Di pinggir hutan yang mengelilingi Sekolah Beladiri Samudera Naga, seorang wanita sedang duduk menunggu seseorang, dia Thian Sian Li seorang wanita cantik dibalik topeng yang berwajah cacat.
Thian Sian Li pun terpaksa menutupi tingkat kultivasi yang sebenarnya yang sudah mencapai tingkat Manusia Dewa ke-8 Puncak, demi keamanan diri dan putranya Han Long, untuk menghindari musuh-musuhnya yang pasti tingkat kultivasinya lebih tinggi darinya.
Yang lebih memusingkan adalah siapa musuh yang mengejarnya itu?, karena hal itu hanya disampaikan oleh salah satu Tetua klannya, agar dia keluar dari Benua Tengah atau Benua Thian Agung dengan membawa putranya yang saat keluar masih bayi dengan hati-hati.
”Ibu aku datang”, kata seorang pemuda remaja dari kejauhan namun dengan secepat kilat telah berada di hadapan Thian Sian Li.
”Long er duduklah, aku ingin memeriksa kemajuan kultivasi dan penguasaan Teknik beladiri mu”, kata Thian Sian Li setelah melihat Han Long datang.
Han Long pun dengan patuh duduk di hadapan ibunya, lalu tangan Thian Sian Li menyentuh punggung Han Long,
”Kerahkan dua teknik beladirimu yaitu 9 Tubuh Bintang dan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa”, kata Thian Sian Li.
Han Long menurut dan mengerahkan dua Teknik kategori Dewa kelas Sempurnanya, maka tubuhnya pun berpijar sangat terang dan dari keningnya meluncur sesosok tubuh putih persis sama dengan Han Long.
Setelah beberapa waktu hal itu berlangsung, Thian Sian Li mengurut dan mengetuk di beberapa titik akupuntur bagian punggung dan dada Han Long.
Thian Sian Li mengangguk puas melihat dan merasakan konstitusi tubuh khusus putranya serta pencapaian dua teknik beladiri yang sudah dikuasai oleh putranya.
”Long er, Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa telah terbangun di kedalaman jiwamu, kamu harus berlatih keras, agar jiwamu menjadi solid, dengan teknik 9 Tubuh Bintang, kau akan mencapai kesempurnaan tubuh seorang kultivator yang sama dengan leluhur Thian Han Ong, atau mungkin akan melebihinya, karena konstitusi tubuhmu dibangun di atas pondasi yang lebih kuat”, kata Thian Sian Li menerangkan.
”Ibu, jujur saja aku tidak suka menjadi leluhur Thian Han Ong, karena beliaulah yang akhirnya menimbulkan bencana bagi permukaan dunia ini dengan kekuatannya”, kata Han Long menatap ibunya.
”Hm…, perbuatan leluhur di masa lalu pasti ada alasannya, kita tidak bisa menyalahkannya sekarang, kita tidak tahu apa yang telah dihadapi leluhur pada masanya waktu itu”, kata Thian Sian Li.
Han Long terdiam mendengar kata-kata ibunya, memang tidak semestinya dia langsung menyalahkan leluhur Thian Han Ong atas persoalan saat ini.
Setelah beberapa saat ibu dan anak itu terdiam, Thian Sian Li berkata,
”Long er, kita harus bersiap meninggalkan benua Chong Yang, firasat ibu merasakan musuh kita sudah tahu keberadaan kita”.
”Siapakah musuh kita ibu, dan tingkat kultivasi apa musuh kita?” tanya Han Long.
”Itulah yang ibu masih gelap dan yang diwaspadai dan dikhawatirkan oleh tetua klan kita bahwa musuh kita lebih kuat, dan tingkat kultivasi nya pasti di atas ibu, maka dari itu, selama ini kita harus menyembunyikan identitas kita bukan karena takut, namun kita tidak mau menjadi bodoh dan dungu dengan melawan kekuatan seperti itu untuk mati konyol”, kata Thian Sian Li.
Han Long terdiam berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan ibunya,
”Ibu bisakah kita pergi setelah tiga bulan lagi, karena teman gadisku akan bertanding dan aku sudah menyatakan untuk menyertainya”, kata Han Long
”Maksudmu putri klan Han, yang menjadikanmu sebagai pelayan pribadi !, beraninya dia memperlakukanmu sebagai pelayan, kalau dia tahu bahwa ayahnya sekalipun bukan lawanmu, bagaimana reaksinya?, dan ibu tahu bahwa kamu sudah cukup membantunya dengan memberi petunjuk tentang teknik beladiri dan teknik kultivasinya meningkat dengan pesat, itu artinya sama dengan menjadi muridmu, tuntutan apalagi yang harus kau ikuti?”, kata Thian Sian Li dengan nada sedikit tajam, dia tahu bahwa putranya sering direndahkan oleh orang-orang disekitarnya, sebagai ibu dia merasa tidak puas, padahal hanya dengan jentikan jarinya seluruh bagunan dan orang-orang Sekte Samudera Naga akan terhapus dari benua Chong Yang ini.
Han Long menatap wajah ibunya, dia tahu dibalik wajah cacat itu ada seraut wajah yang sangat cantik dan dibalik jubah hitam yang longgar itu ada bentuk tubuh yang menjadi dambaan dan kebanggaan setiap wanita,
”Ibu aku menyukai peran sebagai pelayannya, dengan demikian aku dapat dengan bebas mengamati setiap orang dan mempelajari banyak hal selain sesuatu yang disebut ‘kekuatan’ semata”, kata Han Long.
Thian Sian Li menatao lembut putranya,
”Apakah kau jatuh cinta dengan gadis kecil yang kau panggil tuan putri itu?,
memang dia cantik namun dia belum pantas jika dia tahu status aslimu”, kata Thian Sian Li.
Han Long terkejut atas tebakan ibunya, namun dia menggelengkan kepalanya sambil berucap,
”Aku tidak tahu apa itu cinta?, aku hanya merasa senang berada ditengah-tengah orang yang tidak mengetahui identitas asliku”, kata Han Long.
”Baiklah kita akan pergi setelah kompetisi kecil benua Chong Yang ini, namun kau harus selalu meningkatkan kekuatanmu dengan terus berlatih”, kata Thian Sian Li mengingatkan.
Waktupun berlalu dengan singkat, setelah Han Long menerima nasehat dari ibunya,
Han Long pun pergi meninggalkannya dengan cepat seperti kedatangannya.
Dengan matanya, Han Long saat ini dapat melihat puluhan ribu meter di depannya, karena jiwanya telah terbangun oleh Teknik Kategori Dewa kelas Sempurna yaitu Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa.
Beberapa hari berlalu dengan cepat, di tengah-tengah komplek Sekolah Beladiri Samudera Naga ada sebuah lapangan yang luasnya ribuan meter, dan lapangan itu dibagi menjadi 3 bagian membentuk tiga buah arena pertandingan beladiri yang masih sangat luas
Pada setiap arena yang masih luas ini masih dibagi 10 arena puluhan meter, dan berdiri semacam bendera lebar dan panjang, bila angin menerpa bendera itu akan berkibar dan terdapat satu kalimat berbeda pada masing-masing bendera dengan tulisan ‘Kompetisi Kekuatan Jiwa’, ‘Kompetisi Imajinasi Roh’ dan ‘Kompetisi Insan Raja’ pada masing-masing bendera yang menandakan bahwa setiap wilayah arena mewakili pertandingan dari tingkat kultivasi masing-masing.
Tingkat kultivasi seseorang adalah menandakan kekuatan beladiri orang itu, namun tingkat kultivasi seseorang belum menentukan kemenangan dan kekuatan sesungguhnya dalam sebuah pertempuran beladiri karena masih tergantung pada kategori teknik beladiri yang dikuasainya.
Di Benua Chong Yang untuk menemukan sebuah teknik kategori Surga sudah dianggap beruntung, karena yang banyak dikuasai oleh kebanyakan seorang kultivator di Benua Chong Yang kebanyakan teknik beladiri Kategori Dasar kelas Pokok atau paling tinggi Kategori Bumi kelas Lanjutan, untuk kategori Bumi kelas Sempurna sudah langka apalagi sebuah Teknik Beladiri Kategori Surga kelas Sempurna.
Para tokoh sekte atau sekolah beladiri benua Chong Yang, paling banyak mereka menguasai teknik beladiri Kategori Surga kelas Pokok atau Lanjutan.
Beberapa kelompok anak murid Sekolah Beladiri Samudera Naga sudah berkumpul di sekitar tiga arena, terlihat Han Ek mendampingi Han Eng berkumpul di sekitar arena Imajinasi Roh yang tidak jauh dari posisi Coa Kun yang menatap Han Eng dan Han Ek dengan tajam.
Han Long duduk di kursi penonton yang melingkari setiap arena, dia terlihat kurang semangat, karena baginya tontonan ini adalah pertandingan antara semut melawan semut.
Mata Han Long mengitari seluruh arena, bibirnya sedikit tersenyum melihat Cui Man Ek, Meng Li dan Tang Yan yang dikenalnya dari Kota Yang In, berkumpul di arena Kekuatan Jiwa.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi hening dan aura dingin menyebar ke udara, kesunyian ini disebabkan oleh suatu energi yang dikeluarkan dari jauh, tiba-tiba ada tiga titik hitam yang melayang di angkasa dan tiga titik hitam itu dengan cepat menghampiri tribun kehormatan, dimana di tribun tersebut telah disediakan tiga buah kursi terdepan, yang tepat berada ditengah-tengah tiga arena itu.
Setelah beberapa saat, tiga sosok manusia yang terlihat berumur sekitar 50 - 70 tahunan telah berdiri dengan tenang pada tribun utama, dua pria dan satu wanita.
Melihat hal ini Hwa Kong selaku kepala sekte dan jajaran tetua lainnya berdiri menyambut ketiga sosok ini dengan hormat, mereka adalah leluhur Sekte Samudera Naga, yang tertua bernama Hwa San, berambut putih dengan jubah putih bergambar seekor naga yang melingkar dari kiri ke kanan lengannya, lalu ada sosok pria tua lainnya bernama Mo Keng, berjubah hitam dengan telinga runcing khas Ras Iblis serta seorang perempuan setengah baya yang terlihat masih cantik walau usianya seperti terlihat 50 tahunan bernama Kong Lan.
Karena keberadaan ketiga orang ini adalah para kultivator puncak di Benua Chong Yang, ketiganya mendapat julukan ‘3 manusia abadi’ Sekte Samudera Naga, walaupun mereka belum memasuki kultivasi abadi seperti Thian Sian Li yang sudah menembus kultivasi Manusia Dewa.
3 manusia abadi dikelilingi oleh jajaran tingkat atas Sekte Samudera Naga, sebetulnya kehadiran para petinggi sekte dan kehadiran 3 manusia abadi sekte, tidak harus menghadiri acara remeh seperti ini, cukup paling tinggi adalah kepala sekolah dari Sekolah Beladiri Samudera Naga yaitu Wang Shen, namun sesuatu hal terjadi, semua itu diakibatkan oleh seorang tokoh yang menitipkan muridnya diantara para murid, dan inilah yang menjadi perhatian mereka.
”Baiklah …!, mari kita mulai acara ini,”
Sebuah suara yang penuh tenaga terdengar mengelilingi seluruh area yang luas itu dan terdengar jelas di setiap telinga para murid,
”Perhatian…!!!, untuk para murid,
bahwa aturan kompetisi beladiri ini adalah mencari 20 murid terkuat dari masing-masing arena, aturannya sederhana, bahwa setiap murid yang menjadi peserta pada kompetisi kali ini, wajib melaksanakan 10 pertandingan, dan yang dinyatakan menang terbanyak memasuki babak final dengan mencari 100 peserta dari ranking teratas, itulah babak pertama untuk hari ini.
Yang maju pertama boleh siapa saja yang mampu melewati setiap pertandingan”,
kata Wang Shen.
”Arena dibuka dan acara dimulai!!!”, teriak setiap hakim di masing-masing arena.
”Aku Kim Lei siapa lawanku?”, seseorang melompat ke salah satu arena Imajinasi Roh.
”Aku Hin Tek mencari pengalaman !,
bersikaplah lunak padaku saudara Kim Lei”, sambut seseorang yang melompat ke arena Imajinasi Roh menghadapi Kim Lei.
Pertandingan kompetisi pun berjalan di masing-masing arena, jeritan dan teriakan bergema, saling menyerang diantara para murid berlangsung semakin seru, tidak dapat dihindarkan dari cedera dan luka-luka yang diderita pada sebagian murid namun semua itu selalu dijaga agar tidak menimbulkan korban jiwa, karena keberadaan para hakim yang selalu siap mengawasi setiap pertandingan.
Ribuan anak murid yang mengikuti kompetisi beladiri ini termotivasi untuk menampilkan yang terbaik, apalagi bagi status murid luar, mereka berusaha keras meningkatkan statusnya agar dapat berubah menjadi murid dalam dan menikmati fasilitas yang lebih mewah dalam kultivasi, dan lagi sebuah kebanggaan jika mereka dapat mewakili Sekolah Beladiri kebanggaan mereka dan dapat bertanding di ibukota Kerajaan Chong Yang yang terkenal dengan kemegahan salah satu kota terbesar Benua Chong Yang, dan mereka akan dikenal oleh keluarga kerajaan yang memiliki status kebangsawanan tinggi dan kekayaan yang melimpah untuk meningkatkan kultivasi.
Dari masing-masing arena, diikuti sekitar seribu peserta, dan yang akan mengikuti babak selanjutnya hanya diambil 100 peserta pada masing-masing kelompok kultivasi, maka terjadilah persaingan ketat dan sengit.
Para murid dengan status ‘murid inti’ pun harus mewaspadai kekuatan yang dimiliki murid dalam atau murid luar, karena status murid inti adalah sebuah sebutan bagi mereka yang memiliki hubungan darah dengan para petinggi Sekte atau pengurus Sekolah dengan demikian mereka menikmati fasilitas yang lebih mewah dibandingkan status murid lainnya, apalagi keberadaan para ‘murid dalam’ dan ‘murid luar’ biasanya memiliki teknik warisan keluarga masing-masing, dimana teknik itu ada juga yang memiliki kategori dan kelas di atas milik mereka sebagai murid inti.
Pada Arena Imajinasi Roh, Han Ek berdiri di arena, dia sudah memenangkan 8 pertandingan, tinggal 2 pertandingan lagi maka dia akan lolos babak pertama.
”Hm, kau harus berhenti disini, karena aku tidak akan membiarkanmu lolos”, kata seorang pemuda yang ternyata Coa Kun.
Sekalipun tingkat kultivasi Coa Kun dibawah Han Ek, namun itu semua kembali kepada teknik beladiri masing-masing kultivator.
”Jangan banyak bicara, buktikan kekuatanmu”, kata Han Ek waspada, dia tahu bahwa Coa Kun sekarang berbeda ketika masih di Kota Yang In, Coa Kun sekarang memiliki kultivasi yang hampir menyusulnya.
”Terimalah…!”, kata Coa Kum langsung bergerak dan melangkah maju, dia langsung menggunakan Teknik Guntur Pelangi
Swuuttt…, Blaarrrr!!!!!
Serangan petir warna-warni keluar dari tangan Coa Kun dan langsung menembak tubuh Han Ek, Han Ek yang sudah waspada sudah menyiapkan pertahanannya serta serangan berikutnya, dengan teguh, kaki Han Ek terpentang kokoh, dia menggerakkan tangannya maka keluarlah energi dahsyat dari kedua tangannya, ‘Teknik Tangan Samudera klan Han’ digunakan Han Ek untuk menghadapi ‘Guntur Pelangi Coa Kun’.
Wusss… Duarrr!!!
Pertemuan dua energi keras meledak di arena, menimbulkan asap debu yang membumbung ke udara.
Coa Kun hanya bergetar di tubuhnya, tiba-tiba terjadi perubahan pada fisik Coa Kun
Werrrr..,
Tubuh Coa Kun semakin bergetar dan seluruh kulit dan wajah Coa Kun berangsur-angsur berubah warna menjadi hitam legam dan ada bau busuk yang menyengat yang keluar dari tubuhnya, dan hawa busuk beracun ini langsung mengarah ke Han Ek, sedangkan Han Ek yang masih menghilangkan pengaruh energi Guntur Pelangi pada tubuhnya, terkejut bahwa Coa Kun langsung membuat gerakan selanjutnya tanpa merasakan dampak benturan energi dari Tangan Samudera miliknya.
Han Ek menahan nafasnya dan dia mengerahkan tenaganya
Cusss…,
Tubuh Han Ek meletus dan energi kultivasinya terbuka dia berusaha mendorong hawa busuk beracun dari Coa Kun, namun energi yang ditimbulkan oleh Coa Kun tetap menyerang, Han Ek pun menghindar dengan teknik Tarian Pedangnya di tambah variasi pukulan balasan ke tubuh Coa Kun dimana teknik pukulan ini didapatnya dari Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Dess…dess !!!
Coa Kun menangkis pukulan Han Ek dengan Teknik Tapak Iblis Gerhana miliknya, pukulan Han Ek tidak mempengaruhi tubuh Coa Kun, sekalipun beberapa pukulan Han Ek mengenai tubuhnya, namun justru Han Ek yang kerepotan karena dia mulai dipengaruhi oleh hawa beracun dari tubuh Coa Kun.
Syuttt …. Dess.. Dug dug !!
Ougggghhhh!!!!
Han Ek terjengkang terkena dua pukulan di dadanya, dan Han Ek pun rubuh dengan nafas tersengal-sengal.
Coa Kun bersiap untuk segera menghabisi Han Ek,
Hyaaatttt !!!!
Ketika kepalan tangan Coa Kun akan mengenai kepala Han Ek, gerakan itu berhenti di udara, malah Coa Kun terhuyung sedikit mundur.
”Cukup!!!!.”
Sebuah bentakan menghentikan gerakan Coa Kun.
Dan bentakan itu disuarakan oleh Hakim yang mengawasi pertandingan tersebut.
Apa yang dialami oleh Han Ek tidak terlepas dari mata Han Eng, dan dia juga memperhatikan perubahan pada fisik Coa Kun, padahal Han Eng masih terlibat pada sebuah pertandingan, untungnya lawan yang dihadapinya kurang kuat sehingga dia dapat memperhatikan apa yang terjadi pada Han Ek.
Han eng telah memenangkan pertandingan yang kesembilan, satu pertandingan lagi dia akan dinyatakan lolos babak pertama.
Dengan geram karena melihat kekejaman Coa Kun, Han Eng lalu melompat menghampiri arena dimana Coa Kun berada.
”Coa Kun apakah kau bersedia melanjutkan pertandingan melawan ku?”, tantang Han Eng yang memegang sebatang pedang tipis dan terlihat ringan, pedang itu adalah hadiah yang diperolehnya karena berhasil menyelesaikan misi di Sekolah Beladiri Samudera Naga.
”Kebetulan sekali, melawan seniormu barusan terlalu mudah, bahkan aku belum berkeringat”, balas Coa Kun.
Han Eng memasuki arena dimana Coa Kun berdiri di tengahnya, menunggu.
”Coa Kun, apakah kamu benar-benar bersedia?”, tanya Hakim pertandingan.
”Tetua aku sudah siap melawannya”, jawab Coa Kun pasti
Hakim pun lalu memberikan tanda bahwa pertandingan dapat dimulai, Coa Kun langsung mengerahkan energi kultivasinya pada tingkat Imajinasi Roh ke-1 Awal dan bersamaan dengan itu dia juga memutar teknik Tapak Iblis Gerhana yang merupakan Teknik terlarang peninggalan Mo Kui Bong leluhur klan Mo langsung pada puncaknya.
Teknik Beladiri Tapak Iblis Gerhana adalah Teknik kategori Surga Kelas Sempurna, Teknik yang pernah merajai Kota Raja Chong Yang.
Han Eng yang sudah waspada langsung memutar energi kultivasi Imajinasi Roh ke-1 Lanjutan, dan dia juga membangkitkan semangatnya dan teknik beladiri ‘Tarian Dewi Surgawi’ hasil dari perpaduan Tarian Pedang Pemecah Gunung, Pesona Dewa Surgawi dan Tangan Samudera meletus dengan energi yang terasa di sekitar arena.
Teknik ‘Tarian Dewi Surgawi’ ditangan Han Eng menjadi teknik kategori Dewa kelas Pokok dan semua itu adalah hasil kerja Han Long, dengan pandangan jiwanya, merubah teknik kategori Surga menjadi kategori Dewa.
Hiyaaaa….!, disertai teriakan keras, Coa Kun menerjang Han Eng.
Huhhhh…!, Han Eng yang sudah siap dia memutar pedang tipisnya menangkis dan balas menyerang.
Uap racun yang keluar dari tubuh Coa Kun memenuhi arena pertandingan, namun Han Eng yang sudah tahu akan kehebatan teknik yang digunakan oleh Coa Kun, dia tidak tinggal diam, dia gerakkan pedang tipisnya dengan gerakan cepat seperti mencacah ke udara, itu adalah bagian dari teknik Tarian Pedang Pemecah Gunung namun dipadu dengan teknik Pesona Dewa Surgawi yang menimbulkan angin kencang menderu sehingga sosok Han Eng menjadi tidak jelas bagi lawannya.
Heyaa…., Cusss..
Uhhhh.. Seeeettt… seettt !!!!
Angin yang ditimbulkan oleh gerakan pedang Han Eng membuyarkan pengaruh racun yang dikeluarkan oleh tubuh Coa Kun, mereka terlibat saling serang dengan sengit, Han Eng membuat gerakan-gerakan aneh yang sulit ditebak arahnya oleh Coa Kun.
Terlihat disini bahwa teknik yang dikeluarkan oleh Han Eng lebih unggul dibandingkan dengan teknik yang dibuat oleh Coa Kun.
Pertandingan antara keduanya memakan waktu yang cukup lama dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya dan itu rupanya menarik para penonton di tribun utama, yakni 3 Manusia Abadi Sekte dan para petinggi sekte lainnya.
Yang satu sudah menjadi seorang pemuda 19 tahun, sedangkan lawannya adalah Han Eng seorang gadis remaja 14-15 tahunan, namun teknik keduanya lebih unggul dibandingkan peserta lain, terutama teknik Han Eng yang sudah diluar jangkauan para leluhur sekte karena sudah termasuk dalam kategori Dewa kelas Pokok, inilah yang menarik perhatian mereka
Hiyaaaa.., syuuuuuttt…..!!!
Aaaaarrrrrrrggghhhhh !!!!
Tiba-tiba terdengar seruan kaget dan jeritan kesakitan, Coa Kun tersungkur sambil memegang dada kanannya.
Tubuh Coa Kun rebah dengan darah di dada kanannya dan warna hitam tubuhnya berangsur-angsur kembali ke warna aslinya, dan Han Eng berdiri diseberangnya dengan sedikit peluh di keningnya, hal ini wajar saja karena tingkat kultivasi dan Teknik beladiri Han Eng berada di atas Coa Kun, yang merepotkan adalah hawa beracun dari tubuh Coa Kun, itulah yang merepotkan Han Eng sehingga membutuhkan waktu lama bagi Han Eng menundukkan Coa Kun.
”Murid Han Eng menang !”, seru Hakim yang mengawasi pertandingan, dan serombongan orang tua menghampiri arena dimana Han Eng masih berdiri.
”Selamat gadis kecil atas kemenanganmu, memang tidak sia-sia bagimu memiliki guru yang sakti, kami pun malu kalau harus menerimamu menjadi murid, bisakah nona memberikan undangan kami kepada guru nona yang terhormat agar kami dapat memberikan kehormatan ini?”, kata Hwa San sambil membungkukkan badannya, dan gerakan ini diikuti oleh para petinggi sekte yang hadir termasuk Wang Shen sang kepala sekolah.
Betapa terkejut para penonton yang masih melingkari arena itu, mengapa para petinggi sekte begitu menghormati sosok seperti Han Eng, seorang gadis remaja Ras Manusia, walaupun dia jenius tapi kultivasinya masih jauh dari setara bila dibandingkan oleh para tetua sekte apalagi oleh tiga orang yang baru mereka lihat, dimana kepala sekolah saja mundur dan berada pada jajaran ketiga dari barisan orang-orang tua ini.
Apalagi Han Eng, keterkejutannya melebihi yang lain, dia hanya seorang gadis kecil klan Han dari kota yang sangat terpencil yang letaknya di ujung Benua Chong Yang.
”Apa maksudnya para sesepuh dan tetua sekte?”, kata Han Eng bingung.
Para tetua sekte tidak mengambil reaksi ‘kaget’ Han Eng sebagai sesuatu yang aneh bahkan mereka makin kagum atas pribadi yang diajarkan oleh ‘Sang Guru’ Han Eng dalam mendidik muridnya untuk selalu rendah hati.
”kami mohon maaf atas kelancangan ini, bukan maksud kami untuk bersikap tidak hormat, kami sudah menyampaikan maksud kami atas undangan itu dan kami hanya akan menunggu kedatangan guru agung nona”, kata Hwa San sambil memberikan gerakan tangan sebagai tanda kepada semua tetua untuk mengikutinya dan meninggalkan Han Eng yang terbengong tidak mengerti.
Han Long memahami apa yang terjadi, karena selalu mengawasi pergerakan Han Eng, dan dia pun tahu apa yang dimaksud dalam percakapan Hwa San kepada Han Eng, dia hanya merasa geli dalam hati.
Sambil berlari, Han Long menghampiri Han Eng,
”Hebat, tuan putri dapat menyelesaikan sepuluh pertandingan dalam satu hari, berarti tuan putri akan mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk menghadapi babak kedua”, kata Han Long setelah dia datang menghampiri Han Eng yang berjalan termangu-mangu keluar dari arena.
”Han Long, apakah kamu memperhatikan sikap para petinggi Sekte Samudera Naga, mengapa mereka menghormatiku, dan siapa yang dimaksud dengan ‘guru’ itu?”, kata Han Eng dengan wajah heran.
”Manakataha”, jawab Han Long sambil menggelengkan kepalanya.
”Apa maksud jawabanmu?”, kata Han Eng makin bengong.
”Maksudku ‘mana ku tahu'”, jawab Han Long tersenyum konyol.
”Aiiihhh…. sudahlah”, kata Han Eng.
Lalu mereka pun pergi dengan maksud meninggalkan arena dan menuju ke pondok Han Eng yang letaknya di balik gunung kecil, sebelah dalam komplek Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Tanpa disadari oleh Han Eng ada seorang wanita cantik yang memperhatikan gerakan 2 orang remaja itu dan mengikuti mereka, dan orang itu adalah Phang Cui Lin, tokoh senior Sekte Samudera Naga.
Dia memiliki ambisi pribadi, yaitu dia ingin menjalin hubungan dengan ‘sang tokoh’, kalau bisa menemui tokoh sakti itu untuk memohon, kalau perlu mengemis teknik kultivasi agar dia dapat meningkatkan kultivasinya dan dapat menjadi pemimpin tunggal Benua Chong Yang.
Phang Cui Lin termasuk sosok gadis cantik, tubuhnya tinggi dengan bahu tegak dan tonjolan lingkaran dada yang tegak dan besar, apalagi bokongnya yang membulat penuh, dengan ukuran pinggang yang ramping sehingga ketika dia berjalan banyak lelaki yang ingin mengekor di belakangnya untuk menikmati tarian bongkahan pinggulnya yang padat.
Usia Phang Cui Lin sebetulnya lebih tua dari tampilan sebenarnya, namun perawatan herbal serta pil-pil peningkat kultivasinya ikut mempertahankan kemudaan kulit wajah dan tubuhnya, saat ini tingkat kultivasi Phang Cui Lin adalah Tingkat Insan Raja ke-7 Puncak, dia sedikit lebih rendah dibandingkan kakaknya yaitu Phang Kok yang juga salah satu petinggi Sekte Samudera Naga pada Tingkat Insan Raja ke-8 Awal.
Phang Cui Lin adalah orang yang fokus dan penuh tekad kalau sudah mengerjakan sesuatu,
dan dia sudah memperhatikan sosok Han Eng dari awal, dialah yang dulu tertarik pada Han Eng untuk menjadikannya murid, namun sekarang dia tidak berniat menarik Han Eng menjadi muridnya, tetapi dia lebih tertarik pada guru sejati Han Eng.
Kalau saja dia tahu bahwa guru sejati Han Eng adalah pelayan yang berdiri di belakang Han Eng, mungkin sekelas tokoh Phang Cui Lin akan muntah darah.