Di Pagi hari yang cerah ini, ketika semua kegelapan menghindari cahaya matahari dan mulai merasuk di kedalaman setiap bukit dan gunung yang mengelilingi Sekte Samudera Naga, dimana diluar komplek Sekte ini berdiri pula beberapa bangunan yang menandakan adanya sebuah sekolah bela diri yang bernama Sekolah Beladiri Samudera Naga yang dipimpin oleh seorang Tetua yang sudah berumur sekitar 50 tahunan, dia seorang yang telah mencapai Tingkat Insan Raja ke-3 Lanjutan.
Kepala Sekolah Wang Shen masih terlihat tegap dengan usia yang sudah mencapai setengah abad ini, dia termasuk Ras Manusia, sedang berjalan menuju sebuah gedung yang terlihat megah, dia berjalan perlahan-lahan namun pasti, dia menikmati sinar matahari yang menimpa tubuhnya, angin semilir menerpa jubahnya sehingga bergoyang-goyang dengan lembut.
Bersama dengan beberapa Penatua dan Diaken dari Sekte Samudera Naga dia diberi tanggung jawab untuk memimpin Sekolah Beladiri Samudera Naga, dan saat ini ada pertemuan bagi seluruh Penatua dan Diaken Sekolah Beladiri Samudera Naga serta para pengurus divisi di lingkungan Sekolah Beladiri Samudera Naga, untuk membahas tentang pertemuan Beladiri Benua Chong Yang yang akan diselenggarakan di Ibukota kerajaan Chong Yang dimana pihak penyelenggara akan diserahkan pada pihak Istana Kerajaan Chong Yang.
Di dalam aula Sekolah telah menanti semua jajaran pengurus tingkat tinggi dan rendah Sekolah Beladiri Samudera Naga yang dengan setia menunggu, dan terlihat disini tanpa memandang Ras Iblis maupun Manusia serta Ras Campuran menjadi jajaran pengurus baik tingkat tinggi maupun tingkat rendah berkumpul bersama.
“Salam Kepala Sekolah!!”, serentak semua orang hadir membuka mulutnya dan berdiri serempak memberikan penghormatan kepada Wang shen.
“Tidak perlu sungkan dan sopan, mari semuanya duduk”, kata Wang Shen sambil melangkah ke tempat duduk di pusat meja pertemuan.
“Baiklah karena semua telah berkumpul, aku akan langsung mengutarakan maksud pertemuan ini seperti yang telah diarahkan oleh Ketua Sekte kita yang terhormat”, kata Wang Shen sejenak sambil mengatur nafas agar suara berikutnya lebih lancar dan terdengar oleh semua orang yang hadir.
“Ketua Sekte memerintahkan kita agar menyiapkan beberapa murid yang paling berbakat, untuk mengikuti kompetisi benua Chong Yang yang akan diselenggarakan 3 bulan mendatang dimana pertandingan ini akan menentukan masa depan Sekte kita selama lima tahun ke depan, serta kompetisi pertandingan akan dibagi dalam 3 kelas yaitu, kelas Kekuatan Jiwa, kelas Imajinasi Roh dan Kekuatan Insan Raja, namun semua kelas yang diperkenankan ikut adalah yang berusia serendah-rendahnya 15 - 30 tahun”, katanya lagi.
“Ijinkan aku memberikan usulan untuk dapat mengirim murid-murid yang terbaik kita melihat masih ada waktu kita mempersiapkannya, bagaimana kita mengadakan pertandingan diantara murid kita sendiri dan memilih yang terbaik dari yang terbaik diantara mereka, baik itu murid luar maupun murid dalam dan murid inti”, kata Wong Chan seorang Penatua.
“Usul yang baik dan semua itu harus diselenggarakan tanpa menimbulkan bahaya kehilangan nyawa, karena setiap anak murid itu adalah aset berharga bagi sekolah kita” Kata seorang Penatua lainnya.
“Baiklah berikan putusanku bahwa dalam dua minggu semua murid yang berusia 15 - 30 tahun harus mempersiapkan diri tanpa memandang murid luar atau murid dalam dan murid inti untuk ambil bagian dalam kompetisi Sekolah Beladiri Samudera Naga”, kata Wang Shen.
Setelah mendapatkan keputusan dan segala hal yang menyangkut teknis penyelenggaraan kompetisi bela diri maka semuanya bubar dan mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan kompetisi tersebut.
Saat itu juga terdengar berita bahwa akan ada pertandingan yang dibagi dalam 3 kelas, dan akan dipilih masing-masing kelas sebanyak 20 orang untuk diikutkan dalam kompetisi tingkat Benua Chong Yang.
Berita itu dengan cepat sampai juga ke anak murid yang berasal dari Kota Yang In.
Han Eng saat ini ada di halaman depan rumahnya menikmati cahaya matahari dalam posisi duduk diatas sebuah batu dengan posisi kedua tangan didepan dada yang mulai membentuk tonjolan wanita dewasa, kulitnya putih bersih dengan wajah yang dihiasi bulu mata lentik dan kedua pipi kemerahan serta bibir kecil tapi penuh, berwarna merah muda.
Tidak lama kemudian Senior Han Ek tiba di halaman rumahnya, dia sempat menikmati kecantikan gadis remaja itu dari arah gapura rumah Han Eng.
”Adik Eng bagaimana kabarmu?”, sapanya berbasa-basi.
Han Eng tidak langsung bereaksi, dia mengangkat kepalanya sehingga wajahnya menghadapi matahari dan terlihatlah panjang lehernya yang putih seperti batu giok.
”Baik-baik saja kakak senior, bagaimana kabar kakak?”, tanya Han Eng membalas basa-basi seniornya.
”Baik”, jawab Han Ek, ”sudahkah kau dengar berita terbaru saat ini, kalau dalam dua minggu akan ada pertandingan dalam 3 kelas, dimana kita mungkin akan berhadapan”, kata Han Ek.
”Oh begitukah?, lalu apa saran kakak senior?”, tanya Han Eng.
”Aku berharap adik Eng dapat menahan seranganku, tapi aku juga akan bersikap lembut padamu”, kata Han Ek.
”Kakak Ek, jangan kau sungkan padaku, sekalipun tingkat kultivasi ku sedikit rendah, namun penguasaanku terhadap teknik beladiri di atasmu, mungkin kita akan berimbang, aku hanya berharap kita tidak akan bertemu dalam pertandingan.” Jawab Han Eng.
”Oh begitu !?, apakah adik Eng sungguh-sungguh akan melawanku?”, tanya Han Ek.
”Dalam perdebatan pertandingan pasti akan mengeluarkan kekuatan kita yang terbaik dan terkuat, dan itu adalah ajang dimana kita menyalurkan hasil latihan kita selama ini, aku pikir kakak Ek setuju”, kata Han Eng lagi.
”Baiklah, kalau begitu aku pun tidak sungkan lagi, hati-hati adik Eng”, kata Han Ek.
”Dan dimana pelayanmu adik Eng? ”, tanya Han Ek.
”Oh ya, dimana si bodoh itu?”, kata Han Eng mengerutkan kening.
“Bodohhhh dimana kau !!!!”, teriakan Han Eng menembus ke ruangan dalam.
”Yaaaaa .., tuan putri…” sahut Han Long dari dalam sambil berlari kecil tergopoh-gopoh, karena dia sekarang hanya seorang pelayan saja, maka panggilan pun berubah dari ‘senior’ menjadi ‘tuan putri’.
”Dari mana kamu?”, tanya Han Eng.
”Han Long, kemana saja kau, hampir tengah hari kamu baru muncul?”, tanya Han Ek.
”Hai kakak Senior Ek, aku tidak kemana-mana dari tadi ada di dalam”, kata Han Long.
”Bodoh kenapa kau baru ada setelah ku berteriak memanggilmu, biasanya kau selalu ada disampingku?”, kata Han Ek.
”Tuan putri kan tahu kalau aku ini pembosan, jadi aku masuk sebentar untuk menyiapkan air hangat untukmu”, kata Han Long menjelaskan.
Han Ek sebetulnya cemburu pada Han Long yang bisa sedekat ini dengan kecantikan putri kepala klan, rasanya dia ingin bertukar posisi dengan Han Long.
Perasaan Han Long belum berkembang seperti Han Ek, apalagi setelah dia mendengar tugas berat yang diembannya dari ibunya, jadi dia selalu berfokus pada hal-hal yang lebih utama dengan berada di wilayah Sekte Samudera Naga sampai mencari tanaman yang menjadi misinya.
Han Long pun sebenarnya menyadari perasaan kakak seniornya pada Han Eng, makanya dia tidak segera muncul di dekat Han Eng untuk menguji perasaan Han Eng pada seorang pria seperti Han Ek namun Han Eng terlihat biasa saja.
”Baiklah Han Long persiapkan dirimu, kita akan pergi ke aula tempat berita resmi dikeluarkan tentang kompetisi beladiri Sekolah Samudera Naga”, kata Han Eng.
”Aku juga akan menyertai kalian berdua, karena kita masih satu Klan keluarga”, kata Han Ek.
”Itu lebih baik, kami mendapat perlindungan dari kakak senior”, kata Han Long.
Han Eng sebetulnya tidak begitu suka, karena keberadaan seniornya dianggap mengganggu saja, sebetulnya dia ingin mendiskusikan teknik bela dirinya dengan Han Long yang suka memberikan pandangan lain dalam teknik yang dikuasainya, sehingga tekniknya menjadi lebih baik, itu yang tidak pernah diketahui oleh orang lain tentang wawasan dan pandangan lain dari Han Eng terhadap posisi Han Long di hatinya.
Mereka pun bersiap, setelah Han Eng berganti pakaian , terlihat sekarang penampilan Han Eng jauh lebih dewasa dari umurnya malah terlihat kecantikan aslinya, demikian juga Han Long jika wajahnya tidak disertai dengan senyum bodoh, dia juga tampil dengan ketampanan remaja belia yang memukau.
Di dalam halaman aula telah dipenuhi dengan banyak anak murid Sekolah Samudera Naga, semua anggota berkumpul, baik murid inti, murid dalam dan murid luar.
Ketika rombongan Han Eng tiba, seseorang berkata,
”Lihat rombongan anak murid klan Han tiba, beruntungnya si bodoh yang jadi pelayan putri cantik itu apalagi dia tinggal satu atap dengan kecantikan bagai peri, ingin rasanya aku menggantikan si bodoh itu”
”Jangan kau asal bicara, si cantik itu adalah murid dalam yang paling berbakat, di usianya yang masih belia dia sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-1” balas yang lain
”Terus apa istimewanya dengan gadis itu, aku pun sudah pada tingkat Imajinasi Roh ke-1”
”Tapi dia dapat mengalahkan seorang kultivator tingkat Imajinasi Roh ke-2 Awal, apakah kau memiliki prestasi itu?” kata yang lainnya lagi.
Han Eng sudah dikenal oleh para murid yang menyandang status murid dalam lainnya tentang prestasi yang diperolehnya selama bertahun-tahun di Sekolah Beladiri Samudera Naga, bahkan ada seorang Penatua yang berkedudukan tinggi yang ingin merekrutnya namun Han Eng belum bersedia ketika dia harus meninggalkan Han Long sebagai pelayannya, karena jika dia menjadi murid penatua tersebut segala keperluannya disediakan oleh para pelayan penatua itu.
”Hmmm, Klan Han, aku sekali waktu berharap mengujimu nona Eng”, kata Coa Kun, dia berkumpul dengan Cui Man Ek, Meng Li dan yang lainnya.
”Oh !, aku sangat menantikannya Coa Kun”, kata Han Eng tenang sambil menatap tajam ke Meng Li dan Cui Man Ek.
Meng Li dan Cui Man Ek terdiam saja, anak perempuan yang dulu mereka tindas sekarang adalah gadis yang disegani oleh murid dalam lainnya kecuali oleh Coa Kun, dibandingkan dengan mereka yang masih pada tingkat kekuatan jiwa ke-2 Puncak, maka kekuatan mereka tidak ada artinya.
Tingkat Imajinasi Roh adalah tingkat jajaran para sesepuh klan ternama di Kota Yang In, asal mereka, jadi saat melihat Han Eng yang tingkat kultivasinya sudah di tingkat para tetua klan kota Yang In, apa yang bisa mereka buat, hanya ketakutan yang ada.
Han Eng pun pergi meninggalkan kelompok Coa Kun dan kawan-kawannya, menuju pusat informasi Sekolah Beladiri Samudera Naga untuk mendapatkan detail informasi tentang syarat kompetisi pertarungan beladiri dua minggu mendatang.
“Tuan putri, anda tidak dapat ikut karena usiamu baru 14 tahun” kata Han Long setelah memeriksa isi informasi dan syarat-syarat keikutsertaan peserta kompetisi.
“Ini tidak adil, aku akan tetap ikut!” kata Han Eng sambil pergi untuk bertanya pada seorang penatua yang tidak jauh darinya yang kelihatan sebagai penanggung jawab kegiatan kompetisi.
“Penatua yang terhormat, bolehkah aku ikut serta walaupun usiaku belum mencukupi tapi aku memiliki kemampuan?”, tanya Han Eng kepada Penatua tersebut.
“Hmm…, Han Eng kan ?, kau boleh ikut serta, yang tidak diizinkan adalah calon peserta yang tidak memiliki kemampuan walaupun usianya telah mencukupi, namun kau harus menanggung resiko bila terjadi kecelakaan karena usia yang masih belum cukup, apakah kamu berani?”, tanya Penatua itu.
“Aku berani !”, kata Han Eng mantap, karena dia ingin menguji dirinya sendiri tentang kekuatannya bukan berdasarkan kesombongan diri.
“Silahkan kau mendaftar agar kau segera masuk dalam kelas tertentu nanti akan kami kelompokan untuk mengocok undian”, kata penatua itu, dan selanjutnya dengan langkah pasti Han Eng berjalan ke arah meja pendaftaran.
Setelah mengisi segala sesuatunya untuk mendaftarkan diri, Han Ek pun mendaftarkan dirinya juga dengan beberapa siswa lainnya.
“Han Long dalam dua minggu ini jangan kau pergi-pergi lagi aku akan membutuhkanmu”, kata Han Eng pada Han Long yang mengekor di belakangnya.
Mendengar itu Han Ek mengerutkan keningnya,
“Untuk apa dia harus mengganggu konsentrasi persiapanmu dalam menghadapi kompetisi nanti?” tanya Han Ek.
“Kakak Ek itu urusanku, karena dia pelayanku”, Jawab Han Eng pada Han Ek dengan wajah tidak puas.
“Aku tahu, maksudku mari kita melakukan latihan bersama untuk saling meningkatkan kekuatan kita hanya ada aku dan kamu adik Eng”, kata Han Ek lagi
“Terima kasih atas kebaikanmu kakak Ek, tapi aku lebih suka berlatih dengan ditemani pelayanku”, kata Han Eng ringkas.
Mendengar penjelasan Han Eng yang ingin ditemani oleh Han Long membuat Han Ek terhantam rasa cemburu oleh keberadaan Han Long disekitar Han Eng, dia berharap dengan adanya latihan bersama dirinya dengan Han Eng tadinya akan menjadi lebih dekat dan selalu adanya ketergantungan Han Eng pada dirinya.
Mereka pun berpisah dimana Han Long berjalan di belakang Han Eng menuju tempat kediaman murid dalam di dalam komplek Sekolah Samudera Naga, dimana tempat Han Eng berlatih dan tempat kediamannya mengarah ke arah dalam yang berbatasan dengan Markas Sekte Samudera Naga.
Setelah Han Eng kembali, dia bergegas memasuki pondoknya dan langsung mengambil sikap kultivasi, dia ingin segera meningkatkan kekuatannya dan dapat mengambil tempat sebagai salah satu perwakilan Sekolah Beladiri Samudera Naga dalam kompetisi Benua Chong Yang dan dapat memperluas wawasannya dengan bertemu lawan-lawan kuat lainnya.
Han Long yang ditinggal sendirian pada halaman pondok tempat Han Eng berkultivasi, sudah terbiasa dengan tabiat Han Eng, kalau tidak dipanggil dia akan pergi, apalagi saat itu hari akan menjelang sore, sudah saatnya dia menyelidiki wilayah hutan di sekeliling Sekte Samudera Naga untuk mencari tanaman, dengan ciri khas tanaman berdaun kuning seperti layu tapi akan menumbuhkan kelopak bunga berwarna emas dengan putik berbintik putih seperti serbuk tepung, dan dia akan mencarinya dengan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, menurut buku kuno yang dibawa-bawa ibunya, tanaman itu bernama Rumput Surga Jiwa.
Matahari pun terbenam digantikan oleh kegelapan, setelah Han Long memasang berbagai lampu minyak di sekeliling pondok Han Eng dia pun pergi ke area belakang tempat kediamanmu yang terpencil.
Dia lalu mengambil posisi kultivasi dengan duduk bersila dan mengatur nafasnya, maka segala sesuatu dalam radius ratusan meter terbayang dalam benaknya, bahkan hewan-hewan kecil pun tampak pergerakannya dimana semua serangga dan hewan kecil lainnya yang baru muncul dipermukaan tanah menggeliat akan mencari mangsa, tidak terlepas dari wawasannya.
Dengan wawasannya, dalam radius dimana dia bersila tidak ditemukan tanaman yang dimaksud. maka Han Long pun berpindah posisi ke arah radius terluar untuk memeriksa kembali, hal itu dia ulang berkali-kali, tanpa terasa sebenarnya dia sudah masuk kedalam hutan bagian dalam yang sebetulnya masuk dalam wilayah inti Sekte Samudera Naga.
Han Long baru menyadarinya ketika dia membuka mata tepat di depannya telah berdiri 5 orang dengan seragam yang sama, yang berusia antara 30 - 50 tahunan dengan tatapan curiga dan waspada, saat itu Han Long pikirannya terlalu fokus dan berpusat pada ciri tanaman yang dicari, dan untungnya dia menutupi seluruh wajah dan tubuhnya dengan sebuah kain berwarna hitam yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk mengatasi hal-hal yang akan terjadi seperti sekarang ini, sehingga identitasnya masih dapat tersembunyi.
Tanpa berkata apapun Han Long langsung bergerak ke arah lima orang tersebut yang memang sudah bersiap, dia mengerahkan semua ilmu yang sudah dia kuasai
Hyatt….!!!, plak..!, Dug..Dugg…!!!
Perkelahianpun terjadi antara Han Long dengan kelima orang tersebut,
“Siapa Kau!”,
“Kurang ajar dasar penyusup!!”
“Tangkap dia!!!”
“Lumpuhkan dia!!!”,
Segala seruan dan teriakan dikeluarkan, Han Long tetap tenang, tiba-tiba dia menghembuskan nafas kuat dan tubuhnya berpijar tanda bahwa Kekuatan 9 Tubuh Bintang ke-3 meledak.
Disertai dengan gerakan tangan yang mengayun dan pergeseran kaki dipermukaan tanah melesak dan menciptakan kepulan debu tanah yang terbakar, suhu pun naik dengan cepat menimbulkan hawa panas yang menyengat padahal saat itu hari sudah gelap dan suhu sebenarnya dingin menggigil.
Han Long mengerahkan ilmu warisannya Tinju Langit dan Badai Mengamuk, walaupun hanya ilmu yang dia kuasai hanya kulit luarnya karena masih membutuhkan suplemen pendorong yang belum ditemukan, namun itu sudah cukup membuat pengeroyoknya kewalahan, karena ditambah dengan tingkat Han Long yang sudah mencapai kultivasi Insan Raja ke-1 Awal berhadapan dengan para kultivator para penjaga yang rata-rata pada tingkat Imajinasi Roh ke-3 sampai Imajinasi Roh ke-6, maka
Ahhkkkkk….
Aduhhh….
Celaka…., Awww sakitnya!!!
Uhugh…
Tubuh-tubuh itu pun langsung bertumbangan bagai pohon-pohon roboh dan tidak sadarkan diri, untungnya Han Long tidak berniat membunuh lawan-lawannya hanya memberikan cedera agar tidak bangkit melawannya kembali dan menimbulkan keributan yang semakin luas.
Setelah melihat itu semua, Han Long lalu bergerak cepat dan meninggalkan tempat itu untuk segera menjauhinya.
Han Long berpindah-pindah kembali dan tetap mengambil sikap seperti semula, dan tidak lama kemudian ada senyum di bibirnya ketika persepsinya menemukan sesuatu yang sesuai dengan gambaran tanaman yang diuraikan oleh ibunya, masalahnya ternyata tanaman itu terhampar di dekat halaman sebuah kuil yang menjadi area terlarang di dalam Sekte Samudera Naga.
Dengan mengendap-endap Han Long mendekati tempat itu, memang sesuai uraian ibunya hanya dengan teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa bentuk kelopak bunga itu dapat terlihat, namun jika teknik itu tidak digunakannya maka yang ada pada tanaman itu hanya sehamparan rumput yang kering di sela-sela rumput hijau dan subur, tanaman itu benar-benar dapat menyembunyikan dirinya kalau hanya melihat dengan mata telanjang.
Tanaman itu tidak hanya satu yang tumbuh namun terdiri dari beberapa tanaman dengan kelopak bunga berbagai macam ukuran, ada yang masih kuncup, ada yang mekar seukuran piring ada juga yang masih belum menunjukkan pertumbuhan bunganya.
Dengan sangat hati-hati Han Long terus bergerak menghampiri padang rumput di dekat sebuah kuil yang menjadi area terlarang Sekte Samudera Naga.
“Long er, apakah kamu dapat melihat dan menemukannya?”. sebuah suara terdengar di dalam kepalanya, suara ibunya.
“Ibu, itu tepat didepanku”, kata Han Long gembira mendengar suara ibunya.
“Jangan takut!, ambillah serahkan sisanya padaku”, kata ibunya, Thian Sian LI.
Han Long pun mengerahkan tenaganya dan dengan teknik Langkah Ajaib Melingkar Nirwana yang dikuasai nya hanya sebatas kulit luarnya juga, namun langkah kakinya bagai melayang di atas helai rerumputan, dengan setiap langkah kakinya, Han Long bergerak cepat dan,
Syuuuttttt !!!!
Tessssss… tesss…., tesss….
Hanya beberapa waktu saja diperlukan bagi Han Long membabat dan memetik semua tanaman yang sudah berbunga itu, namun…. akibatnya….
Syuuuurrrr……syurrrrrr……Syuuuuurrrrr…..!!!
Dari beberapa bekas tanaman rumput yang tercabut akarnya oleh Han Long, terpancurlah sumber air yang tersembur keluar setinggi beberapa meter dan menimbulkan suara gemericik air pancuran yang menimpa kembali ke permukaan tanah di hamparan rumput itu.
“Apa Ini !!!?”
“Siapa Itu?”
Dua suara orang tua bergema penuh wibawa,
Syuutt… Syuutt…!!!
dan berdirilah dua sosok orang dengan rambut dan jenggot berwarna putih yang riap-riapan, di tengah-tengah hamparan rumput di sekitar kuil tua itu.
Kedua sesepuh ini adalah para penjaga makam Sekte Samudera Naga dan telah mencapai Tingkat Insan Raja ke-7, yang berumur 80 tahun bernama Wong Kay dan yang lebih muda bernama Kim San Kui berusia sekitar 70 tahunan, mereka adalah dua kekuatan yang selalu berada di daerah makam keramat dekte dan jarang tampil di permukaan dunia benua Chong Yang.
Namun bentakan yang dikeluarkan oleh keduanya tidak berlangsung lama dan kata-kata selanjutnya hanya menggantung di bibir saja, karena mereka berdua merasakan sesosok yang lebih kuat telah mengunci diri mereka dan mereka menerima tekanan yang dahsyat sehingga nafas mereka terengah-engah tidak dapat mengeluarkan suara apapun.
“Maafkan…. kebo….do….han ka…mi, ji…ka yang ter….hor..
mat sudi datang maka ka….mi akan meneri….ma kedata…ngan yang terhormat sebagai ta….mu agung”,
kata Wong Kay terbata-bata dengan ekspresi kelelahan dan sesak nafas yang melanda dirinya.
“Ka…mi ti…dak tahu a….kan keda….ta…ngan ta….mu a...gung ini,
a…da mak….sud apa…kah se…hing…ga kami akan mem…bantu ta…mu terhor…mat ini?”, tambah Kim San Kui yang sama payahnya dengan kakak seniornya.
“Tidak perlu menyusahkan para tetua Sekte Samudera Naga, aku hanya sekedar lewat dan membutuhkan tanaman yang sudah diperoleh oleh muridku, dan maafkan atas kelancangan muridku, aku akan mengingat kebaikan Sekte Samudera Naga yang telah menampung murid bodohku”, kata suara wanita yang lembut namun penuh dengan kekuatan.
Setelah terjadinya percakapan diantara ketiga orang ini, Thian Sian Li melepaskan kunciannya pada Wong Kay dan Kim San Kui, keduanya menarik nafas dengan lega, ada rasa ngeri ketika mereka berdua merasakan kekuatan yang berada di atas mereka yang siap membunuhnya.
“Jika boleh tahu, siapakah murid terhormat ini biarkan kami ikut menghormat murid terhormat ini dan menyediakan sesuatunya dengan pantas”,
kata Wong Kay, dia tidak menyangka ada seseorang yang menjadi murid dari seorang yang ‘luar biasa’ di Sekte Samudera Naga, dan ironisnya mereka tidak mengetahui sosok murid orang tersebut dan ini adalah kesalahan Sekte yang harus segera diperbaiki.
“Aku memang menitipkan seorang muridku, dan aku berharap, dia tidak perlu menunjukkan kekuatannya karena dia harus berjuang sendiri mengatasi masalahnya”,
kata suara anggun itu.
”Sebuah kehormatan bagi kami Sekte Samudera Naga yang kecil ini untuk memelihara murid Tetua yang terhormat, namun kami pun tahu diri bahwa kami belum layak ikut mendidik seorang jenius yang menjadi pilihan Tetua yang Terhormat,
apakah kami boleh mengetahui nama murid terhormat?”,
kata Wong Kay lagi, dia harus mengetahui nama anak itu,
karena takut akan menimbulkan salah paham dengan seorang tokoh yang kultivasinya jauh di atas mereka,
malah mungkin akan melenyapkan seluruh makhluk hidup di benua Chong Yang.
”Jangan kalian khawatir tentang anak itu, aku berterima kasih atas perhatian kalian, dan aku berhutang budi pada Sekte Samudera Naga…, terimalah Teknik ini sebagai balas budi,
dan diantara kita sudah tidak ada lagi yang harus diperhitungkan di masa depan”,
jawab suara anggun dan tiba-tiba ada sebuah lempengan sebuah batu giok yang meluncur ke arah mereka berdua.
Wong Kay dengan mudah menangkap lempengan itu dan dengan persepsinya dia memeriksa lempengan tersebut dan betapa dia terkejut bahwa itu adalah sebuah Teknik Beladiri Kategori Dewa kelas Pokok yang lebih tinggi dari koleksi Teknik yang selama ini ada di Sekte Samudera Naga, dengan Teknik ini maka setiap tokoh Samudera Naga akan memiliki sebuah teknik yang jauh di atas Sekte-sekte di Benua Chong Yang.
”Terima kasih Tamu Agung, kami atas nama Sekte Samudera Agung memberi hormat yang setinggi-tingginya”, kata Wong Kay dan Kim San Kui sambil bersujud ke arah suara anggun itu.
Bagi Thian Sian Li teknik beladiri yang dibawa oleh dirinya ada banyak, karena klan Thian adalah penguasa permukaan dunia kultivasi saat ini dan teknik kategori Dewa kelas pokok jumlahnya sebanyak pasir di pantai tak terhitung jumlah di sektenya, maka dengan mudah dia memberikannya, namun yang langka adalah Teknik Kategori Dewa kelas Sempurna apalagi ‘Kategori Mustahil’.
Lama terdiam dua tetua penjaga makam Sekte Samudera Naga dalam memberi penghormatan, saat mereka menyadari tidak ada suara anggun lagi, mereka harus segera melaporkan penemuan mereka kepada Kepala Sekte, mereka harus mengantisipasi keberadaan seorang murid dari seorang tokoh sakti yang berada di Sekte mereka.