Dari kejauhan Han Long melihat pertempuran antara kelompok Coa Leng In dengan Liu Teng, dia juga tahu peranan Leluhur Yap Kun Tek yang mengunci para pemimpin Klan Souw dan Liu.
”Along dari mana saja kau?, aku sudah memiliki banyak sekali panen, ingat perjanjian kita”, kata Kam Lin, dia tidak menghiraukan jasad Liu Teng, malah dia dengan wajah gembira menghampiri Han Long seperti seseorang yang baru bertemu dengan orang yang selama ini dirindukannya.
”Aku sempat pulang ke rumah ibuku dulu, dan inilah aku”, kata Han Long dengan wajah tololnya.
Sedangkan Coa Leng In dan Yap Ing memperhatikan percakapan di antara keduanya dengan tersenyum melihat sandiwara Han Long, terutama Yap Ing yang memperhatikan sosok Han Long, masih teringat akan sosok tubuh kekar itu memeluk tubuhnya, maka semburat merah di wajahnya yang mulus dan putih berubah warna.
Dan naluri kewanitaan Coa Leng In menangkap perubahan ini.
Demikian juga Han Wo yang melihat dan mengenal Han Long, namun dalam hatinya dia selalu berpikir bahwa kebodohan Han Long tidak berubah, namun dia tidak bereaksi, karena sekarang dia melihat ada perhatian dari Coa Leng In secara khusus, dimana tingkat kekuatan Coa Leng In jauh di atasnya, dia tidak mau mencari perkara dengan wanita yang dulu sebagai juniornya di Kota Yang In.
“Eh, aku seperti mengenal kakak lelaki ini, bukankah engkau kakak…”, kata-kata Han Long terputus oleh bentakan seseorang.
Seorang dengan berpakaian seragam militer tingkat tinggi melangkah maju, dia adalah salah satu komandan penjaga kota dengan tingkat kultivasi Insan Raja ke-5 awal dan berteriak memberi perintah pada sepasukan tentara elit, yang rata-rata memiliki tingkat kultivasi Insan Raja ke-1 dan ke-2, dengan telunjuk kanan mengarah ke Coa Leng In dan kawan-kawan,
”Apa yang kalian lakukan !, kalian dengan berani mengambil nyawa seorang petugas dari Dewan Penguasa Benua, pengawal tangkap mereka semua !!!”,
kata pejabat tinggi itu yang ternyata adalah salah satu dari klan Liu,
dengan wajah geram, dan mata melotot penuh kebencian pada Coa Leng In dan Yap Ing sambil melirik pada Kam Lin.
”Wewenang seorang pejabat yang disalahgunakan adalah kesalahan tersendiri, siapa yang berhak mengadili orang seperti itu?”, kata Yap Ing sambil membusungkan dadanya.
Perwira itu semakin marah,
”Kalian tidak berhak bertindak, hanya kami petugas resmi Penguasa Benua”,
jawab Perwira militer itu.
”Kalau begitu kami akan melawan, kami yakin akan tindakan kami bahwa pemuda sampah, Liu Teng itu layak mati”, kata Kam Lin.
”Nona Kam, jangan mentang- mentang kau anak putri Pejabat Kam,
kaupun akan kami adili”, kata perwira militer itu sambil jarinya menunjuk Kam Lin.
”Apakah kau berani?”, suara Pejabat Kam terdengar di belakang perwira tinggi klan Liu itu.
Betapa terkejutnya perwira itu, dia sempat salah tingkah dengan sikap arogansinya, namun rasa kagetnya tergantikan dengan senyum, dia melihat bahwa Pejabat Liu dan Pejabat Souw berjalan menghampiri ke arah mereka dengan beberapa Pejabat lainnya yang merupakan sekutu mereka.
”Tangkap para wanita lancang da kejam itu !”, kata Pejabat Souw dengan tatapan mata menatap lurus dan angkuh.
Seruan ini disertai dengan kemunculan barisan tambahan pengawal yang berjumlah ratusan dan serentak mengurung Kam Lin, Coa Leng In, Yap Ing, Han Wo dan Han Long
Han Long yang berada ditengah-tengah ketiga wanita itu, bergeser, beringsut-ingsut mundur kebelakang dengan wajah menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran yang tinggi, berharap hendak keluar dari pengepungan tersebut.
”Jangan bergerak !, kau juga harus kami bawa!”, kata salah satu pengawal di belakang Han Long.
Han Long memutar badannya perlahan, dibelakangnya telah berdiri seorang pengawal pasukan yang bertubuh lebih tinggi darinya dengan seringai kejam dan mata yang melotot,
”Apa salahku, aku baru tiba disini, aku tidak terlibat kekacauan ini”, jawab Han Long dengan wajah memelas, Han Wo hanya mengernyitkan keningnya melihat kepengecutan Han Long.
”Kami tidak mau tahu alasanmu, kami menjalankan perintah”, kata pengawal itu.
”Tuan pengawal bijaksanalah, kau tahu aku hanya pelayan nona Kam”, mimik Han Long meratap, dan Han Wo makin jengkel terhadap Han Long.
”Keberuntungan apa yang dimiliki si tolol ini?,
selalu saja ada wanita yang siap membela nya, pula dimana Han Eng?,
mengapa pemuda ini juga meninggalkan Kerajaan Chong Yang?”, pikir Han Wo dengan berbagai pertanyaan dihatinya
”Berani kau sentuh pelayanku, tahu sendiri akibatnya”, kata Kam Lin pada pengawal tersebut tanpa rasa takut, Kam Lin sempat melirik Han Wo yang berdiri disamping Han Long, dia tahu bahwa pemuda yang dibela oleh Coa Leng In seperti mengenal Along, pelayannya
Pejabat Kam melangkah maju menghadang pejabat Souw dan kawan-kawannya sambil berucap,
”Pejabat Souw dan Pejabat Liu, semua orang menjadi saksi atas tindakan pemuda Liu Teng, apakah sudah kau pikir matang-matang?”, kata Pejabat Kam dengan mengerutkan kening karena kesombongan dua pejabat koleganya yang tidak melihat kehadiran dirinya dengan para pejabat lainnya sebagai anggota Dewan Penguasa Tertinggi Benua.
”Aku bertindak karena kekejaman dua wanita itu, dan putrimu adalah bagian dari mereka, maka aku harus bertindak sesuai dengan situasi, selebihnya kita akan menunggu proses pengadilan”, kata Pejabat Liu beralasan.
Seorang Pejabat yang menyertai Pejabat Kam maju melangkah,
”Jangan kau mengira bahwa sekutumu lebih banyak dan dapat mengatur pengadilan sesuai kehendakmu pejabat Souw, ingat kita telah bersumpah setia pada Leluhur yang dulu pernah berkuasa, bahwa kita semua harus menjaga Benua ini dan menegakkan keadilan atas semua klan dan ras seadil-adilnya”, kata Pejabat Wang Hao.
”Dan semua yang hadir disini menjadi saksi tindakan sewenang-wenang pemuda Liu Teng dari kawan para wanita itu, dan mereka hanya bertindak atas dasar keadilan”, kata pejabat Zhang yang mendampingi Pejabat Kam juga.
”Sekalipun demikian mereka telah bertindak terlalu kejam dan membunuh semua pengawal”, balas Pejabat Souw kembali dengan nada angkuh dia memang tidak suka pada para pejabat di depannya, apalagi dia juga membawa koleganya, dan merasa kelompoknya lebih unggul, dimana ada pejabat Gao dan Pejabat Zou selain Pejabat Liu yang setia mengekornya.
Pejabat Kam mengerutkan keningnya dan rasa penasaran di wajahnya mencuat,
”Semua orang pun tahu, siapa Liu Teng dan para pengawalnya,
mereka tidak menunjukan kualitas sebagai petugas terhormat,
malah mencoreng kewibawaan Dewan Penguasa Benua dan sering bertindak atas kehendak dan keuntungan pribadinya sendiri”, kata Pejabat Kam membalas.
”Jika demikian persoalan ini tidak akan berakhir, maka kekuatan yang menentukan,
apakah itu mau kalian?”, balas Pejabat Liu,
dia sudah marah karena yang menjadi korban adalah salah satu keponakannya yang handal dalam pengumpulan harta bagi klannya.
Suasana semakin bertambah tegang, karena kini para petinggi penguasa Benua akan saling bentrok, tingkat kultivasi para Manusia Dewa akan bertempur
”Aduuuuhhh…!!”
”Auwww…..!!!”
”Uhugh..!!”,
Beberapa orang yang mengepung Han Long dan kawan-kawannya itu berguguran satu persatu, ada darah yang keluar dari hidung serta telinga mereka, sambil tangan mereka memegang kepala masing-masing.
Tiga wanita dan dua pemuda bereaksi sama terkejut, melihat para pengawal dan tentara yang berguguran dengan sendirinya, tanpa ada getaran energi yang terasa
”Eh, aku tidak berbuat apa-apa, jangan kalian melihat ke arahku”, kata Han Long karena Yap Ing dan Coa Leng In menatap Han Long bersamaan.
”Kakak berdua, terima kasih atas tindakan kalian”, kata Kam Lin membungkukkan badannya pada Coa Leng In dan Yap Ing.
”Adik kecil, bukan kami pelakunya”, kata Coa Leng In tersenyum masam, dia yakin Han Long lah yang telah melumpuhkan sebagian tentara ini dengan teknik beladiri misteriusnya.
”Eh, lalu siapa?, hanya ada kita berlima yang dikepung disini, sedangkan ayah dan para paman ada di luar pengepungan ini”, kata Kam Lin kebingungan.
Jumlah tentara dan pengawal kota yang mengepung mereka berlima sekitar 200 orang dengan tingkat kultivasi terendah adalah tingkat Imajinasi Roh ke-6 puncak sampai tingkat Insan Raja ke-5 Puncak, dan yang jatuh tidak sadarkan diri adalah orang-orang pada tingkat Insan Raja ke-1 sampai tingkat Insan Raja ke-3.
”He he he…, dua semut tidak berarti, hendak mengadili keturunanku, apa kalian mencari mati”, kata seorang pemuda 30 tahunan yang tiba-tiba hadir di kerumunan yang menonton disekitarnya.
Betapa terkejutnya kelompok Pejabat Souw, karena sosok ini muncul tanpa dapat dirasakan tingkat energi kultivasi orang tersebut,
”Siapa kau?, beraninya kau bertingkah di depan kami para penguasa Benua”,
kata Pejabat Souw sambil memperhatikan sosok yang baru muncul itu.
Disebelah pejabat Souw, ada Pejabat Liu, Pejabat Zou dan Pejabat Gao, mereka menatap dengan waspada, khususnya Pejabat Liu, dia sudah menduga ada aktor lain yang menjadi pendukung wanita pembunuh yang menghabisi keponakan mereka, sosok muda itu mendatangi mereka dengan langkah tenang tanpa sedikitpun menunjukkan kegentaran dan keraguan pada dirinya.
Yap Kun Tek tetap berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari salah satu anggota Dewan Penguasa Benua Khu Ning, setelah tiba di antara mereka, terdengar helaan nafas Yap Kun Tek seperti orang yang merendahkan para pejabat penguasa benua.
Namun ada perubahan energi di tengah ketegangan itu dan suasana tegang dari sebelumnya menjadi dingin mencekam dan sebuah suara wanita bergema melingkupi area yang luas ini,
”Long er, lumpuhkan mereka semua!”, suara merdu bergema di tengah alun alun kota Bulu Angsa yang menjadi pusat acara Taman Sunyi ini, memberi perintah pada seseorang, dan sebuah suara muda menyambut perintah tersebut.
”Baik ibu!!!”,
jawaban singkat dari Han Long ini diikuti oleh perubahan wajah dan perangai Han Long menjadi serius dan tatapan matanya berkilat bagai bintang, Han Long berdiri tegak, kakinya terpentang dengan kokoh, di tengah kepungan ratusan Pengawal dan tentara Benua Khui Ning,
Dussssss…!!!
Sebuah letupan energi kultivasi dari tubuh Han Long meletus,
Heeeaaaa…!!!
Teriakan Han Long bergema, dan sosoknya melesat kesana kemari diantara para pasukan yang mengepung diri dan kawan-kawannya, maka
Thusss…
Bumm..
Beberapa letusan energi kultivasi meletus di antara pasukan pengepung sebagai antisipasi dari gerakan Han Long, namun kemanapun tubuh Han Long mendarat maka ada korban yang berguguran.
”Celaka, aku akan melumpuhkan pemuda itu”, kata pejabat Liu sambil melompat mengejar tubuh Han Long, namun Han Long berlarian dan tangan serta kakinya mengarah ke pasukan yang mengepungnya.
Dengan kesal Pejabat Liu berusaha mengejar sosok Han Long namun Han Long selalu berubah arah, dan arah yang ditujunya tidak mudah ditebak
Pejabat Gao pun hendak maju, dia akan membantu menangkap Han Long, namun dia dihadang oleh Pejabat Wang, demikian juga para Pejabat lainnya yang akan melakukan tindakan yang sama dihadang oleh kelompok Pejabat Kam yang didampingi Pejabat Zhang
Kembali suara wanita itu terdengar,
”Jika kalian lelah atas hidup kalian, silahkan kalian menangkap anakku !”, suara ini tetap merdu namun ada ancaman yang menimbulkan bulu kuduk merinding berdiri.
Para tokoh tingkat tinggi anggota Dewan Penguasa Benua Khui Ning yang rata-rata memiliki tingkat kultivasi Tingkat Manusia Dewa ke-3 dan ke-4, merasakan ancaman energi yang siap merenggut nyawa mereka, karena energi ini mengunci kekuatan mereka sehingga alur pernapasan mereka menjadi tidak teratur terutama bagi Pejabat Souw dan sekutunya.
Selama ini mereka merasa diri mereka adalah kekuatan tertinggi di benua ini dengan tingkat kultivasi Manusia Dewa, sehingga menimbulkan arogansi bagi klan mereka masing-masing, dan sekarang, oleh satu orang yang mengancam mereka, kekuatan mereka tidak berarti sama sekali, belum lagi dengan adanya pemuda misterius di depan mereka, ada hawa energi yang demikian kuat menerpa mereka.
Yap Kun Tek yang tadinya akan turun tangan membantu Coa Leng In dan Yap Ing cucunya, berdiam diri saja setelah tahu ada kemunculan tokoh misterius ini, dan dia sekarang tahu bahwa dasar Han Long tidak takut kepadanya sewaktu di penginapan itu, ternyata ada sosok yang selalu menyertai dirinya, dan dia menduga kekuatan wanita ini sedikit lebih tinggi darinya.
Plak !
Dessss…
Huhhh…
Benturan kepalan tangan dan kaki, terdengar, ternyata sekarang Han Long meladeni serangan Pejabat Liu, maka terjadilah pertempuran tingkat tinggi yang sesungguhnya, walaupun tingkat kultivasi Han Long jauh di bawah Pejabat Liu, namun Han Long memiliki Teknik Beladiri Kategori Dewa kelas Sempurna.
Dengan Teknik yang sudah dikuasai sebagian dan ditambah dengan kekuatan tubuh yang sudah berasimilasi dengan Mutiara Air Kehidupan, sehingga kekuatan 9 Tubuh Bintang Han Long melompat pada kekuatan yang baru, Han Long berani menghadapi kekuatan seorang kultivator tingkat Manusia Dewa, tanpa takut.
Han Long akhirnya mengerti akan maksud dari perintah ibunya, inilah kesempatannya untuk mengeluarkan seluruh kekuatan pada dirinya dengan melawan seseorang yang kekuatan kultivasinya jauh diatasnya, semata-mata untuk menguji kekuatan dirinya yang baru.
Pertempuran Han Long dan Pejabat Liu terlihat seimbang, dan disekitar arena itu sudah dikosongkan, karena seluruh pasukan yang tadinya mengelilingi Coa Leng In dan kawan-kawannya sudah dilumpuhkan oleh Han Long seorang diri.
Coa Leng In dan Yap Ing menatap penuh perhatian pada pertarungan dua sosok tubuh ini, dibandingkan dengan kekuatan mereka berdua, maka pertarungan ini seperti memberi wawasan baru tentang pertempuran sesungguhnya yang jauh diatas mereka.
Berbeda dengan Coa Leng In dan Yap Ing, Kam Lin dan Han Wo hanya bisa menatap dengan mulut melongo dan mata terbelalak lebar, terutama Han Wo yang sebelumnya selalu merendahkan Han Long karena penampilan Han Long yang bodoh, kini dia semakin menyadari bahwa dirinya ternyata lebih bodoh dan tolol dibandingkan Han Long itu sendiri.
Paras wajah Kam Lin memerah malu, mengingat akan perbuatan dirinya kepada Han Long, demikian juga dengan Wang Jie dan Zhang Mei yang berdiri sedikit jauh dari arena, sekarang mereka tahu siapa pemuda yang dipanggil ‘Along’ itu.
Boummmm…!!!!!!
Duuaaarrrrr….!!!!!
Pertarungan keduanya mencapai puncaknya, dengan ledakan keras, yang ditimbulkan oleh benturan dua energi yang sangat kuat, mengakibatkan dua sosok tubuh mental ke arah yang berlawanan.
”Cukup !”, suara itu bergema, dan ditengah-tengah arena telah berdiri sosok wanita berjubah hitam, dia adalah Nyonya Li, wanita setengah tua ahli pengobatan yang sudah dikenal oleh Pejabat Kam.
”Yap Kun Tek, kuserahkan masalah ini padamu”, kata Thian Sian Li sambil kepalanya menoleh pada Yap Kun Tek, pemuda 30 tahunan itu.
”Urusanku di benua ini sudah selesai, aku akan pergi dengan anakku”, kata Thian Sian Li lagi.
Yap Kun Tek melangkah maju,
”Aku berharap, Nyonya tidak terburu-buru, setelah urusan ini selesai, biarkan aku mengunjungimu, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu”, kata Yap Kun Tek.
”Baiklah, kau tahu dimana menemuiku”, kata Thian Sian Li lagi,
sambil dia memberi tanda pada Han Long dan keduanya sudah menghilang.
Mendengar nama ‘Yap Kun Tek’ disebut, para anggota Dewan Penguasa Benua Khui Ning termasuk Pejabat Liu yang baru mengatur nafasnya, serentak terkejut, mereka semua menoleh dan melihat sosok pemuda 30 tahunan itu secara bersamaan, dan wajah pemuda itu mengingatkan 9 orang anggota Dewan Penguasa Benua pada sosok yang pernah menjadi penguasa Benua ini.
”Aku akan memberikan kesempatan satu kali saja pada kalian, enyahlah atau mati”, kata Yap Kun Tek pada kelompok Pejabat Souw.
Serombongan orang dari klan Yap yang dipimpin oleh Pejabat Yap berbondong-bondong datang menghampiri posisi Yap Kun Tek, mereka dengan khidmat membungkukan badan dengan serentak,
”Leluhur Klan terimalah Hormat kami”.
Betapa terkejutnya semua orang, tidak terkecuali pada masing-masing pihak yang akan bertempur, sosok pemuda 30 tahunan itu disapa dengan nama yang pernah menggemparkan benua ini, malah banyak diantara orang-orang yang hadir menggosok-gosokan kedua matanya, menatap kembali pemuda itu, sekedar meyakinkan diri bahwa sosok ini adalah penguasa benua yang sesungguhnya.
“Leluhur terimalah hormat kami!”, seruan ini secara serentak disuarakan oleh anggota Dewan Penguasa Benua Khui Ning tidak terkecuali pada kubu Pejabat Souw dan Pejabat Liu, malah kubu ini terlihat gemetaran pada seluruh tubuhnya, mereka sudah ngeri akan sangsi yang akan dikeluarkan oleh Penguasa Tunggal tersebut.
“Coa Leng In, Yap Ing kemarilah!”, kata Yap Kun Tek pada dua wanita generasinya.
“Mulai sekarang kalian berdua bersama dengan Klan Yap, Yap Teng, kedua wanita ini adalah saudaramu, mereka adalah anak dan cucu dari pemimpin klan terdahulu Yap Kun Lie”, kata Yap Kun Tek pada pejabat Yap yang ternyata bernama Yap Teng.
“Terima kasih Leluhur Yap, akhirnya kami dapat menemukan keturunan dari Paman Yap Kun Lie, sebelumnya banyak upaya kami yang dikerahkan untuk mencari Paman Yap Kun Lie untuk memimpin Klan Yap, tetapi kami tidak berhasil, namun kini keturunannya telah bersatu dengan kami, maka dari itu saya pribadi akan menyerahkan kepemimpinan klan pada keturunan paman Yap Kun Lie”, kata Yap Teng dengan hormat.
“Itu tidak perlu, kekuatan kedua wanita ini masih rendah, kau tetap memimpin klan Yap”, kata Yap Kun Tek sambil matanya menatap sekelilingnya dan dia melihat ribuan orang yang bersujud di hadapannya dari para anggota dan klan para penguasa Benua Khui Ning.
“Dengarkan semua !!!, aku tidak peduli dengan urusan yang menyangkut kekuasaan Benua ini, namun satu hal harus kutekankan pada kalian semua, walaupun aku kembali ke Benua ini, namun aku tidak menghendaki kekuasaan, bahwa keberadaan Dewan Penguasa Benua sudah selayaknya ada, namun aku melihat sedikit penyalahgunaan wewenang dari anggota biasa klan penguasa, sesungguhnya kematian pemuda itu adalah perintahku, dan bagi mereka yang tidak puas boleh menghadapiku”, Kata Yap Kun Tek pada orang banyak.
Serentak semua orang menjawab,
“Kami tidak berani, kami puas dengan kebijaksanaan Leluhur Penguasa!!!”.
“Baiklah, kembalilah kalian semua ke klan keluarga masing-masing, besok aku akan datang ke gedung aula pertemuan Dewan Penguasa Benua, mereka yang telah mencapai serendah-rendahnya Tingkat kultivasi Manusia Suci wajib hadir”, ucap Yap Kun Tek, sambil dirinya melangkah pergi yang diikuti oleh Yap Ing dan Coa Leng In dan rombongan klan Yap, meninggalkan tempat itu.
Jauh dari alun-alun kota tempat dimana penutupan Taman Sunyi, di sebuah jalan sudut kota yang sepi. yang dikenal sebagai pondok pengobatan Nyonya Li,
“Long er dalam 2 bulan ke depan kita akan meninggalkan benua ini, dan pada sisa waktu yang ada, harus kau gunakan untuk segera mengkonsolidasikan penyerapanmu dengan Air Mutiara Kehidupan, tingkatmu hanya naik sedikit “ kata Thian Sian Li pada putranya.
“Ibu, apakah kita harus segera meninggalkan benua ini?”, tanya Han Long.
“Ya harus, tugas kita masih ada, itu semua untuk membangun konstitusi tubuhmu”, kata Thian Sian Li lagi.
Han Long merenung sesaat, dalam hatinya ada rasa gundah campur aduk, sebenarnya ada keengganannya pada jalan hidup yang harus dia lalui, dia bosan dengan perannya, dia selalu meninggalkan kawan-kawannya, dan yang dia miliki hanya ibunya saja.
“Ibu, aku minta sebulan waktu tambahan karena aku sudah berjanji pada putri Kam untuk membuatkan beberapa pil peningkat kultivasi untuknya”, Kata Han Long.
“Long er, hatimu terlalu baik, baiklah aku mengijinkannya”, kata Thian Sian Li.
Seminggu kemudian, jalanan kota yang dulu begitu sepi kini ramai dikunjungi oleh macam-macam orang bahkan tiga hari sebelumnya banyak tokoh penting Kota Bulu Angsa yang datang ke pondok sederhana itu dengan beberapa hadiah untuk dapat diterima oleh Nyonya Li, kini mereka tahu bahwa sosok sederhana wanita setengah tua itu adalah kekuatan tertinggi di Benua Khui Ning, bahkan tokoh penguasa tunggal Yap Kun Tek pun sangat menghormati wanita setengah tua ini.
Serombongan orang dengan pengawal yang bertuliskan klan Yap mendatangi pondok itu, dipimpin oleh dua orang wanita cantik dan seorang pria 30 tahunan, mereka adalah rombongan Yap Kun Tek dengan Yap Ing dan Coa Leng In,
Ketiganya terus masuk pekarangan pondok tersebut sambil memerintahkan orang-orang yang mengawalnya berjaga di luar,
“Nyonya Li, kami datang berkunjung, ijinkan kami menemuimu”, kata Yap Kun Tek di depan pintu reot itu.
Pintu pun terbuka dan seorang wanita setengah tua muncul, Coa Leng In dan Yap Ing terperangah melihat wanita itu, mereka tidak menyangka bahwa wanita yang menyambut mereka adalah salah satu orang yang dihormati leluhur mereka.
Sebelumnya mereka merasa unggul dengan keberadaan leluhur Yap Kun Tek bersama mereka, namun sekarang terlihat bahwa sosok wanita yang terlihat lemah dan bersahaja ini adalah seorang tokoh super yang kekuatannya jauh di luar imajinasi mereka.
Yap Ing celingukan berusaha mengintip kedalam ruangan sederhana itu, bersama Coa Leng In mereka ingin bertemu dengan Han Long, dan melihat pemuda itu tanpa raut wajah tolol yang selalu menghiasi wajahnya.
“Silahkan masuk saudara Yap”, kata Thian Sian Li, mempersilahkan ketiganya memasuki rumah.
Setelah ketiganya masuk dan dipersilahkan duduk di atas kursi yang dibuat seadanya, Yap Kun Tek berdiri kembali dan berucap,
“Aku secara pribadi datang kemari sehubungan peristiwa yang terjadi di benua tengah beberapa tahun lalu, dan kiranya Nyonya Li dapat memaafkan kesalahanku, juga ada sesuatu yang ingin didiskusikan kepada Nyonya”, kata Yap Kun Tek sambil menunjukkan wajah penyesalan akibat ulah yang dibuatnya.
“Saudara Yap, hal yang lalu biarlah tetap berlalu, dan barang itupun sudah kutemukan serta digunakan oleh anakku, sebaiknya kita langsung ke pokok masalah yang ingin kau diskusikan”, kata Thian Sian Li.
“Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas kebesaran Nyonya Li, namun Nyonya harus mewaspadai seseorang yang berada di dalam klan anda, kelihatannya orang tersebut berniat menghancurkan klan anda dari dalam, namun aku tidak melihat secara jelas orang tersebut karena tingkat yang kumiliki sangat rendah, ketika aku menerima tugas untuk menyusup ke klan anda”, kata Yap Kun Tek sedikit menerangkan.
Thian Sian Li terdiam, dia masih memikirkan seseorang yang pantas dicurigai di dalam klannya, karena untuk mendeteksi ciri orang yang tingkat kultivasinya jauh di atas Yap Kun Tek, di dalam klan Thian berjumlah ribuan, dan tingkatan ini adalah hanya kekuatan menengah saja.
“Satu hal yang kuingat adalah sebuah cincin berwarna merah darah di jari kanannya yang sedikit unik karena cincin ini bukan sembarang cincin biasa, ada api yang selalu bergerak-gerak di kedalaman mata cincin tersebut”, kata Yap Kun Tek dan dilanjutkan dengan memberi keterangan secara detail bentuk cincin yang dimaksud dengan ciri-ciri khususnya.
Thian Sian Li membayangkan bentuk cincin tersebut dan terciptalah di dalam jiwanya sebuah benda yang diperkirakan cincin yang dimaksud,
“Namun benda itu bisa saja dilepaskan oleh oknum tersebut, dan hanya digunakan sewaktu-waktu, namun demikian, informasi ini sedikit berguna bagi klan kami”, kata Thian Sian Li.
Yap Ing merendahkan sedikit tubuhnya dan berkata,
“Nyonya Li, dimanakah putramu?, aku ingin mengucapkan terima kasih, berkat dia aku terhindar dari bahaya di Taman Sunyi”, katanya
“Benar Nyonya, dimanakah kawanku itu, kami mengenalnya sejak kecil”,
kata Coa Leng In menyambung ucapan ibunya.
“Selama dua bulan ini, putraku tidak dapat menemui kawan-kawannya, dia sedang melakukan kultivasi tertutup”, kata Thian Sian Li memaklumi keinginan dua wanita itu.
Dengan wajah kecewa keduanya tidak berani memaksa, Thian Sian Li akan menyampaikan pesan mereka bila Han Long selesai berkultivasi untuk mengunjungi para sahabatnya.