Di kota Mawar, pada sebuah jalan raya yang posisinya cukup sepi, di pondok sederhana, Han Eng menyudahi latihan kultivasinya, ada sedikit raut gembira diwajahnya, dia tersenyum karena dia sudah memahami sebagian teknik beladiri yang pernah diberikan oleh Han Long yang tercetak di sebuah Lukisan Acak dan Aneh pada kerajaan Chong Yang dan ternyata teknik beladiri ini termasuk kategori Dewa kelas Sempurna, namun demikian hanya sebagian saja yang saat ini dapat dikuasai, itupun hanya beberapa poin pentingnya saja belum mendetail secara keseluruhan teknik tersebut mungkin sekitar 30 persen saja dari seluruh teknik itu.
Namun hasil itu sudah merupakan hasil terbaik yang dapat diperolehnya, seandainya saja ada Han Long, seorang pemuda yang selalu berada disampingnya, mungkin dia akan mendapatkan teknik yang lebih luas dari pandangan Han Long, mengingat itu Han Eng menjadi teringat akan diri Han Long yang tampil bodoh dan konyol di depannya, Han Eng terkadang tersenyum membayangkan kekonyolan yang dilakukan oleh pemuda yang sekarang mendapat tempat istimewa di hatinya walaupun dia tahu bahwa perhatian Han Long pada dirinya tidak menunjukkan sesuatu yang berlebihan, dan inisiatif terakhir yang dilakukan oleh Han Eng kepada Han Long untuk menunjukkan hasratnya apakah sama dengan yang diharapkannya?, Han Eng sendiri tidak yakin.
Kultivasi Han Eng meningkat selama setahun terakhir ini, pada usianya yang akan menginjak 17 tahun Han Eng sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-6 Puncak sedikit lagi dia akan menembus langkah Tingkat Insan Raja.
Tingkat ini akan menempatkan dirinya sebagai penguasa baru Kota kelahirannya, Kota Yang In, yang rata-rata para kepala klan hanya mencapai Imajinasi Roh ke-2.
“Hmmm… dimana tetua Phang?”, sambil mengatur nafasnya Han Eng menyadari dengan persepsi jiwanya tidak merasakan kehadiran Phang Cui Lin.
Han Eng turun dari tempat dimana dia tadi bersila dalam posisi kultivasi, dan kakinya melangkah keluar dari ruangannya, dia melihat kearah kamar Phang Cui Lin dan dia melihat sebuah kertas yang bertuliskan beberapa kode dan simbol-simbol tertentu sebagai bentuk komunikasi antara dirinya dengan Phang Cui Lin.
Keningnya sedikit berkerut membaca pesan yang ditinggalkan oleh Phang Cui Lin, disini dia memahami isi pesan itu tapi dia sedikit kecewa kenapa tetua Phang tidak menunggunya atau membangunkan dirinya berkultivasi, karena Han Eng pun ingin terlibat pada misi balas dendam pada kerajaan Ming Lan yang sudah membuat Kerajaan Chong Yang menderita.
Han Eng merenung cukup lama, dia lalu mengambil keputusan untuk meningkatkan tingkat kultivasinya karena sekarang ada beberapa teknik yang belum dikuasainya, dia tahu, dia hanya menjadi beban bagi Tetua Phang jika dia memaksa ikut misi itu, dalam dirinya sudah berjanji untuk semakin kuat dalam Kultivasi dan Teknik beladiri, dimana sekarang dia memiliki 3 jenis Teknik beladiri dan satu Teknik Kultivasi pemberian dari ibunya Han Long yang dia tahu bernama ‘Tetua Sian Li’.
Ketiga Teknik yang dimaksud adalah Teknik warisan klannya klan Han yang ternyata sifat teknik itu jika dilatih dengan nasehat dari Han Long meningkatkan lagi kualitasnya, yang sekarang teknik itu dia beri nama ‘teknik Tarian Dewi Surgawi’ yang sudah dikuasai sepenuhnya tinggal menyempurnakan untuk dapat memasuki Kategori Dewa kelas Pokok dan menemukan sebuah pedang berkualitas tinggi untuk mengimbangi teknik tersebut.
Teknik berikutnya adalah yang tercantum pada lukisan acak atau aneh yang dia terima dari Han Long dan Teknik itu bernama “Senyap Jiwa Pengacau Langit” sebuah teknik Jiwa yang membuat musuh kehilangan kekuatan dan mengacaukan teknik pernafasan lawan, dimana teknik ini termasuk kategori Dewa kelas Lanjutan.
Dan teknik yang terakhir adalah teknik yang diberikan oleh Tetua Sian Li yang dia namakan Teknik Beladiri Mengaduk Samudera Menyangga Langit dan teknik kultivasi Tubuh dan Jiwa Selaras Samudera, dimana teknik itu terbagi menjadi tiga bagian dalam penguasaan sepenuhnya, dan Han Eng baru mengolah teknik ini pada tahap pertama sehingga dirinya sampai pada tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-6 Puncak.
Dia membayangkan apa yang akan terjadi bila dia menguasai teknik kultivasi pemberian Tetua Sian Li ini secara sempurna, ketinggian apa yang akan diperolehnya, seketika matanya berbinar, ada harapan dia mengejar ketertinggalannya dan dapat bersanding dengan Han Long, dia meyakini bahwa baik Teknik Beladiri dan Teknik Kultivasi dari Tetua Sian Li adalah Teknik kategori Dewa.
Sekarang Han Eng memiliki motivasi dan tujuan, 3 Teknik Beladiri dan 1 Teknik Kultivasi adalah tujuannya dalam meningkatkan kekuatannya, dengan demikian dia akan melangkah di dunia ini tidak dengan perasaan khawatir lagi namun menjadi seorang pemain yang tidak bisa diremehkan begitu saja, walaupun dia tahu banyak sudah para ahli yang tersembunyi yang memiliki tingkat kultivasi yang sulit dia bayangkan termasuk kultivasi Tetua Sian Li.
“Ha ha ha …. ternyata kau bersembunyi disini gadis kecil, dimana gurumu?, aku akan melawanmu”, sebuah suara anak muda bergema diluar, suara yang dikenal oleh Han Eng.
Han Eng sedikit terkejut mendengar suara yang dikenalnya, itu suara suara Coa Kun, anehnya suara ini berani berkoar dengan berani, sepengetahuan Han Eng , Coa Kun selama ini selalu menghindarinya sejak kekalahan pada kompetisi murid di Sekte Samudera Naga, kenapa dia sekarang berani mencarinya bahkan berani menantangnya.
Han Eng keluar dari pondok itu, dia melihat dua orang pemuda dimana Coa Kun terlihat berkacak pinggang dan menyeringai dengan sinis terhadap dirinya, sementara yang satu adalah seorang pemuda namun wajahnya tidak jelas seperti makhluk transenden.
‘Hm…, Coa Kun, apa maksudmu?, keyakinan apa sehingga kau berani menantangku?” Kata Han Eng tenang, kalau hanya menghadapi Coa Kun, dia percaya diri namun dalam hatinya ada kegelisahan melihat teman Coa Kun itu.
“Aku sengaja mencarimu, karena engkau bertindak pengecut dengan meninggalkan Sekte, ketika sekte sangat membutuhkan semua orang dari serangan pihak musuh”, kata Coa Kun dengan arogan, sudah enam bulan Coa Kun mengikuti orang yang bernama Kui Lok Mo ini, dia sekarang memiliki kepercayaan diri untuk dapat menunjukkan kekuatannya, dia juga sengaja mencari Han Eng, karena kekalahannya terhadap Han Eng membawa dampak pada jiwanya sehingga dia menjadi lebih lambat dalam berkultivasi, hal ini harus diobati dengan menantang kembali saingan seperti itu.
“Oh, apakah kau akan maju sendiri atau bersama kawanmu itu?” Tanya Han Eng, dia sengaja mengatakannya, karena itu hanya sebuah taktik agar musuh memunculkan harga dirinya, dan menantang secara pribadi.
“Ha ha ha…. gadis kecil…, kau cukup menarik…, benar sekali yang dikatakan muridku,
kau pantas menjadi saingan dari muridku, mental dan kecerdikanmu ternyata sungguh mengagumkan, aku tidak akan bergerak sedikitpun, malah jika muridku tidak dapat mengunggulimu maka aku akan mengangkatmu menjadi murid kecilku”,
Kata Kui Lok Mo tertawa-tawa karena dia merasa lucu menghadapi Han Eng ini, seekor semut yang memiliki nyali seekor naga, seandainya Han Eng tahu siapa dirinya, mungkin Han Eng akan langsung mati berdiri atau jasadnya langsung menguap begitu saja.
“Kalau begitu, Coa Kun bergeraklah aku akan melayanimu sampai kapanpun”, kata Han Eng
Coa Kun lalu membuat posisi dan bergerak langsung mengerahkan energi kultivasinya, ternyata dalam beberapa bulan saja tingkatnya sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-6 Awal, dan Teknik Tapak Iblis Gerhana nya meningkat lebih dahsyat ketika hawa panas langsung mengubah suhu di sekitarnya, Han Eng tanpa berkata apapun, dia mengerahkan tingkat kultivasinya dan hawa energi langsung meledak pada keduanya,
Duuuaaarrrrr…!!!
Dua benturan energi langsung meledak !
Tubuh Coa Kun bergoyang akibat benturan energi itu, sebaliknya Han Eng tidak berubah posisinya.
Bagi Kui Lok Mo ini hanya pertandingan semut, dia hanya tersenyum tanpa beranjak dari posisinya, yang seharusnya bagi orang yang menonton pertandingan sedekat ini akan meledakkan tubuh mereka jika mereka tidak menghindar.
Coa Kun sedikit terkejut melihat perubahan yang dibuat oleh Han Eng, dia tidak menyangka sebelumnya, dirinya telah menemukan seorang ‘mahaguru’, yang membuat dirinya meningkat dalam kultivasi hanya dalam beberapa bulan di bawah bimbingan sekelas penguasa Benua yakni Kui Lok Mo, namun dia tetap tidak dapat mengungguli Han Eng, keberuntungan apakah yang ditemukan oleh Han Eng sampai dia menjadi kuat seperti ini?
Han Eng pun sebenarnya merasa terkejut melihat kemajuan yang dicapai oleh Coa Kun, seharusnya dia menebak bahwa paling tinggi Coa Kun hanya pada tingkat Imajinasi Roh ke-3 selama setahun mereka tidak bertemu, namun sekarang Coa Kun berbeda, ini hanya disebabkan oleh orang disebelah Coa Kun, dirinya semakin cemas bila orang tersebut ikut campur pada pertempuran kali ini.
Han Eng lalu berubah posisi dia ingin menguji teknik yang sudah dikuasainya yakni Tarian Dewi Surgawi, maka dia mencabut sabuk yang melilit pada pinggangnya, yang ternyata tersembunyi sebuah pedang tipis, dia lalu menggerakkan pedang itu untuk mengusir hawa beracun yang disebabkan oleh teknik Tapak Iblis Gerhana milik Coa Kun maka,
Desss … tesss…tesssss…!!!
Gerakan Han Eng membuyarkan hawa beracun Coa Kun, Coa Kun lalu memutar pergelangan tangannya yang langsung terjadi perubahan warna pada lengannya dimana tangan itu sekarang berwarna-warni, sekarang Coa Kun memiliki perpaduan Teknik Tapak Iblis Gerhana yang dipadukan oleh Teknik Guntur Pelangi sehingga dari kedua tangannya selain mengeluarkan hawa beracun ada juga energi mematikan lainnya, seberkas sinar warna-warni menghantam dan mengarah pada Han Eng dengan arah yang sulit ditentukan.
Selama mengikuti Kui Lok Mo, Coa Kun hanya berlatih Teknik kultivasi, dan atas bimbingan Kui Lok Mo dia berhasil membuat teknik beladiri yang berasal dari teknik Beladiri yang sudah dikuasai sebelumnya, dan Kui Lok Mo menyempurnakan teknik tersebut sehingga Coa Kun memberi nama teknik gabungan itu dengan nama Tapak Guntur Iblis Gerhana.
Melihat dampak dari Teknik yang dikerahkan oleh Coa Kun, Han Eng merubah gerakannya dengan teknik bela diri dari Sian Li dan dengan teknik Mengaduk Samudera Menyangga Langit, Han Eng kembali unggul, seperti mendikte gerakan Coa Kun dan terlihat napas Coa Kun menjadi tidak teratur, karena kemanapun tangan Coa Kun bergerak seperti terhalang oleh pukulan dan sabetan pedang tipis Han Eng bahkan yang merepotkan adalah energi yang dikeluarkan dari teknik Han Eng seperti mengunci energi teknik Coa Kun.
Ada reaksi terkejut dari Kui Lok Mo, yang terlihat sekilas, jika keduanya tidak terlibat pertempuran dapat melihat reaksi itu, tubuh Kui Lok Mo sedikit bergoyang, yang sedari tadi diam dengan tenang, berubah tatkala Han Eng mengeluarkan Teknik Mengaduk Samudera Menyangga Langit.
Tubuh Kui Lok Mo bergerak, Han Eng tiba-tiba berhenti bergerak dan tubuh bergetar, dirinya kesulitan bernafas,
“A a a pa …maksud…mu? ka…u … bilang… ti..dak ..akan ikut .. cam..pur… lalu apa…yang ka…u laku…kan padaku?”, dengan susah payah Han Eng berbicara, keningnya sudah berkeringat besar-besar.
“ Apa hubunganmu dengan ‘situa Thian’?”, tanya Kui Lok Mo
Han Eng hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tekanan yang dia terima makin berat, dia sudah susah berucap lagi.
Coa KUn juga terkejut oleh tindakan gurunya, namun dia bersyukur karena dia terhindar dari kekalahan yang memalukan, dia sudah terdesak oleh Han Eng dan dia sudah siap mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk bertempur sampai habis-habisan.
Tekanan Kui Lok Mo semakin kuat, Han Eng sudah diambang kematian akibat tekanan energi yang dikeluarkan oleh kultivator setingkat penguasa Benua Merah yang Misterius ini.
“Hmmm, kelakuanmu tetap tidak berubah, Lok Mo !”, suara itu seperti beredar di sekitar arena yang menjadi pertempuran Han Eng dan Coa Kun.
Kui Lok Mo menoleh kekanan tubuhnya dan dia merasakan energi dahsyat disekitarnya,
“Akhirnya kau muncul tua bangka”, kata Kui Lok Mo tanpa melepaskan tekanan pada Han Eng.
Tiba-tiba seberkas sinar menghantam Han Eng dengan lembut, karena Han Eng sudah diujung nafasnya, dan sinar itu dengan lembut meresap kedalam tubuh Han Eng, serta membebaskan tekanan yang dibuat oleh Kui Lok Mo, Han Eng langsung terduduk dengan lemah, namun matanya memancarkan kemarahan pada sosok Kui Lok Mo.
Sosok Pria berjubah putih dengan rambut berwarna perak berdiri di depan Kui Lok Mo, punggungnya menghadap pada Han Eng, yang muncul tiba-tiba tanpa desir angin atau tanpa adanya fluktuasi energi apapun, seperti tubuh itu memang sedari tadi sudah berada disitu.
“Lok Mo tua apa kabar?, aku tahu apa maksudmu, terpaksa aku harus melindungi pewarisku, apakah kau akan menghancurkan dunia ini dengan pertarungan kita?, atau kau memiliki kepercayaan diri dengan kekuatanmu?”,
kata Pria itu, dari suaranya seperti seorang pemuda namun ada hawa wibawa yang sulit diduga dan pembawaannya yang tenang cukup memberikan tekanan pada Kui Lok Mo.
“Apa kau pikir aku takut meladenimu, dan ingat!, benua ini harus menanggung kerusakan akibat ulah kita, siapa yang harus disalahkan ?, tanya pada dirimu sendiri”, Jawab Kui Lok Mo, dia tahu siapa pria ini, dia juga tahu bahwa pria di depannya adalah saingan abadi, yang tingkat kultivasinya jauh diatasnya, namun jika harus terjadi pertempuran maka kiamat akan terjadi pada benua ini, dan semua itu akan ditanggung oleh pria di depannya, untuk itu Kui Lok Mo memiliki kartu truf terakhir untuk melawan pria ini.
Pria itu berdehem kemudian dia menoleh pada Coa Kun dan Han Eng, lalu katanya.
“Aku akan membawa gadis kecil ini, aku akan memberi kesempatan padamu untuk melatih pemuda itu, dan kita akan membuat perjanjian bahwa dalam lima tahun muridmu akan melawan anak gadis ini, bagaimana menurutmu?” Tanya pria itu pada Kui Lok Mo.
Kui Lok Mo belum menjawab dia merasa diatas angin karena dia tahu pria di depannya tidak akan bertindak ceroboh dengan melakukan pertempuran dengan dirinya, namun kesempatan ini hanya terjadi sekali, dengan itu Kui Lok Mo akan menekan pria ini dengan beberapa syarat, namun saat dia hendak membuka mulut, pria itu berucap kembali,
“Aku tahu, jika kau berbuat macam-macam aku akan mendatangi Benua Merah dan akan kubuat kiamat yang lebih parah yang dapat kau tanggung” kata pria itu,
Betapa terkejutnya Kui Lok Mo bahwa niatnya sudah diketahui, dia lalu tersenyum masam,
“Baiklah dalam lima tahun kita buktikan, namun jika salah satu murid itu menang maka pihak yang kalah harus bunuh diri, baik guru dan muridnya, bagaimana?” Kata Kui Lok Mo.
“Baik aku setuju”, kata Pria itu, lalu
Whusss…!!!
Pria itu sudah menghilang demikian juga dengan Han Eng.
Tinggal Coa Kun dan Kui Lok Mo yang tersisa, Coa Kun ingin mengucapkan sebuah kata namun Kui Lok Mo menggerakkan tangannya dan keduanya juga menghilang dari tempat itu, yang tersisa hanya bekas pertempuran Han Eng dan Coa Kun.
Di kedalaman Hutan kabut Putih ada sebuah danau dimana airnya berwarna merah, maka pemburu binatang buas yang sudah pernah ke tempat ini akan menamai danau itu adalah Danau Merah Misterius, dan tempat ini memang penghuninya adalah Binatang Buas yang dapat membunuh seorang kultivator tingkat Imajinasi Roh ke-6 Puncak.
Melewati sedikit dari wilayah Danau Merah Misterius ke arah sebelah timur, ada area yang tersembunyi karena ditutupi oleh pohon-pohon raksasa yang sangat rapat, di sebuah pondok yang dibangun dengan sederhana namun bersih ada tiga orang penghuni disini satu pria yang tampak masih muda namun dia bisa berubah menjadi orang tua dalam sekejap mata, dan dua orang wanita muda, yang sekilas umur keduanya tidak berpaut jauh.
“In er terimalah serangan ini, jaga posisimu”,
sebuah suara merdu terdengar di kedalaman hutan ini.
“Baik ibu, kau pun harus berhati-hati”,
kata suara lawannya yang tidak kalah merdunya dari suara pertama.
Maka terdengarlah deru angin dan beberapa ledakan yang mengiringi pertempuran di antara mereka, terlihat yang disapa ‘in er’ memiliki postur tubuh lebih tinggi dari yang disapa ‘ibu’ dan keduanya terlibat pertempuran yang sesungguhnya, karena serangan keduanya menimbulkan energi mematikan serta deru angin yang menakutkan para penghuni hutan yang dikenal buas dan ganas itu.
Ada seorang pria dengan mata tertutup di samping pertempuran itu, energi yang melingkari pertempuran itu tidak berpengaruh sedikitpun pada dirinya, dia dengan tenang duduk bersila dalam posisi kultivasi tanpa terganggu oleh suara maupun getaran yang ditimbulkan oleh energi pertempuran dari kedua wanita tersebut.
Coa Leng In sudah berada di kedalaman Hutan Kabut Putih ini sekitar 7 tahun, dia bersama ibu dan kakek buyutnya menghabiskan waktu disini, dan kesibukannya hanya meningkatkan kultivasi dibawah bimbingan leluhur dari pihak ibunya Yap Kun Tek, dan Yap Kun Tek inilah yang mengajar Teknik tingkat tinggi pada ibu dan anak ini.
Bakat Coa Leng In memang tidak mengecewakan Yap Kun Tek yang saat ini sudah mencapai Tingkat Raja Dewa ke-1 Puncak, dan Coa Leng In sudah mencapai tingkat Insan Raja ke-3 Lanjutan dan terjadi perubahan fisik pada Coa Leng In, bola matanya tidak semerah dulu serta cuping telinganya pun berubah tidak seruncing dulu, dan Yap Ing pun menunjukkan bakat terpendamnya dan bakat ini muncul karena dia terbebas dari tekanan madunya, ibu dari Coa Kun yakni Mo Eng, sehingga bagai burung lepas dan bebas, tingkat kultivasi Yap Ing langsung melesat mengejar ketertinggalannya terhadap putri semata wayangnya dengan bakat warisan keluarga ‘Yap’ dan membayangi putrinya itu pada tingkat Kultivasi Tingkat Insan Raja ke-3 Awal.
Ibu dan putrinya ini sudah sering melakukan latihan yang sungguh-sungguh seperti melawan musuh yang sangat sengit dan itu adalah anjuran dari Yap Kun Tek untuk selalu meningkatkan diri dengan lawan sesungguhnya, tadinya mereka berlatih dengan binatang buas di hutan ini, namun keberadaan binatang ini berkurang karena ketakutan menghadapi lawan yang tidak terkalahkan, bahkan Coa Leng In menguji dirinya sendiri dengan melawan ribuan binatang buas ini dibawah pengawasan kakek buyutnya Yap Kun Tek, demikian juga yang terjadi pada Yap Ing.
Yang mengherankan adalah penampilan Yap Ing yang tidak berubah menjadi tua bahkan terlihat sekarang wajahnya bercahaya penuh dengan keanggunan seorang wanita cantik, ciri khas keturunan para bangsawan klan Yap yang dulu sebagai penguasa benua Khui Ning.
Dua wanita ini terus bertempur tanpa memperdulikan sekitarnya akibatnya banyak pohon-pohon tumbang dimana-mana, tidak jarang batang pohon ini menimpa lelaki Yap Kun Tek, namun sebelum mencapai tubuhnya, batang pohon itu berubah menjadi debu dan terhembus oleh energi dari tubuhnya sehingga tidak sedikit debu pun yang menempel pada pakaian Yap Kun Tek.
Tiba-tiba Yap Kun Tek membuka matanya, lalu dia menggerakan tangannya, maka seberkas sinar menimpa sosok dua wanita itu yang sedang bertempur sungguh-sungguh.
“Kalian berdua berhentilah!!” perintah Yap Kun Tek.
Serentak kedua nya berhenti, mereka secara bersama menoleh pada pria itu,
“Ada apakah kakek leluhur?”, Tanya Coa Leng In.
“Kakek buyut kenapa?”, tanya Yap Ing heran, karena kakek buyutnya tidak seperti biasanya menghentikan latihan mereka, karena latihan mereka bisa berlangsung berhari-hari tanpa di jeda oleh kakek buyutnya ini.
“Sudah saatnya kita keluar dari tempat ini, tempat ini sudah tidak aman bagi kita”, kata Yap Kun Tek seraya keningnya berkerut tanda dia dalam posisi serius seperti memindai sesuatu.
“Kakek leluhur kenapa kita tidak menghadapi musuh itu, siapa yang harus kita takuti?”, sanggah Coa Leng In.
“Ini bukan sembarang ahli, malah kita harus menyembunyikan identitas kita.” jawabnya.
“Leng In, sudah sejauh mana kau menguasai teknik Energi Membelah Bintang dari dua belas tingkatan itu?” tanya balik Yap Kun Tek.
“Aku sudah menguasai 7 tahap”, jawab Coa Leng In
“Akupun demikian” Jawab Yap Ing tanpa ditanya.
“Baiklah itu sudah cukup, kalian tidak akan dapat menyempurnakan Teknik itu karena membutuhkan sebuah suplemen untuk mengejar kesempurnaan penguasaan teknik tersebut, dan itu harus kita cari, jika sudah takdir maka itu sebuah keberuntungan, namun sebelum sempurna teknik tersebut kalian harus hati-hati karena teknik itu tidak berguna jika melawan orang dengan tingkat kultivasi di atas kalian, mengerti?” kata Yap Kun Tek.
Keduanya mengangguk, Yap Ing selalu menganggap coa Leng In selain sebagai putri semata wayangnya dia juga menganggap bahwa Coa Leng In ini seperti sahabatnya, karena wawasan Coa Leng In dalam teknik beladiri maupun teknik kultivasi bahkan lebih tinggi dibandingkan dirinya, Yap Ing hanya menang sedikit karena dirinya tidak mudah meledak secara emosional, malah lebih bijak mungkin karena pengalaman hidup yang dialami Yap Ing, menjadi keunggulan tersendiri.
“Mulai sekarang gunakan teknik penyembunyian kultivasi yang sudah kalian pelajari dariku, dan kita harus berkemas sesegera mungkin, benua ini sudah tidak aman”, kata Yap Kun Tek.
“Kakek Leluhur, bolehkah kita mampir ke Kota Yang In untuk menengok beberapa teman disana?” , kata Coa Leng In, dia teringat memiliki persahabatan dengan Han Eng dan pria yang tadinya dianggap bodoh itu, Han Long, dan ingin melihat keadaan mereka saat ini, dan kultivasi apa yang diraih oleh para sahabatnya itu.
“Kita akan melewati satu hari di kota itu, namun satu hal harus diingat jangan kalian menunjukkan tingkat kultivasi kalian, aku sangat mengkhawatirkan sesuatu yang akan menimpa benua ini”, kata Yap Kun Tek seperti menghindari sesuatu.
“Terima kasih Kakek buyut, akupun ingin melihat suamiku dan meninggalkan pesan untuknya”, Kata Yap Ing, walau bagaimana Coa King Hun adalah suaminya dan statusnya tetap menjadi ayah kandung dari putri semata wayangnya ini.
Kesibukan Kota Yang In sudah berbeda sekarang ini, sejak tujuh tahun lalu ketika ada acara kegiatan Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga, banyak generasi mudanya meninggalkan kota kecil ini, dan mereka jarang kembali lagi ke kota kecil ini.
Di pusat kota dimana sebuah lapangan terbentang, dimana disinilah dulu terjadinya ujian yang disebut Pra Seleksi, kini menjadi lapangan yang lenggang dan cenderung sepi tidak seperti dulu selalu menarik perhatian generasi muda para anggota klan keluarga ternama untuk berkumpul dan saling memberi petunjuk latihan para senior pada adik juniornya.
Dua sosok wanita dewasa melintas, keduanya adalah wanita cantik, namun yang satu terlihat lebih matang karena bentuk pinggul dan bentuk dada yang satu terlihat sedikit bergoyang ketika menyertai langkah yang diayunkan dengan mantap, dan yang satunya lebih tinggi dari yang lain, namun jika melihat wajah keduanya ada kemiripan seperti adik dan kakaknya, jadi orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka berdua akan mengatakan bahwa yang sedikit lebih tinggi adalah sang adik, dan sang kakak memiliki otot pinggul dan otot dada lebih menantang dan lebih besar.
Yap Ing sedikit sendu melewati jalanan di kota kecil ini, dia teringat akan penderitaanya di kota ini bersama mendiang ayahnya, dia juga harus menerima penghinaan yang dilakukan oleh madunya Mo Eng.
Langkah keduanya berjalan tanpa ragu menuju klan Coa, yang sampai saat ini masih menjadi pemimpin kota.
Keduanya tidak langsung menuju gerbang klan keluarga Coa tapi singgah ke sebuah kedai, maksud mereka akan mengamati sebentar situasi klan keluarga ini.
Apa yang terjadi?, mengapa terlihat lain suasana di gerbang klan Coa seperti diselimuti duka.
Coa Leng In dan Yap Ing merasa heran dengan suasana klan Coa yang begitu sepi dan terasa sangat sunyi.
Terlihat beberapa tamu di sekitar meja Coa Leng In dan Yap Ing terlibat diskusi yang serius,
”Sungguh keterlaluan, anak yang begitu membanggakan berani bertindak seperti itu terhadap ayah kandungnya sendiri, sungguh aku tidak habis pikir”, suara itu terdengar oleh Coa Leng In dan ibunya, dari mulut seorang pengunjung yang baru tiba dengan seorang kawannya, itupun suara yang dikeluarkan seperti berbisik, takut terdengar oleh yang lain.
Seketika itu juga, Coa Leng In dan Yap Ing mengerahkan teknik jiwa mereka dan mulai memindai ke arah klan keluarga Coa, mereka berusaha mencari keberadaan Coa King Hun dan Mo Eng atau sesepuh lain, dan mereka hanya menemukan sesepuh Coa Hun Ti dan Coa Min keduanya adalah penatua ke-2 dan ke-3, sedangkan di tengah aula ada sebuah peti yang tertutup.
Coa Leng In menatap ibunya, keduanya sepakat untuk langsung masuk ke klan Coa, tanpa menunda waktu, tiba-tiba kedua tubuh wanita itu melompati kedai tersebut langsung menyerbu melewati penjaga klan Coa dan masuk gedung aula klan Coa.
Di tengah ruangan aula klan Coa para tetua klan Coa dikejutkan dengan dua sosok wanita yang sudah berdiri di sisi peti mati, dengan tenang Yap Ing membuka tutup peti itu dan terlihat sesosok tubuh yang terbujur kaku, jasad Coa King Hun.
”Kurang ajar!, berani kalian bertindak kasar dalam klan kami”, kata Coa Min dengan bergetar marah.
Yang dibalas oleh sosok wanita muda dengan mata tajam berkilat,
”Siapa yang melakukannya?”, tanya Coa Leng In mengarahkan pandangannya dari jasad Coa King Hun ke arah para tetua klan Coa yang mengelilingi peti mati itu dalam kondisi siap tempur.
Betapa kagetnya ketika mereka mengenal Coa Leng In dan Yap Ing,
”Leng In !, betulkah itu kamu, dan kau Yap Ing ”, kata Coa Hun Ti.
Serentak para sesepuh klan Coa menjadi lemah wajah mereka menunjukan rasa duka yang mendalam,
”Penatua apa yang terjadi?” tanya Yap Ing dengan tajam dan dingin.
Mendengar pertanyaan Yap Ing, seketika para penatua itu bergidik ngeri, karena ada nada marah serta tekanan energi yang sangat kuat ketika Yap Ing memgerahkan energi kultivasinya dan menekan semua orang di dalam aula ini.
Selir kepala klan Coa sekarang berbeda, terlalu kuat dan tidak terduga.
Coa Hun Ti maju mewakili klan Coa dan mulai bercerita kejadian 3 hari lalu yang menimpa klan Coa atas kedatangan Coa Kun, dimana saat itu Coa King Hun dan istrinya sedang bersitegang di kamar Mo Eng, mereka hanya mendengar jeritan Mo Eng yang mengatakan satu kata ‘tidak!!!’ , dan kejadian selanjutnya adalah mayat Coa King Hun sudah di lantai sedangkan Coa Kun dan Mo Eng sudah hilang.
”Apakah Coa Kun datang sendiri?”, tanya Yap Ing lagi.
”Tidak ada yang tahu, tapi beberapa penjaga mengatakan bahwa dia membawa seorang teman, namun penjaga belum sempat mengetahui identitas orang itu karena orang tersebut datang bersama tuan muda Kun dan penjaga tidak berani bertanya”, kata Coa Hun Ti kembali.
”Paman semua, aku dan ibu akan meninggalkan klan Coa dan akan mengejar kakak Coa Kun untuk bertanya padanya, apa yang terjadi dengan ayah?, urusan disini kami serahkan pada paman, kami pergi sekarang”, kata Coa Leng In tanpa menunggu persetujuan para tetua klan, dua sosok wanita itu sudah pergi dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa, yang meninggalkan para tetua klan Coa dengan terkejut.
”Kita benar-benar hanya menjadi tulang tua saja, generasi muda sekarang jauh melampaui kita-kita ini, tak kusangka aku melihat Yap Ing menjadi perkasa seperti itu bahkan tingkat kultivasinya tidak bisa kuduga”, ujar Coa Min sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.