Yap Ing dengan hati sedih, menatap ke dinding ruangan tempat tinggalnya, dia tidak menyangka bahwa suami yang dicintainya, yang dipikirnya adalah seorang yang kuat dan perkasa, seorang Kepala Klan keluarga Ras Iblis masih tidak berdaya menghadapi sekelas Kong Hay, seorang pemuda belia 17 tahun.
Waktu itu, ketika dia mengambil keputusan untuk mau mencintai Coa King Hun adalah keputusan tepat, karena dia akan memperoleh perlindungan dari orang terkuat di Kota Yang In, namun semua itu adalah sia-sia, diantara yang terkuat masih ada yang lebih kuat.
Hatinya menjadi kacau dia ingin melarikan diri dan melepaskan diri dari kurungan benteng manor klan Coa, tapi hatinya terikat oleh keberadaan Coa Leng In yang menjadi buah hatinya, dimana itu memberinya semangat untuk bertahan hidup.
Saat ini dia hanya bisa meratapi nasib buruk yang menimpanya dijadikan alat pemuas nafsu dari ras iblis yang lebih bejat karena seorang Kong Hay yang walaupun masih belia ternyata nafsu keinginannya melebihi Ras Iblis yang ada di kota Yang In.
Yap Ing sebenarnya berasal dari benua Khui Ning, benua yang sangat jauh dari benua Chong Yang, dia dibawa oleh ayahnya dalam upaya melarikan diri dan menghindari dari orang-orang yang mencari keberadaan kakek buyutnya, ayahnya bernama Yap Kun lie yang telah tiada karena luka-luka yang dideritanya.
Ketika dia masih seorang remaja belasan tahun, dia terlunta-lunta di kota ini, pertemuan dengan Coa King Hun adalah sebuah harapan dalam bertahan hidup, sehingga dia mau dijadikan selir.
Dia Ingat, kalau saja ayahnya tidak mati karena luka-lukanya, ayahnya dapat melindunginya karena tingkat ilmu beladiri dari sang ayah melebihi tingkat yang dikuasai oleh Coa King Hun sekarang ini, dan dia masih teringat akan perkataan sang ayah bahwa mereka adalah keturunan leluhur Ras Manusia yang bernama Yap Kun Tek, seorang kultivator yang pernah merajai benua Khui Ning, dengan bangga ayahnya bercerita bahwa Leluhur Yap Kun Tek adalah kakek buyut sejatinya dan telah mencapai tingkat Kultivasi Raja Dewa.
Namun keberadaan Yap Kun Tek pun bernasib kurang baik karena dikejar-kejar oleh orang-orang yang lebih kuat dari dirinya, artinya seorang yang telah mencapai Kultivasi Raja Dewa pun masih tidak berdaya, lalu sampai mana puncak kultivasi seseorang agar dapat dikatakan terkuat, dan dimana keberadaan moyangnya saat ini.
Yap Ing ingin menjerit dan berteriak mengadu kepada kakek buyutnya, sehingga dia dapat terlepas dari kesulitan yang menjerat dirinya ini, tapi kemana dia harus mencari?, bahkan dia tidak tahu apakah kakek buyutnya yang maha sakti masih hidup?, semua itu menjadi bayang-bayang gelap di benaknya, semakin meningkatkan rasa putus asa yang dalam.dibenaknya.
Di lain tempat pada pagi hari, Coa Leng In dan Han Eng serta Han Long terlihat sedang berada di sebuah kedai teh sederhana, ketiga remaja itu sedang menunggu beberapa orang yang akan mereka gunakan untuk menyebarkan tentang keberadaan benda-benda pusaka yang misterius.
Ada lima sosok yang menghampiri ketiga remaja itu, dua diantaranya adalah Ras Iblis dan tiga adalah Ras Manusia, melihat gerakan mereka rata-rata pada tahap Kekuatan Tubuh ke-8 Puncak, dan mereka sangat menghormati ketiga remaja kecil tersebut, mereka hanya anggota rendahan yang dipercaya oleh Coa Leng In dan Han Eng.
“Nona Kecil kami telah datang”, sapa seorang dari Ras Iblis.
“Duduklah, dan dengarkan apa yang harus kalian lakukan!”, perintah Coa Leng In berwibawa.
“Kalian bertiga juga dengarkan!”, kata Han Eng pada tiga lainnya.
Lalu Coa Leng In menjelaskan rencananya kepada mereka berlima, dengan Han Eng menambahkan setiap detail yang terlewati, sementara Han Long seperti tidak peduli akan rencana tersebut, padahal otaknya langsung bekerja.
Tidak lama kemudian mereka berlima berdiri dengan sikap yang mengerti akan perintah dari tuan putri mereka masing-masing, dari Coa Leng dan Han Eng mereka menerima beberapa koin emas sebagai upah. mereka berpisah menuju ke berbagai sudut kota dan disusul oleh kelompok Coa Leng In yang bergerak meninggalkan kedai tersebut.
Menjelang matahari tenggelam, di Kota Yang In, sebuah berita meledak pada tempat-tempat berkerumun orang banyak seperti kedai-kedai, rumah makan dan tempat penginapan yang mengatakan adanya fenomena di suatu tempat bernama Danau Merah Misterius yang terletak di dalam Hutan Kabut Putih munculnya tanda-tanda terbentuknya awan yang berwarna hitam mengelilingi pusat hutan tersebut membentuk pusaran yang mengarah pada satu titik pada permukaan danau yang airnya berwarna merah.
Berita ini pun terdengar oleh Kong Hay, dia lalu memanggil para tetua Klan di Kota Yang In, untuk membahas cara masuk ke Hutan Kabut Putih yang terkenal dapat menghabisi seorang dengan tingkat Kultivasi Imajinasi Roh ke-6 Puncak,, dan Klan Tang pun sudah termasuk pada persekutuan mereka dengan cara Klan Tang menyetujui syarat yang diinginkan oleh Kong Hay, namun tidak termasuk Klan Han.
Tidak lama kemudian pada malam itu juga di aula klan Coa berdatangan para kepala klan dengan didampingi oleh penatua masing masing klan memasuki ruangan.
“Aku ingin segera memeriksa kebenaran berita itu, dengan memasuki Hutan Kabut Putih secara bersama-sama dengan kalian”, kata Kong Hay berwibawa di kepala meja.
“Senior Kong Hay, apakah ini tidak terlalu tergesa-gesa, karena keganasan Hutan Kabut Putih yang dapat membunuh orang-orang seperti kita”, Kata Tang Hun Beng mengingatkan.
“Benar senior Kong Hay, kita harus membuat rencana”, tambah Cui Tong.
“Kita tidak bisa langsung masuk dengan cara sembarangan, apalagi Danau Merah Misterius itu terletak pada Inti Hutan”, kata Meng Ki
“Apapun caranya kuserahkan pada kalian semua, itu maksudku mengumpulkan kalian semua” Kata Kong Hay tidak mau menunduk.
Seorang penatua dari Klan Coa tiba-tiba maju, dia adalah Coas Hun Ti sebagai Penatua ke-1. “Ijinkan saya memberi saran pada para tetua dan senior Kong hay, kita akan menjadi tiga kelompok untuk memasuki Hutan Kabut Putih dari arah berbeda untuk mengecilkan jumlah korban yang timbul dan setiap kelompok hanya terdiri dari enam orang anggota dengan dipimpin oleh seorang Kepala Klan”, katanya.
Coa Hun Ti memahami perasaan Coa King Hun yang masih terdiam karena persoalan Yap Ing yang dikehendaki oleh Kong Hay.
“Mengapa hanya tiga kelompok, kita sekarang ada empat Kepala Klan, sebaiknya kita bagi jadi empat kelompok”, kata Tang Han seorang penatua di klan Tang ikut maju.
“Aku mencari cara tiga kelompok karena jalan yang tercipta hanya ada tiga jalur, selebihnya adalah jalan yang lebih berbahaya dengan penghalang selain binatang buas ada banyak jurang dan rawa-rawa yang dipenuhi asap beracun”, kata Coa Hun Ti membela diri.
“Kalau begitu kita tetap terbagi dalam empat kelompok dengan dipimpin oleh masing-masing kepala Klan, sedangkan untuk jalur ke empat itu hanya akan dibuat oleh hasil undian yang akan kita lakukan sekarang ini, dan aku sendiri akan mengikuti salah satu kelompok atas kemauanku sendiri”, kata Kong hay dengan angkluh agar tidak perlu menimbulkan perdebatan lagi.
Akhirnya mau tidak mau mereka harus mengikuti saran Kong Hay, itu bukan sekedar saran tapi perintah. Mereka lalu menentukan undian siapa yang akan menjadi kelompok keempat yang bertugas membuat atau menentukan jalur ke-4..
Dan Kelompok ke-4 pada hasil undian jatuh pada Klan Cui, dengan cemberut Cui Tong menyesali hasil undian itu, karena dia harus membuat jalurnya sendiri.
“Kepala Klan Cui tidak perlu bersusah hati aku akan memberikan alat pertahanan diri dari Sekte Samudera Naga yang dapat mengatasi binatang buas di Hutan Kabut Putih’, kata Kong Hay menghibur, dan Cui Tong pun sedikit reda dari kekecewaannya.
Pertemuan itu pun bubar setelah menentukan masing-masing kelompok dengan arah yang sudah terbagi, dan Kong Hay akan masuk bersama Klan Keluarga Meng, yang memang masuk pada jalur yang sudah biasa dilalui oleh beberapa pemburu binatang buas.
Keesokan harinya beberapa orang keluar dari bentang kota Yang in, mereka terbagi dalam empat kelompok dengan arah yang sama menuju ke Hutan Kabut Putih yang terletak di sebelah Timur Kota.
Coa Leng In pun terlihat berjalan keluar benteng kota dan tidak lama kemudian ada dua anak remaja lainnya yang menyusul, mereka adalah Han Eng dan Han Long, mereka berlari seperti menyusul sebuah rombongan tertentu.
Sepanjang jalan ketiga anak remaja itu tidak berkata apapun kecuali mata Han Eng dan Coa Leng In yang terlihat serius dan fokus menatap arah di depannya.
Han Long hanya mengekor dua sahabatnya, kedua anak perempuan itu berlari sambil masing-masing menguji tingkat penguasaan beladiri dalam hal keringanan tubuh, Han Eng terlihat sedikit peluh keluar di dahinya berusaha mengimbangi Coa Leng In.
Han Long tiba-tiba berteriak pada keduanya, “Kakak berdua tunggu aku!!!”
Ketika mereka sudah tiba di persimpangan jalan, ada jalan yang menikung namun terjal dan disamping jalan setapak itu sebelah kirinya terbentang jurang yang dalam
Mereka berdua pun serentak menghentikan langkah kaki mereka.
Baru mereka menyadari bahwa ilmu mereka terlalu tinggi bagi Han Long, sedangkan Han Long yang berpura-pura lemah sebenarnya memiliki rencana lain, karena Hutan Kabut Putih adalah tempat yang sudah dikenalnya, dia akan mengajak kedua sahabat wanitanya untuk melalui jalan pintas yang lebih singkat.
“Aduh bodoh, payah sekali tenagamu, kita harus menyusul dan mengawasi rombongan Kong Hay”, Kata Han Eng, namun dalam hatinya dia bersyukur bisa menarik nafas sejenak dan mengatur pernafasannya.
“Sudahlah adik Eng, kita beristirahat dulu”, kata Coa Leng In, dia pun tahu bahwa Han Eng sudah payah juga.
“Maksudku kita jangan mengikuti mereka, kita akan mencari jalan pintas menuju Danau Merah Misterius itu”, jawab Han Long.
“Apakah kamu mengenal hutan ini?”, kata Han Eng.
“Sejak aku berusia 5 tahun, aku tinggal di sekitar kampung Klan Han dan aku sering diajak oleh anak-anak para pemburu di kampung sekitar Klan Han untuk sekedar berjalan-jalan”, kata Han Long dengan menambahkan kata-kata pemburu.
“Apakah begitu?, sejauh mana kamu berjalan?, Tanya Coa Leng In.
“Ah, hanya di sekitar luar hutan tapi para pemburu itu suka bercerita tentang kedalaman hutan ini”, kembali Han Long beralasan.
“Lalu jalan mana yang akan tiba lebih cepat dari rombongan para tetua klan?”, tanya Han Eng, dia sebenarnya terheran-heran kalau Han Long kecil sudah berani memasuki Hutan Kabut Putih demikian juga dengan Coa Leng In bahkan Coa Leng In sedikit curiga tentang asal usul Han Long bahwa Han Long tidak sederhana.
“Kalau tidak salah para pemburu itu mengatakan untuk menyingkat waktu dan menghindari para binatang buas adalah melewati ngarai yang terjal tapi sudah ada bekas langkah kaki para pemburu”, jawab Han Long.
“Baiklah saudara Han Long memimpin jalan”, kata Coa Leng In, sambil menatap tajam.
Han Long pun lalu mengajak keduanya berjalan ke arah yang sudah dikenalnya, namun dengan cara yang diatur bahwa semua ini ‘kata pemburu’, dan mendengar alasan yang Han Long katakan Coa Leng In memudar perasaan curiganya.
Setelah berjalan melalui berbagai macam tebing dan jurang yang terlihat terjal, dengan tingkat kemampuan kultivasi ketiganya dapat dilalui walaupun dengan susah payah bahkan Han Eng hampir saja celaka karena tergelincir pada pijakan yang rapuh dan kebodohan Han Long yang berpura-pura menambah tingkat kesulitan perjalanan mereka.
Setelah beberapa lama, mereka melihat sebuah danau dari kejauhan yang permukaannya berwarna merah, sebenarnya perjalanan tiga anak remaja ini sudah diintai berbagai macam binatang buas namun dengan lihainya Han Long memberikan tanda kepada segala jenis binatang itu untuk menyingkir, dan binatang itu sudah mengenal Han Long baik bentuk wajah terutama aroma yang melekat pada Han Long.
Dengan menyintas perjalanan tersebut, mereka tidak meninggalkan kewaspadaan karena sudah mendekati wilayah seputar Danau Merah Misterius.
Sesuai rencana mereka dapat waktu untuk beristirahat dan mengatur jebakan untuk menghadapi Kong Hay. bahkan setelah menunggu di tempat yang tersembunyi mereka dapat melewati satu malam tanpa kejadian apapun.
Keesokan harinya, terlihat ada beberapa orang dengan tampilan yang sengsara karena pada pakaian mereka beberapa noda berwarna merah menghiasi pakaian mereka. Satu per satu mereka muncul dari tiga arah yang berbeda, sekarang mereka hanya berjumlah sebelas orang saja termasuk Kepala Klan Coa yang didampingi 3 orang penatua,
Kepala Klan Tang dengan 2 orang pendamping, kepala Klan Meng dengan 2 orang pembantunya ditambah dengan Kong Hay yang walaupun tidak terlihat ada luka namun dia terlihat pucat dengan rambut yang tidak teratur, sementara rombongan Klan Cui belum menampakan kedatangannya.
“Saudara-saudaraku tolong aku!,”, teriak seseorang setelah mereka semua berkumpul dan melihat ada dua orang yang menghampiri mereka, ternyata itu adalah Cui Tong dan Cui Kong, Kepala dan penatua ke-1 Klan Cui.
Terlihat keduanya dalam keadaan yang mengkhawatirkan dengan tubuh berlumuran darah bahkan lengan Cui Kong tinggal yang kiri saja.
Melihat hal itu, Kepala Klan Meng yang termasuk paling akrab segera menghampiri keduanya dan memberikan pertolongan dengan cepat memberikan obat-obatan sekedar meringankan rasa sakit yang diderita, sementara Kong Hay hanya mencibir melihat keduanya.
“Dasar klan sampah, huh!”, kata Kong Hay sambil mendengus.
Rombongan Klan lainnya hanya menunduk, coa King Hun melotot mendengar perkataan Kong Hay, tapi dia tidak berbuat apapun dan akhirnya dia hanya dapat menundukan kepalanya lalu mengatur nafasnya untuk mempersiapkan kekuatannya.
Kong Hay pun lalu mencari tempat di sisi danau yang terlihat tenang, lalu duduk dan mengatur nafasnya untuk memulihkan tenaganya.
Saat dia mau menarik nafas yang ketiga tiba-tiba,
Shiut !!!!!
Angin tajam terdengar mengarah pada dirinya, dan dengan mudah dia menangkap sebuah anak panah, dengan mata waspada dia melihat arah datangnya anak panah tersebut, namun dia tidak menemukan siapa yang meluncurkan anak panah itu karena dari kekuatan anak panah itu terlihat kurang bertenaga walau dia tidak dalam keadaan bugar.
“Siapa ???” katanya dengan waspada.
“Keluarlah !!!”, katanya lagi.
Yang lain terkejut melihat serangan itu, mereka tidak menduga ada serangan tiba-tiba yang mengarah pada Kong Hay.
Selanjutnya berbagai benda-benda keras seperti batu, batang pohon dan dicampur dengan semacam butiran pasir menyerbu ke arah Kong Hay secara bertubi-tubi.
“Sialan….!!!, Brengsek…!!!” Makian keluar dari mulut Kong Hay, sambil menghindari benda-benda tersebut. namun semacam pasir itu sulit dia hindari, namun dia masih berdiri tidak kurang suatu apapun.
Duuaaarrrr !!!! Duuaarrrrrrr !!!!
Dua serangan guntur berwarna-warni mengancam dengan serangan susul menyusul mengarah semuanya pada Kong Hay.
“Dasar pengecut…, keluarlah !!!” teriak Kong Hay kembali, sambil kedua tangannya menangkis serangan Guntur tersebut, dan akhirnya Kong Hay sedikit lengah dan dia menderita luka yang cukup mengeluarkan darah dari bibirnya.
Kong Hay terduduk menahan nyeri pada dadanya, muncul tiga sosok dengan seluruh tubuh ditutupi dengan pakaian hitam bercampur dedaunan, sosok-sosok itu cukup pendek namun pada bagian kepala terlihat dua mata yang menyala dengan kejam, dan ketiganya berlari menuju hanya pada Kong Hay seorang, salah satu sosok itu memegang pedang yang berkilau diterpa matahari yang menerobos dedaunan pohon yang menjulang tinggi.
Ketiganya serempak menyerbu Kong Hay, ada formasi gerakan ketiganya dan secara selaras mengarah pada bagian vital dari tubuh Kong Hay, melihat serangan itu Kong Hay hanya dapat menghindar, dia belum siap mengerahkan serangan balasannya karena kelelahan dan luka yang diderita sebelumnya, ketiga sosok itu menyerang lebih cepat namun kultivasi Kong Hay membuktikan kekuatannya.
“Apa yang Kalian tunggu, bantu aku !”, teriak Kong Hay pada Yang lainnya.
Segera para tetua dan kepala klan yang masih bertenaga menyerbu ketiga sosok itu.
Disinilah perencanaan Coa Leng In terlihat lemah karena tidak menduga bahwa para Tetua akan ikut campur,
Sebaliknya bagi Coa King Hun, dia mengenal teknik yang dikeluarkan oleh salah satu sosok yang berselubung hitam tersebut, namun teknik gerakannya mengambil gerakan yang berbeda, namun tenaga yang dihasilkan begitu dahsyat dan pancaran energinya terlalu kuat bagi dirinya bila harus menahannya.
Shuuutt… Dess !!. Bukk!! Plak !!
Ugh,,! Ahh…! Hughhh…!
Setelah bantuan dari kepala Klan dan para tetua yang berjumlah enam orang ikut campur maka Coa Leng In dan kawan kawan terlihat menderita berbagai macam pukulan dan serangan sehingga mereka harus terjatuh dan tidak dapat melanjutkan serangan mereka.
perbedaan kultivasi mereka masih terpaut jauh dari para penatua klan apalagi harus dibandingkan dengan Kong Hay.
“Jangan bunuh mereka !, tangkap Mereka!”, kata Kong Hay.
Mendengar perintah itu, para tetua menghampiri mereka dengan maksud akan menangkap, namun tiba-tiba,
Haauuuummmm…, Wheeerrrrrr…!!!
Berbagai macam binatang buas muncul dari sisi pohon-pohon yang mengitari Danau Merah Misterius dengan warna mata merah menyala serta gigi dan taring mereka terbuka, para binatang itu menyerbu rombongan Kong Hay ada yang bersayap empat atau lebih langsung menyerang lewat udara, yang hanya merangkak di tanah dapat meluncur dengan cepat, gerakan mereka rata-rata cepat dan menimbulkan suara angin yang tajam.
Keterkejutan dan kecemasan berbalik melanda kelompok Kong Hay, karena semua binatang yang berjumlah ratusan ekor itu hanya menyerbu barisan Kong Hay.
Para tetua menyesali dirinya sendiri, karena mereka akhirnya menyangka bahwa sosok-sosok kecil ini adalah para penunggu dan penjaga Danau Merah Misterius, terbukti para binatang buas ini tidak mau menyentuh ketiga sosok itu.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Han Long dan kedua kawannya untuk berlari, menyembunyikan diri dan berlari ke hutan.
Coa Leng In dan Han Eng masih terkejut dengan serbuan para binatang buas yang membiarkan mereka meloloskan diri tanpa menderita serangan sedikitpun, padahal dengan kultivasi yang mereka miliki, satu serangan oleh salah satu binatang itu cukup memberikan luka yang merenggut nyawa.
Sementara Han long dan kedua kawannya melarikan diri, nasib nahas menimpa Kong hay, kepala Klan dan para tetua sebenarnya menghadapi kepungan para binatang buas itu, namun para binatang lainnya seperti menjaga para tetua untuk dapat menolong Kong Hay, akhirnya tidak butuh waktu lama terdengar jeritan kematian Kong Hay, seperti yang dialami oleh Cong Min seniornya mati di tangan binatang buas yang dapat membunuh seorang kultivator Tingkat Imajinasi Roh ke-6.
Tubuh Kong Hay tercabik-cabik tidak berbentuk jasad lagi bahkan kerangka tulangnya pun habis ditelan oleh ratusan binatang buas dari berbagai ukuran namun yang terkecil saja berukuran dua kali dari tubuh Ras Iblis.
Para Kepala Klan dan Tetua Klan hanya menggigil ketakutan, mereka membeku tidak dapat menggerakkan jari-jari tangannya.
Para Binatang buas itu lalu pergi setelah membunuh Kong hay, dan membiarkan para Kepala Klan dan tetua lainnya hidup dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, yang sedikit lebih ringan hanya Coa King hun saja, dia hanya menderita luka-luka pada tubuhnya namun tetap bersimbah darah.
Ketika para Kepala Klan dan Tetua beristirahat dari pertempuran yang terjadi, tiba-tiba mereka dikejutkan kembali oleh air permukaan danau beriak dan menggelegak dahsyat dengan buih-buih yang mengeluarkan asap putih yang cukup tebal, kejadian itu terus menerus dan semakin menggelegak dengan gencar, pada tengah-tengah permukaan danau, tiba-tiba air permukaan itu seperti terbelah, ada sesosok orang melompat tinggi lalu menghilang dengan meninggalkan segumpal asap putih yang mengambang di udara di atas permukaan danau.
Dan secara berangsur-angsur permukaan danau itu kembali tenang, semua peristiwa itu disaksikan oleh para Kepala Klan yang sedang memulihkan tubuhnya masing-masing termasuk juga dengan Coa Leng In, Han Eng dan Han Long. karena posisi mereka tidak terlalu jauh dan bersembunyi di bawah pepohonan yang mengitari danau.
‘Hei anak-anak kecil, apa yang kalian kerjakan di tempat yang berbahaya ini?”,
sebuah suara terdengar di belakang ketiga anak remaja itu, suara itu lembut menegur mereka namun terdengar sangat tua sekali, mereka terkejut dan segera berbalik maka dihadapan mereka sudah berdiri seorang lelaki tua namun wajahnya memancarkan energi
transenden. Karena wajahnya seperti diselubungi oleh asap tipis, yang jelas dari bagian wajah ini hanya dua buah mata yang tatapannya mencorong.
Lelaki tua ini berjubah kuning dengan garis putih yang menghiasi ujung-ujung bajunya, dengan mahkota kecil bertengger di rambut yang berwarna perak mengkilap.
“Maafkan kami orang tua jika kami mengganggumu”, Kata Coa Leng In.
“Siapa Namamu gadis kecil?, aroma tubuh mu kukenal sekalipun engkau Ras Iblis”, kata lelaki tua itu.
“Namaku yang rendah adalah Coa Leng In, dan aku memang dari klan keluarga Ras Iblis, namun ibuku adalah Ras Manusia”, jawab Coa Leng In heran.
“He he he…, ini namanya jodoh, apakah rompi yang kau pakai adalah Armour Serat Naga?”, tanya lelaki tua itu kembali.
“Rompi ini aku tidak tahu namanya, ini kutemukan secara kebetulan dan ternyata armour ini pas di tubuhku, apakah ini asalnya milikmu?”, percuma Coa Leng In kalau harus berbohong, karena dihadapan orang yang tingkatnya sudah transenden adalah sia-sia.
“Orang tua, apakah engkau bermaksud mengambil kembali barang yang melekat pada tubuh saudariku?” tanya Han Eng tidak puas.
“Kakek tua, apakah kau ingin merasakan aroma tubuh gadis belia?”,
tanya Han Long mewaspadai keinginan lelaki tua ini, dia tidak takut kalau lelaki tua ini bersikap kurang ajar kepada sahabatnya dia akan menunjukan kekuatannya walaupun hal itu adalah sia-sia juga.
‘He he he…, semakin menarik kalian bertiga ini, aku bertanya sekali lagi pada nona muda ini, apakah Pil Mustika Darah telah kau asimilasi kan juga?’,
katanya kembali sambil nadanya tidak menunjukan kemarahan.
Coa Leng In semakin yakin bahwa lelaki tua di hadapannya adalah pemilik asli barang-barang yang dia temukan di gua rahasianya. namun dia enggan kalau harus mengembalikannya.
“Orang tua, sekalipun barang yang kau sebutkan adalah milikmu namun semua itu sudah habis kupakai dan Armour Serat Naga ini pun tidak mungkin kuserahkan padamu, karena aku sendiri tidak tahu cara melepaskannya, barang ini melekat begitu saja pada tubuhku”, kata coa Leng In lagi.
“Kakak Leng In, berarti kau selama ini mandi dengan Armour itu?”, tanya Han Long dengan melongo.
“Huss, Han Long jangan melantur”, jawab Han eng.
“He he he…, aku seorang Raja Dewa Yap Kun Tek tidak berdaya menghadapi kalian, tapi aku tidak merasa menyesal bahwa barang yang pernah menemaniku beberapa tahun lalu sepertinya menemukan penerus yang lain, hanya ada satu syarat agar semua ini menjadi jalan keluar dalam masalah ini, kalian bertiga harus menjadi muridku !”,perintahnya dengan berwibawa.
Mendengar nama Yap Kun tek, tiba-tiba tubuh Coa Leng In menggigil bergetar, nama itu sudah didengarnya melalui mulut ibunya.
“Kakek Leluhur…!,” dengan setengah berbisik, Coa Leng In menatap lelaki tua di hadapannya, “Ibuku adalah Yap Ing anak dari Yap Kun Lie, cucu dari seorang Raja Dewa Yap Kun Tek, apakah engkau leluhur itu?”,
tanyanya lagi, dengan mata berkaca penuh harap.
“Apa..!!!,” Tubuh lelaki itu sedikit bergetar,
“Jadi kamu keturunan dari cucu yang kukasihi dengan sejuta harapan, dimanakah orang tuamu, mari cucuku kita sekarang temui orang tuamu”, kata Yap Kun Tek.
“Kakek Yap Kun Lie sudah tiada karena luka-luka yang dideritanya”, kata Coa Leng In berlinang air mata mengingat ketika ibunya kalau bercerita tentang kakeknya penuh dengan air mata.
“Ini semua kesalahanku, jangankan Kun Lie kecil, aku saja harus terlunta-lunta dan bersembunyi di bawah dasar Danau Merah Misterius, namun sekarang tidak ada lagi sembarang orang yang akan melecehkan keturunanku lagi”, katanya tegas.
“Dan kalian anak kecil bagaimana pendapat kalian untuk menjadi muridku?, apalagi karena kalian sudah hidup seperti saudara dan aku sangat tertarik pada kalian berdua juga”, katanya lagi pada Han Eng dan Han Long.
Han Eng sangat tertarik pada Yap Kun Tek seorang yang sudah mencapai kultivasi Raja Dewa, tingkat dimana seseorang dapat menguasai sebuah benua, bahkan Benua Chong Yang ini tidak berarti apa-apa. namun dia tidak segera menjawab, dia masih berpikir dan memikirkan Klan Keluarganya dan meminta persetujuan ayahnya.
Berbeda dengan Han Long karena dia sudah menganggap bahwa perintah ibunya harus dipatuhinya, apalagi orang tua ini adalah seorang yang dia pikir telah mencuri Buah Darah Naga yang kata ibunya adalah milik klan dari ayahnya.
Dengan Buah Darah Naga, tubuh 9 Tubuh Bintangnya dapat terbangun.
“Maafkan kami orang tua, kami harus meminta pendapat klan kami”, kata Han long mengambil inisiatif, dan Han Eng hanya mengangguk menyetujuinya.
“Aku tidak akan memaksa kalian berdua, namun aku tertarik pada dirimu anak lelaki kecil”, kata Yap Kun Tek.
Coa Leng In dan Han Eng berkerut kening keduanya, karena melihat ketertarikkan kakek Yap Kun Tek pada Han Long, mereka tahu bahwa yang terlemah pada mereka bertiga justru Han Long, kenapa Yap Kun tek malah secara terbuka malah tertarik pada Han Long.
“Maaf Kakek, aku apalagi hanya seorang pelayan pada klan Han”, kata Han Long lagi.
“Sudahlah, aku tidak akan memaksa kalian yang terpenting sekarang aku sudah menemukan keturunanku”, kata Yap Kun Tek, yang memahami bahwa Han Long berusaha melindungi rahasianya sendiri, karena hal itu wajar bagi seorang kultivator.
“Baiklah kalian akan kuantar keluar dari hutan ini, dan para orang tua yang terluka disana, biarkan mereka keluar dengan kemampuan mereka sendiri”, katanya.
Kemudian menggerakkan tubuhnya dan keempat sosok itu diselubungi asap dan begitu asap itu memudar keempatnya telah menghilang.