Bunuhhh…..!!!
Musnahkan warga kerajaan Chong Yang….!!!!
Bantaiiii….. !!!
Berbagai seruan timbul tenggelam dengan beradunya setiap senjata tajam dari logam yang berdenting dimana-mana, dan segala peralatan artefak pertahanan diri dan penyerangan, memancarkan energi yang memusnahkan setiap nyawa yang tidak berada dalam kondisi perlindungan apapun.
Hiyaaaa…
Duuuaaarrrrr…!!!!
Mati….!!
Benturan energi kekuatan dahsyat terjadi pada lautan ras manusia dan ras Iblis, mereka bercampur aduk secara kacau, mana lawan dan mana kawan semuanya bercampur menjadi satu, ini semua bukan perang antar ras tetapi dua kubu yang mengenakan seragam yang berbeda yaitu tentara kerajaan Chong Yang diserbu oleh dua kekuatan Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah yang didukung oleh pasukan Kerajaan Ming Lan.
Tidak ada lagi kekuatan Ras Iblis atau Ras Manusia, mereka menjadi sekutu, yang dilawan adalah pasukan yang berbeda seragam dimana didalamnya ada kedua ras ini, dengan dipimpin oleh para komandan perang dalam mengatur pasukan masing-masing,
Terlihat Pangeran Duan Wu Hong dengan pakaian perangnya terlihat gagah dan mentereng, memimpin pasukan di sayap kiri dari benteng kerajaan Chong Yang, dan di Sayap Kanan ada Pangeran tertua Duan Leng yang juga menjadi komandan pasukan untuk mempertahankan benteng dari serbuan Sekte Angin Guntur yang menyerbu dari arah kanan benteng.
Kedua kubu mengerahkan pula mesin perang yang menjadi keunggulan masing-masing pihak dimana kereta perang yang ditarik berbagai binatang buas raksasa dan jumlahnya ribuan, menggilas pasukan yang tidak diperlengkapi dengan pertahanan diri yang kuat.
Kubu Kerajaan Chong Yang dibantu oleh anggota Sekte Samudera Naga, terlihat Coa Kun, Cui Man Ek, Meng Li dan beberapa orang yang berasal dari kota Yang In berada dibawah pasukan Pangeran Duan Leng.
Dan pada pasukan Pangeran Duan Wu Hong, ada yang mengapit pangeran tersebut dengan mengendarai kuda kilin angin yang besar dan kuat dan keduanya adalah wanita, siapa lagi kalau bukan Putri Duan Ling dan adiknya Putri Duan In Mey, mereka berdua lebih nyaman mengikuti pangeran yang jujur ini daripada dibawah komando Pangeran tertua, Pangeran Duan Leng, apalagi Putri Duan In Mey mengetahui niat Pangeran Duan Leng yang menghendaki perjodohan dengan Putra Mahkota kerajaan Ming Lan, Ming Tek Kong, yang tidak disukainya.
Mengapa semua ini terjadi?, padahal sebelumnya kerajaan Chong Yang akan menjadi tuan rumah dari acara yang besar sehubungan dengan penyelenggaraan kompetisi antara para murid Sekte-sekte terunggul benua Chong Yang.
Beberapa hari sebelum situasi ini, terjadi perubahan kondisi dan suasana Kerajaan Chong Yang yang saat ini dalam kondisi sebelumnya yang ramai berubah menjadi ketegangan yang mencekam, hal ini dipicu oleh protes yang dilakukan oleh dua Sekte terbesar benua Chong Yang atas hasil pencarian jodoh di Istana Chong Yang beberapa bulan sebelumnya.
Dua Sekte tersebut adalah Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah yang merasa tidak puas dengan keputusan Raja Duan Li Ong, khususnya Putri Duan Ling yang menolak dijodohkan pada Gan Liok, sedangkan Gan Liok merasa diri telah memenangkan pertarungan yang dilakukan dengan melawan Kun Tiong , namun menurut keputusan Raja Duan Li Ong pertarungan itu berakhir seri karena keduanya terluka, maka untuk berhasil sebagai calon tunggal jodoh Putri Duan Ling tergantung dari hasil jawaban dari keduanya pada ujian sebelumnya yaitu jawaban terhadap Lukisan Aneh dan Ujian beberapa pertanyaan mengenai Wawasan Kenegaraan, dan nilai dari Kun Tiong lebih unggul dari jawaban yang diberikan oleh Gan Liok.
Gan Liok sebagai wakil dari Sekte Angin Guntur menolak keputusan ini, dan dia akan mengadukan semuanya kepada para petinggi Sektenya untuk memberikan penekanan kepada Raja Duan Li Ong, namun Raja tetap pada keputusannya karena dia juga berharap bahwa Sekte Samudera Naga akan membantunya menghadapi Sekte Angin Guntur, yang ternyata kemudian Sekte Puncak Merah ikut menekan kepada pihak Kerajaan Chong Yang, apalagi wakil yang dijagokan oleh Sekte Puncak Merah yaitu Putra Mahkota Ming Tek Kong kalah juga.
Raja Duan Li Ong masih percaya diri bahwa Sekte Samudera Naga tidak akan tinggal diam karena kedua putranya adalah murid inti sekte tersebut, dengan berani pula Raja Duan Li Ong tetap menolak keinginan anak murid Sekte Angin Guntur, Gan Liok, hal ini menimbulkan ketidakpuasan Gan Liok dan para pengurus tertinggi Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah.
Situasi makin runyam ketika beberapa hari kemudian utusan Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah menanyakan ke pihak Istana Chong Yang tentang keberadaan Tetua Tie Tek Wan dan Tetua Gak Han Ki dan 18 orang lainnya yang hilang dan tidak kembali ke sektenya masing-masing, yang dijawab oleh pihak istana yang tidak mengetahui keberadaan mereka dan beberapa orang yang menyertainya itu.
Para utusan itu mengancam akan mengambil tindakan selanjutnya, karena mereka menyangka bahwa pihak istana pasti telah membunuh orang-orang tersebut yang dibantu oleh pihak Sekte Samudera Naga dan 3 Manusia Abadi-nya.
Pihak dua Sekte yang menuntut penjelasan pada pihak istana ini, sebetulnya adalah dalam upaya untuk menguasai seluruh benua Chong Yang tanpa takut menghadapi kekuatan Sekte Samudera Naga yang selama ini cukup disegani oleh kedua sekte tersebut.
Tuntutan kedua sekte ini pun menjadi perhatian bagi pengurus sekte Samudera Naga, jelas bagi Sekte Samudera Naga bahwa mereka berada pada pihak Kerajaan Chong Yang, karena banyak ikatan emosional dan darah yang terjadi di antara kedua belah pihak, apalagi persoalan yang muncul adalah ‘wajar’ karena penolakan perjodohan itu sudah ditentukan, yang mengherankan kedua sekte yang menuntut penjelasan ke Raja Duan Li Ong disertai dengan ancaman penyerbuan skala besar, artinya ini akan menimbulkan perang besar di Benua Chong Yang yang selama ini telah puluhan tahun hidup tanpa gejolak sebesar ini.
Pada Markas Sekte Samudera Naga saat ini berkumpul seluruh pengurus penting membahas persoalan yang terjadi di Ibukota Chong Yang, yang menghadapi penyerangan yang dilakukan oleh ratusan ribu pasukan dari dua Sekte lainnya, penyerbuan ini diluar dugaan para petinggi Sekte Samudera Naga dan 3 Manusia Abadi.
Yang mengherankan para petinggi Sekte Samudera Naga adalah keberanian dua sekte ini yang jelas mengetahui bahwa Kerajaan Chong Yang di bawah perlindungan sekte tersebut.
Terlihat Hwa Kong sebagai kepala Sekte Samudera Naga berkumpul dalam satu ruangan, diantaranya adalah Phang Kok, Bing Siauw, Wong Kay, Kim San Kui dan kepala sekolah Wang Shen dengan jajarannya terlibat dalam pertemuan ini.
“Kepala Sekte apa yang harus kita lakukan dengan kondisi yang menimpa Kerajaan Chong Yang, kita juga telah mengerahkan para murid untuk membantu kerajaan Chong Yang dalam menghadapi penyerbuan ini”, kata Phang Kok kakak Phang Cui Lin.
“Kita harus segera turun tangan dan menghancurkan kedua sekte penyerbu itu, mereka telah menganggap kita terlalu lemah selama ini, sekalipun mereka bergabung tapi kita masih memiliki 3 leluhur yang dapat mematahkan serangan para ketua sekte tersebut.” kata Bing Siauw, tokoh wanita selain Phang Cui Lin.
“Angkatan seumuran kita harus menahan diri, kita jangan menganggap lemah setiap perlawanan mereka, kita akan membantu pihak kerajaan Chong Yang dengan mengerahkan pihak kita di bawah kepemimpinan adik Wang Shen, aku menduga bahwa kekuatan sesungguhnya dari 2 sekte dan kerajaan Ming Lan belum sepenuhnya muncul kita harus waspada” Kata Hwa Kong.
“Apakah demikian?, aku bukan merendahkan adik Wang Shen tapi aku ingin persoalan ini berakhir dengan cepat, dan itu harus diselesaikan dengan kekuatan absolut untuk menekan kedua sekte itu, kepala sekte Angin Guntur dan Puncak Merah dapat dihadapi oleh aku dan kepala Sekte, dan lainnya kita serahkan pada adik Bing Siauw serta dua tetua Wong Kay dan Kim san Kui serta dua tetua lainnya”, Jawab Phang Kok lagi yang dikenal selalu tegas, baik ucapan maupun tindakannya.
“Aku menduga bahwa tindakan mereka tidak sesederhana yang terlihat, maka aku memutuskan bahwa kita akan mengirimkan para murid di bawah kepemimpinan Wang Shen”, kata Hwa Kong tegas.
”Mohon maaf sebelumnya kepala Sekte Hwa Kong, dimanakah tetua Phang Cui Lin saat ini, sejak kejadian penyerangan ke kerajaan Chong Yang, dia tidak pernah muncul demikian juga murid wanitanya Han Eng”, sela seorang tetua setingkat Phang Kok, bernama Kong Hay Keng.
Pertanyaan ini seperti menggugah yang lainnya bahwa memang tetua Phang Cui Lin tidak pernah terlihat sejak penyerbuan ke kerajaan Chong Yang oleh pihak yang merasa tidak puas dengan keputusan Raja Duan Li Ong.
”Saudara Phang apakah kau tahu dimana adikmu berada?”, kata Hwa Kong bertanya.
Phang Kok hanya gelengkan kepalanya, dia walau sebagai kakak dari Phang Cui Lin, tidak terlalu memperdulikan adik perempuannya itu, karena adiknya adalah saingannya juga dalam kultivasi, dari kecil Phang Cui Lin selalu membayangi peningkatan kultivasinya dan bagi Phang Kok ini cukup menggelisahkan hatinya yang tidak mau dikalahkan oleh wanita.
Semua pengurus tertinggi sekte tahu kalau Phang Kok tidak begitu peduli terhadap adiknya, pertanyaan ini pun kurang berbobot bila ditanyakan pada diri Phang Kok.
Sesaat semua terdiam, tidak ada yang tahu, mungkinkah Phang Cui Lin terlibat dengan menghilangnya 2 tetua yang dicari oleh pihak sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah?, semua itu akhirnya hanya tarikan nafas setiap orang yang menjawabnya.
Berbulan-bulan telah berlalu namun perang di kerajaan Chong yang makin parah, korban berjatuhan.
Di dalam benteng kerajaan Chong Yang terjadi kesibukan yang parah dimana banyak korban yang menderita akibat serangan dari pihak lawan, hal ini sangat mengkhawatirkan Raja Duan Li Ong, yang saat ini masih di dalam Istananya memimpin rapat bersama dengan jajaran panglima dan pembantunya.
”Apa yang terjadi?, aku mendengar laporan bahwa korban di pihak kita terus berjatuhan, ada apa di medan perang?, bagaimana ini terjadi?”, pertanyaan beruntun langsung keluar dari sang Raja.
”Lapor pada paduka, di kubu musuh ada beberapa pembantu yang sangat kuat, mereka membunuh pasukan kita seperti memberantas serangga, kekuatan mereka sangat kuat, baru anginnya saja sudah membuat kereta perang kita berterbangan ke segala arah”, kata Perdana Menteri Kim.
”Ada sesuatu seperti itu?, lalu apa yang diperbuat oleh Sekte Samudera Naga?”, tanya Raja Duan Li Ong.
”Kami melihat pasukan yang diterjunkan oleh Sekte Samudera Naga yang langsung menyerbu ke tengah medan laga, namun kekuatan mereka tertahan oleh kekuatan hanya satu orang saja”, kata Perdana Menteri Kim kembali.
”Apakah ada tindakan dari para tetua Sekte dan 3 Manusia Abadi Sekte Samudera Naga?” kembali Raja bertanya.
”Kami rasa hal itu sudah menjadi perhatian mereka”, jawab Perdana Menteri Kim.
Sebenarnya apa yang terjadi di medan perang?.
Di tengah medan perang dari pihak kerajaan Ming Lan, berdiri dengan rapi 9 orang dengan wajah dan tubuh tersembunyi di balik pakaian sederhana mereka yang hitam seluruhnya, hanya sinar mata menyala dari 9 orang ini yang menatap lurus ke medan perang tanpa bergeming atau menggerakan anggota tubuhnya yang lain, hanya menatap.
Barisan ini adalah sembilan orang yang mengejar Thian Sian Li, tapi mengapa mereka sekarang berada di pihak Kerajaan Ming Lan?.
Kui Mo dan kelompoknya, tidak bermaksud membantu pihak kerajaan Ming Lan sebelumnya, namun itu terjadi karena mereka melihat sebuah kesempatan, mereka merasa bahwa pengejaran terhadap Thian Sian Li adalah pekerjaan sia-sia, karena sudah bertahun-tahun mereka mencari tapi tanpa hasil, dan mereka sendiri sudah bosan dengan pekerjaan ini, dengan kultivasi yang mereka miliki, mereka dapat menguasai seluruh benua ini.
Tapi kalau mereka kembali ke benua Thian Agung tanpa hasil maka hukuman sudah tersedia oleh Thian Lok, dan hukuman yang mereka duga adalah pencabutan tingkat kultivasi mereka dan hal ini yang mereka hindari, lebih baik disini sebagai penguasa daripada kembali menjadi orang tanpa arti.
Dan kesempatan untuk memulainya adalah dengan membantu salah satu pihak.
Dan keberpihakan mereka sudah diputuskan oleh suara di antara 9 orang ini, hal yang paling utama adalah melihat dukungan dua sekte pada kerajaan Ming Lan, sehingga mereka berpikir akan lebih baik menguasai dan menaklukan Benua ini dengan jumlah ahli pembantu yang sudah siap mendukung mereka menjadi tokoh terkemuka, dan mereka banyak waktu untuk memperdalam dan meningkatkan tingkat kultivasi mereka dengan tenang, tanpa repot dalam hal remeh.
Posisi pihak kerajaan Chong Yang dalam kondisi yang kritis, jumlah korban yang mati terus meningkat dengan adanya 9 orang misterius yang membantu pihak kerajaan Ming Lan.
”Tahan Serangan….!!!”, sebuah seruan terdengar.
Jauh di angkasa, 3 buah titik hitam kecil terbang mengarah ke medan laga, ketiganya mengarah pada barisan 9 orang pihak kerajaan Ming Lan, di belakang 9 orang ini ada seseorang dengan berpakaian perang yang mewah dan beberapa orang seperti pengawal, ada juga Putra Mahkota Ming Tek Kong yang berdiri dekat orang berpakaian mewah itu.
”Salam Raja Ming, bolehkah aku mendekat?”, kata Hwa San salah satu dari 3 Manusia Abadi.
”Ah, sebuah kehormatan bagiku yang rendah menerima kedatangan 3 Manusia Abadi”, kata Raja Ming Kwa Ong dengan tersenyum tipis.
Dulu dia walaupun seorang raja namun dia tunduk atas wibawa kepala Sekte, namun kini dia menerima kedatangan tokoh yang melebihi kedudukan seorang kepala sekte, dan dia tidak merasa takut sedikitpun karena disampingnya berdiri sembilan orang dimana dia telah membuat kesepakatan dengan sembilan orang ini.
Seorang wanita dari 3 orang ini maju, menghadapi Raja Ming Kwa Ong,
”Hm… raja Ming memang terkenal dengan kebijaksanaannya, kami datang atas nama makhluk yang berdiam di Benua Chong Yang ini, untuk segera menghentikan pertempuran kita, bagaimana?”, kata Kong Lan tokoh wanita 3 Manusia Abadi.
Terlihat wajah Raja Ming Kwa Ong tersenyum, dia sudah menduga pertanyaan ini,
”Baiklah aku setuju untuk menghentikan perang yang berlarut-larut ini, namun ada syaratnya”, kata Raja Ming Kwa Ong.
”Sebutkan syarat itu, paduka raja?”, tanya Mo Keng rekan Hwa San sedikit sopan.
Dengan senyum misterius Raja Ming kemudian berucap,
”Semua anggota kerajaan Chong Yang akan dilucuti kebangsawanannya dan menjadi rakyat biasa dan tunduk terhadap pengaturan kerajaan Ming Lan, dan Sekte Samudera Naga akan dilebur dengan sekte lainnya dan menjadi kekuatan utama di benua Chong Yang ini, dengan demikian tidak ada lagi sekte yang merasa lebih kuat dari lainnya, karena pengaturan dan distribusi sumber lainnya akan diatur seadil-adilnya melalui pengaturan kerajaan Ming Lan”, jawab Raja Ming Kwa Ong dengan lancar dan mantap.
Semua ini adalah apa yang dikehendaki oleh Kui Mo dan kawan-kawannya.
”Inikah syarat yang kau inginkan?,
bukankah itu artinya sebuah penjajahan terhadap kami semua?,
lalu apa artinya percakapan kita ini?”,
kata Kong Lan dengan wajah memerah menahan geram.
Raja Ming Kwa Ong hanya tersenyum sinis, dia melirik pada Kui Mo, dan gerakan ini diperhatikan oleh Hwa San yang memiliki mata tajam, dalam hatinya dia terkejut karena dia tidak dapat melihat tingkat kultivasi para pembantu Raja Ming ini, dan Hwa San menjadi cemas dalam hatinya.
Raja Ming menghela nafas dan tersenyum sinis,
”Aku tidak tahu apa yang lebih baik dari ini, namun itu adalah sesuatu yang terbaik bagi kita semua karena tidak ada lagi syarat lain yang lebih baik, jika tidak?, maka kerajaan Chong Yang hanya menjadi sejarah, dan Sekte Samudera Naga akan ikut bersamanya bila tidak merubah pendirian mereka”, jawab Raja Ming dengan angkuh.
Seorang dari 9 orang ini maju, Kui Mo melangkah di depan raja Ming sambil berkata,
”Agar mudah dipahami, maka kami akan memulai dari orang yang paling disegani di Benua ini, yaitu diri kalian”, kata Kui Mo sambil melirik kawan-kawannya dan,
Aaaakkkkhhhh…..!!!
Uhuuuugh….!!!
Aaaaahhhh…..!!!
Tiga tubuh terpental dan ketika tubuh itu mendarat ke tanah sudah tidak terbentuk lagi, hanya setumpuk pakaian dan onggokan daging, bekas jasad 3 Manusia Abadi.
Betapa mengejutkan peristiwa ini, jangankan pihak Kerajaan Chong Yang dan Sekte Samudera Naga, bahkan pihak Kerajaan Ming Lan dan 2 Sekte pendukungnya ternganga dengan mulut terbuka.
”Ha ha ha…..!!!, apakah kalian para semut melihat itu?,
apakah kalian masih bangga sebagai kepala sekte?,
apakah kalian masih keras kepala tidak mengakui kami?”,
tawa keras dari 8 anggota rombongan Kui Mo bergelak-gelak, mengiringi ucapan Kui Mo yang sangat berwibawa dan terdengar ke seluruh penjuru sampai menembus benteng pertahanan kerajaan Chong Yang.
Kengerian dan teror langsung mencekam, tidak hanya pihak Kerajaan Chong Yang, bahkan pihak sekutu kerajaan Ming Lan bergidik ngeri melihat hal ini.
Di pihak Kerajaan Chong Yang, terdapat para peringgi Sekte Samudera Naga yang menjerit pilu melihat nasib leluhur mereka yang tewas mengenaskan tanpa dapat melakukan perlawanan apapun, bahkan jasadnya sudah tidak terbentuk.
Hwa Kong dengan tatapan ganas di matanya, dia lalu berteriak dengan suara keras, dia berkata,
”Perintah Sekte Samudera Naga,
lawaaan …, lawaaan…!!!
dan bunuh…!!!
Hancurkan musuh!!!”,
Suara yang membahana ini bergema ke seluruh medan perang dan terdengar sambutan susul menyusul dari para murid Sekte yang berteriak histeris, maka ribuan orang bangkit, termasuk pasukan kerajaan Chong Yang, dimana Raja Duan Li Ong keluar dari benteng membawa ribuan pengawal dan menyerbu ke tengah medan laga.
Di bagian sayap kiri benteng
”Kakak Pangeran Wu Hong, lihat ayahanda keluar benteng…!”,
teriak putri Duan Ling pada kakaknya Duan Wu Hong.
”Pasukan….!!! Ikuti aku…!!!”, teriak Pangeran Duan Wu Hong, sambil menggerakan tunggangannya kuda kilin angin, mengarah pada pasukan Raja Duan Li Ong, dengan diapit oleh dua adik perempuannya pangeran Duan Wu Hong berusaha menyatukan kekuatan pasukannya dengan pasukan ayahnya.
Dan di sayap kanan, Pangeran Duan Leng melihat pasukan ayahnya, bermaksud sama untuk menyatukan kekuatan mereka, namun pasukan musuh mencegah semua itu terjadi, pasukan Pangeran Duan Leng tertahan dimana Coa Kun akhirnya memimpin anggota regunya melawan mati-matian terhadap pasukan dari Sekte Angin Guntur.
Dengan kekuatan seadanya, baik pasukan kerajaan Chong Yang dan pasukan murid Sekte Samudera Naga, berusaha melawan sebisanya, mental mereka sebenarnya telah rusak dengan kematian 3 leluhur yang dianggap sebagai dewa di Sekte Samudera Naga, namun kini yang disebut dewa itu telah mati dengan percuma.
Termasuk mental Coa Kun yang selama ini menganggap bahwa kekuatan Sekte Samudera Naga adalah kekuatan tertinggi Benua Chong Yang, dan sekarang pandangan ini menjadi rusak, hati dan jiwanya kecewa, sangat kecewa, lalu untuk apa dia berjuang di pihak yang jelas akan hancur, hatinya bergejolak, dia bingung, leluhur dari klan ibunya, Mo Kui Bong pernah menguasai kotaraja ini, tapi dibandingkan dengan musuh yang sekarang dia lawan, leluhurnya pun tidak berarti apa-apa.
Mental Coa Kun terganggu, akhirnya dia mengambil keputusan, ini hidupnya, dia harus menjadi lebih kuat, dan untuk mewujudkannya dia harus mendapatkan perhatian dari orang terkuat.
Hanya dengan hembusan dari tenaga lambaian tangan 9 orang, pasukan yang dipimpin oleh Raja Duan Li Ong terhempas beterbangan bagai diterjang badai topan yang ganas, namun tekad baja dari Raja Duan Li Ong sudah bulat, karena dia tahu, bahwa hidup pun akan menjadi budak, dan keluarganya tidak akan hidup, mereka akan dibunuh untuk melenyapkan akar masalah kemudian hari.
”Ayah kami datang membantu”,
teriak pangeran Duan Wu Hong
”Pergi…, pergi…, kalian bertiga harus melarikan diri,
kalian tidak akan selamat dan tidak ada lagi penerus klan Duan”,
teriak Raja Duan Li Ong kepada putra dan putrinya.
Namun maksud Raja Duan Li Ong terlambat,
”Hmm…, kebetulan sekali, bunuh mereka semua kecuali putri kecil itu!!!”,
teriak Putra Mahkota Ming Tek Kong pada para pembantunya yang melihat Raja Duan Li Ong yang sudah terluka berat akibat menahan tenaga yang dikeluarkan oleh salah satu anggota dari kelompok Kui Mo.
”Majulah kalian semua!!” ucap Pangeran Duan Wu Hong dengan gagah,
melindungi ayah dan kedua adiknya.
Bunuh…!!!,
serentak sepuluh orang pengawal Putra Mahkota Ming Tek Kong langsung mengerahkan energi mereka yang rata-rata pada Insan Raja ke-5 menyerang pangeran Duan Wu Hong, melihat serangan itu Pangeran Duan Wu Hong mengerahkan kekuatannya secara maksimal.
”Kakak aku bersamamu”, ucap Duan Ling sambil dia juga mengerahkan energi kultivasi
nya secara maksimal
Duaarrrr..!!!!
”Tiiiidaaaaaakkkk….!!!”,
teriakan ini keluar dari mulut Putri Duan In Mey.
Benturan energi ini mengakibatkan tubuh pangeran dan putri Duan langsung terbang seperti layangan putus, keduanya jatuh ke tanah dalam keadaan terluka parah.
Raja Duan Li Ong maju, menghadang di depan untuk menghalangi musuh yang akan membunuh pangeran Duan Wu Hong dan Putri Duan Ling, akibatnya Raja Duan Li Ong pun harus menerima akibat dengan nyawanya.
Di tempat lain di kubu pasukan Raja Ming Kwa Ong yang didampingi oleh kepala Sekte Angin Guntur dan kepala Sekte Puncak Merah, dimana berdiri dengan tenang Kui Mo dan 8 orang kawannya berada,
”Hmmm…, Kui Mo dan kalian semua sudah keterlaluan mencampuri urusan benua kecil ini, kalian harus mati”, suara ini halus saja namun bagai halilintar yang menghantam Kui Mo dan rekan-rekannya.
Barisan 9 orang di kerajaan Ming Lan yang berdiri dengan arogan itu berubah dan di wajah mereka seperti ada teror mengerikan dan secara serempak tubuh mereka menjadi kaku dan menegang, tidak lama kemudian, satu per satu tubuh itu secara beruntun roboh, dan
Wuuussss…
Setiap tubuh yang roboh itu hancur bagai butiran debu dan menguap begitu saja lalu menghilang di sapu angin, dan bekasnya tidak bersisa.
Dan kejadian ini hanya disaksikan oleh mereka yang ada di kubu kerajaan Ming Lan, terutama Raja Ming Kwa Ong dan pasukan pendukung sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah.
”Sudahi perang ini, dan tarik pasukan kalian sekarang juga”, perintah ini sangat jelas ditelinga Raja Ming Kwa Ong dan pada dua orang yang menjadi Kepala Sekte yang turut menemaninya.
Betapa terkejutnya Raja Ming dan dua Kepala Sekte yang menyertainya.
Yang bereaksi dengan cepat adalah dua orang pendamping yang menjadi Kepala Sekte ini,
”Munduuuurr….!!!’,
Seruan dua Kepala Sekte dikerahkan sekuat tenaga dan teriakan ini menggema dengan kuat dan membuat pembantaian ini terhenti seketika.
”Kita kembali sekarang juga…!!”
Teriak Raja Ming Kwa Ong, yang direspon oleh pasukannya dengan terkejut, bahkan Putra Mahkota Ming Tek Kong pun yang saat itu akan menghampiri Putri Duan In Mey menjadi tersentak, dia sudah membayangkan masa depan dan kekuasaan di benua ini, namun dia tersentak oleh perintah komando ayahnya.
Ming Tek Kong sangat kesal, daging di depan mata harus dilepaskan begitu saja, tapi dia tidak berani membantah perintah komando ayahnya, kemenangan sudah nyata, namun kenapa berakhir seperti ini, dan meninggalkan semuanya seperti tidak terjadi apa-apa, padahal sudah ada korban dalam jumlah ribuan jiwa namun ditinggalkan begitu saja.
Bukan hanya pasukan di pihak Kerajaan Ming Lan dan sekutunya, dua sekte pendukung penyerangan ini, pihak Sekte Samudera Naga dan pasukan yang tersisa dari Kerajaan Chong Yang pun dibuat heran oleh perbuatan lawan dan meninggalkan mereka tanpa mengambil apapun kecuali jasad sekutunya sendiri itu pun dilakukan dengan tergesa-gesa
Di sebuah hutan yang terdapat di pinggir medan perang, seorang pria 30 tahunan menatap lurus ke arena medan perang, dengan persepsinya dia memeriksa satu persatu jasad yang tewas pada peperangan ini atau mereka yang masih hidup.
Wajah pria ini tanpa ekspresi apapun, baginya mayat-mayat yang bergelimpangan tidak jauh berbeda dengan setumpuk sampah yang tidak berarti.
Dia memeriksa dengan teliti dengan mengerahkan persepsi jiwanya, dia berharap untuk menemukan resonansi jiwa yang seirama dengannya, namun harapan itu sia-sia.