Di Kedalaman Sekte Samudera Naga, berdiri sebuah bangunan besar yang dikelilingi dengan beberapa menara yang tinggi kira-kira beberapa ratus meter yang terhubung dengan bangunan utama yang megah, dan di tengah-tengah bangunan itu berdiri sebuah ruangan yang mewah yang dilengkapi ornamen-ornamen patung binatang mistis dan dewa-dewa kuno yang tinggi dan besar, di dalam ruangan itu ada sebuah meja lebar dengan kursi-kursi yang mengelilingi meja tersebut yang sudah diduduki oleh orang-orang yang merupakan para petinggi Sekte Samudera Naga.
Terlihat juga Kepala Sekolah Beladiri Samudera Naga Wang Shen yang tingkat kultivasi Insan Raja ke-3 Lanjutan, duduk agak jauh dari kepala meja, ini menandakan bahwa walau dia seorang kepala sekolah sebuah sekte, tapi kedudukan dia hanya tingkat menengah saja di dalam Sekte Samudera Naga, masih ada beberapa orang yang kedudukannya berada di atasnya.
Seperti Tetua Kim San Kui dan Tetua Wong Kay yang hanya penjaga makam tanah terlarang Sekte Samudera Naga ternyata posisinya masih berada jauh di atas seorang kepala sekolah, dan ada juga Wong Chan di belakang Wang Shen yang sebenarnya adalah keponakan dari Tetua Wong Kay.
Dan dikepala meja masih terdapat 7 orang Tetua yang terlihat kedudukannya berada di atas Wong Kay dan Kim San Kui, dan ditengah-tengah meja seorang pria setengah baya dengan penampilan berwibawa dengan rambut berwarna abu-abu dan terlihat bahwa cuping telinga-nya meruncing tanda bahwa dia seorang dari ras iblis merupakan kepala sekte dengan tingkat kultivasi pada Tingkat Insan Raja ke-8 Puncak, yang merupakan tingkat kultivasi tertinggi di Benua Chong Yang, orang ini bernama Hwa Kong, dimana pada barisan yang mengapit dirinya ada masing-masing 3 Tetua di kiri dan kanannya, dan dua diantaranya adalah wanita 30 tahunan dan 50 tahunan.
Wanita 30 tahunan ini bernama Phang Cui Lin seorang dari ras iblis, usia sebenarnya jauh lebih tua namun dia dapat memelihara penampilan nya dan terlihat awet muda dengan beberapa usaha dan obat-obatan herbal bahkan usianya jauh lebih tua dari wanita 50 tahunan yang bernama Bing Siauw dari ras manusia.
Rata-rata para tetua yang mengapit Hwa Kong pada tingkat Insan Raja ke-7, jadi wajar saja setingkat Wong Kay dan Kim San Kui harus berada pada tingkat di bawah para jajaran elit yang mengapit Kepala Sekte, Hwa Kong.
Pertemuan jajaran elit Sekte Samudera Naga di aula yang megah ini terpaksa dilakukan oleh Hwa Kong atas laporan Kim San Kui dan Wong Kay bahwa didalam sekte ada seorang murid maha sakti yang identitasnya tidak diketahui, dan ini semua harus diselidiki dengan hati-hati karena takut menyinggung orang sakti tersebut, dimana menurut Wong Kay, tingkat kultivasi orang sakti itu jauh di atas Hwa Kong Kepala Sekte Samudera Naga.
”Tetua Wong apakah berita itu benar?, bagaimana hal ini terjadi?, kita tidak mau menyinggung keberadaan orang seperti itu”, kata Phang Cui Lin dengan melirik Tetua Wong dengan mata menyala memikat.
”Tetua Phang Cui Lin, aku menjadi saksi untuk menguatkan kesaksian saudara Wong Kay karena aku juga bersamanya”, Kim San Kui menjawab untuk menguatkan laporan kakak seniornya.
”kata Tetua Wong dan Tetua Kim, tingkat orang itu jauh diatas kita bahkan jauh dari tingkat saudara tua kepala sekte, dugaan itu harus berdasar, apakah Tetua Wong dan Tetua Kim dapat menentukan tingkat kultivasi seseorang seperti itu?”, kata Phang Kok yang merupakan Kakak dari Phang Cui Lin, merupakan jajaran elit Tetua Sekte Samudera Naga juga.
”Aku tahu bahwa tingkat kultivasiku masih jauh dibawah tingkatan dari para tetua Sekte, namun aku juga menyadari bahwa dibandingkan dengan wanita itu kita semua tidak berarti apa-apa, bahkan jika harus dibandingkan dengan 3 Leluhur abadi di Sekte Samudera Naga mungkin masih setingkat”, kata Wong Kay menjelaskan.
Yang dimaksud dengan 3 Leluhur abadi adalah tiga sosok orang tua yang saat ini telah mengundurkan diri dari urusan duniawi dan sedang berkultivasi untuk menembus Tingkat Kultivasi Manusia Suci.
Mendengar penjelasan Wong Kay dan Kim San Kui, Hwa Kong menarik nafas panjang,
”Tokoh ini kelihatannya tidak bermaksud buruk pada sekte kita, dia hanya menitipkan keberadaan muridnya untuk diasuh di Sekolah Beladiri Samudera Naga, malah dia menukarkan Teknik Beladiri Kategori Dewa untuk sekte kita dengan tanaman yang tumbuh di sekeliling ‘Kuil Tanah Terlarang’ sekte kita, dan anehnya tidak ada seorangpun diantara kita yang mengerti apa tanaman yang sudah diambilnya?, dan kalau kita tahu jenis tanaman itu malah aku ingin memberikan semua tanaman yang dia kehendaki, penting bagi kita menjalin hubungan dengan tokoh seperti itu”, kata Hwa Kong.
”Saudara Kepala Sekte, sebaiknya kita mencari tahu siapa murid tokoh itu yang menyamar sebagai murid sekte”, kata Bing Siauw, tetua wanita ras manusia.
”Aku akan menyelidikinya dengan hati-hati, dan akan kurahasiakan penyelidikan ini hanya di antara para tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga”, kata Wang Shen selaku Kepala Sekolah.
”Benar para Tetua Sekte, akupun akan terlibat dengan penyelidikan ini, dan menjaga rahasia ini serapat mungkin”, kata Wong Chan selaku penatua Dalam Sekolah Beladiri Samudera Naga.
”Kita tidak tahu, apakah anak ini seorang lelaki atau wanita dan juga umurnya serta tingkat kultivasinya, hal yang lebih sulit lagi apakah dia masuk sebagai murid inti, murid dalam atau murid luar dimana jumlah anak murid sekte kita ribuan anggota”, kata Bong Kwi salah satu penatua lainnya yang mengapit Kepala Sekte.
”Seorang murid tokoh dengan tingkat kultivasi di atas kita semua, bukan lah seorang murid biasa-biasa saja, pasti seorang anak super jenius, artinya kita akan melihat seseorang dengan keistimewaan yang khusus, jadi kita lebih mudah menyelidiki seseorang seperti itu, jika ditemukan seseorang yang istimewa maka berikan fasilitas tambahan”, kata Hwa Kong.
Tiba-tiba Wang When berdiri dengan sedikit senyum cerah diwajahnya,
”Oh ya, Kepala sekte, dalam 2 minggu ke depan, akan ada kompetisi para murid, mungkin kita akan tahu dari hasil pertandingan tiap-tiap murid tersebut”, kata Wang Shen memberikan gambaran yang cerah.
Mendengar akan adanya pertandingan diantara para murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, maka diputuskan akan diselidiki setiap murid melalui pertandingan tersebut, dan pertemuan itu pun berakhir.
Jauh dari istana Sekte Samudera Naga, pada kediaman Han Eng, Han Long berada di belakang pondok tempat Han Eng semalaman berkultivasi.
Han Long masuk ke ruangannya yang sederhana, dia lalu memasang formasi penyembunyian diri yang selalu dia bawa, barang-barang berupa bendera-bendera kecil dengan dilengkapi beberapa kristal yang merupakan satu set formasi Tingkat Dewa yang diberikan oleh ibunya untuk berlatih dan menyembunyikan keberadaan dirinya.
Setelah memastikan semua terpasang dengan sempurna dia lalu membuka sebuah kantong yang terbuat dari kain sederhana, dan dikeluarkannya dari tas atau kantong itu puluhan bunga berwarna emas dengan kepala putik seperti tepung putih berbintik-bintik, ada sekitar 40 - 50 kelopak bunga dengan masing-masing kelopak bunga itu ada sekitar 10 - 12 helai kelopak.
”Long er, kelopak bunga dan putiknya harus kau makan dan serap bersamaan, hati-hati makanlah satu persatu, jangan sekaligus dan saat kau menelan tanaman itu, operasikan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa pada jiwamu serta tubuhmu kerahkan Teknik 9 Tubuh Bintang pada puncak penguasaan mu”, sebuah suara yang terdengar di kepalanya, suara Thian Sian Li.
Han Long lalu memusatkan konsentrasinya pada pesan ibunya, latihan dan proses ini sebenarnya cukup sulit, karena dua teknik beladiri yang disebut oleh ibunya adalah Kategori Dewa Kelas Sempurna yang langka, yang kata ibunya adalah khusus dilatih oleh seseorang yang memiliki konstitusi tubuh seperti dirinya.
Ada 54 bunga Rumput Surga Jiwa dengan masing-masing bunga ada sekitar 10 - 12 kelopak bunga, Dan kelopak yang lebarnya sebesar piring kecil sebanyak 18 buah, namun yang terkecil sebesar lingkaran jempol sampai sekepalan tangan orang dewasa, sisanya.
Kelopak itu diaturnya dengan rapi dari ukuran terkecil sampai terbesar, berjajar dengan rapi, setelah dirasa cukup, Han Long mengatur nafasnya dengan posisi bersila, dia menguatkan dirinya dan membayangkan rasa sakit di benaknya, namun itu segera ditepisnya, otak dan jiwanya berkonsentrasi penuh pada teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, sedangkan tubuhnya dioperasikan teknik 9 Tubuh Bintang dan tubuhnya pun berpijar bagai bola lampu dan ada asap putih mengepul di atas kepalanya, tanda teknik jiwanya pun beroperasi dengan maksimal.
Tangan Han Long bergerak mengambil salah satu kelopak bunga terkecil lalu mengarahkan bunga itu ke mulutnya dan di telannya, maka pertama-tama wajah Han Long mengernyit tanda reaksi pada tubuhnya bekerja, butir-butir keringat berbintik di pelipisnya dan napasnya berubah menjadi kasar serta mendengus seperti seekor banteng luka yang marah.
Husss hoooahhh….!!!!
Arggghhhh….!!!!
Hal itu berlangsung beberapa saat dan ada rasa sakit yang membayang pada wajah mudanya, baru satu kelopak kecil yang ditelannya namun rasa sakit yang dirasa oleh tubuhnya membuat dia enggan mengambil langkah kedua, yaitu menelan kelopak bunga yang lain.
Han Long terdiam dan mengatur nafasnya, hatinya merasa gundah kalau harus menelan puluhan bunga itu, baru yang terkecil sudah sesakit ini apalagi puluhan bunga yang ada di hadapannya.
”Long er, ibu selalu di dekatmu, rasa sakit itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan hasilnya, ingatlah ‘kekuatan adalah segalanya’, mungkin kamu belum mengerti akan tanggung jawab yang harus kau pikul namun percayalah aku ibumu, ini semua adalah demi kepentinganmu di masa depan”, suara Thian Sian Li berkumandang di kepalanya kembali menguatkan jiwa dan pikirannya.
Pikiran Han Long berkecamuk, seorang pemuda remaja harus menanggung penderitaan seperti ini, ingin dia menolak karena baginya, urusan dunia ini mengapa harus melibatkan dirinya, dia tidak ingin kuat, dia ingin tampil di dunia ini sebagai warga biasa saja yang dapat dia nikmati apa adanya, baik susah maupun senang, dia anak yang tidak memiliki ambisi apapun, semua sudah tersedia dengan bantuan ibunya yang sakti, bahkan sekelas ketua Sekte Samudera Naga pun tidak dapat berbuat apapun pada diri dan ibunya.
Dan sekarang, dia harus mengikuti perintah ibunya yang selalu ada untuk dirinya, dan satu hal yang pasti dia tidak bisa menolak perintah ibunya, maka Han Long pun menguatkan tekadnya dan mengambil keputusan untuk melanjutkan memakan semua kelopak bunga Rumput Surga Jiwa, bukan untuk dirinya tapi untuk ibunya agar tidak kecewa terhadap dirinya.
Dengan penuh tekad seperti tadi, Han Long melanjutkan proses asimilasi bunga Rumput Surga Jiwa dengan dirinya dengan menghabiskan semua kelopak bunga Rumput Surga Jiwa,
Argggghhhhh..!!!!!!!
Aaaaaaaarrrrggghhh….!!!!
jeritan dan teriakan kesakitan berulang kali terdengar saat Han Long menelan bunga-bunga itu satu persatu sampai bunga terakhir yang semakin besar ukurannya tersebut, untungnya ruangan itu sudah dipasang formasi penyembunyian identitas, jika tidak mungkin Han Eng dan orang-orang lain di sekitar pondok Han Eng akan berdatangan.
Beberapa jam berlalu hingga siang itu pun berganti dengan malam kembali, Han Long sudah tidak sadarkan diri karena kesakitan yang diderita tubuhnya, dia merasakan ada ledakan berulang kali dalam tubuhnya dan bergemuruh juga di tempurung kepalanya.
Kondisi tidak sadarkan diri Han Long berlangsung hingga dini hari, Han Long terbangun dengan tubuh yang sangat ringan, ketika dia membuka matanya, maka penglihatannya dapat menembus dinding pondok dan menerawang menembus berbagai penghalang dan persepsi jiwa nya berkembang tiga kali lipat dari sebelumnya dari hanya radius ratusan meter sekarang dapat menjangkau ribuan bahkan puluhan ribu meter.
Han Long terkejut melihat perubahan ini, dirinya tersentak, dan otomatis dia mencoba memutar esensi dari teknik 9 Tubuh Bintang nya maka,
Boouuummmm!!!!!
Ada ledakan pada tubuhnya ketika dia mengoperasikan Teknik 9 Tubuh Bintangnya, pijaran pada tubuhnya menyala dengan dua warna yaitu merah dan ungu yang berpijar dan dinding pondoknya hampir hangus terbakar ketika dia mengoperasikan seluruh kekuatannya seketika, untungnya dia cepat berhenti.
Wusss….!!!
Dan siluet tipis berbentuk sosok manusia yang keluar dari tengah-tengah kedua matanya ketika dia mengerahkan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, sosok ini persis seperti dirinya hanya masih kabur setipis asap kabut pagi hari, dan sosok ini dapat bergerak melakukan gerakan mengikuti kehendak pikirannya.
Melihat hasilnya, Han Long benar-benar kaget dan terheran-heran apalagi ketika dia memeriksa kondisi tubuhnya saat dia melepaskan energi kekuatan kultivasi nya maka dia tahu bahwa kultivasi nya langsung melompat dua tahapan, sekarang dia pada tingkat Insan Raja ke-1 Puncak.
”Han Long….!!!, dimana kamu?”, sebuah teriakan seorang gadis menggema di pagi hari itu.
Han Long sadar itu panggilan dari Han Eng, pasti dia mencari-cari ketika pingsan dan dia tidak tahu berapa lama dia pingsan, dia lalu melepaskan semua formasi dalam ruangan sederhananya dan dengan sedikit Teknik Langkah Ajaib Melingkar Nirwana, dia melompat keluar lewat atap pondoknya lalu muncul di depan halaman pondok Han Eng dalam sekejap, ketika Han Eng bergerak ke arah belakang pondoknya.
”Ya Tuan putri….!”, kata Han Long yang muncul justru dari arah depan.
”Kemana saja kamu, sepagi ini sudah berada di luar pondok?”,tanya Han Eng heran karena Han Long seperti bekas keluar dari wilayah pondok mereka karena dia muncul dari depan halaman.
”Tuan putri aku berburu hewan untuk sarapan kita”, kata Han Long sambil menunjukkan di tangannya seekor hewan seperti kelinci yang sudah tewas.
”Oh, kalau begitu cepat bersihkan lalu kita panggang makanan itu, setelah itu aku ingin menunjukkan hasil latihanku kepadamu, dan aku ingin kau lihat teknik yang telah kukuasai dan apa pandanganmu”, kata Han Eng.
”Tuan Putri bagaimana mungkin aku yang bodoh memberikan pandangan pada sebuah teknik yang bahkan aku sendiri tidak mengerti tentang teknik itu sendiri”, kata Han Long dengan seringai bodohnya.
”Han Long, aku hanya perlu kamu memberikan kritikan dari setiap gerakanku, apakah itu jadi penting atau tidak biar aku yang memutuskannya”, kata Han Eng dengan wajah terpasang cemberut.
”Baiklah…, baiklah, aku akan mengatakan bila gerakan tuan putri terlihat jelek dan mempengaruhi bentuk badanmu juga aku akan bilang bila nafas tuan putri tidak enak terdengar saat tuan putri melakukan gerakan tertentu”, kata Han Long.
Begitulah cara Han Long memberi petunjuk pada Han Eng yang berdasarkan bahwa gerakan Han Eng jelek kalau bentuk tubuh Han Eng jadi jelek juga atau nafasnya tidak enak didengar.
Setelah membersihkan hewan buruan Han Long, mereka lalu memanggangnya dengan hanya ditaburi garam dan mereka makan ketika sudah tercium harum dan matang sekedar mengisi perut.
Setelah beberapa saat, Han Eng berdiri dia bersiap melakukan gerakan latihannya, pertama-tama dia mengambil sikap kuda-kuda dari teknik beladiri klan keluarganya yang terdiri dari tiga teknik beladiri yaitu Tarian Pedang Pemecah Gunung, sebuah teknik yang menggunakan pedang dimana setiap gerakan dilakukan secara bergantian dengan kecepatan yang berbeda-beda dengan langkah kaki yang membingungkan lawan, lalu Teknik Tangan Samudra sebuah teknik yang murni menggunakan kedua tangan sebagai senjata dimana tangan itu bisa menampar, mengepal atau menusuk yang semua mengarah pada alat vital musuh dan Pesona Dewa Surgawi sebuah Teknik penguat jiwa yang dapat mempengaruhi lawan karena menimbulkan pesona yang aneh sehingga lawan tertekan.
Ada beberapa teknik yang didapat dari Sekte Samudera Naga, namun sebenarnya oleh Han Eng jarang dia latih hanya teknik kultivasi Sekte Samudera Naga yang menarik hatinya, dan dia sudah berhasil memadukan teknik tersebut dengan teknik rahasia klannya sehingga Han Eng memiliki ciri tersendiri dalam meningkatkan teknik beladiri dan teknik kultivasi nya dan itu adalah peranan Han Long dalam memadukan teknik tersebut.
Gerakan yang dilakukan oleh Han Eng telah meningkatkan teknik beladiri klannya dari Kategori Bumi kelas Sempurna menjadi kategori Surga kelas Sempurna.
Namun di mata Han Long, semua gerakan mematikan pada teknik ini dapat dipatahkan dengan mudah.
Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Han Eng, mata Han Long berkelip berbintang, dengan teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, Han Long menemukan sebuah teknik untuk Han Eng dimana setiap kelemahan teknik itu dapat ditutupi dengan gerakan sederhana pada 2 teknik lainnya, artinya jika 3 teknik klan Han dapat digabungkan menjadi satu kesatuan maka teknik itu akan saling melengkapi dan meningkatkan kategori teknik tersebut dan dapat meningkat menjadi teknik kategori Dewa kelas Pokok.
Han Long dengan caranya terus mengkritik setiap gerakan yang ditunjukkan oleh Han Eng dengan mengatakan,
”Hey bentuk pinggul tuan putri terlalu ke atas!!! Rendahkan sedikit lututnya”,
Atau
”Masa tangan kanan tuan putri jadi bengkok !!! Sebaiknya luruskan saja ke arah kiri”,
Dan lagi,
”Aihhh… nafas ngos-ngos-an tidak elok bagi seorang putri bernafas seperti itu, coba dada dan leher selaras buat dagu menekuk”.
Begitulah cara Han Long memberikan petunjuk untuk Han Eng dan itu semua dilakukan secara berulang-ulang hingga sepanjang hari itu Han Eng melakukan semua gerakan yang dikritik Han Long sampai matahari tenggelam lagi.
Han Eng pantang menyerah selama Han Long mengatakan bahwa gerakannya masih jelek maka dia akan melakukan terus sampai Han Long mengatakan ‘bagus’, ada kepuasan tersendiri kala Han long memuji gerakannya, dan Han Eng selalu berharap pujian itu dari mulut Han Long karena dengan demikian maka gerakannya makin sempurna.
Tanpa disadari malam telah tiba namun Han Eng terus melakukan latihannya sampai sebuah gerakan dikatakan ‘baik atau bagus’ oleh Han Long, dan Han Eng tidak tahu bahwa setiap gerakan dari Teknik Beladiri Klannya meningkat dengan kekuatan yang lebih dahsyat, yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Han Eng telah memadukan 3 Teknik Beladiri Klannya menjadi satu kesatuan atas arahan Han Long, dan menjadi Teknik yang berbeda dari sebelumnya dan Teknik ini menjadi Teknik kategori Surga kelas Sempurna
dan setiap gerakan yang dilatihnya hanya menimbulkan desahan nafas dari mulut dan hidungnya lebih halus dan lembut.
Dan Han Eng pun terkejut melihat hasil latihannya, dia memiliki ide untuk menamai teknik ini, dengan tersenyum Han Eng bergumam,
”Teknik Tarian Dewi Surgawi”, gumamnya.
Sampai matahari muncul kembali dan nafas Han Eng pada setiap gerakannya makin halus sampai tidak terdengar oleh telinga nya sendiri maka Han Eng menghentikan latihannya dan suara Han Long tidak terdengar mengkritiknya.
Ketika Han Eng melirik dimana Han Long berada, dia mendapati Han Long pada posisi bersila seperti berkultivasi, wajahnya tenang dengan bentuk tubuh yang kokoh seorang pemuda remaja, dan wajah Han Long terlihat cerah dan seringai bodoh itu lenyap hanya menampilkan ketampanan seorang pria remaja.
Han Eng terkesiap melihat wajah Han Long yang berbeda dari yang dia tampilkan sehari-hari dihadapannya,
Seerrrrrr….!!!!
Ada desir di pembuluh darah yang mengalir di hatinya melihat seorang pemuda yang sangat tampan, dengan bentuk alis pada mata yang bergurat hitam dan tebal serta garis wajah yang keras dan teguh serta dagu dengan tekukan pada bibirnya membayangkan kelembutan namun kokoh dan penuh pendirian, Han Eng memandang wajah Han Long tanpa bosan dan dia merasakan gemuruh di dadanya yang mulai berkembang sebagai wanita dewasa.
Han Long tiba-tiba membuka matanya, dan mulutnya menyeringai bodoh,
”Eh tuan putri sudah selesai latihannya?, aku akan pergi menyediakan sarapan pagi buat kita”, kata Han Long sambil tersenyum bodoh dan berdiri hendak pergi.
”Oh, ehm…, oh ya…, siapkan sarapan…, aku juga lapar”, kata Han Eng sedikit gagap dan terkejut karena dia kedapatan sedang menatap wajah Han Long.
Han Long dengan ‘cengar-cengir tidak bersalah’ meninggalkan Han Eng, dan Han Eng yang masih termangu menatap punggung Han Long.
Dan kepergian pemuda remaja yang ukurannya tubuhnya lebih tinggi dari remaja lain seusianya, meninggalkan kesan, dan Han Eng sibuk meredakan gemuruh yang tadi sempat menghantam di hatinya.
Ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah Han Eng pada Han Long beberapa saat lalu, dia seorang pemuda berusia 22 tahun dia adalah Han Ek, ada semburat kecemburuan pada wajah pemuda itu.
”Selamat pagi adik Eng”, sapa Han Ek berbasa-basi.
”Oh senior Ek, ada apakah?”, tanya Han Eng kaku.
”Bagaimana kalau kau dan aku berlatih bersama?”, tanya Han Ek.
”Aku baru selesai berlatih dan butuh istirahat, pula Han Long sedang menyiapkan sarapan pagi”, jawab Han Eng, kata ‘si bodoh’ yang selalu disematkan Han Eng kali ini tidak disebutkan pada nama Han Long.
Dan hal terkecil ini tidak luput dari perhatian Han Ek, pikirannya makin waspada bahwa Han Long bakal menjadi saingan cintanya.
Dengan kecewa Han Ek meninggalkan tempat itu, sepeninggalnya Han Ek, Han Long muncul dengan membawa makanan di tangannya berupa buah-buahan.
Di tempat lain di dalam wilayah Sekolah Beladiri Samudera Naga, Coa Kun terlihat melakukan kegiatan rutinnya yakni berlatih dalam mempersiapkan kompetisi yang tinggal 10 hari lagi.
Coa Kun sangat serius, karena ambisinya untuk menjadi terbaik di Sekte Samudera Naga adalah targetnya untuk menaikan pamor klan Coa, dan pamannya Mo Cun adik ibunya, sering datang mengunjunginya selain membawa berita tentang Kota Yang In dan keluarganya, juga memberi pil-pil kultivasi dari klannya agar segera menjadi kuat dan melalui Mo Cun juga, Coa Kun mengenal salah satu penatua bagian luar Sekolah Beladiri Samudera Naga yakni penatua Kim Teng.
Penatua Kim Teng ini sebenarnya masih berhubungan dengan salah satu petinggi Sekte Samudera Naga yaitu Penatua Kim San Kui, namun karena bakat Kim Teng terlalu rendah dari klan Kim, maka dia hanya menjabat Penatua Luar Sekolah.
Kim Teng juga mengenal juniornya yang mendapat tugas ke Kota Yang In yaitu Penatua Kong Beng dan Diakon Siu Nie Ay, dan Penatua Kong Beng kedudukannya lebih rendah Dari dirinya.
Coa Kun setelah diperkenalkan oleh Mo Cun ke Kim Teng, sering mendapatkan kemudahan dalam menjalankan misi sekolah, sehingga sedikit peran Kim Teng turut memajukan tingkat kultivasi Coa Kun, dan saat ini Coa Kun pada Tingkat Kekuatan Jiwa ke-3 Puncak, sedikit lagi dia akan menyentuh Tingkat Imajinasi Roh dalam usianya yang baru menginjak 19 tahun.
Tingkat yang termasuk jenius karena dapat menembus tingkat Imajinasi Roh sebelum usia 20 tahun.
Berbeda dengan teman-temannya Cui Man Ek dan Meng Li, keduanya masih tertahan di tingkat Kekuatan Jiwa ke-2 Puncak untuk Cui Man Ek dan Kekuatan Jiwa ke-2 Lanjutan untuk Meng Li.
Ada Lagi satu orang yang berasal dari Kota Yang In yakni dari Klan Tang, Tang Yan yang juga seorang murid luar sekolah beladiri Samudera Naga dan Tang Yan sekalipun hanya murid luar namun dia berhasil mencapai tingkat Kultivasi Kekuatan Jiwa ke-3 Awal, bakatnya memang diatas Cui Man Ek dan Meng Li.
Semua anak murid ini sedang berkonsentrasi pada latihan, dan Coa Kun memiliki ambisi untuk mengalahkan Han Eng yang sekarang terkenal karena bakat dan kejeniusannya, di usianya yang belum genap 15 tahun sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-1 Awal, dan ini sudah masuk ‘Super Jenius’.
Duuusss…!!!
Dalam dantian tubuh Coa Kun ada letusan yang menggetarkan seluruh pembuluh darah di tubuhnya,
”Akhirnya dunia Imajinasi Roh ke-1 Awal…” gumam Coa Kun dalam hatinya.
”Hmmm, Han Eng, Han Ek dan semua klan Han, aku akan menghadapi kalian semua, sekarang aku tinggal meningkatkan teknik beladiri rahasia klan ku ‘Tapak Iblis Gerhana’ dan aku sudah menguasai seluruh tekmik itu dan ada waktu untuk menyempurnakannya”, pikir Coa Kun penuh tekad.
Tanpa disadari oleh para anak murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, bahwa diantara mereka ada beberapa pasang mata yang mengawasi cara mereka berlatih secara intensif, dan para pengawas ini muncul dari para Tetua Tertinggi Sekte Samudera Naga.
Malah lebih dari satu pasang mata yang mengawasi Han Eng, Han Ek, Coa Kun dan Tang Yan, karena ke empat orang ini pertumbuhan kultivasinya lebih menonjol dari yang lainnya khususnya diri Han Eng, yang sering dikunjungi oleh 2 orang penatua Sekte yang selalu bersembunyi, tiba-tiba muncul sekedar memberi petunjuk atau memberikan hadiah berupa beberapa pil peningkat kultivasi.
Dan dengan heran, Han Eng pun menerima perlakuan itu dengan sewajarnya, walaupun keningnya semakin berkerut.
Mereka mencari murid seorang tokoh misterius, dan hal itu tidak terlepas juga dari pengawasan Thian Sian Li dimana Thian Sian Li telah memberitahukan pada Han Long agar lebih berhati-hati jangan sampai jati dirinya terungkap, dan Han Long pun semakin berhati-hati.
Bagi Han Long misi di Sekte Beladiri Naga sudah berakhir, sudah saatnya dia kembali bersama ibu yang dirindukannya untuk melanjutkan petualangannya, dia mencari bagaimana caranya meninggalkan Han Eng, yang dirasakannya ada ketergantungan Han Eng terhadap dirinya semakin kuat.