Benua Khui Ning adalah benua yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Benua Chong Yang.
Di sebuah tempat yang termasuk kota besar bernama kota Bulu Angsa wilayah Benua Khui Ning terdapat sebuah rumah pengobatan yang dihuni oleh seorang pemuda dan ibunya, pemuda ini berusia sekitar 17 tahunan dan ibunya sekitar 40 tahunan.
Pemuda ini bernama Along sedangkan sang ibu biasa di panggil nyonya Li, ibu dan anak ini terkenal sebagai tabib, terutama nyonya Li, dia handal dalam ilmu pengobatan, dan keahlian ini juga sudah dikenal oleh beberapa pejabat kota besar Bulu Angsa.
Along adalah pemuda tampan yang polos dan jujur, sosoknya tinggi dan besar, saking polosnya, dia hanya tahu tentang pengobatan, bila seseorang bertanya tentang hal lainnya di luar bidang pengobatan maka Along dengan cepat mengatakan tidak tahu, atau gerakan menggelengkan kepalanya berulang kali, kesannya seperti orang bodoh.
Nyonya Li adalah wanita paruh baya yang senang mengenakan pakaian hitam, raut wajahnya sudah dipenuhi dengan gurat-gurat tua, penampilan Nyonya Li biasa saja tidak ada yang menarik, namun karakter suaranya sangat lembut dan mengandung daya tarik yang kuat, berbeda jauh dengan penampilan tubuh dan wajahnya.
Dan putranya Along sangat disukai oleh anak-anak kecil, karena lebih suka bergaul dengan anak dibawah usianya maka Along dikenal sebagai kakak besar, atau ada juga yang memanggilnya ‘Anak Besar’.
Pada suatu hari, rumah itu kedatangan sekelompok prajurit penjaga keamanan kota yang mengiringi seorang pejabat kota, terlihat para pengawal ini mengawal sebuah kereta yang ditarik oleh 4 ekor kuda kilin angin, didalamnya terdapat seorang pria setengah baya dan seorang wanita muda yang terbaring lemah tidak berdaya, mereka adalah pejabat Kam dan putrinya Kam Lin.
Pada tubuh Kam Lin terdapat banyak luka akibat perkelahian, Putri Kam atau Kam Lin dikenal seorang putri yang sering mengabaikan statusnya sebagai seorang putri bangsawan, dia lebih memilih bergaul dengan rakyat biasa dan bermain-main dengan anak-anak rakyat biasa terutama anak-anak dari para pegawai ayahnya.
Pejabat Kam dikenal sebagai pejabat yang bijaksana, suatu hari tempat itu kedatangan seseorang yang menjadi kenalannya sesama pejabat bermarga Souw, kedatangan Pejabat Souw dalam rangka meminang Kam Lin untuk dinikahkan dengan keponakan Pejabat Kam bernama Liu Teng, namun Kam Lin tidak setuju karena dia tahu pemuda bernama Liu Teng ini seorang pemuda sampah kota Bulu Angsa yang suka berkeliaran di tempat-tempat hiburan, dan menghabiskan harta keluarganya untuk sesuatu yang tidak berguna dan suka menggunakan wewenang pamannya demi kepuasan pribadi.
Penderitaan Kam Lin diakibatkan pengeroyokan oleh antek-antek Liu Teng yang merasa sakit hati karena penolakan perjodohan dirinya dengan Kam Lim.
Kam Lin sendiri adalah seorang gadis 16 tahunan yang membangun tubuhnya dengan tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-6 Puncak, dasar dia menolak Liu Teng karena tingkat Liu Teng dibawah dirinya, dan dan tidak suka berpasangan dengan seorang pemuda yang lebih lemah dari dirinya.
”Nyonya Li kami mohon untuk memeriksa Putri Tuan Kam”, teriak kepala pengawal pejabat Kam, di halaman rumah Nyonya Li.
”Pengawal !, jangan berlaku tidak sopan, aku akan masuk dan memohon sendiri padanya, kau berjaga saja di luar”, ujar Pejabat Kam menghardik pengawalnya yang berteriak ke dalam rumah, dia lalu turun dari kereta itu dan dengan langkah ringan memasuki rumah itu dengan rasa hormat tanpa keagungan seorang pejabat tinggi Kota Besar Bulu Angsa.
Sosok wanita setengah baya berpakaian hitam keluar menyambut kedatangan pejabat Kam,
”Sebuah kehormatan bagi kami kedatangan seorang pejabat penting kota ini, mari masuk, mohon maaf kondisi kami sangat sederhana sehingga tidak bisa menerima anda sebagaimana mestinya”, kata nyonya Li.
”Bawa masuk putri Kam”, perintah Pejabat Kam pada pengawalnya.
”Nyonya Li tolong sembuhkan putriku, dia berkelahi dengan beberapa pemuda sehingga menderita luka seperti ini”, kata Pejabat Kam dengan sopan.
”Baiklah, bawa dia kemari biar aku periksa”, kata Nyonya Li.
Selang beberapa lama kemudian Nyonya Li berhenti memeriksa tubuh lemah Kam Lin, dia lalu menghadapkan wajahnya ke pejabat Kam dan berucap,
”Sang putri harus ditinggalkan disini selama beberapa hari untuk disembuhkan seperti semula, apakah keberatan?”, kata Nyonya Li.
”Tidak, kalau itu yang terbaik, aku akan meninggalkan para pelayan putri disini, selain membantunya, juga para pelayan itu dapat digunakan olehmu”, kata pejabat Kam.
”Terima kasih Pejabat Kam, namun kami ibu dan anak tidak menerima para pelayan itu, karena terbiasa menangani sendiri dan juga kami khawatir akan kesehatan putri terganggu karena tempat ini menjadi ramai’, kata Nyonya Li menolak.
Pejabat Kam terdiam, dia mengkhawatirkan putri satu-satunya ini, sejak istrinya meninggal, pejabat Kam tidak ingin memiliki istri lain dan tidak pernah mengambil selir seperti kebiasaan para pejabat penting kota besar Bulu Angsa.
Dengan tarikan nafas panjang pejabat Kam akhirnya mengangguk setuju.
Rombongan pejabat Kam meninggalkan Kam Lin di kediaman Nyonya Li, mereka percaya pada keahlian pengobatan Nyonya Li.
Sepeninggalnya rombongan pejabat Kam, sosok pemuda tinggi besar masuk, pemuda ini berpakaian sederhana dengan rambut yang diikat ke atas seperti dari kulit binatang,
”Ibu, siapa mereka?”, kata pemuda itu.
”Pejabat Kam salah satu anggota Kota Besar Bulu Angsa, Long er, kita akan masuk ke taman itu melalui pejabat Kam, dan satu hal yang harus kamu lakukan adalah menemukan sumber air itu”, kata ibunya.
Along hanya mengangguk, dia melirik pada tubuh Kam Lin, gadis itu terbaring lemah dan wajahnya sangat pucat.
”Long er, bawa tubuh gadis itu ke ruang khusus”, kata ibunya lagi.
Along dengan gerakan ringan, menjinjing tubuh Kam Lin seperti membawa karung dengan satu tangan, tidak ada kesulitan dalam mengangkat tubuh itu baginya, dan hal itu adalah hal yang biasa dia lakukan.
Siapakah ibu dan anak itu, ya !, mereka berdua adalah Thian Sian Li dan Han Long putranya, sudah dua tahun mereka menetap di pinggiran kota Bulu Angsa, seperti biasa Thian Sian Li tidak menunjukkan jati dirinya, malah dia tampil sewajarnya sebagai wanita setengah baya dimana wajahnya terdapat kerutan tua, sebaliknya Han Long tetap tampil bodoh, dengan mata yang selalu terbelalak konyol.
Sebenarnya tujuan mereka adalah Taman Sunyi yang terletak di sebuah tempat yang merupakan milik penguasa kota.
Taman Sunyi adalah sebuah tempat yang sangat luas, di dalam taman itu ada berbagai macam tumbuhan dan hewan yang menjadi koleksi dari penguasa kota, peninggalan tokoh sakti jaman kuno, tumbuh-tumbuhan di sana tidak pernah mati selalu tumbuh dengan segar serta berbunga, makanya Taman Sunyi bagi warga Bulu Angsa disebut juga Taman Abadi, itu disebabkan oleh kondisi tanah disana mampu mempertahankan kesuburan setiap tanaman yang tumbuh tidak pernah layu.
Mengapa Thian Sian Li harus berpura-pura menjadi seorang tabib di kota ini?, dengan kekuatan yang dimilikinya sebenarnya dia bisa memaksa penguasa kota dan meminta untuk masuk taman itu, namun pemegang kunci Taman Sunyi di pegang oleh sebuah Dewan kota yang berjumlah 9 orang dan ini hal yang sia-sia jika dia sendiri yang masuk karena 9 orang anggota Dewan adalah orang-orang yang mewakili klan penguasa Kota Bulu Angsa.
Juga hanya Han Long yang dapat menemukan benda yang dimaksud di Taman Sunyi itu.
Penghuni Benua Khui Ning berbeda jauh dengan Benua Chong Yang, disini kekuatan setiap kultivator rata-rata lebih tinggi dari penguasa sekte di Benua Chong Yang, pemandangan yang umum di sini untuk menemukan warga biasa yang sudah menembus Imajinasi Roh, kekuatan para penguasa kota sudah ada yang menembus tingkat kultivasi Manusia Dewa.
Sekalipun Thian Sian Li sudah berada pada tingkat Kultivasi Raja Dewa ke-1 Awal, dimana tingkat yang jauh melampaui para penguasa, namun untuk kepentingan tersebut bukan soal kekuatan kultivasi, karena Taman Sunyi hanya dapat dimasuki oleh seorang kultivator paling tinggi tingkat Manusia Suci.
Dan untungnya pada setiap 3 tahun sekali, Taman Sunyi akan dibuka untuk para junior tingkat Imajinasi Roh sampai tingkat yang sudah menembus tingkat Manusia Suci untuk peningkatan kekuatan kultivasi melalui tumbuh-tumbuhan roh dan binatang mistik lainnya.
Acara ini selalu diselenggarakan sebagai bentuk untuk meningkatkan angkatan tempur generasi muda Benua Khui Ning dari serangan luar Benua.
Bagi Thian Sian Li ini lebih mungkin dilakukan daripada sekedar mengerahkan kekuatan semata dan lagi jika semua kultivator itu mengelilinginya akan menimbulkan persoalan yang tidak perlu, sekalipun dia dapat mengatasinya, namun akan memancing perhatian penghuni 3 benua misterius lainnya terutama Benua Merah yang menjadi musuh benua Thian Agung.
Satu-satunya alasan Thian Sian Li membawa Han Long ke kota ini adalah Taman Sunyi di dalam kota, dan Taman ini dilindungi oleh semacam formasi ‘dimensi alam lain’, jadi jika sengaja seseorang mencarinya adalah sia-sia karena formasi ini hanya dapat dibuka oleh anggota dewan kota yang berjumlah 9 orang, dan salah satu anggota dewan kota ini adalah Pejabat Kam.
Air Mutiara Kehidupan, satu barang mustika yang diduga oleh Thian Sian Li berada di dalam tanah subur Taman Sunyi, namun itu memerlukan penyelidikan menyeluruh.
Dengan Air Mutiara kehidupan maka ‘9 Tubuh Bintang’ Han Long akan terbangun secara sempurna, karena akan membersihkan seluruh pembuluh darah dalam tubuh Han Long, terutama dantiannya akan bertransformasi seluas samudera sehingga dapat menampung energi dunia yang melimpah serta pembuluh darah dalam tubuh Han Long menjadi kuat dan elastis, kekuatan tubuh inilah yang lebih penting dan utama bagi Han Long.
Satu hal yang membuat Thian Sian Li meninggalkan Benua Thian Agung adalah konstitusi tubuh Han Long, yang dapat menyerap energi dunia tanpa batas, jika Han Long hidup dewasa di benua Thian Agung maka kecepatan kultivasinya akan melaju dan meningkat dengan sendirinya dan berlangsung sangat cepat, namun itu semua adalah petaka karena tubuh Han Long akan meledak karena tubuhnya tidak dapat menampung energi seluruh permukaan dunia yang terkumpul di Benua itu, itulah sebabnya Thian Sian Li membawa keluar bayi Han Long dengan menyegel kultivasi anak itu.
Dan sekarang yang dilakukan oleh Han Long adalah memperkuat kedagingannya melalui latihan dan kultivasi unik rahasia yang diturunkan dari zaman kuno.
Bagi Han Long dia tidak perlu mencari tempat khusus dalam berkultivasi, energi dunia dengan sendirinya terserap secara otomatis, itulah dasarnya mengapa Thian Sian Li selalu melarang Han Long mengerahkan Energi kultivasinya karena ada bahaya yang mengintainya dalam pengerahan energi tersebut, sebelum konstitusi tubuh kedagingannya dan dantiannya, tumbuh kuat dan elastis.
Kecepatan peningkatan energi kultivasi Han Long saat ini sudah berada pada tingkat Manusia Suci ke-6 Puncak, itupun pada kondisi dantian dan pembuluh energinya masih disegel.
Setelah menjalani perawatan Thian Sian Li selama 3 hari, tubuh Kam Lin menunjukkan perubahan, tubuh lemas dan wajah pucatnya berangsur-angsur memerah dan tubuhnya pulih semakin lebih baik.
Pada hari ke-5, Kam Lin sudah pulih sepenuhnya namun tenaganya masih lemah, dia sudah akrab dengan Nyonya Li dan putranya Along.
Sekarang penampilan Han Long tetap ‘bodoh’ dan polos, dia sering membawa anak-anak kecil ke rumahnya, dimana dia bertindak sebagai pemimpin mereka, dan mereka senang bermain bersama Han Long.
Kam Lin melihat Han Long sebagai pemuda yang kuat namun polos dan konyol, Han Long selalu ada untuk melayaninya dan Kam Lin sangat suka dengan pelayanan Han Long ini.
”Along aku akan membersihkan tubuhku, apakah sudah kau sediakan air untukku?”, kata Kam Lin suatu hari.
”Semua sudah siap tuan putri Kam, anda tinggal masuk kamar mandi”, kata Han Long.
”Aku tidak suka kau panggil tuan putri, panggil aku Kam Lin, atau adik Lin saja diantara kita tidak ada majikan atau hamba, kamu tidak berbeda dengan diriku, saat ini tubuhku masih lemah, makanya aku minta disediakan air itu karena kondisiku”, kata Kam Lin.
”Mana ku berani, aku hanya pemuda desa sementara kau seorang putri bangsawan, apa kata orang diluar sana”, kata Han Long merendah.
”Aku tidak peduli apa kata orang, aku gerah dengan statusku, kalau aku tidak melihat ayahku mungkin aku sudah pergi dari benua ini, terbebas dari semua urusan yang membuatku pusing”, kata Kam Lin sambil pergi meninggalkan Han Long.
Han Long yang ditinggalkan oleh Kam Lin menatap kepergian gadis muda ini, dia kagum atas pola pikir gadis ini yang sesuai dengan pendirianya.
Waktupun berlalu, kesehatan Kam Lin sudah pulih sepenuhnya, dan energi kultivasinya pun sudah kembali seperti semula, diluar pondok Nyonya Li sudah ada barisan pengawal Pejabat Kam yang menunggu.
”Along maukah kau menemaniku ke Manor klan Kam di dalam Kota?”, kata Kam Lin
”Sepertinya akan luar biasa tinggal di Manor itu, namun aku tidak tega bila ibu tidak ada yang membantunya disini”, kata Han Long melirik ibunya.
Thian Sian Li tahu bahwa putranya meminta pendapat dirinya,
”Long er, menemani tuan putri adalah hal terbaik, tidak perlu kau khawatir tentang ibu, pergilah!, juga engkau dapat merawat tubuh putri Kam dengan pengetahuan herbalmu”, kata Thian Sian Li menatap wajah putranya dengan kode matanya yang dimengerti oleh Han Long.
”Itu artinya kita bisa segera berangkat, Along kemasi barangmu, aku akan mengurus dokumenmu untuk diangkat sebagai pelayan manor klan Kam”, kata kepala pengawal yang dari tadi menunggu dengan wajah tidak sabar.
Tidak berapa lama rombongan pengawal keluarga Kam meninggalkan pondok Nyonya Li, dan Han Long menjadi bagian dari rombongan itu, dia dipaksa masuk dalam kereta putri Kam Lin yang sebenarnya telah ditolak.
Di Manor keluarga Kam, pejabat Kam sudah menunggu putrinya di aula, dan berikutnya Kam Lin memasuki ruangan tersebut yang diiringi sosok Han Long dibelakangnya.
”Putriku bagaimana kondisi tubuhmu?, persoalan dengan keluarga Souw sudah diselesaikan, mereka membayar kompensasi pengobatanmu, dan ayah harap kau tidak membuat masalh dengan pemuda Liu Teng itu”, kata Pejabat Kam.
”Ayah aku tidak mau membuat masalah, tapi si brengsek Liu Teng akan menerima akibat dua kali lipat dari perbuatannya padaku berikut antek-anteknya”, kata Kam Lin.
”Lin er sudahlah, semua sudah selesai, jangan mempermasalahkan lagi, sudah untung mereka mau membayar kompensasi itu, kekuatan kita tidak berarti di depan keluarga Souw, apalagi mereka mendapatkan dukungan dari keluarga Liu”, kata Pejabat Kam.
”Aku mengerti ayah, aku mengajukan diri untuk menjadi peserta Taman Sunyi, dan aku akan membawa temanku ini, Along”, kata Kam Lin.
”Ayah tidak mengijinkan kamu ikut serta, aku tahu dendammu akan diselesaikan di sana bukan?, Liu Teng pun akan ikut serta tapi dia akan dikawal oleh beberapa tokoh yang menyertainya, dan kamu hanya membawa Along, apa yang ada dipikiranmu?, coba kau renungkan, sampai dimana kekuatanmu”, kata Pejabat Kam lagi.
Pembukaan Taman Sunyi akan dibuka 3 bulan kemudian, dan banyak tokoh-tokoh muda yang sudah mempersiapkan diri.
Tempat itu seringkali menimbulkan bahaya, selain menghadapi bahaya serangan binatang mistik, yang lebih parah adalah serangan dari sesama peserta, dimana terjadi perebutan tumbuh-tumbuhan roh yang memang memiliki harga yang tinggi, dan penting untuk diolah menjadi macam-macam pil kultivasi dan pengobatan, inilah daya tarik sesungguhnya dari keberadaan Taman Sunyi itu.
“Tapi aku harus ikut ayah terlepas aku dapat membalaskan dendamku, tapi aku masih mampu berkompetisi untuk mendapatkan sekumpulan tumbuh-tumbuhan roh disana, dan kawanku kuperlukan tenaganya bukan sebagai pelindung tapi dia berguna juga untu membawa perlengkapan tempurku, sekarang aku akan rajin berkultivasi dan meningkatkan kekuatanku dan kebetulan ramuan yang diberikan oleh Nyonya Li untukku ada khasiat untuk meningkatkan energiku ayah”, balas Kam Lin dengan keras kepala, melihat kekukuhan putrinya Pejabat Kam hanya terdiam dia tahu putrinya, sekali menghendaki sesuatu maka itu tidak dapat dihalangi begitu saja.
“Baiklah, kalau kau dapat menunjukkan peningkatan itu, maka kau ku ijinkan ,namun bukan hanya tingkat kultivasi saja kau harus dapat menunjukkan Teknik klan keluarga kita dengan sempurna, penguasaan mu masih mentah terhadap Teknik keluarga kita, apakah kau sanggup berlatih keras?”, ujar Pejabat Kam.
“Masih ada waktu ayah, akan kutunjukkan hasil itu tiga bulan lagi” Kata Kam Lin.
dengan disepakati perjanjian antara ayah dan putrinya itu, Kam Lin mohon pamit pada ayahnya dan Han Long mengekor mengikutinya, namun
“Along, tidak baik jika engkau diam di puri bersama dengan putriku, kau kutempatkan bersama dengan para pelayan Manor ini dibagian belakang, kau ikuti pengawal Teng, dia akan menunjukkan tempatmu”, kata Pejabat Kam sambil memerintahkan seorang bernama Long Teng untuk membawa Han Long ke tempatnya.
Kam Lin hendak memprotes namun tidak jadi walau bagaimana mereka bukan anak-anak kecil lagi dan hal itu lumrah terjadi.
“Along jangan lupa setiap pagi kamu harus selalu ada di puriku, untuk mempersiapkan herbal-herbal itu untuk diriku, dan ayah aku tidak mau orang lain yang menggantikannya” Kata Kam Lin tegas tidak mau dihalangi lagi, matanya sambil melirik pada Han Long, dimana Pejabat Kam hanya mengangguk padanya.
Selama 3 bulan yang tersisa, Kam Lin berlatih keras dan selalu serius dalam berkultivasi, dia sudah meninggalkan kebiasaannya yang suka keluar dari Manor keluarga Kam untuk bermain-main dengan anak-anak pegawai ayahnya.
Atas perawatan herbal dari Han Long, kondisi kesehatan dan pertumbuhan fisik Kam Lin menunjukkan pertumbuhan yang sangat menggembirakan Kam Lin, sedikit demi sedikit muncul kepercayaan Kam Lin pada Han Long atas perawatan pengobatan dari Han Long, dan seperti biasa Han Long selalu mengkritik latihan Kam Lin seperti yang pernah dia buat kepada Han Eng dahulu, namun tanggapan Kam Lin sedikit keras kepala, dia selalu berpikir, tahu apa Han Long tentang teknik beladiri keluarganya apalagi kalau berbicara tentang Teknik Kultivasi.
“Apaan teknik seperti itu kau lakukan dengan gerakan sembrono sehingga lawanmu melihat dibawah lenganmu”, itu selalu diributkan oleh Han Long pada Kam Lin.
Kam Lin dengan wajah cemberut akan menjawab,
“Kalau begitu coba serang aku, pasti kau akan menerima pukulan ku”, kata Kam Lin.
“Ya itu terserah padamu, tapi kalau aku akan memeriksa bahwa gerakan itu sudah benar atau belum karena aku dapat mendengar pernafasanmu tidak teratur ketika kau menggerakkan tangan itu”, kata Han Long sambil memutar tubuhnya membelakangi Kam Lin.
Kalau sudah demikian Kam Lin lalu memeriksa gerakan itu dan merasakan ada ganjalan dalam tarikan nafasnya saat dia menggerakkan teknik tersebut melalui pergelangan tangannya, dan ternyata nafasnya seperti tersedak seperti mau batuk.
“Along, benarkah kau tidak mengetahui tentang teknik beladiri sedikitpun?” tanya Kam Lin penasaran.
“Aku dahulu pernah berlatih, namun aku kurang berbakat, hanya tenagaku saja sudah cukup bagiku untuk menjadi kuat, lagian aku tidak suka berkelahi, bagiku dapat membantu pekerjaan ibuku dengan tenaga kasarku sudah cukup”, kata Han Long lagi.
“Lalu darimana kau mengetahui kelemahan teknik yang sedang kulatih ini, minimal orang yang tahu kelemahan teknik keluargaku adalah orang yang terbiasa berlatih teknik beladiri atau semacamnya, sudah tingkat apa kultivasimu?”, tanya Kam Lin menyelidik.
“Kultivasi?, apa itu kultivasi?, yang kutahu kekuatanku adalah untuk membantu pekerjaan kasar, dan aku sangat senang dengan kondisiku ini “, kata HanLong lagi.
“Ah sudahlah, jadi aku harus bagaimana?”, kata Kam Lin.
“Mana kutahu, aku hanya bilang bahwa teknik yang kau mainkan terlihat kasar seperti manusia yang bekerja berat padahal menurutku, gerakanmu seharusnya dibawakan seperti dewi yang mengantar bunga pada dewa, tanpa desir angin sehingga tampak indah dan memukau, padahal itulah serangan yang sesungguhnya”, mendengar ulasan itu, Kam Lin seperti mendapatkan anugerah besar, dia pun tersenyum manis pada Han Long.
“Hi hi hi…, idemu memberikan wawasan baru bagiku”, jawab Kam Lin.
Dan semua itu tanpa disadari oleh Kam Lin adalah petunjuk dari HanLong untuk meningkatkan Teknik beladiri yang dilatihnya dari teknik beladiri Kategori Surga kelas Pokok menjadi Teknik Dewa kelas Lanjutan, namun itu semua mudah diucapkan tapi sulit dipraktekan, dan Kam Lin menanggapinya dengan serius dia tidak mau dikritik oleh orang sekelas HanLong yang dia tahu asal bicara dan bodoh, tapi apakah dia mau menerima ejekan dari orang bodoh, kalau dia tidak bisa menerima pujian dari orang sebodoh Han Long bagaimana tanggapan ayahnya.
Kam Lin akan terus berlatih dengan serius sampai Han Long bertepuk tangan dengan gembira di wajahnya yang bodoh, anehnya Kam Lin merasa dihargai kerja kerasnya jika Han Long memuji setiap gerakannya, secara tidak Langsung gerakan-gerakan selanjutnya akan mudah dibuat oleh dirinya dan ada desir angin yang lembut di sekitar tubuh Kam Lin, namun jika dia sadar dan menoleh ke pepohonan disekitarnya maka akan banyak dahan-dahan pohon yang berguguran dan patah-patah.
Han Long dengan cerdik memberi petunjuk juga dengan latihan kultivasi Kam Lin, secara tidak terduga Kultivasi Kam Lin naik satu Tingkat dari Imajinasi Roh ke-6 Lanjutan sekarang dia sudah berada di Tingkat Imajinasi Roh ke-6 Puncak dan Kam Lin sudah mengkonsolidasikan tingkat yang baru ini.
Dalam waktu sebulan Tingkat kultivasi Kam Lin sudah meningkat dengan demikian dia memenuhi janji dengan ayahnya, namun Han Long dengan caranya selalu mengejek bahwa tingkat itu tidak seberapa dibandingkan lawan-lawanya kelak dalam usaha perebutan tempat untuk memasuki Taman Sunyi, baru tingkat Kompetisi awal Kam Lin akan gugur, karena menurut Han Long, desah Nafas Kam Lin masih dapat dirasakan oleh lawan karena dia bilang jangankan lawannya yang memiliki tingkat kultivasi, dirinya saja dapat mendengar desah nafas setiap gerakan yang dilakukan oleh Kam Lin.
Mendengar semua itu, Kam Lin dengan hati kesal selalu mengatakan bahwa hasil ini sudah cukup, tapi produksi nafas yang dikeluarkan dalam gerakan teknik keluarganya memang mengganggu pikirannya karena selalu dibicarakan oleh Han Long.
Tanpa terasa dua bulan berlalu dengan singkat, tapi kekuatan dan tingkat kultivasi Kam Lin bergerak maju, sekarang dia sudah menginjak Tingkat Insan Raja ke-1 Awal, dan ini juga menjadi buah bibir di kalangan keluarga Kam, karena Pejabat Kam pun heran melihat kemajuan yang demikian pesat pada diri putrinya, dia pernah menyuruh salah satu kepala pengawal untuk berdebat dengan Kam Lin dan dia melihat bahwa Teknik Keluarga Kam yang dilakukan oleh putrinya memiliki kelas yang lain dan susah ditebak bahkan desah nafas serta gerakan Kam Lin sering mengejutkan lawannya.
Dia berpikir apakah teknik keluarganya dapat dibuat seperti itu?, pertanyaan itu menghantui dirinya, bahkan jika dia harus melawan putrinya ada kemungkinan dia akan dikalahkan karena gerakan tidak terduga dari putrinya membuat berulang kali dia menarik nafas dengan takjub, beberapa kali semua orang yang berkesempatan menonton perdebatan itu mengeluarkan seruan,
Ah !!,
Oh !!! atau
Awas…!!!!,
pada Kepala pengawal dan itu semua membuat serangan Kam LIn semakin gencar dengan hawa udara yang semakin dingin dan mencekam lawan.
Melihat reaksi ayahnya, betapa gembiranya Kam Lin dan kepalanya mencari-cari sosok pengkritik dirinya ketika dia berlatih, namun sosok itu sudah tidak ada, karena perdebatan ini dilakukan di ruang khusus keluarga Kam dimana sembarang pelayan dilarang masuk.
“Ling er, bagaimana kau melatih teknik itu?,
darimana wawasanmu sehingga kau dapat menggerakan teknik itu sedemikian rupa?
apakah kau menyembunyikan sesuatu dari ayahmu sendiri?”,
tanya Pejabat Kam pada Putrinya.
“Ayah apa maksudmu?, aku berlatih dengan keras dan serius, dan dimana Along?,
kenapa dia tidak berada disini?, apakah ayah mengusirnya?”
pertanyaan balik Kam Lin kepada ayahnya.
Pejabat Kam malah terdiam tidak segera menjawab pertanyaan putrinya, bagi dirinya, jawaban Kam Lin kurang memuaskan karena dia tahu teknik beladiri itu dan teknik kultivasi keluarganya, dan apa yang ditunjukkan oleh putrinya adalah suatu teknik yang baru walau itu berdasarkan teknik keluarganya namun energi yang dihasilkan dari latihan putrinya sangat jauh berbeda, lebih kuat dan energi itu seperti mengancam setiap titik vital lawan dengan ancaman yang lebih serius, walaupun tingkat putrinya baru pada tingkat Insan Raja ke-1 Awal.
“Baiklah mulai sekarang hanya Along yang akan mendampingimu,
dan dia akan kami buatkan tempat tinggal di belakang puri dekat taman belakang agar dia senantiasa berada didekatmu, tapi hanya dia sendiri, tidak ada yang lain” kata Pejabat Kam,
Pejabat Kam menyadari sesuatu namun sulit dijelaskan, dia memiliki pendapat bahwa Han Long memberikan pengaruh terhadap metode latihan putrinya dan ini adalah hal baik bagi pertumbuhan putrinya, dia pun beranggapan tidak mungkin putrinya memiliki rasa khusus pada Han Long, pemuda polos dan bodoh itu walaupun postur Han Long termasuk pemuda yang tampan namun tampang bodohnya menutupi itu semua, mana mungkin putrinya terpikat oleh sosok seperti itu.