Kota Yang In menjadi gempar, karena beberapa penatua di klan keluarga ternama tewas di Hutan Kabut Putih, berita ini sangat menghebohkan apalagi beberapa kepala klan pulang dengan terluka, hanya Coa King Hun yang masih lebih baik dibandingkan Kepala Klan yang lain.
Beberapa hari kemudian tersiar lagi berita khususnya pada Coa King Hun yang menghebohkan karena selir terkasih, Yap Ing turut hilang bersama dengan Coa Leng In, hanya sebuah surat yang tertinggal yang isinya bahwa ibu dan putri itu pergi dan tidak perlu dicari.
Perasaan Coa King Hun makin terpukul dengan kondisi seperti ini, dia kecewa tidak dapat melindungi selirnya dari kehendak Kong Hay, maka kepergian mereka dapat dimakluminya.
Namun semuanya sudah berlalu, dan Kong Hay pun telah tewas di Hutan Kabut Putih, hal itu sedikit meringankan dendam di hatinya.
Sekarang harapan Klan tertuju pada Coa Kun saja, Coa King Hun tidak berharap dengan penambahan slot yang dijanjikan oleh Kong Hay, karena dengan tewasnya Kong Hay akan membuat para petinggi Sekte Samudera Naga akan membuat penyelidikan menyeluruh.
Sementara itu di klan Han yang tidak ambil bagian dalam ekspedisi Hutan Kabut Putih, Han Eng dan Han Long segera disibukkan dengan latihan, para tetua klan Han tidak ada yang mencurigai hubungan tewas dan hilangnya para tetua klan keluarga ternama dengan mereka berdua
Setelah berpisah dengan Leluhur Yap Kun Tek, yang membawa Coa Leng In dan ibunya Yap Ing, Han Eng dan Han Long kembali ke klannya, namun tatapan Yap Kun Tek sempat menatap aneh kepada Han Long setelah berbagai upaya agar Han Long bersedia menjadi muridnya namun ditolak dengan tegas oleh Han Long, dan karena ketegasan Han Long, Yap Kun Tek menyerah, semua ini tidak terlepas dari pengamatan kedua sahabatnya terutama Coa Leng In.
”Leluhur mengapa engkau bersedia mengambil anak bodoh itu menjadi muridmu?”, kata Coa Leng In.
”Ha ha ha…, dibandingkan anak lelaki itu kaulah anak bodoh itu”, jawab Yap Kun Tek.
”Apa maksudmu kakek buyut?”, kata Coa Leng In penasaran.
”Dimata orang lain, bahkan sekelas kepala Sekte di benua Chong Yang, anak itu dapat menipu dengan kebodohannya, namun dihadapanku apakah bisa. Dia melebihi dugaanmu cucuku, bahkan identitasnya tidak sesederhana yang kau kira”, kata Yap Kun Tek dengan wajah bijaksana.
Betapa terkejutnya Coa Leng In mendengar penjelasan kakek buyutnya, baru sekarang otaknya mencoba memahami apa yang selama ini terjadi bersama dengan sahabatnya, khususnya setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi jika ada Han Long bersamanya.
Tiba-tiba kepalanya bagai disengat oleh guntur, dia memahami satu hal bahwa anak yang telah menembus lantai 9 Pagoda Teleportasi pada ujian Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga pasti Han Long, karena Han Long juga yang mengantar dirinya dan Han Eng menemukan jalan pintas di Hutan Kabut Putih sehingga mereka dapat menyusun jebakan di Danau Merah Misterius, namun buah pikirannya tidak dia utarakan kepada ibu dan kakek buyutnya, semua itu dia simpan sendiri.
”In er apa yang kau pikirkan?”, tanya Yap Ing, ada senyum cerah di wajahnya yang cantik karena Yap Ing akan menatap masa depan yang lebih baik bersama dengan kakek Yap Kun Tek.
”Tidak apa-apa bu, aku hanya sedikit kecewa dengan perpisahan ini, dimana para sahabatku yang disebut sebagai ras yang lemah malah mereka yang berjuang bersamaku menghilangkan si brengsek Kong Hay”, jawab Coa Leng In.
”Bukankah Kong Hay tewas ditangan para binatang buas itu?”, tanya Yap Ing.
”Sekalipun demikian kami ada andil dalam melemahkan kekuatannya”, kata Coa Leng In kembali.
”He he he…, para binatang itu dikendalikan oleh anak lelaki sahabatmu untuk menyerang musuh kalian, aku tahu bahwa anak itu dari kecil sudah hidup di hutan tersebut, juga aku tahu bahwa ada satu benda yang kuambil di benua tengah dan telah kusembunyikan, ternyata sudah digunakan oleh dirinya, tapi tidak menjadi masalah dengan demikian hitung-hitung aku mengembalikan barang pada pemilik aslinya”, kata Yap Kun Tek kembali.
”Apa artinya kakek buyut?”, bersamaan pertanyaan itu keluar dari mulut Yap Ing dan Coa Leng In.
Yap Kun Tek tidak segera menjawab, dia terlihat menerawang di kejauhan, matanya berubah sedikit keruh seperti bergumam pada dirinya sendiri,
”Ketika aku sudah merajai Benua Khui Ning yang ukurannya lebih besar dari Benua Chong Yang ini, aku menjelajahi seluruh tempat, sampai suatu ketika aku sampai di sebuah benua yang hampir seluruh penghuninya paling rendah sudah di Tingkat Manusia Suci,
dan di benua inilah kecepatan kultivasi ku melesat dengan cepat hingga menjadi Raja Dewa, dan perasaan tidak terkalahkan padaku membuatku menjadi sombong dengan menantang para penghuni sekte di benua itu, namun baru menghadapi satu sekte aku terpukul kalah, aku lari dengan luka namun banyak orang sakti lainnya memburuku karena aku berhasil mengambil beberapa harta pusaka dari 3 sekte benua itu,
2 diantaranya aku yakin ada padamu, namun yang satu pasti digunakan anak itu,
karena aku mengenal aura anak itu seperti aura klan keluarga ternama benua tersebut.”
Jawab Yap Kun Tek dengan wajah menyesal, karena akibat perbuatannya, klannya pun menderita perburuan dari para ahli dari benua tengah sampai cucunya Yap Kun Lie menderita dalam pelariannya.
Mendengar itu semua, Coa Leng In dan Yap Ing terdiam, seorang Raja Dewa seperti Yap Kun Tek masih tidak berdaya di Benua Tengah, benua yang sekarang ini disebut benua misterius yang keberadaannya entah dimana.
Tatapan Coa Leng In menjadi penuh tekad untuk semakin kuat, karena hanya yang kuatlah yang dihormati, namun demikian dia masih heran dengan pandangan kakek buyutnya terhadap Han Long sedemikian tinggi, bagaimana seorang anak seperti Han Long bisa terdampar di kota yang kecil, pasti ada seseorang yang seharusnya mendampingi seorang anak seperti Han Long.
Apakah ada seseorang di klan Han yang sangat sakti untuk menjadi pengawal Han Long?.
Coa Leng In hanya dapat menelannya, biarlah semua itu dapat terbukti dengan berjalannya waktu.
Arah yang diambil oleh Yap Kun Tek ternyata kembali ke Hutan Kabut Putih, sesampainya mereka di tengah-tengah hutan ternyata ada bagian lain selain Danau Merah Misterius, dimana letaknya lebih masuk ke sebelah timur danau dengan dihalangi oleh pepohonan yang tumbuh dengan rapat sehingga menghalangi pandangan orang lain dan terdapat sebuah area yang ditanami oleh macam-macam tanaman obat serta ladang yang dipersiapkan untuk keperluan menanam biji-bijian untuk makanan dan sayuran, sekalipun bagi Yap Kun Tek tidak memerlukan makanan jasmani seperti manusia biasa, namun semua itu ada untuk kebutuhan sekarang ini seperti keberadaan Coa Leng In dan Yap Ing.
Melalui Yap Kun Tek, Coa Leng In tahu nama dari 12 kulit binatang yang dipenuhi oleh simbol-simbol dan tulisan-tulisan kuno, ternyata itu adalah Teknik Beladiri dan Kultivasi Kategori Dewa kelas Sempurna bernama Badai dan Guntur Mencabik Semesta,
dimana kekuatan setiap lembar kulit binatang itu harus dicapai oleh tingkat kultivasi Imajinasi Roh dan saat ini tingkat kultivasi Coa Leng In baru mencapai Kekuatan jiwa ke-2, jadi masih jauh untuk melatih teknik itu, maka dibawah bimbingan dari leluhurnya,
Coa Leng In berlatih dan berkultivasi sangat keras, dia tidak sabar untuk menjadi kuat,
hal itu memberinya semangat yang sangat diharapkan oleh Yap Kun Tek sendiri.
Sementara itu di Kota Yang In, Coa Kun menerima semua berkah kultivasi klan Coa, dengan tidak adanya Coa Leng In,
maka semua konsentrasi klan tertumpah semua pada dirinya.
Dan ditambah dengan teknik dari klan ibunya dengan persetujuan dari klan Mo,
maka Coa Kun memperoleh Teknik tingkat tinggi yaitu Teknik Beladiri Tapak Iblis Gerhana yang sangat dahsyat , ilmu terlarang keluarga klan Mo.
Waktu pun berlalu, saatnya para utusan dari Sekolah Beladiri Samudera Naga datang untuk menjemput para junior Kota Yang In.
Terlihat Cheng Kun sebagai kepala pengawal rombongan, memimpin menuju langsung ke alun-alun Kota Yang In.
Ada yang berbeda dari rombongan Sekte Samudera Naga, karena dari 5 orang yang datang ke Kota Yang In, hanya Siu Nie Ay yang sudah dikenal oleh peserta yang lulus dari Pra Seleksi, penatua Kong Beng tidak terlihat, Siu Nie Ay tampak wajahnya berkerut,
wanita 40 tahunan itu terlihat kecewa atas peristiwa yang sudah didengarnya yang menimpa murid dalam Sekte, yaitu Cong Min dan Kong Hay, memang tidak ada yang dapat dipersalahkan karena semua itu terjadi di Hutan Kabut Putih dimana dia sendiri sangat gentar jika harus memeriksa semua kejadian di hutan tersebut, setingkat Kong Beng pun harus menderita dengan luka yang sampai saat ini belum sembuh.
Namun kekecewaan ini harus dapat dijelaskan oleh para kepala klan keluarga ternama di Kota Yang In. selalu harus ada yang bertanggung jawab.
”Kepala Klan Coa, tolong jelaskan peristiwa yang merenggut nyawa Keponakanku?”, kata Siu Nie Ay pada Coa King Hun dan yang lainnya, dengan wajah dingin.
Selanjutnya Coa King Hun pun menjelaskan peristiwa di Hutan Kabut Putih bahkan dengan ditambah kata-kata oleh beberapa kepala klan lainnya sehingga mereka saling melengkapi penjelasan tersebut, mereka tidak ingin bahwa hanya klan Coa saja yang memiliki andil dalam peristiwa tersebut bahkan mereka berebut untuk menyebutkan beberapa kerugian seperti kematian dan luka yang diderita masing-masing klan.
”Baiklah, untuk sementara aku akan membawa junior kalian yang sudah mendapat persetujuan dari Kong Hay, namun satu hal kepala klan Coa, kemanakah perginya putrimu?, apakah dia lari karena ada hubungannya dengan tewasnya Kong Hay. Seperti ceritamu bahwa semua binatang buas itu hanya mengarahkan serangannya pada Kong Hay”, tanya Siu Nie Ay dengan sedikit curiga.
”Maafkan kami tamu Agung, kepergian putri dan ibunya saya pikir tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu, apa arti seorang kultivator pada tingkat kekuatan Jiwa?”, kata Coa King Hun.
”Hm.., seperti begitu, aku akan segera melaporkan semua ini pada para petinggi Sekte”, kata Siu Nie Ay yang disertai oleh anggukan para tetua Sekte Samudera Naga yang mendampingi Siu Nie Ay.
Tidak mudah bagi Siu Nie Ay untuk diyakinkan karena dia bertanggung jawab atas kematian dua orang murid dalam Sekte, apalagi dia sebenarnya ada hubungan asmara dengan Kong Beng, dimana Kong Hay adalah keponakan tersayang yang sudah dianggap anak sendiri.
Di Lapangan alun-alun kota Yang In sebanyak anak remaja dan pemuda terpilih 20 orang berkumpul, mereka menantikan arahan selanjutnya dari para utusan Sekte Samudera Naga.
Mereka dikelilingi oleh pasukan pengawal sebanyak 10 orang dengan dipimpin oleh Cheng Kun.
Han Eng dan Han Long berdiri berkelompok bersama Han Ek dan Han Wo, masing-masing klan keluarga mengirimkan 4 orang, terlihat juga Coa Kun yang lebih banyak diam namun tatapan matanya terlihat tajam dengan raut wajah yang fokus dan ada sedikit guratan kekejaman dari mulut yang tersungging tipis, saat ini Coa Kun sudah berusia 15 tahun, senyum itu tidak pantas dikeluarkan oleh seorang anak remaja, jadi tampilan Coa Kun sedikit aneh bahkan teman-teman sesama Ras Iblis seperti Cui Man Ek dan Meng Li sedikit menjauh, ada kesan dingin dan misterius pada diri Coa Kun.
”Sungguh disayangkan bagi kakak Coa Leng In melepaskan kesempatan ini”, kata Meng Li
”Tidak patut disayangkan, sekalipun dia menonjol dalam setiap ujian namun akhirnya dia akan menjadi orang yang sia-sia, kita akan tumbuh semakin kuat tapi pertumbuhan dia akan dibatasi oleh kota kecil ini”, balas Cui Man Ek.
”Saudara Man Ek, apakah kau perhatikan diri Coa Kun?”, kata Meng Li lagi.
”Aku memperhatikan, namun itu tidak perlu kita pikirkan karena setelah kita sampai di Sekolah Beladiri Samudera Naga, kita masing-masing harus berjuang sekuat tenaga karena semua yang tersedia disana adalah kesempatan bagi kita untuk semakin kuat”, kata Cui Man Ek.
”Akupun akan berjuang dengan sekuat tenaga”, kata Meng Li.
Di bagian lain pada kelompok klan Han,
”Junior Han Long, kau jangan mengambil tindakan sendiri, hanya kita yang Ras Manusia, ingat jangan kau memisahkan diri dari kami”,
kata Han Wo menatap Han Long sambil matanya melirik sedikit pada Han Eng,
berharap sedikit perhatian darinya.
”Siap kakak senior, tapi bagiku terserah pada senior Eng,
karena aku hanya pelayannya saja”,
kata Han Long sambil melirik juga pada Han Eng.
”Bila terjadi sesuatu, kami akan lebih mudah melindungi kalian”, kata Han Ek menimpali.
”Kemana aku melangkah atau pergi kamu harus mengikutiku, agar aku dapat melindungimu”, kata Han Eng dengan angkuh kepada Han Long seperti tidak mau mengakui otoritas Han Wo, karena dia memiliki status lebih tinggi sebagai putri klan dan dia sudah mencapai kultivasi Kekuatan Jiwa ke-1 Puncak sekarang,
dan penguasaan terhadap teknik beladiri klan Han telah dikuasai sepenuhnya walau ada beberapa gerakan yang belum disempurnakannya.
Walau demikian Teknik Beladiri klan Han yang dikuasai oleh Han Eng jauh lebih baik daripada yang dikuasai oleh Han Ek apalagi oleh Han Wo, Han Eng hanya kalah pada tingkat kultivasi saja, artinya secara energi yang dilepaskan masih kalah sedikit dari para seniornya.
Han Eng sudah berusia 10 tahun lebih sedikit, namun tubuhnya sudah mulai membentuk sosok dara remaja karena dia sering berlatih beladiri, dan itu semakin melengkapi kecantikan wajahnya.
Baik Han Ek dan Han Wo sudah memahami kecantikan dari putri kepala klannya ini, secara diam-diam keduanya berebut perhatian dengan cara mereka masing-masing, namun Han Wo sedikit terbuka, sedangkan Han Ek lebih tenang dan selalu menjaga wibawa sebagai seorang senior.
”Eng er…!, kami tidak dapat mengikutimu, berbuatlah yang terbaik dan kalian semua harus saling melindungi dan menjaga karena kalian adalah Klan Han , Klan Ras Manusia”, kata Han Wi Teng menasehati, yang diiringi oleh para tetua klan Han lainnya datang menghampiri.
”Aku mengerti ayah”, kata Han Eng.
”Siap Kepala Klan dan Para Tetua !” kata Han Ek dan lainnya serempak.
Terdengar sebuah suara yang mengalahkan semua suara yang lain,
”Para Junior Kota Yang In, hari ini adalah hari kalian akan meninggalkan kota ini, diantara kalian mungkin saja akan menarik para sesepuh Sekte Samudera Naga sehingga kalian langsung menjadi murid dalam, atau ada juga perhatian dari Ketua Sekte sehingga kalian langsung menjadi murid inti, namun semua itu tergantung pada hasil ujian yang sebenarnya bahkan mungkin juga diantara kalian akan dipulangkan karena kegagalan yang kalian capai”, suara itu beredar di tengah alun-alun Kota yang dapat didengar oleh para pengurus klan dan para juniornya bahkan ada antisipasi yang merona di wajah para junior yang gagal dalam Pra Seleksi, yang akan ikut melepaskan kepergian mereka.
Termasuk Cui Hok yang gagal memperoleh restu dari para tetua karena tingkat kultivasi yang rendah dibandingkan murid klan Cui yang memperoleh tambahan slot dari mendiang Kong Hay, dia menatap dengan ganas terhadap klan Han terutama pada Han Long, sosok yang dia tahu sangat lemah.
Ada rasa benci, cemburu dan iri hati melihat seorang anak yang terkenal bodoh dapat melenggang ke Ibukota Chong Yang, dia selalu menyangka bahwa Han Long dapat lolos karena perlindungan dari dua orang teman perempuannya yaitu Coa Leng In dan Han Eng.
Apa yang diratapi oleh Cui Hok, dirasakan pula oleh beberapa murid junior lainnya, segala reaksi ditunjukkan oleh mereka yang gagal mengikuti Pra Seleksi.
Di Tengah kerumunan penonton yang akan melepaskan rombongan yang akan menaiki sebuah kereta yang besar yang ditarik oleh Kuda Kilin Angin, ada seorang remaja yang bergerak ke depan,
”Ijinkan hamba yang rendah mengajukan keberatan terhadap salah satu peserta para Tetua Agung yang terhormat”.
Kata Cui Hok, dengan suara keras dan mantap.
”Apa maksudmu, ponakan Cui Hok?”, tanya kepala Klan Cui, Cui Tong.
”Aku ingin menantang Han Long dalam duel hidup dan mati”, kata Cui Hok.
”Apakah kamu peserta yang gagal dalam Pra Seleksi?”, tanya Siu Nie Ay.
”Benar Tetua, namun aku masih dapat mengalahkan salah satu calon murid dari peserta yang dinyatakan lolos dalam ujian Pra Seleksi”, kata Cui Hok.
”Kamu anak yang percaya diri, sekalipun peserta yang dinyatakan telah lulus dalam ujian Pra Seleksi belum menjadi bagian Sekolah Beladiri Samudera Naga, namun jika kamu tidak dapat mengalahkannya, hanya ada kematian bagimu karena tidak menaruh hormat pada hasil ujian Sekte kami”, kata salah satu tetua dengan wajah dingin dan menatap tajam Cui Hok.
”Aku bersedia”, kata Cui Hok dengan mantap.
Dilain tempat Han Eng Menatap Cui Hok dengan wajah menahan marah, serta wajah para tetua dan kepala klan Han pun menatap Klan Cui dengan rasa benci, mereka merasakan moncong senjata yang terarah kepada klannya.
Sementara Han Long Hanya tersenyum bodoh, dia seperti tidak menyadari bahwa dirinyalah yang menjadi target dari klan Ras Iblis khususnya oleh Cui Hok.
”Han Long majulah !”, perintah Cui Hok.
”Aku, maju?, untuk apa?”, kata Han Long dengan bodoh.
”Aku yang akan mewakilinya Cui Hok, beranikah?”, jawab Han Eng dengan langkah kaki menghadapi Cui Hok.
Tindakkan Han Eng yang mewakili Han Long memberi kesan tidak puas bagi Han Wo, mengapa Han Eng begitu membela Han Long yang begitu bodoh dan tolol itu.
”Bukan kamu yang ku tantang, tapi si bodoh itu !”,
kata Cui Hok lagi.
”Senior Eng, aku yang ditantang, biarlah aku akan menunjukkan keahlianku”, kata Han Long.
”Apakah kamu yakin?”, tanya Han Eng pada Han Long dengan wajah cemas.
”Ini bukan sekedar keyakinan, namun menyangkut juga hasil ujian Pra Seleksi calon murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, bagaimana hasil ini masih dipertanyakan oleh seorang junior yang tidak penting bahkan oleh klannya sendiri”, mendengar jawaban Han Long, seorang anak 11 tahunan banyak kepala mengangguk puas termasuk pengurus klan Han dan Para Tetua Sekte Samudera Naga.
”Jangan banyak bicara, cepat majulah !”, kata Cui Hok tidak sabar, karena dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Han Long, sekalipun dia menang namun dirinya tidak akan memperoleh dukungan dari para Tetua Sekte Samudera Naga, namun semua sudah terjadi, dia harus membunuh Han Long.
”Kamulah yang seharusnya maju dan bergerak, karena aku yang ditantang olehmu”, balas Han Long.
”Sesuai yang kau pinta, terimalah seranganku !!!,” kata Cui Hok sambil bergerak maju dan langsung mengeluarkan jurus andalan klan Cui, maksudnya dengan sekali gerak dia akan langsung membunuh Han Long, minimal akan terluka parah.
Namun gerakan Cui Hok malah memukul lantai dan diteruskan dengan langkah kaki yang menginjak-injak lantai sehingga ada sebagian batu dan kerikil yang muncul dan berubah menjadi debu akibat serangan Cui Hok.
”Hei Cui Hok !, aku disini, kenapa kau menyerang lantai itu?”, kata Han Long sambil mendatanginya, serta mengayunkan tangan ke wajah Cui Hok dan menendang perut.
Plak…!, Bbukkk.,!!!
Aarrgh… Uhhuug..!
Dengan mudah Han Long menampar wajah dan menendang perut Cui Hok, tanpa penghindaran yang semestinya dari Cui Hok, gerakan Han Long adalah gerakan biasa namun cukup bagi Cui Hok untuk terduduk, menahan nyeri.
Semua mata menatap keheranan atas kebodohan yang dilakukan oleh Cui Hok.
Sebenarnya dengan tingkat Han Long yang sudah mencapai Imajinasi Roh ke-1 Awal, dia sudah mengetahui niat dari awal akan tatapan Cui Hok padanya, maka dengan kekuatan dirinya yang diluar nalar manusia biasa, dia telah mengendalikan jiwa serta pikiran Cui Hok, dan mempermainkannya.
Dimata Cui Hok, dia merasa telah memukuli Han Long dengan puas namun kenapa dia merasa sakit pada wajah dan perutnya bahkan yang memukulnya ternyata diakibatkan oleh Han Long sendiri yang dia pukuli, ada rasa tidak percaya ketika dia jadi terduduk menderita, apa yang terjadi?.
”kebodohan yang luar biasa, masih mau mempertanyakan hasil ujian Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, maka matilah”, kata salah satu tetua Sekte Samudera Naga yang berdiri di samping Siu Nie Ay, dan menggerakkan tangannya, maka keluarlah sebuah tenaga yang bercuitan
Shuiiitt…..!!! Desss..!
”Ampun…. Tetua….!!!”, jerit Cui Hok, hanya itu saja yang keluar dari mulut Cui Hok sebelum tubuhnya berhenti bergerak, karena tengkorak kepalanya sudah retak dengan cairan putih bercampur merah darah keluar dari sela-sela retakan tersebut.
”Kami disini bukan untuk hal-hal yang remeh hanya untuk pertunjukkan yang tidak berguna, siapapun yang masih berlaku kurang ajar ada resiko untuk menanggungnya”, kata Siu Nie Ay tegas dengan tatapan mengitari seluruh keliling alun-alun kota.
Mendengar kata-kata seperti itu, wajah setiap orang baik Ras Iblis, Ras Manusia maupun Ras Campuran tertunduk ngeri.
”Mari semuanya bersiap, bagi para junior silahkan menaiki kereta yang tengah”, perintah Tetua Sekte yang lainnya.