Han Eng langsung masuk ke pondoknya untuk beristirahat, sedangkan Han Long mengitari pondok itu dengan maksud ke bagian belakang halaman dimana pondok sederhananya berada.
Tidak jauh dari pondok mereka berdua, Phang Cui Lin berdiri mengawasi dengan mata terpejam akhirnya Phang Cui Lin menggunakan persepsinya untuk mengawasi pondok tersebut, maka setiap perubahan udara dan gerakan angin dapat dirasakannya.
Tiba-tiba matanya terbuka dan sinar matanya tampak berkilat, saat persepsinya merasakan perubahan di wilayah belakang pondok itu, Phang Cui Lin dengan hati-hati meneliti dengan perasaan dan matanya pada setiap perubahan fluktuasi udara bagian belakang.
Karena konsentrasinya begitu tercurah terhadap bagian belakang wilayah pondok Han Eng, dia tidak menyadari bahwa sesosok tubuh yang lembut dan elegan telah berdiri di belakangnya, dengan senyum sinis menghias pada wajah sosok misterius ini.
”Hmm,...”, sosok ini mendengus.
Tubuh Phang Cui Lin langsung menegang saat dia menyadari seseorang berada di belakangnya tanpa diketahui,
”Jangan kau bergerak atau menoleh kepadaku, tetap di tempatmu selama kau ingin hidup”, suara lembut nan anggun terdengar di telinga Phang Cui Lin.
”Ampuuuuun ….Tetua…., aku tidak bermaksud jahat pada muridmu, aku sengaja ingin menemui tetua yang agung ini”,
kata Phang Cui Lin dengan suara gemetaran, dia tidak ingin tokoh ini salah paham akan maksud pengintaian dirinya terhadap Han Eng dan Han Long.
”Mengapa kau begitu yakin, bahwa mereka adalah muridku?”, tanya Thian Sian Li, sosok itu.
”Aku hanya menebak, karena gadis itu adalah bakat yang langka, pada usianya yang remaja dia sudah bisa menembus tingkat Imajinasi Roh, dan bakat ini telah kuperhatikan sejak semula, tadinya aku ingin menarik anak itu menjadi muridku, namun dia menolaknya, aku penasaran, tapi ternyata dia sudah memiliki seorang guru yang jauh lebih baik dariku, maafkan kelancanganku tetua”, kata Phang Cui Lin menjelaskan dengan panjang lebar dengan terbungkuk-bungkuk ketakutan.
”Baiklah, aku mengerti maksudmu, lalu sekarang mengapa kau hendak menemuiku?”, tanya Thian Sian Li tajam.
”Ampuuuun tetua…., aku tidak bermaksud lancang dan kurang ajar, aku hanya ingin mengenal tetua yang terhormat, dan dapat perlindungan Tetua Agung ini”, kata Phang Cui Lin lebih rendah membungkukkan badannya.
Thian Sian Li terdiam, membuat hati Phang Cui Lin makin tegang ketakutan, terdengar suara nafas mendengus keras dari tokoh yang masih berdiri di belakangnya, dan suara itu terdengar di telinganya dengan nada sedingin es yang siap menjelajahi lehernya yang putih mulus,
”Apakah kamu mau menjadi pembantuku?”, tanya Thian Sian Li.
Betapa terkejutnya hati Phang Cui Lin mendengar tawaran itu, matanya yang sedari tadi ketakutan berubah cerah, dia langsung cepat berucap,
”Sebuah kehormatan bagi yang rendah ini untuk bekerja di bawah Tetua Agung ini”, kata Phang Cui Lin semangat, dia sempat melirik sosok hitam di depannya yang berjubah dan rambut terurai panjang menutupi sebagian wajah putih bersih.
”Aku bukan seorang Tetua, kau boleh tahu namaku ‘Sian Li’ , di klan ku aku hanya seorang tidak berarti yang melindungi anakku”, kata Thian Sian Li.
Rasa terkejut Phang Cui Lin bertambah mendengar kata-kata Thian Sian Li, ternyata orang yang diduga terkuat ini hanya keberadaan kecil pada suatu Klan, lalu seperti apa nilai kekuatan ‘klan’ tetua ini, dan lebih heran lagi ternyata yang yang di titipkan di sekte ini bukan sekedar murid tapi anaknya.
Pikiran Phang Cui Lin berputar-putar mendengar dan berusaha mencerna perkataan Thian Sian Li, dirinya menemukan semua informasi yang di luar bayangannya, dia gembira mendengar tawaran tokoh di depannya dan sudah membayangkan masa depan yang cerah, dimana jika dia menjadi pembantu sekelas tokoh ini, ada kekuatan yang akan dimilikinya dan dia akan menjadi orang terkuat di benua Chong Yang ini, tapi ternyata status tokoh ini hanya seseorang yang kedudukannya tidak berarti di klannya, dari manakah asal sosok ini?.
Sekian lama terdiam, Phang Cui Lin langsung bersuara,
”Tetua Sian Li, mohon terima diriku, aku sudah mengambil keputusan untuk mengikutimu!”, kata Phang Cui Lin mantap.
Thian Sian Li menatap tajam ke arah Phang Cui Lin, dengan persepsinya Thian Sian Li menelusuri tubuh Phang Cui Lin, sedangkan yang bersangkutan merasakan bahwa ada energi yang menjelajahi setiap lekuk-lekuk bagian tubuhnya dengan seksama, dia hanya bergidik ketakutan.
Tidak lama kemudian tokoh ini bersuara.
”Mulai sekarang engkau akan mengawasi pondok ini dan melindunginya, dan melaporkannya padaku segala sesuatu perubahan yang terjadi ditempat ini”, kata Thian Sian Li sambil menggerakkan tubuhnya dan,
”Pelajari dan berlatihlah menurut petunjuk di dalam batu giok ini, mudah-mudahan kau tidak mengecewakan aku”, kata Thian Sian Li sambil melemparkan sebuah lempengan batu berwarna hijau transparan yang merupakan sebuah teknik kategori Dewa kelas Pokok.
Dengan mudah Phang Cui Lin menangkap benda yang dilemparkan sosok Sian Li ini, ada tenaga lembut yang dirasakan tangannya,
”Terima Kasih tuan, apa nama teknik ini tuan?”, kata Phang Cui Lin gembira, maksudnya tercapai.
”Berlatihlah dan kuasailah, untuk namanya kau boleh menamainya sendiri”, kata Thian Sian Li.
Setelah memberikan teknik itu Thian Sian Li menghilang meninggalkan Phang Cui Lin yang terbengong-bengong, melihat cara Tuannya meninggalkan dirinya,
baginya sekelas leluhur sekte saja masih bisa dia rasakan pergi dan datangnya melalui persepsi dan indranya, namun tokoh wanita yang menjadi tuannya ini, dapat pergi dan datang tanpa dia rasakan apapun.
Phang Cui Lin makin kagum dan hormat kepada sosok yang sekarang menjadi tuannya, dengan persepsinya dia menyapu batu giok di tangannya, betapa dia tidak gembira bahwa selain teknik beladiri ada juga sebuah teknik kultivasi tingkat tinggi. Dengan cepat dia pergi untuk menuju kediamannya, namun ketika langkah kakinya hendak bergerak, sebuah suara bergaung di kepalanya,
”Ingat tugasmu !!!”, suara itu dekat dengan dirinya, dan Phang Cui Lin menengok kiri dan kanan tapi dia tidak menemukan seorangpun.
”Aku bersedia”, kata Phang Cui Lin membungkukkan badannya.
Sementara itu di halaman belakang pondok, Han Long tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Phang Cui Lin dari kejauhan yang membungkuk-bungkukkan badannya dengan sikap ketakutan, dia tahu bahwa ibunya tidak pernah jauh dari dirinya, sebenarnya dia juga sudah tahu ada seseorang yang mengikuti dirinya dan Han Eng sejak keluar dari arena pertandingan.
”Ibu, apakah wanita itu dapat dipercaya?”, kata Han Long ke arah tertentu.
”Long er, kemarilah”, kata Thian Sian Li.
Han Long menggerakkan tubuhnya dan pergi dengan secepat kilat meninggalkan pondok itu dan datang menghampiri Thian Sian Li yang jaraknya ternyata ratusan meter dari jaraknya semula.
”Ibu aku datang”, kata Han Long yang tiba di hadapan ibunya.
”Long er bagaimana menurutmu tentang wanita itu?” tanya Thian Sian Li.
”Aku tidak mengerti ibu dan tidak tahu, tapi aku pernah melihatnya saat dia menawari temanku untuk mengambil menjadi murid, namun temanku menolaknya”, kata Han Long.
”Kenapa temanmu menolaknya?”, tanya Thian Sian Li.
”Aku juga tidak tahu”, kata Han Long polos.
”Ibu mengerti, mana mungkin temanmu mau menerimanya, dia lebih suka menerima petunjuk darimu”, kata Thian Sian Li
”Long er, mulai sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk meninggalkan benua ini, dan tugas mengawal gadis itu sudah menjadi kewajiban wanita itu, aku sudah mengaturnya”, kata Thian Sian Li.
Han Long sedikit terkejut mendengar perintah ibunya namun dia tahu bahwa setiap ucapan dari ibunya selalu ada alasan kuat dibaliknya.
”Ibu aku akan bersiap-siap”, balas Han Long.
”Baiklah, ibu akan menunggu di gerbang Ibukota Chong Yang sebelah selatan dalam 3 bulan ke depan ”, kata Thian Sian Li.
Setelah mengucapkan itu Thian Sian Li pergi dan Han Long pun meninggalkan tempat itu untuk kembali ke pondoknya.
Keesokan harinya Han Eng pagi-pagi sudah pergi ke tempat Han Long dibelakang.
”Kakak Han Long, dimanakah kamu?”, teriak Han Eng.
Han Long heran mendengar Han Eng merubah panggilannya,
”Tuan Putri, apa maksudnya memanggilku ‘kakak’, aku hanya pelayanmu”, jawab Han Long sambil keluar dari pondoknya menghampiri Han Eng.
Dan pada wajah cantik Han Eng ada semburat merah, terlihat matanya yang indah seperti lelah kurang tidur,
”Sudahlah kakak, jangan berpura-pura lagi, aku baru sadar sekarang, aku menjadi seperti ini adalah berkat bimbinganmu kakak, kau tidak pantas menjadi pelayan siapapun, apalagi sekelas diriku”, kata Han Eng dengan wajah dan mata yang langsung menatap wajah Han Long yang masih cengar-cengir menghiasi wajahnya.
Han Long sedikit terkejut atas penilaian Han Eng terhadap dirinya, namun dia masih berusaha menutupinya,
”Aih tuan putri berlebihan, aku orang yang tidak berguna bagaimana mungkin membimbing dirimu yang penuh bakat, itu hanya terjadi karena tuan putri lebih jenius dari siapapun sehingga apa yang dicapai sampai hari ini adalah usaha tuan putri sendiri”, kata Han Long masih mempertahankan wajah bodohnya.
”Kakak sudahlah, hapus wajah bodoh itu, aku bulan gadis dulu yang mudah kau kelabui, semalam aku sudah memikirkannya, tindakan para petinggi sekte padaku adalah tindakan salah alamat, bukan aku yang mereka maksud tapi dirimu, dugaanku itu karena kaulah yang selalu memberi petunjuk kepadaku sehingga tingkat beladiriku meningkat dengan pesat bahkan ayahku sekarang bukan lawanku, hanya murid orang sekelas tokoh sakti yang sangat dihormati para leluhur Sekte Samudera Naga yang dapat melihat kelemahan teknik beladiri klanku”, kata Han Eng menjelaskan tebakannya.
Dalam hati Han Long mengagumi kecerdasan gadis remaja di depannya, tidak percuma dia memberi masukan terhadap gadis ini, ternyata daya tangkapnya adalah kejeniusan yang langka dan Han Long memuji analisa dan dugaan Han Eng terhadap dirinya dan hal ini telah membuatnya sebuah keputusan untuk meninggalkan Han Eng, dan perlindungan Han Eng sesuai dengan keputusan ibunya diserahkan pada Phang Cui Lin, dimana Phang Cui Lin sendiri masih menganggap bahwa yang dimaksud ‘murid’ itu adalah Han Eng bukan dirinya.
”Tuan Putri, ada apa dengan cara berpikirmu?, aku tidak mungkin memiliki bakat apalagi menjadi seorang murid sakti”, kata Han Long masih berusaha menguji Han Eng.
”Sudahlah kakak, hentikan kebodohanmu, aku sudah menebaknya dan aku sudah menyiapkan segalanya termasuk hatiku, bahwa dengan tebakanku terbukti, kakak tidak akan bersamaku lagi kan?”, kata Han Eng dengan raut wajah berubah, ada kesedihan di wajahnya.
Wajah Han Long berubah, dia lalu menegakkan tubuhnya, sekarang postur Han Long tegap berdiri dengan bahu yang rata dan tegap, Han Long kini berdiri lebih tinggi dari Han Eng, dan wajahnya kini berubah menanggalkan senyum cengengesan, matanya kini menatap tajam berbintang ke wajah cantik Han Eng yang pucat, dan pada mata Han Eng ada genangan riak air mata.
”Adik Han Eng, kau sudah tahu sekarang identitasku dan aku sebenarnya segera akan memberitahukan bahwa aku akan pamit untuk pergi, ada tugas lain yang harus kukerjakan”, kata Han Long.
Lemas sudah tubuh Han Eng, dia sudah menebak identitas Han Long dengan segala analisa yang dia pikir semalaman, dan sebenarnya ada rasa takut, bahwa tebakan itu akan memisahkan dirinya dengan Han Long yang diam-diam meninggalkan kesan yang sangat dalam di hatinya.
Jasa Han Long sangat besar pada perkembangan dan pertumbuhan dirinya, apalagi Han Long tidak pernah mengeluh atau protes terhadap segala perintahnya, bahkan dengan cara Han Long, dia dapat mencapai prestasi sekarang ini.
Han Eng mengingat semua kekonyolan Han Long dalam semua tindakannya, tapi tindakan itu menyelesaikan setiap masalah yang menimpa diri mereka berdua, dan sekarang di dalam benaknya kebersamaan itu harus berakhir.
Han Eng tidak mau berpisah dengan Han Long, sosok tegap pemuda remaja ini tidak akan terhapus begitu saja dihatinya yang dalam, bahkan sosok itu pernah suatu waktu menghiasi angannya untuk mendampingi seluruh hidupnya, dan sekarang dia tahu bahwa tingkat kultivasi dan teknik beladiri Han Long jauh diatasnya.
”Kakak apakah kau akan meninggalkanku?, bolehkah aku mengikutimu, aku bersedia mendengarkan seluruh perintahmu, aku tidak keberatan sekalipun kakak memperlakukanku sebagai pelayan, aku tidak ingin berpisah denganmu”, kata Han Eng terus terang sambil matanya berlinang air mata, dia sudah bertekad mengikuti Han Long kemanapun, karena Han Long yang dia percaya akan melindunginya bahkan akan memberinya kekuatan yang didambakan oleh semua orang, dimana kekuatan adalah segalanya.
”Han Eng biarkan sandiwara ini berlanjut, masih ada waktu bagi kita untuk peran kita masing-masing, tokoh yang diduga oleh para petinggi sekte itu adalah ‘ibuku’ dan beliau masih memerlukan waktu”, kata Han Long sedikit terus terang.
”Apakah kakak Long tidak akan meninggalkanku?”, kata Han Eng sambil mendekatkan wajahnya yang pucat ke wajah Han Long sebagai upaya untuk mencari kepastian.
”Aku tidak tahu, karena ibu yang akan menentukan langkahku selanjutnya, dan sebaiknya mari kita sempurnakan teknik beladirimu secepatnya, mumpung masih ada waktu untuk menghadapi babak kedua”, kata Han Long.
Betapa gembira hati Han Eng dan wajah cantiknya berubah ceria dengan senyum memikat menghiasinya, kini dia tahu bahwa Han Long tidak segera meninggalkan dirinya bahkan masih peduli pada tingkat penguasaan teknik beladirinya.
Waktu dua hari berlalu sejak tebakan Han Eng pada Han Long, saat ini Han Eng sedang fokus berlatih untuk meningkatkan dan menyempurnakan teknik beladirinya yakni Teknik Tarian Dewi Surgawi, dibawah petunjuk langsung Han Long yang tidak lagi konyol dan berpura-pura bodoh, Han Eng langsung merasakan bahwa petunjuk ini membuka wawasannya tentang suatu teknik yang baru dan teknik itu dapat dimainkan sesuka hatinya serta membawa kedalaman suatu Teknik Beladiri pada Kategori Dewa dengan kelas Lanjutan yang sangat hebat.
Arena pertandingan Sekolah Beladiri Sekte Samudera Naga sangat ramai, sekarang ada seratus peserta di masing-masing kelas kultivasi
Coa Kun dan Han Ek dinyatakan lolos dan dapat mengikuti babak selanjutnya di kelas Imajinasi Roh bersama dengan Han Eng, seperti biasa Han Long hanya duduk di bagian penonton tidak mendampingi Han Eng.
Wajah cantik Han Eng terlihat semakin bersinar, dia sekarang dapat merasakan energi di setiap pembuluh darahnya yang berdesir penuh kekuatan setelah menerima petunjuk dari Han Long secara langsung tanpa kekonyolan, perubahan hati Han Eng sekarang sangat nyata, dia sekarang mengakui Han Long adalah pembimbingnya dan bukan pelayannya lagi.
”Sekarang babak kedua akan dimulai, babak ini akan menentukan 20 peserta terbaik di masing-masing kelas kultivasi, akan dipanggil 20 orang terbaik berdasarkan hasil pertandingan selama 3 hari yang lalu maka ke dua puluh orang yang akan disebutkan pada masing-masing kelas kultivasi akan dianggap sebagai orang yang siap menerima tantangan dari peserta lainnya dan setiap penantang dapat menentukan siapa yang akan digantikan posisinya jika sang penantang menang”, kata seorang Tetua menerangkan sistem pertandingan berikutnya.
Maka dimulailah babak kedua dari kompetisi murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, sebelumnya ada dua puluh nama yang dipanggil berurutan dimana nama Han Eng, Coa Kun, Han Ek serta peserta lain sebanyak dua puluh orang terpanggil sebagai peserta yang siap ditantang oleh peserta lain.
Dan dikelas Kekuatan Jiwa ternyata nama Tang Yan, Cui Man Ek dan Meng Li menjadi peserta yang ditantang juga, dan mereka harus siap mempertahankan posisinya.
Peristiwa ini sangat menggembirakan bagi orang-orang yang berasal dari kota Yang In dan berita inipun tembus ke seluruh pelosok, dan hal itupun sampai pada keluarga klan kota Yang In, masing-masing keluarga penuh harap bahwa generasi penerusnya akan meningkatkan gengsi klan sampai bisa menembus ibukota kerajaan Chong Yang.
Hanya beberapa orang yang merasa kecewa karena hal ini tidak dapat mereka nikmati diantaranya adalah Han Wo yang gagal diterima bahkan sekedar murid luar Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Saat ini status Han Wo masih sebagai murid elit klan Han dia masih mengawasi latihan para junior usia 9 - 15 tahun.
Berita yang beredar di kota Yang In, tidak memberikan dampak apapun bahkan berita ini malah memberikan tekanan pada dirinya.
Di dalam aula klan Han, duduk Han Wi Teng sebagai kepala klan dengan didampingi para tetua klan, di depan mereka seorang pemuda berdiri, Han Wo yang menundukkan kepalanya.
”Apakah tekadmu benar-benar tidak dapat berubah, disini adalah keluargamu dan kami tidak dapat melindungimu kalau kamu pergi meninggalkan klan”, tanya Han Wi Teng pada Han Wo.
”Para Tetua dan Kepala Klan tekadku sudah ditetapkan, dan aku tidak ingin terkurung di tempat ini sambil menerima semua kebaikan klan seumur hidupku, aku ingin menjadi kuat biarlah aku menentukan nasibku sendiri diluar sana, kelak dimasa depan jika aku menjadi kuat aku akan kembali dan mengangkat klan dengan kekuatanku sehingga klan dapat menentukan masa depan lebih baik”, kata Han Wo mantap.
”Baiklah, memang seorang muda harus menambah wawasannya, tidak baik seorang yang berbakat seperti dirimu terkurung oleh wilayah yang kecil ini, semoga keberuntungan menyertaimu”, kata Han Leng salah satu tetua klan.
”Jika tekadmu sudah seperti itu, kami orang tua hanya dapat mendoakannya, tapi ingat bahwa disini adalah tempat tinggalmu, dan tempat kecil ini adalah tanah kelahiranmu”, kata Han Wi Teng dengan bijak.
Setelah mendapatkan restu dari para tetua dan kepala klan Han Wo meninggalkan Klan Han beberapa hari kemudian, dia tidak tahu mau kemana, kakinya asal melangkah, keputusan ini diharapkan akan membawa perubahan atas takdirnya.
Kembali pada kesibukan Sekolah Beladiri Samudera Naga, dimana Han Eng dapat mempertahankan prestasinya dan ditetapkan sebagai perwakilan Sekolah Beladiri Samudera Naga untuk kompetisi Benua Chong Yang, dia peserta termuda, bersama dengan Coa Kun, Han Ek dan lainnya di kelas Imajinasi Roh.
Tang Yan memimpin kelas Kekuatan Jiwa bersama Cui Man Ek dan Meng Li serta lainnya, sekarang mereka harus menjalani proses latihan intensif di Sekte Samudera Naga dengan pengawasan ketat para Tetua Sekte dan tidak dibawah pengawasan pihak sekolah.
Khususnya Han Eng yang langsung diambil oleh salah satu petinggi Sekte yakni Phang Cui Lin yang mendatangi pondoknya dan mengatakan bahwa ini semua di bawah perintah seorang tokoh yang misterius, Han Eng mau menerimanya karena desakan Han Long juga, dan Han Eng memberikan syarat pada tetua Phang Cui Lin agar Han Long selalu ikut bersamanya, dan semua syarat itu disetujui tanpa bantahan dari Phang Cui Lin, bahkan Han Eng melihat bahwa sikap Phang Cui Lin terhadap dirinya terlihat sangat hormat.
Sekalipun Phang Cui Lin adalah guru bagi Han Eng diluaran, namun kenyataannya Han Long lah yang selalu ada didekatnya memberikan petunjuk pada Han Eng dan pertumbuhan kultivasi Han Eng meningkat menjadi tingkat Imajinasi Roh ke-2 Awal.
Waktu dua bulan berlalu, dan saatnya beberapa murid terpilih mempersiapkan diri untuk berangkat ke Ibukota Kerajaan Chong Yang.
Ibukota Chong Yang adalah salah satu kota terbesar di benua Chong Yang, kota ini berdiri gedung-gedung besar dengan beberapa menara yang menjulang menembus awan.
Kota ini didirikan oleh keluarga kerajaan bermarga Duan dan beberapa keluarga bangsawan lain, saat ini Raja Duan Li Ong yang memimpin kerajaan.
Didalam gedung persidangan kerajaan Chong Yang ada kesibukan baru, Raja Duan Li Ong berhadapan dengan para penasehatnya dan jajaran para menterinya berkumpul untuk membahas peristiwa besar yang akan berlangsung di kerajaannya untuk menentukan nasib benua Chong Yang dalam menentukan distribusi kekuatan Benua yang dipegang oleh Sekte terbesar di Benua Chong Yang ini.
Ada lima Sekte Besar sebagai penentu kebijakan dalam mengatur sistem keamanan dan perdamaian benua ini.
Ada Sekte Samudera Naga, Sekte Puncak Merah, Sekte Angin Guntur, Sekte Lembah Api dan Sekte Gunung Abadi, dimana kelima sekte ini berperan sebagai penentu kebijakan seluruh benua dimana masih ada 3 kerajaan lainnya di luar kerajaan Chong Yang, yaitu ada kerajaan Ming Lan, kerajaan Kao Monarki dan Kerajaan Thi Agung.
Beberapa hari kedepan kerajaan Chong Yang akan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan kegiatan besar ini, sang Raja ingin memastikan bahwa segala persiapan untuk kegiatan ini tidak menimbulkan masalah, dan pentingnya kegiatan ini karena kedatangan para tamu ini di atas level kerajaan, yaitu tamu-tamu Sekte yang tingkat kultivasinya di atas tingkat seorang raja yang memiliki sebuah wilayah besar kerajaan, kekuatan sekte lebih besar dengan memiliki ratusan ribu murid bahkan jutaan murid bila dihitung dengan orang-orang yang tersebar dalam masing-masing kerajaan dan ini dapat menghancurkan sebuah negara.
Seorang raja di kerajaan Chong Yang dapat dengan mudah digantikan oleh kehendak para pemimpin sekte.
”Paduka Raja tidak perlu mencemaskan segala hal, serahkan semua ini pada kami para menteri yang akan bekerja sekuat tenaga”, Kong Bun, seorang menteri Bendahara Istana, dia seorang yang memiliki kedekatan dengan Sekte Samudera Naga, dimana ada beberapa ‘penatua luar’ dan ‘penatua dalam’ di sekte adalah kerabatnya, sering juga dia berkunjung ke Sekte Samudera Naga untuk menjalin hubungan demi kepentingan kerajaan, khususnya dinasti Duan yang ditunjuk sebagai penguasa kerajaan.
”Apakah semua sudah siap menyambut para tamu, khususnya tamu kerajaan lain dan para utusan Sekte?” tanya Raja Duan Li Ong.
”Kami sudah bersiap, bahkan mengatur beberapa bangunan milik para bangsawan dapat dipastikan menjadi tempat untuk menampung para tamu lengkap dengan para pelayan dan penjaga, selain itu beberapa pangeran dan putri kerajaan telah mempersiapkan diri mereka untuk sekedar memperoleh perhatian para petinggi sekte untuk berharap diambil menjadi murid pribadi mereka, karena penting bagi kita untuk memiliki hubungan dengan para petinggi sekte”, kata Perdana Menteri Kim.
”Paduka Raja, Pangeran Tertua dan Pangeran Kelima sementara ini berada di Sekte Samudera naga sebagai murid inti, dan kami para menteri telah mendengar bahwa salah satu murid di sekte adalah titipan seorang tokoh yang keahliannya dapat menghancurkan sebuah benua, penting bagi kita memperhatikan masalah ini”, kata salah satu penasehat Raja Duan Li Ong,
Penting bagi masing-masing pejabat istana memiliki beberapa orang yang dipasang sebagai agen intelijen agar dapat mewaspadai setiap perubahan peristiwa.
”Hmmm, kita semua yang berada di istana ini sudah mengetahui berita itu, namun sampai sekarang yang dimaksud dengan murid tersebut belum diketahui identitasnya bahkan oleh 3 orang abadi Sekte Samudera Naga, dan kupikir ini menjadi masalah yang diperhitungkan oleh Sekte-sekte besar lainnya”, kata raja Duan Li Ong.
”Seandainya saja murid ini mau menjalin hubungan dengan kerajaan kita, maka kerajaan Chong Yang akan lebih kokoh dan tidak lagi menjadi boneka Sekte-sekte itu”, kata Perdana Menteri Kim setengah berbisik.
Hal Ini memang menjadi harapan Raja Duan Li Ong, karena seringkali pihak kerajaan direpotkan oleh kelakuan para anak murid Sekte-sekte benua yang suka bertingkah laku seenaknya bahkan suka menekan para bangsawan dan mengambil barang bahkan para wanita yang disukainya tanpa memandang status wanita tersebut.