Zhang Mei cukup heran dengan tingkah Han Long yang datang tanpa rasa takut, dia memperhatikan bahwa pemuda yang berpakaian sederhana ini ternyata hanya sekelas pelayan dari sahabatnya, sebelumnya dia tidak mengetahui kalau sahabatnya memiliki pelayan muda yang begitu gagah walaupun ada seringai kebodohan di wajahnya, tapi baginya ketampanan Han Long tetap menarik hatinya.
Berbeda dengan Kam Song yang sedikit malu melihat keacuhan Han Long tanpa memperdulikan kehadiran kelompok lain, dimana kelompok ini adalah putra dan putri penguasa Benua Khui Ning, tindakan Han Long seperti tindakan yang kurang ajar, demikian juga pikiran yang ada di kepala Wang Jie.
“Maaf saudara-saudara, aku harus mengganggu ketenangan diskusi kalian karena aku menjalankan perintah dari Pejabat Kam untuk mengambil putrinya sehingga diskusi diantara kalian harus dihentikan”, kata Han Long dengan wajah polos tanpa beban.
“Along, siapa bilang kita berdiskusi, kita mau bertempur”, protes Kam Lin.
“Hi hi hi…, bertempur apanya?, betul kata pelayan ini, dari tadi kita memang ngobrol artinya kita berdiskusi, apa yang dilakukan orang-orang kalau sedang berdiskusi, ngobrol kan?”. kata Yap Ing sambil tangannya meraih tangan Coa Leng In untuk pergi, dia merasa lucu dengan tindakan Han Long, sekalipun dia belum mengenal Han Long dia merasa suka dengan kekonyolan yang dibuat oleh Han Long.
“Along minggirlah, jangan membuat masalah baru”, kata Kam Song.
“Maaf tuan muda Kam Song, perintah pejabat Kam adalah perintah yang harus dijalankan”, jawab Han Long.
“Semut yang menghalangi tindakan tuan muda ini akan mati di tempat, hanya seorang pelayan remeh berani menghalangi urusan tuan muda ini, kematian bagiannya, kawan-kawan urus pelayan itu”, kata Liu Teng memberi perintah pada kelompoknya.
“Jangan kalian sentuh dia, atau kalian akan merasakan akibatnya” , kata Zhang Mei menghalangi perbuatan beberapa orang dari kelompok Liu Teng yang menghampiri Han Long dengan berdiri di antara Han Long dan kelompok Liu Teng.
Wang Jie pun ikut berdiri berdampingan dengan Zhang Mei,
“Urusan kalian dengan kami, bukan dengan pelayan keluarga Kam” kata Wang Jie.
Melihat kelompok Kam Lin dan kawan-kawannya mengambil sikap melindungi Han Long, Kam Song pun turut ambil bagian untuk melindunginya walaupun dia sedikit enggan karena Han Long hanya seorang pelayan biasa.
“Berani kalian sentuh pemuda itu kalian akan mati di tempat”, ucapan ini disuarakan oleh Coa Leng In, dimana Yap Ing sedikit terperangah melihat tindakan putrinya yang bergabung dengan kelompok yang tadi ditolaknya.
Bukan hanya Yap Ing yang heran sebaliknya Kam Song dan Wang Jie pun ikut terkejut melihat sosok gadis cantik yang akan membela Han Long, menurut mereka apa daya tarik Han Long sehingga menarik perhatian gadis-gadis yang bersama mereka, kalau Kam Lin jelas untuk membela pelayannya, tapi kemudian Zhang Mei ikut-ikutan pula, berikutnya adalah sosok wanita dimana mereka tadi berusaha mencuri-curi pandang, terutama terhadap Yap Ing.
Han Long yang melihat situasi itu, lalu maju dengan badan tegak bagaikan seorang ahli, dan berucap dengan nada keren,
“Apakah kalian akan melawan barisan peri-peri cantik ini?, aku sebetulnya malu berlindung dibawah ketiak mereka, namun aku tak kuasa melarang perhatian mereka padaku, ayo serang!!”, kata Han Long dengan muka serius dengan tangan memberi aba-aba pada barisannya, setelah itu dia mundur ke belakang.
Hal ini sangat mengherankan barisan wanita yang membelanya, mereka pikir Han Long akan bertindak, ternyata itu hanya sekedar kata-kata saja, terlebih Kam Song dan Wang Jie yang berharap ada sedikit kekuatan yang dimiliki oleh Han Long, kenyataannya, HanLong langsung mundur dan menyerahkan sisanya pada diri dan kelompoknya.
Coa Leng In tidak dapat menahan rasa geli di hatinya, melihat tatapan serius dari sahabatnya itu ketika berucap seperti yang serius, dia pun tahu bahwa di depan sahabatnya ini, kekuatan lawan hanyalah serangga yang sekali Han Long bergerak, mereka semua tidak akan sempat bernafas untuk selamanya.
“Hi hi hi…, kupikir kau akan bertindak dasaaaaarrrr…. pemuda konyol!!!” kata Coa Leng In cekikikkan.
melihat tingkah Han Long seperti barusan terjadi, membuat emosi Liu Teng naik pada puncaknya,
“Pemuda bodoh, bunuh!!”,
kata Liu Teng memberi aba-aba pada kelompoknya, maka 10 orang melawan 6 mulai bergerak, seketika terdengar letusan energi kultivasi dari kedua belah pihak, dimana Coa Leng In menghadang tiga lawan sekaligus bersama dengan Yap Ing yang sebetulnya masih bertanya-tanya mengapa putrinya repot-repot membela pemuda tolol yang baru datang itu, dan terlihat putrinya langsung menghadang tiga lawan sekaligus, karena lawan itu hendak menyerang Han Long,
masing-masing lawan yang dihadang oleh Coa Leng In langsung merasakan tekanan energi kultivasi sehingga mereka langsung menerima beberapa pukulan yang dikerahkan oleh pasangan ibu dan putrinya ini secara bertubi-tubi.
Zhang Mei, Kam Song dan Wang Jie, masing-masing menghadapi lawan yang mudah karena lawan terberat sudah dihadang oleh Coa Leng In dan Ibunya, sementara Kam Lin dengan beringas memberikan teknik terbaiknya untuk segera melumpuhkan Liu Teng.
Liu Teng terkejut melihat kekuatan lawan dari kelompoknya, dia tidak menyangka bahwa kekuatan ibu dan putrinya berada di atas kelompoknya padahal ibu dan putrinya masing-masing menghadapi 3 orang dari kelompoknya namun kawan-kawannya yang mengeroyok ibu dan putrinya itu malah kerepotan,
Bukk, Dess,,Plak… Auugh… Aaahh !!!
Dan bunyi pukulan pada tubuh mereka sering terdengar dengan erangan yang saling bersahutan di antara mereka.
Liu Teng sekarang ini seperti menendang plat logam, dia pikir dengan jumlah anggota pada kelompoknya cukup mengatasi masalah ini, namun dia menghadapi kenyataan yang sangat pahit, apalagi dia melawan orang yang menjadi musuh bebuyutannya, yang ternyata kekuatannya baru tahu jauh diatas dirinya, diapun bernasib sama dengan yang lain, mungkin dia menerima lebih parah karena Coa Leng In dan lainnya masih membatasi tenaganya, berbeda dengan Kam Lin dengan kekuatan penuh menghajarnya tanpa ampun.
Buuugh.., Buuuugh… Dieeesss …!!
Aduhhh.., Auwwww…, Arrggghhh !!
Tiga kali serangan Kam Lin memukul bagian dada, perut dan pelipisnya, dan semua itu tepat pada sasarannya mengakibatkan luka yang parah yang diderita Liu Teng.
“Nona muda Lin, sudah!, dia sudah tidak berdaya”, Kata Han Long mengingatkan Kam Lin, karena dia lihat bahwa, Liu Teng sudah terluka sangat parah, dari telinga, hidung, dan mulut Liu Teng sudah mengalir darah, jangan sampai Kam Lin membunuh Liu Teng karena akan menimbulkan masalah yang lebih besar, walau bagaimana Han Long tetap mengharapkan kuota memasuki Taman Sunyi bersama Kam Lin tidak terganggu karena persoalan kecil generasi muda ini.
Pertempuran kedua belah pihak menghabiskan satu dupa terbakar, namun ruangan itu sudah rusak porak-poranda dimana pemilik rumah makan itu sudah bersembunyi sambil membayangkan kerugian yang dideritanya, dia tidak sanggup melerai apalagi memanggil pihak keamanan kota karena yang berselisih ini adalah hegemoni klan keluarga benua Khui Ning, apa artinya para penjaga-penjaga itu.
“Terima kasih atas bantuan dan keberpihakan anda berdua, nona”, ucap Kam Song setelah memukul pingsan lawannya, sekarang dia tahu kekuatan dua wanita di depannya yang sanggup melawan orang yang tingkat kultivasinya di atas dirinya, demikian juga dengan Wang Jie yang membungkukkan badannya memberi ucapan terima kasih pada Coa Leng In dan Yap Ing.
“Kalian berdua harus berterima kasih pada pemuda tolol itu”, kata Coa Leng In sambil melirik Han Long yang menghalangi Kam Lin untuk menghabisi Liu Teng.
“Apakah kakak berdua mengenal pemuda pelayan sahabat kami?”, tanya Zhang Mei
“Tidak!”, jawab Coa Leng In.
“Oh”, jawaban serentak dari kelompok Kam Lin bersamaan, dengan menyisakan wajah heran.
“Setelah urusan ini selesai, aku menghendaki ucapan tulus dari kalian semua dengan mengirimkan pemuda tolol itu untuk mengunjungi kami, kebetulan kami memerlukan seorang kurir untuk keperluan kami”, Kata Coa Leng In, Yap Ing menatap putrinya dengan curiga namun dia tidak bereaksi, “Kurir apaan!!??”, dalam hatinya.
“Along apakah kau mendengar permintaan nona ini?”, tanya Kam Song sedikit cemburu.
“Ah…, Oh.., permintaan apa?”, tanya Han Long dengan senyum dan seringai bodohnya.
“Apa yang dikehendakinya?” Tanya Kam Lin setelah mengatur nafas dan emosinya, sambil menatap Coa Leng In dan Yap Ing bergantian.
“Mereka memerlukan bantuanmu untuk melakukan sebuah pekerjaan”, kata Wang Jie dengan kening berkerut,
“Nona berdua, jika boleh kami berdua dengan sukarela membantu keperluan itu kalau hanya menjadi kurir saja”, kata Wang Jie kemudian.
“Yang kuperlukan pemuda tolol itu, yang lain tidak, tapi jika dia tidak mau, aku tidak memaksanya”, kata Coa Leng In dengan wajah semburat merah menandakan ketidak sukaannya, sambil dia dan ibunya pergi meninggalkan rombongan Kam Lin dan kawan-kawannya,
“Aku akan datang setelah urusan mengantar nona Kam Lin ke ayahnya, kenapa harus terburu-buru?, aku pria bertanggung jawab, dasar tukang paksa…!!”, kata Han Long dengan kening berkerut, menatap punggung Coa Leng In dan Yap Ing.
Mendengar ucapan Han Long, rombongan Kam Song dan kawan-kawannya terkejut, mereka khawatir dua wanita itu akan berbalik marah dan akan menghajar mereka terutama Kam Song dan Wang Jie yang ingin tampil baik di hadapan wanita yang telah menarik hatinya.
“Dasar bodoooohhh, tolol!” bersamaan ucapan itu dikeluarkan oleh Kam Song dan Wang Jie.
“Baik, kami mendengar kesepakatan ini, dan temui kami di lantai 3 bangunan ini”, kata Coa Leng In dengan senyum termanis yang pernah dia buat, ketika dia memalingkan lehernya yang panjang melirik Han Long.
Kelompok Kam Lin dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan berani Han Long mengambil seikat kantong yang berisi koin-koin emas pada diri Liu Teng untuk diberikan pada pemilik rumah makan sebagai kompensasi kerusakan yang terjadi, sambil meminta pengurus rumah makan ini untuk memanggil pengawal kota agar membawa Liu Teng dan kawan-kawan ke klan masing-masing, sementara yang lain sudah tidak peduli akan tindakan Han Long yang cukup aneh, karena menerima pembelaan dari dua wanita yang disangka mereka tidak akan bertindak membantu mereka.
Peristiwa yang terjadi di rumah makan itu hanya sesaat saja jadi pembicaraan orang-orang sekitarnya, karena kejadian-kejadian ini sering terjadi, yang penting tidak menimbulkan korban jiwa, namun tidak demikian bagi klan Souw, Klan Liu dan klan lainnya yang menjadi sekutu mereka, hal ini tidak mudah dilupakan, apalagi ini menyangkut kejadian yang berawal dari penolakan putri Kam terhadap inisiatif perjodohan klan Souw yang ditolak oleh Klan Kam tiga bulan lalu, artinya sekutu pihak Klan Souw gagal menarik klan keluarga Kam ke kubu mereka.
Setelah dua hari berlalu, Coa Leng In menerima seorang pemuda di ruangannya,
“Apa kabar Saudara Han Long?”., Coa Leng In menyambut kedatangan Han Long setelah diterima di ruangannya, tidak lama kemudian Yap Ing memasuki ruangan tersebut, dan melihat bahwa penampilan wajah pemuda itu sudah berubah, sinar matanya seperti bertaburan bintang membayangkan kekuatan jiwa yang semestinya tidak dimiliki oleh seorang muda seusianya.
Yap Ing cukup heran dengan perubahan sikap yang dimiliki oleh Han Long, dia ternyata tertipu oleh penampilan Han Long beberapa waktu lalu sekarang yang berdiri di hadapannya adalah pemuda yang sama namun aura kekuatan yang dimilikinya jauh berbeda dan Yap Ing merasakan kekuatan itu jauh diatasnya.
“Hai anak muda kita bertemu kembali?”, sebuah suara penuh wibawa, memasuki ruangan itu, dengan kemunculan Yap Kun Tek yang seharusnya memberikan tekanan jiwa pada orang-orang yang tingkat kultivasinya jauh dibawahnya, tidak berpengaruh pada Han Long dan itu semua diperhatikan oleh Coa Leng In dan ibunya.
“Salam Tetua dan Nyonya”, Kata Han Long membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada seseorang yang lebih senior.
“Saudara Han Long, sudah berapa lama kau berada di benua ini?” Kata Coa Leng In langsung.
“Aku sudah berada disini selama dua tahun, dan aku sengaja datang kemari selain ingin bertemu teman lama namun sesungguhnya aku ingin bertanya pada leluhur Yap tentang sesuatu”, kata Han Long langsung berterus terang dan terjadi perubahan sikap.
“Oh, ho ho ho…, aku mengerti maksudmu anak muda, namun aku tidak akan dengan mudah memberitahukan apa yang ingin kau ketahui, aku ingin bertanya lebih dulu padamu, siapa sesungguhnya dirimu?”, kata Yap Kun Tek yang direspon oleh Yap Ing dan Coa Leng In heran, karena setahu mereka leluhurnya tidak pernah peduli pada siapapun tapi kenapa hari ini dia malah ingin tahu tentang identitas seseorang dan orang itu menurut Coa Leng In sudah dikenalnya dari kecil.
“Ibuku bermarga Thian dan ayahku bermarga Han, dan aku yakin bahwa tetua tahu apa yang kumaksud setelah aku menyebut klan orang tuaku bukan?”, kata Han Long dan matanya dengan berani menatap tajam ke arah Yap Kun Tek.
“Hebat, hebat…, aku mengagumimu anak muda, tidak kusangka kita akan bertemu di benua ini dan di tempat terpencil seperti ini”, kata Yap Kun Tek mulai serius ketika Han Long menyebutkan klan keluarganya.
Coa Leng In dan Yap Ing masih belum paham situasi yang terjadi dibalik percakapan leluhurnya dengan HanLong,
“Leng In, tidak kusangka kau menjalin hubungan dengan seseorang yang banyak dicari oleh seluruh ahli terkuat di dunia ini, seandainya mereka tahu bahwa anak ini ada dengan kita maka kita sudah tidak bernafas kembali”, jawab Yap Kun Tek dengan tenang walaupun isi ucapannya terdengar mengerikan.
“Apa maksud leluhur tentang identitas pemuda ini?” Tanya Yap Ing dengan heran.
“Kakek Leluhur terangkan maksudmu dengan jelas” Pinta Coa Leng In.
“Baiklah, anak muda sebelum aku menjawab pertanyaanmu maka aku akan bercerita dulu kondisi sebenarnya, sehingga sikap bermusuhan denganku dapat menjadi jelas”. kata Yap Kun Tek.
Beberapa Tahun yang lalu ketika Yap Kun Tek telah merajai Benua Khui Ning dia merantau mencari lawan yang sebanding dengan dirinya, dalam perantauannya secara tidak sengaja dia memasuki suatu wilayah dimana daerah itu tertutup kabut yang sangat mistis, dengan kekuatan yang dimilikinya dia berusaha menerobos wilayah itu karena ketika dia ingin kembali, nafasnya sudah tersengal-sengal akibat kabut yang melingkupi wilayah tersebut, ternyata itu adalah Benua Tengah atau yang disebut juga Benua Thian Agung.
Yap Kun Tek hampir mati dalam usahanya menembus kabut itu namun akhirnya dia berhasil menembus dan memasuki wilayah itu, dia mendapati bahwa energi wilayah itu sangat kaya dan padat, maka dengan gembira dia berkultivasi di daerah itu dan hanya beberapa waktu saja dia merasakan peningkatan kultivasinya seperti seseorang menghabisi makanan ringan, berkali-kali tubuhnya menerima ledakan energi didalam dantian dan pembuluh darahnya tanpa bisa dia hentikan hingga akhirnya berhenti pada tingkat Raja Dewa Ke-1 Awal dari tingkat Manusia Dewa ke-5.
Kecepatan kultivasi ini adalah kecepatan mustahil yang bisa diperoleh oleh seorang manusia, namun semua itu terjadi pada dirinya, namun peningkatan yang dimilikinya rupanya atas bantuan seseorang dikala dia berusaha menembus kabut pelindung benua tersebut dan orang itu dengan sengaja membantunya dengan harapan Yap Kun Tek dapat melakukan sebuah pekerjaan untuk kepentingan orang tersebut.
Tugas itu adalah masuk ke tiga sekte yang berada pada benua Thian Agung dan mengambil beberapa benda-benda pusaka sekte tersebut untuk diserahkan pada penolongnya, sebenarnya benda-benda yang dimaksud walaupun masuk dalam kategori pusaka sekte namun barang tersebut bukan bagian terpenting sekte itu yang harus dilindungi sepenuhnya oleh anggota sekte, barang-barang yang dimaksud adalah barang yang sekarang digunakan oleh Coa Leng In, yaitu Rompi pelindung otot naga, 12 Lembar kulit Binatang yang berisi teknik beladiri dan kultivasi Energi Membelah Bintang, Pil Mustika Darah dan terakhir adalah yang diambil oleh Han Long dan telah diasimilasikan oleh tubuh Han Long, Buah Darah Naga.
Seiring dengan peristiwa pencurian di tiga klan Benua Thian Agung, muncul juga berita yang tidak kalah hebohnya, bahwa di klan Thian, salah satu anggotanya melahir seorang ‘bayi ajaib’ namun berita itu tidak lama digembar-gemborkan lagi, karena bayi itu dinyatakan meledak dikarenakan tingkat kultivasi bayi itu melesat dengan sendirinya, sehingga tubuh kedagingannya tidak mampu menampung beban energi dunia yang memang sudah terpusat di benua tersebut.
Setelah mendapatkan barang-barang itu, Yap Kun Tek tidak kembali kepada orang yang menolongnya menembus kabut pelindung Benua Thian Agung, melainkan dia terus bersembunyi, dan hal itu mengundang kemarahan tokoh tersebut, yang ternyata tokoh itu termasuk anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Dengan kekuasaan yang dimilikinya dia mengerahkan semua orang di benua Thian Agung untuk memburu diri Yap Kun Tek, dengan melemparkan tuduhan bahwa pencuri itu adalah utusan Benua Merah yang berhasil menyusup dan sengaja menimbulkan kekacauan di Benua Thian Agung untuk menimbulkan saling curiga antar anggota tiga sekte penguasa Benua.
Yap Kun Tek berusaha melawan, tapi jumlah orang yang mengejarnya makin bertambah, juga tingkat lawan-lawannya jauh berada di atasnya, sehingga lama kelamaan Yap Kun Tek terluka, dan luka itu makin parah seiring dengan lawan yang dihadapinya semakin kuat, untungnya ada seseorang yang dengan sengaja melepaskan dirinya untuk lolos dari kepungan para ahli dan Yap Kun Tek berhasil meloloskan diri serta meninggalkan Benua tengah dalam keadaan terluka sangat parah, dia lalu bersembunyi di dasar Danau Merah Misterius di kedalaman Hutan Kabut Putih di Benua Chong Yang.
Setelah mendengar cerita dari Yap Kun Tek, Han Long menatapnya tidak setajam tadi, dia pun bertanya, “Siapakah nama orang yang memberi perintah atas pencurian barang pusaka tiga sekte itu?” katanya.
“Justru aku seharusnya bertanya padamu, karena orang itu menggunakan nama yang sama dengan klan ibumu”, Kata Yap Kun Tek.
“Bagaimana ini?, tidak mungkin klanku memberi akses padamu kalau tujuannya adalah mencuri barang yang sangat penting di klan ibuku karena barang itu untuk menyelamatkan hidupku”, Kata Han Long tidak percaya.
“Yang kutahu orang itu menyebut dirinya ‘Orang Tua Thian’, demikian juga orang yang suka datang mewakilinya sering mengucapkan bahwa ini adalah perintah dari ‘orang tua Thian’”, jawab Yap Kun Tek dengan alis yang bersatu karena dia mulai jengkel dengan tuduhan seorang pemuda seperti Han Long, namun dia menyadari bahwa ada orang disekitar Han Long yang akan melindungi anak muda ini,
Han Long menarik nafas panjang, dia masih berpikir sosok misterius itu, yang ternyata ada seorang pengkhianat di klan ibunya, karena ini menyangkut dengan hukuman yang diterima ayahnya, menurut penuturan sang ibu, Thian Sian Li.
“Baiklah, kalau begitu siapakah tokoh yang membiarkanmu lolos dari kepungan itu” tanya Han Long kembali.
“Hm.., aku tidak bisa menyebutkannya karena aku telah bersumpah bahwa pertolongan itu terikat dalam sumpah yang menyangkut jiwaku anak muda”, Kata Yap Kun Tek dengan serius.
Coa Leng In dan Yap Ing yang ikut mendengar cerita leluhurnya, makin takjub terhadap identitas Han Long, ternyata sosok bodoh yang diketahuinya adalah bentuk penyamaran dari seorang anak dari benua yang banyak di idamkan oleh semua orang di dunia ini, ironisnya pemuda di hadapan mereka malah tidak kembali ke benua itu malah berkeliaran di benua-benua terpencil dan kecil seperti benua Chong yang dan kini berada di Benua Khui Ning.
“Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan leluhur Yap memberikan keterangan yang aku perlukan”, Kata Han Long kemudian setelah terdiam beberapa saat.
Coa Leng tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata,
“Saudara Han Long, apakah tujuanmu ditempat ini berhubungan dengan akan dibukanya Taman Sunyi itu?, jika ya, barang apa yang ingin kau temukan?, aku akan membantumu, anggap saja sebagai penebusan yang telah dilakukan oleh leluhurku sehingga engkau harus keluar dari tempat dimana semua orang justru menginginkannya”, kata Coa Leng In, yang juga disetujui oleh Yap Ing dengan mata yang tertuju pada wajah tampan Han Long yang sekarang muncul dengan wajah dewasa penuh dengan perhitungan.
Bagi kedua wanita ini, apalagi bagi Yap Ing yang sudah mengalami pengalaman penderitaan di negeri orang, memahami misi seseorang yang dibebankan di pundaknya, dan melihat pemuda 17 tahunan itu, ada sedikit kekaguman melihat bahwa Han Long tetap mempertahankan sikap rendah hatinya dipermukaan tanpa harus menunjukkan kekuatannya, namun HanLong juga tidak menunjukan ketakutannya ketika berhadapan dengan leluhurnya, sikap ini adalah sikap seorang pemuda yang memiliki karakter kuat, dimana segala keinginannya dapat diraih dengan usahanya sendiri, tanpa rasa takut sedikitpun.
“Aku tidak dapat mengutarakannya, hal itu percuma saja bila kalian ikut mencarinya karena hanya diriku yang dapat melihat dan merasakan benda yang ingin kumiliki”, kata Han Long sambil membungkukkan badannya sebagai tanda ucapan terima kasih atas kesediaan ibu dan anak itu membantunya.
“Jika demikian mengapa kamu tidak bersatu dengan kami berdua menjadi satu tim, dengan begitu kekuatan kita bertambah, dan tidak sembarang orang yang akan mencelakai kita”, kata Yap Ing dengan nada lembut, terlihat Leluhur Yap Kun Tek manggut-manggut.
Ada keinginan Leluhur Yap Kun Tek untuk menjodohkan Coa Leng In dengan pemuda di depannya, namun dia ragu-ragu, karena dia tahu bahwa pemuda di depannya selalu dibayangi oleh bahaya yang mengintai, terbukti adanya seorang pengkhianat di klan ibunya yang tidak menginginkan Han Long tumbuh dengan ‘Buah Darah Naga’ yang dicurinya, untungnya bayi Han Long masih bisa keluar dari benua Thian Agung tanpa menderita kecelakaan kultivasi.
“Justru aku harus menolaknya, karena itu akan menarik perhatian, apalagi jika suatu saat Leluhur Yap Kun Tek muncul secara terbuka di Kota Besar Bulu Angsa ini, beberapa musuh dari klan Thian akan menduga persekongkolan itu sebenarnya dari ibuku, dan bahaya lebih besar akan menimpa seluruh warga Benua Khui Ning, malah aku akan disangkut pautkan dengan leluhur Yap dengan semua peristiwa di benua Thian Agung”, kata Han Long menjelaskan, karena dengan kemunculan Yap Kun Tek di benua Khui Ning akan memancing kedatangan para ahli tingkat tinggi dari Benua Tengah atau benua Thian Agung.
Yap Kun Tek pun tidak berani memaksa Han Long dia menyadari bahwa sekali Benua ini kedatangan seorang ahli yang berada di atas kultivasinya maka hanya kiamat yang terjadi bagi warga benua ini.
Dia melihat harapan di mata Coa Leng In yang seakan tidak mau berpisah dengan sosok pemuda gagah dan tampan itu, memang sepengetahuan Yap Kun Tek, semua pemuda yang pernah ditemuinya tidak ada yang melebihi Han Long, baik tingkat kultivasi, kecerdasannya dan karakter pemuda ini bahkan mungkin pencapaiannya dalam meningkatkan kultivasi di masa depan, dimana kekuatan adalah segalanya.
Setelah percakapan itu, Coa Leng In pun tidak berani mengungkapkan isi hatinya yang menginginkan Han Long menjadi bagian dari timnya, demikian juga Yap Ing, mereka lalu beramah tamah dengan menanyakan pengalaman masing-masing serta tindakan Coa Kun yang menghabisi ayah kandungnya, diselingi dengan menikmati beberapa hidangan minuman dan beberapa buah-buah roh yang disediakan oleh pihak pemilik penginapan.
Mata tajam Yap Kun Tek menangkap sesuatu hal lucu terjadi, terlihat sekali kalau kedua wanita keturunannya, berusaha menarik perhatian Han Long dengan gerakan-gerakan sensual baik Coa Leng In yang baru belajar dewasa dari ibunya maupun sang ibu yang lebih berpengalaman, di dalam dunia kultivasi hal ini tidak perlu dipersoalkan karena mencari pasangan kultivasi adalah sah-sah saja, hanya saja ini terjadi seperti persaingan ibu dan putrinya, bukan persaingan antar gadis sebayanya dan Yap Ing pun tidak menyadari bahwa saingan dirinya adalah putri kesayangannya, apakah semua ini terpengaruh oleh pesona pemuda dari Benua Thian Agung.