Rombongan Kong Beng, Penatua Luar Sekte Samudera Naga meninggalkan Kota Yang In pada dua hari lalu, tinggallah Kong Hay yang diperintahkan oleh Kong Beng untuk mengawasi tanda-tanda tentang benda-benda pusaka yang diduga berada di wilayah Kota Yang In.
Sepeninggalnya Kon Beng, Kong Hay mulai menunjukkan sifat aslinya, dia seorang pemuda remaja 17 tahunan namun memiliki tingkat kultivasi yang melebihi penguasa Kota Yang In yang kecil dan terpencil.
Dengan tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-2 Awal, tidak ada lagi yang ditakutinya, bahkan para Kepala Klan Ternama Kota Yang In hanya dapat menunduk kepalanya dan menuruti untuk memenuhi segala keinginannya.
Sama seperti Kong Beng yang masih murni berdarah Ras Iblis, Kong Hay memiliki sebuah kebiasaan yang sangat kejam yang selama ini tidak berani dia tunjukan kepada paman dan kepada Siu Nie Ay, yaitu menyukai segala kecantikan dari semua ras, dia tidak peduli terhadap status wanita tersebut sekalipun wanita itu usianya lebih tua bahkan sudah berkeluarga yang penting adalah wanita itu menarik hatinya.
Apalagi kepada gadis-gadis remaja usia 12 -16 Tahun.
Rupanya Kong Hay dalam mengejar tingkat Kultivasi tubuhnya berkaitan dengan kesukaannya terhadap lawan jenis, dia menganut Teknik Kultivasi Ganda.
Dimana dia akan tidur bersama lawan jenisnya lalu menggunakan teknik rahasianya dia menyedot energi lawan jenisnya hingga kering meninggalkan kerangka dan tengkorak belaka.
Sebenarnya selama ini dia sudah tertarik dengan Yap Ing, ibu Coa Leng In.
Dia menemukan Yap Ing wanita yang berusia 30 tahunan secara tidak sengaja ketika dia berada di komplek pemukiman klan Coa, sebenarnya Yap Ing jarang keluar dari halaman rumahnya, namun Kong Hay melihatnya ketika dia hendak memeriksa tempat di balik pegunungan yang mengitari Klan Coa, dan hal ini tidak disadari oleh Yap Ing sendiri.
Dengan keanggunan yang dimiliki oleh Yap Ing dengan postur tubuh tinggi semampai dibandingkan Ras Manusia lainnya, Yap Ing memang sebuah kecantikan seorang wanita dewasa yang menggiurkan dengan bentuk bagian pinggul membulat penuh untuk menopang lengkungan punggungnya yang lentur serta bentuk dua tonjolan pada dadanya dan didukung oleh wajah oval dengan dagu meruncing membuat setiap pria dewasa akan berdecak kagum dan bermimpi memilikinya.
Coa King Hun selalu menjaga agar Yap Ing jangan tampil di depan orang banyak, karena dia tahu akan nafsu dari rasnya jika melihat kecantikan Yap Ing, makanya Coa King Hun menempatkan Yap Ing agak Jauh dari pemukiman klannya.
Yap Ing sendiri tahu akan proteksi yang dilakukan oleh suaminya Coa King Hun, namun perlakuan Coa King Hun pada dirinya menambah rasa dengki dan cemburu Mo Eng yang memiliki status sebagai istri sah Kepala Klan Coa dibandingkan kepada tiga selir Coa King Hun lainnya
Mo Eng selalu menghasut para tetua klan Coa agar fasilitas dan asupan untuk Kultivasi Yap Ing dibatasi. bahkan pernah dalam beberapa bulan, asupan itu pernah dihentikan tanpa sepengetahuan suaminya, ketika suaminya pergi mengunjungi Ibukota Chong Yang selama 3 bulan.
Bagi seorang kultivator untuk memelihara dan meningkatkan tubuhnya diperlukan beberapa asupan selain buah-buahan roh dan pil-pil ajaib, yang terutama adalah barang-barang magis lainnya yang mengandung energi dunia yang tinggi untuk dapat diserap dan diasimilasikan.
Dan yang umum adalah sebentuk kristal sebesar jempol jari tangan namun didalamnya mengandung Energi Bintang Kultivasi.
Baik buah roh, pil dan benda-benda magis kultivasi dibagi menjadi beberapa tingkatan, sama seperti yang diterapkan pada kualitas yang berlaku bagi sebuah teknik Beladiri seorang kultivator yaitu, kelas dasar, kelas bumi, kelas surgawi, kelas dewa dan terakhir adalah kelas mustahil, dimana pada kelas mustahil pada barang-barang tersebut terbagi lagi menjadi 10 Tahapan Sempurna. semakin besar kelas sempurna sebuah benda maka akan dibutuhkan tingkat usaha penyerapan yang semakin sulit namun memiliki dampak penyerapan energi yang dahsyat.
Di Kota Yang In, hanya beredar kelas dasar paling banyak digunakan, sementara kelas bumi hanya klan keluarga kelas menengah, dan bagi Klan Coa dan empat klan ternama lainnya, kelas Surgawi adalah asupan yang disediakan dalam sebulan sekali itupun jika seseorang setingkat kepala klan dan tetua lainnya bersama dengan anggota keluarga inti saja.
Seperti halnya yang terjadi pada Coa Leng In ketika dia menelan Pil Mustika Darah, rupanya pil itu seharusnya dapat dikategorikan sebagai pil kelas Dewa yang seharusnya tidak mudah dicerna atau diasimilasikan begitu saja oleh Coa Leng In, namun dengan ajaib pil itu sendiri langsung larut dan berasimilasi dengan tubuh Coa Leng In.
Kong Hay saat ini berada pada kepala meja yang biasanya ditempati oleh Coa King Hun, sementara di sekitarnya yang mengelilingi ruangan aula adalah para Kepala klan dan tetua lainnya kecuali klan Tang dan Klan Han.
“Seperti yang sudah kalian ketahui, tentang permintaan para Kepala Klan mengenai penambahan slot tambahan setiap Klan, jangankan satu orang bahkan aku dapat mengusulkan bahwa setiap klan dapat menambah masing-masing 3 orang sekaligus, namun ada syarat untuk setiap penambahan”,
kata Kong Hay dengan suara yang keras berwibawa mengatasi percakapan para anggota yang hadir di ruangan itu. ada sekitar 40 orang dalam ruangan itu, karena para kepala klan berusaha memperkenalkan murid junior mereka untuk dinilai oleh Kong Hay.
Mata dan wajah setiap anggota Klan Coa, Klan Meng dan Klan Cui berbinar penuh harap.
“Sebutkan saja syarat itu biar kami menjadi jelas, dan kami akan berusaha memenuhi persyaratan tersebut senior Kong Hay”, kata Cui Tong Kepala Klan Cui, sekalipun usia Kong Hay jauh lebih muda namun karena tingkat kultivasi Kong Hay lebih tinggi maka sebutan senior itu lebih pantas dan wajar di dalam dunia beladiri.
“ Ha ha ha …, baiklah, masing-masing klan akan menyerahkan kepadaku sebanyak 10 kultivator wanita untuk menemaniku yang kupilih sendiri di masing-masing klan”, dengan gembira Kong Hay mengungkapkan maksudnya.
Bagi Ras Iblis 10 orang kultivator wanita untuk menjadi pelayan atau menemani tidur seorang kultivator seperti Kong Hay adalah hal lumrah, namun yang tidak mereka ketahui adalah maksud asli dari kata menemani yang dimaksud Kong Hay, kalau seandainya bahwa wanita itu akan dijadikan tungku kultivasi mungkin mereka akan berpikir dua kali, karena yang akan mereka serahkan adalah kerabatnya sendiri. dimana daya reproduksi klan Ras Iblis sangat rendah, jadi keberadaan seorang wanita kultivator sangat penting demi meningkatkan jumlah generasi setiap klan.
“Patriak Coa King hun, aku ingin memastikan pilihanku pada klanmu dulu, bagaimana?” tanya Kong Hay langsung pada Coa King Hun sambil seringai misterius terbentuk di wajahnya..
“Selama ini senior Kong Hay telah berada di antara klan Coa dan sudah mengetahui anggota klan kami, sebutkan saja nama mereka maka aku dan penatua lainnya akan mengantarkan ke ruanganmu”, Jawab Coa King Hun tersenyum.
Bagi Klan Coa untuk berhubungan dengan Kong Hay yang merupakan Murid Dalam di Sekolah Beladiri Samudera Naga, akan menambah prestise Klan Coa di Kota Yang In.
‘Baik, ini nama-nama wanita kultivator yang kuinginkan”, kata Kong Hay dengan isyarat tangannya dia menyerahkan daftar nama-nama itu.
Coa King Hun menerima daftar nama-nama itu, secara sepintas dia melihat barisan nama yang semuanya diawali dengan kata ‘COA’, namun tiba-tiba tatapannya tertegun ketika matanya menangkap sebuah nama bermarga ‘Yap’, karena satu-satunya yang bermarga Yap adalah selir terkasihnya.
Wajah Coa KIng Hun berubah merah padam menahan amarah, bagi Ras Iblis lebih baik mati daripada menderita sebuah penghinaan ketika wanita yang menjadi miliknya apalagi seseorang yang sangat dicintainya diambil paksa, Coa King hun tidak menyangka bahwa selera Kong hay akan jatuh pada salah satu istrinya, sekalipun wanita itu hanya status selir.
“Apa maksud Senior Kong Hay!!?”, terdengar nada dingin Coa King Hun, dengan tangan bergetar memegang daftar nama itu.
Dengan tenang Kong Hay balik menatap Coa King Hun, dengan mata menatap dingin dan seringai mulutnya yang menghina dia berkata,
’”dia hanya seorang Ras Manusia, apakah kau keberatan menyerahkan kepadaku,
dibalik keuntungan besar klan Coa?”.
“Tapi dia sudah menjadi seorang ibu dari anakku Coa Leng In dan Coa Leng In adalah salah satu calon untuk mengikuti ujian sebenarnya dari Sekolah Beladiri Samudera Naga”, jawab Coa King Hun.
“Patriak Coa King Hun, bersabarlah, ingatlah kepentingan yang lebih besar bagi kita semua”,
kata Cui Tong, yang memang menganggap bahwa beberapa Ras Manusia bisa dikorbankan untuk sesuatu yang remeh apalagi ini untuk kepentingan semua Ras Iblis.
Coa King Hun berbalik pada Cui Tong dan menatap tajam dan siap membunuh, Cui Tong terkejut melihat perubahan sikap Coa King Hun dan dia ketakutan,
“Kakak Coa, tahan gerakanmu, berpikirlah pada sesuatu yang besar “ kata Meng Ki berusaha menenangkan Coa King Hun, namun Coa King Hun malah semakin geram dan siap mengerahkan kekuatannya untuk bertarung.
Shuuuuut…!, Desss…!!!
Ughhhhh….!
Coa King Hun tiba-tiba terhuyung dan memuntahkan sedikit darah dari mulutnya,
Kong Hay melepaskan pukulan terhadapnya yang tidak terduga,
dia langsung tersungkur di lantai aula.
“Apakah kamu masih keras kepala!!!,
bagiku mudah menghabisimu dan mengambil selirmu menjadi milikku namun aku masih memberikan kesempatan padamu”, kata Kong Hay sambil menurunkan tangan kanannya yang tadi terarah pada dada Coa King Hun.
Hanya dengan desir anginnya saja, Kong Hay dapat melukai Coa King Hun,
ini membuktikan bahwa tingkat kultivasi Kong Hay jauh di atas Coa King Hun,
tatapan semua tetua dan dua kepala klan lainnya menatap ngeri terhadap Kong Hay.
Yang terkuat adalah hukum dan dapat mewujudkan semua keinginan, demikian juga Kong Hay menundukan semua klan di Kota Yang In dengan sedikit tindakan pada Coa King Hun, sang pemimpin kota.
Dimata semua tetua dan kepala klan Ras Iblis Kota Yang In, keinginan Kong Hay adalah sesuatu yang sederhana dan wajar, apalagi hanya seorang wanita Ras Manusia,
sekalipun wanita itu adalah seorang selir dari sang pemimpin kota.
Atas dorongan dan usul semua tetua dan Kepala klan lainnya, Coa King Hun tidak dapat berbuat apapun, apalagi dia merasa lemah dihadapan Kong Hay, hal ini sangat menyakitkan hatinya, karena Yap Ing adalah cinta sejatinya.
Dengan berat hati dia keluar dari ruangan dan pergi menuju kediaman Yap Ing selirnya untuk meminta pengertiannya agar mau menjadi wanita Kong Hay,
sebenarnya keputusan ini akan membuat dia diam-diam memiliki dendam membara.
Sementara Coa King Hun berjalan menuju kediaman Yap Ing,
Coa Leng In berada di kediaman ibunya dan Yap Ing sedang menemaninya.
“In er sudah tingkat apa kultivasimu?” Tanya Yap Ing.
“Pada tingkat Kekuatan Jiwa ke-2 Awal”, jawab Coa Leng In menatap wajah cantik ibunya yang mirip dengannya.
“Bagaimana kamu berkultivasi secepat itu?’, tanya Yap Ing terkejut, namunsebelum dijawab oleh Coa Leng In, terdengar suara berat seorang pria berkata,
“Adik Ing bagaimana kabarmu?”, sebuah suara dari jauh memasuki halaman kediaman tempat mereka berdua berada.
“Kakak King Hun baru sekarang engkau mengunjungiku,
angin apa yang membawamu kemari?”, balas Yap Ing.
“Ah, maafkan aku adik Ing, aku baru ada waktu sekarang ini”, jawab Coa King Hun,
sambil dia berjalan menghampiri keduanya, dia sedikit terkejut melihat Coa Leng In berada di dekat Yap Ing karena maksud untuk mengutarakan kehendak Kong Hay sedikit sungkan dengan adanya Coa Leng In.
“Ayah apa yang terjadi, apakah engkau sakit?”, tanya Coa Leng In menyelidik melihat wajah Coa King Hun pucat.
“Ayah tidak sakit, hanya ada sedikit luka ketika ayah berlatih tadi,
namun bukan masalah sudah diatasi dengan minum obat tadi”,
balas Coa King Hun pada putrinya.
“Adik Ing ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu”, kata Coa King Hun kemudian.
“In er, pergilah berlatih!, mari kakak King Hun masuk ke kamarku”,
kata Yap Ing menyadari bahwa percakapan mereka berdua adalah rahasia.
“Baik bu”, lalu Coa Leng In menjauh dari tempat Yap Ing menuju kediamannya.
Beberapa saat berlalu dengan singkat, terlihat Coa King Hun keluar dari rumah Yap Ing dan dia terlihat berwajah muram, pergi meninggalkan kediaman Yap Ing tanpa semangat.
Semua peristiwa itu tidak terlepas oleh pengamatan Coa Leng In yang ternyata tidak jauh pergi dari kediaman Yap Ing, kecurigaan Coa Leng In terbentuk ketika kedatangan ayahnya yang berwajah pucat dan meminta pembicaraan dengan ibunya secara rahasia.
Setelah dilihat ayahnya berlalu, dia lalu pergi menghampiri kediaman ibunya.
Ketika dia memasuki ruangan ibunya, dari luar dia mendengar isak tertahan dari suara ibunya, seketika wajahnya memancarkan kemarahan, Coa Leng In selalu menyayangi ibunya, dan dia selalu mencurigai anggota klannya bila sudah berhadapan dengan ibunya walaupun ibunya memiliki tingkat kultivasi Kekuatan Jiwa ke-3 Awal, namun tingkat seperti itu tidak berarti di Kota Yang In, apalagi ada beberapa anggota Ras Iblis yang bersedia mencelakai Yap Ing di bawah perintah Mo Eng istri sah Coa King Hun.
“Apa yang terjadi ibu?, apakah ayah menyakiti ibu?”, dengan wajah marah Coa Leng In bertanya.
“Ini bukan ayahmu, malah ayahmu tidak berdaya berhadapan dengan perwakilan Sekolah Beladiri Samudera Naga, yakni Kong Hay”, jawab Yap Ing.
“Ada apa dengan senior Kong Hay?”, tanya Coa Leng In lagi.
“Dia …meng…hendaki… ibu”. jawab Yap Ing dengan terbata-bata dan sedih.
“Apa!, apakah dia bermaksud menikahi ibu?,
bagaimana mungkin?, usianya masih terlalu muda,
lalu ayah seorang kepala klan tidak berdaya menghadapi si brengsek Kong Hay,
ibu tenang saja aku akan bertindak mengatasi si sombong itu”,
keterkejutan Coa Leng In semakin meninggi,
lalu diikuti oleh nada yang mantap penuh dendam.
“Jangan kau bertindak putriku, ayahmu saja tidak berdaya di bawah pukulannya,
apalagi ini menyangkut kepentingan seluruh Klan kita”,
kata Yap Ing sambil menjelaskan duduk perkara yang sudah dia dengar dari suaminya,
dan atas desakan semua kepala klan lainnya bahkan para tetua di klannya sendiri atas kehendak Kong Hay.
Mendengar semua itu, Coa Leng In hanya terdiam dan raut wajahnya menunjukkan ketenangan di hadapan ibunya namun dia sudah merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Kong Hay.
Kehebohan yang ditimbulkan oleh syarat Kong Hay menembus tembok aula klan Coa dan hal itu pun jadi pembicaraan di seluruh warga Kota Yang In, terutama keinginannya untuk menghendaki selir Coa King Hun yang cantik.
Semua itu menimbulkan rasa tidak puas terutama bagi klan Tang dan Klan Han, dimana mereka tidak dapat menambah slot untuk ujian sebenarnya di ibukota Chong Yang.
Di Klan Tang, Tang Hun Beng berwajah gusar, dia ditemani oleh para tetua Klan dimana ada juga Tang Han dan anaknya Tang Yan, dimana Tang Yan berhasil masuk sebagai peserta ujian sebenarnya untuk Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Sekalipun Tang Hun Beng adalah Ras Iblis namun dia adalah seorang yang tidak pernah membedakan ras yang terpenting bagi dirinya adalah bakat seseorang untuk menjadi anggota klan, namun bila seseorang ingin menjadi anggota klannya dengan otomatis orang itu harus mengganti marganya dengan nama ‘Tang’.
“Klan Ras Iblis terlalu licik dengan memanfaatkan Kong Hay, seorang Junior Sekolah Beladiri Samudera Naga’, Ungkap Tang Hun Beng.
“Lalu tindakan apa yang harus kita lakukan?”, tanya Tang Han, dan tetua lainnya turut memperhatikan pertanyaan itu dan menunggu reaksi dari Kepala Klan.
“Hubungi Kong Hay dan kita bersedia memberikan apa yang dia inginkan”,
kata Tang Hun Beng.
Mendengar hal itu, para petinggi klan Tang lalu menyiapkan beberapa strategi dan beberapa usulan hadiah diluar penyediaan beberapa kultivator wanita yang cukup menarik bahkan mereka bersedia kalau Kong Hay akan mengambil istri atau anak mereka, karena dengan demikian mereka akan memiliki kedekatan dengan Sekte Samudera Naga dengan menjadikan Kong Hay bagian dari keluarga mereka.
Reaksi berbeda didapatkan di dalam Klan Han, Kepala Klan dan tetua lainnya tidak mengambil keputusan apapun karena apapun yang akan mereka buat adalah sia-sia, mereka menyadari bahwa Ras Manusia tidak memiliki akses seperti Ras Iblis.
Di dalam tempat latihan Klan Han,
“Han Long, apakah kau mendengar berita sekarang ini? yang terjadi menyangkut sahabat kita saudari Leng In”, Han Eng berkata pada Han Long yang terlihat sedang berjalan menghampirinya.
“Aku mendengarnya, terus harus bagaimana?”,
kata Han Long sambil menggigit buah roh yang dipegangnya.
“Kita harus menemuinya”, balas Han Eng.
“Sabar dulu senior Eng, bagaimana cara menemuinya?,
setelah menemuinya apa yang akan kita lakukan?”, tanya Han Long lagi.
“Sudahlah, yang penting adalah menemui kakak Leng In dulu”,
kata Han Eng sambil tangannya meraih tangan Han Long.
Di kediaman Klan Coa terlihat Han Eng dan Han Long di luar benteng, dihadang oleh penjaga klan Coa, mereka dilarang memasuki wilayah klan Coa.
“Kakak Leng In keluarlah!!!”, teriak Han Eng mengerahkan semua tenaganya.
“Diam..!, apa yang kalian lakukan”, hardik penjaga Klan Coa. sambil tangannya berusaha memukul Han Eng, namun dengan tingkat Han Eng sekarang, serangan itu dengan mudah dihindarinya malah Han Eng melancarkan tamparan yang terlihat ringan.
Plak…, Plak..!!!
Uggghh.
Penjaga itu terkejut lalu wajahnya meringis dan dari mulutnya keluar cairan merah dengan satu buah giginya tanggal. tamparan itu dua kali menyentuh wajahnya.
“Kurang ajar !!!, rasakan ini”, kata penjaga itu membalas dengan memasang kuda-kuda menyerang, namun sebelum dia bergerak tiba-tiba ada serudukan kearahnya,
“Hay jangan berkelahi, Tuan ampuni kekasaran Senior Eng”, kata Han Long.
Namun yang terjadi, Penjaga itu tambah meringis dengan kedua tangan memegang perutnya, karena dengan tidak sengaja, kepala Han Long menyentuh ulu hatinya dan terasa ada sengatan yang terasa menyakitkan dan semua itu menambah penderitaannya, sampai akhirnya dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Han Long malah merunduk terlihat seperti mau sujud terhadap penjaga itu, tapi gerakan itu adalah sentuhan tangan Han Long yang menyentuh kaki penjaga itu dan selanjutnya penjaga itu berjongkok dengan air mata yang keluar seperti menangis menahan penderitaan yang makin hebat.
“Han Long tidak perlu bersujud kepada penjaga rendahan itu!”, perintah Han Eng.
Teriakan Han Eng terdengar oleh para anggota klan coa di dalam benteng klan, dan Coa Leng In pun mendengar panggilan namanya, sekalipun jarak antara benteng dengan kediamannya cukup jauh namun Coa Leng In dengan persepsinya dapat mendengar suara Han Eng yang telah dikenalnya, sehingga dia pun bergegas keluar dan berlari ke arah benteng.
“Saudara Han Eng dan Han Long, apa kabar?”, teriak Coa Leng In.
dari jauh Coa Leng In menyapa,
“Apa yang terjadi?, dan kamu kenapa kamu ribut dengan tamuku”, kata Coa Leng In sambil menatap wajah penjaga yang sedang berjongkok kesakitan dengan di depannya Han Long ikut berjongkok.
Setelah penjaga itu mengatur nafasnya, dia membuka mulutnya dengan sebuah gigi yang sudah lepas.
“Maaf Nona Leng In, ini semua adalah perintah para tetua agar tidak membiarkan seorang pun diluar klan Coa untuk memasuki wilayah kita” Kata Penjaga itu.
“Mereka adalah sahabatku, biarkan mereka masuk,
aku akan bertanggung jawab dan akan memberi penjelasan kepada ayah Kepala Klan”, jawab Coa Leng In, sambil berjalan dan memegang tangan Han Eng dan membawa Han Eng dan Han Long untuk masuk ke dalam benteng Manor Klan Coa, dan terus masuk ke dalam halaman rumah Coa Leng In.
Saat mereka bertiga telah sampai di rumah Coa Leng In,
“Saudari Leng In, kami datang ingin mendengar tanggapanmu atas kehendak senior Kong Hay”, Kata Han Eng.
“Aku akan menghadapi si brengsek Kong Hay dan membunuhnya”, sinar mata Coa Leng In langsung berubah mendengar perkataan Han Eng.
“Sebagai sahabatmu, aku akan membantumu, kapan rencanamu?” Tanya Han Eng lagi.
“Kalian tidak perlu ikut campur, karena akan mempengaruhi posisi kalian sebagai peserta ujian sebenarnya untuk Sekolah Beladiri Samudera Naga”,
Kata Coa Leng In menolak saran Han Eng.
Menyadari apa yang dikatakan oleh Coa Leng In, Han Eng terdiam karena pernyataan Coa Leng In ada benarnya mungkin dampaknya akan melibatkan seluruh Klan Han.
“Senior Eng harus Ingat, Senior Kong Hay itu tingkat kultivasinya sangat tinggi bahkan para kepala Klan pun tidak dapat mengalahkan senior Kong Hay, walaupun mereka harus bersatu mengeroyoknya”, kata Han Long.
“Namun apakah kita sebagai sahabatnya tidak berbuat apapun?”,
kata Han Eng masih berusaha mendebat Han long.
“Bukan begitu, demikian juga untuk Saudari Leng In, apakah kamu akan berbuat nekat dengan menghadapinya secara terbuka melawan senior Kong Hay?”, Kata Han Long dengan mata melotot bodoh.
“Jika aku harus mati menghadapinya apa boleh buat”. kata Coa Leng In.
“Namun kematian saudari Leng In akan menjadi kematian sia-sia”, kata Han eng.
“Kita perlu rencana, jangan menghadapi secara terbuka, dan kita harus menutupi keberadaan kita. aku mendengar berita bahwa kedatangan rombongan dari kelompok Sekte Samudera naga selain untuk mengawasi Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga, mereka sedang mencari benda-benda pusaka yang disangka berada di wilayah Kota Yang In”,
kata Han Long.
“Oh ya, aku juga mendengar berita itu bahkan seluruh anggota keluarga klan diperintahkan oleh Kong Hay brengsek itu untuk mendengar bila ada sesuatu yang tidak biasa di dalam wilayah kota Yang In, namun peristiwa apa yang tidak biasa,
ayahku pun bingung tentang hal ini” Kata Coa Leng in lagi.
“Apa hubungannya dengan rencana menghilangkan senior Kong Hay”,
Tanya Han Eng dengan bingung.
Tiba-tiba Coa Leng In meloncat ke arah Han Long dan mulutnya mengecup pipi Han Long, mata berbinar Coa Leng In menjadi cerah dengan senyum mengembang.
Dan Han Long dengan mulut menganga sambil tangannya meraba pipi yang dikecup oleh Coa Leng In. Sementara Han Eng dengan wajah jengah tidak menyangka tindakan Coa Leng In yang berani mengecup Han Long di depannya.
“Ha ha ha…, dengan berita keberadaan harta itu,
kita akan memancing Kong Hay brengsek keluar,
dan kita akan menjebaknya lalu membunuhnya.” kata Coa Leng In.
“Uh…, maaf atas kelakuanku, karena terlalu gembira dengan rencanaku aku merasa gembira bahwa ide itu diucapkan oleh saudara Han Long”, kata Coa Leng In dengan lugas menjelaskan tindakannya.
“Bolehkah kami mendengar rencanamu?”, kata Han Eng kemudian
“Justru aku membutuhkan bantuan kalian”, kata Coa Leng In dengan mata berbinar penuh harap menatap Han Eng dan Han Long.
Dan akhirnya mereka terlibat diskusi yang serius, malah suara mereka menjadi berbisik-bisik menyusun rencana untuk menghadapi Kong Hay dengan cara tidak membawa pengaruh pada klan masing-masing.