Coa Kun kebingungan melihat hasil akhir dari pertempuran ini, tadinya dia bermaksud menyerbu sendirian ke kubu musuh dan berharap dapat bertemu dengan 9 orang ‘maha sakti’, lalu dia akan mohon orang-orang itu menerimanya untuk menjadikan dirinya ‘murid’, namun strategi ini hancur di tengah jalan, karena pihak musuh mundur dengan cepat, dan dia tidak mengerti apa yang terjadi sesungguhnya.
Tanpa jejak dan tidak ada bekas kehadiran 9 orang itu, semua lenyap seperti ditelan bumi atau menguap begitu saja, dimana mereka?
Kekecewaan atas harapan yang tidak dapat terwujud, akan menimbulkan hati yang rusak, karena akan mempengaruhi jalan pikiran seseorang, demikian juga dengan Coa Kun yang tidak dapat menerima bahwa ambisinya akan kembali dipatahkan oleh kondisi perubahan yang tidak sanggup dia lihat.
”Hei bocah, untuk apa kau masih di lapangan ini, lihat teman-temanmu sudah mundur dan masuk ke dalam benteng, apa yang kau cari?”, kata seorang pria muda yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Coa Kun terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba ada di depannya, sosok ini terlihat muda dan seumuran dengan dirinya, namun dengan kurang ajar memanggilnya bocah pada dirinya.
”Siapa kau?, kamu tidak lebih muda dariku, beraninya kau memanggilku ‘bocah’, aku anak murid Sekte Samudera Naga”, kata Coa Kun Marah.
”Ha ha ha…, begitukah?, aku tahu kau ingin mencari 9 orang tolol dan lemah itu untuk meminta mereka mengangkatmu menjadi murid, apakah kau tidak malu mengakui diri sebagai murid sekte Samudera Naga? Ha ha ha…”, kata pria itu sambil bergelak-gelak tertawa mendengar ucapan Coa Kun.
Coa Kun terkejut, namun hatinya makin marah mendengar tebakan pria muda itu yang tepat tentang isi hatinya,
”Siapa bilang?, aku memang menghargai kekuatan namun aku masih seorang murid kebanggaan sekteku, apakah salah kalau aku mengagumi kekuatan seseorang?, lalu apa maumu?”, kata Coa Kun makin geram.
Pria muda itu tersenyum, namun dibalik senyum itu ada kilatan mata yang misterius
”Hmmm.., kau bocah ras iblis…, aku tertarik padamu, bagaimana dengan ini, aku akan menerimamu sebagai muridku dan kamu akan meninggalkan benua terpencil ini, namun kau harus melaksanakan satu perintahku, bunuh satu orang yang paling kau hargai, sebagai bukti bahwa kau adalah calon yang cocok dalam misimu kemudian hari !”, kata Pria Muda Misterius itu.
Coa Kun mengejek pria itu, baginya siapakah orang ini?, dan tiba-tiba menyuruhnya melakukan sesuatu yang menjadi syarat untuk menerimanya menjadi murid.
”Pertama, aku tidak mengenalmu, kedua aku akan selalu menjadi murid orang terkuat di dunia ini, dan segala perintah dari orang yang kujunjung sebagai guru akan kutaati sekalipun harus melalui lautan api , pasti akan kusebrangi, lalu apa hakmu menjadi guruku?” kata Coa Kun dengan senyum mengejek.
”Ha ha ha…., aku suka dengan gaya bocah ini, baiklah aku akan mengatakan siapa diriku, aku adalah kakek moyang, guru dari 9 orang yang kau kagumi, namaku adalah Kui Lok Mo penguasa Benua Merah, untuk kekuatan hanya dengan mengedipkan mataku kamu akan mati, tapi aku akan melakukan ini”, kata pria yang mengaku penguasa Benua Merah, Kui Lok Mo, sambil menjentikkan jari telunjuk ke jari jempolnya, tubuh Coa Kun menegang dan napasnya tersengal-sengal, mata merahnya semakin merah.
”Apakah ini kekuatan bocah?, ayo jawab!, jentikkan sekali lagi dariku maka kau mati”, kata pria itu.
”A aa-ku mo… honnn, maaa.. aaf kan kesalahan ku, aa-aku akan patuh”, kata Coa Kun dengan susah payah.
”Baiklah, kau dan aku akan pergi dari tempat ini”, kata Kui Lok Mo dan,
Splaaasshhh!!!
Keduanya menghilang.
Di tempat lain di bagian tengah di area medan perang lainnya,
Putri Duan In Mey, mengerahkan tenaga kultivasinya dia lalu mengangkat dua tubuh sekaligus, kedua tubuh itu adalah kakak-kakaknya yang tidak sadarkan diri dan dalam kondisi terluka cukup parah.
Keduanya diletakkan di dekat jasad ayahnya, dengan bercucuran air mata, putri Duan In Mey berusaha menyadarkan kedua kakaknya, namun luka pada tubuh mereka cukup parah dan tingkat kultivasi putri ini sangat rendah untuk menyadarkan keduanya.
Wajah cantik Putri Duan In Mey sudah tidak terlihat sebagai putri yang bermartabat lagi, wajahnya dipenuhi oleh debu perang dan percikan darah sudah menutupi sebagian wajahnya, dia dilanda putus asa, dan dikelilingi oleh mayat-mayat yang bertumpuk dimana-mana.
”Aku akan membantumu gadis kecil”, sebuah suara muncul di belakang sang putri.
Sosok pria gagah dan tampan ada dibelakangnya ketika Putri Duan In Mey memutar badannya dan melihat, wajah ini sedikit mirip dengan seseorang namun dia lupa,
dimana wajah ini di temui?.
”Tidak perlu kau takut gadis kecil, aku berniat tulus membantumu?, kata pria itu tersenyum, wajah pria itu seperti diselimuti oleh kabut terkadang jelas terkadang ada kabut yang menghalangi wajahnya, Putri Duan In Mey seperti melihat seorang dewa yang berdiri di depannya.
Pria itu lalu menghampiri tubuh tergeletak Pangeran Duan Wu Hong dan Putri Duan Ling, tangannya lalu menyentuh beberapa titik akupuntur di punggung maupun bagian leher dan wajah keduanya, tidak lama kemudian wajah kedua putra dan putri Duan langsung berubah dari wajah pucat seputih kertas menjadi putih kemerah-merahan dan napas keduanya menghela dengan teratur dan lembut, keduanya dalam kondisi tidur biasa seperti tidak mengalami luka-luka sebelumnya.
”Tuan Penolong, kalau boleh menolong dan membantuku sekali lagi, bolehkah aku meminta agar ayahku dapat dibangkitkan dari kematiannya?”, pinta Putri Duan In Mey dengan wajah khawatir dan memohon.
Pria itu hanya tersenyum dan tertawa kecil,
katanya, ” he he he…, gadis kecil, harapanmu terlalu muluk, siapakah aku ini?, aku juga hanya manusia, dan ayahmu yang mati adalah kehendak takdir, sekalipun aku dapat menyembuhkan lukanya namun jiwa dan rohnya sudah tidak ada dalam tubuhnya, mungkin malah menjadi rebutan bagi jiwa-jiwa yang berkeliaran dan kau tidak akan mengenal ayahmu seperti sebelumnya”, kata lelaki itu.
Putri Duan In Mey sedikit terkejut mendengarnya, dia pun mengerti bahwa ayahnya sudah berbeda dunia dengannya.
”Siapa namamu gadis kecil?”, tanya pria itu.
”Aku Duan In Mey, dan ini kakak lelakiku Duan Wu Hong, dan itu kakak perempuanku Duan Ling”, jawab Putri Duan In Mey.
”Maukah engkau ikut denganku sebagai muridku?”, kata Pria itu lagi.
Betapa terkejutnya putri Duan In Mey mendengarnya, jika dalam keadaan biasa mungkin dia akan segera menjawab dengan berjingkrak-jingkrak gembira, dia tahu bahwa pria di depannya bukanlah seorang kultivator biasa bahkan mungkin seorang kultivator yang memiliki ketinggian ilmu kesaktian yang jauh diatas yang diketahuinya, karena ada rasa transenden yang melingkupi sosok di depannya ini, namun waktunya tidak tepat, pikirannya terbagi dengan keadaan saat ini, dia adalah seorang putri kerajaan yang memiliki tanggung jawab, banyak hal yang harus dilakukan setelah peristiwa yang menimpa kerajaannya, dia harus mengatur kondisi kerajaan karena ayahnya telah tiada sementara dua saudaranya dalam kondisi tidak berdaya, dan nasib kakak sulungnya belum diketahui.
”Aku tidak berharap kau menjawab secepatnya, aku mengerti akan kesulitanmu, pergilah ke istanamu dan lakukan tanggung jawabmu”, kata pria itu sambil tangannya menyentuh pundak Putri Duan In Mey, ada energi yang mengalir ke tubuh Putri Duan In Mey yang menyusup dengan hangat, dan memberi kekuatan baru
”Jika kau berubah pikiran aku akan tahu”, jawab pria itu lalu menghilang.
Tinggal Putri Duan In Mey yang terbengong-bengong di tempat itu.
”Ketuklah tengkuk kedua saudaramu !”, kata sebuah suara dalam dirinya, sang putri pun terbangun dari lamunannya dan melakukan perintah itu, maka sadarlah kedua saudara itu, mereka heran bahwa kondisi tubuh mereka sehat segar bugar tanpa menderita luka sedikitpun, namun keheranan mereka tergantikan oleh kesedihan yang sangat menyakitkan melihat mayat kaku ayah mereka yang terbaring di dekatnya.
Kondisi dan situasi istana Chong Yang berubah total akibat penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Ming Lan yang dibantu oleh dua sekte besar Benua itu.
Ternyata Pangeran Duan Leng lolos dari petaka kematian akibat perang, dan dengan kekuatan pasukan di bawah komandonya masih memiliki kekuatan terbesar dibandingkan pasukan dibawah komando lainnya, terutama di bawah komando Pangeran Duan Wu Hong, maka dia mengambil posisi sebagai raja, hal itu perlu segera dilakukan demi stabilitas sebuah negara dan pangeran Duan Wu Hong pun tidak mempersoalkannya.
Putri Duan In Mey mengutarakan maksudnya untuk melepaskan atribut kebangsawananya sebagai putri dan ingin pergi dari istana dan pergi merantau, ditentang oleh saudara-saudaranya, karena tingkat kultivasi sang putri masih lemah dibandingkan Putri Duan Ling dan Pangeran Duan Wu Hong, demikian juga pendapat Raja Duan Leng, walaupun niat menjodohkan sang putri telah menguap, namun dia beralasan yang sama dengan saudara-saudaranya.
”Kakak berdua bagaimana kalau kita pergi bertiga, urusan kerajaan kita serahkan pada kakak sulung?”, usul Putri Duan In Mey pada saudara-saudaranya suatu hari tanpa kehadiran Raja Duan Leng.
”Adik apa maksudmu?, sekalipun aku tidak berambisi pada kekuasaan namun kita wajib menjaga kerajaan Chong Yang ini sebagai kerajaan kita, dan kita memiliki tanggung jawab sebagai keturunan ayah kita”, kata Duan Wu Hong.
”Menjadi kuat adalah segalanya, saat ini kita ternyata sangat lemah sehingga ayah pun harus tewas di medan perang dan satu-satunya alasan aku ingin pergi adalah ingin menjadi kuat dan dapat melindungi rakyat kita dari musuh-musuh kita serta membalas perbuatan mereka”, kata putri Duan In Mey penuh semangat.
Putri Duan Ling tergerak oleh kata-kata adiknya,
”Menjadi kuat adalah ya, tapi keluar dari istana ini harus memiliki tempat tujuan dan menemukan seorang mahaguru yang kekuatannya diatas 3 Manusia Abadi Sekte Samudera Naga tidak mudah, bahkan lebih mudah mengarungi lautan api”, kata Putri Duan Ling.
Putri Duan In Mey menoleh,
”Apakah kakak berdua setuju, jika aku menemukan orang itu dan membiarkan aku pergi?”, kata Putri Duan In Mey.
Pangeran Duan Wu Hong bereaksi,
”Setidaknya aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu”, jawab Pangeran Duan Wu Hong.
Putri Duan Ling menghampiri adiknya, dan memeluk adiknya itu,
”Aku akan turut serta denganmu dan memohon orang itu mengambilku sebagai murid jika dia tidak berkenan, aku akan jadi pelayannya juga sudah cukup”, kata Putri Duan Ling mantap.
Wuuuuuss…!!!!,
Sesuatu muncul di hadapan mereka,
”Maukah kalian bertiga mengikutiku, soal menjadi murid, tergantung bakat dan jodoh”, Suara agung yang tiba-tiba muncul itu diikuti dengan sebuah sosok yang transenden.
Betapa terkejut tiga bersaudara ini, terutama Pangeran Duan Wu Hong dan Putri Duan Ling, didepan mereka berdiri sosok gagah seorang pria 30 tahunan.
Putri Duan In Mey berdiri dengan khidmat,
”Aku Duan In Mey menyambut Tuan Penolong”, Putri Duan In Mey menyapa.
Sebaliknya Putri Duan Ling ketakutan dan gugup,
”A…a -a aku Duan Ling menyapa Tuan ”,
kata Putri Duan Ling terbata-bata.
Pangeran Duan Wu Hong tidak mengucapkan sepatah katapun, dia tertegun oleh kedatangan tokoh ini, dia menyadari sekarang bahwa tingkat kultivasi tokoh di depannya tidak bisa dia duga, dia pernah menghadapi seorang kultivator di atasnya dan dia merasakan energi lawannya itu, namun orang didepannya memberikan rasa hormat dan kengerian yang lebih hebat dari orang-orang yang pernah dihadapinya, ini membuktikan bahwa ketinggian tingkat kultivasi orang ini jauh di atas pikirannya.
”Kakak berdua aku sudah memutuskan akan ikut dengannya”, kata Duan In Mey.
Kedua kakaknya menoleh pada pria misterius itu, aura yang tidak terduga terpancar dari dirinya, sebuah ide tiba-tiba muncul dibenak Pangeran Duan Wu Hong,
”Tuan, jika engkau berkenan, bawalah kami bertiga, dan kami bersedia melayanimu jika engkau menolak mengambil kami menjadi murid”,
kata Pangeran Duan Wu Hong.
”Aku akan katakan sekali lagi, bahwa menjadi murid atau tidak itu tergantung jodoh dan bakat, saat ini aku hanya tertarik melihat gadis kecil ini menjadi muridku, sedangkan kalian akan kubawa ke tempatku mungkin kalian akan menemukan guru yang cocok disana”, kata pria itu sambil telunjuknya mengarah pada Putri Duan In Mey.
”Kami siap tuan” serentak ketiga menjawab.
”Baiklah, mulai sekarang kalian tidak lagi menggunakan klan marga kalian, agar tidak menjadi masalah, aku akan memanggil Duan Ling menjadi An Ling dan Duan Wu Hong menjadi Wu Hong serta Duan In Mey, menjadi An In Mey, satu syarat dariku semua, jati diri kalian hanya ada di istana ini, diluar istana ini, kalian memiliki identitas lain, apakah kalian mengerti?, sekarang juga kita keluar dari tempat ini, kalian kuberi waktu untuk meninggalkan pesan bagi orang istana ini, tidak perlu detail dan lakukan secepatnya”, kata orang itu.
Segera ketiga bersaudara satu ayah ini berkemas seperlunya dan mengganti pakaian yang sederhana dan ringkas, setelah selesai empat orang itu langsung menghilang begitu saja.
Dimanakah Phang Cui Lin berada?
Apakah dia tahu bahwa petaka menimpa kerajaan ChongYang dan Sekte Samudera Naga?
Sudah setahun waktu berjalan sejak Thian Sian Li pergi meninggalkan benua Chong Yang dengan membawa Han Long.
Seorang wanita matang sekitar 30 tahunan terlihat berjalan di sebuah kota bernama Kota Mawar Benua Chong Yang, kota ini masuk dalam wilayah perlindungan Sekte Gunung Abadi, sekte yang mengutamakan keahlian dalam bidang pengobatan dan alkimia yaitu bidang yang bergelut dalam produksi pil-pil penguat tubuh atau peningkatan kultivasi.
Sudah setahun pula Phang Cui Lin membeli sebuah pondok sederhana dan menetap di kota ini, bersama dengan Han Eng yang diakuinya sebagai murid, mereka berdua berkultivasi tertutup, baru sekarang Phang Cui Lin keluar dari pondoknya dan menikmati keramaian kota Mawar ini.
Selama setahun menjalani kultivasi pahit dan keras, terjadi perubahan penampilan dalam dirinya, kulitnya jadi lebih halus dan kencang sehingga wajahnya tampil lebih segar dan muda dari setahun yang lalu, hal ini sangat menggembirakan hatinya dan itu memberinya rasa hormat kepada Sian Li yang diakuinya sebagai tuannya lebih dalam.
Warna merah pada bola matanya pun menunjukkan perubahan dimana warna merah di bola matanya sedikit pucat dibandingkan dengan Ras Iblis yang menjadi ciri selain bentuk telinga yang meruncing ke atas.
Tingkat kultivasinya tumbuh dengan cepat, saat ini dia sudah mencapai tingkat Insan Raja ke-9 Awal, dulu sebelum bertemu dengan Sian Li, tingkat Insan Raja ke-8 adalah cita-cita yang sulit dia raih namun kini dia sudah melampauinya.
Apakah perubahan fisik ini berhubungan dengan tingkat kultivasi seseorang?, Phang Cui Lin tidak memusingkannya, jika itu terjadi maka dia lebih bahagia, karena dia akan tampil lebih elegan dan anggun seperti bangsawan ras manusia.
Orang tidak menyangka bahwa wanita itu telah berusia diatas 50 tahun, orang akan menganggap bahwa Phang Cui Lin berusia dibawah 30 tahunan, dengan postur tubuh tinggi seperti kebanyakan ras iblis, namun dia tampil lebih anggun seperti ras manusia bangsawan, bahunya rata dan tegap, dengan dua bongkahan dada yang besar dan ditopang oleh lingkar pinggang yang ramping serta otot pinggul yang membulat penuh, menari dengan kokoh saat dia berjalan.
Wanita ini berjalan dengan santai, semestinya seorang seperti dia biasanya selalu disertai dengan beberapa pria kuat yang menyertainya sebagai pengawal, karena gaun dan riasannya menampakkan sosok bangsawan atau sosok penting pada sebuah kerajaan, namun jika orang melihatnya sekarang sosok ini menandakan bahwa orang ini memiliki kepribadian yang bebas tidak mau terikat.
Kakinya terus melangkah dengan pasti menuju sebuah rumah makan yang cukup mewah, tidak lama kemudian dia sudah masuk dan terus melangkah menaiki tangga menuju lantai selanjutnya yang biasanya adalah sebuah tempat yang sudah disewa sebelumnya.
Di lantai tiga rumah makan itu ada tiga orang duduk di meja makan dekat jendela yang memiliki pemandangan yang bisa melihat ke segala arah.
”Akhirnya Tetua Phang dapat memenuhi undangan kami, bagaimana kabar tetua?”, seorang pemuda berpakaian sederhana berdiri menyambut Phang Cui Lin.
”Ternyata Raja Duan sendiri yang datang menyambutku, dan adik Kepala Sekolah Wang Shen, sebuah kehormatan bagiku”, kata Phang Cui Lin.
Ternyata mereka adalah Pangeran Duan Leng atau sekarang telah menjadi Raja Duan, disertai dengan seorang tokoh Sekte Samudera Naga yaitu Wang Shen, dan seorang agen intelijen kerajaan Chong Yang, mereka bermaksud menemui Phang Cui Lin untuk merekrutnya menjadi penasehat kerajaan, namun itu hanya bersifat sementara, yang lebih penting adalah tujuan mereka untuk balas dendam pada kerajaan Ming Lan, membunuh Raja Ming dan Putra Mahkota, yang sudah menghancurkan Kerajaan Chong Yang.
”Mari kita langsung ke inti masalah, aku sudah mendengar peristiwa itu, namun kekuatanku belum mencukupi untuk menerobos penjagaan istana Ming Lan, namun sekarang berbeda”, kata Phang Cui Lin sambil duduk dan langsung mengambil cangkir dan menuangkan anggur ke dalamnya.
Bagi Pangeran Duan Leng, sejak pertemuannya di rumah makan Laut Timur dia menjadi terobsesi dengan sosok Phang Cui Lin, dia tidak merasa tetua wanita ini seniornya tapi menganggap seorang wanita yang sudah menggetarkan perasaannya, dan lebih dari itu, dengan dukungan orang sekuat Phang Cui Lin, kedudukannya sebagai Raja tidak tergoyahkan, bahkan cita-citanya untuk menguasai Benua Chong Yang dapat terwujud.
Jadi kenapa seorang raja mau menemui seseorang yang akan dimintanya untuk melakukan sesuatu, itu juga karena dorongan hatinya untuk melihat kondisi Phang Cui Lin yang sekarang terlihat lebih muda dan lebih menarik.
”Sebuah kabar baik yang dibawa oleh tetua Phang, jika ini sudah selesai maka aku pribadi mengundang tetua untuk mengisi jabatan di istana, dan kuharap tetua tidak menolak”. Kata Raja Duan.
”Maafkan aku raja, tempatku adalah seluruh dunia ini, dan aku tidak mampu dengan posisi seperti itu, aku hanya seorang wanita biasa yang selalu fokus pada peningkatan kekuatan pribadi dan juga pembalasan ini adalah misi pribadi tanpa harus diminta oleh pihak Istana atau sekte aku akan melakukan pembalasan ini”, tolak Phang Cui Lin, dia menolak jabatan itu namun, dia berkomitmen melakukan pembalasan pada kerajaan Ming Lan karena dia juga orang yang tidak lupa akan asalnya, apalagi dia juga sangat menghormati Tetua Kong Lan salah satu anggota wanita dari 3 Manusia Abadi, yang pernah membimbingnya bersama Bing Siauw salah satu tetua Sekte.
Mendengar ini, Raja Duan hanya dapat menarik nafas.
”Namun setidaknya kami dapat mengetahui hasil itu dan mulut saudara senior Phang sendiri, dan juga kakak senior, tetua Phang Kok sangat ingin menemui senior Phang Cui Lin”, kata tokoh Sekte Samudera Naga Wang Shen
”Baiklah, ketika hal ini selesai aku akan berkunjung ke istana dan ke sekte untuk menemui kakakku, dan sekarang aku akan pergi, selamat tinggal”, kata Phang Cui Lin sambil berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa saat Phang Cui Lin pergi,
”Kekuatan Senior Phang saat ini sudah tidak terduga, aku merasa menggigil di dekatnya, Raja, kurasa pekerjaan ini akan diselesaikan dengan mudah oleh Senior Phang Cui Lin, sebaiknya kita kembali ke kerajaan Chong Yang, tidak baik seorang raja meninggalkan istana terlalu lama”, kata Wang Shen yang disetujui oleh orang yang bersama mereka namun tidak pernah berbicara, dia adalah tangan kanan Perdana Menteri Kim atau keponakan Perdana Menteri, bernama Kim Siauw Teng.
Raja Duan yang sekarang adalah pria yang berambisi, dia merasa sakit hati atas penyerbuan oleh sahabatnya sendiri sehingga ayahnya tewas, walaupun itu dilakukan oleh hasutan sekelompok orang dari luar benua Chong Yang
Bagaimana Pangeran Duan Leng atau Raja Duan ini dapat menemukan Phang Cui Lin dan mengundangnya untuk menemuinya?.
Semua ini adalah strategi Perdana Menteri Kim, seorang yang selama ini mendukung pangeran ini menjadi raja untuk menggantikan ayahnya, dengan sumber daya yang dimiliki oleh Kerajaan Chong Yang mereka menebar para agen intelijen nya untuk menemukan Phang Cui Lin, untuk tujuan tertentu.
Perdana Menteri Kim adalah orang yang setia pada Kerajaan Chong Yang, dibandingkan dengan Pangeran Duan Wu Hong, Pangeran Duan Leng lebih mampu memimpin kerajaan walaupun tingkat kekuatan mereka sama namun Perdana Menteri Kim melihat Pangeran Duan Wu Hong tidak tertarik pada politik Negara.
Menurut Perdana Menteri Kim, perbuatan yang dilakukan oleh kerajaan Ming Lan harus dibalas dan dibayar dengan bunganya, hal itu terus dia dengungkan ke Raja Duan ini, dan cara yang jitu adalah mencari orang terkuat dari luar kerajaan agar tidak menimbulkan ketidakstabilan di benua Chong Yang yang bakal menarik kerajaan lainnya, ada beberapa sesepuh Sekte Samudera Naga yang juga mendukung operasi pembalasan ini karena kematian 3 Manusia Abadi.
Sesaat kemudian Phang Cui Lin telah tiba si pondik sederhananya, dia melihat ke ruangan Han Eng dan dimana Han Eng masih berkultivasi tanpa menghiraukan apapun.
Phang Cui Lin mengambil kertas dan menuliskan pesan pada Han Eng bahwa dirinya akan pergi untuk melakukan sesuatu, pesan itu dia tinggalkan di depan pintu kamarnya, setelah beberapa saat sebuah bayangan keluar dengan cepat meninggalkan pondok sederhana itu dengan cepat.
Di Ibukota Kerajaan Ming Lan, desas-desus pembalasan terhadap keluarga kerajaan sudah mereka dengar, dan rumor itu semakin kuat, bahwa Kerajaan Chong Yang tidak akan tinggal diam melihat kematian Raja Kerajaan Chong Yang dan 3 Manusia Abadi Sekte Samudera Naga berlalu begitu saja, sebagai kekuatan di Benua Chong Yang hal itu mencoreng kehormatan mereka.
Sebenarnya kerajaan Ming Lan sudah menawarkan kompensasi, bahkan berniat menjalin pernikahan yaitu menikahkan Putra Mahkota Ming Tek Kong dengan salah satu putri Duan, namun oleh Raja Duan yang sekarang, semua itu ditolak, melihat ini Raja Ming Kwa Ong sudah menduga pembalasan yang akan terjadi.
Hubungan dua kerajaan yang tadinya harmonis kini menjadi perang dingin, saling sabotase informasi dan perampokkan barang-barang ekspedisi dua negara kerajaan menjadi persoalan yang lumrah terjadi, namun kedua negara ini tidak mau mengadakan perang terbuka seperti sebelumnya karena akan muncul orang-orang sakti dari luar benua yang akan memanfaatkan situasi dan akhirnya mengakibatkan kelemahan kerajaan mereka sendiri, dan awal masalah ini pun hasil hasutan orang-orang dari luar benua Chong Yang.
Penjagaan Ibukota Ming Lan diperketat, dan sejumlah orang-orang berilmu tinggi yang menyamar jadi penduduk biasa, berkeliaran di ibukota untuk mengawasi wajah-wajah baru.
Sosok wanita cantik yang berjalan santai di sebuah jalan raya, menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
Penampilan Phang Cui Lin berubah, dengan pakaian sederhana dia mengubah penampilannya, namun dia tidak bisa menutupi wajah cantiknya, selintas dia terlihat seperti wanita biasa tanpa kultivasi, tanpa kekuatan namun keberadaan ini menarik perhatian beberapa ahli istana Ming Lan, tidak heran, beberapa orang disekitarnya selalu waspada, apalagi tujuan langkah Phang Cui Lin mengarah pada istana kerajaan Ming Lan sehingga tingkat kewaspadaan orang-orang disekitarnya semakin tinggi.
Phang Cui Lin pun tahu situasi ini, tapi dia tetap percaya diri dan tidak peduli, tiba-tiba dia berbelok arah dan masuk ke rumah makan dan mencari sebuah meja di lantai dua rumah makan itu lalu memesan beberapa hidangan serta anggur.
Selang waktu kemudian, dia keluar dan berbelok kembali ke sebuah jalan kecil, dengan mengerahkan kekuatannya dia pergi dengan secepat kilat dan menghilang dari tempat itu, hal ini membuat para penguntitnya panik, mereka bingung wanita yang diikutinya sudah tidak ada.
Beberapa hari kemudian di istana kerajaan Ming Lan terjadi peristiwa yang hanya diketahui oleh keluarga raja dan para menterinya bahwa Raja dan putra Mahkota telah tewas dengan tubuh hancur tidak berbentuk, hal itu tidak diberitahukan keluar istana.
Di lain tempat, Phang Cui Lin kembali muncul di sebuah penginapan, dia kembali dengan penampilan semula ketika dia baru memasuki ibukota Ming Lan, dia dengan santai berjalan keluar dari penginapan dan terus maju menuju gerbang keluar ibukota.
Di depan gerbang keluar ibukota, ratusan ahli kerajaan Ming Lan telah berkumpul dalam rangka memeriksa setiap orang yang akan meninggalkan ibukota, demgan langkah tenang Phang Cui Lin langsung menghampiri para ahli itu dan berkata
”Apakah kalian mencari pembunuh raja dan putra Mahkota, aku memiliki informasi itu, tapi jumlah kalian sangat sedikit dan aku takut kehilangan nyawa karena kalian tidak bisa menandingi orang itu, tingkat kultivasi orang itu sangat tinggi”
kata Phang Cui Lin dengan memasang muka cemas.
”Atas dasar apa kami mempercayai dirimu?”, kata seorang lelaki paruh baya diantara mereka, berita ini sangat penting karena misi ini adalah tanggung jawab mereka.
”Aku pernah melayani pria itu, dan dia secara tidak sengaja mengatakan dengan sombong sebuah misi rahasia padaku, dan aku hanya ingin hidup, jadi aku ingin imbalan dari informasi itu”, jawab Phang Cui Lin.
”Sebutkan saja dimana orang itu, dan kamu menemani kami untuk menangkap orang tersebut dan upahmu akan kami serahkan saat kami meringkus orang tersebut”, kata yang lainnya.
”Aku ingin melihat upahku walau belum kau serahkan upah itu minimal aku tahu berapa nilai informasi ini, dan juga jumlah kalian terlalu sedikit untuk menangkap orang itu”, kata Phang Cui Lin kembali.
”Jangan kau khawatir soal jumlah kami, sebutkan tempat itu dan kau temani kami, ini upahmu namun kau akan terima setelah orang itu kami tangkap”, kata seseorang yang merupakan pimpinan rombongan para ahli kerajaan Ming Lan sambil menunjukkan sejumlah harta di depan mata Phang Cui Lin.
Phang Cui Lin mengerahkan teknik jiwanya dan tahu bahwa pemimpin rombongan pada tingkat Kultivasi Insan Raja ke -8 Lanjutan, dengan wajah masih cemas Phang Cui Lin lalu menyebutkan sebuah tempat dimana dia menginap, dan menuntun orang-orang itu yang jumlahnya sekitar 30 ahli, yang terendah adalah tingkat Insan Raja ke-7 Awal.
Rombongan para Ahli kerajaan Ming Lan mengikuti langkah Phang Cui Lin, dan jumlah mereka semakin bertambah seiring dengan jarak perjalanan menuju tempat yang dimaksud, Phang Cui Lin sengaja melakukan sandiwara ketakutan karena rencananya adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya para ahli kerajaan Ming Lan dan membunuh sebanyak-banyaknya.
Dendam Phang Cui Lin sangat kuat, dia merasa sakit hati atas tindakan kerajaan Ming Lan yang membuat tewasnya pilar Sekte Samudera Naga, dan dengan membunuh para ahli Kerajaan Ming Lan dianggap menarik bunga pembalasan itu.
Jumlah itu bertambah, sekarang sekitar 70 ahli yang mengikutinya belum termasuk yang menyebar di sekitarnya kemungkinan mencapai ratusan ahli, Phang Cui Lin sudah membulatkan tekad akan menghabisi mereka semua.
”Nah kita sudah sampai, yang mana orangnya?”, kata pemimpin rombongan itu, namun,
Blaaarrrr ….!!!!
Dess… desss…!!!!
Uhugh…Ouchhh…,ouchhh…!!!
Diawali oleh jatuhnya pimpinan rombongan, beberapa tubuh yang mengelilingi Phang Cui Lin berjatuhan dengan nafas terakhir dalam keluhan mereka, ketika Phang Cui Lin mengerahkan energi kultivasi dari Teknik yang diberikan oleh Sian Li yang dia beri nama teknik ‘Hantam Bumi Energi Surga’.
Memang tidak percuma bahwa teknik ini dalam kategori Dewa kelas Pokok, hanya dengan hawa udaranya sama menimbulkan korban tidak bernyawa berjumlah puluhan apalagi yang langsung terhantam oleh energinya seperti pimpinan rombongan para ahli dan orang-orang sekeliling Phang Cui Lin, mereka langsung menjadi tumpukan daging yang hancur tidak berbentuk.
Melihat kejadian ini, sisa para ahli yang masih berkeliaran di sekitar Phang Cui Lin terkejut bukan main, mereka tidak menyangka kekuatan yang ditimbulkan wanita ini di luar imajinasi mereka, walau mereka waspada sebelumnya namun kekuatan ini sangat mengejutkan.
”Serang…!!! Bunuh wanita itu!!!”
Puluhan bahkan ratusan ahli langsung menyerbu dan mengerahkan ilmu kesaktian mereka masing-masing, hanya pada satu target dan target itu adalah seorang wanita berpakaian sederhana yang ternyata memiliki kekuatan dahsyat, dan hasilnya adalah bagaikan segerombolan serangga yang tertarik pada sinar cahaya dimana sinar itu mengeluarkan energi panas yang menghanguskan serangga tersebut.
pertarungan itu berjalan sampai hari menjadi gelap, ini tidak bisa disebut pertarungan walaupun hanya satu lawan ratusan orang namun ini lebih cenderung disebut pembantaian.
Phang Cui Lin sengaja mengeluarkan trik dengan menjadi orang lemah, maksudnya adalah mengumpulkan seluruh ahli kultivator kerajaan Ming Lan pada suatu tempat dan dengan keyakinan tingkat kultivasinya sudah tertinggi di Kerajaan Ming Lan, maka mudah saja dia menghabisi para ahli tersebut.
Namun sehebat-hebatnya tingkat kultivasi seseorang yang jaraknya tidak begitu signifikan terhadap lawan yang jumlahnya mencapai ratusan, tetap menimbulkan masalah tersendiri, akhirnya Phang Cui Lin kelelahan juga dan tenaganya terkuras dan mempengaruhi daya serangnya, ditambah dia sebetulnya belum menyempurnakan teknik Hantam Bumi Energi Surga pada tingkat Sempurna, dia baru menguasai 25 persen saja.
“Tetap Serang …. Hindari bentrokan langsung ….!!!”,
“Kurung dan kepung wanita buas ini…!!!”
“Biarkan dia kelelahan… gunakan senjata jarak jauh…. jangan berhadapan langsung..”
Setiap teriakan dan seruan, merupakan komando dari pasukan kerajaan Ming Lan yang datang berduyun-duyun, dan kepungan itu semakin rapat, sehingga menyulitkan Phang Cui Lin untuk melarikan diri.
Akhirnya sebuah keputusan diambil oleh Phang Cui Lin, dia akan mengorbankan dirinya dengan meledakkan diri, yaitu yang disebut langkah terakhir yang dijalani seorang kultivator tingkat tinggi dengan meledakkan energi dalam dirinya, dan tingkat Kultivasi Insan Raja ke-9 Awal akan memberi dampak besar pada wilayah Ibukota kerajaan Ming Lan yang cukup parah.
Awaaaaaaassssss…..!!!, Hati-hati…. jauhi tempat itu….!!!
Dia akan meledakkan dirinya…!!!!
Sesosok manusia bergerak ke arah Phang Cui Lin dan merangkul tubuh tersebut,
Wusssss…..
Sret…. wuuuuttttt…. wuuuuutttt !!!
Sosok itu lalu meloncat ke udara dengan membawa tubuh Phang Cui Lin dengan melewati beberapa orang prajurit dan tubuh orang itu bergerak dengan sangat cepat dan seperti dihembus oleh angin dua sosok tubuh itu menghilang, yang tersisa adalah puluhan mayat hasil terjangan Phang Cui Lin.