Sebuah bangunan besar berdiri dengan megah seperti bangunan raksasa dan menara-menara yang dibangun di sekeliling bangunan itu menambah kemegahan bangunan tersebut.
Bangunan nan megah ini adalah pusat kegiatan dari kedudukan 9 Anggota klan keluarga penguasa Benua Khui Ning, 9 penguasa ini bermarga Kam, Souw, Yap, Song, Wang, Zhang, Zhou, Liu dan Gao.
Kesembilan penguasa ini adalah mereka yang menguasai sepenuhnya klan keluarga masing-masing namun didalam klan itu sendiri ada yang membentuk nama-nama keluarga lain, namun dapat dipastikan di Benua Khui Ning, para tokoh-tokoh yang muncul di benua ini selalu bermarga dari 9 marga tersebut.
Dan 9 anggota penguasa benua Khui Ning menempati beberapa wilayah di pelosok benua, dan Kota Besar Bulu Angsa dijadikan pusat pemerintahan, karena letaknya cukup strategis dimana wilayah masing-masing klan terhubung dengan perjalanan darat maupun perjalanan yang menggunakan jalur sungai-sungai lebar dan panjang sehingga Kota Besar Bulu Angsa mudah dijangkau oleh seluruh penduduk benua Khui Ning.
Saat ini kesibukkan Kota Besar Bulu Angsa makin bertambah, banyak orang yang berniat memasuki kota melalui berbagai arus masuk melalui darat maupun jalur sungai yang kebetulan ada dua jalur sungai yang memotong kota Besar Bulu Angsa, sehingga menimbulkan kesibukan baru di pelabuhan yang sengaja didirikan di dalam Kota tersebut.
Seperti halnya pelabuhan jalur sungai Liu Huang yang tepat berada ditengah kota, jalur terpadat yang dimasuki oleh seantero penduduk Benua Khui Ning, dimana jalur ini adalah jalur favorit penduduk untuk tiba di kota Bulu Angsa menggunakan kapal-kapal mewah, dan jalur ini digunakan oleh Klan keluarga Kam, Souw dan Wang, yang kebetulan mereka memiliki kapal yang besar.
Sebuah kapal Laut yang megah bersandar di pelabuhan Kota Pertama Jalur Sungai Liu Huang dimana ada panji yang menandakan kepemilikan kapal laut tersebut bertuliskan ‘Souw’, dan sekelompok orang berduyun-duyun turun dari atas kapal itu dengan langkah percaya diri menggunakan baju seragam kuning dengan ujung lis baju mereka berwarna hijau yang bertuliskan di dada kiri mereka ‘Beladiri Souw’,
Kelompok ini adalah Klan Souw dengan pimpinan Pejabat Souw yang bernama Souw Beng, terlihat sekali Souw Beng didampingi oleh beberapa tetua yang berjalan dengan angkuh melewati para penjaga Kota Besar Bulu Angsa tanpa melirik para penjaga itu untuk sekedar melaporkan kedatangan mereka, dan hal ini hanya mengundang cibiran dari beberapa penjaga yang merasa tidak puas akan kelakuan keluarga Souw ini.
Lalu muncul kapal kedua dengan Panji yang berkibar bertuliskan ‘Wang’, dan yang turun pertama dari kapal itu seorang pemuda yang tampan dan gagah, alisnya mencuat ke atas serta dagu yang kokoh dan mulutnya tersenyum ramah, pemuda ini bernama Wang Jie, seorang anak muda yang menjadi putra dari Kepala Klan Wang yang bernama Wang Hao, yang merupakan anggota 9 orang penguasa benua Khui Ning.
Dari beberapa klan keluarga yang sudah memasuki Kota Besar Bulu Angsa, tinggal keluarga klan Kam yang belum mendaftarkan dirinya atau belum tercatat memasuki Kota ini.
“Ha ha ha …, saudara Wang Jie akhirnya kita berjumpa di pelabuhan Pertama. kupikir rombongan klan Wang akan melalui perjalanan darat, tidak kusangka keluarga Wang memiliki kapal sehebat ini, aku ikut gembira”, suara ini dikeluarkan oleh seorang pemuda kurus dengan sedikit bulu-bulu halus yang tidak teratur di atas mulutnya dari arah luar pelabuhan Pertama, ada sedikit nada sinis dalam suara itu.
“Oh, ternyata saudara Liu Teng, kupikir siapa?”, respon Pendek dari Wang Jie, dia tahu siapa Liu Teng ini.
Seorang pemuda yang banyak menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang di kota Besar Bulu Angsa ini dengan hal-hal tidak berguna daripada berkultivasi, dia lebih banyak mengandalkan kekuatan klan dibelakangnya yaitu Klan Souw dan Klan Liu.
Rata-rata tingkat kultivasi seumuran Liu Teng seharusnya sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-6 Puncak minimal, namun karena kemalasan dan pengejaran duniawi dari Liu Teng dia hanya mampu pada tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-5 Puncak tanpa ada kemajuan lain selain bersolek dan bersenang-senang, namun tidak ada seorangpun yang berani melawan kehendak Liu Teng ketika dia menginginkan sesuatu walaupun barang yang diinginkannya itu sudah ada yang memiliki.
Umur Liu Teng sudah mencapai 18 tahunan yang sama dengan usia Wang Jie, Tingkat Kultivasi Wang Jie sudah mencapai Insan Raja ke-1 Awal, Liu Teng tidak pernah memikirkan tingkat kultivasinya karena memiliki kekuatan dari klan yang selalu mendukungnya, dia merasa dirinya kurang berbakat dalam meningkatkan kekuatannya namun dia memiliki kepercayaan diri dalam mengelola perusahaan yang dipercayakan pada dirinya termasuk pengelolaan Pelabuhan Pertama di Kota Besar Bulu Angsa ini, dimana andil yang dimiliki Klan Souw dan Klan Liu menguasai sekitar 70 persen di pelabuhan ini belum termasuk beberapa tempat hiburan dan perjudian milik klan Liu dan Klan Souw.
Walau demikian Wang Jie tidak berani menunjukkan ketidaksukaanya pada Liu Teng karena dia menyadari bahwa pemuda ini memiliki pengaruh terhadap Dewan Pemasukan dan Pendapatan keluarga Klan Penguasa Benua Khui Ning, sehingga dia mendapatkan hak istimewa perlindungan dari Dewan tersebut.
“Saudara Wang Jie, sebaiknya kau mampir dulu ke tempatku karena ada beberapa hal yang harus kita diskusikan sehubungan dengan akan dibukanya Taman Sunyi, dan kupikir kita dapat membuat beberapa kesepakatan bisnis yang menguntungkan semua pihak”, kata Liu Teng dengan tersenyum.
Wang jie mengerutkan keningnya seperti berpikir, dia lalu menjawab,
“Maafkan aku saudara Liu Teng, aku tidak memiliki kekuasaan sejauh itu seperti dirimu, semua keputusan strategis bisnis keluarga kami diputuskan oleh para Tetua Klan kami, demikian juga ayahku sebagai kepala klan akan selalu mendiskusikan dengan saudara-saudaranya yang lain”, kata Wang Jie dengan wajah menunjukkan penyesalan.
Terlihat kekecewaan pada raut wajah Liu Teng setelah mendengar penjelasan Wang Jie, dia curiga ini hanyalah penolakan secara halus dari Wang Jie terhadap dirinya.
“Baiklah saudara Wang, jika itu sudah menjadi ketentuan keluargamu, aku akan mencari kawan yang lain yang mau membahasnya bersamaku”, dengan wajah muram Liu Teng meninggalkan Wang Jie, tidak berapa lama kelompok Keluarga Wang sudah keluar dari Kapal mereka dan ada seorang pria setengah baya yang menghampiri Wang Jie.
Ada suara jiwa yang terdengar di kepala Wang Hao,
“Apa yang dikehendaki pemuda pecundang itu?” Tanya pria setengah baya itu yang tidak lain dari ayah Wang Jie, Wang Hao.
“Dia ingin membuat kesepakatan bisnis dengan keluarga kita, kemungkinan berkaitan dengan tentang hasil penemuan tumbuh-tumbuhan roh yang akan klan kita dapati di Taman Sunyi”, jawab Wang Jie dengan menggunakan saluran jiwanya.
“Jie er, kau harus hati-hati terhadap pemuda licik itu, sekalipun tingkat kultivasinya rendah namun dia memiliki kepintaran lain”, kata Wang Hao memperingati putranya, yang dibalas oleh Wang Jie dengan isyarat anggukan kepalanya.
Di tempat Lain serombongan orang memasuki kota Besar Bulu Angsa melalui gerbang sebelah barat, dimana rombongan Klan keluarga Kam datang dengan para pengawal yang mendampingi Kam Lin dan kelompok junior yang akan berpartisipasi dalam kegiatan pembukaan Taman Sunyi.
Han Long ada diantara barisan mereka,
“Ha ha ha …, apakah pemuda ini akan menjadi peserta juga”, kata seorang pemuda yang berdiri ketika klan keluarga itu melewati sekelompok muda-mudi yang banyak berkumpul di sekitarnya hanya untuk menonton rombongan-rombongan besar yang melewati gerbang kota, karena ini bentuk hiburan bagi warga Kota Besar Bulu Angsa.
“Dari klan keluarga manakah rombongan ini, sehingga harus membawa pemuda tolol seperti dia?”, tanya anak muda lain, seorang wanita.
“Belum tentu dia sebodoh itu, bisa saja dia kartu tersembunyi klan ini, karena aku pernah melihat seperti ini beberapa tahun lalu” kata lainnya lagi.
“Hah!, yang benar saja jika dia sekuat itu, lihat dia hanya mengandalkan postur tubuhnya yang tinggi itu”, Jawab yang lain.
Han Long tidak mempedulikan gunjingan di sekitarnya, namun berbeda bagi para pemuda dan pemudi yang bersamanya, mereka merasa terganggu dengan kehadiran Han Long ditengah-tengah rombongan mereka, karena hal itu merupakan penurunan prestise atau kebanggan klan mereka yang merupakan salah satu klan penguasa Benua Khui Ning.
Kam Lin memutar badannya, matanya menatap tajam ke arah para muda-mudi itu,
“Jika kalian merasa kuat, kemarilah!”, kata Kam Lin ke arah mereka.
Muncullah seorang gadis yang tidak kalah cantiknya dengan Kam Lin, dan langsung menghadapi Kam Lin seraya berucap,
“Kau pikir aku takut padamu?, aku Yap Ing Sun, aku hanya mengatakan pengikutmu tidak pantas menjadi peserta pembukaan Taman Sunyi, aku malah menyayangkan untuk menyadarkannya, aku khawatir begitu dia sampai disana dia sudah mati”, kata gadis itu, yang ikut mengejek Han Long sebelumnya.
Seorang pemuda dari rombongan Klan Kam maju di tengah-tengah antara Kam Lin dan gadis yang bernama Yap Ing Sun,
“Senang mendengar nona Yap Ing Sun memberikan pendapat, tetapi ini tidak harus menimbulkan bentrokan antara keluarga klan kita, jika nona ingin menguji nona muda kita sebaiknya tidak disini dan ini hanya hal remeh saja”, kata pemuda itu.
Gadis bernama Yap Ing Sun adalah seorang gadis yang telah membuat nama di kota Besar Bulu Angsa, dimana dia pernah mengalahkan seorang pemuda dari klan keluarga Zhang, yang tingkat kultivasinya berada di atas dirinya.
“Kakak Kam Song minggirlah!, aku tidak takut menghadapinya”, kata Kam Lin pada kakak seniornya, Kam Song.
Kam Song membalikkan badannya serta menggelengkan kepalanya pada Kam Lin, tanda tidak setuju bila terjadi bentrokan di tempat ramai seperti ini, namun Kam Lin sudah marah terhadap ejekan pada diri Han Long, dia tidak terima pelayannya dikatakan tidak berguna.
Saat keduanya bersikeras untuk bertarung tiba-tiba wajah Yap Ing Sun berubah dan seketika wajahnya berubah pucat seputih kertas, dengan nafas tersengal-sengal, padahal belum ada yang mendekatinya sekalipun Kam Lin yang akan menghadapinya, namun dia terhalang oleh tubuh Kam Song.
Uhughh !!!,
Yap Ing Sun mengeluarkan batuk darah dari mulutnya, dia lalu jatuh terduduk, dan kejadian itu diikuti pula oleh beberapa pemuda yang tadi ikut mengejek Han Long, mereka berwajah pucat dengan nafas tersengal-sengal dan batuk darah pula.
Hal ini sangat mengejutkan semua orang, terutama para tetua yang mendampingi klan Kam, diantara mereka saling melirik dan memastikan, apakah ada salah satu dari mereka yang menyerang kelompok anak-anak muda ini, dan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Han Long yang menjadi sumber ejekan mereka sudah berdiri jauh dari rombongan klan Kam malah dia berdiri dengan wajah pucat dan kekhawatiran tergambar pada wajahnya.
Kejadian yang mengherankan ini disaksikan oleh semua yang hadir dan tidak satupun orang yang menyadari bahwa Han Long hanya menatap rombongan yang mengejeknya dengan mata berkilat misterius, karena saat itu dia menduga dan berpikir, bahwa dengan watak Kam Lin yang sudah dikenalnya akan menimbulkan keributan, makanya dia dengan sengaja mengerahkan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa untuk menyerang kelompok muda-muda itu namun dalam batas-batas tertentu, hanya sekedar melemahkan energi mereka.
Yap Ing Sun dengan susah payah berdiri, tubuhnya bergidik ngeri, dia tahu ada energi yang menyerang jiwanya namun dia tidak tahu dari mana energi sebesar itu menyerang diri dan kawan-kawannya, dia hanya merasa bahwa seluruh aliran di pembuluh darahnya tiba-tiba terhenti mendadak, serta ada dentuman keras yang melanda isi kepalanya yang mengakibatkan dada disebelah kirinya terluka.
Setelah berdiri, Yap Ing Sun tanpa mengucapkan sepatah katapun, pergi meninggalkan rombongan klan Kam, diikuti oleh kawan-kawannya yang lain.
Kam Lin hanya berdiri dengan heran melihat kepergian rombongan Yap Ing Sun, demikian juga seluruh klan keluarga Kam termasuk pemuda Kam Song yang tadi sibuk menghalangi Kam Lin bentrok dengan Yap Ing Sun.
“Lanjutkan perjalanan, jangan menarik perhatian lainnya, kita langsung menuju gedung Penguasa 9 Anggota secepatnya !!”, ujar salah satu Tetua Klan Kam.
Tempat itu berubah menjadi sepi, setelah ditinggalkan dua rombongan, namun di hati para warga yang kebetulan melihat batuk darah Yap Ing Sun dan kawan-kawannya menyebar dengan berbagai hiasan kata-kata yang berlebihan,
ada yang bilang bahwa kekuatan klan Kam sangat tinggi,
ada pula yang bilang bahwa Yap Ing Sun terlalu lemah berhadapan dengan gadis muda klan Kam, atau
ada kekuatan supranatural pada barisan kelompok klan keluarga Kam, dan keberadaan ini sangat menakutkan.
Keesokan paginya 3 sosok tubuh, satu pria dan dua wanita melangkah dengan langkah santai memasuki gerbang kota Besar Bulu Angsa dari arah Timur, Pria ini masih muda sekitar 30 tahunan, wajah bersih dan bercahaya, ada senyum yang selalu menghiasi wajahnya, dan dua orang wanita ini seperti berusia 20 tahunan keduanya sama cantiknya, namun gadis yang tubuhnya sedikit lebih tinggi, bola matanya berwarna merah muda dengan bentuk telinga sedikit meruncing.
Mereka adalah Yap Kun Tek,Yap Ing dan putrinya, Coa Leng In, mereka bertiga dalam upaya mengejar Coa Kun namun pengejaran ini tanpa hasil dan akhirnya atas usulan Yap Kun Tek mereka harus berkunjung ke Benua asal leluhur mereka Benua Khui Ning.
Dalam perjalanannya, mereka telah mendengar akan dibukanya Taman Sunyi, dan menurut keterangan Yap Kun Tek, ini adalah kesempatan bagi keduanya untuk menguji diri, sambil memperoleh beberapa keuntungan bila mereka dapat masuk Taman Sunyi atau yang disebut juga Taman Abadi, dimana beberapa tumbuhan roh yang tumbuh di dalam taman itu, beberapa diantaranya sangat bermanfaat bagi peningkatan kultivasi mereka.
Mendengar penuturan kakek Buyutnya Yap Ing mengajak putrinya untuk turut serta dalam kontes ini, siapa tahu mereka cukup beruntung dan memperoleh beberapa ramuan yang sangat mereka perlukan dalam peningkatan kultivasi mereka, dan hal itu cukup menarik minat Coa Leng In sekedar untuk menguji diri dan mengetahui kekuatan dirinya, karena ada lawan-lawan yang sepadan yang akan mereka hadapi selain melawan binatang-binatang mistis di taman itu.
Mereka bertiga memasuki sebuah rumah makan yang juga menyediakan tempat menginap, bagi Yap Kun Tek makanan jasmani tidak diperlukan, tapi dia masih menikmati kebersamaan dengan keturunannya dan dia sebenarnya tidak menunjukan tingkat kultivasinya dengan alasan bahwa di Benua ini sudah banyak ahli yang berkeliaran memburu dirinya, ketika dia meninggalkan benua ini pada kultivasi Tingkat Manusia Dewa, dan sekarang penampilan Yap Kun Tek sudah berbeda pada puluhan tahun lalu, dengan peningkatan kultivasi yang dimilikinya dia dapat tampil lebih muda atau lebih tua karena setelah tingkat Raja Dewa dia bisa mengubah bentuk jasmaninya sesuai keinginan hatinya.
Yap Kun Tek adalah Penguasa Benua Khui Ning sebelumnya, dan sekarang dia ingin menikmatinya sebagai warga biasa penduduk Benua Khui Ning, satu hal yang ditakutinya walau dia sudah menjadi Raja Dewa, jika dia menunjukkan diri sejatinya, adalah musuh dari tiga benua yaitu benua Thian Agung, Benua Merah dan Benua Ketiga.
Dia pernah membuat kesalahan menyusup ke benua Thian Agung dengan bantuan seseorang dan mencuri beberapa benda pada sekte-sekte benua itu, dan dia tahu bahwa di benua Thian Agung, tingkat kultivasi yang dicapainya sudah dikuasai oleh ratusan orang di 3 benua misterius itu, bahkan keberadaan dirinya hanya setingkat kepala komandan penjaga Benua Thian Agung.
Faktor inilah yang menyebabkan dia keluar dari benua Chong Yang karena dia merasakan ada aura seorang ahli yang jauh di atasnya di Benua Chong Yang saat itu, sehingga dia mengajak keturunannya pergi secepatnya dari kedalaman Hutan Kabut Putih.
Setelah memesan dua kamar, dua wanita ini lalu turun ke lantai 2 untuk memesan dan menikmati hidangan, layaknya dua gadis remaja, ibu dan anak ini memesan banyak makanan dan minuman, setelah semua tersedia keduanya dengan gembira menikmatinya karena selama ini di dalam Hutan Kabut Putih mereka hanya dapat menikmati makanan yang sederhana tanpa dilengkapi dengan bumbu dan rempah-rempah istimewa seperti di rumah makan ini.
Di lantai dua ini semua meja telah dipenuhi oleh beberapa tamu yang menginap atau sekedar mencari makan, dan tidak lama kemudian dua pasangan muda-muda telah memasuki lantai dua ini, dua orang pemuda berjalan di belakang dua gadis muda yang cantik, salah satunya adalah Kam Lin, Kam Lin mengajak sahabatnya Zhang Mei, pendamping kedua gadis ini adalah Kam Song dan Wang Jie, empat anak muda ini sudah menjalin persahabatan dari kecil.
Saat keempat anak muda ini mencari-cari meja kosong yang ternyata telah diisi penuh, mereka berempat melihat ada dua orang gadis yang menempati meja besar penuh hidangan dengan beberapa kursi yang tidak ditempati, Wang Jie berinisiatif mendekati dua gadis itu untuk dapat bergabung,
“Salam kami untuk anda berdua, bolehkah kami bergabung, dan kami akan memesan hidangan sendiri”, katanya.
Yap Ing hendak memberikan persetujuannya, namun dia melihat putrinya mengerutkan kening,
“Maaf, kami tidak bersedia, karena kami baru saja memulai menikmati hidangan ini, mengapa anda tidak meminta pelayan rumah makan ini untuk menyediakan tempat bagi kalian?”, jawab Coa Leng In.
Kam Lin penasaran dengan penolakan itu, dia melihat gadis cantik yang tinggi itu sedikit sombong,
“Oh ya, dengan hidangan sebanyak ini apakah kalian mampu menghabiskannya?, kami hanya meminta tempat yang tersisa dan kami tidak akan menyentuh hidanganmu” kata Kam Lin sedikit ketus.
“Sudahlah saudari Lin, kita akan bertanya pada pelayan”, kata Zhang Mei menengahi.
“Itu urusan kami, dan kami tidak mau terganggu oleh kalian, maaf”, kata Coa Leng In kembali.
Kam Song hanya melirik pada Yap Ing, dia melihat wanita ini begitu lembut dan kecantikan Yap Ing seperti menghipnotis dirinya,
“Adik Lin, sudahlah biar aku yang bertanya pada pelayan”, Kata Kam Song sambil pergi menghampiri pelayan yang tidak jauh berdiri di tempat itu.
Tidak butuh waktu lama, sebuah meja tambahan dipersiapkan di lantai dua rumah makan itu, dan mereka berempat memesan makanan yang mereka sukai, Kam Song dan Wang Jie sering menengok ke arah posisi dua gadis di seberang mereka, sama halnya dengan Kam Song, Wang Jie pun mengagumi kecantikan dua orang wanita itu terutama kelembutan dan kedewasaan Yap Ing, dan Yap Ing sendiri tidak menyadari tatapan dua pemuda diseberangnya, namun berbeda dengan Coa Leng In.
“Ibu, apakah ibu tadi hendak memberikan kesempatan pada dua pemuda itu?, apakah mereka cukup tampan sehingga ibu mau bergabung dengan mereka?”, tanya Coa Leng In curiga.
“Eh…!!?. Apa maksudmu?, ibu tidak mengerti, kenapa ibu harus disalahkan”, tanya Yap Ing dengan saluran komunikasi jiwa diantara mereka, dengan mimik wajah heran.
“Apakah ibu tidak menyadari dua pemuda tadi?, kini mereka sering mencuri pandang terhadap ibu, dan aku tahu mereka sangat tertarik pada ibu, tugas kita masih ada untuk mencari kakak Coa Kun”, kata Coa Leng In.
Yap Ing akhirnya maklum setelah melirik dua pemuda diseberangnya, dia lalu tersenyum dan menggerakkan lehernya dengan gerakan menggoda yang ditujukan pada putrinya,
“Aih… !, sudahlah kupikir apa, anak-anak muda yang masih mentah kau ributkan, atau apakah putriku tersayang merasa kalah bersaing dengan ibu?, kalau demikian ibu akan pergi ke kamar?”, kata Yap Ing menggoda.
Gerakan Yap Ing disalah tafsirkan oleh Kam Song dan Wang Jie yang kebetulan mereka melihat gerakan sensual dari Yap Ing yang tidak disengaja mengangkat dua buah bukit dadanya semakin menantang, hal ini menimbulkan deburan jantung mereka makin keras, perubahan wajah kedua pemuda ini tidak terlepas dari kedua gadis temannya, Kam Lin dan Zhang Mei.
Serombongan orang sekitar sepuluh anggota melangkah menaiki tangga lantai dua rumah makan itu, maka muncullah Liu Teng.
“He he he…, Nona berdua kebetulan sekali, kalian berdua mendapat kehormatan untuk menemani tuan muda ini, dan kalian tidak usah khawatir akan pembayaran hidangan yang telah kalian nikmati, semuanya menjadi tanggunganku”, kata Liu Teng menghampiri meja Yap Ing dan Coa Leng In.
Tindakan Liu Teng membuat hati Coa Leng In makin jengkel,
“Sampah baru yang begitu bau datang kepada kita, aihhh…, apakah kita tidak diberi ketenangan di kota ini untuk menikmati hidangan kita?”, kata Coa Leng In sambil menatap beberapa pemuda yang mengiringi Liu Teng.
“Oh, apa maksudmu?, aku dan kawan-kawanku bermaksud baik untuk mentraktir kalian, jangan salah paham!”, kata Liu Teng yang disetujui oleh kawan-kawannya sambil cengengesan.
“In er kita pergi”, kata Yap Ing seraya berdiri,
“Kalian ibu dan anak?, tak kusangka…!!, Ibunya cantik bagai peri dan putrinya indah bagai bunga, sungguh aku mendapat hadiah dari surga”, kata Liu Teng.
“Sungguh pemuda sampah kota Bulu Angsa, Liu Teng!!, kau ingat padaku?”, sebuah suara marah dari belakang Liu Teng dan kawan-kawanya.
Liu Teng memutar badannya dan melihat Kam Lin dan rombongannya.
“Mengapa hari ini banyak bunga yang bermekaran di lantai dua rumah makan ini, sungguh pemandangan yang indah, kawan-kawan aku akan membagi hasil ini dengan kalian semua, dan rupanya saudara Wang Jie harus mengalah padaku”, kata Liu Teng sambil memberi kode pada kawan-kawannya untuk mengatasi Wang Jie dan Kam Song.
Kelompok Liu Teng adalah kelompok anak muda dari klan-klan penguasa benua Khui Ning, mereka adalah klan sekutu dalam mengambil kebijakan untuk kepentingan klan-klan mereka.
Klan Keluarga Kam, Wang dan Zhang adalah sekutu, yang menjadi tandingan mereka ada klan keluarga Souw, Liu, Zhou dan Gao, sementara dua klan keluarga lainnya yaitu klan Yap dan klan Song memiliki pendiriannya sendiri, sehingga untuk memenangkan sebuah kebijakan baru, kedua kubu akan mendekati dua klan yang tidak menentukan sikap.
Klan Yap sendiri adalah klan yang pernah menguasai benua Khui Ning, sekalipun leluhur penguasa dari klan Yap menghilang namun generasi penerusnya masih memiliki kekuatan yang diperhitungkan oleh semua klan penguasa Benua Khui Ning sampai saat ini.
Pemimpin Klan saat ini bernama Yap Bong, dia sudah mencapai tahap kultivasi Manusia Dewa ke-3 Puncak, dia adalah kakek dari gadis yang pernah berhadapan dengan klan Kam, Yap Ing Sun.
Melihat tindakan dari Liu Teng, Kam Song dan Wang Jie sudah mewaspadainya, mereka sudah mengerti bahwa Liu Teng sengaja mencari gara-gara karena khususnya Wang Jie yang menolak maksud dari Liu Teng untuk menariknya menjadi sekutu.
“Ambooooi…, betapa cantiknya gadis-gadis di lantai ini, aku menjadi gugup dan detak jantungku bergemuruh tidak menentu.!!!” tiba-tiba sebuah suara keras dari arah tangga masuk lantai dua bergema, dan masuknya seorang pemuda tampan namun ditutupi wajah bodoh dengan mata yang terbelalak tolol, mengusir ketegangan dari tiga pihak.
Ada dua gadis yang terkejut mendengar suara ini, terutama Coa Leng In, yang secara tidak sadar mulutnya sedikit terbuka melihat sosok yang tidak dia duga akan muncul ditempat ini.
Kam Lin bereaksi, ”Along pergilah dari tempat ini!”.
“Nona Kam, aku justru datang atas perintah ayahmu, Pejabat Kam untuk mencarimu”, kata Han Long tanpa memperhatikan ada tiga kelompok yang bersitegang, dia dengan acuh berjalan menghampiri Kam Lin.
Sementara Coa Leng In yang terbengong jadi sadar kembali, ada suara di kepalanya,
“Apa kabar nona Leng In?, itu pasti ibumu jangan katakan apapun tentang diriku dan aku juga tahu bahwa leluhur Yap tidak jauh dan sedang memperhatikanmu”, Suara Han Long bergema.