat sehingga Teknik Guntur Pelangi mudah dicerna dan dilatih olehnya bahkan sampai meningkatkan Teknik tersebut dari Tingkat Bumi kelas Sempurna menjadi Tingkat Surga kelas Sempurna. Ada dua tahapan , yaitu masih ada Kategori Surga Kelas Pokok dan Kategori Surga kelas Menengah atau Lanjutan.
Untuk meningkatkan sebuah teknik beladiri memang tergantung dari orang yang melatih dan mempraktekannya, karena Coa Leng In telah menelan Pil Mustika Darah, juga tubuhnya mengenakan Rompi setipis Serangga yang dia sendiri belum mengetahui namanya, maka gerakan dan teknik ditanganinya dengan berbagai variasi gerakan yang berkembang dimana, tidak sembarang orang bisa lakukan serta daya serang teknik itu menimbulkan dampak kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibandingkan Kategori sebelumnya..
Sementara di tempat lain di dalam Klan Coa, Coa Kun kakak tiri Coa Leng In saat ini, dalam kondisi berkultivasi pahit, setelah menerima hasil dari ujian Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga,
Walaupun dia dinyatakan lulus, namun dirinya masih mengkhawatirkan perkembangan para pesaingnya, terutama dari Coa Leng In adik tirinya, belum lagi dia melihat tingkat kultivasi anak perempuan Ras Manusia yang usianya jauh dibawahnya ternyata tingkat kultivasinya, sudah mencapai Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak seperti dirinya..
Coa Kun merasa terancam dengan keberadaan Coa Leng In,dia adalah pewaris yang akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kepala klan, namun keberadaan Coa Leng In akan menjadi ancaman jika Coa Leng In tumbuh, yang lebih menjengkelkan adalah Coa Leng In akrab dan bersahabat dengan Ras Manusia Han Eng dan Han Long.
Seorang wanita 30 tahunan , wajahnya cantik tanpa cacat dengan postur tinggi langsing dengan pinggul bulat dan padat, namun tatapan matanya terkesan dingin, ciri kecantikan dari Ras Iblis, menghampiri Coa Kun,
“Kun er, apa yang mengganggu konsentrasimu?”, Tanya Mo Eng. ibu Coa Kun.
“Ibu, apa ada Teknik Beladiri yang melebihi Guntur Pelangi?”
“Kamu belum waktunya untuk melatih Teknik itu”.
“Tapi ibu aku tidak mau dikalahkan, aku harus cepat meningkatkan kultivasi selanjutnya”.
“Ada, tapi beresiko besar”.
“Aku tidak peduli, biarkan aku mempelajarinya”.
“Ibu tidak mengijinkan karena hanya kematian jika gagal”.
“Aku bertekad untuk selalu lebih kuat”.
“Teknik itu adalah teknik terlarang klan Mo, disebut dengan Teknik Tapak Iblis Gerhana, namun syaratnya yang berat”
“Apa Syaratnya?”.
“Seseorang harus menjalani ritual dengan dilengkapi beberapa ramuan khusus yang ada di klan Mo, untuk Mengganti Sumsum Tulang dan Mencuci Darah”. jawab Mo Eng dengan wajah cemas dan khawatir.
“Apapun resikonya aku sanggup menerimanya” kata Coa Kun.
Klan Mo di ibukota Chong Yang walaupun hanya klan menengah saat ini, namun ratusan tahun lalu pernah menjadi Klan terkemuka di Ibukota Chong Yang karena leluhur Klan yang bernama Mo Kui Bong pernah meraja di Ibukota dengan tahap Kultivasi Orang Suci, dengan Teknik Tapak Iblis Gerhana, dimana dia berhasil membuat tubuhnya Sekeras Baja dan warna kulitnya serta bulu-bulu, termasuk rambut, mata dan lainnya menjadi hitam legam dengan hawa panas menyengat beracun yang dapat membunuh lawan di levelnya hanya dengan udara tersebut.
Bahkan Raja Kerajaan Chong Yang harus menuruti perintahnya.
Namun keberadaan Mo Kui Bong belum ada beritanya lagi, apakah dia masih hidup atau sudah mati.
Sebelum dirinya menghilang, dia sempat meninggalkan warisan teknik itu pada keturunannya dan menjadi Teknik tertinggi Klan Mo termasuk Teknik Beladiri Kategori Surga kelas Sempurna.
Teknik itu pernah dilatih oleh beberapa keturunan dari klan Mo yang dianggap jenius, namun semuanya tewas saat ritual Mengganti Sumsum Tulang dan Mencuci Darah, Sehingga leluhur pengganti Mo Kui Bong, Mo Peng menyegel Teknik tersebut,dan masuk dalam Ilmu Warisan Terlarang di Klan Mo, dan akhirnya tidak diketahui oleh generasi berikutnya.
Salah satu unsur terpenting dalam ritual Mengganti Sumsum Tulang dan Mencuci Darah adalah Kristal Racun Bintang Hitam.
Bagi Ras Iblis dan Ras Manusia, kristal itu tidak dapat disentuh sekalipun telah menggunakan berbagai alas benda-benda pembungkus, bahkan sekeras baja pun akan meleleh bila diletakan sebagai alas Kristal Racun Bintang Hitam, karena tingkat korosifnya yang tinggi.
Di Klan Mo, alas penyimpanan Kristal tersebut hanya menggunakan sepotong kain bekas potongan pakaian yang pernah dipakai oleh Leluhur Mo Kui Bong.
Melihat tekad anaknya, Mo Eng hanya mengangguk pasrah, dia berjanji akan mengusahakan untuk mendapatkan ijin dari Kepala Klan Mo, karena Mo Eng dan Mo cun adalah cucu dalam Kepala Klan Mo Peng.
Sebulan berlalu tanpa terasa, Han Eng saat ini telah memasuki kondisi kultivasi, karena syarat untuk diikutkan dalam ujian sebenarnya Sekolah Beladiri Samudera Naga adalah minimal Tingkat Kultivasi Kekuatan Jiwa ke-1 Awal, maka dengan serius dan fokus yang tinggi Han Eng berusaha meningkatkan tingkat kultivasinya.
Cuuuussss….! Rrrrrr…..
Tiba-tiba ada letusan ringan dalam dantian pada tubuh Han Eng, dan selanjutnya diiring dengan getaran pada setiap ruas tulangnya yang rasanya ngilu dan sangat menyakitkan, tubuh Han Eng bergetar serta menggerakkan buku-buku di setiap sendi dan jari tangan dan kakinya,kemudian terdengar suara yang cukup jelas di telinganya, sumber bunyi itu pada bagian tengkorak kepalanya ,
Craack!....
Hentakan itu menandakan proses kenaikan tingkat kultivasi Han Eng pada Kekuatan Jiwa ke-1 Awal.
Han Eng membuka kelopak matanya yang jernih dengan bulu mata yang panjang melengkung, sesaat mata itu mengerjap-ngerjap, dengan cahaya dari mata yang bersinar terang bagai bintang, Kultivasi Han Eng meningkat, mulutnya membuat senyum menawan penuh dengan kegembiraan.
Seorang anak perempuan Ras Manusia yang belum Genap 10 tahun berhasil mencapai Tahap Kekuatan Jiwa ke-1 Awal di benua Chong Yang adalah termasuk Jenius apalagi hanya sebatas Kota kecil Kota Yang In.
Dan ini semua diperoleh oleh petunjuk iseng yang disampaikan secara bercanda oleh Han Long selaku sahabatnya, Walau hanya bercanda dan main-main penangkapan Han Eng jauh berbeda sebelum bergaul akrab dengan Han Long. Dia selalu mengutarakan setiap teori dari Teknik Beladiri dan kultivasi Klan Han yang sulit Han Eng mengerti hanya kepada Han Long daripada ke ayahnya, Han Wi Teng.
Penyampaian usul secara konyol oleh Han Long, ditafsirkan secara berbeda oleh Han Eng, karena pada peristiwa dia berlatih 7 bulan lalu, Han Long secara tidak sengaja menyela cara berlatih dirinya dan Han Long seperti memprotes cara latihannya sekalipun terlihat Han Long asal bicara, tetapi setelah dipikir oleh Han Eng apa yang dikritik oleh Han Long ada benarnya, ada makna yang lebih dalam apa yang dikatakan Han Long ketika dia berlatih, baik Teknik beladiri maupun teknik kultivasi klannya.
Malah Han Long secara terang-terangan tidak mau berlatih Teknik beladiri dan teknik kultivasi Klan Han itu, dia mengatakan bahwa teknik itu terlalu rumit dan membosankan.
Sebagai anggota Klan, hanya Han Long yang malas dan tidak mau berlatih, dan para instruktur serta para tetua pun membiarkannya, apalagi melihat tampangnya sebagai anak lelaki yang bodoh, dengan mulut yang selalu cengar-cengir.
Namun Han Long tetap berada di Klan Han karena semata-mata dia selalu mau membantu pekerjaan anggota dan para tetua yang lain tanpa protes dan mengeluh, apalagi dia memiliki tenaga kasar yang sangat kuat dibandingkan dengan anak seusianya bahkan para pemuda di klan Han pun mengakui tenaga kasar yang ada pada Han Long.
“Sudah waktunya aku menemui si Konyol Bodoh itu, apa yang akan dia protes ketika aku membicarakan Teknik Pesona Dewa Surgawi yang sempurna, karena ini saat yang tepat untuk menyempurnakannya sehubung dengan tingkat Kultivasiku yang sudah mencapai Kekuatan Jiwa ke-1”, gumam Han Eng.
Teknik Pesona Dewa Surgawi sebenarnya adalah teknik yang mengutamakan kekuatan jiwa seseorang, sekalipun Han Eng melatih Teknik itu sebelumnya namun tingkat kultivasinya masih dalam Tingkat Kekuatan Tubuh ke-9, yang kurang memadai untuk kesempurnaan Teknik yang lebih mengedepankan Kekuatan Jiwa, jadi Han Eng baru menguasai kulit luar teknik tersebut.
Dengan menggunakan Teknik Beladiri Tarian Pedang Pemecah Gunung dengan kombinasi Teknik Pesona Dewa Surgawi, maka lawan akan menghadapi ilusi yang tidak ada habisnya. Bahkan lawan akan merasa tengkorak kepalanya seperti mau pecah dan nafas lawan mudah lelah serta menimbulkan kesesakan pada sistem pernafasannya.
Dengan Teknik Pesona Dewa Surgawi, Han Eng dapat mempermainkan lawan yang sedikit lebih tinggi tingkat kultivasi dari dirinya..
Sementara Han Long seperti biasa dengan penerapan formasi di kediamannya dia menyembunyikan dirinya, dengan teknik rahasia yang diberikan oleh ibunya, dia pun berkonsentrasi meningkatkan baik, Teknik 9 Tubuh Bintang yang sekarang menjadi Teknik Kultivasinya dan ‘Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa’ ,Tahap pertama dari teknik kultivasi 9 Tubuh Bintang masih terus disempurnakan dan dikuasai dengan matang, demikian juga tahap pertama dari Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa.
Perbedaan yang sangat jauh setiap teknik beladiri maupun teknik kultivasi bila mengacu pada kualitas kategori dari masing-masing tingkat, Han Long sudah terbiasa oleh ibunya berlatih Teknik Kategori Surgawi kelas Sempurna, namun saat ini dia mengolah dan berlatih dengan kategori jauh diatasnya karena dua teknik yang dilatihnya adalah Kategori Dewa dan kelasnya adalah Kelas Sempurna.
Jadi wajar saja Han Long saat ini belum meningkatkan tahapan kultivasinya dari bulan sebelumnya masih tetap di Kekuatan Jiwa ke-3 Menengah.
Namun bila disandingkan dengan usia yang sekarang ini Han Long baru berumur 10 tahun dan 4 bulan berikutnya dia akan genap berusia 11 tahun, akan disebut anak Super Jenius di Benua Chong Yang.
Dengan gerakan sederhana Han Long dapat mengalahkan Han Wo dan Han Ek tanpa berkeringat, padahal 2 orang yang disebutkan itu adalah Kakak Seniornya yang termasuk Murid Elit Klan.
Tidak berapa lama Han Long membuka matanya, dan terlihat pada kedua matanya terpancar tatapan tajam seperti Belati, kini dia bisa mengendalikan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa tanpa ada kebocoran energi seperti yang terjadi sebulan lalu.
Ada senyum kepuasan tersungging di bibirnya, jika dilihat penampilan Han Long saat ini baik wajah maupun postur tubuhnya sangat berbeda dengan yang ditampilkannya di depan publik, Tatapan mata yang berkilat dengan mimik serius namun masih meninggalkan senyum misterius yang melihat apa yang di hadapannya adalah remeh dan tidak berarti.
Hilang sudah kekonyolan dan wajah kebodohannya, yang tampak saat ini adalah wajah seorang lelaki yang akan menundukkan lawan di hadapannya dengan pikirannya saja.
Bagai tersentak dari kondisi sebelumnya, mimik wajah itu berubah seketika dan memunculkan mata yang berputar dengan lincah dan mulut menyeringai bodoh dan konyol, karena dia sudah mendengar langkah kaki seseorang yang mendekati pondoknya, siapa lagi kalau bukan Han Eng.
“Bodoooh…, keluarlah!”, teriak Han Eng dari luar.
“Hay Senior Eng, mengapa kau datang?, tidurku terganggu” protes Han Long masih di dalam.
“Aku perlu dirimu, cepat Keluarlah!”, Perintah Han Eng pada Han Long. walau hubungan mereka seperti dua orang sahabat namun panggilan dari masing-masing tidak berubah, namun nada perintah Han Eng saat ini terlihat bukan memerintah yang sesungguhnya, bahkan ada sedikit nada manja untuk berharap untuk diperhatikan oleh Han Long.
Sebenarnya Han Eng sudah merasa adanya perasaan ketergantungan dengan keberadaan Han Long di dekatnya, yang tidak Han Eng sadari adalah perkembangan hormon dalam tubuhnya terjadi perubahan, bukan karena dia melatih untuk meningkatkan kutivasi tubuhnya namun mulai berkembangnya tingkat kedewasaan seorang gadis remaja.
Begitu Han Long keluar dari pondoknya, senyum cerah Han Eng bersinar, Han Eng tidak tahu mengapa dia merasa gembira melihat si bodoh ini, dia baru mencapai tahap Kekuatan Jiwa ke-1 Awal, dan dia ingin Han Long dapat melihat perubahan yang ada pada dirinya, namun dia harus menelan kekecewaan karena wajah dan tatapan Han Long tetap seperti biasa ‘bodoh dan konyol’ dengan mulut cengar-cengir.
“Han Long apa pendapatmu tentang Teknik Pesona Dewa Surgawi?” kata Han Eng.
“Oh senior Eng yang perkasa, mengapa bertanya pada si bodoh ini?”, balas Han Long.
“Apa maksudmu menambahkan kata ‘yang perkasa’, apa aku harus menarik bibirmu, buang wajah bodohmu!”, katra Han Eng.
“Ampun senior Eng, jangan tarik bibirku apalagi harus membuang wajahku, tapi kalau harus dibuang juga aku rela asal tempat pembuangannya di… ha… ti…Senior Eng he he he”, kata Han Long sambil tertawa kecil pura-pura.
“Oh sudah berani melawan Putri klan ya?” Kata Han Eng lagi sambil bibir bawahnya mencibir dengan mata berkilat, namun pipinya memerah, ada rasa gembira di hatinya melihat upaya bodoh Han Long ini.
“Ayo kita pindah ke tempat latihanku, aku mencoba mengajarkan Teknik Klan Han untukmu, ucapan terima kasihmu nanti saja, Teknik ini pernah kita baca teorinya yaitu Teknik Pesona Dewa Surgawi”. kata Han Eng lagi memancing reaksi Han Long, dan benar saja ada wajah keengganan yang ditampilkan Han Long di depan Han Eng.
“Aduh senior Eng, kau tahu sendiri aku tidak berbakat berlatih kultivasi dan teknik beladiri Klan Han, apalagi kalau berbicara tentang Teknik Pesona Dewa Surgawi, dimana gerakannya penuh dengan misteri bagiku bahkan teknik itu memerlukan pemahaman seperti otak orang gila dengan gerakan yang selalu berulang pada gerakan ke-18 dan ke-36 sebanyak ribuan kali diulang terus menerus”, bantah Han Long dengan senyum bodoh dan bola mata yang berputar-putar dengan lincah.
“Apa katamu!, Orang Gila!??, berulang pada gerakan ke-18 dan ke-36?....”
Nada suara Han Eng pertama-tama dikeluarkan dengan bentakan namun kemudian melembut seperti bergumam pada dirinya sendiri bukan ditujukan pada Han Long.
“Ya apalagi pengaturan nafasnya harus dikeluarkan pada interval gerakan ke-9, ke-18 dan berikutnya dalam 9 kali putaran seperti orang buang kotoran he he he…, jijik aku, malah semakin membosankan saja”, tambah Han Long.
Namun apa yang diutarakan oleh Han Long adalah sebuah petunjuk berharga yang didapat oleh Han Eng, dan Han Eng sudah terbiasa untuk menganalisa ucapan itu,
bisa saja pengertiannya terbalik atau dia justru mengikuti apa yang disuarakan oleh Han Long dengan cara menguji pada sistem kultivasi tubuhnya dan gerakan yang dilakukannya kelak ketika dia berlatih.
“Hi hi hi… akhirnya seperti itu ya?, ternyata tidak sesulit yang kubayangkan”, kata Han Eng pada dirinya sendiri, tanpa sepengetahuannya, senyum tipis Han Long akan muncul.