“Ibu, kau berada disini sejak kapan?”, kata Coa Leng In yang sudah tersadar kembali ketika di sebelahnya terbaring sosok yang dikenalnya, Coa Leng In sangat terkejut melihat tubuh ibunya yang diselimuti oleh kain hitam, ketika dia memeriksa tubuh ibunya dia mendapati gaun yang dikenakan oleh ibunya sudah tidak beraturan lagi, Coa Leng In curiga bahwa sesuatu telah terjadi pada tubuh ibunya, sekalipun ada memar pada kulit luar ibunya namun mengapa tubuh ibunya nyaris tanpa busana, jadi jika tidak ada kain hitam yang menyelimuti tubuh ibunya maka ibunya tampil dengan polos tanpa busana.
Ada gerakan pada tubuh Yap Ing, dia terkejut putrinya berada disampingnya dengan kening berkerut dan menatap dirinya dengan mata aneh,
“Dimana ini?”,erang Yap Ing sambil matanya mewaspadai sekelilingnya.
“Seseorang membawa kita dan mengumpulkan kita ditempat ini, ini adalah sebuah pohon besar, lihat beberapa rekan kita ada disini juga”, kata Coa Leng In menerangkan.
Yap Ing menggerakkan tubuhnya, dia lalu menyadari bahwa dirinya, di balik kain hitam itu hampir telanjang,
“Awww…, kenapa bisa seperti ini?”, kata Yap Ing berseru kaget, yang dibalas oleh putrinya dengan mata heran juga.
“Justru aku ingin bertanya, apa yang terjadi?”, kata Coa Leng In menatap wajah ibunya.
“Ambilkan pakaian baru ibu”, kata Yap Ing dengan jengah dan malu, secara samar-samar dia teringat berangsur-angsur apa yang terjadi, Coa Leng In meraih Tiankong Zhi Dai-milik ibunya dan meraih seperangkat gaun untuk diberikan pada ibunya, Yap Ing segera memakainya sebelum yang lainnya sadar.
“Apakah ibu mengalami sesuatu yang aneh?”, tanya Coa Leng In, kembali raut wajah Yap Ing ada semburat merah antara malu dan marah menjadi satu, dia marah terhadap tipu daya Kam Song, pemuda yang ditolongnya, namun dia malu atas sikapnya pada Han Long.
“Ibu hampir terpedaya oleh pemuda keparat bernama Kam Song itu, dia ditolong oleh ibu dan ibu merawat luka-lukanya, namun dia berusaha memiliki tubuh ibu dengan racun birahi yang sangat kuat, untungnya ada yang menolong ibu, dan pemuda itu sepertinya telah mati terbunuh oleh hewan mistis ketika dia berusaha merayu ibu”, jawab Yap Ing lalu menceritakan kejadian sebenarnya, namun dia menutupi bagian ketika dia berusaha merangsang Han Long untuk memuaskan hasratnya.
Coa Leng In mendengar penjelasan ibunya, namun sebagai wanita dia pun merasakan ada sesuatu yang tidak lengkap dalam cerita ibunya, hanya saja dia tidak berusaha mengejar detail kejadian itu dia hanya menduga bahwa kejadian sebenarnya tidak sesederhana yang terungkap melihat ketinggian kultivasi ibunya terhadap racun yang disebarkan oleh Kam Song begitu dahsyat.
“lalu dimana anak itu?”, kata Coa Leng In bergumam pada dirinya sendiri.
“Sepertinya dia pergi mencari sesuatu yang ingin dia miliki” Jawab Yap Ing, ada semburat merah pada wajahnya ketika dia menyebutkan nama atau kata yang mengarah pada sosok pemuda perkasa yang sekarang telah melihat tubuhnya yang polos, ada rasa jengah dan malu namun ada rasa senang ketika tangannya merasa menggenggam sesuatu yang menjadi bagian dari otot tubuh pemuda itu yang meninggalkan kesan mendalam.
Coa Leng In terdiam dan merenung, dia tidak bisa menyalahkan ibunya tentang hasrat yang terpendam dari ibunya, walau bagaimanapun ibunya pernah memiliki pasangan hidup dan selama bertahun-tahun dipendamnya dan berkonsentrasi pada peningkatan kultivasi dan kekuatan fisiknya kini akibat racun yang dibuat oleh Kam Song menimbulkan memori rasa yang pernah melekat pada diri sang ibu timbul kembali.
Han Long dengan cepat meninggalkan rekan-rekannya setelah dia memasang formasi perlindungan bagi keselamatan kawan-kawannya dia lalu melesat pergi menuju bagian inti taman Sunyi ini.
Pada bagian inti taman ini ada sebuah lembah yang sangat dalam dan di tengah-tengah lembah ini tidak ada seorangpun yang berani mendatanginya sejak ribuan tahun lalu karena bagian ini dipenuhi oleh misteri yang membuat gentar para peserta yang sudah mencapai tingkat Kultivasi Manusia Suci ke-9 Puncak akan keangkeran wilayah ini, ini berbeda pada diri Han Long yang selalu dengan taat mematuhi perintah ibunya tanpa bertanya lagi.
Dengan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, dia makin yakin benda yang harus dicarinya terletak pada bagian yang ditujunya ini,
“Benda ini semakin nyata dalam persepsi jiwaku, mudah-mudahan ini bukan aksi yang sia-sia”, kata Han Long dalam dirinya.
Sambil terus mengerahkan keringanan tubuhnya dan berusaha secepat mungkin tiba, karena ada batas waktu yang ditetapkan oleh formasi di taman ini, sehingga seseorang yang tetap berada ditempat ini akan terpenjara dan terkurung selama tiga tahun jika tidak segera keluar dari wilayah ini, kalau hanya terkurung tidak masalah, yang bermasalah adalah menghadapi ribuan bahkan ratusan ribu hewan-hewan mistis yang berusaha melenyapkan nyawa mereka yang terkurung.
Sesosok tubuh berhenti dipinggiran lembah, Han Long mengerahkan kembali kekuatan jiwanya dan nampaklah di hadapan matanya, sebuah retakan di kedalaman lembah yang tertutup hamparan tumbuh-tumbuhan yang berbunga aneka warna, dengan pemindaiannya dia menelusuri tebing-tebing curam pada retakan lembah itu dan dia melihat sesuatu yang menyilaukan, dimana bagian yang berkilau itu dialiri oleh semacam sungai kecil dimana airnya tidak pernah kering,rupanya benda ini terendam oleh mata air yang muncul dan mengalirkan air yang tidak pernah berhenti.
“Aku harus mendapatkannya, binatang-binatang itu dengan setia tidsak pernah beranjak dari sekitarnya”, kata Han Long dalam hati, sambil dia terus melangkah mendekati dengan hati-hati inti retakan pada lembah tersebut.
“Ha ha ha…, akhirnya hanya aku sendiri yang berhasil mencapai bagian ini”, sebuah tawa terdengar menggema di sekeliling lembah tersebut, dan tampaklah sosok seorang pria 30 tahunan berpakaian serba hitam dengan rambut yang tersisir rapi, dengan langkah ringan melintas melewati tempat persembunyian Han Long.
“Hi hi hi Souw Hek, kau pikir dirimu saja yang berpikir, akupun tahu tentang mustika itu”, suara seorang wanita cantik dengan langkah gemulai menggoda yang tertawa cekikikan dan menimbulkan kesan mengerikan, sosok tubuhnya berpakaian serba putih dengan tampilan rambut disanggul tinggi seperti bangsawan, namun kulit wajahnya putih pucat.
“Oh, ternyata kau Gao Pek In, aku tidak keberatan jika harus berbagi denganmu, malah ditempat seperti ini kita dapat berkultivasi ganda dan bersama dengan mustika itu kita dapat meningkatkan kekuatan kita masing-masing, bagaimana?”, kata orang yang bernama Souw Hek.
“Eh, apakah begitu, aku tahu kau lama merindukan tubuhku, namun aku tidak mudah ditaklukan oleh orang lemah, aku harus tahu kekuatan calon pasangan kultivasiku”, kata Gao Pek In.
Diluaran marga klan mereka adalah sekutu sebagai marga penguasa Benua Khui Ning atau Benua Tenang Bersinar ini, namun secara individu ada ego masing-masing yang ingin selalu bersaing dalam kekuatan dan memperoleh penghormatan diantara mereka.
“Sebelum kita berdebat, apakah kau tahu dimana letak benda mustika itu?”, tanya Souw Hek.
“Hmm, apakah kau belum tahu letaknya, lalu bagaimana engkau dengan girang memastikan benda itu ada disekitar sini?”, tanya balik Gao Pek In.
Gerrrr…, Haurrrmmmm..!!!
Jawaban belum dikeluarkan oleh Souw Hek, puluhan hewan raksasa yang ukurannya tiga kali lipat telah melingkari mereka berdua, ada yang berbentuk ular dengan tanduk dan merayap dengan cepat menghampiri mereka , ada pula yang berbentuk serigala namun tubuhnya sekuat badak dengan dilengkapi sisik-sisik kasar dan tebal, serta hewan-hewan yang terbang bagai elang dan cakarnya mencuat panjang, berwarna hitam mengkilap bagai logam, mengitari tempat itu, sehingga keduanya bagaikan terkurung sekelilingnya dari atas ke bawah.
“Gao Pek In, sebelumnya kita harus menyingkirkan binatang-binatang ini, setelah beres baru kita menyelesaikan diantara kita”, kata Souw Hek, yang segera disadari oleh Gao Pek In untuk menyetujuinya, maka keduanya lalu mengerahkan kekuatan masing-masing dan
Duarrr…!!!
Tubuh kedua manusia ini mengerahkan kekuatan energi kultivasinya, maka dapat dilihat bahwa keduanya adalah pada tingkat kultivasi Manusia Suci ke-6 Puncak.
Tanpa bicara lagi, baik wanita Gao Pek In dan lelaki Souw Hek menyerbu barisan hewan-hewan mistik ini,
Plak…! Dughh..Hemm…!!!
Heaaaa…!! Wuuuttt… Dess… Dough…!!
keduanya terlibat pertempuran dengan hewan-hewan ini, sambil menghindari sabetan-sabetan yang ditimbulkan oleh para hewan bersayap, keduanya juga menghindari dari sabetan ekor hewan-hewan ini dengan cekatan, namun lama-kelamaan mereka menyadari bahwa, serbuan hewan-hewan ini seperti dikomando dan gerakan serangan mereka teratur serta saling mengisi, belum lagi ada uap yang keluar dari sebagian tubuh hewan ini yang berbau busuk menyerang saraf mereka berdua.
“Apakah kalian hanya berdiam diri saja !, setelah hewan-hewan ini melumpuhkan kami maka kalian akan jadi sasaran berikutnya”, Teriak Gao Pek In ke arah tertentu.
Dan Souw Hek pun memindai area tersebut, nyata bahwa tempat ini telah kedatangan empat sosok yang mengelilingi lembah tersebut, dan keempat sosok ini muncul bagai hantu.
“Rekan-rekan kultivator, sebaiknya kita bekerja sama, urusan benda itu akan dibicarakan kemudian diantara kita setelah kita menyingkirkan hewan-hewan ini”, ajak Souw Hek pada sosok-sosok yang muncul.
“Aku tidak menyangka benda itu telah kalian ketahui juga, baiklah aku akan membantu kalian, bagaimana pendapat saudara Liu Gong dan Song Tek?”, kata seseorang bernama Zhou Min yang kedatangannya disertai seseorang bernama Zhang Wei.
“Setelah urusan ini selesai harus diselesaikan tanpa melihat latar belakang diantara kita, kalau ini disetujui maka aku akan membantu kalian “, kata Zhang Wei, karena dia melihat, bahwa dia hanya sendiri tanpa sekutu, di luar orang yang bernama Song Tek ini, karena empat orang lainnya adalah dari keluarga klan yang sudah bersekutu sebelumnya sebagai klan Penguasa Benua Khui Ning.
Han Long yang bersembunyi tetap diam tanpa reaksi, untungnya dia tidak pernah melepaskan formasi yang melekat pada dirinya sehingga dia lolos dari pemindaian yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh sekte penguasa benua Khui Ning ini, dengan tingkat kekuatan yang dimilikinya dia tidak perlu takut menghadapi enam orang ini, namun dia tidak mau repot, karena masalah di balik itu sangat besar dan sebaiknya dia memanfaatkan situasi kesibukan hewan-hewan ini dan tidak memunculkan dirinya, dia justru mengendap-endap dan terus maju mendatangi ke dalam lembah bahkan sekarang dirinya sudah berada pada retakan jurang terdalam di lembah itu, dengan sangat hati-hati dia berusaha turun tanpa menimbulkan suara yang memancing kedatangan makhluk lain.
pertempuran yang terjadi antara tokoh-tokoh muda penguasa Benua Khui Ning berlangsung sangat sengit, keahlian yang dimiliki ke enam tokoh ini memang bukan keahlian sembarang orang, mereka adalah orang-orang terpilih sebagai calon penerus dari hegemoni klan yang diwakilinya maka muncul ego masing-masing yang menunjukkan keahliannya yang paling mematikan dalam membunuh hewan-hewan ini.
Setelah beberapa jam berlalu sedikit demi sedikit jumlah hewan yang menyerbu ke arah mereka berkurang namun ada dampaknya juga karena masing-masing tokoh ini menderita beberapa luka dan pukulan dan cakaran sehingga mempengaruhi kekuatan masing-masing.
beberapa lama kemudian hewan-hewan ini banyak yang terbunuh, dan sebagian besar melarikan diri dari area lembah itu, berusaha menghindari dari amukan keenam orang tersebut.
Dan keenam orang ini pun menghentikan gerakan mereka dengan menderita beberapa luka ringan pada tubuh mereka, mereka beristirahat dan mengatur teknik pernafasan mereka dengan semedi.
“Apa yang terjadi?, suhu udara di lembah ini berubah”. kata Gao Pek In, setelah mengatur nafasnya, ada beberapa sobekan pada gaun putihnya sehingga memperlihatkan warna kulitnya yang putih.
“Benar, mengapa tiba-tiba berubah seperti ini, dan lihat beberapa tanaman terlihat layu”, kata Souw Hek menimpali.
Semua orang melihat di sekitarnya , maka tampaklah dihadapan mereka beberapa tumbuhan yang mulai berkerut seperti hendak layu, ketika mereka mendongak ke beberapa pohon raksasa, tiba-tiba beberapa buah-buahan roh itu berguguran dengan sendirinya.
“Celaka seseorang telah mendapatkan benda itu!”, ujar Song Tek dengan wajah cemas.
“Sialan…, Brengsek…, orang itu memanfaatkan kesibukan kita”, Liu Gong dengan wajah geram.
“Cari orang itu, cepat!!!”, serentak yang lainnya mengucapkan kalimat yang sama.
Beberapa jam sebelumnya, Han Long berhasil menemukan sumber cahaya yang berkilauan, di hadapan matanya ada telaga kecil yang airnya sangat tenang, dia mengerahkan persepsi jiwanya maka dia dapat melihat dalam jiwanya sebuah benda bulat transparan yang menyatu dengan kejernihan air tersebut sebesar telur ayam kampung tergeletak di dasar telaga yang dalam, dimana disamping benda ini ada riak gelembung air yang mengalir tidak berhenti, benda ini berbentuk bulat mulus berwarna bening kekuning-kuningan, jika dia tidak menggunakan persepsi jiwanya maka benda itu tidak dapat terlihat, mungkin inilah maksud dari ibunya hanya dengan tingkat persepsi jiwanya yang sudah mencapai tingkat ke-5 dari 9 tahapan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, maka dirinya dapat melihat benda tersebut.
Han Long langsung terjun dan menyelam ke dalam telaga tersebut, dia ingin meraih benda itu namun seiring dengan gerakan tangannya benda itu seperti menghindar, diulang-ulang gerakan tangannya dan berusaha memegang benda itu, tapi benda itu terus berkelit seiring dengan gelombang air yang tercipta dari gerakan tangannya.
Han Long menyadari sesuatu bahwa ternyata setelah dapat melihat mustika ini, ternyata mengambil atau memegang benda tersebut tidak semudah anggapannya, dia merenung di kedalaman telaga tersebut yang mencapai puluhan meter ini, akhirnya hanya dengan konstitusi tubuh dan teknik jiwa yang dimilikinya yang dapat meraih benda itu, ucapan itu diungkapkan oleh Thian Sian Li, ibunya.
Dia lalu terdiam dan energi 9 Tubuh Bintang dia kerahkan yang sudah mencapai tahap ke-5 dari 9 tingkat dan dibarengi dengan teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, benda itu seperti tersedot oleh tangan kanan Han Long ketika jari-jari tangannya membuka dan menangkap benda licin itu, benda ini terus bergerak-gerak seperti benda hidup, bergetar dan berputar-putar seperti ingin melepaskan dirinya, Han Long berkonsentrasi penuh,dia terus memutar energi tubuhnya dan mengerahkan seluruh kekuatan energi 9 Tubuh Bintang dan jiwanya berusaha mengurung benda itu, namun rupanya benda mustika ini bukan barang biasa, malah benda ini makin liar ditangan Han Long, dengan jengkel Han Long membawa benda di tangannya langsung mengarah pada mulutnya dan
Houp..!!
Benda itu langsung masuk mulutnya sambil mengeluarkan getaran yang semakin mengamuk di mulut Han Long, mata Han Long membelalak menahan getaran pada ruang di mulutnya, dengan paksa dia menelan benda tersebut dan benda itu pun langsung masuk keperutnya akibatnya,
Aaaaaaarrrrrgggggghhhh….!!!
Boummm……..!!!
Seperti menelan sebuah benda yang meledak di perutnya, Han Long merasakan kesakitan yang maha dahsyat di setiap sendi-sendi tubuhnya terutama dibagian perut dan dantiannya, pembuluh darahnya seakan pecah berantakan, dan Han Long pun tidak sadarkan diri.
beberapa saat berlalu, Tubuh Han Long masih berada di kedalaman telaga itu, sesaat kemudian tubuh itu bergerak, Han Long kembali sadar, dia mendapati pikirannya semakin terbuka, dia merasakan tubuhnya seperti sehelai bulu tipis yang melayang ringan, dia menggerakkan tangannya,
Werrrr….!!!
Ada tenaga dengan kekuatan luar biasa dari gerakan tangannya ketika tangan itu menyibakkan air telaga tersebut, dan segera tubuhnya meluncur dengan cepat kepermukaan telaga dan langsung melompat ke udara saat tubuh itu muncul dipermukaan air telaga, setelah di udara Han Long berjungkir balik dan mengarahkan dirinya pada tepian telaga, dan tubuhnya yang seringan bulu ini dapat melayang sesuai kehendak dirinya, dan dia mendarat dengan tepat di pinggir telaga ini sesuai dengan kehendak pikirannya.
Setelah mendarat, terjadi perubahan fisik Han Long, kulit tubuhnya semakin halus dan teksturnya semakin halus, selain itu rambut di kepalanya semakin hitam subur dan mengkilap, tatapan matanya semakin cerah dan tajam menghujam, wajahnya semakin tampan dengan raut yang semakin halus.
Dia mengerahkan persepsi jiwanya maka terlihatlah oleh jiwanya ribuan binatang mistik yang mengelilinginya, namun kini, makhluk-makhluk ini seperti ketakutan.
Han Long tersenyum, dia dengan gembira merasakan kekuatan yang baru pada dirinya, namun lebih baik dia berkomunikasi dengan ibunya sebelum melangkah lebih jauh.
Han Long melihat sekitarnya dan dia terkejut melihat bahwa tumbuh-tumbuhan di sekitarnya berubah sedikit layu dan bunga-bunga di sekelilingnya berguguran kelopak demi kelopak, dia teringat akan tokoh-tokoh yang masih berada diatas tebing lembah ini, mereka pasti menyadari sesuatu, dan tak lama kemudian terdengarlah ucapan-ucapan makian yang keluar dari keenam tokoh tersebut, Han Long lalu mengerahkan formasi penyembunyian dirinya, maka seketika tubuhnya langsung tidak dapat dirasakan oleh keenam tokoh tersebut yang berusaha mencarinya.
“Kawan-kawan berhenti dulu, apakah kalian tidak mencurigai sesuatu bahwa diantara kita ada seseorang yang bukan bagian dari kita?”, kata Liu Gong sambil matanya melirik kepada Zhang Wei.
“Apa maksudmu?”, tanya Zhang Wei waspada.
“Apakah kau hanya seorang diri saja yang berhasil masuk ke lembah ini, tanpa kawan atau saudaramu sehingga di tengah kesibukan kita menghadapi binatang-binatang mistik ini, sekutumu menyusup ke dalam lembah dan mengambil benda itu?” kata Souw Hek curiga
Zhang Wei yang merasa tersudut pun berucap,
“Apakah diantara kita mengenal benda sesungguhnya yang kita maksud atau kita cari, baik namanya, bentuknya seperti apa?” Kata Zhang Wei menatap orang-orang yang mengurung dirinya.
Pertanyaan sederhana ini membuat orang-orang yang mengelilinginya tersentak, mereka sebenarnya belum tahu nama benda yang akan mereka cari, hanya beberapa keterangan yang diberikan para leluhur klan masing-,asing mengatakan bahwa keberadaan setiap tanaman di Taman Sunyi ini tidak pernah layu bahkan bertahan selama ribuan tahun disebabkan oleh benda mustika yang mengakibatkannya, namun nama benda dan bentuknya mereka belum paham.
“Jika kalian sendiri belum tahu maka aku pun demikian semua berdasarkan pada keterangan yang kurang detail dan akurat yang disampaikan oleh para leluhur klan kita masing-masing, lalu bagaimana aku membawa seseorang yang kondisi pengetahuannya sama seperti kita, jangankan kita generasi semuda ini, bahkan para leluhur klan kita saja hanya menduga-duga sebelumnya”, kata Zhang Wei kembali.
“namun tidak menutup kemungkinan bahwa sekutumu menyusup dan mendapatkan benda itu, lihat semua tanaman ini terlihat layu dan kurang energi pada setiap helai daun tanaman disini”, kata Gao Pek In.
“Sebaiknya semua menahan diri, karena menurutku apa yang dikatakan oleh saudara Zhang Wei ada benarnya, kita sampai ke lembah ini datang secara membuta, tanpa mengetahui barang apa yang sesungguhnya kita cari, semua berdasarkan pada keberuntungan kita masing-masing”, kata Song Tek sebagai anggota klan yang selalu netral tidak mau memihak pada klan keluarga yang sudah memiliki sekutu masing-masing.
“Apa pun itu kita harus membuat pencegahan, karena aku mengkhawatirkan bahwa sekutu yang dibawa oleh saudara Zhang Wei pasti memiliki tingkat kekuatan yang berada di atas kita”, kata Zou Min.
“Apakah demikian?, belum tentu sekutu diriku, apakah kalian hanya mencurigai diriku saja tanpa melihat diri kalian masing-masing, jangan-jangan ini adalah upaya tersembunyi kalian, atau kau Liu Gong, karena kecurigaan ini berawal dari kata-katamu”, kata Zhang Wei melotot pada Liu Gong.
“Untuk apa itu harus kulakukan?, aku hanya bermaksud menyadarkan sekutuku sendiri, jangan balik menuding pada diriku, kau pikir aku takut melawanmu”, kata Liu Gong dengan marah.
Percakapan diantara mereka semakin semrawut, pembelaan yang dilakukan oleh Zhang Wei sebetulnya masuk akal bagi pikiran masing-masing, sehingga persekutuan di antara mereka sedikit retak karena masing-masing orang mencurigai kawan-kawan yang ada di sampingnya, semua ini tidak terlepas dari persepsi jiwa Han Long yang sedikit tersenyum mendengar percakapan diantara mereka sendiri.
Han Long diam-diam meninggalkan tempat itu, dengan tingkat yang berbeda, dia sekarang dapat melalui pengawasan orang itu dengan mulus tanpa gangguan, setelah meninggalkan jarak yang cukup jauh, dia segera mengerahkan energi kultivasinya dan melesat menuju tempat rekan-rekannya untuk segera meninggalkan Taman Sunyi ini yang akan segera ditutup.
Diluar Taman Sunyi atau Taman Abadi, banyak tokoh-tokoh super klan yang menunggu kehadiran anggota klannya masing-masing yang berhasil masuk ke taman tersebut.
Pejabat Kam tengah duduk diatas podium bersama dengan Pejabat Wang dan Pejabat Zhang yang merupakan sekutu, dengan tenang Pejabat Kam mengawasi pintu keluar Taman Sunyi ini.
“Lihat seseorang akan muncul”, kata seseorang
“Lihat mereka datang berduyun-duyun, rupanya serombongan”,
sebuah suara memecahkan kesunyian dalam penantian ini.
Taman ini telah dibuka selama tiga bulan dan beberapa peserta telah keluar dengan sendirinya, namun masih ada beberapa peserta yang diharapkan dapat keluar dengan selamat dengan membawa beberapa tumbuhan langka dan berkhasiat bagi pertumbuhan klannya.
Jauh di bawah podium kehormatan seorang pria 30 tahunan duduk di kursi penonton biasa dengan tenang, lelaki ini hanya terlihat seperti orang yang tertidur, dengan wajah seperti mengantuk namun keningnya sedikit berkerut, jika seorang petinggi penguasa benua Khui Ning dari klan mana pun mengetahui keberadaan pria ini otomatis orang tersebut akan bersujud pada pria ini, dia adalah Leluhur Yap Kun Tek penguasa sesungguhnya Benua Khui Ning yang berusia ratusan tahun.
Yap Kun Tek hadir untuk menjaga keturunannya Yap Ing dan putrinya Coa Leng In, dia tidak ingin dikenali oleh warga Benua Khui Ning, karena keberadaan dirinya dapat memancing kedatangan para ahli Benua Tengah yang masih menuntut benda-benda pusaka yang sekarang telah digunakan oleh cucu kesayangannya.
Serombongan orang yang dimaksud keluar dari Taman Sunyi adalah rombongan Kam Lin beserta kawan-kawannya yang telah diselamatkan oleh Han Long.
Zhang Mei, Wang Jie, Kam Lin dan Han Wo keluar dari pintu keluar Taman dengan wajah lelah, namun ada senyum ceria di wajah mereka menandakan bahwa mereka masing-masing memperoleh harta yang cukup lumayan bagi klannya.
Han Wo dengan takut-takut keluar dari rombongan dan berusaha menyelinap agar keberadaan dirinya yang berhasil keluar tidak kentara oleh orang lain, dia takut kalau dirinya menjadi target perampokan dari orang-orang yang hanya mau mencari keuntungan semata tanpa berjuang mempertaruhkan nyawa, dia menyadari jika dia tidak menerima pertolongan seseorang mungkin dirinya sudah tidak bernafas lagi, dia sempat memeriksa Tiankong Zhi Dainya dan ternyata tidak sehelai daunpun yang berkurang di kantong tersebut.
Demikian pula yang dilakukan oleh rombongan Kam Lin yang berhasil keluar dari Taman sunyi, sebelumnya masing-masing memeriksa bahwa pada kantong langit, mereka jumlahnya masih tetap bahkan Kam Lin dengan heran melihat bahwa kumpulan Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan roh nya di dalam kantong langitnya menjadi bertumpuk-tumpuk beberapa kali lipat sampai menggunung.
“Saudara muda tahan dulu langkahmu”, sebuah seruan yang dikhawatirkan Han Wo terdengar dari arah belakang dirinya, ketika dia menoleh sesosok pemuda didampingi oleh beberapa orang kuat menghampiri dirinya, dia tidak ingin menghiraukan pemuda tersebut namun di depannya sekarang telah berkumpul orang-orang yang mendatangi dirinya.
“Apa maksud saudara ini?”, kata Han Wo dengan khawatir.
“Bagaimana kalau kita berbisnis, serahkan kantong langitmu, maka aku akan memberikan upah yang sepantasnya bagimu”, kata Liu Teng dengan tenang sambil terus menghampiri Han Wo, ada seringai ganas di bibir Liu Teng melihat mangsa yang empuk di depannya, dia sudah tahu tingkat kultivasi Han Wo apalagi dia membawa pengawal-pengawalnya untuk keperluan bisnis paksaan yang dibiarkan oleh klannya karena ini memang menguntungkan klannya, dan bagi para petinggi klan adalah lumrah yang kuat menekan yang lemah.
“Aku tidak berniat sedikitpun menukar apa yang dihasilkan dari pencarianku di taman itu, aku akan menggunakannya sendiri, dan milikku tidak akan berarti bagi kalian”, kata Han Wo sedikit berkilah, dia pun tahu bahwa pada kantong langitnya tertimbun macam-macam tanaman dan buah-buahan roh yang menggunung setelah ditambahkan oleh Han Long tanpa sepengetahuan dirinya.
“Biarkan aku memeriksanya, cepat serahkan kantong langitmu sehingga ini akan menghemat banyak waktu”, Kata Liu Teng tidak sabar.
“Saudara Han Wo jangan kau serahkan kantong itu pada pemuda brengsek seperti dia”, sebuah suara merdu di belakang Liu Teng bergema, Liu Teng dengan marah membalikan badannya, betapa terkejut dirinya melihat dua sosok cantik mendatanginya dengan langkah anggun dan pinggul bergoyang seirama diantara dua wanita ini.
Han Wo pun terkejut melihat bahwa dua wanita ini, dimana salah satu diantaranya pernah dikenalnya, penampilan Coa Leng In memang sedikit berubah dibandingkan sewaktu masih di Benua Chong Yang (Benua Sinar Matahari) dan Han Wo secara samar-samar melihat kemiripan sosok yang dikenalnya.
“Apakah kalian akan ikut campur urusan klan ku tanpa berpikir akibatnya?”, kata Liu Teng dengan angkuh, walaupun dia pernah merasakan kekuatan dua wanita ini, namun sekarang kondisinya berbeda dimana kekuatan klannya sekarang berada disekitarnya, belum lagi para petinggi penguasa Benua Khui Ning tidak akan tinggal diam jika sesuatu mengancam dirinya dengan adanya sekutu klan lainnya yang mendukung dirinya.
“Oh, seberapa besar nyalimu?, aku ingin tahu, berani kau mengorek kenalanku, maka nyawamu jadi taruhannya”, kata Coa Leng In dengan berani dan mencibir, dia sebenarnya telah muak dengan kelakuan Liu Teng ini, dan Coa Leng In pun tahu bahwa di antara penonton, kakek leluhurnya sudah berada dan saat ini sedang menonton diri dan ibunya.
Bukan hanya orang-orang disekitar Liu Teng yang memperhatikan situasi ini, di tingkat atas podium kehormatan pun beberapa petinggi penguasa Benua Khui Ning melihat aksi Liu Teng yang sengaja mereka biarkan namun dihalangi oleh dua wanita, mereka ingin tahu sikap kedua wanita itu, namun jawaban yang didengungkan oleh Coa Leng In membuat beberapa Petinggi Klan Penguasa Benua merasa tidak suka akan kesombongan Coa Leng In ini, terutama bagi Pejabat Liu dan Pejabat Souw.
“Serang mereka !!”, Perintah Liu Teng pada para pengawalnya, maka beberapa orang yang mengawal Liu Teng lalu menyerbu ke arah Coa Leng In dan Yap Ing, sementara Liu Teng bergegas menghampiri Han Wo, dia sudah gusar dan marah, maka dari itu dia lalu mengerahkan energi kultivasinya dengan niat sekali serangan akan melumpuhkan Han Wo seketika, namun hal tidak terduga terjadi, pukulan Liu Teng ada yang menahan.
Plak…Dugh… Plak Dess!!!
Kam Lin berdiri menghalangi laju Liu Teng yang menghampiri Han Wo, jelas Kam Lin melihat semua kejadian ini, ditengah dendamnya pada Liu Teng dan melihat Coa Leng In membela seorang pemuda, dia dengan segera menetapkan dirinya dan sekalian melampiaskan dendamnya pada pemuda brengsek ini.
Liu Teng yang melihat Kam Lin menghalangi maksudnya semakin marah, namun dia tahu bahwa dirinya bukan tandingan gadis ini.
“Kawan-kawan serang gadis ini!!”, teriaknya pada pasukan pengawalnya.
Maka terjadilah pertempuran dimuka pintu keluar Taman Sunyi itu, pertempuran itu sendiri merupakan tontonan yang menarik semua kultivator yang kebetulan berada di tempat itu, sehingga perkelahian inipun menjadi perhatian bagi klan keluarga lainnya.
“Dasar Putriku tidak bisa menahan diri, hmm…”, di atas podium kehormatan, Pejabat Kam hanya bisa menarik nafas, urat syarafnya tegang dia siap menyelamatkan putri semata wayangnya agar tidak terluka parah.
Terlihat kekuatan kedua belah pihak berjalan dengan seimbang, namun akhirnya kekuatan yang ditunjukan oleh Coa Leng In dan Yap Ing mulai menunjukkan keunggulannya, beberapa pengurus klan Liu dan Souw memberikan isyarat pada pengurus menengah agar mengambil tindakan, untuk membantu pihak Liu teng dan menuntaskan segalanya.
“Leng In, Yap Ing, bunuh mereka semua secepatnya!”, terdengar suara Leluhur Yap Kun Tek di telinga mereka, mendengar itu, maka meletus kekuatan sesungguhnya dari kedua wanita itu,
Dussshhh…!!!
Thummm…!!!
Dengan pengerahan maksimal energi kultivasi Coa Leng In dan Yap Ing segera terjadi perubahan gerakan dari kedua wanita tersebut, bayangan keduanya bergerak dengan cepat, seirama dan saling mengisi, dengan Teknik Kultivasi Energi Membelah Bintang yang merupakan bagian dari Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta yang tercantum dari 12 kulit binatang, tubuh keduanya berkelebatan diantara bayang-bayang penyerangnya maka tidak lama kemudian, beberapa tubuh berjatuhan dengan kepala retak dan sudah tidak bernyawa, melihat kondisi ini Liu Teng semakin panik dan marah,
“Serang !,,, Seraaaannggg dua wanita ituuu” teriakannya pada para pengawal yang tadi mengeroyok Kam Lin.
Namun dua wanita ini malah yang menyerbu dan menyerang Liu Teng dan para pengawal-pengawalnya,
“Celaka !, Lindungi Liu Teng”, teriak beberapa orang di atas podium yang diteriakan oleh Pejabat Liu dan Pejabat Souw, namun teriakan mereka hanya bergaung sesaat saja karena kedua pejabat ini tiba-tiba nafasnya menjadi tersengal-sengal dan dengan susah payah mengerahkan energi kultivasinya dengan tingkat Manusia Dewa, namun usaha itu sia-sia, mereka seperti terkunci dan ditekan terus menerus sehingga wajah mereka memerah seperti kepiting rebus.
Di tempat pertempuran itu sendiri telah menjadi sepi dengan banyaknya tubuh yang sudah menjadi mayat termasuk Liu Teng, dimana dadanya seperti di tembus oleh besi sebesar lengan yang menembus dada hingga punggungnya.