Benua Eng Hian terdiri dari banyak kerajaan dan negara, baik yang memiliki sebuah wilayah kecil atau besar semua kerajaan dan negara ini harus tunduk akan ketetapan yang dibuat oleh Dewan Tinggi Benua Eng Hian.
Namun segala ketetapan dan aturan Dewan ini tidak dapat diterapkan atau dipaksakan pada sebuah wilayah atau kota, yang bernama kota Awan Ungu.
Kehidupan kota ini cukup ramai, kota Awan Ungu termasuk pada wilayah Kerajaan Dunia Biru, dimana raja Dunia Biru sangat menghormati posisi kota Awan Ungu apalagi jika berkaitan dengan penghuni Manor Langit
Kedudukan Manor Langit di mata para penguasa Benua Eng Hian sangat mistik dan misterius, dan letak Manor ini berdiri di puncak gunung bernama Gunung Mega Pusaka Biru yang selalu ditutupi oleh awan, dan di kaki lereng gunung ini ada sebuah komplek hunian ratusan bahkan ribuan keluarga yang merupakan sebuah komunitas masyarakat yang dikenal oleh orang-orang kota Awan Ungu sebagai pelayan pelataran Manor Langit, masyarakat inilah yang melakukan pekerja harian bagi istana Manor Langit.
Pada puncak gunung Mega Pusaka Biru, berdiri sebuah bangunan yang megah, dimana bangunan ini dimiliki oleh seorang pria paruh baya bernama Si Tua Ong, dengan beberapa pelayan yang menemaninya.
Terlihat wilayah sekeliling bangunan ini terdapat macam-macam bentuk bangunan yang ukurannya berbeda-beda, dan posisi setiap bangunan seperti membentuk sebuah formasi yang sengaja dibuat, namun maksud formasi itu belum diketahui, karena kehidupan Si Tua Ong sedikit orang tahu, jangankan orang-orang diluar komplek bangunan megah ini bahkan para pekerja dan pelayan inti yang berjumlah sekitar 20 orang ini pun tidak tahu, karena Si Tua Ong jarang sekali keluar dari bangunan utama, dalam setahun mungkin dia hanya keluar sekali saja, bahkan pernah juga tidak keluar rumah selama puluhan tahun, dan para pelayan di wilayah komplek yang diberi nama Manor Langit ini, tidak berani mencuri barang-barang mewah pada setiap bangunan karena pernah ada yang mencoba, dan nasibnya kemudian sudah ditentukan pada keesokan harinya, orang itu sudah mati dengan tubuh tergantung di depan pintu gerbang yang tinggi nya mencapai puluhan meter.
Sekarang di Manor Langit terdapat seorang penghuni baru dia disebut Putri Langit, nama ini dikenalkan oleh Si Tua Ong beberapa tahun lalu dan diakuinya sebagai cucunya, dan sekarang Putri Langit lah yang menjadi penguasa Manor Langit ini, dan setiap keputusannya harus diikuti dengan patuh oleh seluruh para pelayan inti maupun masyarakat pelayan pelataran.
Kalau orang tahu bahwa tingkat kultivasi Pelayan Inti terendah di Manor Langit pada tingkat Manusia Suci, maka dapat dibayangkan Tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Putri Langit apalagi status Si Tua Ong.
Jumlah pelayan inti di Manor ini tidak pernah berubah, dan ada kebiasan yang dilakukan oleh Si Tua Ong yang sekarang menjadi tugas Putri Langit untuk mengeluarkan atau mengutus seorang pelayan inti setiap 5 tahun sekali keluar dari Manor Langit, 1 atau 2 orang pelayan inti akan menjalankan sebuah misi dan biasanya pelayan inti ini tidak kembali ke Puncak Mega Pusaka karena pelayan inti ini akan menyebar ke seluruh permukaan dunia.
Maka atas perintah Putri Langit, Manor ini akan menerima seorang atau dua orang calon pekerja sebagai pelayan inti.
Dan berita ini menjadi sebuah informasi yang sangat penting, walaupun statusnya hanya sebagai pelayan Inti Manor Langit namun status tersebut bahkan melebihi status seorang Raja di Benua Eng Hian ini.
Ada ribuan pelamar yang berusaha agar menjadi pekerja yang akan menggantikan status pelayan inti yang keluar tersebut dari Manor.
Sedangkan pelayan inti yang keluar tersebut ditugaskan oleh Putri Langit entah kemana, dan jumlah pelayan inti disini akan tetap berjumlah 20 orang pelayan, selain status yang disebut pelayan pelataran yang jumlahnya ribuan dan serendah-rendahnya memiliki tingkat kultivasi Insan Raja, yang bertugas di komplek hunian pelataran, yang terletak di kaki gunung Mega Puncak Biru.
Saat ini ada pembukaan penerimaan pelayan inti untuk Manor Langit sebanyak dua orang, sejak pagi sudah muncul ribuan orang yang berusaha mendaftar, bahkan ada yang sudah mencoba puluhan kali, namun selalu gagal karena ujian yang diterapkan oleh Si Tua Ong setiap tahun selalu berganti-ganti bahkan susah di tebak, dari ribuan pendaftar ini ada seorang wanita cantik berusia 30 tahunan, dia adalah Phang Cui Lin.
Phang Cui Lin sudah mendatangi Kota Mawar di Sekte Gunung Abadi Benua Chong Yang beberapa bulan yang lalu, dalam rangka mencari Han Eng, namun Han Eng seperti ditelan bumi tidak ada yang dapat memberikan informasi keberadaannya.
Tanpa sengaja Phang Cui Lin dalam pencarian dan perjalanannya tiba di Benua Eng Hian dan muncul di Kota Awan Ungu ini, setelah mendengar tentang perihal Manor Langit dan segala cerita penduduk setempat tentang pemilik Manor ini yang memiliki tingkat kultivasi tidak terbatas, dirinya penasaran karena dia ingin kekuatannya dapat meningkat lebih tinggi, dimana kekuatan pelayan disini dalam setahun dapat meningkat dengan cepat.
Setelah namanya terdaftar, Phang Cui Lin menunggu giliran untuk diuji oleh orang-orangnya Putri Langit.
Gerbang setinggi dua puluh meter terbuka, dan keluarlah seorang gadis berjubah hijau dengan wajah memakai topeng perak, diiringi oleh empat pelayan dua wanita dan dua pria yang semuanya memakai topeng perak juga.
”Para peserta yang sudah mendaftar dipersilahkan maju satu per satu, dan memegang batu langit ini”, suara seorang gadis bergema dengan kuat mengatasi suara-suara lainnya, para pelayan yang mendampinginya maju beberapa langkah dan mengeluarkan masing-masing dua buah batu yang sama persis berwarna hitam gelap dan meletakkan batu-batu itu di sebuah meja yang sudah berada sejak pagi.
Maka majulah peserta dengan tertib sesuai nomor pendaftaran, menjadi delapan antrian dengan dipagari oleh jajaran para pelayan pelataran yang membatasi setiap antrian.
Para peserta hanya ditugaskan memegang sebuah batu berbentuk bulat sebesar buah kelapa dengan warna gelap, jika tangan peserta dapat menyalurkan energinya dan batu itu bersinar terang maka peserta itu dinyatakan lolos untuk babak selanjutnya.
Kelihatannya ujian menyentuh bola batu itu mudah, hanya mengerahkan energi kultivasi diharapkan batu itu akan bereaksi, namun kenyataannya batu itu seperti batu benda mati saja, banyak peserta yang mengeluh, jangankan untuk perubahan cahaya terang, perubahan sedikit saja tidak terjadi bagi mereka yang memiliki kekuatan energi kultivasi tinggi, rupanya bukan sekedar energi kultivasi tapi ada hal lainnya yang diperlukan.
Waktu berlalu dengan singkat dari ribuan peserta yang dinyatakan lolos, hanya ratusan yang dinyatakan lolos karena berhasil membuat batu itu menyala, ujian babak pertama ini terlihat mudah namun pada prakteknya, peserta yang tingkat kultivasinya sudah mencapai Manusia Suci saja masih banyak yang gagal.
Phang Cui Lin pun heran akan ujian ini, dia tidak menyangka ujian sederhana ini ternyata sulit.
Ketika gilirannya, Phang Cui Lin mengatur nafasnya mengerahkan energi kultivasinya dan disertai pula oleh kekuatan jiwanya dari teknik yang diberikan oleh Thian Sian Li dikerahkan maka,
Duuummm…!!!
Ledakan di dalam tubuhnya langsung meletus dan Phang Cui Lin pun meletakkan kedua tangannya pada batu gelap tersebut maka warna batu pun berubah dan batu itu bersinar dengan kuat, aksi ini mendapat perhatian dari Sang Putri Langit, dimana matanya di balik topeng itu bercahaya.
Yang dinyatakan lolos tersisa tiga ratusan termasuk Phang Cui Lin, dan babak kedua langsung dilanjutkan, yaitu setiap peserta dibawa masuk ke pelataran Manor Langit di balik gerbang tadi.
Dihadapan para peserta terdapat sebuah bangunan besar dengan puluhan pintu dengan warna berbeda-beda di sekelilingnya, dan para peserta sebelumnya dipersilahkan memeriksa setiap pintu-pintu tertutup itu, lalu para peserta boleh memilih pintu manapun, dan yang berhasil membuka pintu itu dan masuk, dinyatakan lolos.
Ada seorang pria dan dua orang temannya yang selalu memperhatikan Phang Cui Lin, pria ini masih muda sekitar 25 tahunan sementara dua kawannya berusia 30 tahunan, ketiganya mengikuti kemanapun Phang Cui Lin pergi memeriksa setiap pintu yang ternyata setelah didekati, pintu-pintu itu terbuat dari aneka bahan yang berbeda-beda satu dengan lainnya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Phang Cui Lin mencari sebuah tempat lalu duduk dan memejamkan matanya untuk bersemedi, apa yang dilakukan oleh Phang Cui Lin diikuti oleh pemuda tersebut untuk mundur dan bersemedi sementara kawannya berdiri seperti penjaga bagi pemuda itu.
Dengan mengerahkan persepsi jiwanya, Phang Cui Lin melihat ke arah bangunan besar tersebut, di mata jiwanya dapat melihat bahwa pintu-pintu itu memiliki hubungan energi satu dengan lainnya, dan alur energi itu berpusat pada sebuah titik fokus di lantai bagian dalam bangunan itu.
Dengan mata jiwanya Phang Cui Lin menentukan sebuah pintu yang dia yakini dapat terbuka ketika dia menyalurkan kekuatannya pada pintu pilihannya, setelah memeriksa sekali lagi dengan teliti, Phang Cui Lin sudah menentukan pilihannya, dia maju ke arah pintu berwarna merah transparan yang terbuat dari batu endapan mineral gunung berapi.
Dengan langkah tenang, Phang Cui Lin menghampiri pintu itu dan meletakan tangannya sambil mengerahkan energi kultivasinya maka pintu itupun terdorong dan dirinya langsung masuk sedangkan pintu itu menutup kembali, tindakan itu diperhatikan oleh pemuda yang sedari tadi memperhatikan Phang Cui Lin.
Mata di balik topeng Putri Langit tetap mengawasi semua peserta terutama tindakan Phang Cui Lin, ada senyum tipis di wajahnya yang tertutup topeng itu.
Pria muda itu pun memilih pintu yang sama yang dipilih oleh Phang Cui Lin, namun sebelum dia menyentuh pintu itu, dua orang yang mengawalnya menyentuh pintu tersebut, terlihat keduanya berusaha mencoba mendorongnya namun pintu itu tidak bergerak sedikitpun, sang pemuda mengerutkan keningnya, dan matanya melotot pada dua orang pengawalnya, lalu pemuda itu memberi isyarat agar keduanya mundur, dan pemuda itu pun maju, dia mengerahkan energi kultivasinya, maka pintu itupun terdorong hanya pas untuk dirinya sendiri, saat dua pengawalnya berusaha mengikuti nya pintu itu menutup sendiri, sehingga dua orang itu hanya termangu diluar.
Hanya tersisa 30 orang yang berhasil masuk ke gedung besar melalui pintu yang mereka pilih sendiri dari ratusan peserta, dan kini di depan para peserta ada sebuah ruangan yang kosong, tidak ada apapun pada ruangan ini baik benda maupun gambar hanya dinding berwarna putih bersih, kelihatannya dinding ruangan ini terbuat dari batu pualam yang sangat halus dan licin.
Phang Cui Lin melihat sekitar ruangan ini, dan dibelakangnya telah berdiri seorang pemuda yang cukup tampan, kedua mata pemuda ini menatap bokong dan punggung Phang Cui Lin dengan mata penuh hasrat.
”Nona, terima kasih, karena kau, aku memilih pintu yang sama denganmu, dan pilihanmu membuatku sampai ditempat ini”, kata pemuda itu memulai percakapan.
”Apakah kau mengikutiku dari tadi hanya ingin mengatakan hal remeh seperti ini?”, kata Phang Cui Lin ketus, dia tahu bahwa pemuda ini mengikutinya.
”Jangan salah paham nona, aku tidak bermaksud jahat, perkenalkan, namaku Ciao Kun bermarga Chen, aku dari Kerajaan Dunia Biru”, kata pemuda itu yang bernama Chen Ciao Kun.
”Oh, ternyata kau seorang Pangeran dari Kerajaan Dunia Biru, ya kan!?”, kata Phang Cui Lin.
”Tebakan nona tepat, aku Pangeran ke-3”, kata Chen Ciao Kun dengan wajah cerah, dia berharap statusnya memberi pengaruh pada Phang Cui Lin, namun wajah Phang Cui Lin tidak berubah, dan ini membuat sedikit kecewa dalam hati Pangeran ke-3 dari Kerajaan Dunia Biru itu.
”Pangeran Chen, anda memiliki pengaruh di kerajaan ini, kenapa harus bersusah payah mengikuti ujian ini?, anda bisa langsung masuk dengan pengaruh ayahmu”, kata Phang Cui Lin
Chen Ciao Kun menghela nafas dan berkata,
”Nona kau tidak tahu pengaruh pemilik Manor ini, bahkan ayahku harus menyembah pemilik Manor ini dan mempersembahkan upeti setiap tahun, bahkan bukan hanya kerajaanku semua kerajaan di benua ini”, kata Pangeran Chen Ciao Kun.
Phang Cui Lin terkejut mendengar penjelasan ini, dia baru mengerti akan ujian ini, hanya untuk menerima pelayan di Manor ini, akhirnya terdengar sebuah suara,
”Babak terakhir, adalah menebak benda yang ada di dalam ruang putih ini, mereka yang berhasil menemukan dinyatakan lolos”, suara itu adalah dari gadis bertopeng, suaranya lembut namun bertenaga.
Para peserta lalu maju ke ruang putih itu, mereka berusaha mencari benda tersebut, namun ketiga puluh peserta itu tidak dapat menemukan benda apapun sehingga menyulitkan semuanya.
”Bibi Phang, benda itu berbentuk kura-kura di dinding sebelah kiri’, kata suara di telinga Phang Cui Lin dengan jelas, dan Phang Cui Lin terkejut karena suara ini seperti dikenalnya, kepalanya celingukan mencari seseorang, namun sosok itu tidak dapat ditemukan, dia lalu menatap setiap pelayan bertopeng di sekitar Putri Langit, namun sosok itu tidak dapat ditemukan.
Phang Cui Lin melangkah maju ke dinding sebelah kiri, dia melihat sebuah gambar kura-kura bertanduk, dan akhirnya dia mengerti apa yang dicarinya.
”Baik waktu habis, silahkan menyebutkan benda yang tampak oleh kalian semua”, kata gadis bertopeng itu.
Masing-masing peserta maju dan menyebutkan apa yang mereka dapatkan, dan berbagai benda disebutkan oleh masing-masing peserta, banyak benda yang asal-asalan disebutkan menimbulkan senyum simpul di sekitar pelayan Putri Langit, bahkan nama benda konyol pun, diantaranya disuarakan oleh beberapa peserta dengan meyakinkan, membuat suara cekikikan para pelayan-pelayan itu karena tidak dapat menahan rasa geli di hati mereka.
Giliran Phang Cui Lin menyebutkan nama benda yang dia lihat, yang disambut keheningan dari semua peserta dan para pelayan Putri Langit, hanya Putri Langit yang bereaksi dan menggerakkan tangannya mempersilahkan Phang Cui Lin melangkah maju di depannya, setelah itu Phang Cui Lin memasuki ruangan lain.
Saat Pangeran Chen menyebutkan juga nama benda yang sama dengan yang disebut oleh Phang Cui Lin, ternyata Putri Langit mengerutkan keningnya dan berkata,
”Apakah kau yakin dengan benda yang kau Lihat?, kalau begitu dimana gambar benda yang kau lihat itu?”, tanya Gadis Langit kembali.
Pangeran Chen terkejut mendengar pertanyaan itu, dia sedikit gelagapan, namun kembali dia tersenyum, dengan kecerdikannya dia ingat bahwa Phang Cui Lin menatap agak lama ke sebelah dinding sebelah kiri, maka dengan yakin dia bilang ‘dinding sebelah kiri’, Putri Langit menatap tajam ke arah Pangeran Chen Ciao Kun dan berkata,
”Aku tahu bahwa kau adalah Pangeran ke-3 Kerajaan ini, tapi tahukah kamu?, kebohongan ini akan mengancam keluargamu sebagai penguasa tetap kerajaan ini?”, kata Putri Langit dengan suara dingin.
Putri Langit mendengus, lalu meninggalkan Pangeran Ke-3 Kerajaan Benua Biru yang terkejut, dia berpikir bahwa dengan kecerdikan yang dimilikinya, dia dapat mengelabui orang-orang Manor Langit sehingga dia dapat menjadi bagian dari anggota Manor Langit tanpa bersusah payah mengerahkan kekuatannya.
Pangeran Chen Ciao Kun ditinggalkan oleh Putri Langit di ruangan Putih bersama dengan seluruh peserta lain yang gagal, yang dinyatakan masuk hanya Phang Cui Lin dan seorang pria lainnya yang justru masuk dengan susah payah dari ujian pertama sampai babak ketiga.
Dalam hati Pangeran ini ada kekesalan dan rasa takut, dia kesal tidak dapat masuk ke manor ini dan tidak dapat sekutu dari kekuatan yang dahsyat dari tempat misterius ini sebagai dukungan dirinya dalam menguasai kerajaan ayahnya, bahkan dengan dukungan Manor ini dia dapat menguasai seluruh kerajaan lain yang ada di Benua Eng Hian ini, rasa takut menyadarkan dirinya sendiri bahwa, bukan hanya dia yang terancam kedudukannya jika pemilik Manor ini marah, bahkan seluruh keluarga dan klannya akan dibuang dalam penderitaan tanpa akhir.
Akhirnya Pangeran ketiga Kerajaan Dunia Biru meninggalkan Manor Langit bersama dengan para pengawal yang menunggunya diluar gerbanga Manor Langit untuk kembali.
Phang Cui Lin terheran-heran, bahwa dirinya lolos dengan mendapat bantuan dari seseorang dan orang itu tidak menunjukkan jati dirinya.
Kini Phang Cui Lin berada disebuah taman bunga dengan seorang pria, ketika dilihatnya pria ini, Phang Cui Lin sedikit mengerutkan kening karena pria ini hampir tidak lolos pada babak pertama, bahkan di babak kedua hampir dinyatakan gagal.
”Akhirnya kita berdua berhasil diterima oleh Manor ini, perkenalkan namaku Han Wo”, kata pemuda itu dengan senyum ramah.
Sama halnya dengan Phang Cui Lin, Han Wo setelah peristiwa di Benua Khui Ning, segera meninggalkan benua tersebut, dia cemas akan keselamatan jiwanya dan segera pergi melarikan diri untuk terus meningkatkan kekuatannya karena kekuatan di Benua Khui Ning jauh di atasnya sekalipun saat itu dia kebetulan menerima perlindungan dari Han Long,namun dia malu kalau harus mengekor Han Long yang ternyata memiliki kekuatan yang jauh dari imajinasinya dan dalam ketakutan dan kecemasannya, secara ridak disadarinya dirinya
masuk ke Benua Eng Hian.
Dalam perjalanan dari Benua Khui Ning ke Benua Eng Hian memakan waktu sekitar enam bulan, ketika Han Wo mendengar kekuatan Manor Misterius itu dan kekuatan para pelayan di Manor tersebut, hatinya tertarik untuk mencoba memasuki ujian Manor dengan maksud mendaoat perlindungan dan menjadi kuat.
Sementara di bagian dalam, ada seorang pria yang tidak diketahui atau ditebak usianya, karena dia dapat tampil sekehendak hatinya, bisa menjadi tua atau muda, dimana kini didepannya ada seorang gadis muda jelita berpakaian hijau muda yang sangat serasi dengan penampilannya, gadis itu adalah Putri Langit, kini dia tanpa topeng di wajah cantiknya hanya kehalusan kulit wajah yang sangat mulus bagai kulit pualam.
”Guru, murid sudah mendapatkan calon penghuni Manor, apa pendapat guru?”, kata Putri Langit.
Si Tua Ong membuka matanya dan menatap Putri Langit dengan tatapan lembut,
”Eng, kamu memilih mereka, dan meloloskan mereka apa sebabnya? Apakah kamu mengenal mereka berdua sehingga kamu membantunya?”, tanya Si Tua Ong pada muridnya Putri Langit yang dipanggil Eng saja.
”Benar guru, aku menghendaki mereka untuk diterima di manor ini, karena aku berpikir lebih baik menerima seseorang yang kukenal daripada menerima seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya”, jawab Putri Langit.
”Aku tahu keduanya berasal dari Benua Chong Yang, karena tingkat energi kultivasi yang mereka miliki berbau aroma benua buangan itu, tetapi pemuda itu hanya pemuda sampah dan bakat serta tingkat kultivasinya sangat rendah, kalau wanita itu mungkin ada harapan, aku keberatan Eng”, kata Si Tua Ong.
Putri Langit terperangah dan dia tidak menyangka gurunya dapat mengetahui kedua kandidat dengan merasakan aroma dari energi kekuatan kultivasi seseorang,
”Guru aku mohon, sekalipun bakat dan kekuatan pemuda itu rendah tetapi dia memiliki tekad yang kuat untuk merubah kekuatan dirinya”, jawab Putri Langit.
”Baiklah jika itu kehendakmu, asal jangan kau menyesali keputusan hari ini”, kata Si Tua Ong sambil memberi tanda mengusir Putri Langit.
”Terima Kasih Guru”, kata Putri Langit sambil dirinya beranjak dari ruang gurunya dan pergi.
Phang Cui Lin dan Han Wo diberikan tempat terpisah, masing masing menerima sebuah gedung dengan fasilitas yang lengkap bahkan seluruh perlengkapan ini jauh melebihi seorang yang memiliki status sebagai kepala sekte di Benua Chong Yang karena dalam setiap gedung telah tersedia segala macam tumbuhan Roh dan buah buah yang berfungsi sebagai peningkatan kultivasi dan juga sudah tersedia macam-macam pil yang merupakan hasil ekstraksi dari tumbuhan dan buah roh tersebut, selain itu juga tersedia macam-macam teknik beladiri dan kultivasi kategori Dewa kelas Sempurna, di pusat perpustakaan Manor Langit itu sekarang tergantung penilaian persepsi jiwa dan bakat seseorang untuk melatih atau mengolahnya.
Si Tua Ong akan mengumpulkan seluruh pelayan dan Putri Langit ke sebuah ruangan untuk memberikan ceramah tentang kekuatan kultivasi dan teknik beladiri, dan biasanya seluruh pelayan akan mendengarkan ceramah tersebut, karena bagi mereka ceramah itu lebih berharga daripada teori tertulis yang terdapat di perpustakaan Manor tersebut.
Ada juga sebuah ruangan yang dikhususkan sebagai arena pelatihan para pelayan tersebut, gedung itu bernama Gedung Simulasi Kekuatan, bilamana seseorang ingin mempraktekan hasil latihan teknik beladiri yang sudah dikuasainya, maka orang itu akan masuk ke gedung tersebut dan memilih tingkat kultivasi serta memilih ruang yang berisi lawan dengan kekuatan yang setara atau lebih tinggi, dan dilarang keras memilih kekuatan yang lebih rendah dari tingkatnya sendiri, dengan demikian kecepatan masing-masing orang di Manor itu melesat di atas kecepatan kultivasi di luar Manor Langit.
Phang Cui Lin dan Han Wo memiliki status sebagai pelayan inti Manor Langit, berbeda dengan Phang Cui Lin yang sudah mencapai kultivasi tingkat Manusia Suci, Han Wo yang hanya tingkat Imajinasi Roh mendapat tugas terendah dan harus dilakukan setiap hari tanpa waktu istirahat, dan ini semua dia lakukan tanpa mengeluh, dia sadari kekuatan yang dimilikinya sangat rendah, dia dapat lolos karena ada suara yang menuntunnya dari awal ujian pertama sampai dia dapat menebak sebuah benda di ruang putih yang disebut sebagai Pagoda Tingkat Sembilan.
Rupanya masing-masing pribadi, pada ujian ketiga, dalam melihat gambar benda, hasilnya akan berbeda-beda sesuai dengan persepsi jiwa dan kekuatan yang dimilikinya, sekalipun pada tingkat kultivasi yang sama, karena masing-masing orang memiliki ciri khas yang berbeda-beda dalam mengkonsolidasikan kekuatan energi kultivasi setiap orang.
Jadi Pangeran Ketiga Kerajaan Dunia Biru ketika menyebutkan benda yang sama disebut oleh Phang Cui Lin, dia tidak menyadari bahwa perbuatannya menghina ujian Manor Langit.
Han Wo dengan patuh menerima tugas setiap hari dari pekerjaan sederhana yaitu seperti mengambil air dari kaki gunung Mega Pusaka Biru ke Manor Langit yang terletak di Puncak Gunung dengan beban yang mencapai ratusan kilo hingga menebang sebuah pohon hanya berbekal pisau dapur, dimana diharuskan mengambil kayu-kayu tersebut dan diangkut oleh dirinya ke Puncak Gunung.
Pekerjaan sederhana itu dia lakukan dan upahnya hanya selembar kertas yang berisi kalimat-kalimat kultivasi yang harus dihafalkan di depan pelayan seniornya setelah dianggap hafal kertas itu harus dihancurkan.
Namun pekerjaan itu, merupakan latihan fisik, dan ini membuat kekuatan tubuh kedagingannya sangat kuat dan elastis, pembuluh darah serta dantiannya meluas sehingga ketika dia mengerahkan energi kultivasinya, tubuhnya seperti menyedot energi dunia dengan cepat dan mudah, merasakan perubahan ini, dengan semangat Han Wo melaksanakan semua perintah dari seniornya tanpa keluhan atau bertanya lagi.
Berbeda dengan tugas Han Wo, Phang Cui Lin menerima tugas pada sebuah ruangan, dimana pada setiap bidang ruangan terdapat aneka warna pada dinding-dinding itu dan dia harus membersihkan setiap noda pada dinding tersebut yang terbuat dari macam-macam batuan alam dan harus menjadi mulus dan licin, setelah mulus dan licin maka dia harus menyebutkan sebuah benda yang tergambar di dinding tersebut jika penyebutannya tepat maka dia harus pindah ke dinding lainnya dan jumlah dinding yang dibersihkan berjumlah tiga puluh enam permukaan dinding.
Awalnya Phang Cui Lin mengira tugas ini mudah dikerjakan namun setelah dia kerjakan betapa sulitnya pekerjaan ini, jangankan untuk menghaluskan permukaan dinding menjadi licin dan mulus, baru pada penyingkiran noda pada dinding itu memerlukan kekuatan jiwa dan energi kultivasi yang harus berpadu, karena jiwa dan mata fisiknya harus selaras karena kalau tidak, dia akan membersihkan posisi noda yang salah sehingga malah merusak permukaan dinding yang sudah bersih menjadi bagian yang tercongkel dan rusak, kalau sudah demikian dia harus membersihkan dan menghaluskan seluruh permukaan dinding itu dari awal lagi.
Pekerjaan yang tadinya dianggap hanya beberapa menit saja, dapat memakan waktu berbulan-bulan hanya pada satu permukaan dinding saja.
Phang Cui Lin pun menyadari bahwa pekerjaan ini sebagai cara latihan kultivasi yang unik karena tanpa harus bermeditasi, tingkat kekuatan kultivasinya meningkat secara tajam, kalau dia bandingkan berkultivasi secara keras dan pahit seperti yang dia lakukan sebelumnya memakan waktu tahunan, sekarang dalam beberapa bulan kultivasinya meningkat cepat.
Mereka berdua mendapatkan jatah istirahat selama dua hari ketika satu bagian pekerjaan diselesaikan, dan waktu istirahat ini harus digunakan untuk memasuki ruang perpustakaan dan memilih satu teknik beladiri, hanya untuk membaca teknik tersebut, tetapi teknik yang tertulis pada lembar kulit pohon, kulit binatang atau pada lempengan batu giok, tidak boleh dibawa keluar dari perpustakaan harus diingat sendiri dan dilatih di tempat mereka masing-masing.