Tingkat kultivasi Han Long secara pasti menembus Tingkat Manusia Suci ke-8 Puncak dalam pengasingannya selama 2 bulan terakhir, itu pun dengan rasa sakit yang harus ditanggungnya, sebetulnya tanpa Air Mutiara Kehidupan, konstitusi tubuh Han Long akan naik dengan sendirinya karena tubuhnya dapat menyerap energi dunia, dengan serta merta tingkat kultivasinya terdorong semakin meningkat, dengan catatan penyegelan tubuhnya dilepaskan oleh Thian Sian Li ibunya, namun itulah bahaya yang sesungguhnya, tubuh kedagingan Han Long tidak akan sanggup menanggung beban energi yang ditampungnya.
Saat ini Han Long berada di sebuah ruang di kedalaman bawah tanah sekitar 100 meter dari permukaan tanah, ruang ini sengaja dibuat oleh Thian Sian Li, agar dapat menyembunyikan tubuh fisik Han Long jika menimbulkan ledakan energi kultivasi yang akan membuat keributan dan tontonan dari orang-orang yang belum berhenti mengunjungi pondok pengobatan Nyonya Li.
Perbedaan terbesar yang dimiliki oleh Han Long, dibandingkan oleh seorang kultivator pada tingkat kultivasi yang sama, adalah saat mata yang dimiliki oleh Han Long akan bersinar lebih tajam dan menimbulkan daya pengaruh yang sangat dalam saat pengerahan energi kultivasinya bereaksi.
Kini Han Long telah menguasai teknik beladiri kategori Dewa kelas sempurna pada teknik Jiwanya pada tahap ke-6, konstitusi tubuh 9 bintangnya pada tahap ke-5, Teknik Langkah Ajaib Melingkar Nirwana sudah pada tahap ke-4, sedangkan teknik Tinju Langit dan Badai Mengamuk sudah pada tahap ke-7 akibat penyerapan Air Mutiara Kehidupan, dimana dengan benda mustika yang diserapnya ini, selain menguatkan konstitusi tubuhnya dia meningkatkan teknik serangan terhadap lawannya dengan kekuatan yang melumpuhkan lawan dengan kecepatan kilat.
Han Long dapat melayani kekuatan seorang kultivator tingkat Manusia Dewa ke-3 Puncak seperti pejabat Liu dengan seimbang, dikarenakan teknik beladiri yang dilatih dan dikuasainya, sekalipun saat itu dia masih kultivator Manusia Suci ke-6, sekarang dengan kekuatan yang dimilikinya, maka dengan mudah dia mengalahkan tingkat seperti Pejabat Liu.
Mata Han Long terbuka, di kegelapan ruang di dalam tanah ini, mata itu mengeluarkan sinar cahaya yang sangat terang, Han Long menggerakkan seluruh otot dan tulang pada tubuhnya, gerakan menggeliatkan badannya ini seperti ingin melenturkan segala sendi-sendi pada tubuh.
“Akhirnya selesai, kini aku harus kembali ke dunia, tapi apa yang harus kulakukan?, kawan-kawanku tahu bahwa aku menipu mereka dengan kebodohanku, apakah mereka masih menerima diriku sebagaimana adanya?”, katanya dalam hati, Han Long lama terdiam diruang gelap ini, energi inti bumi diserap oleh tubuhnya, secara berirama dengan teknik pernafasannya.
Thian Sian Li duduk seorang diri diruang sederhana itu, di wajah bertopengnya ada senyum yang terukir, dia tidak bergerak, hanya menanti akan kedatangan Han Long putranya.
Tidak lama kemudian wanita ini berucap dengan lembut
“Masuklah”, kata Thian Sian Li.
Seorang pemuda berpakaian putih bersih, dan rambut hitam mengkilap diikat sederhana, wajahnya putih bersih dengan sinar mata yang mencorong tajam, seorang pemuda yang sangat tampan memasuki ruang dimana Thian Sian Li duduk menunggu.
“Ibu, aku harus mengunjungi teman-temanku dulu dan memenuhi janjiku pada putri Kam itu” kata Han Long pada ibunya , ibunya hanya mengangguk, dengan persepsi jiwa yang dimiliki oleh Thian Sian Li dan tingkat kultivasinya, Thian Sian Li dapat merasakan energi besar pada tubuh putranya.
Dia selalu mengawasi dan memberikan petunjuk saat Han Long berkultivasi tertutup melalui komunikasi jiwa, dan kini dirinya sangat puas melihat pertumbuhan putranya itu.
Di dalam Klan Kam seorang pria yang terlihat berusia 30 tahunan, duduk merenung pada ujung sebuah meja, dia adalah Pejabat Kam ayah Kam Lin.
“Tak kusangka pemuda yang dikira bodoh itu dapat menandingi seorang kultivator sekelas Pejabat Liu, aku harus menjalin hubungan dengannya untuk memperkuat sekutuku”, kata Pejabat Kam dalam hatinya.
Pejabat Kam telah mendatangi kediaman Nyonya Li, namun dia tidak dapat bertemu dengan Nyonya Li dan putranya, karena Nyonya Li sudah masuk pada kultivasi tertutup demikian juga putranya.
seorang gadis memasuki ruangan tersebut, dia adalah Kam Lin,
“Ayah, sudah dua bulan Along belum datang ke klan?”, kata Kam Lin pada ayahnya.
Ayahnya hanya tersenyum masam melihat kemanjaan putri semata wayang ini,
“Putriku, apakah kita masih layak dan patut, meminta seseorang yang sebenarnya memiliki status kekuatan diatas klan kita?, bahkan Tetua Yap Kun Tek, seorang Penguasa Benua masih menaruh hormat pada Nyonya Li yang adalah ibunya Along, bagaimana jika Nyonya Li menuntut atas perlakuanmu pada putranya karena putranya kau jadikan pelayan?, apakah klan kita termasuk ayahmu dapat melawan kekuatan Nyonya Li?”, kata Pejabat Kam dengan wajah berkerut melihat kemanjaan putrinya.
Betapa terkejutnya Kam Lin setelah mendengarnya, kekuatan klan Kam pun bagai semut di depan seorang kultivator sekelas Nyonya Li, dengan gemetaran Kam Lin berkata,
“Aku tahu ayah, tapi semua sudah terjadi, lagian Along sendiri tidak berterus terang padaku tentang kekuatannya”, Kam Lin membela diri.
”Yang kuat boleh berbuat apa saja terhadap yang lemah, itulah aturan dunia ini, maka dari itu kamu adalah seorang putri klan yang besar di benua ini, kamu harus mengubah sikap dan perilaku agar tidak menyinggung seseorang yang seharusnya kita hormati”, jawab Pejabat Kam.
Kam Lin terdiam, sepertinya dia mulai mencerna kata-kata ayahnya, banyak sudah dia lakukan pada semua orang termasuk kepada Along, dan dia merasa perlakuannya terhadap Along adalah sewajarnya bahkan dirinya menganggap Along adalah sahabatnya, dengan tarikan napas berat Kam Lin berucap lagi,
”Dia sudah berjanji padaku untuk membuat beberapa pil kultivasi dari bahan tumbuhan roh yang kumiliki dari Taman Sunyi,
oh ayah !!, aku teringat bahwa aku sebenarnya saat dalam keadaan bahaya di taman itu, karena dikelilingi oleh banyak binatang mistik yang siap merenggut nyawaku, dan kesadaranku hilang, namun aku seperti diselamatkan seseorang, ketika sadar kembali aku menemukan diriku pada sebuah pohon raksasa bersama kawan-kawanku yang lain, dan setelah kulihat isi kantong langitku, banyak sekali tumbuhan dan buah-buahan roh aneka jenis di kantong langit ku dan jumlahnya sangat banyak sampai bergunung-gunung”, kata Kam Lin dengan wajah heran dan takjub.
“Kau dapat menduga siapa yang menambahkan jumlah panenmu di Taman Sunyi itu?”, kata Pejabat Kam dengan serius.
“Aku sebenarnya belum bisa menebak siapa yang begitu baik hati menambahkan pada kantong langitku, tetapi setelah melihat pertempuran Along dan pejabat Liu aku menebak, dialah yang memberikan padaku dan penolongku serta lainnya”, kata Kam Lin dengan semangat dan mata berbinar-binar gembira, karena hasil panennya dapat memasok kebutuhan klannya dengan melimpah, dan dapat menutupi persediaan klan sampai bertahun-tahun.
“Lin er, apakah kau menyukai pemuda Along itu, eh tuan muda Along itu?”, tanya Pejabat Kam pada putrinya.
“Oh, eh…, Mmmm…,ayah apa maksudmu?....
Aku malu ayah, sudahlah ayah aku tidak mau memikirkannya”, kata Kam Lin terkejut, dengan semburat merah pada wajah cantiknya melanda.
“Jika seandainya tuan Muda Along itu mau berjodoh dan akhirnya menikahimu, maka dengan senang hati aku akan menerimanya”, gumam Pejabat Kam kepada dirinya sendiri sambil pandangannya menatap wajah yang memerah dari putrinya, yang dengan cepat menunduk, takut ketahuan isi hatinya.
Disaat pembicaraan antara putri dan ayahnya, ada seorang pengawal Klan yang memasuki ruangan itu dan memberitahukan bahwa di luar ada seorang pemuda yang bermaksud menemui putri Kam Lin.
Dengan cepat Pejabat Kam berdiri dengan heran, dia melirik putrinya hendak bertanya, tapi Kam Lin dengan sigap berdiri dan berlari meninggalkan ayahnya sendirian.
“Along, Along…, apakah itu kamu?” teriak Kam Lin mengucapkan berulang kali sambil meninggalkan ayahnya dengan bengong.
Sementara di luar gerbang klan Kam berdiri seorang pemuda yang badannya termasuk tinggi, wajahnya tampan dengan bahu dan dada yang tegap dan kokoh serta ditopang oleh kedua kaki yang terpentang, pemuda ini adalah Han Long, sebagian pengawal klan Kam sudah tidak mengenali penampilan Han Long lagi karena kini penampilan Han Long berubah drastis dibandingkan sewaktu dia masih mengaku sebagai pelayan Putri Kam Lin.
Penampilan Han Long didepan gerbang Klan Kam menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan melintas di jalan itu, banyak diantaranya terhenti sejenak karena pemuda ini terlihat familiar dengan kejadian dua bulan lalu di alun-alun penutupan Taman Sunyi, dan hal ini menimbulkan diskusi berkelompok di antara mereka dan mereka hanya bisa berbisik-bisik, takut terdengar oleh Han Long, sementara yang bersangkutan hanya diam mematung dengan wajah serius, menatap gerbang klan Kam.
Seorang gadis keluar dari gerbang diikuti oleh serombongan pengawal yang berbaris dengan rapi,
“Kami mengundang tuan muda memasuki klan, atas nama Pejabat Kam “, kata seorang yang merupakan pemimpin barisan pengawal itu, dan Kam Lin yang sekarang melihat penampilan Han Long, seperti salah tingkah, dia diam terpaku, segala ucapan yang hendak dikeluarkannya menjadi kelu dan membeku tiba-tiba melihat sosok gagah dan tampan seorang pemuda yang berpakaian putih bersih walau tanpa kemewahan pernak-pernik yang biasa digunakan oleh beberapa pemuda di kotanya.
“Terima kasih atas undangannya, silahkan pimpin jalan”, kata Han Long menatap tajam dengan senyum kecil pada bibirnya, Kam Lin hanya menatap secara diam-diam, gadis cantik ini tidak tahu apa yang akan dia kerjakan, setelah Han Long melewati dirinya, Han Long menatap Kam Lin dan tersenyum,
“Mari bersama-sama Putri Kam”, kata Han Long mempersilahkan Kam Lin berjalan bersamanya.
“Oh, eh…., ya, ya mari kita masuk”, Kata Kam Lin sambil dia sibuk meredakan degup yang menghantam hatinya berulang kali, karena mata berbintang pemuda itu menatap dirinya dengan lembut.
Tidak berapa lama Han Long sudah tiba dan langsung dipersilahkan masuk ke ruangan yang biasa digunakan oleh tamu-tamu penting bagi klan Kam, diringi oleh Kam Lin yang sekarang sedikit tenang dan kepercayaan dirinya telah tumbuh, Han Long tanpa ragu langsung masuk menghadap Pejabat Kam.
“Salam Pejabat Kam, Maafkan akan kedatanganku yang mendadak tanpa pemberitahuan, hal ini karena aku telah berjanji pada putri Kam untuk memenuhi janjiku”, kata Han Long memberi penghormatan pada Pejabat Kam yang langsung berdiri menyambut Han Long dengan wajah penuh dengan senyuman.
“Ha ha ha , tidak perlu sungkan, bahkan jika kau datang berapa kali pun kau bebas memasukinya dan aku sudah memberitahukan pada semua tetua dan seluruh klan bahwa kau sekarang bukan orang asing bagi klan kami, apalagi tindakanmu yang telah menolong putriku berulang-kali, malah aku berharap ibumu juga bisa datang”, kata Pejabat Kam dengan semangat.
“Terima kasih Pejabat Kam, aku hanya menyimpan kebaikan ini di dalam hatiku saja”, jawab Han Long.
“Putriku memang suka sulit di atur, maafkan dirinya yang selama ini menyusahkan Tuan Muda dengan kelakuannya, dia tidak menyangka orang yang dianggap pelayannya ternyata adalah penolongnya”, kata Pejabat Kam sambil melirik putrinya, Kam Lin tampak malu mendengar perkataan ayahnya, dia seperti diingatkan kembali pada tingkahnya sebelum mengetahui jati diri Han Long.
Dan tidak lama kemudian, meja di depan Han Long dipenuhi oleh berbagai macam hidangan baik makanan maupun minuman, dan tidak lama kemudian terjadi percakapan diantara mereka, Kam Lin tadinya sedikit ragu-ragu untuk ikut bicara, namun sikap Han Long mencairkan ketegangan hati Kam Lin dan sedikit demi sedikit hati Kam Lin penuh semangat kembali dan dia mulai berani mencela Han Long karena menyembunyikan kekuatan yang sesungguhnya, namun Kam Lin juga mengucapkan terima kasih atas perbuatan Han Long yang menyelamatkan dirinya di Taman Sunyi bahkan dia tahu bahwa Han Long telah menambahkan perbendaharaan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan roh pada kantong langit Kam Lin.
Sementara ditempat lain di klan Yap, dua orang wanita sedang berkultivasi pada sebuah ruangan yang termasuk ruangan khusus klan Yap, disini Coa Leng In dan Yap Ing dalam kondisi kultivasi pahit untuk meningkatkan kekuatan mereka, di benak mereka masih terlihat pertempuran tingkat tinggi antara Han Long dan Pejabat Liu, dan mereka menyadari bahwa kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Han Long, apalagi kekuatan ibunya yang dikenal Nyonya Li.
Inilah yang mendorong keduanya dengan rajin berkultivasi dan berlatih di bawah asuhan langsung Leluhur Yap Kun Tek, bahkan porsi latihan ini lebih keras ketika mereka masih di Hutan Kabut Putih di Benua Chong Yang.
Kembali ke Benua Chong Yang di Sekte Samudera Naga, dua tahun lalu ada seorang wanita yang mengamuk di kerajaan Ming Lan dan melawan para jagoan Istana Kerajaan Ming Lan seorang diri dengan berani tanpa rasa takut, dan kekuatan wanita itu menimbulkan jumlah korban yang sangat merugikan Kerajaan Ming Lan, sehingga dari empat kerajaan yang berada di benua Chong Yang, Kerajaan Ming Lan adalah kerajaan terlemah, bahkan dua sekutu yang membelanya pun terkena dampak yang sama yaitu Sekte Puncak Merah dan Sekte Angin Guntur.
Phang Cui Lin saat ini berada di Sekte Samudera Naga di dalam pengasingan, dan berkultivasi tertutup selama dua tahun, saat dirinya kelelahan atas pengeroyokan para ahli kerajaann Ming Lan dan hampir tewas, saat itulah dia ditolong oleh kakaknya Phang Kok, dimana sebenarnya Phang Kok terkejut melihat kekuatan adiknya yang ternyata sudah melewati dirinya.
Untungnya Phang Kok saat itu juga sebagai penyidik yang berusaha membalas dendam ke kerajaan Ming Lan, namun sebelum dia mengambil tindakan, ada seseorang yang sudah berbuat, malah memiliki kekuatan diatas dirinya, setelah dilihat, ternyata adik perempuannya yang beraksi, dia melihat kelelahan fisik adiknya itu dan kekuatan adiknya sudah mencapai bataanya, maka disaat genting bagi Phang Cui Lin, Phang Kok segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan adiknya dan segera kabur keluar dari Kerajaan Ming Lan dan membawa tubuh tidak sadar adiknya ke Sekte Samudera Naga.
Di sebuah Goa di pegunungan yang melingkari Sekte Samudera Naga, Phang Cui Lin dalam posisi meditasi, terlihat tubuhnya sedikit bergetar, tubuhnya tanpa busana, rambutnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian tubuh telanjangnya, getaran pada tubuhnya semakin kuat lalu keluar keluhan dari mulutnya, yang akhirnya dari mulut indahnya itu terbuka dan sebuah teriakan terdengar,
Aaaaarrrgggghhh….!!!!
Dusss…., Boouuummm !!!
Sebuah ledakan dari tubuh Phang Cui Lin meletus dengan suara yang kuat, menandakan peningkatan kultivasinya masuk ke ranah yang baru, Tingkat Manusia Suci ke-3 Awal.
Phang Cui lin mengatur pernafasannya dan segera dia mengkonsolidasikan kekuatan kultivasinya yang baru, dan kini dia sudah menguasai Teknik Beladiri dan Kultivasi pemberian Thian Sian Li, tuannya yaitu ‘Hantam Bumi Energi Surga’ yang sudah dikuasai sebanyak tujuh bagian, namun manfaat yang diperolehnya demikian tinggi.
Tingkat kultivasi yang sekarang dimiliki oleh Phang Cui Lin dapat merajai Benua Chong Yang, namun ambisi itu tidak ada dalam kerangka masa depan hidupnya, kini tatapan Phang Cui Lin tidak mengarahkan dirinya pada benua kecil dan terpencil ini setelah dia mengangkat Thian Sian Li sebagai tuannya, dia ingin tetap mengikuti tuannya dan menjelajahi permukaan dunia ini serta merasakan pengalaman yang meningkatkan kekuatan dirinya secara maksimal.
Dan terjadi perubahan fisik pada setiap kultivator ketika tingkat yang dicapainya semakin tinggi, hal itu juga terjadi pada diri Phang Cui Lin, dimana rata-rata ras iblis selalu dianugerahkan dengan bola mata yang merah namun kini warna merah pada bola matanya telah berubah menjadi putih dan bentuk telinganya yang biasa meruncing ke atas sekarang tidak terlalu nampak, bahkan warna rambutnya berubah lebih gelap mengkilap, serta helai rambutnya menjadi sangat lembut dan tekstur kulitnya lebih kenyal dan licin segar seiring dengan dirinya melangkah pada Tingkat kultivasi Manusia Suci.
Phang Cui Lin sudah mengambil keputusan untuk keluar dari Sekte yang membesarkannya dan akan meninggalkan benua kecil ini dan menyusul tuannya Thian Sian Li, dab dia harus mencari keberadaan Han Eng yang menjadi tanggung jawabnya, sebagai janjinya pada Thian Sian Li.
Pada jalan setapak yang terdapat di Sekte Samudera Naga, seorang wanita berjalan dengan langkah lamban sambil menikmati sinar matahari yang menimpa permukaan dunia dan kulitnya yang putih lentur tanpa cacat, wajahnya halus tanpa cacat, melengkapi kecantikan wanita tersebut dengan otot dada yang membusung penuh dan otot pinggul yang membentuk bokong bulat yang kokoh, jika seorang anggota sekte melihat wanita ini mungkin akan melihat seorang gadis muda yang sangat cantik berumur sekitar 27 atau 28 tahunan, tapi jika orang tahu ini adalah tokoh pahlawan Sekte Samudera Naga, pengurus tertinggi Sekte, mereka akan terkejut melihat penampilannya yang sekarang seperti gadis muda, padahal usia sebenarnya dari Phang Cui Lin adalah hampir 57 tahun.
Phang Cui lin berjalan dengan tenang, tujuannya adalah gedung aula para pemimpin sekte, dan kepala sekte saat ini masih dipegang oleh Hwa Kong yang tingkat kultivasinya pada tingkat Kultivasi Insan Raja ke-9 Lanjutan.
Di dalam aula pertemuan para pengurus tertinggi sekte telah berkumpul para tetua sekte tingkat tinggi, mereka membahas beberapa isu dan berita yang beredar di benua Chong Yang, dan itu merupakan kegiatan rutin para petinggi sekte.
Hwa Kong di dampingi oleh Phang Kok, Bing Siauw, Wong kay, Kim San Kui dan lain-lain.
Kini 3 Manusia Abadi telah mati, maka kekuatan yang dimiliki oleh Sekte Samudera Naga bergantung pada kekuatan para tetua ini, dimana Hwa Kong adalah kekuatan tertinggi diikuti oleh Phang Kok dan Bing Siauw pada tingkat Insan Raja ke-9 Awal, barulah tetua lainnya.
Diskusi mereka terhenti oleh suara langkah yang memasuki ruangan ini, semuanya menoleh dan betapa terkejutnya para tetua ini melihat Phang Cui Lin yang penampilannya telah berubah drastis, matanya kini bersinar sangat tajam menatap para tetua ini, namun ada kelembutan kala matanya menatap Phang Kok kakaknya.
“Salam para tetua Sekte”, ucap Phang Cui Lin membungkukkan badanya.
”Adik Lin, kau berubah, apa tingkatmu sekarang?”, tanya Phang Kok
”Tetua Lin, silahkan mengambil kursi”, kata Hwa Kong, mempersilahkan wanita itu duduk.
”Terima kasih Kepala Sekte, aku sengaja kemari untuk berpamitan karena aku memiliki tugas untuk melakukan perjalanan atas perintah tuanku”, kata Phang Cui Lin lagi.
”Tuanmu?, apa maksudmu?”, Phang Kok bertanya dengan heran, karena mereka semua adalah murid dari 3 Manusia Abadi, jadi perkataan Phang Cui Lin membingungkan semua tetua yang hadir.
Dengan tenang Phang Cui Lin menatap kakaknya, lalu beralih kepada tetua yang lainnya dan terakhir pada Hwa Kong, Kepala Sekte,
”3 guru sekte sangat kuhormati, dan rasa hormat pada 3 guruku, kubayar dengan membunuh semua orang yang terlibat atas kematian mereka, namun kematian tiga guruku meninggalkan satu tekad dan harapan bagi diriku, yaitu menjadi kuat, agar aku dapat melindungi orang yang kuhormati termasuk engkau kakak lelakiku, dan dalam proses menjadi kuat ini, aku diterima oleh seseorang yang jauh lebih kuat dari ketiga guruku, bahkan sekarang kekuatanku di atas kekuatan ketiga guruku terdahulu, dan guruku yang baru, memberi tugas yang harus kupenuhi”, kata Phang Cui Lin.
Betapa terkejutnya orang-orang yang hadir, apalagi mendengar bagian bahwa Phang Cui Lin lebih kuat dari 3 Manusia Abadi, mata Phang Kok menatap adik perempuannya tidak percaya,
”Adik mari kita ke arena latihan, aku akan berdebat denganmu?”, kata Phang Kok, namun gerakan Phang Kok selanjutnya adalah diam ditempat, karena Phang Cui Lin telah mengunci energi kultivasinya.
Wajah Phang Kok makin memerah dengan nafas tersengal-sengal kesesakkan, untungnya Phang Cui Lin tidak meneruskan teknik jiwanya yang menekan Phang Kok, dengan tersenyum manis, Phang Cui Lin berkata,
”Apakah kakak masih berniat berdebat denganku?”, tanyanya.
”Aaaahh…, percuma saja, aku mengaku kalah”, jawab Phang Kok sambil mengatur nafasnya.
Hwa Kong pun terkejut melihat aksi Phang Cui Lin, yang sebenarnya dulu hanya seorang junior, namun sekarang, dengan kekuatan Phang Cui Lin, maka semestinya dia memanggil Phang Cui Lin adalah ‘Tuan’, karena yang lebih kuat dihormati oleh yang lemah.
Tindakan Phang Cui Lin yang hendak pamit dari Sekte, adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang masih menghormati Sekte ini, padahal kekuatannya dapat melenyapkan sekte tersebut, bahkan Phang Cui Lin dapat pergi begitu saja tanpa menghiraukan dirinya sebagai Kepala Sekte, namun Phang Cui Lin mengambil sikap seperti ini menandakan bahwa dia masih menghormati Sekte Samudera Naga.
”Junior Phang terima kasih atas penghormatan ini, aku tidak bisa menahanmu sekalipun aku menggunakan seluruh sumber daya Sekte, aku berharap kau kembali dan membesarkan sekte kita ini”, kata Hwa Kong.
”Kakak senior Phang, hanya kita berdua wanita yang dilatih oleh guru, kau harus ingat, aku adalah saudarimu”, kata Bing Siauw sambil melangkah maju dan memeluk tubuh Phang Cui Lin, keduanya berpelukan.
”Adikku, selama ini kau selalu kuanggap sebagai sainganku dalam berkultivasi, namun kini kekuatanmu jauh diatasku, kakak kepala sekte berharap kau kembali, demikian juga diriku”, kata Phang Kok sedikit kecewa, namun akhirnya tersenyum.
”Entah kapan aku kembali, dan ini adalah salinan yang diberikan tuan padaku, ini adalah sebagian teknik yang membuat diriku maju dalam kultivasi, barangkali ini akan cocok untuk salah satu dari kalian”, kata Phang Cui Lin sambil mengeluarkan Lempengan Batu Giok, salinan dari Teknik Kultivasi pemberian Thian Sian Li.
”Junior, kami tidak dapat menerimanya, Tuanmu akan marah”, kata Hwa Kong, dia gembira menerima itu namun bila guru Phang Cui Lin tidak setuju, maka bencana terhadap sektenya.
”Saudara-saudara Tetua tidak perlu cemas, teknik ini pemberian guruku dan terserah padaku, itu kata beliau, dan aku ingin membagi teknik kultivasi ini dengan saudara-saudaraku disini”, kata Phang Cui Lin.
”Adik apa nama teknik ini? Dan Kategorinya?”, kata Phang Kok
”Teknik kultivasi ini harus dilakukan dan dilatih di kedalaman bawah bumi, dan namanya adalah ‘Hantam Bumi Energi Surga’, dan kategorinya adalah Dewa kelas Pokok”, jawab Phang Cui Lin ringan.
”Apaaa!!!, Kategori Dewa kelas Pokok????”,
serentak semua mulut para tetua sekte mengeluarkan kalimat yang sama sepeti sudah berlatih sebelumnya, rasa takjub dan kejutan dari Phang Cui Lin membuat mulut mereka menganga terbuka.
Phang Cui Lin memaklumi reaksi itu, karena diapun bereaksi yang sama saat Thian Sian Li melemparkan lempengan batu giok teknik tersebut padanya, padahal nilai itu dapat membeli sebuah negara.
”Baiklah saudara-saudaraku aku pamit”, Phang Cui Lin tidak perlu berlama-lama lagi, dengan ilmunya dia melompat cepat dan dia sudah menghilang dari ruangan tersebut.
Phang Cui Lin sudah berada di luar wilayah Sekte Samudera Naga, dia bersiap-siap menuju ke Sekte Gunung Abadi dimana dia dan Han Eng, dua tahun lalu tinggal di sebuah kota bernama Kota Mawar, dengan cepat dan tingkat kultivasinya telah meningkat, Phang Cui Lin pun segera berangkat.