Di jalan raya yang mengarah ke pintu gerbang masuk Ibukota Besar Awan Cerah, di tengah orang-orang yang keluar masuk, ada seseorang yang tubuhnya dilapisi dengan aneka jenis kulit binatang, rambut hitamnya tergerai tanpa diikat seperti kebanyakan orang, rambut itu menutupi sebagian wajah sampai setengah tubuhnya.
Sosok ini terlihat tegap dengan postur tubuh melengkung dengan bahu yang rata dan kokoh, dan dari sela-sela rambut itu terdapat sinar mata yang mencorong menatap tajam, ketika orang-orang yang melewatinya berpapasan dan bentrok dengan tatapan mata orang itu, mereka selalu cepat menghindar atau langsung menundukkan wajahnya.
Orang itu tanpa ragu terus berjalan memasuki kota dengan langkah tenang dan penuh percaya diri, ketika tiba dimuka pintu gerbang, seseorang berteriak
”Hentikan langkahmu dulu, engkau harus menunjukkan identitasmu, kalau kau warga Ibukota kau bebas masuk namun jika bukan, bayar biaya masuk !”, perintah itu dikeluarkan oleh seorang penjaga yang datang dengan langkah gagah dan badannya lebih tinggi dari orang tersebut.
”Hmmm..,” orang itu hanya mendengus dari lubang hidungnya ketika penjaga itu menghampirinya, anehnya penjaga itu langsung kaku dan mulutnya melongo, tak lama kemudian dari mulutnya dia berkata,
”Silahkan tuan masuk”, dengan membungkuk dia mempersilahkan orang itu meneruskan langkah kakinya.
Kejadian ini bukan sesuatu yang istimewa dan luput dari perhatian orang disekitarnya.
Apa yang dialami penjaga itu sebenarnya luar biasa, karena ketika orang itu mendengus dan tatapan matanya bentrok, ada kengerian di hati penjaga tersebut yang dengan cepat penjaga itu bereaksi mengijinkan orang itu lewat, dia tidak mengenal orang itu, yang dia tahu orang ini bukan sembarangan ahli.
Orang itu melanjutkan langkahnya dengan tenang, sesekali keluar sedikit keluhan dari mulutnya seperti bergumam seperti menyesali sesuatu.
Bila ditaksir usianya seperti pemuda 20 tahunan, namun bila seseorang mendekatinya ada aura dingin dan mengejutkan pada tubuh orang tersebut.
Dia adalah Han Chen Yang, yang baru lolos dari Lembah Tengkorak, kedatangannya ke Ibukota adalah dalam rangka mencari informasi keberadaan istri dan anaknya.
Han Chen Yang tidak terus melangkah ke istana klan Sie, tempat neneknya, namun dia terus menuju ke istana klan Thian.
Dia berbelok ke sebuah jalan yang sepi dan tubuhnya pun menghilang, di depan gerbang pemukiman klan Thian, Han Chen Yang muncul kembali.
Dari jarak sekitar seratus langkah dari muka gerbang klan, Han Chen Yang bersandar pada batang pohon raksasa, matanya lalu terpejam, dengan persepsinya dia berusaha menyelidiki pemukiman klan Thian, dimana didalamnya berdiri lusinan bangunan dan beberapa menara yang tinggi bagai merobek langit.
Menara-menara ini adalah tempat kultivasi para anggota elit dan sesepuh klan.
Sedikit senyum terukir pada wajah Han Chen Yang, dan dia berteleportasi kembali.
Kini dia berada di bagian atas salah satu menara dalam posisi duduk di salah satu ujung wuwungan atap menara di atas awan.
Menara itu milik Thian Lok, dan di bagian dalam menara di sebuah ruangan, terlihat seorang lelaki 40 tahunan, dengan wajah segar kemerahan, ada kumis yang tercukur rapih melengkapi wajahnya yang tampan, matanya kecil, dengan dagu klimis, rambutnya diikat keatas dan dihiasi sebuah mahkota kecil dengan sedikit anak rambut di pipinya menjuntai turun, dia duduk di sebuah altar yang terbuat dari batu giok berwarna hijau kekuningan.
Thian Lok dalam posisi semedi, dengan mata terpejam dia mengatur nafas dan desahannya sangat lembut, tingkat kultivasinya sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-6 Awal.
”Raja Mulia mohon audisi !”, sebuah seruan suara lelaki terdengar di balik pintu.
”Hmm… masuklah”, jawab Thian Lok.
Pintu itu terdorong, maka muncullah sebuah wajah pria 60 tahunan yang penuh dengan guratan-guratan tanda kepahitan hidup.
”Raja Mulia hamba melaporkan, bahwa keberadaan nona muda diperkirakan keluar dari benua Thian Agung melalui pintu gerbang timur dengan putranya”, kata lelaki itu, setelah memberi penghormatan.
”Bukankah itu mengarah ke sebuah benua pembuangan?”, kata Thian Lok sambil merenung.
Katanya kemudian,
”Kui Mo bawa 4 orang anggota tim elit, dan bawa kembali Sian Li dan bunuh putranya !”, kata Thian Lok memberi perintah.
”Hamba, Raja Mulia”, jawab Kui Mo patuh.
Sambil berjalan mundur, Kui Mo meninggalkan ruangan itu, dan ruangan itu kembali sunyi.
Saat mata Thian Lok akan terpejam, dia mengernyitkan keningnya dengan kepala mendongak ke atas.
”Saudara kultivator jika sudah datang mengapa tidak mampir?”, seru Thian Lok ke atas.
Tidak ada balasan apapun, seperti angin lalu dan kembali hening.
Han Chen Yang telah meninggalkan menara Thian Lok, dengan wajah muram menahan marah, dia tidak menduga bahwa Thian Lok yang masih terhitung paman kakek istrinya, berniat jahat pada anak dan istrinya, dia jelas paham maksud dari percakapan Kui Mo dan Thian Lok, apa yang dimaksud oleh dengan ‘nona muda’ adalah panggilan umum kepada istrinya di klan Thian.
Kui Mo adalah salah satu anggota tim elit milik Thian Lok, dimana masing-masing Anggota Dewan Keadilan Tertinggi memiliki pasukan kecil yang bertugas dalam membantu tugas masing-masing Anggota Dewan.
Dan tingkat kultivasi Kui Mo pada tingkat Manusia Dewa ke-9 Awal.
Han Chen Yang dapat saja membunuh Thian Lok dengan kultivasi yang dicapainya saat ini, namun dia tidak mau melakukannya dengan sembrono karena Thian Lok adalah Anggota Dewan Keadilan Tertinggi yang dapat berdampak pada kedudukan Sie In Hong neneknya, dan ayahnya yang menjadi seorang Hakim di wilayah luar Ibukota Besar Awan Cerah, belum lagi klan Han yang kecil di Benua Thian Agung.
Han Chen Yang harus memiliki alasan dan bukti yang kuat untuk menyingkirkan orang sekelas Thian Lok, dendam pribadi tidak boleh muncul untuk mengancam seseorang yang memiliki pengaruh luar biasa.
Bila itu menyangkut kepentingan makhluk hidup Benua Thian Agung, atau mengarah pada pengkhianatan terhadap tatanan Benua Thian Agung maka pembalasan dapat dilakukan.
Namun sulit untuk menyatakan bahwa Thian Lok berkhianat terhadap kepentingan Benua Thian Agung, dia memiliki prestasi luar biasa, bahkan diakui oleh klan Thian.
Yang dapat dilakukan oleh Han Chen Yang adalah menghabisi orang-orang kepercayaannya di luar Benua Thian Agung.
Di tempat lain, terdapat sebuah bangunan megah, istana ini tempat kediaman seorang Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Bu Mei Ling.
Di dalam ruangan yang sangat luas dengan ornamen ruangan yang berhiaskan segala aneka bunga dan dinding yang berwarna lembut berdiri sesosok tubuh tanpa busana.
Posisi tubuh ini berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanan diangkat dan ditekuk dengan telapak kaki menyentuh lutut kaki kiri, dan kedua tangan terlipat di depan dadanya yang membuncah dengan telapak tangan yang saling bertemu.
Wanita itu adalah Bu Mei Ling, yang saat ini berada di dalam kamar pribadinya sedang berkultivasi dengan teknik yang telah dilatihnya berulang kali, namun belum mencapai kesempurnaan.
Wanita yang berusia ratusan tahun itu, saat ini bagai gadis dewasa yang matang, tidak ada keriput baik di wajah maupun bagian tubuh yang lain, semua tampak sempurna, karena tingkat kultivasinya adalah Raja Dewa ke-6 Lanjutan.
Tidak ada cacat pada kulitnya yang berwarna putih halus, ada rona kehijauan pada bongkahan besar di dadanya, bagian perutnya rata sementara bagian sensitifnya dipelihara dengan baik tanpa sehelai bulu yang menempel.
Ditunjang oleh wajah yang cantik dengan mata yang berbinar terbuka dihiasi bulu mata lentik dengan cuping hidung yang mancung serta tekukan bibir sensual yang sedikit tebal, dan wajah sempurna ini disangga oleh leher yang panjang.
Jika harus dibandingkan dengan sesama wanita matang Anggota Dewan Keadilan Tertinggi seperti Sie In Hong, sulit diputuskan siapa yang lebih cantik, namun keduanya memiliki karakter yang berbeda.
Tiba-tiba mata Bu Mei Ling terbuka, dengan cepat dia menjentikkan jarinya dan sehelai pakaian lembut terbang ke arah dirinya, dengan cepat dia mengenakannya dan mengikat dengan sembarangan.
”Salam Ratu Mulia”, sebuah suara terdengar dari sebuah jendela di hadapannya.
”Siapa?”, tanya Bu Mei Ling, sambil keningnya berkerut, karena tamu yang akan datang ini lolos dari persepsinya, bahkan telah tiba diluar jendela menaranya yang menjulang tinggi.
”Ini aku yang rendah”, tamu itu tidak langsung memperkenalkan namanya.
Dengan lambaian tangannya jendela itu terbuka, tampaklah seorang pria yang melayang di luar, dengan pakaian kulit yang sembarangan menempel di tubuhnya yang tegap dan kokoh, dengan rambut yang tidak terikat riap-riapan terbang menyibak dan memperlihatkan seorang pria berwajah tampan dengan mata tajam yang mencorong.
”Kamu…., Han Chen Yang”, tebak Bu Mei Ling.
”Ya, ini aku Ratu Yang Mulia” jawab Han Chen Yang.
”Bolehkah aku masuk?” pinta Han Chen Yang.
”Hmmm…., masuklah”, kata Bu Mei Ling.
Bu Mei Ling sebenarnya terkejut melihat kedatangan Han Chen Yang, walau bagaimana Han Chen Yang berbeda generasi dengannya, bahkan nenek Han Chen Yang jika dihitung melalui umur, Sie In Hong masih juniornya.
Dan Bu Mei Ling tahu bahwa orang di hadapannya adalah orang yang menjalani pengasingan di Lembah Tengkorak, dan saat ini sudah berdiri di hadapannya, jadi dapat dipahami bahwa tingkat kultivasi Han Chen Yang telah maju dengan pesat minimal dia sudah masuk pada tingkat Raja Dewa.
Maksud kedatangan Han Chen Yang belum bisa dipahami oleh Bu Mei Ling, mengapa dia tidak berkunjung ke istana neneknya atau berkunjung ke orang tuanya Han Wi Ong yang menjabat sebagai Hakim, malah berkunjung ke istananya, itu pun melalui jalan yang tidak ingin diketahui oleh orang-orangnya.
Dengan kecerdasannya Bu Mei Ling menduga sesuatu yang sangat rahasia yang akan diutarakan oleh Han Chen Yang.
Tebakkan Bu Mei Ling hampir tepat, Han Chen Yang membutuhkan sekutu di luar orang-orang yang dekat dengan dirinya untuk membangun kekuatan dalam menghadapi Thian Lok.
Dan pilihannya jatuh pada sosok Bu Mei Ling, karena tokoh wanita ini dikenal tidak pernah memihak kepada siapapun dan tidak pernah takut melawan siapapun tanpa kecuali, sekalipun terhadap Thian Kong Jie selaku Kepala Anggota Dewan Keadilan Tertinggi.
Dan untuk meruntuhkan hegemoni klan Thian dibutuhkan kekuatan penyeimbang, dan klan Bu cukup memadai, yang dibutuhkan klan Bu adalah motivasi dan harapan.
”Maafkan kelancangan yang rendah ini, dan berkunjung seperti ini” kata Han Chen Yang sopan.
”Tidak perlu sopan santun, dengan berhasilnya kamu dari Lembah Tengkorak, itu menandakan tingkat kultivasimu maju dengan cepat, apa tingkatmu sekarang?”, tanya Bu Mei Ling.
”Hamba yang rendah adalah tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak”, kata Han Chen Yang, walau dia mengatakan ‘hamba yang rendah’ namun tatapan matanya menatap tajam terhadap diri Bu Mei Ling, yang saat itu gaunnya hanya dipasangkan asal jadi apalagi bahan yang digunakan sangat tipis sehingga masih sedikit terbuka bahkan bagian dadanya seperti melesat keluar karena ukurannya yang cukup besar.
”Apa!!!?,”,
Bu Mei Ling terkejut sejenak mendengar jawaban Han Chen Yang,
secara tidak sadar tangannya yang sedari tadi berlipat di depan dada kedua tangannya terangkat ke arah kening dan kepalanya sehingga ikatan asal jadi pada gaunnya menjadi longgar, maka makin terbukalah bagian depannya.
Bu Mei Ling terkejut, tidak menyangka bahwa pemuda tampan di depannya memiliki tingkat kultivasi di atasnya, tadinya dia masih menganggap remeh karena walau Han Chen Yang berhasil lolos dari Lembah Tengkorak, paling tinggi dia berada pada tingkat Raja Dewa ke-4 atau di bawahnya, hal itu didasarkan perhitungan dirinya pada akumulasi waktu yang dibutuhkan oleh seorang kultivator genius, sesingkat-singkatnya seorang jenius paling berbakat dalam berkultivasi, waktu adalah musuhnya.
Namun Han Chen Yang berhasil mengejutkannya, dan dia luar biasa dari tingkat Manusia Dewa ke Raja Dewa hanya membutuhkan waktu beberapa tahun saja sedangkan jenius luar biasa lainnya memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun.
Sama seperti dirinya yang dipandang makhluk super jenius di benua Thian Agung yang memerlukan waktu ratusan tahun untuk sampai pada tingkat sekarang ini.
”Apa yang ditemui oleh Han Chen Yang di Lembah Tengkorak yang terkenal dengan tanah tanpa harapan bahkan hanya ada kematian, keberuntungan apa yang dia terima di tanah terkutuk itu”, renung di dalam hati Bu Mei Ling
Sementara Bu Mei Ling berpikir tentang tingkat kultivasi Han Chen Yang, terjadi perubahan pada wajah Han Chen Yang, nafasnya tidak teratur dan terjadi perubahan suhu dalam ruangan yang luas itu, dingin menggigil lalu berubah menjadi panas menyengat.
Hal tersebut belum disadari oleh Bu Mei Ling,
Kasihan dengan Han Chen Yang, posisi duduknya lebih rendah dari posisi duduk Bu Mei Ling yang berada di atas sebuah kursi, sehingga ketika dia menatap ke depan maka yang terpampang adalah paha mulus Bu Mei Ling yang tersingkap sampai ke pangkalnya.
Keambiguan itu berlaku cukup lama, tiba-tiba tubuh Han Chen Yang bergetar, Bu Mei Ling terkejut melihat reaksi Han Chen Yang, setelah dia melihat dirinya, semburat merah menjalar pada wajahnya yang cantik, dan Bu Mei Ling menyadari perubahan suhu yang sering berganti-ganti ini.
”Han Chen Yang berdirilah, aku akan mengujimu”, perintah Bu Mei Ling sambil dia kembali mengikatkan gaun tipisnya.
Han Chen Yang tidak langsung menjawab, namun dia mengatur nafasnya dengan mata terpejam, tak lama kemudian nafasnya menjadi teratur kembali, namun sorot matanya menjadi lebih tajam.
”Apakah harus bertanding dulu untuk membuktikan bahwa aku lebih kuat darimu?” kata Han Chen Yang, terjadi perubahan nada yang tadinya menganggap diri rendah, sekarang ada nada kesetaraan.
Bu Mei Ling tidak peduli dengan perubahan nada Han Chen Yang, kalau memang dia dapat menandingi dirinya maka pantas Han Chen Yang menganggap setara dengannya.
Han Chen Yang melakukan gerakan yang menimbulkan terjadinya perubahan suhu udara lebih ekstrim, kedua tangannya bergerak dengan warna berbeda silih berganti antara merah membara dan biru membeku.
Betapa terkejutnya Bu Mei Ling melihat perubahan teknik yang dikembangkan oleh Han Chen Yang. Karena teknik ini bukan kategori Dewa lagi melainkan sudah masuk kategori Mustahil.
Bu Mei Ling mengerahkan energinya, maka
Dusss… !!!
Blaaarrrrr…!!!
Dua letusan energi meletus dan bertabrakan, pakaian yang melekat pada Bu Mei Ling tercabik-cabik dan pakaian kulit di tubuh Han Chen Yang pun tersobek sedemikian rupa.
Han Chen Yang masih membatasi tenaganya agar tidak melukai tubuh Bu Mei Ling, sementara Bu Mei Ling mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengimbangi tenaga raksasa yang dikeluarkan oleh Han Chen Yang.
Pertarungan keduanya masih tetap berlangsung beberapa waktu dengan pakaian masing-masing sudah tidak berbentuk, dapat dikatakan keduanya telanjang bulat akibat ledakan energi yang ditimbulkan.
Han Chen Yang sebetulnya hanya mengimbangi Bu Mei Ling dan Bu Mei Ling melihat ini adalah kesempatan dirinya untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya sebagai ajang latihan yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Waktu bergulir, tidak terasa oleh keduanya bahwa hari siang telah berubah menjadi gelap, Bu Mei Ling selalu menjaga privasi pada ruangannya dengan memasang formasi khusus sehingga suara keras dalam ruangannya tidak tembus keluar, dan pertarungan mereka terjadi selama 3 hari 3 malam di puncak menara kediaman Kepala Klan Bu.
Nafas Bu Mei Ling terengah-engah kelelahan, sementara mata Han Chen Yang menjadi merah, selama ini dalam diri Han Chen Yang ada energi lain yang berkembang, ada desakan primitif yang ingin dia lepaskan, sebenarnya ini adalah dampak uap beracun ketika dia berkultivasi di kedalaman jurang Lembah Tengkorak yang menjadi sumber energi ‘jahat’, jika dia tidak menemukan lumut ungu dan memakannya serta meminum air inti lumut ungu maka hanya kematian ketika dia menghirup dua gas beracun beda warna itu.
Beruntungnya Han Chen Yang karena memakan Lumut Ungu dan minum air Inti Lumut Ungu, karena udara yang dihirup saat itu diubah dan bertransformasi terhadap konstitusi tubuhnya menjadi tubuh penuh energi dan meningkatkan kultivasinya secara instan tanpa dampak yang fatal, namun demikian hasrat seksualnya jadi tidak terkontrol.
Tiba-tiba serangan Han Chen Yang berubah, serangannya tidak memiliki energi membunuh, malah tanpa tenaga dan sangat cepat perubahannya namun selalu mengarah pada bagian sensitif dari tubuh Bu Mei Ling, Wajah Bu Mei Ling menjadi merah merona, karena dengan gerakan aneh Han Chen Yang dia sulit untuk mengelak ketika bagian sensitifnya disentuh oleh tangan kekar Han Chen Yang.
Gairah libidonya terpicu karena sentuhan Han Chen Yang yang juga dipengaruhi oleh energi aneh dalam dirinya.
Sentuhan Han Chen Yang makin berani dan Bu Mei Ling yang tadinya akan marah malah berubah mengerang lembut ketika tangan Han Chen Yang meremas bagian sensitif disertai pijatan lembut serta penyalurkan energi yang menggetarkan permukaan kulit dan otot pada tubuhnya, menimbulkan sensasi yang sulit dijelaskan, apalagi bila tangan itu mendarat agak lama sehingga sensasi yang muncul makin memabukkan.
Sampai usia sekarang ini, bagi Bu Mei Ling dirinyalah yang melakukan sentuhan seperti itu, itu pun dilakukan ketika dia mandi, dan sekarang pemuda di depannya berani melakukannya, ada gejolak emosi kemarahan namun ada juga perasaan aneh yang mengalahkan kemarahannya.
Dalam kesehariannya, Bu Mei Ling walau terkenal berani dan terlihat sedikit genit, dia selalu menjaga kesuciannya, karena dia selalu mengejar kekuatan kultivasi selama ratusan tahun.
Dengan mulut sedikit terbuka, terdengar erangan lembut Bu Mei Ling, hal itu tidak disia-siakan oleh Han Chen Yang yang langsung menutup mulut itu dengan lidahnya. .
Dan gejolak birahi keduanya pun meledak, hal itu dilakukan berulang kali oleh keduanya dan berlangsung selama 6 hari 6 malam, dan di hari ke-7 keduanya berhenti karena keduanya mengalami lonjakan kultivasi, dan secara bersamaan di dalam dantian mereka berdua, terdapat letusan di kedalaman tubuh masing-masing
Buummm….!
Han Chen Yang melangkah pada tingkat Raja Dewa ke-7 Awal dan Bu Mei Ling akhirnya pada tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak, yang selama ini oleh Bu Mei Ling diusahakan dengan berkultivasi pahit dan menghabiskan beberapa tahun dengan berbagai dorongan dan asupan pil-pil kelas dewa, namun hanya 7 hari bersama pria di depannya tingkatnya langsung naik.
Ada kekecewaan dan kesedihan bercampur kecemburuan dari Bu Mei Ling, bahwa semua ini terjadi bukan karena ‘cinta’ namun kecelakaan tanpa sengaja di masing-masing pihak, dan dia tahu bahwa Han Chen Yang telah memiliki istri dan anak, dan istri itu adalah cucu dari koleganya.
Setelah menenangkan dirinya, Bu Mei Ling menatap pria di depannya, tadinya pria ini adalah junior yang tidak dianggap penting namun sekarang pria ini adalah ayah dari anak yang dikandungnya, ada energi kehidupan yang dia rasakan di bawah perutnya.
”Mei Ling…, maafkan aku….” kata Han Chen Yang.
”Tidak perlu kau minta maaf padaku, malah aku bersyukur dengan tingkat kultivasi yang kucapai sekarang ini”, jawab Bu Mei Ling sendu sambil membuang muka.
”Ku tahu aku bersalah atas tindakanku padamu,
namun kau sekarang adalah istriku,
ada anak yang tumbuh dalam rahimmu dan itu anak kita”,
kata Han Chen Yang dengan lancar.
”Apakah kau tidak malu memiliki wanita yang seumur dengan nenek buyutmu?”,
kata Bu Mei Ling tersenyum lembut.
”Dunia kita bukan dunia normal, kau dan aku sudah masuk dunia abadi dan ini dunia kultivasi dimana yang terkuat yang membuat hukum, jadilah kuat bersamaku”,
kata Han Chen Yang sambil tubuhnya beringsut mendekati tubuh telanjang Bu Mei Ling, lalu tangannya menyentuh dagu runcing Bu Mei Ling dan menghadapkan wajah cantik itu menengadah, terlihat ada genangan air mata diwajah indah itu.
Ada riak keceriaan dalam hati Bu Mei Ling, mendengar kata-kata kokoh dari sosok pria yang berhasil mengalahkannya dan ada harapan indah yang ditawarkan pada dirinya, namun dia belum yakin, dirinya tidak mudah terbuai, dia seorang tokoh terkemuka di klannya bahkan seluruh dunia mengakui keberadaannya, namun harapan membentuk keluarga yang normal adalah cita-cita yang sangat sulit diwujudkan dalam dunia kultivasi namun sangat didambakannya.
Kecupan lembut Han Chen Yang pada bibirnya membuat dia sadar bahwa lelaki di depannya tidak bicara omong kosong.
Dengan penuh kemesraan, Bu Mei Ling membalas kecupan itu dengan ciuman bertubi-tubi, kali ini hasrat keduanya berubah menjadi cinta kasih yang murni dan itu adalah hubungan dua hati, yang berbeda dari yang sudah terjadi.
Kemesraan keduanya berakhir, terjadi perubahan pada diri Bu Mei Ling,
dia sekarang adalah istri seseorang dan ibu dari anak di rahimnya.
Setelah keduanya berganti pakaian, Han Chen Yang Mengutarakan maksud kedatangannya semula, bahwa dirinya membutuhkan dukungan dari klan Bu bila terjadi pertentangan antara klan keluarga Sie dan Han yang akan berhadapan dengan Klan Thian, yang menjadi sokongan bagi Thian Lok.
Bu Mei Ling langsung menyatakan dukungannya karena statusnya saat ini sudah berbeda, apalagi bahwa dia pun memiliki kecurigaan terhadap Thian Lok sebelumnya yang dengan berani, selalu mengambil inisiatif keputusan strategis tanpa keputusan anggota Dewan Keadilan Tertinggi lainnya, informasi ini diperoleh sejak lama dari pasukan pribadinya.
Keduanya sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka agar rencana yang mereka susun tidak terkendala oleh hal lainnya apalagi ada calon anak di rahim Bu Mei Ling.
Han Chen Yang pun pamit dan dia bilang akan mencari Thian Sian Li dan anaknya serta akan mengurangi jumlah pasukan elit yang bekerja pada Thian Lok secara sembunyi,
dan Bu Mei Ling pun akan melakukan tindakan yang sama yaitu mengurangi jumlah orang yang setia bekerja pada Thian Lok.