Di alam pegunungan yang sejuk dan segar, dimana pegunungan itu mengelilingi pemukiman Klan Han, Klan yang murni terdiri dari Ras Manusia saja, Klan yang berdiri selama ratusan tahun ini pernah mengalami masa kejayaannya ketika Ras Manusia pernah menduduki puncak kejayaan dalam bidang kultivasi bela diri.
Namun kini kondisi Klan Ras Manusia kota Yang In ini mengalami penurunan yang cukup drastis, usia Han Wi Teng sebagai Kepala Klan Han masih berusia 30-an lebih namun dia yang telah mencapai tingkat kultivasi Imajinasi Roh Level 1 tahap Menengah, berbadan tegap perkasa dengan wajah yang tampan dihiasi oleh kumis tebal dengan dagu kelimis, menggambarkan sosok yang jantan dan teguh pendiriannya, dia duduk di kepala meja pada ruang Aula Persidangan Klan.
Namun sosok tegap perkasa itu terlihat pucat dengan sorot mata yang berubah-ubah antara kemarahan, kesedihan bercampur dengan rasa ketidak-berdayaan, melihat putri semata wayangnya, Han Eng terbaring sakit.
“Apakah mereka sudah sepakat tidak menganggap kehadiran Klan Ras Manusia di Kota Yang In?”, renungnya
Sudah 3 hari Han Eng berbaring dan saat ini masih dalam pengobatan para sesepuh klan, bukan karena Han Eng tidak dapat disembuhkan, namun penghinaan yang mereka terima atas nama Ras Manusia oleh Ras Iblis sudah melewati garis bawah kesabaran mereka, walaupun itu terjadi pada level junior klan dalam wilayah kota Yang In, hal ini sangat menggores wibawa salah satu Klan ternama di Kota Yang In.
Situasi dalam ruang Aula Persidangan Klan terasa sunyi, Ruangan Aula ini sudah berkumpul para penatua dan jajaran Elit pengurus Klan Han, sekalipun saat ini telah berkumpul seluruh para penatua Klan yang usianya berkisar 30-60 tahunan yang rata-rata telah mencapai kultivasi Imajinasi Roh level 1 tahap Awal, dan 21 anggota Elit Klan lainnya yang rata-rata sudah mencapai kultivasi Kekuatan Jiwa level 1 hingga level 3 Puncak, tidak ada yang bersuara di antara mereka, bahkan jika tenggorokan salah satu di antara mereka ada yang gatal, mereka tidak dapat mengeluarkan suara batuk atau mengeram untuk sekedar menghilangkan rasa gatal itu, mereka bertahan dengan sebisanya agar sedikit memberikan rasa empati terhadap Kepala Klan.
Walau jumlah umat manusia yang berada di kota Yang In 3 kali lebih banyak dari Ras Iblis, Tapi kalau hanya mengandalkan Jumlah saja dibandingkan dengan kualitas ilmu Beladiri Ras Iblis itu sama dengan omong kosong. Satu elit Ras Iblis pada tingkat kultivasi Imajinasi Roh level 1 tahap Puncak dapat melenyapkan seluruh umat Ras Manusia di kota Yang In.
Inilah yang membuat Han Wi Teng sakit hati namun merasa tidak berdaya untuk melakukan pembalasan terhadap Klan yang berdiri atas nama Ras Iblis.
“Bagaimana menurut para pendapat para sesepuh?, aku akan melakukan yang terbaik untuk mengikuti saran para sesepuh Klan Han”. Desah Han Wi Teng.
“Kita tidak dapat membiarkan penghinaan ini!” Jawab Han Wu penatua ke-5.
”Kita harus mencari cara untuk menculik para junior yang melakukan tindakan keji terhadap Han Eng, lalu membunuhnya” kata Han Leng penatua ke-3 dengan mata melotot dan wajah memerah menahan amarah. Dia adalah Penatua Penegak Keadilan Klan.
“Apakah adik ke-3 akan mengorbankan seluruh anggota klan dalam kematian?, para klan lainnya akan mengarahkan pedang dan tinju mereka kepada kita”, tukas Han Kui penatua ke-2, Han Leng terdiam dan berangsur-angsur wajahnya berubah dari merah menjadi pucat, membayangkan penyerbuan seluruh klan kota Yang In terhadap Klan Han.
“Seandainya saja Leluhur Tua tidak pergi dari Klan, kita tidak akan menelan penghinaan ini.” Ujar Han Weng penatua ke-4.
Sepuluh tahun lalu, Han Wi Ong sebagai Kepala Klan Han menyerahkan posisi Kepala Klan kepada Han Wi Teng, Han Wi Ong sudah mencapai kultivasi Imajinasi Roh Tahap 2 Awal, sehingga klan keluarga lainnya tidak ada yang berani berulah kepada Klan Han.
“Ahhh sudahlah, tidak perlu menyesali kepergian Leluhur Tua, yang harus kita lakukan sekarang adalah menutup diri dan fokus pada kultivasi kita masing-masing, dan ini perintah klan!, ingat hanya yang kuat yang dihormati”, kata Han Wi Teng.
Satu per satu para pengurus dan tetua Klan Han meninggalkan Ruang Aula Persidangan, mereka akan meneruskan perintah Kepala Klan untuk dilaksanakan seluruh anggota klan Keluarga Han.
Masih termasuk dalam wilayah Klan Han, di sudut tanah perbatasan dengan ‘Hutan Kabut Putih’, terdapat sebuah rumah yang sangat sederhana, karena ada perbedaan bentuk rumah penghuni klan Han lainnya, sebenarnya ini tidak dapat disebut rumah karena ukurannya yang sangat kecil.
Tampak dari luar, rumah itu hanya menggunakan penutup atap seadanya, menggunakan papan kayu beragam yang menempel sekedarnya sebagai dinding untuk menghalangi pandangan dari luar untuk tidak menembus ke dalam, didalamnya hanya ada satu tempat tidur dengan alas kain yang warnanya sudah usang berwarna kuning kecoklatan, terlihat seorang wanita berusia 30 tahunan, dengan selubung kain yang sudah lusuh, membungkus seluruh tubuhnya.
Wajah wanita ini terlihat buruk dengan bekas luka pada wajahnya, luka ini seperti bekas guratan senjata tajam yang melintang dari atas ke bawah di pipi sebelah kiri, wanita ini bernama Sian Li, tidak diketahui dia berasal dari klan keluarga mana, yang jelas dia datang dengan seorang anak yang diakui sebagai putranya,
Sudah 5 tahun Sian Li tinggal di rumah itu seizin para pengurus Keluarga Klan, karena dia dari Ras Manusia dan dia mengakui bahwa ayah dari putranya bermarga Han yang mati dalam serangan binatang buas untuk melindungi diri dan putranya.
Yang tidak diketahui para pengurus Klan Han lagi, adalah tingkat kultivasi Sian LI, mereka menduga bahwa Sian Li tidak memiliki kultivasi, layaknya manusia biasa, jika anggota klan Han sedikit memperhatikan tentang aktivitas sehari-hari Sian Li dan putranya, mungkin ada kecurigaan, karena seorang manusia biasa dapat bertahan hidup di pinggiran hutan yang sebenarnya dipenuhi oleh binatang buas, dapat bertahan hidup dengan putranya selama bertahun-tahun, padahal area yang di diami oleh Sian Li bersama putranya adalah termasuk area berbahaya yang tidak seorangpun anggota Klan Han mau tinggal, karena suka ada sekelompok beberapa binatang buas yang suka masuk ke wilayah manusia untuk memperluas wilayah mereka.
Sian Li pandai membawa diri bila bertemu dengan beberapa anggota Klan Han, dia dikenal ramah dan bersuara lembut ketika menyapa seseorang yang dikenalnya, sebenarnya jika tidak ada bekas luka pada wajahnya, Sian Li dapat dikatakan seorang wanita yang sangat cantik, ditambah lagi tubuhnya selalu terselubung oleh kain longgar yang menutupi bentuk aslinya.
Han Long putra Sian Li sekarang berusia 10 tahun, dia tumbuh luar biasa, karena untuk ukuran seorang anak berumur 10 tahun tinggi badannya cukup tinggi, jika seseorang dapat melihat Han Long tanpa penutup kain di tubuhnya maka akan terlihat bentuk badan yang tegap dan kokoh, layaknya seorang pemuda.
“Han Long!, tolong pindahkan bongkahan batu yang menghalangi jalan gerobakku”, pinta seorang ibu-ibu yang sedang menyeret sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kuda.
“Baiklah”, jawab Hanlong, sambil menghampiri bongkahan batu seukuran setengah tubuh kambing, yang semalam jatuh dari lereng bukit sebelan jalan desa.
“Hei Han Long, jangan lupa kamu untuk mengisi tong air kami dari Telaga Lembah Bunga, nanti kami akan menyiapkan makanan yang banyak untukmu”, kata seorang laki-laki tua yang berambut dan jenggotnya putih.
“Sebentar Kakek Wan, setelah aku memindahkan batu itu”, jawab Han Long.
Padahal jarak pemukiman Klan Han ke Telaga Lembah Bunga cukup jauh.
Namun Han Long jarang menolak perintah dari anggota Klan Han, semuanya akan dilakukan, kecuali dia dipanggil oleh ibunya melalui transmisi suara yang hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya.
Beberapa anggota Klan Han yang sudah mengenal Han Long sejak umur 5 tahun sering meminta bantuan sederhana untuk dilibatkan dalam pekerjaan kasar. Karena memang Han Long memiliki tenaga lebih untuk ukuran usia sebenarnya, mereka hanya tahu kalau Han Long adalah anak tanpa kultivasi, dan dia adalah anak yang mudah untuk bergaul serta mudah untuk diminta bantuannya, wajahnya terlalu polos dengan tatapan mata yang terlihat bodoh, mudah disuruh untuk melakukan apa yang mereka minta.
Tingkat kultivasi Han Long sebenarnya pada tahap Kekuatan Jiwa ke-1 Puncak, untuk anak berumur 10 tahun sudah mencapai Kekuatan Jiwa ke-1 Puncak bila diketahui Klan, mungkin akan mengakibatkan kehebohan luar biasa di seluruh permukaan dunia beladiri karena ini adalah tingkat genius super dan jika para tetua Klan Han tahu, mungkin mereka cukup mengutus Han Long seorang diri untuk memberikan pelajaran kepada generasi junior para penindas Han Eng. Dengan tingkat kultivasi yang dimiliki Han Long saat ini, dia sudah merajai seluruh Kota Yang In pada level junior.
Sebenarnya Han Long adalah anak yang cerdas, dengan kecerdikan dan kekuatannya, dia sudah menjelajah seluruh Hutan Kabut Putih yang dipenuhi oleh macam-macam binatang buas seluas puluhan kilometer dan seluruh binatang itu justru takut bertemu Han Long. Hal ini dapat dia lakukan karena pengawasan Sian Li sang ibu, Dengan ilmu “Mata Cakrawala”, Sian Li dapat mendeteksi seluruh gerakan seluas ratusan kilometer. Sian Li pulalah yang melarang Han Long untuk menunjukkan kekuatannya pada orang lain, dan Sian Li telah memberikan sebuah ilmu yang dapat menutupi tingkat kultivasi Han Long termasuk dirinya.
Han Long tidak tahu apa batas kultivasi ibunya, yang dia tahu bahwa ibunya adalah Mahaguru, apa yang dikatakan oleh Sian Li sang ibu kepadanya adalah untuk kebaikan dirinya sendiri dan ada tujuan tertentu bagi masa depannya.
Han Long pun tidak pernah bertanya perihal ayahnya yang konon kata ibunya mati diterjang oleh binatang buas seperti yang dikatakan ibunya kepada para tetua Klan Han. Walaupun dia merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh ibunya perihal ayahnya.
Begitupun dengan yang namanya kultivasi, karena pikirannya hanya untuk mentaati perintah ibunya, maka Han Long merasa bahwa, latihan beladiri dan kultivasi yang diterapkan ibunya bagi dirinya adalah sesuatu yang biasa saja, dan dia tidak perlu memperlihatkan kepada umum tentang kekuatannya adalah wajar tidak perlu menjadi istimewa.
Jika para leluhur dan penatua Klan kota Yang In mengetahui jurus beladiri dan latihan kultivasi yang diterapkan oleh Sian Li untuk dilatih oleh Han Long, mereka akan muntah darah karena bagi mereka, baik jurus beladiri dan latihan kultivasi itu tidak mungkin dipraktekkan oleh mereka.
“Ibu…., Aku pulang”
“Long er, bungkusan apa yang kau bawa?” balas Sian Li.
“Ooohh…, makanan dari kakek Wan untuk kita” jawab Han Long, Ibunya tersenyum lembut, karena sebenarnya dia tidak memerlukan makanan itu, dia dapat bertahan tanpa makanan yang dikonsumsi manusia selama berbulan-bulan, bahkan setahun tanpa makanan seperti itu tidak akan berpengaruh pada tubuhnya.
Yang dibutuhkannya adalah kepadatan energi yang ada di tempat dia tinggal sekarang ini.
Kepadatan energi di tempat ini tidak dapat dirasakan oleh setingkat Kepala Klan Han, apalagi anggota Klan Biasa, karena semua itu adalah hasil pengaturan formasi yang telah dibuat oleh Sian Li secara rahasia dengan metode yang sangat rumit dan sulit.
“Long er, dalam 6 bulan kedepan, kamu harus pergi ke kota Yang In, kamu harus berusaha masuk ke sekolah Samudera Naga” kata Sian Li.
“Ibu, bagaimana mungkin? aku tanpa kultivasi”, bantah Han Long.
“Gunakan kecerdikanmu, ingat setelah kamu menguasai 4 jenis jurus beladiri warisan Leluhur dan berhasil menggabungkannya, barulah kamu boleh menunjukkan kekuatanmu pada orang lain” jawab Sian Li.
“Baiklah, aku mengerti ibu” kata Han Long.
Bagi Han Long, tidak ada jurus beladiri yang sulit, karena tingkat kultivasi yang dilatih oleh dirinya dari ajaran ibunya, memungkinkan dia dapat melatih teknik beladiri apapun. Namun 4 jurus yang dimaksud adalah jurus yang menurutnya sangat sulit.
4 jenis jurus itu adalah, “Jiwa Terpecah Melumat Angkasa”, jurus ini memerlukan tingkat pencapaian jiwa yang sudah dapat dikonsolidasikan dalam bentuk padat.
Jurus “Langkah Ajaib Melingkar Nirwana” adalah jurus kecepatan gerakan, baik gerakan tangan dan kaki serta seluruh tubuh yang membutuhkan sinkronisasi dengan energi alam semesta.
Jurus “Tinju Langit dan Badai Mengamuk” adalah gerakan berbagai teknik pukulan dan tendangan yang menggabungkan energi Yang maupun energi Yin.
Yang terakhir adalah teknik pernapasan yang disebut “9 Tubuh Bintang”. jangankan menggabungkannya, melatih dan menguasai masing-masing teknik beladiri ini bagai seekor unta masuk lubang jarum.
Lagi pula ke-4 Teknik Beladiri itu memerlukan materi pendorong, seperti Buah Darah Naga, Rumput Surga Jiwa, Air Mutiara Kehidupan, Jamur Giok Nirwana, Permata Mustika Darah dan lain-lain. Semua benda-benda ini adalah barang yang tidak beredar di pasar manapun atau toko-toko yang menjual obat herbal di permukaan bumi ini, semua diperoleh hanya karena faktor keberuntungan atau takdir.
Seperti biasa, Han Long tidak pernah menanyakan alasan mengapa ibunya memberikan tugas yang begitu sulit. Baginya dengan tidak menunjukkan kekuatannya kepada umum bukan masalah, karena pada dasarnya Han Long tidak memiliki ambisi pencapaian apapun untuk dirinya.
Secara teori Han Long telah menghafal dan menyimpan 4 jenis teknik atau jurus beladiri ini di kepalanya.
Postur dan wajah Han Long akan berubah ketika dia mulai menjalankan teknik latihan kultivasi dan menggerakan anggota tubuhnya sesuai jurus-jurus yang dilatihnya. Wajah yang tadinya menampilkan kepolosan dengan sorot mata yang bodoh berubah menjadi fokus dengan konsentrasi yang tinggi. Satu-satunya jenis makhluk hidup yang pernah merasakan kedahsyatan serta kekuatan Han Long adalah para penghuni Hutan Kabut putih, para binatang buas yang diwaspadai oleh Ras Iblis maupun Ras Manusia.
2 bulan berlalu semenjak terjadinya pengeroyokan terhadap Han Eng, Di pusat Klan Han, banyak anggota klan berkumpul, semenjak adanya perintah penutupan Klan dari dunia luar, para sesepuh dan anggota klan sibuk berkultivasi untuk mengolah tubuh lebih kuat dengan latihan-latihan intensif yang padat dan keras, dan tak lupa mereka berusaha menguasai teknik beladiri yang menjadi warisan leluhur Klan Han.
Ada 3 teknik beladiri yang menjadi ciri khas Klan Han yang pernah mengangkat nama Klan menembus langit yaitu, Teknik “Pesona Dewa Surgawi” yang membutuhkan kekuatan Jiwa, Teknik Beladiri “Tarian Pedang Pemecah Gunung” sebuah jurus yang banyak dilatih dengan menggunakan pedang, dan yang terakhir adalah “Tangan Samudera” sebuah teknik dengan langkah-langkah kaki berputar bagai amukan badai samudera diiringi gerakan tangan yang kadang menampar menusuk atau memukul. Ketiga Teknik Beladiri klan Han ini termasuk kategori Bumi kelas Lanjutan.
Berita bahwa akan adanya para penatua luar Samudera Naga yang akan mengadakan Pra Seleksi Penerimaan Murid Baru di Kota Yang In, telah sampai ke berbagai Klan keluarga Kota Yang In termasuk Klan Han, membuat motivasi yang lebih serius berbagai klan untuk dapat berpartisipasi dalam peristiwa itu, para sesepuh atau tetua klan dengan gencarnya mendorong para juniornya untuk berlatih lebih giat agar dapat menampilkan performa mereka yang terbaik.
“Hei bocah!, jangan berdiri menghalangi gerbang masuk”, teriak seorang Elit anggota Klan Han, dimana wajahnya menengok ke arah pintu gerbang Klan, ketika dia mengawasi latihan para juniornya.
“Oh…Oh, Maaf, he…he” seru Han Long dengan wajah bodohnya sambil sedikit membungkuk dan berlari kecil menghindari jalan masuk Klan.
“Ada apa kemari?” Tanya Elit Klan itu.
“Guru, bolehkah aku ikut berlatih bersama mereka?” Han Long menjawab Elit itu dengan pertanyaan. Namun Elit itu tidak marah karena melihat kepolosan wajah Han Long dengan menyebut dirinya guru, memberikan sedikit kebanggaan.
“Eh, apakah kamu anggota Klan?” kembali Elit itu bertanya.
“Aku tidak tahu, tapi aku bermarga Han juga” jawab Han Long.
“Siapa nama ayahmu, dan dimana kamu tinggal?” Elit itu kembali bertanya
“Han Chen Yang, di pinggir Hutan Kabut Putih” jawab Han Long menyebut nama ayahnya
“Coba kau pukul patung singa itu!” perintah Elit itu, dia bernama Han Ek, salah satu elit Klan Han yang sudah mencapai kultivasi Kekuatan Jiwa ke-3 awal, dan patung singa yang dimaksud ukurannya sebesar binatang keledai dewasa
“Guru, kalau aku di suruh untuk memukul patung itu, tanganku pasti hancur, namun kalau aku di suruh untuk mengangkatnya, itu dapat kulakukan”, kata Han Long dengan wajah memohon.
“Hmmm, baiklah, kau angkat patung itu, jika kamu dapat mengangkat di atas kepalamu maka kau boleh ikut berlatih bersama mereka” kata Han Ek.
Didalam dunia kultivasi, mengangkat patung batu seukuran Keledai dewasa adalah pekerjaan mudah dengan catatan tingkat kultivasinya telah mencapai kekuatan tubuh ke-5 awal.
Dengan wajah bodoh, Han Long berjalan menghampiri patung batu berbentuk singa duduk, dia menekuk lututnya lalu kedua tangannya memeluk patung itu dan berusaha mengangkatnya. Setelah beberapa saat patung itu menunjukkan pergeseran posisi dan mulai terangkat.
Han Long dengan wajah bodoh kemerahan, patung itu bergerak ke atas dan Han Long berusaha dengan sekuat tenaga mendorong patung itu ke atas kepalanya. dan berhasil dengan susah payah.
Dengan disaksikan oleh murid lainnya, peristiwa itu menimbulkan berbagai reaksi diantara mereka, ada yang mencibir, ada yang tertawa ada juga yang turut bergembira dengan penunjukan kekuatan Han Long.
Peristiwa ini pun tidak lepas dari sepasang mata jernih bocah perempuan di atas lantai kedua manor klan Han, Yakni Han Eng.
Luka Han Eng telah sembuh total bahkan kultivasinya saat ini mencapai tingkat Kekuatan Tubuh ke-8 Awal. Dia telah menerima perawatan tubuh melalui sumber daya Klan Han. Han Wi Teng merawat putrinya dengan sungguh-sungguh, berharap Han Eng dapat lolos pra seleksi penerimaan murid baru Sekolah Samudera Naga.
Melihat apa yang dilakukan Han Long dan melihat wajah polosnya, Han Eng ikut senang, karena Han Long memiliki penampilan yang dapat dipercaya sebagai teman. Sementara Han Long meletakkan kembali patung batu itu, badannya memutar dan matanya menatap Han Ek untuk melihat reaksinya. Han Ek tersenyum, lalu tangannya menunjuk arena latihan murid junior pertama, memberi tanda bahwa Han Long diberikan kesempatan bergabung dengan murid junior lainnya, yang masih berusia rata-rata 6-7 tahun.
Han Ek sebenarnya tidak yakin bahwa Han Long dapat berkultivasi pada saat usia sekarang ini, karena bagi Ras Manusia, yang namanya kultivasi pada usia sudah melewati tahun ke-5, sangat sulit, walaupun dapat dilakukan, namun perkembangan puncak kultivasi itu sendiri sangat rendah, jadi Han Ek memberikan kesempatan kepada Han Long karena dia anak yang ramah dan jujur juga memiliki kekuatan tenaga luar di atas rata-rata. Jadi Han Ek hanya sekedar membiarkan Han Long tidak terlalu kecewa.
“ Ha ha ha…”, dengan wajah bodoh, Han Long tertawa lebar dan berlari menghampiri kelompok anak berumur 6-7 tahun, terlihat tubuh Han Long paling tinggi di antara mereka, bagaikan raksasa yang dikelilingi para kurcaci, kita tahu, sekalipun Han Long masih berusia 10 tahun namun perkembangan tubuhnya di atas rata-rata anak seumurnya.
“Salam kakak-kakak senior kecil”, kata Han Long, sambil membungkukkan badannya dengan sungguh-sungguh kepada kelompok anak-anak di hadapannya.
“Selamat bergabung adik junior besar!!!”, sambut anak-anak itu serempak, sambil rata-rata dari mereka tersenyum lebar, menatap sang adik junior yang berbadan besar.
Kelompok murid lainnya yang berumur lebih tua dari mereka memberikan macam-macam reaksi, namun rata-rata memberikan senyum cemooh kepada Han Long.
“Hai bodoh, siapa namamu?”, terdengar suara anak perempuan di belakang Han Long, suara itu tidak bernada cemooh, namun ada nada bercanda, Han Long membalikkan badannya dan melihat seorang anak perempuan yang memakai pakaian seragam latihan Klan, yang tersenyum manis kepadanya.
“Han Long!, dan siapa nama kakak senior cantik ini he he he?”, jawab Han Long sambil menyeringai konyol.
“Panggil aku Senior Eng, dan mulai sekarang kamu jadi temanku”, kata Han Eng.
“Terima kasih senior Eng”, balas Han Long.
Maka dimulailah rencana Han Long untuk memenuhi perintah ibunya, Sian Li. Dari interaksinya dengan Han Eng, Han Long tahu bahwa Han Eng adalah putri tersayang dari kepala Klan Han, Han Long akan memanfaatkan persahabatannya dengan Han Eng, untuk dapat memasuki gerbang sekolah Samudera Naga.
Kalau seandainya Han Ek dan Han Eng mengetahui kondisi sejati Han Long dengan tingkat Kultivasi yang dicapainya, mungkin dia akan membenturkan kepalanya ke patung batu singa yang baru diangkat oleh Han Long. Han Long telah meningkatkan kultivasinya selama 2 bulan ini, di bawah bimbingan sang ibu, Han Long telah sampai pada Tingkat Kekuatan Jiwa ke-2 Menengah, hanya dalam 2 bulan, di bawah pengawasan ibunya sendiri, Han Long melompat 2 tingkat kultivasi, dari Kekuatan Jiwa ke-1 Puncak meningkat Ke Kekuatan Jiwa ke-2 Menengah.
Bahkan jika Han Long harus bertarung dengan Han Ek, Dapat dipastikan bahwa Han Ek akan menelan kekalahan, sekalipun usia Han Long selisih banyak lebih muda namun semua yang dipelajari oleh Han Long adalah Teknik Beladiri Kategori Dewa kelas Sempurna, sementara Han Ek hanya Kategori Bumi Kelas Lanjutan, selisihnya terlampau jauh dari sisi kualitas Ilmu beladiri, karena kualitas beladiri terbagi dalam lima kategori yaitu, Dasar, Bumi, Surga, Dewa dan Mustahil. dan masing-masing Kategori terbagi lagi dalam kelas Pokok, Kelas Lanjutan dan Kelas Sempurna. Mengapa setiap Teknik Beladiri dibedakan kategorinya? itu semata semata-mata karena hasil dari latihan teknik beladiri itu sendiri berkaitan dengan hasil kondensasi energi masing-masing teknik atau jurus yang dikembangkannya serta efek kehancuran pada lawan.
Sekarang rencana Han Long akan membantu Han Eng agar dapat lolos dalam Pra Seleksi Murid Baru Sekolah Samudera Naga. agar dia dapat mengikutinya sebagai pelayan Han Eng.