Istana kerajaan Chong Yang di malam itu terang benderang, banyak lampu yang dipasang dan dinyalakan di setiap sudut sehingga kondisi istana yang megah di siang hari, malam ini sangat indah.
Para tamu datang bergiliran, dan setiap tamu melaporkan kedatangannya, lalu salah satu perwira menengah kerajaan akan berteriak menyebutkan tamu yang datang, satu persatu berjalan beriringan memasuki sebuah gedung megah nan luas dengan atap berbentuk kubah, dimana atap ruangan itu menjulang sangat tinggi, beberapa pelayan wanita muda yang sengaja dipilih memiliki penampilan menarik berseliweran mengantarkan berbagai hidangan.
”Tetua Phang Cui Lin dan Muridnya nona Han Eng…!!!”
Teriak seseorang, dan Pangeran Duan Leng yang sedari tadi memang menunggu, menegakkan badannya, dia berjalan ke arah pintu masuk, wajahnya yang tampan langsung cerah saat seorang wanita 30 tahunan yang tinggi masuk ruangan dimana ada dua orang muda-mudi yang mengiringinya.
Langkah kaki Phang Cui Lin seirama dengan goyangan otot pinggulnya yang membulat padat, dadanya membusung penuh, yang disangga oleh lingkar pinggang yang ramping, semua keindahan itu dibalut oleh Gaun panjang yang menyentuh lantai dengan belahan dari ujung kaki sampai paha sehingga ketika dia melangkah memperlihatkan kaki panjang yang putih mulus sampai pangkal paha, dengan potongan dada yang sangat rendah sehingga menampakkan bulatan daging putih di dadanya seperti mau melompat, ini adalah gaya gaun yang sering dipakai oleh rata-rata wanita ras iblis.
Tampilan mewah dan terbuka Phang Cui Lin tidak diimbangi oleh pasangan muda di belakangnya, Han Eng tampil sederhana walau gaun putihnya tetap gaun terbaik yang dipadukan dengan ikat pinggang hijau muda dimana dibalik ikat pinggangnya ada sebuah pedang tipis yang tersembunyi, rambutnya disanggul sederhana dengan ikatan praktis dimana ada tusuk konde yang terbuat dari batu giok yang diukir sederhana, namun kecantikan Han Eng tidak kalah dengan penampilan Phang Cui Lin.
Dan Han Long, mengenakan pakaian sederhana namun bersih, pakaiannya berwarna putih dengan tepi baju berwarna biru, kepalanya menggunakan semacam tali kulit dan rambutnya disanggul terikat ke atas, ada sebagian rambutnya di bagian pelipis dibiarkan tergerai dan itu menambah ketampanan seorang pemuda remaja dengan postur tubuh tinggi dan kokoh, namun ketampanan itu tersapu oleh cengengesan di mulutnya. Sehingga terlihat bodoh.
”Tetua Phang, kehormatan bagiku dapat menyambut Tetua yang terhormat, biarkan aku memandumu ke tempat khusus yang sudah disediakan sehingga ayahanda dapat menjamu Tetua dengan anggur terbaik”, kata Pangeran Duan Leng.
”Terima kasih atas penyambutan pangeran”, kata Han Eng mewakili Phang Cui Lin.
”Saudari Eng aku akan menemanimu”, kata sebuah suara yang lembut dan anggun keluar dari mulut seorang gadis cantik yang muncul dari kerumunan para tamu, Putri Duan In Mey.
Pakaian yang dikenakan putri Duan In Mey ternyata sama praktisnya dengan yang dikenakan oleh Han Eng, dan dua gadis cantik ini saling menyapa dimana akhirnya putri Duan In Mey mengawal bersama Pangeran Duan Leng mengantar rombongan Phang Cui Lin menuju sebuah sudut ruangan dimana ada sebuah meja lengkap dengan berbagai hidangan dan minuman yang sudah tersedia.
Jamuan istana ini belum dimulai karena Raja Duan Li Ong belum tiba, dan ini sesuai dengan protokol kerajaan dimana tamu undangan akan datang duluan dibandingkan tuan rumah yang mengadakan jamuan, ini hanya upacara jamuan semata.
”Ha ha ha…, Tetua Phang aku mengagumi kecantikanmu dibandingkan dengan kekuatanmu, biarkan aku si tua Tie Tek Wan merasakan keahlianmu setelah jamuan ini”, kata sebuah suara tua.
Dan ada orang tua yang berjalan menghampiri meja Phang Cui Lin, orang itu sekitar 60 tahunan dengan rambut dan janggut berwarna putih perak namun wajahnya masih merah segar, dia adalah Tie Tek Wan seorang pengurus tingkat tinggi Sekte Puncak Merah.
Tie Tek Wan didampingi sekitar delapan orang, dan diantara kelompok ini ada 3 orang yang memakai seragam perwira tentara pasukan Kerajaan Ming Lan.
Rombongan 8 orang ini memiliki wajah muram, bahkan diantaranya seperti menahan geram,
”Tua Bangka, tidak perlu menunggu acara jamuan ini usai, sekarang juga akan kulayani kemauanmu”, kata Phang Cui Lin angkuh, dia tidak merasa takut, dengan tingkat kultivasi dan teknik beladiri yang dimilikinya, telah berkembang sangat pesat setelah dia menerima hadiah dari Thian Sian Li.
Phang Cui Lin tahu bahwa tingkat kultivasi Tie Tek Wan sudah mencapai Insan Raja ke-8 Awal seperti kakaknya Phang Kok, yang tidak diketahui Tie Tek Wan, Phang Cui Lin pun demikian bahkan Teknik Beladiri yang dikuasainya sekarang adalah Kategori Dewa kelas Pokok yang sangat jauh berbeda dengan yang dikuasai oleh Tie Tek Wan, paling tinggi adalah Kategori Surga kelas Sempurna, inilah sumber kepercayaan diri Phang Cui Lin.
”Apakah begitu?, kau berani menghadapiku tanpa kehadiran kakakmu?”, tanya Tie Tek Wan.
”Sekalipun kakakku ada, aku sendiri masih sanggup mengalahkanmu”, balas Phang Cui Lin yang disambut senyum sinis rombongan Tie Tek Wan.
Keadaan Jamuan istana ini menjadi tegang, para tamu tahu bahwa para tokoh tertinggi sekte-sekte besar sedang berkonfrontasi akibat peristiwa di rumah makan Laut Timur.
”Raja bersama Rombongan telah tiba …!!!” sebuah suara keras sedikit mencairkan suasana.
Dan serombongan orang-orang berpakaian mewah memasuki ruangan jamuan, beberapa pria setengah baya di barisan depan dan para pemuda dan pemudi serta para remaja laki-laki dan perempuan berjalan di belakang barisan ini, mereka semua adalah keluarga bangsawan kerajaan Chong Yang bersama para menteri dan penasehat raja.
Semua orang dalam jamuan itu bangkit berdiri menyambut penguasa kerajaan dan jajarannya sebagai penghormatan pada tuan rumah.
Beberapa saat kemudian, Raja Duan Li Ong dan jajarannya telah tiba di meja nya masing-masing, Raja pun mempersilahkan semua tamu duduk kembali.
Dan rombongan Tie Tek Wan kembali kemeja mereka untuk menghormati tuan rumah.
Ting…ting… ting…!
Suara denting logam beradu pada sebuah gelas kristal berbunyi nyaring mengatasi suara para tamu
”Para tamu yang terhormat, ijinkan saya sebagai Raja Kerajaan Chong Yang menyampaikan sesuatu atas diadakannya jamuan ini”, kata Raja Duan Li Ong.
Maka semua tamu menoleh, dan memperhatikan wajah Raja, dan raja pun melanjutkan perkataannya,
”Baiklah, kami menggunakan kesempatan ini semata-mata untuk menjalin hubungan dengan semua sekte yang berada di Benua tercinta kita Benua Chong Yang, dimana kami menjadi tuan rumah atas kompetisi Lima Sekte dan 4 kerajaan, dan hal ini kami keluarga kerajaan Chong Yang berniat menjodohkan putri kami pada seseorang yang berbakat dalam kultivasi, kiranya harapan kami dapat terwujud”, kata Raja Duan Li Ong.
Suara raja ini pun mengundang reaksi beragam, khususnya para pemuda, mereka berharap raja menyebutkan putri mana yang akan dijodohkan,
”Putriku In Mey kemarilah”, kata Raja Duan, semua mata menoleh melihat Duan In Mey, sementara Puteri Duan In Mey tidak menyangka kalau ayahnya akan menyebut namanya, dan pemanggilan nama Duan In Mey membuat kening dua pemuda mengkerut, mereka adalah Pangeran Duan Leng dan Pangeran Mahkota Ming Tek Kong, keduanya telah sepakat bahwa Duan In Mey akan berjodoh dengan Pangeran Mahkota Ming Tek Kong dari Kerajaan Ming Lan.
Puteri Duan In Mey pun tidak tahu niat kakaknya, yang menjodohkan dirinya dengan Pangeran Mahkota Ming Tek Kong, dan putri Duan In Mey belum pernah memikirkan tentang perjodohan dengan siapapun karena dia seperti gadis lain yang mengutamakan kultivasi dari pada kehidupan perjodohan yang menyangkut politik negaranya.
”Ayahanda, adik Mey masih terlalu muda apakah sudah pantas dia menikah?”, kata seorang pemuda yang berpakaian lebih sederhana dibandingkan Pangeran Duan Leng.
Dia adalah Pangeran ke-5, seorang Pangeran yang menjadi saingan Pangeran Duan Leng, karena mereka berdua adalah murid inti di Sekolah Beladiri Samudera Naga, dia sudah memperhatikan kedatangan tetua Phang Cui Lin dan Han Eng, dimana Han Eng adalah juara di kompetisi murid Imajinasi Roh.
Kepribadian Pangeran Duan Wu Hong sangat terbuka dan jujur, dia sebenarnya malas memperebutkan posisi Pangeran Mahkota, semua ini ditimbulkan oleh keinginan para menteri yang suka membuat intrik politik supaya tidak muncul calon tunggal dalam memperebutkan posisi Pangeran Mahkota.
”Jangan membantah perintah Raja” kata Raja Duan Li Ong dengan wajah masam ke Pangeran Duan Wu Hong.
”Aku memanggilnya bukan berarti aku akan menjodohkan dia dengan seseorang, aku ingin dia memanggil putri Duan Ling kakaknya yang sekarang tengah menyiapkan diri”, kata Raja Duan Li Ong melanjutkan.
Ada desah lega yang keluar dari mulut Putri Duan In Mey,
”Baik ayahanda raja”, dengan langkah anggun Duan In Mey berjalan keluar gedung, tidak berapa lama kemudian.
”Putri Duan Ling tiba !!!”, seruan yang menandakan bahwa seorang putri memasuki ruangan jamuan.
Rombongan yang masuk semuanya gadis-gadis muda yang cantik dan terakhir dari rombongan adalah dua orang putri yang sangat cantik, yang berbeda adalah pakaian yang dikenakan keduanya sangat berbeda, dimana gaun Putri Duan Ling sangat mewah dengan mahkota kecil di atas sanggul tinggi di rambutnya.
Perbedaan kontras ini sangat menonjolkan kecantikan Putri Duan Ling, dan Putri ini melemparkan senyum menawan ke semua orang, Duan Ling berumur 18 tahun, sesuai tradisi kerajaan sudah saatnya seorang putri memilih pasangannya pada usia seperti itu.
”Ayahanda Raja, terimalah hormat dari putrimu”, kata Putri Duan Ling.
”Putriku berniat mencari pasangannya pada kesempatan saat ini, jika ada seorang pemuda berniat melamarnya, dia hanya meminta satu hal saja, yaitu mengalahkannya”, kata Raja Duan Li Ong.
Berita itu langsung meledak,
Bummm….!!!
Seorang putri raja yang anggun mencari jodoh dengan cara yang unik, yaitu mengalahkannya…!!!
”Ada tiga hal kepandaian yang dimiliki oleh putri Duan Ling, yaitu Kultivasi, Wawasan kenegaraan, dan kesusastraan.
Jika ada yang mengungguli dia dalam dua bidang maka pemuda itu dapat dipertimbangkan sebagai pasangannya”, ucap Raja Duan Li Ong kembali.
Bagi kecerdasan Han Long, maksud Raja Duan Li Ong sejelas mata melihat, sang raja mencari sekutu yang kuat demi mengamankan kedudukan diri dan negaranya sebagai sebuah kerajaan, kandidat yang dicari jelas memiliki latar belakang yang kuat bukan hanya kekuatan kultivasi seorang pemuda, karena wawasan kenegaraan hanya dilahirkan oleh sekte-sekte besar dan keturunan bangsawan kerajaan besar karena ada pelajaran di dua tempat itu, demikian juga kalau berbicara tentang kesusastraan hanya kerajaan besar atau sekte-sekte besar yang memilikinya, karena Sekte-sekte di benua Chong Yang memiliki catatan-catatan kuno sebagai warisannya.
”Ayahanda bagaimana ini menjadi adil bagi adik Duan Ling, apakah dia harus melayani seorang calon satu persatu, dia akan kelelahan, jika calon lebih dari satu orang”, yang memprotes adalah pangeran Duan Wu Hong.
”Aku yang bodoh mengajukan usul untuk diterima oleh semuanya, jika ada lebih dari satu calon maka mereka harus melakukan perdebatan diantara mereka, demikian juga tentang wawasan dan sastra, dua bidang ini akan didahulukan karena aku telah menyiapkan beberapa ujian dimana calon peserta memilih undian pertanyaan yang telah kupersiapkan”, kata Putri Duan Ling kepada para tamu.
Semua orang akhirnya mengerti ternyata Putri Duan Ling telah menyiapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya, maka muncullah puluhan pemuda yang berniat menjalani ujian dari sang putri Duan Ling.
Han Eng melirik pada Han Long,” apa kakak tidak tergerak untuk maju?”, tanya Han Eng waspada.
Han Long menggelengkan kepalanya, ”aku hanya seorang pelayanmu, ingat pelayan nona Han Eng, yang tidak mungkin di pandang oleh seorang putri raja”, jawab Han Long.
”Kalau aku mengijinkan kakak untuk ikut, apakah kakak akan maju?”, kata Han Eng.
”Aku tetap tidak akan maju, karena aku tidak akan menetap di benua ini, dan pula banyak orang tersinggung dan marah jika seorang pelayan mengajukan dirinya”, kata Han Long kembali.
Percakapan ini hanya terjadi melalui sanubari keduanya karena Han Eng setelah di tingkat Imajinasi Roh dirinya telah mengembangkan komunikasi jiwa dengan Han Long, namun karena tingkat Han Eng masih rendah di hadapan Phang Cui Lin, getarannya masih dapat dirasa oleh Phang Cui Lin, namun komunikasi Han Long tidak dapat dirasakannya jadi Phang Cui Lin menebak-nebak dengan siapa Han Eng berbicara.
Phang Cui Lin curiga bahwa Tetua Sian Li ada disekitar mereka, karena dia merasakan komunikasi Han Eng, jadi tebakannya, Han Eng sedang berbicara dengan Tetua Sian Li.
Ada sebanyak 40 pemuda yang maju, termasuk pangeran Mahkota Ming Tek Kong, setelah mereka diatur dalam setiap kelompok maka munculah beberapa orang berpakaian seperti seorang pelayan pria membawa sebuah nampan dengan tumpukan gulungan kulit kayu di atasnya, dan gulungan ini ternyata memuat beberapa pertanyaan yang berbeda-beda pada setiap gulungan ketika di buka.
Dengan persepsi jiwa seorang kultivator tingkat Insan Raja, mereka dapat membaca setiap pertanyaan pada gulungan tersebut, termasuk Han Long, pangeran Duan Wu Hong, Pangeran Duan Leng dan lainnya.
”Ujian ini adalah tentang wawasan anda para putra terhormat dalam menilai beberapa kondisi negara atau sekte dalam membuat sistem pemerintahan dengan kondisi masalah yang berbeda-beda”, kata Perdana Menteri Kim, Kerajaan Chong Yang.
Ternyata pertanyaan yang mereka terima mengenai wawasan kenegaraan, dan terlihat putra mahkota Ming Tek Kong dari kerajaan Ming Lan dengan cepat mengisi semua pertanyaan, disusul kemudian oleh beberapa murid sekte besar dan tidak beberapa lama kemudian semua jawaban itu dikumpulkan oleh seorang pelayan pria putri Duan Ling dan diserahkan kepada Perdana Menteri dan menteri lainnya untuk dilakukan penilaian
Kemudian muncul beberapa pelayan wanita membawa sebuah gulungan besar berukuran kira-kira tiga rentang tangan orang dewasa panjang dan lebarnya, ternyata ada sebuah lukisan terpampang di depan mereka dan para tamu lainnya, dimana terlukis disana sebuah pagoda bertingkat dengan latar belakang sebuah hutan dan beberapa hewan buas di sekeliling bangunan pagoda tersebut, dengan beberapa simbol dan huruf huruf kuno yang tidak teratur seperti sengaja disimpan secara acak.
”Ini adalah sebuah lukisan yang dihasilkan oleh seorang kultivator tingkat tinggi yang pernah hidup pada ribuan tahun lalu, namun ada beberapa catatan bahwa lukisan ini bukan sembarang lukisan tetapi mengandung sebuah Teknik Beladiri dan kultivasi Tingkat Dewa, tugas anda adalah menemukan teknik itu dan nama teknik tersebut”, kata Perdana Menteri Kim kembali.
Semua orang terkejut, bahwa ada teknik yang ditinggalkan oleh seorang tokoh sakti dalam bentuk lukisan.
Mengapa harta berharga ini dikeluarkan oleh pihak kerajaan Chong Yang?, mengapa tidak mereka pelajari sendiri, minimal oleh Raja dan keluarganya untuk mengangkat dan meningkatkan tingkat kultivasi?.
”Ingat !, dibalik anugerah selalu ada bahaya mengintai, dan masalah itu adalah rusaknya tingkat kultivasi seseorang, bagi mereka yang bertekad dapat ambil bagian, mereka yang ragu-ragu sebaiknya menyerah”, kata Raja Duan Li Ong.
Dugaan semua orang terjawab, lukisan ini sudah berusia ribuan tahun namun tidak ada seorangpun yang mampu menemukan teknik yang dimaksud bahkan beberapa leluhur kerajaan Chong Yang terdahulu gagal menemukannya.
Bahkan banyak dari mereka terganggu jiwanya malah tingkat kultivasinya rusak hingga bukan menambah tingkatannya malah melorot turun.
Semua peserta dan para tamu yang tadinya antusias dan semangat, menjadi waspada, mereka tidak secara langsung menatap lukisan itu, ada juga yang mengatur pernapasannya terlebih dahulu dan mempersiapkan segalanya untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Han Long dan Han Eng dapat melihat lukisan itu, namun tidak lama kemudian Han Eng membuang mukanya karena kepalanya menjadi pening, demikian juga Phang Cui Lin yang ada di sebelahnya yang memiliki tingkat kutivasi lebih tinggi seharusnya lebih tahan menatap lukisan tersebut, namun beberapa saat kemudian Phang Cui Lin pun tidak dapat bertahan, Han Long dapat melihat lukisan acak itu tapi secara diam-diam dia mengerahkan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, maka dihadapan matanya dapat terlihat serangkaian kalimat yang menjelaskan cara melihat lukisan itu dengan cara memusatkan sebuah titik fokus yang terletak di tengah-tengah gambar bangunan Pagoda bertingkat lalu mengatur nafas dan menyesuaikan alur tarikan nafas itu untuk dialirkan ke dantiannya, maka Han Long dapat melihat secara jelas huruf demi huruf pada lukisan tersebut bahkan makna simbol-simbol yang tertera pada setiap benda yang dimana simbol itu digambar berdampingan dengan semua benda-benda yang tergambar dalam lukisan tersebut.
Diantara peserta calon jodoh Putri Duan Ling, beberapa diantaranya sudah menyerah bahkan ada diantara mereka yang memaksakan dirinya namun bukan lebih baik malah mereka terluka dengan darah yang keluar dari setiap lubang pada tubuhnya.
Banyak tokoh-tokoh tua para petinggi Sekte Benua Chong Yang tertarik untuk menjajal wawasan dan persepsi jiwa mereka namun hanya beberapa saat kemudian mereka menundukkan kepalanya, tidak tahan melihat lukisan acak seperti itu.
Keluarga kerajaan Chong Yang dan para pejabatnya tidak mau melihat lukisan itu, rupanya mereka sudah pernah mengalami kerugian dengan berusaha menatap lukisan tersebut bahkan sampai menderita luka dalam, saat ini mereka hanya memperhatikan para peserta dan para tamu yang tertarik melihat lukisan tersebut, mereka ingin tahu siapa yang bertahan sangat lama atau mendapatkan manfaat terbesar dengan menemukan sebuah teknik yang nantinya akan merekasimpan, disinilah kecerdikan Raja Duan Li Ong dengan memperlihatkan lukisan warisan kerajaan Chong Yang dan mengikat seseorang dengan pernikahan Putri Duan Ling.
Sebuah mata indah milik Putri Duan In Mey, menatap tanpa berkedip terhadap sosok tubuh pemuda, dan pemuda itu adalah Han Long, dengan persepsi jiwanya Han Long langsung merekam semua gambar dalam lukisan itu dengan cepat dan teliti, tidak membutuhkan waktu lama seluruh gambar itu melekat pada otaknya, Han Long tidak bersuara apapun ketika dia menemukan arti sesungguhnya dari Teknik yang dimaksud saat itu, dia akan menyimpannya dan kemudian dia akan meminta saran ibunya, seperti biasa ibunya adalah guru terbaik yang dia miliki.
Apa yang dilakukan oleh Han Long tidak ada yang menyadarinya kecuali Puteri Duan In Mey, dia memperhatikan bahwa Han Long adalah sosok yang berbeda sekalipun dia hanya seorang pelayan tapi pengakuan itu muncul dari mulut Han Eng yang kenyataannya Han Eng terlihat menghormati Han Long yang statusnya adalah pelayan ini terasa aneh bagi Putri Duan In Mey yang memiliki wawasan luas karena tumbuh di dalam istana.
Pangeran Mahkota Ming Tek Kong berusaha bertahan,selain karena dia melihat kecantikan putri Duan Ling dia juga memiliki keinginan untuk mengetahui teknik di balik lukisan ini, sedari awal dia mengerahkan teknik kultivasinya dan kekuatan jiwa yang dimilikinya namun semua itu sia-sia, sebagai upaya terakhir
Hiyaaaa!!!!
Pangeran Ming Tek Kong mengerahkan seluruh tenaganya,
“Awaaaaassss, hati-hati…..!!!!”
Tetua Tie Tek Wan salah satu Tetua Sekte Puncak Merah, yang menantang Phang Cui Lin, menghampiri Pangeran Mahkota Ming Tek Kong dan meletakkan tangannya ke punggung Pangeran Mahkota sebagai upaya menahan kerusakan jiwa dari Pangeran Ming Tek Kong agar tidak terlalu parah.
Atas pertolongan salah satu tetua Sekte Puncak Merah, jiwa Pangeran Mahkota tidak menderita kerusakan fatal, jika pertolongan itu tidak disadari oleh seorang tokoh sakti sekelas tetua Tie Tek Wan, dapat dipastikan Pangeran Mahkota akan menderita luka dalam yang amat parah, minimal jiwanya terganggu.
“Terima kasih tetua atas pertolonganmu, budi ini akan selalu kuingat bagi kerajaan Ming Lan” ujar salah satu perwira tinggi yang mendampingi Pangeran Mahkota Ming Tek Kong kepada Tie Tek Wan sambil membungkuk hormat.
Peristiwa ini menjadi perhatian semua orang termasuk para tokoh-tokoh besar lainnya, kerusakan dalam mengamati sebuah lukisan acak ini ternyata sangat dahsyat dan menimbulkan dampak yang cukup parah, terbukti seorang Pangeran Mahkota yang sudah mencapai tingkat kultivasi Insan Raja ke-2 Puncak harus menderita, itupun kalau tidak ditolong oleh seorang ahli akan lebih parah lagi.
Han Long diam-diam memperhatikan juga, namun dia tidak bereaksi, adapun Han Eng sedikit melirik ke arahnya dan melihat bahwa Han Long tidak melihat dirinya tapi mata Han Long tetap menatap lukisan itu dengan tenang tanpa ada getaran ener gi di sekitar tubuhnya ini membuktikan bahwa Han Long tidak terpengaruh oleh dampak karena memperhatikan lukisan ack itu dan semua hal yang dilakukan oleh Han Long sedari awal sudah diamati sepasang mata cantik lainnya yaitu Putri Duan In Mey, yang dengan perlahan melangkah mendekati meja rombongan Han Eng dengan diam-diam.
“Saudari Eng, kelihatannya pelayanmu mendapatkan sesuatu dari pengamatan lukisan itu, bagaimana pendapatmu?”, kata Putri Duan In Mey.
“Bagaimana mungkin dia dapat menerima anugerah yang besar ini? pelayanku hanya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun apalagi dia manusia yang tidak berkultivasi” Kata Han Eng.
“Apa….!!!!, pelayanmu hanya manusia biasa tanpa kultivasi”, kata putri Duan In Mey terkejut, untuk suaranya cukup pelan namun masih dapat didengar oleh sekitarnya yang terdekat dari meja mereka termasuk meja yang ditempati oleh rombongan Sekte Puncak Merah dan Para Tokoh dari kerajaan Ming lan.
Mendengar percakapan itu para tamu yang lain langsung memiliki beberapa ide, dan diantaranya lalu melihat lukisan itu tanpa energi kultivasi dan hanya mengandalkan pengamatan biasa saja, akibatnya
Uhughh….., Uhughh… . Uhuhgh…. uhughh… !!!!
Banyak tokoh langsung menutup mata masing-masing secepatnya dan segera duduk bersila mengatur nafas, tidak sedikit yang terluka, dalam pandangan mereka, mereka langsung terjebak seperti memasuki sebuah lorong dengan dinding penuh warna-warni yang berputar-putar kacau seperti memasuki lubang tanpa batas yang sangat misterius dengan ujung yang tidak dapat diketahui.
Ratusan tamu yang menjalankan penglihatan terhadap lukisan itu tanpa mengerahkan energi kultivasi, akibatnya mereka malah terluka, beberapa tokoh super dari sekte pun menerima dampaknya dan semua itu diakibatkan karena mereka mengambil ide untuk mengikuti cara Han Long melihat lukisan tersebut.
Para tokoh dan orang-orang yang menderita itu merasa jengkel dan tertipu oleh pernyataan Putri Duan In Mey,
“Tuan Putri Duan In Mey, jagalah mulutmu, jangan asal bicara”, Kata seorang tetua dari sekte Angin Guntur sekutu Sekte Puncak Merah, Tetua Gak Han Ki.
“Apa maksud Tetua Gak?”, yang bertanya justru Pangeran kelima Pengera Duan Wu Hong
“Lihat akibat yang ditimbulkan adikmu, pangeran!!”, kata Gak han Ki
“Mereka melakukan apa yang mereka suka dan menerima apa yang menjadi akibatnya, apa hubungannya dengan adik perempuanku?”, kata Pangeran Duan Wu Hong sedikit mencela terhadap pandangan Gak Han Ki.
“Saudara Gak, apa yang dikatakan Pangeran Duan Wu Hong adalah benar apa hubungan dengan putri Duan In Mey, dia hanya bercakap-cakap dengan muridku sedari tadi dan lalu dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun lagi, apakah seorang tokoh besar dari Sekte sekelas Sekte ternama di Benua Chong Yang memiliki pandang sepicik ini”, Kata Phang Cui Lin dengan nada tajam.
Tetua Gak Han Ki tidak menjawab dan berucap lagi hanya tatapan matanya menatap dengan tajam terhadap Pangeran Duan Wu Hong, dia akhirnya merasa malu kalau harus berdebat kata-kata dengan seorang junior, apalagi kerajaan Chong Yang dibawah perlindungan Sekte terkuat di Benua ini.
Han Long menutup matanya dan mulai meresapi apa yang dia peroleh melalui lukisan itu, sekarang ada seorang yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Han Long, orang itu adalah Tie Tek Wan, keningnya berkerut dan tatapan matanya menyala dengan tajam, mulutnya menyeringai dengan buas dia lalu mengarahkan pandangannya kepada rekan-rekan di dalam rombongannya, sepertinya dia berkomunikasi dengan yang lainnya melalui kontak jiwa atau telepati.
“Adik Eng, pusatkan tenaga kultivasimu di dantianmu lalu alirkan pada pembuluh darah yang mengalir ke bagian saraf belakang kepala, lalu kau buka matamu untuk langsung melihat ke arah lukisan di bagian tengah pagoda, jika kau dapat menemukan sesuatu, berarti teknik itu berjodoh denganmu”, kata Han Long melalui hubungan telepati ke Han Eng.
Han Eng terkejut mendengar suara Han Long di sanubarinya diapun dengan cepat mengatur nafasnya dan memejamkan matanya, lalu mata itu terbuka dan langsung mengarah ke lukisan pagoda bertingkat pada titik tengah pagoda tersebut, seketika terjadi perubahan yang dilihatnya dan tercetak beberapa huruf yang membentuk sebuah kata dan kata-kata itu membentuk pula beberapa kalimat yang menjelaskan arti lukisan yang sesungguhnya.
Han Long sengaja memberikan petunjuk pada Han Eng, karena kemampuan daya tangkap Han Eng termasuk gadis jenius dalam teknik kultivasi maupun teknik beladiri, dan itu adalah hadiah Han Long sebagai perpisahannya dengan sahabatnya ini.
Apa yang terjadi dalam komunikasi antara keduanya tidak diketahui oleh yang lainnya, semuanya terjadi dalam keheningan karena beberapa orang terlibat dalam kesibukannya masing-masing, termasuk dua orang yang berada di meja rombongan Han Long dan Han Eng yaitu, Putri Duan In Mey dan Phang Cui Lin.
Ada seringai buas di antara para tamu yaitu kelompok 8 orang yang diketuai oleh Tie Tek Wan dan Gak Han Ki, mereka terlihat diam namun suara jiwa mereka berkomunikasi dengan lancar untuk merencanakan menangkap Han Long yang mereka duga telah memperoleh sesuatu dari lukisan tersebut, yang mereka tidak tahu Han Eng pun menerima warisan yang sama atas petunjuk Han Long dan sekarang Han Eng sedang meresapi setiap kata demi kata yang tersusun menjelaskan Teknik Tingkat Dewa Sempurna yang terkandung pada lukisan tersebut bahkan didalamnya terdapat teknik kultivasi untuk penguasaan yang sempurna dalam menguasai teknik beladiri tersebut.