Meninggalkan kesibukan Kota Yang In di Benua Chong Yang beralih ke sebuah benua yang keberadaannya misterius yakni Benua Tengah atau disebut juga Benua Thian Agung, dimana pusat energi kultivasi beriak dengan berlimpah.
Tidak ada yang namanya Ras Iblis atau Ras Manusia di benua ini, yang ada adalah ras Tidak Ternoda, saking berlimpahnya energi kultivasi di benua ini, maka sosok bayi yang lahir di benua ini adalah sudah berada pada tingkat Kultivasi Insan Raja, jadi jika seorang penguasa sekte ternama di benua Chong Yang, dipastikan akan bersujud pada seorang bayi di benua ini.
Ada tiga Sekte yang menonjol di benua ini dan beberapa klan keluarga ternama, tiga sekte yang dimaksud adalah Sekte Naga Agung, Sekte Phoenix Buana dan Sekte Guntur. Dan masing-masing sekte biasanya dipimpin oleh rata-rata orang berbakat yang lahir dari klan keluarga ternama.
Klan keluarga Thian, Duan, Sie, Bu, Wang dan Hao adalah nama-nama yang sering melengkapi para pengurus tertinggi pada tiga sekte tersebut.
Saat ini klan keluarga Thian menguasai Sekte Naga Agung dengan kepala Sekte bernama Thian Kong Jie. Dan Sekte Phoenix Agung di pegang oleh Kepala Sekte Bu Tek Ong serta Sekte Guntur dipimpin oleh orang bernama Duan Wi Hong. Ketiga Sekte tersebut membentuk sebuah Dewan Tertinggi dimana mereka bersama 6 anggota lainnya membentuk Dewan Keadilan Tertinggi dengan maksud mengatur tatanan pemerintahan seluruh benua yang terbagi menjadi beberapa wilayah dan masing masing wilayah akan dipimpin oleh seorang Hakim yang biasanya adalah kerabat atau yang memiliki hubungan istimewa dengan salah satu anggota Dewan Keadilan Tertinggi tersebut.
Sekalipun Thian Kong Jie adalah pemimpin Tertinggi dari Dewan Keadilan Benua Thian Agung namun posisinya dibangun atas dasar kekuatan kultivasi yang dimilikinya, dan itu harus dipertahankan melalui kekuatan yang dimiliki oleh klan keluarga Thian, maka wajar saja bila ada tiga orang bermarga Thian di dalam anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, jadi selain ada Thian Kong Jie, ada juga Thian Ming sebagai Kepala urusan Logistik dan Thian Lok sebagai Kepala Ketertiban Benua dan juga sebagai komandan tertinggi dari pasukan yang jumlahnya jutaan jiwa.
Posisi strategis yang dipegang oleh Klan Thian sengaja dibuat oleh Thian Kong Jie demi mengamankan posisinya.
Dan 6 anggota lainnya akan mengisi sebagai kepala lainnya yang kurang berpengaruh namun harus mereka terima dan jalani, karena yang kuat yang akan mengatur tatanan Benua Thian Agung.
Para anggota Dewan Keadilan Tertinggi memiliki kultivasi Raja Dewa dan Thian Kong Jie saat ini sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak, sementara lainnya berada rata-rata pada tingkat Raja Dewa ke-6.
Dari 7 anggota Dewan Keadilan Tertinggi, dua diantaranya adalah wanita yaitu Bu Mei Ling dari klan Bu dan Sie In Hong dari klan Sie.
Umur mereka yang menjadi anggota Dewan Keadilan Tertinggi sudah berumur ratusan tahun namun karena tingkat kultivasi yang sudah dicapainya maka penampilan mereka seperti berusia 30 tahunan, namun ada juga yang membiarkan rambutnya menjadi putih keperakan seperti Thian Kong Jie dan Duan Wi Hong, perbedaannya Duan Wi Hong memelihara kumis dan Jenggot yang sama dengan rambut peraknya, berbeda dengan Thian Kong Jie yang klimis dengan wajah kemerahan.
Bu Mei Ling dan Sie In Hong tampil anggun dan cantik, namun perbedaannya Bu Mei Ling menampilkan keceriaan serta lincah, sehingga dianggap seperti wanita genit dan nakal sementara Sie In Hong terkesan dingin dan angkuh.
Dua anggota lainnya bernama Wang Kok Han dan Hao Sin Tek.
Walau demikian, Thian Kong Jie dengan klan Thian nya tidak dapat berbuat semaunya atau sewenang-wenang karena dia masih membutuhkan kekuatan klan lainnya untuk menghadapi bahaya yang mengancam sumber daya alam Benua Thian Agung, yaitu bahaya dari Benua Merah yang selalu mengintai dan siap menyerang ke Benua Thian Agung untuk menduduki dan merebut sumber daya yang melimpah.
Benua Merah adalah sebuah benua yang bagi penghuni di benua Thian Agung adalah kekuatan yang sepadan dengan benua Thian Agung, penghuni benua itu dianggap sebagai makhluk ganas dan kejam dan pasukan yang dibawanya sangat mengerikan karena bercampur dengan mutasi para binatang buas.
Untuk kepentingan tersebut maka Dewan Keadilan Tertinggi membentuk pasukan dengan kekuatan semua anggota klan yang menjadi penghuni benua Thian Agung, jadi kekuatan di benua ini selain menjadi tentara pasukan, mereka akan diarahkan menjadi ahli dalam bidang alkimia dan obat-obatan atau pembuat artefak pertahanan diri, dan semua itu diatur dan dikelola oleh yang namanya disebut dewan juga.
Di bawah Dewan Keadilan Tertinggi masih ada lagi yang mengurus beberapa divisi Benua Thian Agung yang disebut ‘Dewan Bersama’ yang dihuni oleh 81 anggota dan dari merekalah membentuk beberapa fraksi untuk menjalankan operasional dari tugas masing-masing.
Sekalipun sering muncul bentrokan di antara fraksi-fraksi ini namun mereka masih menahan diri agar tidak menjadi perang terbuka dan mereka selalu memandang takut atas pengawasan para anggota Dewan Keadilan Tertinggi, dimana masing-masing pribadi anggota Dewan Keadilan Tertinggi memiliki kelompok manusia yang berilmu dan berkultivasi tingkat tinggi yang beroperasi sangat rahasia.
Selalu ada hukuman dan sanksi yang berat bila didapatkan kesalahan yang mereka buat yaitu dibuang keluar dari Benua Thian Agung atau dikucilkan hingga pencabutan tingkat kultivasi seseorang.
Bagi mereka hukum ‘Buang atau pencabutan Kultivasi’ adalah hukuman berat daripada kematian, karena mereka akan digerogoti oleh usia tua atau siksaan menjelang kematian yang perih dengan dicabutnya kultivasi mereka.
Dapat dibayangkan bahwa bayi yang lahir di benua Thian Agung sudah mencapai Tingkat Insan Raja, lalu bagaimana jika mereka mengalami yang namanya hukuman buang dan pencabutan tingkat kultivasi, mereka akan memulai kembali pada tingkat Kekuatan Tubuh, Kekuatan Jiwa, Imajinasi Roh baru kemudian sampai pada tingkat Insan Raja, dimana semua itu diperoleh dalam puluhan bahkan ratusan tahun namun masih tetap kalah dari seorang anak kecil di Benua Thian Agung, belum lagi usia menjadi musuh yang menggerogoti tubuh mereka sebelum mereka mencapai tingkat Manusia Dewa.
Maka ‘Kematian’ adalah anugerah terbesar jika mereka harus didakwa dengan hukuman tersebut.
Masalahnya setelah vonis dijatuhkan, dengan teknik rahasia para petinggi Anggota Dewan, akan membuat mereka lemah dan tidak sanggup mencabut nyawa mereka sendiri.
Jadi sebenarnya keberadaan Benua Chong Yang adalah salah satu tempat pembuangan bagi anggota masyarakat benua Thian Agung yang menjadi pelanggar berat.
Kemungkinan yang terjadi pada benua Chong Yang dimana energi kultivasi sangat tipis adalah orang-orang buangan dari benua Thian Agung pada ratusan bahkan ribuan tahun lalu.
Dapat disadari pula bahwa penghuni di hutan Kabut Putih adalah hewan-hewan hasil tangkapan yang menyerbu dari Benua Merah atau hewan asli benua Thian Agung yang dianggap sulit dijinakan untuk kepentingan rakyat di benua Thian Agung, artinya Hutan Kabut Putih merupakan Sangkar raksasa bagi penangkaran binatang dari benua Thian Agung.
Demikian sekilas gambaran tentang Benua Tengah atau disebut Benua Thian Agung, ada kemungkinan penamaan benua ini berasal dari banyaknya orang-orang sakti bermarga Thian atau ada seorang tokoh super sakti yang bermarga Thian yang pertama sebagai penguasa benua tersebut.
Pada suatu tempat di Ibukota Besar Awan Cerah pada benua Thian Agung, berdiri lusinan bangunan megah dengan menara-menara yang mencuat tinggi bahkan sebagian menembus awan dan pada salah satu istana dimana di bagian depan tertulis dengan huruf emas dengan sebuah kalimat ‘Istana Klan Sie’,
Sie In Hong terlihat di dalam istananya di dalam komplek klan Sie, dia masih memikirkan tentang keberadaan cucunya yang bernama Han Chen Yang, Han Chen Yang adalah cucu sekaligus muridnya yang paling berbakat.
Han Chen Yang adalah Putra dari putrinya, Sie In Lei yang sangat berbakat seperti dirinya, ketika itu sang putri terpikat oleh seorang lelaki dari klan Han, sebuah klan kecil di sudut terpencil pada benua Thian Agung.
Seorang pria tampan bernama Han Wi Ong, tampil pada kontes penerimaan anggota pasukan untuk pasukan penjaga benua dan kekuatan serta tingkat kultivasi Han Wi Ong sangat menonjol bagi rata rata warga benua Thian Agung, dan dalam waktu singkat, dia mencapai tingkat kultivasi Manusia Suci dari tingkat kultivasi Insan Raja dalam rentang 5 tahun saja dan langsung menjadi perwira kecil.
Dan bakat Kultivasi Han Wi Ong terus melesat dan dia juga meraih prestasi kemiliteran yang spektakuler, dan bakat itu diturunkan juga kepada Han Chen Yang putranya, yang pada usia 17 tahun sudah menembus tingkat Manusia Suci ke-9 Puncak, tinggal selangkah lagi menembus tingkat Manusia Dewa, yang bagi warga Thian Agung sekalipun lahir sudah berada pada Insan Raja namun untuk melangkah pada tingkat selanjutnya memerlukan waktu belasan atau bahkan puluhan tahun.
Masih ada 9 tingkatan pada langkah Insan Raja dimana masing-masing tingkat terbagi dalam tiga kelas kecil yakni, Awal, Lanjutan dan Puncak yang memakan waktu tahunan bagi kenaikan kelas kecil ini.
Belum lagi tahapan Manusia Suci yang sama terbagi dalam tingkat seperti Insan Raja.
Saat ini Han Chen Yang berada dalam pengasingan di klan Thian, dia dianggap bertanggung jawab atas kehilangan sebuah benda pada klan Thian.
Han Chen Yang adalah seseorang yang menikahi salah satu putri tercantik dan berbakat bernama Thian Sian Li.
Ketika menikahi Thian Sian Li, Han Chen Yang sudah pada tahap Manusia Dewa ke-1 Puncak pada usia 20 tahun dan Thian Sian Li pada tingkat Manusia Suci ke-9 Awal.
Sebuah tragedi terjadi bagi keluarga Han Chen Yang beberapa tahun lalu, dimana sebuah benda yang bernama Buah Darah Naga, benda keramat yang sangat dijaga ini telah berumur ribuan tahun dan anehnya tidak bisa sembarang orang dapat memanfaatkannya termasuk Thian Kong Jie, ternyata buah itu memerlukan konstitusi tubuh yang khusus untuk dapat digunakan menurut perkamen catatan leluhur, dan barang itu hilang dicuri seseorang, dan pada saat itu yang bertanggung jawab adalah Han Chen Yang.
Dia terluka ketika menghadang pencuri tersebut dan kehilangan benda yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga dia tidak terhindarkan dari tanggung jawabnya dan melaksanakan hukuman yang ditetapkan oleh klan Thian untuk diasingkan di sebuah tempat yang bernama Lembah Tengkorak.
Sie In Hong walau telah berusia ratusan tahun namun sosok dan wajahnya masih merupakan gambaran kecantikan yang menandingi wanita belia lainnya.
Dengan mata yang dihiasi bulu yang lentik dengan pipi yang halus berona serta warna bibir yang masih berwarna merah jambu tanpa pewarna bibir dan muka dengan dagu yang meruncing dan wajah ini masih ditunjang dengan tubuh tinggi semampai dengan otot pinggul bulat dan tonjolan dada yang mencuat bagai merobek gaun yang dikenakannya.
”Ibu aku datang !”, ada suara yang mendatangi ke arahnya, maka terlihatlah sesosok wanita yang mirip dengannya namun lebih ramping dengan kecantikan yang sama.
”Lei er ada apakah?”, tanya Sie In Hong pada putrinya Sie In Lei.
Sekalipun menggunakan marga yang sama, mendiang suami Sie In Hong bermarga Sie juga, bukan berarti bahwa mereka memiliki hubungan darah namun semata-mata karena keberadaan mereka berada pada klan Sie dimana semua anggota klan akan mengganti marga mereka mengikuti klan yang diikutinya sebagai bentuk kesetiaan pada klan.
”Ibu aku khawatir dengan keadaan putraku, Han Chen Yang, dapatkah dia diringankan dan dibebaskan dari hukumannya, sudah sepuluh tahun dia menjalaninya”, kata Sie In Lei.
Jika melihat dari dekat maka terlihat bahwa wajah Sie In Lei ada guratan halus seperti lebih tua dibandingkan ibunya, Wajar saja karena tingkat kultivasi Sie In Lei pada tahap Manusia Dewa ke-7 Puncak. Jadi semakin tinggi tingkat kultivasi seseorang maka akan terhindarkan dari proses penuaan yang dialami.
”Aku sudah bertanya pada Thian Kong Jie, namun ada ganjalan dari Thian Lok yang menginginkan syarat tambahan, dia menginginkan diriku untuk menjadi pasangan kultivasi dan aku sedang mempertimbangkannya, namun istri cucuku Han Chen Yang tidak berada di benua ini, aku takut Chen Yang akan murka dan menimbulkan masalah yang tidak perlu”, jawab Sie In Hong.
”Menantu Thian Sian Li tidak berada di benua ini?, dan penatua Thian Lok menginginkan tubuh ibu, apakah dia tidak puas dengan jumlah betina diistananya?”, kata Sie In Lei geram.
”Jika demikian kita harus menunggu Thian Sian Li kembali, apakah Sian Li pergi dengan membawa cucuku juga?”, katanya lagi.
”Ya, aku menduga Sian Li pergi untuk menangkap pencuri itu, namun kemungkinannya kecil jika Sian Li mampu menangkap pencuri tersebut, karena tingkat pencuri itu lumayan tinggi untuk dapat masuk dan mencuri pada klan Thian, terbukti anakmu pun terluka oleh pencuri itu, sedikitnya pencuri itu sudah pada tingkat Raja Dewa”, jelas Sie In Hong.
Sie In Lei hanya termenung mendengar penjelasan tentang menantu perempuan dan cucunya yang juga tidak ada di benua Thian Agung.
”Bagaimana kabar suamimu?, apakah dia baik-baik saja menjalankan tugas sebagai Hakim di kota itu?”, tanya Sie In Hong tentang menantunya.
”Aku dapat pergi meninggalkannya, karena selama ini relative aman di daerah itu”, jawab Sie In Lei.
”Lain waktu jika ada kesempatan bawalah suamimu, aku ada pesan untuk dijalankan olehnya”, kata Sie In Hong.
”Baiklah bu,” jawab Sie In Lei.
Percakapan antara putri dan ibu kandung itu terjadi di istana Sie In Hong yang merupakan Anggota Dewan Tertinggi Keadilan, tidak seorang pun yang berani dengan konyol mendekati ruangan dimana ibu dan anak itu berada. Apalagi pada tingkat yang dimiliki oleh Sie In Hong yang sudah di tingkat kultivasi Raja Dewa Ke-6 Puncak.
Nun jauh di kedalaman Benua Thian Agung, ada tempat bernama Lembah Tengkorak, lembah ini termasuk wilayah klan Thian namun keberadaannya sering kali dilupakan oleh orang bahkan klan Thian itu sendiri, kecuali para petinggi Klan karena tempat mengerikan itu adalah sebuah tempat yang dilindungi oleh labirin yang tidak dapat ditembus oleh sembarang orang.
Tempat itu berhawa busuk dengan banyaknya rawa-rawa yang dihuni binatang melata beracun, sehingga banyak uap beracun yang beredar dan bercampur di udara wilayah Lembah Tengkorak.
Pemandangan pada setiap jengkal wilayah itu dipenuhi oleh rangka dan tengkorak bekas mayat berbagai makhluk hidup.
Dan makhluk hidup yang bertahan di daerah ini adalah makhluk yang bermutasi dengan pengaruh lingkungan beracun dan ganas.
Suhu di daerah ini pun sering berubah dengan ekstrim, kadang panas menyengat atau tiba-tiba berubah menjadi dingin membeku, terutama di daerah lembah dimana ada sebuah jurang yang dalamnya tidak terduga, karena sering timbul uap berwarna merah kebiruan yang muncul dari kedalaman jurang yang sangat beracun, dimana uap kemerahan ini sangat panas bila bersentuhan dengan kulit dan daging sampai melepuh, sedangkan yang berwarna kebiruan sangat dingin dan dapat membuat benda yang dilaluinya diselaputi es yang membeku.
Orang yang dimasukkan dalam Lembah Tengkorak tidak dapat keluar karena kekuatan labirin yang mengelilingi wilayah itu, yang memang sengaja dibuat oleh seorang Raja Dewa ke-9 Puncak dari leluhur Klan Thian ribuan tahun lalu dan untuk membuka atau menutupnya, telah diwariskan kepada keturunannya yang telah mencapai minimal tingkat Raja Dewa ke-5.
Labirin itu sendiri sengaja dibuat untuk melindungi wilayah Klan Thian, karena di Lembah Tengkorak ada sumber Energi jahat yang sangat merusak, yang bersumber dari kedalam jurang di dalam bagian inti Lembah Tengkorak, dan energi ini jika tidak dijaga, dapat menyebar ke seluruh permukaan dunia, khususnya benua Thian Agung.
Tidak ada makhluk hidup di pinggiran jurang, baik itu binatang atau tumbuhan dan tanah serta bebatuan itu berwarna merah atau biru namun yang lebih banyak adalah campuran merah dan biru, tapi di dasar jurang Lembah Tengkorak ini ada sesuatu yang masih bernafas dan nafas itu dikeluarkan dari lubang hidung seseorang.
Tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, hanya rambutnya tergerai yang jatuh menutupi wajah hingga setengah bagian tubuhnya.
Hembusan nafas yang dikeluarkannya kadang panas menyengat lalu berganti dengan dingin menggigil.
Siapakah orang ini?, dia adalah Han Chen Yang, seorang yang dipaksa menjalani pengasingan di Lembah Tengkorak karena dianggap telah lalai dalam menjalankan tugasnya.
Sebenarnya dengan dijatuhi pengasingan di lembah Tengkorak bagi sebagian orang tidak jauh berbeda dengan dijatuhi hukuman mati.
Andil terbesar dalam dakwaan Han Chen Yang sebenarnya adalah karena desakan dari seorang anggota Dewan Keadilan Tertinggi yang wewenangnya sedikit di bawah Thian Kong Jie, orang itu adalah Thian Lok, yang memiliki kekuatan mengendalikan pasukan terbesar Benua Thian Agung, maka usulan hukuman terhadap Han Chen Yang hanya menimbulkan sedikit protes saja dari anggota Dewan Keadilan Tertinggi lainnya, dalam hal ini hanya Sie In Hong, nenek Han Chen Yang.
Thian Lok berbuat seperti itu, pada dasarnya adalah sebuah maksud untuk memiliki kecantikan Thian Sian Li.
Thian Lok tidak memiliki darah yang sama dengan Thian Sian Li, sebab Thian Lok bergabung dengan klan Thian terjadi pada ratusan tahun lalu ketika dia masih sangat muda dan tingkat kultivasinya masih rendah, namun karena kesetian dan bakat yang ditunjukannya pada klan Thian sehingga dia memperoleh fasilitas yang diberikan bagi anggota elit klan lainnya, maka ketika dia masuk ke dalam klan diapun mengubah namanya menjadi marga Thian.
Kecantikan dan bakat Thian Sian Li, sudah diincar oleh Thian Lok ketika Thian Sian Li tumbuh dan menjelma menjadi dara remaja dan Thian Lok masih sebagai Penatua Luar klan Thian.
Maka ketika terjadi perkawinan antara Thian Sian Li dan Han Chen Yang dimana status Han Chen Yang sekalipun adalah cucu dari Sie In Hong namun Klan Keluarga Han tidak memiliki status yang tinggi dan tidak dianggap di benua Thian Agung, membuat Thian Lok sakit hati dan membuyarkan rencananya untuk mengokohkan posisinya sebagai anggota inti klan Thian.
Thian Sian Li sebenarnya masih terhitung cucu dalam dari Thian Kong Jie, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Klan Keluarga Thian.
Di dunia kultivasi adalah wajar jika seorang kultivator memiliki beberapa pasangan hidup baik itu lelaki maupun wanitanya, bahkan Thian Kong Jie memiliki 7 wanita yang diakuinya sebagai pasangan hidupnya salah satu dari istrinya itu adalah nenek dari Thian Sian Li.
Han Chen Yang dalam posisi duduk bersila seperti semedi dengan kedua telapak tangan yang memegang lutut kaki, yang aneh adalah warna kulit pada tangannya, secara bergantian berubah warna antara merah dan biru.
Tidak jauh dari posisi semedi Han Chen Yang, di depannya ada pusaran gas yang berputar sesuai dengan rotasi inti bumi, dari perputaran ini menimbulkan gas berwarna merah pekat dan biru pekat.
Han Chen Yang berada di tempat ini sebenarnya adalah tindakan putus asa, saat dia diasingkan oleh para petinggi klan Thian, dia mendapati dirinya berada ditempat berbau busuk dengan lingkungan yang suram dan tidak lama kemudian dia sudah dikelilingi oleh berbagai bentuk ukuran binatang yang berbisa.
Dengan maksud mempertahankan hidup dia mengerahkan teknik beladiri dan kultivasinya yang saat itu pada tingkat Manusia Dewa ke-4 Lanjutan, dan bertempur dengan binatang-binatang buas itu sambil terus menjauh dari kepungan para binatang tersebut, ditengah pelariannya dia menyadari bahwa kepungan binatang itu sedikit berkurang ketika dia berlari ke arah inti dari bagian lembah ini, namun udara di bagian inti ini semakin ekstrim dengan perubahannya yang tiba-tiba.
Semakin jauh ke dalam, para binatang ini semakin berkurang jumlahnya, dengan harapan menghindari kepungan binatang-binatang tersebut, Han Chen Yang tiba di pinggir jurang yang merupakan inti dari beredarnya udara yang sangat beracun, dan akhirnya, dirinya tidak dapat bertahan sehingga dia menyerah pada kematian karena luka yang dideritanya serta gas beracun yang dihirupnya, dia jatuh pingsan dan masuk ke jurang tersebut.
Setelah berhari-hari tidak sadarkan diri, Han Chen Yang mendapatkan dirinya belum mati, kejatuhan dirinya ke jurang yang tidak diketahui kedalamannya tidak merenggut nyawa Han Chen Yang, tubuh Han Chen Yang disangga oleh bantalan lumut yang sangat tebal dan empuk berwarna ungu, di tengah kesadarannya, secara naluri dia menyeruput cairan di dalam bantalan lumut berwarna ungu yang tumbuh di dasar jurang.
Kondisi tubuh Han Chen Yang sangat mengkhawatirkan, tubuhnya sangat beracun dan luka-luka yang dideritanya sangat parah, kondisi ini berlangsung selama berbulan-bulan, dia hanya bisa berbaring dan telungkup.
Untuk mengatasi penderitaanya, Han Chen Yang hanya bisa mengunyah lumut ungu dan jika mulutnya terasa kering akibat hawa panas yang ditimbulkan oleh gas berwarna merah dia meminum air yang dikandung oleh lumut ungu tersebut.
Dan jika suhu udara berubah menjadi dingin, dia hanya bisa mengerahkan energi yang dihasilkan oleh tingkat kultivasinya.
Ternyata proses ini menimbulkan perubahan pada teknik kultivasi yang dikuasainya, terjadi transformasi pada tubuhnya, dantian dan pembuluh darahnya berubah sangat luas dan bereaksi sangat cepat dengan perputaran kecepatan yang semakin meningkat.
Tingkat kultivasinya berkembang tanpa mengalami kelas-kelas kecil lagi dari tingkat Manusia Dewa ke-4 Lanjutan dalam beberapa bulan langsung menerobos ke tingkat Manusia Dewa ke-5 Sempurna dalam beberapa bulan melewati beberapa kelas sekaligus tanpa halangan.
Dan saat ini Han Chen Yang telah mengalami transformasi tubuh secara menyeluruh, setelah sepuluh tahun berada di tempat ini, dia telah mengolah dan memperdalam Teknik Beladiri yang dikuasainya bahkan teknik beladirinya menciptakan suatu teknik yang baru, hasil dari penciptaan dari berbagai Teknik Kategori Dewa kelas Sempurna, dan teknik beladirinya yang baru menjadi teknik Kategori Mustahil Kelas Sempurna.
Yang lebih mengerikan adalah tingkat kultivasi Han Chen Yang, yang sudah mencapai Tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak, dimana dia berhasil mengolah tubuhnya yang dapat mengeluarkan racun yang dahsyat dengan membuat suhu di udara sekitarnya berubah menjadi ekstrim dingin membeku atau panas membara, sesuai dengan kehendak pikirannya.
Persepsi pikirannya pun meluas sampai dapat menjangkau wilayah diluar Lembah Tengkorak dan menembus labirin pelindung tersebut.
Sekarang dia tahu bahwa istri dan anaknya tidak berada di Benua Thian Agung, dia bertekad akan menembus batasan labirin pelindung Lembah Tengkorak dan mencari istri dan anaknya.
”Aaaaarrrrrrrggghhhhh… aku bebas…!!!!” teriakan itu bergema mengejutkan para penghuni Lembah Tengkorak.
Mendengar teriakan itu, banyak binatang buas beracun langsung bersembunyi, mereka takut menjadi mangsa dari makhluk yang lebih mengerikan, namun ada beberapa ekor yang tidak dapat menghindar hanya bisa pasrah ketika sebuah tangan mencabik tubuhnya.
Dengan tubuh yang diselimuti oleh beberapa potong kulit binatang, Han Chen Yang melangkah mendekati sisi pembatas Labirin pelindung Lembah Tengkorak.
Dengan kaki terpentang, dia membuat kuda-kuda yang kokoh, serta kedua tangan di sisi tubuh bagian perut, Han Chen Yang mengerahkan energinya yang disalurkan pada kedua tangannya, maka dari kepalan kiri ada sinar berwarna biru dan kepalan kanan ada sinar berwarna merah, kedua cahaya ini menabrak dinding labirin pelindung Lembah Tengkorak.
Duarrr….!!!!
Weeeennnkkk..,weeennnkk..!!!!
Dinding labirin itu bergetar kuat, namun tidak menghasilkan robekan yang diharapkan.
Tindakan itu terus diulang-ulang oleh Han Chen Yang, namun hasilnya tetap sama.
Sebuah ide akhirnya muncul, Han Chen Yang merubah sikap kuda-kudanya kedua tangannya berubah warna secara bersamaan ketika kedua jari-jari tangan disatukan dan membentuk kepalan, meluncurlah cahaya ungu pekat menabrak dinding labirin itu.
Chuss…!!!!
Bukan suara dahsyat seperti yang sudah terjadi, namun suara halus seperti bara api yang tersiram air, namun labirin itu membentuk sebuah lorong dengan lebar lubang berdiameter satu depa, dengan pikirannya Han Chen Yang meluncurkan tubuhnya memasuki lubang tersebut, dia khawatir lubang itu akan menutup kembali, dan benar saja, setelah dia tiba di bagian luar Lembah Tengkorak, lubang lorong itu menutup kembali.