Tanpa terasa gelapnya malam mulai menyingkir dari dunia ini dan digantikan oleh kemunculan sinar terang matahari, di dalam istana jamuan Kerajaan Chong Yang, semua peserta akhirnya menyerah untuk menemukan sebuah maksud dalam lukisan acak tersebut,
“Baiklah para peserta yang mengikuti ujian ini boleh berdiri untuk mengatakan apa yang mereka peroleh”, kata perdana Menteri Kim.
Satu persatu dari para peserta mengungkapkan apa yang mereka peroleh dari hasil pengamatan terhadap lukisan itu, namun tidak satupun yang memuaskan hati Putri Duan Ling apalagi bagi Raja Duan Li Ong, padahal masing-masing peserta, ada yang mendiskusikan dengan para tetua yang mendampinginya termasuk Putra Mahkota Ming Tek Kong.
“Semua buah pikiran peserta telah dicatat oleh kami, dan menjadi penilaian kami kemudian untuk memperoleh nilai bagi masing-masing peserta sekarang saatnya bagi peserta untuk unjuk kekuatan dan kultivasinya, pemenang terakhir akan melawan Putri Duan Ling”, kata Perdana Menteri Kim menjelaskan babak selanjutnya,
Para peserta dan para tetua yang mendampingi peserta masing-masing pun lalu bergerak ke sebuah arena yang telah dipersiapkan.
“Untuk mempermudah acara ini, siapapun yang sanggup bertahan sebagai orang terakhir dialah yang berhak menantang Putri Duan Ling”, lanjut Perdana Menteri Kim dengan tersenyum, seperti diketahui para anak Raja Duan Li Ong baik putra dan putrinya memiliki bakat dalam berkultivasi dan bakat kultivasi Putri Duan Ling ternyata hanya dibawah sedikit dari Pangeran Duan Leng dan Pangeran Duan Wu Hong yaitu pada tingkat Insan Raja ke-2 Awal.
Dua peserta langsung dipanggil untuk saling berhadapan, dan mereka pun langsung bergerak tanpa membuang waktu untuk menunjukkan kekuatannya, dari 40 peserta dalam babak ini akhirnya tertinggal 20 peserta, semua itu terus berlanjut hingga tengah hari, dan akhirnya tinggal 5 peserta sampai menjelang sore hari dimana, Putra Mahkota Ming Tek Kong adalah salah satu peserta terkuat dan empat lainnya ternyata berasal dari 4 Sekte terbesar Benua Chong Yang diluar Sekte Samudera Naga, yang diwakili oleh rombongan Phang Cui Lin yang otomatis tidak mengirimkan wakilnya sehubungan pemilihan perjodohan ini, karena yang dibawa oleh Phang Cui Lin hanya Han Eng dan Han Long.
Phang Cui Lin menengok kiri kanannya dan dia terkejut bahwa Han Eng tidak mengikutinya, dia lalu kembali ke posisi meja perjamuan di dalam ruangan istana sebelumnya dan menemukan Han Long berdiri dibelakang Han Eng dengan tatapan lurus ke tubuh Han Eng yang saat itu sedang duduk bersila dalam kultivasi, disebelah Han Long masih ada gadis lainnya yaitu Putri Duan In Mey.
Dengan tatapan heran Phang Cui Lin menghampiri mereka bertiga, sebelum sampai, Han Eng bergerak dan berdiri dengan sedikit butiran keringat di keningnya yang sedikit ditutupi oleh anak rambut yang halus.
“Apa yang kalian lakukan disini, sementara yang lain ada di arena pertandingan?” kata Phang Cui Lin menegur Han Eng dan kawan-kawannya.
“Adik In Mey, apa yang kau lakukan?”, suara Pangeran Duan Leng dibelakang Phang Cui Lin, Pengeran ini tidak melepaskan matanya untuk selalu mengamati gerakan Phang Cui Lin, ada maksud dihatinya untuk lebih mengenal Tetua cantik ini demi mendapatkan sedikit perhatian dari seorang tokoh berpengaruh di Sekte Samudera Naga.
“kakak Pangeran aku menemani sahabat-sahabatku karena mereka tidak ikut perjodohan kakak Putri Duan Ling, mereka lebih suka berada dalam ruangan ini” Jawab Putri Duan In Mey kepada kakak tirinya.
“Han Eng, mengapa kau terlihat seperti kelelahan seperti itu?” Kata Phang Cui Lin Curiga.
“Tetua Phang, aku hanya lelah karena demi menahan kantukku aku sedikit mengerahkan tenaga agar segar kembali”, Jawab Han Eng, yang sebetulnya jawaban ini asal-asalan saja.
Dengan wajah masih heran, Phang Cui Lin menganggukan kepalanya sebagai tanda menerima alasan dari muridnya, dan semua pertanyaan dalam hatinya hanya dapat dipendam, dia menyangka bahwa guru sejati Han Eng telah hadir di ruangan ini dan memberikan petunjuk tentang lukisan tadi yang digulung rapi dan disimpan kembali oleh pihak istana.
Kembalinya Phang Cui Lin ke ruang jamuan istana tidak terlepas dari mata Tie Tek Wan dan kawan-kawannya, tetapi mereka hanya mengawasi dari jarak jauh, sehingga mereka tidak tahu detail kejadian yang sesungguhnya.
Lalu mengapa Putri Duan In Mey masih menemani Han Eng dan Han Long sampai hari menjelang sore kembali ?, ternyata semua itu adalah perbuatan Han Long, karena kebaikannya, Han Long ingin keturunan klan Duan menerima warisan keluarga Kerajaan di dalam lukisan itu, dan Han Long akhirnya menunjukkan kekuatan kultivasinya kepada Putri Duan In Mey dengan memberikan petunjuk yang sama seperti kepada Han Eng, namun putri Duan In Mey tidak langsung mengolah seperti Han Eng dia meminta salinan teknik ini kepada Han Long dan akan melatihnya dilain waktu.
Kecurigaan insting Putri Duan In Mey makin nyata bahwa Han Long yang dikira bodoh ternyata memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi dibandingkan dirinya dan Han Eng, tapi dia tidak tahu, sudah mencapai tingkatan mana Han Long ini.
“Baiklah kita akan bergabung bersama dengan para tamu lainnya yang berkumpul di arena pertandingan, mungkin saat ini sudah ada yang ditentukan sebagai pemenang”, kata Pangeran Duan Leng.
Dan Rombongan itupun akhirnya berpindah tempat ke ruangan arena yang letaknya tidak jauh dari ruang jamuan istana.
Di dalam arena pertandingan ini, ternyata Putra Mahkota Ming tidak dapat melanjutkan pertandingan itu, karena dia harus mengakui kekuatan lawan dari utusan Sekte Angin Guntur bernama Gan Liok yang berusia 28 Tahun dengan tingkat kultivasi pada Insan Raja ke-2 Puncak, sedangkan Putra Mahkota Ming hanya pada tingkat Insan Raja ke-2 Awal, dan pada dasarnya Putra Mahkota Ming tidak begitu ambisi untuk memenangkan perjodohan ini, hatinya sudah terpikat oleh kesederhanaan putri Duan In Mey.
Yang tersisa dari lima peserta sebelumnya tersisa dua orang dari hasil pertandingan yang dilakukan secara simultan di antara mereka, dan dua orang yang tersisa adalah Gan Liok dan seorang utusan dari Sekte Lembah Api bernama Kun Tiong, yang memiliki tingkat kultivasi Insan Raja ke-2 Puncak, dimana sebenarnya Sekte ini tidak terfokus pada kekuatan kultivasi tetapi mendalami penciptaan pada karya artefak dan berbagai macam formasi tapi sekarang salah satu utusan sekte ini berhasil sebagai salah satu peserta yang tersisa dan menantang salah satu peserta yang mengutamakan kekuatan kultivasi.
”Saudara Kun Tiong, akhirnya kita bertemu di arena, aku tidak menyangka bahwa engkau lama menyembunyikan kekuatanmu selama ini, aku sangat menghormati keahlianmu tentang artefak dan sekarang kau menunjukkan keahlian yang lain” kata Gan Liok.
”Maaf saudara Gak, aku hanya memanfaatkan kesempatan agar hidupku berubah dan bagiku aku harus mendapatkan sang putri karena aku sangat menyukainya”, kata Kun Tiong.
”Hmm, baiklah aku tidak akan setengah hati lagi, tunjukkan gerakanmu, aku akan melayanimu”, kata Gan Liok.
Hiyaaaa……, Hushhh…!!!!
Hmm …. Diggg… duggh. … Huhh…!!!!
Pertarungan keduanya pun berlangsung dengan sengit, mereka menampilkan seluruh kekuatan dan keahlian beladiri terkuat mereka karena disaksikan oleh semua orang berpengaruh di benua Chong yang apalagi ada seorang wanita cantik yang turut serta melihat kejadian ini, jika kekuatan mereka dapat memikat hati putri Duan Ling, minimal keduanya mendapat penghargaan dari kerajaan Chong Yang ini dan menjadi tokoh berpengaruh dengan kekayaan yang melimpah.
Pertarungan keduanya cukup menarik karena kekuatan keduanya cukup berimbang, saling serang dan menghindar adalah biasa, yang menarik adalah setiap benturan di antara mereka menimbulkan percikan energi yang menggetarkan ruangan arena, gerakan Gan Liok sangat kokoh dan dan penuh kekuatan, menimbulkan angin yang menderu, sebagai ciri dari teknik beladiri sektenya, sementara gerakan Kun Tiong lincah dan gesit, Kun Tiong lebih banyak menghindari benturan langsung dari energi kekuatan Gan Liok, karena walau bagaimana Kun Tiong lebih mengkhususkan dirinya pada kekuatan pembuatan artefak sehingga dalam hal ini Kun Tiong lebih unggul dalam kekuatan jiwa sebagai pembuat artefak.
Sebaliknya Gan Liok berkultivasi untuk memupuk kekuatan tubuh dan kedagingannya, sehingga dia lebih kuat dalam kekuatan otot dan tulangnya.
Putri Duan Ling sangat memperhatikan dua pemuda ini, dari segi penampilan keduanya cukup menarik dan kekuatan kedua pemuda ini dalam hal kultivasi berada di atasnya, namun dalam hal teknik beladiri, putri Duan Ling masih yakin akan kemampuannya karena dia melatih teknik warisan keluarga kerajaan yang rata-rata teknik yang dimiliki keluarga kerajaan itu berada pada kategori Surga, minimal kelas Pokok sampai kelas Sempurna.
Keluarga Kerajaan yang mengelilingi arena pun turut menilai penampilan keduanya, dan Raja Duan Li Ong sedang mempertimbangkan kedua pemuda yang sedang bertarung untuk memperebutkan hati putrinya itu.
Siapapun pemenang dari pertarungan tersebut otomatis akan menjadi sekutu keluarga kerajaan, dengan memiliki hubungan keluarga dengan salah satu sekte terbesar di Benua Chong Yang, maka akan menambah kekuatan hegemoni klan keluarga Duan.
Tadinya dia berharap akan ada peserta dari Sekte Samudera Naga. karena sekte ini adalah sekte terkuat di Benua Chong Yang, terbukti dua putranya lebih memilih bergabung dengan sekte Samudera Naga dan menjadi murid Inti di Sekte tersebut, namun perwakilan undangan dari sekte terkuat di Benua Chong Yang ini hanya anak perempuan dan pelayannya.
Raja Duan Li Ong memperhatikan pula kelakuan Pangeran Duan Leng yang selalu menatap Tetua Phang Cui Lin, dia mengerti kalau Putra tertuanya ingin menjalin hubungan dengan salah satu tokoh terkuat di Sekte Samudera Naga, yang pada prinsipnya dia setuju kalau tetua wanita ini berkenan menerima perhatian ambisi Putranya, yang dia tahu demi kejayaan Kerajaan Chong Yang, namun dia belum mengerti hubungan seperti apa yang akan terjadi, karena kalau hubungan itu melibatkan pernikahan keluarga kerajaan maka itu akan menimbulkan pergunjingan karena usia Phang Cui Lin dua kali lebih tua dari Pangeran Duan Leng dan itu melanggar tradisi keluarga kerajaan
Di samping Raja Duan Li Ong, berdiri Pangeran kelima yaitu Pangeran Duan Wu Hong, Pangeran yang terbuka dan bersikap jujur, yang sebenarnya tidak tertarik dengan urusan politik kerajaan, dia justru ingin keluar dari kurungan istana Chong Yang ini, dan berkelana jauh meninggalkannya, namun dia sangat memperhatikan adik-adik tirinya Putri Duan Ling dan Putri Duan In Mey, inilah yang menyebabkan dirinya selalu bertahan di Benua ini, dia adalah pangeran yang haus akan peningkatan kekuatan kultivasi dan meningkatkan pengetahuannya dengan mengunjungi benua-benua lainnya yang selama ini dia ketahui melalui perpustakaan kerajaan dan Sekte Samudera Naga.
Pertarungan dua pemuda tersebut tidak cukup menarik hatinya karena keduanya berada dibawah kultivasi dirinya, namun demi adiknya dia tetap berada diruangan arena tersebut.
Dan Pangeran Duan Wu Hong tahu bahwa kekuatan dan keahlian kedua pemuda itu, berimbang dengan kekuatan adiknya , Putri Duan Ling.
Tiba-tiba,
Bughhh…. Blarrrrr…. !!!
Akkkkhhh…..!!! Uhugh…!!!
Kedua pemuda itu terlempar dengan kondisi keduanya jatuh di lantai arena, baik Gan Liok maun Kun Tiong dalam posisi telungkup, keduanya melakukan benturan ketika dalam posisi genting.
Semua orang yang ada di ruangan arena menyiapkan ener gi mereka masing-masing untuk membantu keduanya karena jangan sampai menimbulkan kematian, keduanya adalah tokoh muda di sekte masing-masing yang akan mengangkat prestise sekte di masa depan, terutama tokoh-tokoh Sekte Angin Guntur dan Sekte Lembah Api.
Han Long tidak memperdulikan peristiwa tersebut karena tiba-tiba dia mendengar sebuah suara di dalam kepalanya,
“Long er keluarlah menuju sebelah selatan gerbang kota, ibu menunggumu’, kata suara itu.
Dengan mengerahkan kekuatan jiwanya, Han Long berbicara pada Han Eng untuk ijin sebentar meninggalkan istana itu, tapi Han Eng ingin ikut, mereka berkomunikasi melalui jiwa, semua itu tidak terlepas dari pengawasan Phang Cui Lin.
“Han Eng ada apa?”, tanya Phang Cui Lin.
“Aku lelah dan ingin pergi untuk beristirahat di markas sekte tetua Phang”, kata Han Eng.
“Baiklah kita akan pamit meninggalkan istana ini”, kata Phang Cui Lin.
lalu rombongan 3 orang itu menghampiri posisi keluarga kerajaan, dimana Raja Duan Li Ong berada dengan diapit oleh para menteri dan penasehatnya termasuk para putri dan putranya.
Pangeran Duan Leng memperhatikan pergerakan rombongan ini,
“Terima kasih atas jamuan dan keramahan yang ditunjukkan oleh keluarga yang mulia Raja Duan Li Ong, kami akan meninggalkan istana ini dan kembali ke tempat kami, mohon ijin yang Mulia”, kata Phang Cui Lin.
Raja Duan Li Ong berdiri dari kursinya,
“Mengapa tergesa-gesa tetua Phang. acara kami akan sampai akhir, apakah setidaknya sampai mengetahui pasangan dari putri kami?”, kata Raja Duan Li Ong, dia tidak merasa tinggi di hadapan tetua sekte Samudera Naga ini.
“Berhubung kami memiliki urusan yang sangat penting dan pula urusan keluarga kerajaan dalam perjodohan ini tidak ada wakil dari sekte kami, maka kami hanya akan menunggu surat undangan dari kerajaan yang mulia bila ada pesta perjamuan pernikahan keluarga kerajaan” Jawab Phang Cui Lin tersenyum ramah.
“Tetua Phang sampaikan salam kami kepada para petinggi sekte Samudera Naga, bahwa kami akan segera melayangkan undangan resmi pernikahan bila segala sesuatunya menjadi lancar dan sesuai harapan”, kata Raja kembali yang diikuti oleh penghormatan jajarannya dengan berdiri dan menganggukan kepala mereka kepada Phang Cui Lin.
Maka rombongan Phang Cui Lin pun melangkah meninggalkan ruangan istana itu dan keluar dari komplek Istana kerajaan Chong Yang.
Rombongan ini tidak menggunakan alat transportasi seperti kereta atau tunggangan lainnya mereka hanya berjalan sambil menikmati pemandangan bangunan-bangunan megah nan tinggi yang mengapit jalanan di Ibukota Chong Yang, setelah keluar dari gerbang kota maka dihadapan mereka ada beberapa jalan setapak, dimana salah satu jalan tersebut mengarah ke markas sementara Sekte Samudera Naga.
“Saudari Phang tahan dulu langkahmu, kami ingin menegaskan sesuatu denganmu”, sebuah suara tua terdengar dari belakang rombongan 3 orang, ketika rombongan itu telah tiba di suatu hutan kecil di tengah jalan yang mengarah ke markas sementara Sekte Samudera Naga.
Ada sekitar dua puluh orang dalam rombongan itu yang dipimpin oleh Tie Tek Wan dan Gak Han Ki, rupanya mereka telah sepakat membentuk persekutuan untuk bersama-sama membalas perbuatan Phang Cui Lin atas anggota yang mati dan cedera di rumah makan Laut Timur.
“Aku tahu maksudmu, tapi kenapa kau tidak bertanya kepada anak muridmu yang masih hidup, juga pada Putra Mahkota Ming Tek Kong”,
Kata Phang Cui Lin tenang. dia tidak merasa takut, namun dia sedikit cemas dengan keberadaan Han Eng dan Han Long yang dia tahu Han Long sangat lemah dan akan melibatkan Han Eng untuk melindungi pelayannya, jika terjadi pertempuran, dan dia merasa kerepotan kalau harus melindungi dua nyawa dari pengepungan sebanyak ini.
“Oh, apakah dengan kekuatanmu saat ini kamu pantas bernegosiasi dengan kami, apakah kamu belum sadar dengan keadaanmu ?”, kata Gak Han Ki tersenyum sinis.
“Lalu apa mau kalian?”, kata Phang Cui Lin
“Berikan muridmu dan pelayannya sebagai sandera kami sehingga kami dapat menunggu kompensasi dari sektemu, lalu membebaskannya”, pinta Tie Tek Kong tenang.
Hal ini adalah perkara mudah dan tidak berarti karena memang kalau berbicara kompensasi harus ada jaminan dari kompensasi tersebut namun persoalannya Han Eng bukanlah murid sejatinya dan Phang Cui Lin akan menerima akibat yang sulit dibayangkan oleh dirinya sendiri.
“Tidak bisa, kenapa aku harus menjadi sandera, sekalipun aku hanya seorang pelayan”, kata Han Long tiba-tiba menyela, dia curiga atas maksud Tie Tek Kong dan rombongannya karena dia menangkap sesuatu yang tidak sederhana.
“Seorang pelayan rendah berani menyela percakapan para tetua sekte, sungguh kurang ajar”, kata salah satu dari rombongan Tie Tek Kong marah.
Dan Phang Cui Lin pun bergerak ke depan seraya berucap,
“Memang itu tidak bisa kulakukan, aku akan melawan kalian semua, majulah siapa yang akan lebih dulu mati”, kata Phang Cui Lin dengan gagah, sosoknya langsung tegap dan kokoh berdiri menghalangi maksud rombongan Tie Tek Kong.
“Saudara-saudara tangkap kedua anak remaja itu, biar wanita ini, aku dan saudara Gak yang melayaninya” kata Tie Tek Wan memberikan perintah.
Tie Tek Wan dan Gak Han Ki berada pada kultivasi Insan Raja ke-8 Awal, keduanya maju dengan arah kekiri dan kekanan mengepung Phang Cui Lin, sementara sisanya sebanyak 18 orang bergerak mengitari Han Eng dan Han Long namun Phang Cui Lin tidak mau melepaskan diri dari Han Eng, untuk itu Tie Tek Kong menyerbu bersama Gak Han Ki agar Phang Cui Lin terpisah dari Han Eng dan Han Long
Hiyaaaa….., Wuuuussshhh…!!!
Dua energi yang sangat kuat langsung menerjang Phang Cui Lin dengan hawa udara panas menyengat yang diterima oleh Phang Cui Lin dengan tenang, terjadi benturan tenaga saat kedua tangan Phang Cui Lin terentang untuk mengimbangi dua tenaga raksasa yang dikeluarkan oleh lawan-lawannya.
Boouuuummmmm,, !!!
Percikan energi yang kuat saling meniadakan, dan terlihat Phang Cui Lin masih tegak berdiri tidak kekurangan apapun, hal ini sangat mengejutkan kedua lawannya, tadinya mereka berpikir dengan sekali serang phang Cui Lin akan jatuh namun kenyataannya Phang Cui Lin masih tegak berdiri bahkan ada senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Phang Cui Lin menjadi percaya diri dengan teknik yang dipelajari dari Sian Li, dia sanggup melayani dua tokoh sekaligus dari sekte yang menjadi saingan sektenya, dia bersyukur atas penilaian dirinya untuk menjadi bawahan tokoh seperti Sian Li.
Pertarungan selanjutnya terjadi kembali, dan pertempuran Phang Cui Lin dengan lawan-lawannya menimbulkan tenaga yang sangat kacau dan kuat karena mereka bertarung di hutan kecil ini dengan tingkat kultivasi yang termasuk tertinggi di benua Chong Yang yang jarang terjadi di tingkatan ini.
Dan pertarungan ini berjalan cukup alot, terkejutnya para petinggi sekte yang menjadi lawan Phang Cui Lin semakin bertambah karena mereka tidak dapat dengan segera melumpuhkan Phang Cui Lin, lalu bagaimana dengan kekuatan Ketua Sekte Samudera Naga dan para leluhurnya yang mereka tahu masih ada dengan nama 3 Manusia Abadi, baru melawan salah satu pembantunya saja sudah memeiliki kekuatan seperti ini.
Namun perhatian Phang Cui Lin terganggu juga dengan adanya Han Eng yang sekarang menghadapi pengepungan dari sisa-sisa orang yang bersama dengan Tie Tek Wan dan Gak Han Ki.
Han Long yang selama ini dianggap terlemah, dia sudah memutuskan untuk menunjukkan kekuatannya, dia sudah tahu bahwa dia tidak selamanya dia mendampingi Han Eng sahabatnya, dia menduga bahwa ibunya tidak jauh darinya dan perpisahan akan terjadi.
“Hmmmm, majulah kalian semua, adik Han Eng berdirilah di belakangku”, kata Han Long pada Han Eng, dimana perkataan ini mengherankan pendengaran Phang Cui Lin yang sedang menghadapi dua lawannya, demikian juga dengan lawan-lawan Phang Cui Lin.
Heaaaaa…., Buk.., buk…., Bukkkk…… !!!!!
Aduh…, aahhhggg…., Uhugh…!!!
Beberapa tubuh langsung terjatuh dan tersungkur dengan cepat tatkala Han Long mengerahkan energi kultivasinya, dengan teknik beladiri kategori Dewa kelas Sempurna, Han Long langsung mengerahkan tenaganya ke barisan orang-orang yang mengelilingi dirinya dan Han Eng, demikian juga dengan Han Eng setelah berpindah posisi, dia dengan sebisanya membantu Han Long namun apa yang dilakukan oleh Han Eng tidak menimbulkan efek yang berarti.
Melihat perubahan yang terjadi, beberapa orang yang mengelilingi Han Long dan Han Eng terkejut, perubahan ini tidak mereka duga sebelumnya, tadinya dengan terpisahnya Phang Cui Lin yang tidak dapat melindungi kedua remaja ini, akan memudahkan penyergapan yang sesuai perintah tetua sekte mereka, namun kenyataannya, pelayan yang dianggap remeh ini ternyata lebih kuat dan tenang menghadapi barisan mereka.
Rata-rata kekuatan yang mengepung Han Long dan Han Eng berada pada tingkat Insan Raja ke-2 dan beberapa diantaranya malah berada pada tingkat Insan Raja ke-3 dan ke-4 sebanyak sekitar 4 orang, dan hal ini kurang berarti bila Han Long menghadapi sendiri namun dengan adanya Han Eng di belakangnya, tidak membuat semuanya menjadi mudah, bahkan ada kesulitan tertentu dalam mengerahkan energi di sekitar Han Long yang akan menimbulkan dampak bagi Han Eng juga, inilah kesulitan yang dihadapi oleh Han Long.
Tiba-tiba ditengah hiruk pikuk pertempuran berat sebelah ini terdengar sebuah suara,
“Beraninya sekumpulan semut mengeroyok dan mengepung anakku, Phang Cui Lin bunuh dua serangga itu jangan kau peduli dengan anakku”, suara itu seperti ada disekitar mereka, dan akibatnya sebanyak 18 orang yang mengepung Han Long dan Han Eng berjatuhan dengan darah yang keluar dari setiap lubang pada tubuh mereka seperti ada energi dalam tubuh mereka yang meledak dengan kekuatan yang tidak dapat mereka atasi.
Tie Tek Wan dan Gak Han Ki terkejut mendengar suara ini, karena suara ini memiliki tenaga yang melampaui kekuatan mereka dan menghantam diri mereka sangat kuat, akibatnya mereka seperti lumpuh tidak bertenaga,
Syyyuuuutttttt….., Dessss…., Dessss….!!!
Terjangan Phang Cui Lin dengan telak menghantam pelipis Gak Han Ki dan tendangannya langsung ke arah ulu hati Tie Tek Wan tanpa perlawanan lagi karena keduanya sudah tidak bertenaga saat pukulan penuh kekuatan dari Phang Cui Lin menghantam keduanya.
Keduanya tanpa mengeluh lagi, kepala Gak Han Ki langsung retak dengan cairan yang menghiasi titik retak di kepala tersebut, sedangkan Tie Tek Wan sudah terduduk dengan posisi tertekuk dimana kepalanya menyentuh kedua lututnya tanpa bergerak lagi.
Suasana langsung hening dan sunyi, hanya napas Phang Cui Lin yang masih menderu akibat tenaga yang dikeluarkan saat mengerahkan energi teknik bela dirinya, kegelapan sudah melingkupi hutan kecil ini, Han Eng masih terlongong dengan penggantian peristiwa yang menurutnya terlalu cepat berubah, dari posisi terdesak berubah dalam kondisi seperti sekarang ini.
“Long er, bagaimana keadaanmu?” sebuah suara lembut memecahkan kesunyian itu.
“Ibu, kenapa kau harus membunuh semuanya?”, protes Han Long, dia sebenarnya tidak menyukai kekejaman seperti ini, dia selalu menghargai setiap nyawa pada setiap makhluk, sekalipun terhadap ras iblis.
“Long er, semua ini terpaksa ibu lakukan untuk sesuatu lebih besar, ibu pun tidak menyukainya namun itu harus” , Jawab Thian Sian Li yang muncul ditengah-tengah antara Han Long dan Phang Cui Lin.
Han Long hanya bisa menghela nafas dan mengaturnya, karena dia tadi mengerahkan tenaganya sedikit berlebihan untuk menghadapi 3 lawan yang sudah mencapai kultivasi Insan Raja ke-4.
Phang Cui Lin hanya bisa menatap bayangan yang dia tahu adalah Tetua Sian Li, mulutnya sedikit terbuka dan kecantikannya luntur karena tampilan wajah bodoh di mukanya, yang biasanya dia lihat di wajah Han Long.
Demikian juga Han Eng yang melihat sosok anggun tapi menyeramkan, karena sosok ini seperti manusia transenden yang sedikit kabur bergoyang-goyang di matanya, dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah yang putih pucat tidak berdarah, dan sosok ini dipanggil ‘ibu’ dengan akrab oleh lelaki yang sekarang memiliki posisi khusus di hatinya.
Betapa Han Eng tidak merasa ngeri dengan adanya sosok yang dia duga selalu berada di dekat Han Long, terbayang kekonyolan yang dia perbuat pada lelaki yang dulu dianggap hanya pelayan, apalagi perlakuan klannya yang suka memerintah Han Long dengan seenaknya, bagaimana jika sosok di depannya ini marah dan menghancurkan klannya hanya dengan jentikkan jari saja.
“Long er saatnya kita pergi”, kata Thian Sian Li, tanpa melirik Phang Cui Lin yang saat itu masih terkejut dan mengatur nafasnya agar tidak terlalu keras menderu yang akan membangkitkan rasa tidak suka tetua yang sudah menjadi tuannya itu.
“Kakak Long, apakah ini saatnya kau meninggalkan diriku?”, tanya Han Eng dengan wajah cemas.
Han Long hanya menatap Han Eng dengan perasaan tidak menentu, karena inilah saat perpisahan itu, dia harus berpisah dengan sahabatnya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, dan Han Eng merasa kehilangan dari sosok yang telah mengantarkan dirinya hingga dia menjadi murid terpilih di sekte idaman para talenta muda di benua ini.
”Long er, katakan pada temanmu bahwa dia tidak dapat mengikuti kita”, kata Thian Sian Li
Han Eng terkejut mendengar perkataan sosok wanita berbalut kain hitam yang rambutnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya, ada kesan dingin tanpa emosi pada nada suara Thian Sian Li.
”Ibu bagaimana ini?, aku bingung, aku tidak tega meninggalkannya sendirian di dunia yang kejam ini, dia belum kuat menghadapinya”, kata Han Long.
Thian Sian Li melangkah menghadapi Han Eng dan berucap,
”Han Eng kan?, aku ibunya Han Long, kalian berdua tidak perlu khawatir, aku telah menyiapkan segalanya, Han Eng mulai sekarang kau berada pada perlindungan tetua Phang Cui Lin di Sekte Samudera Naga, anggap dia sebagai orang yang akan membimbingmu, namun harus kau ingat jangan kau buka rahasia bahwa Han Long adalah anakku kepada siapapun, tetua Phang akan mengasuhmu, kelak di masa depan jika kalian berjodoh, anakku akan mencarimu ketika dirinya telah siap dan menjadi kuat, sekarang dia akan pergi denganku dan terimalah teknik ini” kata Thian Sian Li sambil menyerahkan dua buah lempengan batu giok kepada Han Eng, dan Han Eng yang tadinya ragu-ragu akhirnya melangkah maju untuk menerima pemberian dari Thian Sian Li.
Phang Cui Lin melangkah di depan Thian Sian LI,
“Tetua aku bersalah, hukumlah diriku, aku tidak layak menjadi bawahanmu” Kata Phang Cui Lin sambil dirinya bersujud di depan Thian Sian Li.
“Kamu tidak bersalah, aku memang sengaja tidak menyebutkan identitas asli anakku yang sebenarnya, namun kau kini memiliki tugas yang sama seperti sebelumnya dan mengantar teman anakku untuk dapat menguasai teknik yang baru saja kuberikan kepadanya, dan untukmu sendiri aku akan melengkapi dan menyempurnakan pemberian yang terdahulu”, kata Thian Sian Li sambil melemparkan sebuah lempengan batu giok yang menjadi bagian kedua dari Teknik Beladiri dan Kultivasi kategori Dewa kelas Pokok.
Betapa Gembiranya Phang Cui Lin, dia tidak menyangka bahwa teknik yang saat ini sedang dilatihnya ternyata hanya kulit luar dari teknik yang sesungguhnya.
Sementara Han Eng melangkah menghampiri Han Long ada uraian air mata di kedua matanya, dan tubuhnya sedikit bergetar menahan isak yang tertahan, dan kedua tangan gadis remaja itu tanpa disadari memegang tubuh tinggi Han Long yang kokoh,
”Kakak Han Long sampai kapanpun aku akan menantimu”, kata Han Eng sendu.
“Aku akan mengingatmu, adik Han Eng, perjalananku jauh dan belum tahu sampai kapan aku akan terus melangkah dan kembali kepadamu, namun aku berjanji akan menemui kelak” , kata Han Long dengan rasa yang lain yang tumbuh dalam dirinya, dia membelai rambut hitam Han Eng, ada sedikit keraguan karena baru kali inilah dia menyentuh Han Eng seperti ini, dia agak canggung.
“Long er, kita pergi, sesuatu akan terjadi, Phang Cui Lin jangan kau kembali ke Sekte Samudera Naga untuk beberapa hari ini, kau bawa Han Eng menghindari kota ini, jangan kau menampakkan diri dari keramaian kegiatan kota ini”,
kata Thian Sian Li misterius, yang di anggukkan oleh Phang Cui Lin, karena baginya tingkat Tetua Sian Li pasti telah meramalkan suatu peristiwa yang jauh di depan, dengan tingkat kultivasi yang ketinggiannya seperti dewa dimatanya.