Di sebuah rumah makan yang mewah dengan gedung yang terdiri dari tiga lantai itu dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai belahan di Benua ChongYang.
Ada yang berkelompok 3 sampai 10 orang dengan menggunakan pakaian yang seragam dan ras yang berbeda-beda, mereka menempati berbagai sudut ruangan dengan meja penuh dengan berbagai hidangan makanan dan minuman, selang beberapa waktu ada dua orang wanita dan satu pemuda yang masuk rumah makan itu.
Dua wanita dan satu pemuda itu cukup menarik perhatian para tamu, karena keduanya wanita cantik, yang sedikit lebih tinggi dari wanita lainnya, lebih tua beberapa tahun namun kecantikannya dapat menggoyahkan sebuah negara, dan yang lebih muda dapat dikatakan sangat cantik dan keduanya adalah ras manusia, sedangkan di belakang dua wanita itu seorang pemuda dengan wajah celingukan seperti pemuda bodoh.
Mereka bertiga adalah Han Long, Han Eng dan Phang Cui Lin, saat ini Phang Cui Lin telah menaikan kutivasinya berkat teknik yang diberikan oleh Thian Sian Li, tingkat Insan Raja ke-8 Awal sudah dicapainya dan teknik bela dirinya telah meningkat dengan cepat.
Han Eng saat ini sudah berada pada Tingkat Imajinasi Roh ke-2 Puncak pada usia yang saat ini 15 tahun, yang tidak diketahui oleh kedua wanita itu adalah tingkat kultivasi Han Long, sekalipun Han Eng sudah mengetahui identitas Han Long namun Han Long tidak pernah memberitahukan kultivasinya apalagi Phang Cui Lin, dimata Phang Cui Lin, Han Long adalah pelayan dari murid sang tokoh dimana sekarang dia bekerja di bawahnya.
Han Long melalui latihan rahasianya dia telah mengembangkan 9 Tubuh Bintang tahap ke-4 dan mengolah Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa ke tahap ke-5, lebih cepat dibandingkan mengolah Teknik 9 Tubuh Bintang nya yang baru ke tahap ke-4 berkat Bunga Rumput jiwa Surga, dan tingkat kultivasi Han Long sudah di Insan Raja ke-4 Lanjutan pada usia 16 tahun dibandingkan dengan tingkat manusia yang lahir di benua tengah, kecepatan kultivasi Han Long dapat dikatakan sangat lambat, namun bila di Benua Chong Yang ini dapat dikatakan kecepatan kultivasi seorang yang menyandang nama Super Jenius.
Ketiganya menaiki tangga yang menuju lantai kedua rumah makan itu, dan mereka bertiga memilih salah satu sudut yang berdekatan dengan jendela yang menghadap ke salah satu jalan raya.
Saat seorang pelayan rumah makan itu menghampiri mereka bertiga, seorang pria berwajah garang menghampiri meja mereka,
”Salam kepada nona berdua, tuan kami mengundang anda berdua untuk bergabung dengan meja kami”, kata pria itu.
Phang Cui Lin hanya melirik ke arah pria itu, dan melirik ke arah meja yang tadi ditunjuk pria tersebut, terlihat ada 3 orang pria dengan satu diantaranya seorang pemuda mewah yang cukup bersih dan tampan sedang tersenyum ke arahnya, 2 orang pria yang bersama pemuda mewah ini berumur 40 tahunan.
”kami datang bertiga, dan di meja itu hanya tersedia dua kursi, terpaksa kami harus menolak kebaikan tuanmu”, kata Han Eng, karena dia melihat Phang Cui Lin tidak bereaksi.
Orang berwajah garang itu menoleh ke arah Han Long dan berkata,” biar aku menemani anak muda ini disini, dan kukira dia tidak pantas bergabung dengan tuanku”, kata pria itu.
”Kau pikir kalian siapa?, bahkan tuanmu tidak layak menemani muridku, pergilah sebelum hatiku berubah”, kata Phang Cui Lin.
Pria itu seketika berwajah merah menahan amarah, ” baiklah, aku akan memberitahukan pada tuanku”, kata pria itu.
Han Long melirik orang itu yang pergi kembali ke mejanya.
Pelayan yang dari tadi berdiri sudah menggigil ketakutan, dia sudah menduga akan terjadi perkelahian di tempat itu, Han Long menyapanya segera, untuk mencairkan ketegangan yang hinggap pada hati pelayan tersebut, setelah menyebutkan beberapa menu makanan dan minuman, pelayan itu segera pergi.
Tidak berapa lama makanan dibawa dan diatur di meja rombongan Han Long oleh pelayan rumah makan itu.
Namun ketenangan Han Long dan rombongannya tidak lama, sekelompok orang menghampiri mereka terbahak-bahak dengan membawa hidangan beserta dengan mejanya dan tanpa permisi,
dengan sengaja mereka merapatkan meja mereka sehingga menjadi satu meja besar dengan kelompok Han Long.
”Ha ha ha…, dengan demikian kita dapat berbincang-bincang dan mengenal satu dengan yang lain”, kata pemuda mewah itu disertai gelak tawa para pria yang menemaninya.
”Aku pangeran Ming Tek Kong dari kerajaan Ming Lan, dan ini adalah para jendral yang menyertaiku”, kata pria mewah itu memperkenalkan diri.
”Han Long, ternyata ada yang lebih bodoh dan konyol dibandingkan dengan segala tindakanmu”, kata Phang Cui Lin.
Belum habis suara Phang Cui Lin, sekelompok orang menaiki tangga dan kelompok ini lebih mewah lagi karena rombongan ini disertai oleh para prajurit yang berpakaian lengkap, disertai juga oleh orang-orang tua yang berwibawa berpakaian perwira tinggi.
”Hai Pangeran Mahkota Ming, ternyata anda disini,
Oh…, Tetua Phang juga disini, salam aku murid Duan Leng adalah murid inti sekte Samudera Naga”, kata seorang pemuda 20 tahunan memberi hormat pada Phang Cui Lin yang diikuti oleh para perwira tinggi yang mendampinginya.
”Hamba yang rendah Duan In Mey putri kerajaan Chong Yang”, kata seorang wanita muda cantik pada salah satu rombongan itu memberi hormat pada Phang Cui Lin.
Phang Cui Lin hanya menganggukan kepalanya sedikit menerima penghormatan ini, baginya hal ini adalah kejadian biasa bahkan raja Duan Li Ong akan menundukkan kepala kepadanya.
Yang lebih terkejut adalah Pangeran Mahkota Ming Tek Kong dan rombongannya, mereka tidak menyangka bahwa orang yang akan diganggunya adalah petinggi salah satu sekte penguasa Benua Chong Yang.
Dan lebih konyol lagi adalah pria berwajah garang, dia berpikir dengan status tuannya, dia dapat mempermainkan orang di depannya dan dapat menikmati salah satu kecantikan wanita yang memang sangat menarik hati, namun kenyataannya, sekaang nyawanya menjadi taruhan.
Dengan wajah pucat rombongan Pangeran Ming Tek Kong mundur, orang-orang ini lalu terduduk di lantai rumah makan itu dan berlutut di depan Phang Cui Lin, terlebih Pangeran Mahkota Ming Tek Kong, dia telah membahayakan kerajaannya dengan sikap yang barusan dia lakukan, hanya dengan ucapan setingkat Phang Cui Lin maka kerajaan Ming Lan akan berganti dinasti, bukan klan Ming lagi yang akan menjadi raja bahkan mungkin tidak akan ada lagi kerajaan Ming Lan tapi sudah berganti nama dengan klan keluarga lain.
”Ampuni kesalahan orang-orang bodoh ini Tetua Agung Phang, kami memiliki mata namun kami buta, tidak mengetahui ketinggian apa yang harus kami daki dan kami raih…, kami mohon Tetua Phang yang terhormat mengampuni kecerobohan kami, akan kusampaikan pada ayahanda untuk memberikan penghormatan ke Sekte Samudera Naga”, kata Pangeran Mahkota Ming Tek Kong dengan meratap.
”Huh !, jika aku tidak melihat muridku, sudah sejak tadi nyawa anjingmu hilang, pergilah dan tinggalkan satu tangan pria jelek itu disini, karena dia berani menyentuh mejaku”, kata Phang Cui Lin melirik pria berwajah garang itu, dan yang dilirik makin pucat, hukuman ini termasuk sangat ringan, karena pria itu bersikap kurang ajar terhadap seorang tokoh terhormat dengan status petinggi sekte besar.
Dengan cepat orang di sebelah Pangeran Ming Tek Kong mencabut sebuah pisau dan
Set…, Aaaakkhhh…!
Sebuah telapak tangan telah putus dari pergelangannya, pria berwajah garang tadi hanya bisa meringis menahan sakit.
Pangeran Ming Tek Kong segera pamit, setelah memberi obat pada pria yang putus tangannya dia juga menyuruh bawahannya yang lain untuk membawa tangan yang sudah putus, rombongan pangeran Ming cepat-cepat keluar dari rumah makan itu.
Kini tinggal rombongan pangeran dan putri Duan yang mematung tidak bergerak di lantai dua ini,
”Tetua Phang ayo makan”, kata Han Eng mengajak.
”Pangeran dan putri Duan mari bergabung dengan kami, banyak hidangan sudah tersedia” ajak Han Long pada rombongan Pangeran dan Putri Duan, Phang Cui Lin melirik ke Han Long tanda tidak setuju, masa sekelas Han Long berani melangkahi dirinya dan Han Eng dengan berinisiatif mengajak tanpa persetujuannya namun tatapan matanya di cegat oleh Han Eng, Phang Cui Lin akhirnya tidak bereaksi dan membiarkan Han Long dengan aksinya, hal ini tidak disia-siakan oleh pangeran Duan Leng, dia mengajak adiknya putri Duan In Mey untuk duduk bersama di meja itu, sedangkan rombongan yang dibawanya memilih meja masing-masing untuk memesan menu makanan sendiri.
Pangeran Duan Leng adalah salah satu pangeran yang menjadi kandidat terkuat untuk posisi pangeran mahkota, dia adalah pangeran yang cerdik dan tingkat kultivasinya adalah yang tertinggi dibandingkan pangeran lainnya, saat ini dia sudah mencapai Insan Raja ke-2 Puncak pada usia 25 tahun, sedangkan Putri Duan In Mey pada tahap Imajinasi Roh ke-2 Awal dan berusia 16 tahun.
Dan sebenarnya Pangeran Duan Leng yang mencegah agar Pangeran Mahkota Ming Tek Kong tidak bertingkah lebih konyol karena ketidaktahuannya, karena antara Pangeran Ming Tek Kong dan Pangeran Duan Leng ada hubungan yang sangat erat bahkan Pangeran Duan Leng ingin menikahkan adiknya dengan Pangeran Ming Tek Kong, namun rencana ini tertunda karena kehadiran dari Phang Cui Lin.
Mereka menikmati hidangan rumah makan yang memang sudah terkenal di ibukota Chong Yang ini, hampir seluruh keluarga bangsawan mengenal makanan yang disajikan rumah makan ‘Laut Timur’ ini dengan baik.
Terlihat Putri Duan In Mey mengobrol dengan Han Eng tanpa memandang statusnya sebagai seorang putri kerajaan yang disambut oleh Han Eng dengan hangat tapi mata Han Eng sering melirik secara sekilas pada Han Long, dan Han Long dengan acuh menikmati hidangannya yang disertai minuman anggur di hadapannya, sebaliknya Pangeran Duan Leng berusaha bercakap-cakap dengan Phang Cui Lin, yang ditanggapinya dengan dingin.
”Tetua Phang, jika Tetua ada waktu, dapat singgah ke istana dan aku yakin ayahanda raja akan senang menerima kunjungan tetua”, kata Duan Leng.
”Aku akan memikirkannya, tapi sebelumnya sampaikan rasa terima kasih ku kepada ayahmu”, kata Phang Cui Lin singkat sambil mengangkat lehernya yang panjang dan putih mulus dan menyibakkan rambutnya yang hitam mengkilat.
Melihat gerakan Phang Cui Lin, Pangeran Duan tertegun, dia tidak menyangka bahwa usia wanita ini tidak bisa disebut tua ternyata dari dekat dia melihat betapa halus dan licinnya wajah cantik di hadapannya.
Phang Cui Lin menyadari bahwa penampilan dirinya sedang dinilai oleh seorang pemuda, dan pemuda itu adalah calon pangeran Mahkota, ada rasa bangga kalau selama ini dia selalu menjaga kesehatan dan kecantikan dirinya, buktinya di usianya yang ke-55 tahun masih dapat menggoda seorang pemuda bangsawan, putra seorang raja.
Dilain sisi Putri Duan In Mey sering mendapatkan bahwa mata Han Eng sering melirik pemuda di sebelahnya, namun pemuda berbaju sangat sederhana ini terlihat tidak peduli, Duan In Mey adalah seorang putri bangsawan, dia memiliki kecerdasan dan kepekaan seorang wanita yang halus dan lebih sensitif, dia memperhatikan bahwa Han Long sering tertegun dan matanya memancarkan kekuatan yang misterius, secara tampilan fisik Han Long termasuk pemuda yang tampan, mungkin sangat tampan tetapi pemuda ini hanya seorang pelayan, apakah disini terjadi bahwa majikan mencintai pelayannya? Duan In Mey tidak berani menanyakan kepada Han Eng takut menyinggung perasaan seorang dari murid petinggi sekte besar.
Tiba-tiba ada rombongan lain yang berjumlah sekitar 12 orang yang masuk ke lantai 2 rumah makan ini dan pakaian mereka adalah seragam dengan emblem yang ada di dada kiri mereka bertuliskan ‘Puncak Merah’ dengan arogan beberapa orang menghampiri meja Phang Cui Lin dan meja-meja yang ditempati oleh pasukan yang dibawa oleh Pangeran Duan Leng, terlihat ada senyum mengejek dari orang-orang yang baru datang ini.
”Ha ha ha…, akhirnya kita menemukan tempat yang sangat menghibur, malah beberapa bunga tumbuh di lantai ini”, kata seseorang diantara mereka yang berwajah kasar dengan cengengesan yang disambut gelak tawa yang lain.
”Kakak lihat bunga indah yang satu itu, sungguh sangat matang, sudah waktunya untuk dituai ha ha ha….!”, jawab yang lain, sambil tangannya mengarah kepada Phang Cui Lin, dan disambut tawa yang bergelak-gelak oleh kawan kawannya.
“Sekelas cecunguk dan kunyuk berani cengengesan di depan naga, sungguh hanya kematian yang ada”, yang berkata adalah salah satu perwira pendamping pangeran Duan Leng.
”Apa maksudmu dengan cecunguk dan kunyuk?”, kata pria lain dari Puncak Merah dengan nada marah.
”Kau tidak mengenal kami, kalian tidak tahu siapa kami, lihat pakaian kami !!!”, kata yang lainnya.
Salah satu pria setengah baya dari jajaran yang menemani Pangeran Duan Leng berdiri,
”Aku tahu siapa kalian, kalian adalah anak murid dari Sekte Puncak Merah, tapi apakah kalian tahu siapa kami?”, balas kawan perwira tadi.
Dibalas oleh seorang pria lain dari Sekte Puncak Merah
”Kami tahu, kalian adalah para prajurit kerajaan Chong Yang, tapi kami tidak peduli, kami akan membawa para wanita kalian untuk menghibur kami dan kalian pergilah, laporkan perbuatan kami pada komandan atau raja kalian, kami akan menunggu disini”, kata pria pertama yang dipanggil kakak oleh yang lainnya.
Mendengar setiap kata-kata orang itu, Han Eng sudah marah demikian juga dengan putri Duan In Mey, yang tetap tenang adalah Phang Cui Lin dan Han Long.
Han Eng hendak berdiri namun gerakannya ditahan oleh sebuah jari yang menyentuh tangannya, Han Eng melirik dan melihat Han Long menggelengkan kepalanya.
Gerakan sekecil itu tidak lolos dari pengamatan Putri Duan In Mey, dia langsung melirik pada Han Long ada sedikit kernyit di keningnya, karena dia melihat bahwa Han Eng sangat mematuhi perintah Han Long dan ini membuktikan tebakan sebelumnya bahwa ini bukan sekedar hubungan majikan dan pelayannya, tapi lebih seorang pria terhadap wanitanya.
Phang Cui Lin lalu berdiri, dia hanya melirik ke arah rombongan Sekte Puncak Merah,
Werrrr…, set…set…set…set…!!!
maka beberapa pria pada rombongan Sekte Puncak Merah itu, yang tadinya tertawa bergelak-gelak sesaat terdiam lalu,
Bruk, bruk, bruk ….bruk!!!
Empat tubuh langsung ambruk.
Kejadian ini membuat semua pihak terdiam, terutama pihak Sekte Puncak Merah, terdengar suara dingin seorang wanita,
”Bawa tubuh-tubuh busuk itu, aku akan menemui si tua bangka Tie !!!”, ucap Phang Cui Lin.
Pihak Sekte Puncak Merah terdiam, mereka masih gugup dengan kejadian itu, delapan orang yang tersisa langsung bersujud kepada Phang Cui Lin, mereka menyeret empat tubuh rekannya yang tadi begitu arogan menantang pihak kerajaan Chong Yang, namun tubuh itu sudah tidak bernyawa.
”Cepat pergi sebelum kami berubah pikiran dan menghabisi nyawa anjing kalian”, kata seorang perwira pihak Kerajaan Chong Yang yang memang sangat membenci pihak Sekte Puncak Merah, karena kejadian ini sering kali terjadi dan meresahkan pihak kerajaan.
”Ya ya ya…., kami akan pergi, namun kami harus tahu siapakah tetua yang terhormat yang begitu ganas melakukan perbuatan ini?” tanya seseorang dari pihak Sekte Puncak Merah sedikit berani dan ada kesan tidak puas di wajahnya.
Phang Cui Lin menengok sedikit ke arah suara itu dan tangannya langsung bergerak maka,
Brukkkk…, pria itu roboh dan mati.
”kuberi kesempatan malah menyia-nyiakan dengan buang nafas percuma”,
kata Phang Cui Lin dengan nada lebih dingin dan sorot matanya tajam menusuk, sebetulnya kejengkelan Phang Cui Lin sudah diluar batasnya, dia seorang tokoh tertinggi di benua Chong Yang namun dia harus mendampingi Han Eng sebagai bentuk ‘Tugas’ yang harus dilaksanakan dan akhirnya harus bertemu dengan segala jenis serangga yang mengganggu, baginya kalau sekedar ingin makan enak dia bisa berkunjung ke istana kerajaan manapun, dan hidangan terlezat akan tersedia dengan sendirinya.
Tanpa bertanya lagi rombongan Sekte Puncak Merah yang kini tinggal 7 orang ini segera meraih mayat kawan-kawannya dan segera keluar dari lantai dua rumah makan Laut Timur.
Suasana hening menyelimuti lantai dua di rumah makan itu dipecahkan oleh suara Han Eng,
”Tetua Phang, kita sudah menikmati hidangan, mari kita pergi”, kata Han Eng.
”Marilah, Han Long kita berangkat”, kata Phang Cui Lin
”Pangeran dan Putri Duan saatnya kita berpisah”, kata Han Long melirik ke semuanya sebagai sopan santun untuk meninggalkan rombongan Pangeran dan Putri Duan.
”Tetua Phang dengan tulus aku mengundang tetua dan nona Han untuk berkunjung ke istana Chong Yang, kami akan mengadakan perjamuan kerajaan di istana ayahanda dalam dua hari ini”, kata Pangeran Duan Leng dengan wajah serius berharap undangannya disambut oleh Phang Cui Lin.
Phang Cui Lin hanya melirik sekilas dengan dingin, wajah cantik wanita ras iblis ini sedikit tidak senang, ketika dia hendak melangkah keluar,
”Pangeran, kami akan menimbangnya ketika kami sudah menyelesaikan tugas kami”, kata Han Eng mewakili Phang Cui Lin.
Reaksi dari Han Eng tidak luput dari sorot mata cantik gadis belia Putri Duan In Mey, terlihat sekali bahwa apa yang dikatakan oleh Han Eng adalah bentuk persetujuan dari Phang Cui Lin, dan ini semakin mengherankan Duan In Mey yang sangat peka, dia seorang putri kerajaan besar di Benua Chong Yang yang sudah terbiasa dengan segala geliat politik dan gimik seseorang dalam menentukan sikap.
Kejadian di lantai dua rumah makan Laut Timur menyebar di setiap mulut warga ibukota, tidak luput juga dari pendengaran istana dimana Raja Duan Li Long dan para penasehat dan pembantunya berada, ditambah juga dengan keterangan dari saksi kejadian yaitu Pangeran Duan Leng dan Putri Duan In Mey, dijelaskan oleh sang putri kerajaan tentang analisanya terhadap Han Eng, dan itu pula dimasukkan sebagai catatan penting atas perintah Raja agar itu menjadi informasi penting.
Kesibukan pihak Istana Chong Yang semakin hari semakin padat, kedatangan tokoh-tokoh penting dari pihak Sekte-sekte besar dan utusan kerajaan-kerajaan mulai bermunculan dalam berbagai rombongan besar maupun yang datang secara perorangan.
Berbagai tempat dan gedung telah dipersiapkan, khususnya di sebuah gedung sebelah timur istana kerajaan Chong Yang menjadi tempat sementara bagi Sekte Samudera Naga, disini sudah tiba kepala Sekolah Wang Shen dan jajaran penatua sekolah, yang juga didampingi oleh para tetua Sekte Samudera Naga yang dipimpin oleh Phang Kok kakak dari Phang Cui Lin.
Nun jauh di sebelah selatan gerbang masuk ibukota terdapat sebuah pondok sederhana yang disewa oleh seorang wanita 30 tahunan yang berwajah cacat, dia adalah Thian Sian Li.
Dan ada pihak lain di sebuah penginapan mewah sebelah utara dari istana kerajaan Chong Yang, ada sembilan pria dan wanita yang semuanya berwajah kaku dan dingin, mereka dipimpin seorang pria tua berumur 60 tahunan dengan rambut putih dan mengenakan pakaian serba merah, dia adalah Kui Mo yang memimpin pasukan istimewa atas perintah salah satu Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, Thian Lok, dalam upaya menangkap Thian Sian Li dan membunuh putranya.
Kelompok 9 orang ini sudah tinggal di benua Chong Yang selama 5 tahun, masing-masing anggota sudah mencari setiap pelosok dalam pencarian mereka, namun sejauh ini sulit menemukan keberadaan Thian Sian Li akhirnya mereka mendengar kegiatan yang diselenggarakan di ibukota Chong Yang yang akhirnya mengumpulkan mereka semua di penginapan ini.
Sebetulnya dengan tingkat kultivasi yang mereka miliki, hanya dengan persepsi mereka saja seharusnya dapat melingkupi seluruh benua, dan pekerjaan ini sangat mudah dilakukan, namun jejak Thian Sian Li bagai hilang menguap seperti asap diterpa angin.
Yang tidak diketahui oleh para pemburu Benua Thian Agung, Thian Sian Li di balik kain hitam yang dipakainya, ada sebuah artefak tingkat Dewa yang menutupi seluruh tubuhnya, dalam rangka menyembunyikan identitasnya, bahkan tingkat kultivasi nya pun hilang lenyap sekalipun orang yang mendeteksinya sudah pada tingkat kultivasi Raja Dewa.
Kui Mo memimpin para rekan-rekannya di dalam sebuah ruangan, mereka memasang formasi agar suara mereka tidak menembus keluar ruangan.
”Rekan-rekan semua, wanita yang kita cari ternyata sangat cerdik, rupanya dia sudah mengetahui bahwa kita mengejarnya untuk itu kita harus lebih cerdik menutupi jati diri kita, ingat jangan sembarangan mengeluarkan tingkatan kultivasi kita, benua kecil ini sangat rentan terhadap kekuatan kultivasi yang kita miliki”, kata Kui Mo memperingatkan rekan- rekannya, mereka semua sudah mencapai tingkat Manusia Dewa, dan Kui Mo sudah pada tingkat Manusia Dewa ke-9 Awal, sementara rekan-rekannya rata-rata pada tingkat Manusia Dewa ke-7 dan Ke-8 Puncak.
Barisan ini dengan mudah membumi-hanguskan Benua Chong Yang dengan jentikan jari, kekuatan maha hebat ini jika diketahui oleh warga Benua Chong Yang, maka akan menimbulkan kengerian dan teror pada seluruh bentuk kehidupan Benua.
”Saudara tua Kui Mo, apa yang akan kita lakukan terhadap wanita bermarga Thian itu, kalau kita tidak dapat mengerahkan tingkat kultivasi kita?”, kata salah satu anggota kelompok.
”Yang harus kita lakukan adalah menemukannya dulu, setiap orang yang berhasil menemukan wanita itu jangan bertindak dulu, kita akan meringkus dirinya bersama-sama, dengan jumlah kekuatan yang kita miliki kupikir akan mudah melakukannya”, kata Kui Mo pada rekan-rekannya.
Apa yang mereka rencanakan tidak terlepas dari perhatian seorang lelaki tampan berusia 30 tahunan, walaupun ruangan dimana mereka bicara telah dipasang oleh beberapa formasi khusus peredam suara, namun tingkat kultivasi pengamat yang mengamati gerakan mereka sangat jauh diatas mereka.
Ada segaris senyum sinis dibibir pria itu, tampak bahwa senyum ini mirip dengan senyum Han Long ketika dia bersama dengan ibunya.
Dia adalah Han Chen Yang, tokoh muda Benua Thian Agung, yang mendapatkan keberuntungan di daerah yang seharusnya membuat dia mati yaitu Lembah Tengkorak, namun dia justru mendapatkan peluang yang membuat dirinya meningkat dengan kultivasi yang mencengangkan, Han Chen Yang sekarang pada tingkat kultivasi Raja Dewa ke-7 Lanjutan.
Niat sebelumnya, Han Chen Yang akan menghabisi para pembantu Thian Lok, namun rencana itu berubah karena dia ingin menemukan anak dan istrinya dengan mengikuti pergerakan mereka, dan dia membiarkan penyelidikan itu berlangsung, setelah Thian Sian Li ditemukan maka dia akan segera melenyapkan barisan pendukung Thian Lok.
Kasak-kusuk rombongan 9 orang berlangsung beberapa waktu di ruangan tersebut, dan Han Chen Yang cukup mengamati setiap detail rencana yang akan mereka buat, dan semua itu mengarahkan dirinya pada kegiatan yang saat ini akan berlangsung di Ibukota Kerajaan Chong Yang.