Kekuatan Patriak Coa King Hun sudah berada pada tahap Imajinasi Roh akhir, maka dari itu Coa King Hun dapat memimpin kota Yang In karena hanya dia yang paling tinggi tingkat kultivasinya dibandingkan para patriak keluarga lainnya, belum lagi ditambah dengan jajaran pembantunya, para penatua pada Klan Coa yang rata-rata sudah menembus tahap Imajinasi Roh Awal sebanyak 5 orang. Klan keluarga lainnya paling banyak hanya memiliki 3 atau 4 orang penatua pada tahap Imajinasi Roh Awal.
Klan-klan terkemuka di kota Yang In adalah:
Klan keluarga Meng yang mempertahankan kemurnian Ras Iblisnya seperti Klan Coa, dengan pimpinan Patriark Meng Ki,
Berikutnya adalah Klan Keluarga Cui sama seperti Klan Coa yang mempertahankan Ras Iblisnya dengan Patriak bernama Cui Tong,
Lalu ada Klan Keluarga Tang yang merupakan Ras Campuran Iblis dan Ras Manusia dengan Patriak Tang Hun Beng yang masih murni Ras Iblis.
Dan Terakhir adalah klan Ras Manusia, yakni Klan Keluarga Han dengan pimpinan Patriak Han Wi Teng.
Jangankan Klan Ras Manusia yang hanya terdiri satu klan keluarga saja, 3 klan keluarga lainnya sangat segan untuk menghadapi Klan Keluarga Coa, karena kekuatan klan keluarga Coa memiliki tenaga ahli beladiri hampir seluruh lini dan tingkatan kultivasi di kota Yang In.
Kondisi berbeda jika dibandingkan dengan Kota Kerajaan Chong Yang, para ahli di sana yang tingkat kultivasinya di atas patriak dan penatua klan Keluarga kota Yang In berjumlah ratusan, karena pasokan tenaga ahli dari sekte Besar.
Itu pula yang menjadi ambisi Coa Kun dan para sesepuh Klan Keluarga Coa, agar mereka memiliki hubungan dengan Sekte Samudera Naga yang menjadi sekolah terkenal bahkan di seluruh Benua Chong Yang.
Sebenarnya 4 klan keluarga lainnya memiliki keinginan yang sama, namun mereka menyadari bakat para junior nya tidak seterang dan sehebat Coa Kun dan Coa Leng In. Apalagi Nama Coa Kun di kota Yang In ini, sekalipun masih usia remaja namun bakatnya dapat dikatakan Super Jenius, sehingga setingkat Penatua Klan Keluarga lainnya cukup berhati-hati di hadapan remaja Coa Kun. Dengan demikian menambah kesombongan Coa Kun dihadapan masyarakat kota Yang In, apalagi menghadapi remaja seusianya baik dari Ras Iblis dan terlebih Ras Manusia.
Bagi para remaja dan tingkatan pemuda Kota Yang In, lebih baik mendekati bahkan kalau perlu menjilat kepada Coa Kun daripada menjadi lawannya. Selain karena tingkatan kultivasinya yang lebih tinggi dari para pemuda kota Yang In, namun Klan Coa di belakangnya pasti akan mengambil tindakan demi kepentingan pribadi Coa Kun.
Pada suatu hari, di salah satu jalan raya Kota Yang In, terlihat sebuah peristiwa, dimana ada seorang anak perempuan yang terkapar dengan wajah yang berlumuran darah yang keluar dari mulut dan hidungnya berusia sekitar 9 tahunan, tidak jauh dari posisi anak perempuan itu sekelompok remaja putra dan putri tertawa dan tersenyum mengejek, melihat penderitaan anak perempuan tersebut. Coa Kun rupanya menjadi ketua kelompok para remaja itu.
”Bagaimana rasanya? itulah resiko menjual barang palsu kepada kami” kata Coa Kun sambil memegang sebuah botol giok yang diduga berisi pil pembangkit kultivasi.
”Itu bukan barang palsu, tidak mungkin ayahku memberikan padaku barang palsu, pil itu adalah pil Giok Sutera yang dibeli dari ibukota” jawab anak perempuan itu.
”Jangan berpura-pura Han Eng!, sudah jelas ini pil palsu, ” bantah Coa Kun, ”Sekalipun kau harus mengadu pada patriak Klan Han, aku tidak takut” tambah Coa Kun.
”Kalian telah mengambil uang itu, maka kembalikan juga pil itu padaku” seru Han Eng..
Namun serempak kelompok remaja pimpinan Coa Kun semuanya tertawa, mereka memang sudah merencanakan itu semua untuk mendapatkan pil gratisan ketika melihat Han Eng menjanjikan akan menjual sebagian pil Giok Sutera pada mereka. dan mereka sepakat untuk melibatkan rencana mereka dengan mengajak Coa Kun.
Pil Giok Sutera yang dibawa oleh Han Eng adalah Pil asli peningkat daya kultivasi penguat tubuh.
Para remaja ini adalah rata-rata putera dan puteri para penatua klan keluarga kota Yang In di luar klan Han. Rata-rata tingkat Kultivasi mereka pada tingkat penguat tubuh ke-7 dan ke-8, mereka merasa iri kepada Han Eng yang tingkat kultivasinya pada Penguat Tubuh ke-7 Akhir, karena klan Han yang merupakan satu-satunya klan Ras Manusia, malah mampu membeli Pil Giok Sutera yang cukup bagi Han Eng menembus tingkat penguat tubuh ke-9.
Sebenarnya niat semula Han Eng, dengan menjual sebagian Pil Giok Sutera, selain mencari pertemanan dengan putera dan puteri klan keluarga lainnya, dia dapat mengurangi beban ayahnya yang merupakan Patriak keluarga Han ,yakni Han Wi Teng.
Namun niat Han Eng malah di cemooh oleh para remaja itu, karena Han Eng adalah Ras Manusia yang lemah dan bodoh.
”Masih untung dirimu masih bernapas karena penipuan ini” kata Meng Li putri Patriak Meng Ki.
”Semestinya kamu bersyukur, Tuan Muda Coa hanya memukul wajah dan tubuhmu, pil palsu ini harus kami uji dulu keasliannya, bagaimana menurut Tuan Muda Coa?” kata Cui Hok salah satu putra dari penatua Klan Cui, dengan wajah menjilat pada Coa Kun, yang dibalas dengan anggukan yang angkuh seperti gaya pembesar istana yang menerima usulan dari bawahannya.
Sakit hati Han Eng tak terkira mendengar perkataan mereka. ”Akan ku ingat perkataan kalian, dan tidak akan kulupakan wajah kalian masing-masing, kejadian hari ini akan kalian tuai di masa depan”. Balas Han Eng dengan raut wajah menahan sakit baik jiwa maupun raganya.
Bukkk,
Dessss !
”Tidak sepantasnya kamu mengancam kami, lebih baik kamu tinggalkan nyawamu hanya sampai hari ini saja!!!”, kata Coa Kun sambil kepalan tangannya terus menghujani wajah dan tubuh Han Eng. Melihat kemarahan Coa Kun, remaja lainnya ikut memukuli dan menampar Han Eng sambil mengucapkan kata-kata makian.
Tiba-tiba,
Pang !
Peng!
Buk!
Para remaja yang mengeroyok Han Eng berjatuhan dan terpental beberapa langkah, kecuali Coa Kun yang berdiri, namun dadanya bergetar, bergemuruh ketika sebuah kepalan tangan menumbuk dadanya, kepalan ini tidak dapat dia tangkis atau hindari, karena gerakan tangan ini sangat aneh, dan sepertinya ada semacam letupan guntur dalam dadanya.
Ketika Coa Kun sadar dari keterkejutannya, dihadapannya berdiri sesosok orang yang terbungkus seluruh tubuhnya dengan kain selubung hitam, sehingga susah menebak jenis kelamin dan usia orang tersebut.
Dan di tangan orang itu menggenggam sebuah botol giok dan kantong koin milik para remaja yang mengeroyok Han Eng.
Sebenarnya tidak mudah bagi orang itu untuk mengambil botol giok dari tangan Coa Kun, namun kondisi Coa Kun yang tidak menduga serangan tiba-tiba padanya sehingga dia lengah.
Orang itu lalu bergerak menghampiri Han Eng, lalu mengangkat tubuh Han Eng yang mungil di pundaknya, tanpa mengucapkan sepatah kata lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Coa Kun hanya dapat menatap dengan terpana, melihat kepergian orang tersebut yang berlari dengan cepat, sementara para putera dan puteri yang tadinya mengeroyok Han Eng sedang muntah-muntah darah, terlihat mereka terkena serangan yang merusak kondisi dalam tubuh mereka. walau tidak mengancam tingkat kultivasi mereka namun itu harus terbaring beberapa hari dengan pengobatan yang cukup mahal.
Orang yang menyelamatkan Han Eng dari kematian adalah Coa Leng In, dia tidak mau menunjukkan jati dirinya kepada banyak
Orang , dia bertindak semata-mata bukan karena kasihan terhadap Han Eng yang merupakan ras manusia, dia tidak suka terjadinya ketidakadilan yang berlangsung di hadapan matanya, sekelompok remaja yang bertubuh lebih besar dan tinggi memukuli sosok kecil Han Eng yang terlihat seperti anak Ras Iblis berusia 5 tahun.
Apalagi dia sudah ada dari tadi di tempat itu dan sempat mendengar percakapan Han Eng dan kelompok Kakak tirinya.
Coa Leng In membawa Tubuh Han Eng langsung menuju klan Keluarga Han, Han Eng sendiri sedikit sadar bahwa dia telah ditolong oleh seseorang sebelum penampakan pandangannya berubah warna hitam pekat.
Masih mengenakan selubung kain Hitam, Coa Leng In meletakkan tubuh Han Eng di depan gerbang utama Klan Han sambil meletakan semua rampasan botol giok dan kantong- kantong yang berisi koin emas di sebelah tubuh Han Eng yang sedang tidak sadarkan diri.
Dengan mengerahkan sedikit tenaganya, tangan Coa Leng In meninju gerbang utama Klan Han.
Doooong....!!!
Setelah itu Coa Leng In meninggalkan tempat tersebut sebelum ditemukan anggota keluarga Han yang mendengar bunyi benturan yang cukup keras pada gerbang Klan Han.
Tanpa menoleh kebelakang, Coa Leng In bergerak terus mengerahkan tenaganya menuju klan Coa, di kediamannya.
Coa Leng In bertindak seperti ini agar perbuatannya tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, tidak berapa lama tembok klan Coa ada dihadapannya, tembok dengan tinggi sekitar 5 langkah orang dewasa, dilompati oleh Coa Leng In dengan mudah.
Dengan cepat dia menanggalkan kain selubung hitamnya, lalu berjalan dengan anggun menuju ke kediaman ibunya.
Para Penjaga Klan Coa sudah terbiasa melihat kedatangan putri klan ini muncul dari arah perkebunan klan, bagi mereka sang putri selalu datang dari arah ini, karena arena khusus kultivasi dan latihan sang putri bukan berada dalam komplek hunian klan, namun di seberang tembok pembatas komplek hunian klan, di balik gunung semenjak sang putri berusia 11 tahun.
”In er (ananda In), ibu dengar berita, bahwa kakakmu Kun er ada yang memukulinya, bersama juga dengan para putra dan putri Klan lainnya”. kata Yap Ing ibu Coa Leng In, ketika dilihat putrinya baru memasuki ruangan itu.
”Benarkah itu??” respon Coa Leng In, dengan memasang mimik wajah tidak percaya.
”Coba kamu lihat di ruang pengobatan, para sesepuh dan ayahmu pun ada disana”, sahut Yap Ing.
Dengan wajah cemberut, Coa Leng In membalas, ”aku tidak mau melihatnya, ibu tahu sendiri, kakak Kun tidak pernah menganggap kehadiranku sebagai saudaranya sendiri, tapi dia menganggap aku seperti musuhnya”.
Yap Ing pun tahu dan sadar, bahwa satu-satunya saingan putra sulung Klan Coa ini adalah putri yang ada di hadapannya, yaitu anaknya sendiri.
Sambil menghela napas, Yap Ing hanya dapat menggerakkan pundaknya, sambil terus beranjak masuk dalam ruangan dalam, dan Coa Leng In melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang berbeda.
Dalam Aula Pengobatan Klan Coa
”Siapa yang berani memukul putraku?” ujar Coa King Hun sambil matanya melihat tanda merah telapak tangan di dada Coa Kun.
”Akupun tidak tahu ayah, karena orang itu pada seluruh tubuhnya tertutup selubung kain hitam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun” jawab Coa Kun.
”Apakah dia salah satu penatua dari Klan Han?” dugaan Coa Min yang merupakan Penatua ke-3 Klan Coa.
”Belum tentu, karena kalau melihat hasil pukulan pada Coa Kun, ini seperti akibat dari jurus Guntur Pelangi namun efek pukulannya sudah pada tingkat penguasaan sempurna, apakah salah satu di antara kita yang melukai Kun er?”Bantah Coa Hun Ti, penatua ke-2, sambil matanya menatap ke masing-masing wajah para sesepuh klan lainnya.
”Saudara kedua, yang benar saja!, jaga ucapanmu itu”, tegur Coa King Hun, karena tidak mungkin mereka para sesepuh mau mencelakai Coa Kun, walau bagaimanapun Coa Kun adalah genius klan yang muncul ratusan tahun lalu, yang akan membawa masa depan klan ke arah yang gemilang, jauh lebih baik pada kondisi saat ini, mungkin klan Coa dapat memainkan peranan yang penting di ibukota Chong Yang, karena pengaruh Coa Kun sebagai Murid Sekolah Beladiri Samudra Naga.
Namun demikian untuk menentukan pelaku yang memukul Coa Kun, menimbulkan sakit kepala, karena ciri-ciri pukulan Guntur Pelangi pada dada Coa Kun memang seperti itu, walaupun masih kurang bertenaga.
Sebenarnya, Coa Leng In hanya melepaskan tenaga sepersepuluh bagian dari jurus Guntur Pelangi, kalau dia mau hanya dengan kekuatan setengah tenaganya, Coa Kun pasti terkapar mati dengan dada meledak dipenuhi asap warna warni. ketekunan Coa Leng In dalam kultivasi dan latihan penguasaan Bela diri, adalah upaya tiga kali lipat Coa Kun.
Sebenarnya kutivasi Coa Leng In telah berada di atas Coa Kun, semenjak dia menemukan goa di belakang gunung itu, karena bersamaan dengan menemukan kulit binatang kering, Coa Leng In mendapatkan Pil Mustika Darah, yang mengakibatkan seluruh pembuluh darah pada tubuhnya berkembang 3 kali lipat dari sebelumnya. dan Kultivasi Coa Leng In sudah memasuki kekuatan Jiwa Ke-1 Menengah dan sedikit lagi menembus Tingkat Puncak.
Itu pula yang menyebabkan Coa Leng In menutupi seluruh kutivasinya di depan mata klannya sendiri apalagi orang lain, baginya untuk tetap tertutup tentang pencapaian kultivasinya adalah keharusan. Faktor ini disebabkan pada waktu dia berusia 9 tahun ketika dia memberitahukan pencapaian kultivasinya yang berselisih tipis dengan Coa Kun kakaknya apalagi sampai melampaui kakak-kakak lelaki lainnya, perlakuan sikap klan terhadap ibunya berubah, ibunya seperti diasingkan dari klan dengan pembatasan asupan pil kultivasi yang berkurang hampir setengahnya.
Supaya kondisi ibunya tidak semakin parah, maka Coa Leng In berpura-pura bahwa kultivasinya stagnan atau tersendat.
Untungnya setelah di menemukan goa di balik gunung, setahun yang lalu dia menemukan sebuah rompi artefak setipis sayap serangga bersamaan dengan pil Mustika Darah dan 12 Lembar kulit binatang kering. yang ternyata rompi ini dapat menyamarkan tingkat kultivasi seseorang hanya dengan pikirannya, ketika orang itu sudah mencapai kultivasi Kekuatan Jiwa.
Penemuan Coa Leng In terhadap goa di balik gunung itu pun sebenarnya, seperti ada yang menuntun jiwanya untuk memeriksa daerah itu, maka dimintanya kepada sang ayah agar dibuatkan pondok kecil sederhana di tempat itu, tanpa disadari oleh para tukang klan Coa, bahwa ada goa di balik rimbunnya alang-alang dan tanaman perdu, yang letaknya tepat mengarah pintu belakang pondok yang dibuat oleh para tukang klan Coa.
Dan tanpa sengaja, ditemukan oleh Coa Leng In ketika dia berburu secara iseng hewan sejenis kelinci yang memasuki goa tersebut.
Selama ini, Coa Leng In menyamarkan tingkat kutivasinya di depan anggota Klan pada tingkatan Penguatan Tubuh ke-9 awal.
Di seluruh Benua Chong Yang jika ada anak remaja berusia 12 tahun sudah mencapai kekuatan Jiwa, maka dapat dibayangkan bahwa beberapa kekuatan besar sekte akan menculik atau menawarkan kondisi istimewa, demi kutivator anak ini bergabung ke sektenya. karena hanya anak anak pada usia seperti Coa Leng In ini yang akan menembus kekuatan Manusia Dewa.
Coa Leng In sendiri tidak menyadari, jika seandainya dia berterus terang dengan tingkat Kultivasinya pada klan, maka kehebohan bukan hanya kota Yang In saja mungkin seluruh permukaan Bumi akan Gempar.
Dan belum tentu keberadaan klan nya masih dapat berdiri dengan selamat di kota Yang In karena, masih banyak Sekte sekte misterius di berbagai dunia di luar benua Chong Yang yang berharap dapat memupuk bakat seperti Coa Leng In.
Di dalam kamarnya Coa Leng In kembali memeriksa gulungan kulit binatang, semakin di teliti semakin pusing kepalanya, akhirnya dia menghentikan kegiatan penelitiannya.
Dia kembali mengatur nafasnya dan masuk dalam konsentrasi mendalam pada kultivasinya, sambil terus mengingat seluruh jurus-jurus yang telah dikuasainya, termasuk yang paling rumit yaitu, 36 jurus Guntur Pelangi.
Ketika penyesuaian napas dan detak jantungnya, sambil mengingat seluruh gerakan Guntur Pelangi, maka seluruh pembuluh darah pada tubuhnya, bergetar menimbulkan resonansi berbentuk semacam irama yang berpijar mengarah pada dantiannya. pada kolom jiwanya terbayang seluruh gerakan dan menimbulkan gerakan variasi yang disesuaikan oleh konstitusi tubuhnya yang telah ditingkatkan semenjak dia menelan pil Mustika Darah.
Dalam bayangan jiwanya ternyata banyak gerakan yang seharusnya mustahil dilakukan, yang tercantum pada teori yang tercatat di perpustakaan klan, namun kini malah dianggap sebagai variasi gerakan yang sangat menentukan, bahkan menimbulkan efek serangan yang lebih dahsyat sebanyak 3 kali lipat, diikuti oleh daya ledak yang menakjubkan.
Tanpa disadari kembali oleh Coa Leng In, jurus Guntur Pelangi yang oleh Klan dianggap hanya Kategori Bumi Kelas Sempurna, maka jika dilakukan oleh Coa Leng In dengan Konstitusi Tubuh yang Ditingkatkan dan dengan kecerdasan seorang Genius, maka kualitas Guntur Pelangi menjadi Naik Kelas, menjadi jurus Kategori Surga Tingkat Sempurna.
Melihat dari daya ledak dan kecepatan perubahan setiap gerakan dengan perubahan gerakan variasi yang tidak mungkin malah menjadi gerakan yang harus dilakukan maka jurus Guntur Pelangi sekali lagi naik kelas.
Coa Leng In tersadar kembali, dari kondisi trans nya. tiba-tiba tubuhnya melesat, bergerak meninggalkan kamarnya, langsung menuju di balik gunung, tak lama kemudian terdengar bunyi gemuruh guntur yang berasal di balik gunung komplek hunian Klan Coa.
Blaaaarrr!!!!
Setelah bunyi gemuruh guntur, muncullah asap berwarna-warni di dalam goa di balik gunung yang lalu mengepul asap putih di puncak gunung.
Warga Klan Coa terkejut mendengar bunyi guntur itu, mereka hanya melihat adanya kepulan asap di puncak Gunung di belakang komplek hunian Klan. mereka menerka bahwa gunung kecil itu akan meletus, namun tidak ada reaksi lainnya yang menyusul seperti yang terjadi kalau ada letusan gunung berapi.
Dengan cepat pula Coa Leng In telah kembali ke kamarnya, kepergian dan kembalinya Coa Leng In, tidak seorangpun menyadarinya, itulah jika seseorang yang melatih jurus Kategori Surga kelas Sempurna, sekalipun yang melakukannya hanya seorang remaja Putri berumur 12-an tahun.
”Cepat periksa, apa yang terjadi di balik gunung itu!” terdengar perintah Patriak Coa King Hun. ”Siapa musuh yang menyerang putriku!” tambahnya lagi.
Walau bagaimana Coa King Hun tahu kalau putrinya Coa Leng In lebih banyak berada di pondok di belakang gunung, takutnya ada serangan binatang buas yang menyerang klannya sehingga korban pertama adalah putrinya sendiri, karena serangan itu berasal dari balik gunung.
”Patriak, tidak ada siapapun di balik gunung itu, bahkan Putri ke-5 ada dalam kamar ibu selir Yap dalam keadaan aman”. Jawab salah satu penatua klan, setelah beberapa lama memeriksa seluruh situasi.
Sambil menarik nafas lega, Coa King Hun melanjutkan bertanya ”kalau begitu bunyi apa tadi?, apakah ada tanda perubahan alam di benua kita?”.
”Sepertinya hanya bunyi guntur mau hujan, lihat banyak awan sebelah timur gunung, dan terlihat agak gelap.” kata Coa Min menenangkan, yang di balas anggukan persetujuan oleh penatua lainnya.
”Baiklah jika demikian, saudara ke-2 bagaimana kondisi Pengobatan Kun er?”
Coa Hun Ti melaporkan, ”kondisi Kun er, mulai menunjukan proses penyembuhan, pukulan pada dadanya tidak menimbulkan kerusakan fatal”.
”6 bulan dari sekarang ada beberapa penatua luar dari Sekolah Beladiri Samudra Naga yang akan berkunjung kota Yang In, tujuan mereka adalah mengawali pra seleksi penerimaan murid baru sekolah Samudra Naga. Mohon di beritahukan ke seluruh klan wilayah kota Yang In. agar kesempatan ini dapat diraih para remaja dan pemuda kota Yang In.”
”Apakah maksud Patriak bahwa semua ras dan kasta dapat ikut pra seleksi ini?” sahut Coa Min.
”Aku hanya mendapat perintah dari ibukota, dan berita ini harus diketahui semua kalangan , baik ras iblis, ras manusia dan ras campuran, mereka yang berhak ikut seleksi hanya anak berusia minimal 9 tahun dan telah masuk tahap kekuatan tubuh ke-6, sampai usia 20 tahun namun sudah masuk tahap Kekuatan Jiwa Tahap ke-1”.