Keramaian Kota Besar Bulu Angsa semakin ramai karena kegiatan pembukaan Taman Sunyi akan segera dibuka, dan saat ini ribuan bahkan puluhan ribu orang sudah berkumpul di pusat kota yang merupakan lapangan yang sangat luas.
Berbagai golongan dan ras bercampur aduk menjadi satu di tengah-tengah lapangan itu ada yang berkelompok dengan seragam yang sama ada pula yang berkumpul berdasarkan kesukaan yang sama pada sesuatu atau mereka yang muncul secara perorangan.
Sekelompok anak muda gabungan dari beberapa Klan berkumpul menjadi satu dan disana Han Long berdiri dengan acuh paling belakang yang ditemani oleh beberapa anak kecil, anak-anak ini datang bukan sebagai peserta tapi menonton keramaian kegiatan seperti sekarang ini.
Babak pertama dalam acara ini sudah ditentukan, karena tidak semua orang dapat masuk ke Taman Sunyi, selain dibatasi tingkat kultivasi Manusia Suci kebawah juga jumlah maksimum daya tampung Taman Sunyi itu sudah ditentukan karena hanya seribu orang saja yang berhak masuk, artinya tingkat beladiri yang dikuasai setiap orang ikut menentukan juga.
Jadi, setiap kelompok kultivasi sudah diberikan ketentuan bahwa tingkat Manusia Suci hanya diberikan kuota 200 orang saja, dan sisanya adalah tingkat dibawah Manusia Suci.
Han Long tanpa memperdulikan sekitarnya, dia malah sibuk bercanda tawa dengan anak-anak yang mengelilinginya, sementara beberapa pasang mata memperhatikan tingkah lakunya, mata-mata cantik ini milik beberapa wanita, dan curi-curi pandang dari beberapa wanita ke arah Han Long ini ditanggapi oleh beberapa pemuda dengan rasa cemburu, diantaranya Kam Song, yang melihat betapa Yap Ing tidak pernah melepaskan pandangannya terhadap Han Long, dan disebelahnya Coa Leng In yang menatap geli karena melihat gaya Han Long.
”Seandainya saja, aku diperkenankan oleh dirinya untuk membuka identitas aslinya, bagaimana reaksi semua orang ini?” kata Coa Leng In dalam hatinya.
”Jangan kau coba-coba nona Leng In, itu akan mengundang bahaya di luar imajinasimu” sebuah suara berdengung di kepalanya, jelas suara Han Long, Coa Leng In hanya manggut-manggut saja dan terdiam.
”Baiklah semua sudah siap, bagi Tingkat Manusia Suci silahkan memasuki ruang kubah di sebelah selatan, dan selebihnya silahkan masuk dari ruang kubah sebelah utara”. Sebuah suara bergema dengan kuat yang menandakan bahwa acara segera dimulai.
Han Long hanya menatap rombongan yang meninggal dirinyanya, karena rata-rata tingkat kultivasi kawan-kawannya adalah tingkat Insan Raja, maka mereka berduyun-duyun menuju ruang kubah sebelah utara.
“Along kau tunggu disini, aku akan kembali dan mungkin bila aku berhasil aku akan memberikan beberapa tanaman roh untukmu”,
kata Kam Lin sambil berbalik menghadap Han Long memberi pesan.
Han Long hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Saudara Lin, benarkah pelayanmu tidak ikut?, apakah dia tidak memiliki kekuatan sama sekali?”, tanya Zhang Mei sambil mensejajarkan dirinya dengan Kam Lin.
“Dia hanya tahu tentang pengobatan, kekuatan dirinya sangat jauh dibawah kita, kemungkinan dia tidak berani mengambil resiko dengan nyawanya, namun aku bersyukur, bahwa dia tidak ikut, dia akan mengolah beberapa tumbuhan roh yang berhasil kudapatkan untuk diolah meningkatkan kekuatanku”, jawab Kam Lin pada sahabatnya.
“Pemuda lemah itu percuma saja diajak serta, dia akan menjadi beban bagi kita semua”,
kata Kam Song menunjukkan raut wajah yang menghina.
“Begitukah?, tapi kuperhatikan, mengapa dua wanita yang bersama kita di rumah makan itu sering melirik dirinya?, aku tidak beranggapan serendah itu tentangnya”,
kata Zhang Mei kembali.
“Adik Mei, kedua wanita itu sepertinya memiliki harapan yang sama dengan Kam Lin yaitu untuk mendapatkan manfaat dari tumbuh-tumbuhan roh untuk kekuatan kultivasi mereka, karena Han Long memiliki kualifikasi seperti itu”, kata Wang Jie berusaha menganalisa.
“Ahh…, buat apa keahlian itu, dengan hasil yang kita dapatkan, dalam klan keluarga kita, masih banyak orang yang memiliki keahlian jauh diatas pemuda tolol itu”,
kata Kam Song kembali dengan wajah kesal.
Kawan-kawan atau yang mengenal Han Long, hanya tahu bahwa tingkat kultivasi Han Long di bawah mereka, kecuali Coa Leng In dan Yap Ing yang sedikit terkejut bahwa Han Long tidak ikut rombongan kultivasi Insan Raja, mereka berdua menebak bahwa Han Long akan masuk melalui Ruang Kubah Selatan yaitu bagi kultivator Manusia Suci.
“Ibu, tak kusangka tingkat pemuda itu jauh diatas kita”,
kata Coa Leng In pada ibunya dengan komunikasi jiwa diantara mereka berdua.
“In er, kita harus menjalin hubungan dengan pemuda seperti dia, tingkat kultivasi yang dimiliki olehnya tidak sesederhana yang kita duga sebelumnya”,
kata Yap Ing sambil berjalan disamping Coa Leng In, dan menyempatkan kepalanya menoleh ke arah Han Long dan memberikan senyum termanis, yang ditanggapi oleh Han Long dengan anggukan kepala.
Apa yang diduga oleh Coa Leng In dan Yap Ing adalah benar, dengan tingkat kultivasinya, Han Long menunggu saat yang tepat untuk masuk rombongan kultivator Manusia Suci tanpa menarik perhatian yang lain, khususnya orang yang sudah mengenal dirinya.
Han Long mengerahkan persepsi jiwanya, dimana teknik yang digunakan adalah teknik kategori Dewa kelas Sempurna, dengan demikian teknik ini dapat menjangkau ribuan meter, dan jiwanya sudah dapat membentuk sosok yang solid dan sosok inilah yang sekarang menemani anak-anak kecil ini, sedangkan sosok aslinya sudah masuk rombongan Tingkat Manusia Suci yang menuju Ruang Kubah Selatan.
Begitu memasuki pintu ruang kubah, maka dihadapan mereka terpampang ribuan lorong yang letaknya tidak beraturan, ada yang berbelok-belok ada pula yang terlihat lurus namun ada kegelapan di ujungnya yang auranya begitu misterius, ada juga lorong yang sisi-sisinya dihiasi oleh warna-warna terang namun dinding lorong-lorong itu seperti hidup dan bergerak berubah-ubah arah, berputar ke kanan sesaat mengubah gerakannya kekiri atau seperti tersedot ke dalam.
“Apa ini…!?”
“Awaaaassss…!!!”,
“Mengapa seperti ini…!!?”
“Aduuuhhh apa yang terjadi…?, kepalaku.. Oouuhhh Kepalaku serasa mau pecah “
Berbagai reaksi dan seruan bergema dipelataran ini dan beberapa diantaranya begitu memperhatikan apa yang dihadapan mereka, tersungkur dan jatuh, ada yang sudah tidak sadarkan diri, ada juga yang sampai mengeluarkan darah baik dari mulut, hidung atau dari telinga mereka.
Ribuan peserta tingkat Manusia Suci akhirnya bertumpuk di pelataran lorong-lorong tersebut, banyak yang ragu-ragu atau sekedar memilih lorong yang ingin dimasukinya, baru pada tingkat pelataran saja sudah menimbulkan banyak korban peserta yang tidak kuat menghadapinya, apalagi di kedalaman lorong yang terlihat sangat misterius dan menakutkan, sedangkan Han Long termasuk orang yang langsung melangkah masuk tanpa ragu-ragu dan memilih salah satu lorong secara asal dengan langkah pasti, tanpa memperdulikan bentuk atau konfigurasi lorong tersebut.
Babak pertama ini ternyata dibuat hanya untuk mereka yang memiliki kekuatan jiwa terbaik, artinya seseorang yang memiliki tingkat kultivasi tertinggi pun jika ilmu kekuatan jiwanya rendah maka orang itu akan kesulitan untuk lolos melalui ruangan kubah tersebut, sebaliknya jika orang yang memiliki kekuatan jiwa pada tingkat minimal kategori Surga kelas Pokok, maka ujian ini dapat dilaluinya walaupun tidak semulus orang yang memiliki tingkat diatasnya.
Ruangan ini dipenuhi oleh kabut yang membuat seseorang bingung dalam menentukan arah perjalanan yang akan dilaluinya, karena pintu Taman Sunyi diselimuti oleh formasi dimensi ruang lain.
Sekalipun Han Long memiliki Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, namun jiwanya sudah terpecah dan membentuk diri yang solid namun sekarang terpisah, karena bagian yang lain berada diluar bersama anak-anak, untungnya Teknik yang dimilikinya, masuk Kategori Dewa kelas Sempurna, sehingga pembagian jiwanya yang terjadi seharusnya akan melemahkan jiwa aslinya.
Tapi teknik ini sudah dikuasainya secara sempurna apalagi Han Long telah menguasai teknik ini pada tingkat ke-5 dari 9 tahapan dari teknik tersebut.
Han Long mengerahkan energi kultivasinya untuk memperkuat jiwa, maka dimatanya, kabut itu terurai dan mengungkapkan sebuah lorong, seperti menuju sebuah pintu bulat berwarna hitam legam.
Sementara di luar ruang Kubah Selatan maupun ruang kubah Utara, beberapa petugas keluar masuk membawa tandu-tandu yang berisi beberapa peserta yang sudah pingsan, semakin lama jumlah peserta yang terluka atau sudah tidak sadarkan diri yang diangkut keluar semakin banyak.
Masih untung beberapa orang yang mewakili Klan Keluarga, langsung ditangani dan dirawat oleh klan yang bersangkutan sehingga mereka segera mendapat pertolongan terhadap jiwanya agar tidak rusak, sedangkan yang datang secara perorangan ditangani sembarangan oleh petugas kota, karena saking banyaknya peserta yang berguguran maka penanganannya pun sebatas kemampuan dan jumlah petugas yang ada.
Semakin lama jumlah yang berguguran bertambah banyak.
Diantara peserta yang berduyun-duyun memasuki ruang kubah Utara, ada seorang pemuda biasa yang melangkah dengan ragu-ragu, kelihatannya dia kurang percaya diri untuk memasuki Ruang Kubah Utara ini, dia adalah Han Wo seorang dari klan Han di benua Chong Yang, dia sekarang berada di Benua Khui Ning dalam perantauannya dan tingkat kultivasinya pada tingkat Imajinasi Roh ke-2 Awal.
Han Wo merasa rendah diri di Benua ini, dia menyadari bahwa tingkat kultivasi yang dicapainya adalah tingkat yang dimiliki oleh rata-rata penduduk benua ini, bahkan banyak remaja di sini tingkat kultivasi dan kekuatannya jauh diatas dirinya.
Penampilan Han Wo sangat sederhana berbeda ketika dia masih di Klan Han, Benua Chong Yang, melalui perantauannya dia menyadari bahwa betapa selama ini dia merasa sebagai pemuda jenius di klannya, ternyata semua itu ‘omong kosong”, dia ‘bagai katak di dasar sumur’, segala keangkuhan dan arogansi dirinya tersapu setelah perjalanan hidup yang dijalaninya, kini usianya sekitar 22 tahun.
Han Wo dengan malu-malu melangkah sambil menundukkan kepalanya, jika dia tahu bahwa Coa Leng In dan Han Long yang dikenalnya berada sebagai peserta juga, dia tidak tahu reaksi apa yang akan dibuatnya apalagi jika dia tahu tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Coa Leng In sekarang.
Dengan menetapkan diri, dia terus melangkah, harapannya sederhana dan itupun tergantung keberuntungan semata.
Sama halnya yang dihadapi oleh orang-orang di Ruang Kubah Selatan, dihadapan mereka terbentang ribuan lorong dengan aneka bentuk dan warna, akhirnya banyak orang yang berkumpul di pelataran Kubah Utara karena orang-orang ini tidak segera memilih dan masuk lorong, mereka sebagian besar bertindak hati-hati, Han Wo memasrahkan dirinya pada keberuntungan saja, dia lalu memilih secara asal sebuah terowongan dan langsung masuk, maka dihadapannya ada kabut hitam yang pekat, sehingga jarak pandangannya terganggu, dia lalu mengatur nafasnya dan mengerahkan teknik jiwa klan Han yang sudah dilatih selama bertahun-tahun yaitu teknik Pesona Dewa Surgawi, maka dalam pandangan matanya, kabut itu sedikit demi sedikit memisahkan diri dan menciptakan jalan yang dapat dilaluinya.
Semakin tinggi tingkat kultivasi seorang peserta, maka semakin tinggi pula halusinasi dan manipulasi situasi penghalang setiap lorong, kecuali jika orang tersebut mengolah atau memiliki tingkat penguasaan teknik jiwa tingkat tinggi, seperti yang dimiliki oleh Han Wo, walaupun tingkat kultivasinya rendah namun teknik jiwa klannya termasuk Kategori Surga, dimana dengan teknik ini salah satu leluhur klan Han pernah merajai Benua Chong Yang.
Han Wo terperangah melihat hasil didepan matanya, dia tidak menyangka bahwa dirinya memiliki kesempatan seperti ini,
“Keberuntungan di pihakku”, katanya dalam hati, dengan sedikit was-was dihatinya dia terus melangkah menuju lorong yang tercipta itu dan,
Blarrrr…!!!,
Terpampang di depan matanya setelah dia menembus lorong tersebut, sebuah wilayah yang ditanami oleh berbagai macam tumbuhan baik pepohonan dengan aneka macam buah-buahan yang bergantungan, ada yang mengkal ada pula yang ranum dan matang dengan berbagai warna dan ukuran, maupun tanaman pendek sebatas lututnya yang semuanya berbunga sangat indah.
Dengan rasa takjub dalam hatinya dia bergegas menghampiri area yang sangat luas ini dan dia menyiapkan Tiankong Zhi Dai yaitu Kantong Langit yang memiliki dimensi ruang seukuran Gudang sebuah sekte kecil, dengan kantong Langit yang dimilikinya, dia dapat menampung sejumlah barang yang mencukupi ransum makanan selama setahun, diisinya kantong Langit tersebut dengan aneka buah-buahan dan tanaman yang sudah diketahui manfaat dan kegunaannya.
Keberuntungan Han Wo tidak selamanya menjadi baik, beberapa saat kemudian, dia merasa ada sesuatu yang janggal, dia lalu mengerahkan kembali persepsi jiwanya dan alangkah terkejutnya bahwa dirinya sudah dikelilingi oleh aneka binatang dengan berbagai macam binatang melata dan binatang-binatang buas lainnya dengan sebagian telah menggeram marah karena merasa wilayahnya diganggu oleh pihak asing.
Han Wo tidak larut dalam ketakutan walau bagaimana dirinya sudah sampai ditempat ini, dia lalu mengerahkan kekuatannya dan,
Dusss…
Dalam dirinya meletus energi kultivasi yang dimilikinya, Han Wo siap mempertahankan nyawanya, sebaliknya para hewan yang mengelilinginya pun tidak tinggal diam seperti dikomando para hewan ini lalu menyerang dengan ganas,
Wuttttt….!!! Dess….!!! Plakkkk
Argghh… Aduh…. Haummm…!!!
Pertempuran Han Wo berjalan tidak seimbang, jumlah hewan yang mengeroyok nya makin beringas, dan buas.
Apa yang dialami oleh Han Wo menimpa juga peserta yang lain, Coa Leng In yang sekarang terpisah dari ibunya, Yap Ing menghadapi situasi yang sama, demikian juga Yap Ing, Kam Ling, Zhang Mei, Kam Song dan Wang Jie, mereka semua yang menembus kabut halusinasi lorong Taman Sunyi bernasib sama, dan mereka masuk secara terpisah, dengan demikian mereka masing-masing harus dapat menyelesaikan misi ini dengan kekuatan sendiri, sekarang yang dipertaruhkan adalah nyawa mereka tanpa dapat ditawar lagi karena di Taman Sunyi ini, bukan hanya kekuatan jiwa saja tapi kekuatan beladiri dan kultivasi harus dapat mengatasi pengeroyokan hewan-hewan buas ini.
Dan perlu diketahui para hewan-hewan ini memiliki keahlian khusus, selain kekuatan fisiknya, mereka juga memiliki kekuatan jiwa yang dapat memanipulasi lawan yang dihadapinya, sehingga lawan akan merasa ditekan dan diintimidasi dan menimbulkan ketakutan tersendiri.
Diluar Ruangan Kubah Selatan dan Kubah Utara terdapat sekumpulan anak-anak yang berkumpul bersama menikmati canda tawa bersama seorang pemuda yang tampan yang tinggi tubuhnya berbanding jauh dengan anak-anak yang mengelilinginya.
“Kakak besar, mengapa kau tidak ikut kakak-kakak yang lain untuk ikut serta?” kata seorang anak perempuan.
“Ya kakak, engkau kan memiliki tenaga besar, dan kami lihat tenagamu pasti dapat mengatasi para binatang di Taman sunyi itu”, kata anak yang lain.
“Aku ini kurang enak badan hari ini dan juga kekuatanku rendah, kalian semua tetap disini bersama dengan klan keluarga kalian, aku akan pulang ke tempat ibuku untuk beristirahat” Kata Jiwa Han Long, karena dia merasa jati dirinya yang asli membutuhkan pertolongan, karena jiwa mereka terbagi dua.
Han Long beranjak berdiri untuk meninggalkan tempat itu, dan anak-anak yang menyertainya ikut setuju karena kakak yang ramah ini terlihat pucat di wajahnya, menandakan bahwa dirinya kurang sehat.
Han Long meninggalkan anak-anak tersebut dengan cepat dia mengambil sebuah tempat yang sepi dan,
Wusss…!
Han Long menghilang dari tempat itu.
Dikedalaman Taman Sunyi atau Taman Abadi, Han Long dalam kondisi meditasi di atas sebuah pohon raksasa pada sebuah dahan yang cukup besar, dia bersembunyi, dia merasakan kelemahan jiwanya akibat pecahnya jiwa yang dimilikinya sehingga dia harus beristirahat, setelah dia banyak memukul mundur para hewan yang mengelilinginya dan melarikan diri dari kepungan para hewan ini, dia tidak tertarik untuk mengambil beberapa tanaman roh atau buah-buahan yang bergelantungan di depannya namun dia peduli akan kekuatan dirinya yang semakin lama semakin melemah.
Sebuah siluet sinar putih bergerak dengan cepat menghampiri dirinya.
Cusss…!!!
Sinar itu langsung bersatu dengan dirinya, Han Long langsung berkultivasi untuk menerima siluet tersebut dan mengkonsolidasikan tubuh dan jiwanya, lalu
Blaaarrr…!!!
Dentuman keras keluar dari tubuhnya, seiring dengan penyatuan jiwa Han Long maka dengan sendirinya menimbulkan penyatuan energi kultivasi Jiwa dan tubuh kedagingannya meningkat seperti semula.
Mata berbintang keluar dari tatapannya, Han Long mengerahkan teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, dia memindai wilayah Taman Sunyi itu, dalam upaya mencari benda yang dimaksud oleh ibunya dengan ciri-ciri yang telah digambarkan oleh Thian Sian Li.
Dengan persepsi jiwa yang sudah dikuasainya, dia menemukan beberapa orang yang kondisinya tidak berbeda jauh dengan dirinya, bahkan rekan-rekan yang dikenalnya pada posisi yang sangat mengkhawatirkan.
Han Long ingin segera menolong beberapa rekannya yang masuk dalam area pemindaian jiwanya, namun dia belum segera bergerak, karena ada sesuatu yang lebih menarik yang menjadi titik fokusnya, jauh di dalam Taman sunyi ada sebuah lembah sempit dimana lembah itu berada tepat di daerah inti Taman ini dan di kedalaman lembah tersebut ada semacam urat nadi di permukaan tanah yang ditutupi oleh padang rumput yang berbunga, namun Han Long juga mengetahui bahwa daerah itu sangat berbahaya, karena ada beberapa makhluk tersembunyi yang bergerak dan menggeliat seperti penjaga khusus daerah ini, itulah yang menarik perhatiannya.
Dengan mengerutkan keningnya Han Long berusaha menilai situasi, dia lalu mengambil keputusan bahwa dia harus menolong beberapa rekannya yang saat ini dalam kesulitan.
“Adik Lin hati-hati di belakangmu!”, teriak Wang Jie yang sekarang berhasil bersatu dengan rekan yang dikenalnya, diantara mereka banyak pula yang terlibat pertempuran dengan sekelompok hewan-hewan mistik yang buas ini.
Puluhan bahkan ratusan hewan mengelilingi sepasang anak muda yaitu Kam Lin dan Wang Jie, terlihat sekali keduanya dalam kelelahan karena serbuan ini tidak henti-hentinya menerjang mereka tanpa kenal takut, dan beberapa orang ada yang sudah tidak bergerak, disekitar mereka berdua sudah menumpuk jasad binatang buas yang mati maupun orang-orang yang menjadi peserta, disini terlihat bahwa tingkat kultivasi seseorang bukan jaminan atas keselamatan hidup yang mereka miliki selain kekuatan fisik dan kultivasi, tergantung juga teknik beladiri yang mereka kuasai, semakin tinggi kategori teknik yang dikuasai semakin tinggi pula harapan hidup yang dimiliki.
Ada beberapa orang yang menaikkan tingkat kultivasinya dengan berbagai pil peningkat kultivasi namun semua itu menjadi sia-sia ketika berhadapan dengan kenyataan hidup yang dihadapi karena pondasi yang rapuh dan teknik bela dirinya hanya sekelas kategori Pokok, atau tingkat Kategori Bumi.
Kam Lin adalah seorang putri Klan Kam yang memiliki tingkat kekuatan yang sangat tinggi dibandingkan dengan gadis seusianya demikian juga dengan Wang Jie namun menghadapi ratusan hewan yang berbondong-bondong menyerbu mereka tanpa henti, nafas mereka pun menjadi tersendat dan tersengal-sengal kelelahan.
“Kakak Wang Jie, kita harus saling memunggungi untuk saling melindungi, kita harus keluar dari kepungan binatang buas ini”, kata Kam Lin pada Wang Jie, yang dianggukan oleh Wang Jie dengan merubah posisi untuk saling memunggungi dengan Kam Lin.
Kondisi mereka kalau tidak segera melepaskan diri dari kepungan binatang buas ini tinggal menunggu waktu sampai keduanya kelelahan, dan pakaian yang mereka kenakan berdua, sudah terdapat beberapa luka akibat cakaran hewan-hewan ini.
Disaat yang begitu genting dan keduanya sudah lemah dalam pengerahan energi kekuatan mereka,
“Apakah kita akan mati ditempat seperti ini?”, ujar Kam Lin sambil menggigit bibir bawahnya.
“Aku tidak menyangka kalau aku akan mati sia-sia di tempat terkutuk ini”, kata Wang Jie menimpali dengan lemah.
Saat putus asa melanda mereka, ada perubahan situasi ketika barisan luar binatang yang mengelilingi mereka tiba-tiba seperti terurai dan tersibak, karena ada sesosok tubuh hitam yang merangsek masuk dalam lingkaran dimana Kam Lin dan Wang Jie berada.
Beberapa saat kemudian sosok itu sudah memunggungi mereka berdua yang sudah pasrah dan menyerah, mereka sudah sepakat akan meledakkan diri mereka ketika ratusan binatang itu akan mengerubungi diri mereka, namun niat itu terhenti, mereka berdua berusaha mencari tahu siapa sosok ini?, namun tubuh ini membelakangi mereka dan selanjutnya,
“Jangan mengerahkan sisa energi kultivasi kalian, percayalah kalian padaku, aku akan menyelamatkan kalian”, kata orang itu, sambil melirik sebelah matanya pada Kam Lin dan Wang Jie, Kam Lin anehnya langsung menghela nafas lega bahwa dirinya ada yang menolong, Wang Jie sedikit curiga tapi logikanya berpikir, bahwa apapun itu, percuma saja kecurigaan yang dimilikinya , toh dia akan mati juga oleh serbuan binatang mistik ini.
Saat keduanya pasrah, mereka merasa tubuh mereka tertotok pada daerah pembuluh darah yang merupakan saluran pengerahan energi kultivasi mereka tertutup, dan mereka merasa ada tangan kuat yang membawa mereka meninggalkan tempat itu sebelum kesadaran mereka memudar.
Han Long membawa keduanya meninggalkan tempat itu dan menuju sebuah pohon raksasa dimana dia sudah menyiapkan sebuah tempat persembunyian yang ditutupi oleh dahan dan dedaunan yang rimbun, setelah meletakkan kedua tubuh mereka berdua, Han Long tidak segera melepaskan totokan pengunci pada tubuh keduanya namun dia segera pergi kembali, selang berapa lama, Han Long sudah membopong tubuh Zhang Mei dan berturut-turut kemudian Tubuh Han Wo juga dan terakhir adalah tubuh Coa Leng In yang saat itu dalam kondisi lebih baik diantara semua peserta yang ditolong oleh Han Long.
Han Long memindai area itu kembali dan dalam pemindaiannya dia merasakan dua tubuh yang dikenalnya pada satu area yang sama, dimana Kam Song berdekatan dengan Yap Ing, dia segera mengejar ke area itu.
Kam Song saat ini bersama dengan Yap Ing, wanita yang diidamkannya, namun rasa rendah diri atas kultivasi yang dimilikinya, membuat dia tidak berani menunjukkan kesukaannya secara berterus terang, dalam pikirannya saat itu, adalah keberuntungan karena bersama dengan sosok cantik dan dia sudah menyiapkan beberapa strategi untuk menaklukan hati wanita ini.
Kondisi Kam Song lebih parah dibandingkan dengan kondisi Yap Ing, untungnya Yap Ing yang berhati lembut ini tidak tega meninggalkan orang yang sudah dikenalnya, dia berusaha memberikan pertolongan dengan mengobati luka-luka yang diderita oleh KamSong.
“Oh, sungguh lembut tangan itu, aku harus memiliki dirinya, minimal tubuhnya”, pikir Kam Song, yang saat itu hanya berpura-pura terbaring setelah menerima pengobatan Yap Ing.
Dan Yap Ing dengan perasaan tanpa curiga tidak beranjak dari tempat itu, dia lalu mengambil posisi bersemedi dan mengatur pernafasannya agar dapat pulih dan mengobati luka luarnya.
“Aaaahhhhh….., Arrrggghhh…” terdengar erangan dan keluhan dari Kam Song.
Yap Ing membuka matanya dan berjalan menghampiri tubuh Kam Song, yang terbaring miring memunggungi Yap Ing, dengan segera Yap Ing bermaksud membalikkan tubuh Kam Song dan,
Tussshh… !!!
Ada uap berwarna merah ketika tubuh Kam Song berbalik, dan uap merah ini terhirup oleh Yap Ing yang sedikit terkejut, uap ini langsung menguasai pikirannya dan menimbulkan rasa lemah pada tubuhnya, Tubuh Yap Ing langsung mundur dengan membelalakan mata cantiknya, dan sesaat kemudian tubuh Yap Ing roboh tak sadarkan diri.
Kam Song juga menghirup uap merah ini, dan uap ini berasal dari serbuk yang suka dibawanya sebagai bekal senjata dari leluhurnya untuk digunakan melemahkan binatang-binatang yang mengerubunginya.
Dengan serbuk yang dibawanya diapun terpengaruh oleh khasiat serbuk tersebut dan nafas Kam Song berubah menjadi kasar dan menderu, matanya memerah menatap tubuh molek Yap Ing penuh nafsu dan hasrat yang menggelegak.
Tidak berapa lama tubuh Yap Ing pun bergerak, dia merasakan sesuatu yang lain ketika dia menyadari bahwa ada zat lain dalam tubuhnya dia lalu mengambil sikap semedi untuk mengeluarkan gas yang sempat dihirupnya, namun semakin dilawan gas itu seperti terus menyerbu pikirannya dan menguasai sepenuhnya.
Kam Song menyeringai dan menghampiri tubuh Yap Ing yang dia lihat semakin indah dan menggiurkan, apalagi Yap Ing tanpa sadar juga merasa gerah kepanasan dia membuka sedikit gaun yang ada di bagian lehernya, namun rasa gerah itu makin panas, dia mulai melepaskan ikatan pada pinggangnya, melihat situasi ini Kam song makin bernafsu dan memeluk tubuh molek Yap Ing, dia menyodorkan wajahnya pada leher putih Yap Ing, dan Yap Ing tidak sanggup menolak perlakuan Kam Song yang merasakan adanya sentuhan kasar pada bagian lehernya.
Yap Ing seperti merasakan sesuatu yang pernah dialami ketika dia masih bersama dengan mendiang suaminya, dan rasa itu seperti perlakuan yang selama ini terpendam yang akhirnya meledak dan kerinduan atas rasa ini membangkitkan nafsu akan sentuhan pria pada dirinya.
Dengan penuh nafsu Kam Song meraih tubuh Yap Ing, tangannya sudah bergerak menyusup ke area permukaan kulit tubuh Yap Ing dan pakaian Yap Ing bagian atas pun sudah dilucuti tinggal menyisakan pakaian tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh Yap Ing.
Desss….!
Tubuh Kam Song terpental bergulingan dengan kepala sudah retak tapi tangannya masih memeluk tubuh Yap Ing, dia tidak menyadari bahwa tempat itu sudah dikelilingi oleh beberapa hewan mistik, dan pukulan yang diterima oleh Kam Song menewaskan dirinya adalah dari seekor hewan yang sangat besar.
Yap Ing sempat melihat dirinya sudah dikelilingi oleh hewan-hewan ini, namun dirinya seperti melihat fatamorgana, kenyataannya nyawa dirinya sudah berada diujung tanduk, jika tidak ada seseorang yang tiba-tiba telah berdiri membelakanginya dan menghadang binatang- binatang mistik ini.
Han Long melirik sedikit pada Yap Ing, wajahnya memerah jengah karena tubuh Yap Ing bagian atas sudah tidak ditutupi selembar benangpun, dua bagian otot di dada Yap Ing berayun-ayun, pemandangan ini adalah hal baru bagi kepolosan Han Long, dia merasa takjub dengan apa yang ada di hadapannya, ada desir yang mengalir di pembuluh darah yang mengarah pada otaknya.
Kesadaran Han Long kembali pada tempatnya, dia malas menghadapi puluhan binatang ini, dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Yap Ing dan meneruskan pencariannya., segera dia memeluk tubuh telanjang Yap Ing dan membawanya dengan keringanan tubuhnya, dengan cepat dia melompat meninggalkan tempat tersebut.
Didalam pelukan Han Long, Yap Ing menggesek-gesekkan seluruh permukaan kulitnya pada tubuh Han Long dan bagian tubuh sensitifnya digesek-gesekan Yap Ing pada bagian pangkal paha Han Long dengan nafsu yang sudah tidak bisa dikontrol lagi, lidah dan mulutnya mencium kulit leher Han Long, dengan sendirinya darah muda Han Long menggelegak dan berdesir mempengaruhi otak mudanya.
Han Long merasa kerepotan, baru sekali ini dia membawa seseorang yang bergerak mempengaruhi hasrat yang sebelumnya belum dia mengerti, dan hasrat ini memberi sesuatu yang nikmat, antara moral dan nafsu berperang pada diri anak muda ini.
Han Long membawa tubuh Yap Ing ke tempat dimana dia mengumpulkan rekan-rekannya, namun gerakan liar Yap Ing memberi kesulitan tersendiri yang menimbulkan rasa penasaran Han Long akan rasa nikmat pada dirinya, dia lalu memutuskan untuk berhenti pada suatu tempat tersembunyi yang terpisah dari tempat berkumpul rekan-rekannya.
Dia meletakkan tubuh Yap Ing dan dia sendiri lalu mengatur pernapasannya dengan bersemedi, namun konsentrasi dirinya terganggu oleh erangan lembut Yap Ing, dan Yap Ing menggerakkan tangannya sampai menyusup ke bagian otot-otot sensitif Han Long, membelai, meremas dan mulutnya dengan lembut berusaha mencium bibir Han Long.
Mendapatkan perlakuan Yap Ing seperti itu, Han Long hanya membiarkannya saja, justru godaan itu makin hebat, kecantikan dan tubuh menggiurkan wanita matang sekelas Yap Ing sudah terbukti menggoda beberapa pemuda pilihan, wajah cantik tanpa cacat, otot pinggul yang membukit dan bentuk dada yang dimiliki Yap Ing membuat Han Long penasaran, sebagai anak muda pun tidak luput dari rasa yang sekarang ingin dia rasakan, membuat dirinya seperti terbang melayang, apalagi tindakan erotis Yap Ing semakin menggila karena sekarang Han Long membiarkannya, dan Yap Ing tahu siapa sosok yang ada di dekatnya, Han Long pemuda yang dikaguminya.
Untungnya Han Long disadarkan oleh tekad dirinya memasuki taman ini, suara ibunya berdengung kembali untuk menyadarkannya, dengan penuh tekad Han Long menggerakkan jarinya dan membuat Yap Ing seketika lemas dan roboh, energi tubuhnya dikunci oleh Han Long, dengan segera Han Long mengeluarkan beberapa pil anti racun dan menjejalkan pil-pil itu ke mulut Yap Ing yang setengah terbuka, dan Yap Ing pun pingsan, Han Long membungkus tubuh Yap Ing dengan jubahnya dan dia membopong tubuh itu ke tempat dimana rekan-rekannya dikumpulkan.