Chapter 36 : Kerajaan Buana Nirwana
Kerajaan Buana Nirwana (Bùwǎ nièfàn nà wángguó), adalah Kerajaan yang cukup makmur, Kerajaan ini dikuasai oleh sebuah dinasti keluarga dengan marga Chin, dan sang raja bernama Chin Kuan, seorang raja dengan tingkat kultivasi mencapai Manusia Dewa ke-2 Awal, di dalam pemerintahannya dia dibantu oleh seorang panglima yang menguasai seluruh pasukan kerajaan yang dikenal dengan sebutan Panglima Besar Chin Ma Chung, seorang kultivator tingkat Manusia Dewa ke-1 Puncak.
Saat ini di kediaman Panglima Chin Ma Chung kedatangan tokoh penting, dua lelaki dan satu wanita, mereka adalah utusan dari Benua Merah.
Seorang pemuda terlihat memasuki sebuah bangunan dengan dua orang yang mengikutinya, salah satu pengikut pemuda itu seorang wanita 30 tahunan dengan pandang mata angkuh dan dingin, sementara pengikut pemuda disebelah wanita itu seorang pria dengan mata sipit dan kecil namun bibirnya selalu tersenyum, dan dua bola matanya senantiasa bergerak lincah, menandakan seorang pria yang cerdik namun terkesan licik.
Dari dalam ruangan bagian dalam seorang pria dengan pakaian militer, menyambut kedatangan pemuda itu, seperti menyambut seorang atasan yang pangkatnya jauh diatasnya, Panglima Besar Chin Ma Chung terlihat sangat menghormati utusan Benua Merah,
”Selamat datang Pangeran Kun, kami sangat bangga atas kunjungan dari Pangeran dan utusan Benua Merah”, kata Panglima Besar Chin Ma Chung.
”Terima kasih Panglima, aku hanya menyampaikan pesan dari yang mulia Kui Lok Mo, bahwa Kerajaan Buana Nirwana terpilih sebagai sekutu Benua Merah dan mendukung posisiku untuk menguasai Benua Eng Hian, maka sebagai ucapan terima kasih, guruku akan membimbingmu dan semua sekutu yang terlibat untuk meningkatkan tingkat kultivasi sampai mencapai ketinggian yang tidak dapat dibayangkan”, kata Pangeran Kun.
Dua pendamping pria dan wanita di samping Pangeran Kun hanya melirik di sekitar Panglima Besar Chin Ma Chung, terlihat bahwa keduanya menganggap rendah kekuatan Panglima Besar kerajaan Buana Nirwana.
“Terima Kasih Pangeran Kun, kami sudah membicarakan dengan raja dan para menteri, bahwa kami sudah bersiap sedia dengan seluruh kekuatan yang kami miliki, tinggal terserah Pangeran Kun, kapan kami akan mengerahkan kekuatan pasukan kami?”, kata Panglima Besar Chin Ma Chung dengan semangat dan patuh.
“he he he…, Kerajaan Buana Nirwana mengenal situasi dan berpikir cerdik dan cepat, kami akan menyusun strategi selanjutnya, dan tolong persiapkan tempat bagi kami bertiga untuk tinggal di tempat ini, dan tolong sediakan para pelayan yang setia dan tentunya yang cakap dan cantik”, ujar pengawal pria Pangeran Kun yang berdiri di samping kiri Pangeran Kun.
“Semua sudah kami siapkan , bolehkah saya mengetahui nama atau julukan tuan berdua sehingga kami tidak salah menyebutkan dan menimbulkan kesalahpahaman di masa depan”, ujar Panglima Besar Chin Ma Chung.
“Oh ya, aku belum memperkenalkan diri, aku adalah Mo Cun paman dari Pangeran Kun, dan ini adikku bernama Mo Eng, atau Selir Agung Benua Merah sekaligus ibu dari Pangeran Kun”, kata Mo Cun dengan bangga memperkenalkan status dan namanya.
“Oh ternyata para tamu agung Benua Merah sendiri yang datang berkunjung ke kerajaan kami, sungguh kehormatan yang sangat besar bagi kami menerima anda yang mulia, mari silahkan, istana ini adalah milik kalian bertiga, dan aku akan pindah ke istana lain”, betapa rendahnya seorang Panglima Besar ketika mendengar status dari para tamunya ini.
Mereka bertiga tidak perlu didampingi pasukan besar dalam perjalanan ini, karena Pangeran Kun sangat percaya diri dengan pengaruh dari Kui Lok Mo sebagai penguasa Benua Merah yang dianggap oleh keberadaan masyarakat Benua Eng Hian ini adalah sebuah benua mitos yang keberadaannya sangat misterius.
Dan bagi kerajaan Buana Nirwana sendiri, kedatangan tiga utusan ini sangat mengejutkan, dengan membonceng kekuatan Benua Merah maka akan ada kekuatan yang selalu mendukung mereka tanpa harus mengkhawatirkan kekuatan lainnya, inilah yang diperhitungkan oleh para ahli strategi termasuk Panglima Besar kerajaan Buana Nirwana.
Siapakah pemuda yang disapa oleh Panglima Besar Chin Ma Chung itu? dia adalah Coa Kun yang diambil murid oleh Kui Lok Mo, bersama dengan ibu dan pamannya, mereka berpindah tempat setelah Coa Kun membunuh ayah kandungnya atas perintah Kui Lok Mo yang melihat kecantikan Mo Eng, sehingga Mo Eng memiliki status sebagai Selir Agung Benua Merah, dengan kejam Coa Kun yang memiliki ambisi besar membunuh ayahnya karena bila dibandingkan dengan kekuatan Kui Lok Mo , maka Coa King Hun adalah semut tidak berharga, dengan status yang dimiliki oleh Mo Eng yang diangkat sebagai selir Agung penguasa Benua Merah maka Coa Kun memperoleh apa yang dia cita-citakan, yaitu menjadi kuat.
Memang di bawah bimbingan Kui Lok Mo. tingkat kultivasi dari Coa Kun melesat dengan kecepatan yang sulit dibayangkan oleh para kultivator normal, saat ini Coa Kun telah mencapai tingkat Manusia Suci ke-6 Puncak yang diikuti pula oleh Ibunya yang mendapatkan kekuatan kultivasi dengan melakukan kultivasi ganda dengan penguasa Benua Merah dan tingkat yang diperoleh oleh Mo Eng saat ini pada Tingkat Manusia Suci ke-4 Lanjutan, dan Mo Cun pun memperoleh manfaatnya dia juga pada tingkat Manusia Suci ke-1 Puncak.
Membayangkan kekuatan yang dimiliki mereka bertiga saat ini, wajar saja mereka sekarang menganggap rendah yang lainnya, bahkan pada seorang kultivator sekelas Panglima Besar sebuah kerajaan Besar Buana Nirwana yang jelas pada tingkat Manusia Dewa ke-1 Puncak, tidak perlu mereka takuti karena kekuatan di belakang mereka lebih besar yaitu kekuatan Benua Merah.
Dan mereka dengan angkuh menempati istana yang biasa digunakan oleh Panglima Besar Chin Ma Chung, bahkan Panglima itu sendiri yang rela pindah ke istana yang lebih kecil.
“Kun er, langkah apa selanjutnya yang harus kita persiapkan?” Tanya Mo Eng pada anaknya dengan sikap hormat, ada perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Mo Eng pada putranya sendiri, Mo Eng menyadari bahwa Coa Kun sekarang berbeda sewaktu mereka masih di Benua Chong Yang, sekarang Coa Kun memiliki gelar sebagai Pangeran Benua Merah dan kekuatan yang dimilikinya jauh di atasnya.
“Ananda Kun, paman akan mengambil cuti dulu, perjalanan ini sangat melelahkan, paman akan beristirahat”, kata Mo Cun, meminta izin dari keponakannya.
“Paman jangan dulu beristirahat, keluar dari ruangan ini, aku ingin paman berkunjung ke istana Raja Buana Nirwana dan langsung menemui Raja Chin Kuan, untuk memastikan dia agar tidak pernah mengkhianati kita selama berada di Benua Eng Hian ini”, kata Coa Kun tegas memberi perintah, dan perintah ini tidak bisa dibantah, karena jika itu terjadi sama halnya menentang perintah Kui Lok Mo, dan Coa Kun sekarang adalah seorang pemuda yang fokus serta sangat tegas pada dirinya sendiri, dia tidak ingin mendengar bantahan dari luar dirinya, dan ini adalah hal yang paling menakutkan bagi paan dan ibunya sendiri.
“Baiklah jika itu adalah kehendakmu, aku akan segera berangkat, sekalian aku ingin tahu tentang keadaan ibukota kerajaan Buana Nirwana ini”, Kata Mo Cun dengan rendah hati terhadap keponakannya sendiri.
“Ibu sebaiknya berkultivasi untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang baru ibu capai”, kata Coa Kun pada ibunya.
Walaupun Coa Kun adalah junior diantara mereka bertiga tapi kekuatan yang dimilikinya adalah perintah yang harus dituruti oleh paman dan ibunya, hal inilah yang disukai oleh Kui Lok Mo pada diri Coa Kun, karena sikap seperti itulah yang akan mendorong kekuatan kultivasi yang sangat kokoh dan kuat, tegas pada diri sendiri saat keputusan diambil.
Ibukota Kerajaan Buana Nirwana letaknya beberapa kilometer dari Istana Panglima Besar Chin Ma Chung, ditengah keramaian ibukota saat ini ada sepasang anak muda yang masuk melalui Gerbang Selatan, sosok pemuda itu tinggi dan gagah dengan wajah tampan yang selalu menatap sesuatu dengan mata tajam yang disembunyikan oleh senyuman ringan di mulutnya, sedangkan yang wanita terlihat seperti gadis yang matang, namun sangat cantik dengan porsi tubuh yang berjalan dengan mantap dan dua otot pinggul yang menari ketika dia melangkah.
Seseorang akan salah mengira jika keduanya sepasang kekasih, namun mereka adalah pasangan ibu dan anak, mereka adalah Han Long dan Ibunya.
Kali ini Thian Sian Li melepaskan topeng penyamarannya dan menunjukkan wajah aslinya yang ternyata sangat cantik tanpa cacat, demikian juga Han Long, wajahnya tidak dihiasi dengan senyum konyol dan mata bodoh, dia berjalan disamping ibunya, keduanya terdiam sambil memperhatikan sesuatu dengan detail padahal keduanya sedang melakukan komunikasi jiwa yang sudah terbiasa mereka lakukan.
Melihat kecantikan dan ketampanan sepasang sejoli ini menarik perhatian orang-orang yang kebetulan berpapasan atau melihat keduanya, maka dapat dipastikan tatapan penuh nafsu dan kekaguman yang mendarat di sepasang ibu dan anak ini.
“Ibu, lihat banyak pemuda remaja yang memandang ke arah ibu penuh dengan kekaguman, aku baru tahu bahwa ibu sangat cantik”, kata Han Long melalui kontak jiwa diantara mereka berdua.
“Hi hi hi, tatapan para gadis muda itu banyak mendarat pada dirimu, Long er kau harus tahu bahwa dirimu sangat tampan, lihat sebelah kirimu itu dia sudah beraksi mengedipkan matanya pada dirimu”, jawab ibunya.
“Ah ibu, jangan begitu, mata gadis itu kemasukan debu dan dia berusaha membersihkan matanya, ya kan”, jawab Han Long kembali sambil tersenyum pada ibunya.
“Bisa saja kamu nak”, Kata Thian Sian Li, sambil tersenyum pula.
Tiba-tiba sebuah rombongan membelah jalan raya itu, terlihat sepasukan Tentara kerajaan Buana Nirwana yang berjumlah ratusan orang itu mengawal sebuah kereta besar dengan beberapa orang yang berdiri di luar kereta tersebut memakai seragam lengkap dengan senjata yang terhunus seperti akan menyerang sebuah kelompok lain.
“Minggir, jangan menghalangi jalan!!”, kata seorang pengawal yang berada di paling depan, arah yang mereka tuju justru ke Istana Kerajaan Buana Nirwana.
“Apa yang kalian tunggu, cepat jalan, jangan menghalangi kami jika kalian sayang dengan nyawa kalian”, kata pengawal lain dengan muka garang.
Seketika itu juga jalan yang tadinya dipadati oleh orang-orang yang menikmati keramaian jalan tersebut minggir tersibak, namun namanya masyarakat yang tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba, ada pula beberapa wanita tua yang belum sigap, terutama yang membawa anak-anak, demikian juga tepat beberapa meter dari Han Long dan ibunya, seorang anak lelaki usia 5 tahunan, menangis dengan keras karena orang tuanya lupa membawa anak tersebut untuk menyingkir, karena disibukkan untuk membawa barang-barangnya.
“Anaaaakkkuuuu…!!!”
“Aduh kasihan anak kecil itu..!!!”
“Apa yang kalian tunggu, selamatkan anak itu..”
“Aaaahhh kasihan nasib anak itu!”
Berbagai seruan terlontar dari beberapa orang yang menyaksikan anak yang menangis menghalangi laju kecepatan barisan pengawal istana yang mengawal kereta itu, malah ada beberapa orang yang menutup mata mereka tidak tahan akan nasib anak itu yang pasti tergilas oleh rombongan tersebut,
Boummm..!!!
Kraaakk…!!, aduhhh…, Awww….,
Brugh.. Brugh…,
“Apa ini!!?”
Bukan jeritan anak itu yang terdengar, tetapi suara-suara seperti patah tulang dan benturan keras sebuah benda yang menabrak kereta mewah itu.
Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu, menyiratkan macam-macam reaksi, tapi rata-rata orang membuka mulutnya dan ada yang membelalakan matanya hampir keluar, dan anak lelaki kecil itu terdiam tidak mengeluarkan tangis lagi, dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya, berlari keluar dari orang-orang yang sudah di pinggir jalan,
“Anakkuuuu…!” jeritnya, sambil menangkap anak tersebut dan memeluknya sambil berlinangan air mata.
Sedangkan beberapa orang pengawal yang diperkirakan akan menggilas anak itu, terlempar dan menabrak rekan-rekan mereka dan ada pula yang menabrak kereta kawalan mereka dengan berbagai posisi, dan binatang tunggangan mereka rata-rata sudah tidak dapat berdiri lagi karena kaki-kaki mereka bengkok patah-patah.
Serentak rombongan ratusan pengawal itu berhenti seketika,benturan itu menimbulkan suara keras.
Dari kereta mewah itu keluar seorang pria paruh baya dengan wajah kesal dan marah,
“Apa yang kalian lakukan!?, mengapa seperti ini?”, pertanyaan itu dilontarkan dengan bentakan yang sangat keras dan para pengawal itu hanya menundukkan kepala, sebetulnya hal ini menjengkelkan pihak para pengawal juga, mereka sudah memberitahu pada orang tersebut bahwa kecepatan rombongan ini terlalu laju dan akan mengganggu aktivitas warga karena kepadatan ibukota, namun orang itu telah memberi perintah, bahkan dia tidak peduli kalau seandainya akan menimbulkan korban penduduk kota raja.
“Ampun tuanku, beberapa pengawal cedera dan terlempar”, kata seseorang memberi laporan.
“Apakah kalian hanya sekumpulan orang-orang bodoh, cari orang yang membuat perjalanan ini terhambat, dan bawa padaku”, kata orang itu, dia adalah Mo Cun yang dengan sombong ingin menemui Raja Buana Nirwana dengan pengawalan seorang utusan yang megah sebagai bukti bahwa dia adalah tamu agung yang sangat istimewa, dari Benua Merah yang keberadaannya harus dianggap seperti menyambut dewa, intinya dia menginginkan penghormatan bukan hanya tingkat bangsawan, tapi semua warga harus tahu bahwa dirinya adalah utusan Yang Maha Mulia dari Benua Merah Misterius.
“Baik Tuanku”, kata Pengawal itu.
Namun Mo Cun tiba-tiba maju, dengan membusungkan dadanya dia melihat ke sekeliling area itu dan berkata,
“Hmm…, Kalian rakyat jelata, dengarkan !!!, aku utusan Benua Merah, sebaiknya kalian segera menyerahkan orang yang membuat para pengawal cedera, jika diantara kalian yang menyembunyikan orang tersebut maka hanya kematian yang akan kalian terima, dan….”, kata Mo Cun dengan nada wibawa dan dalam, tapi suaranya terhenti seketika, dan dia langsung roboh, mengejang-ngejang sebentar dan kepalanya pecah seketika, dan mati.
Para pengawal yang tadinya ada didekatnya terkejut tidak terkira, dan pengawal di sekelilingnya langsung bersujud,
“Ampun Tetuaaaa….”
“Maafkan kami, kami hanya petugas, ini bukan kehendak kami…”
“Aduuuuhhhh leluhur jangan kau ambil nyawa kami…”
Teriakan semua pengawal ini membuat heran warga kota yang menyaksikan robohnya tubuh pejabat bermuka licik itu secara tiba-tiba dan kemudian para pengawal berteriak-teriak dengan ketakutan, sambil bersujud ke segala arah mohon ampun atas nyawa mereka.
“Apa yang terjadi?, aku bukan Leluhur kalian”,
“Mengapa mereka bersujud padaku?, aku bukan tuan mereka”,
“Maaf aku hanya petani, tidak mengerti kultivasi, jangan bersujud padaku”.
Beberapa seruan ini dilontarkan oleh warga kota raja, yang melihat beberapa pengawal bersujud ke arah mereka.
Sedangkan Han Long dan Thian Sian Li telah meninggalkan tempat kejadian dengan diam-diam tanpa menghiraukan kejadian selanjutnya.
yang melemparkan sebagian pengawal adalah perbuatan Han Long dengan kekuatan jiwanya dia bereaksi melihat kecelakaan yang akan menimpa tubuh kecil anak itu, sekalian dia mematahkan kaki tunggangan mereka yaitu binatang-binatang Kuda Kilin Angin yang sangat besar, yang ukuran dua kali lipat dari kuda kilin angin di benua Chong Yang yang pernah dilihatnya.
Yang membunuh Mo Cun adalah Thian Sian Li, ketika dia mendengar Mo Cun menyebut sebagai utusan Benua Merah yang menjadi musuh bagi Benua Thian Agung.
Kedua ibu dan anak itu pergi, dan dalam beberapa saat berlalu, keduanya sudah jauh meninggalkan tempat kejadian dan keduanya memasuki sebuah penginapan,
“Ibu aku akan memesan hidangan, aku ingin merasakan masakan spesial kota ini”, kata Han Long kemudian, karena tidak segera mampir ke meja penerima tamu untuk memesan kamar.
“Apakah kamu masih memerlukan makanan jasmani itu?”, kata Thian Sian Li.
Han Long menatap wajah cantik ibunya, dan berkata,
“Aku ingin menjadi manusiawi saja ibu, dan aku merasa menjadi kuat juga adalah hidup yang membosankan”, Kata Han Long dengan ringan,
ibunya hanya merespon dengan mengangguk-anggukkan kepala, apa yang dikatakan Han Long ada benarnya, akhirnya dia pun ikut duduk di sebuah meja di lantai pertama rumah makan yang merangkap tempat penginapan.
Han Long lalu memesan beberapa hidangan yang menjadi andalan rumah makan itu dan beberapa guci anggur saat hidangan itu keluar, dengan lahap Han Long menyantapnya dengan penuh kenikmatan.
“Bolehkah aku menemani kalian berdua, dan kenalkan aku Chen Ciao Pit, aku seorang yang baru tiba di kota ini, tanpa ada seorangpun yang kukenal”, kata seorang pria muda 28 tahunan dengan wajah bersih tanpa jenggot dan kumis di wajahnya.
Wajah pemuda ini terlihat ramah dan sikapnya sangat simpatik serta nada suaranya menyenangkan, Thian Sian Li melirik putranya, dan menyerahkan pada Han Long,.
“Oh silahkan bergabung, namun kau harus pesan makananmu sendiri karena aku tidak akan berbagi denganmu, maaf saja aku terlalu lapar” kata Han Long acuh tak acuh, dan pemuda itu pun dengan tersenyum menganggukan kepalanya tanda setuju, dia pun memanggil pelayan dan memesan beberapa hidangan, setelah tersedia, Chen Ciao Pit makan, namun sebelumnya dia menawarkan pada Han Long dan Thian Sian Li sebagai tanda kesopanan saja.
Han Long dengan polosnya mengambil makanan yang menjadi bagian Chen Ciao Pit tanpa sungkan, dan ibunya mbiarkan kelakuan putranya malah tersenyum,
”Terima kasih saudara Chen, kebetulan aku sangat lapar, dan bagianku sudah habis”, kata Han Long dengan polos, melihat tindakan Han Long, Chen Ciao Pit hanya tersenyum masam, dia berharap Thian Sian Li yang menerima tawarannya, dengan harapan Gadis itu memberikan perhatian atas kebaikannya.
Han Long tanpa menghiraukan disekitarnya langsung membabat habis semua makanan yang sengaja dipesan oleh Chen Ciao Pit dengan harapan makanan itu dapat dinikmati gadis disampingnya, namun malah si pria tidak tahu diri itu yang menghabiskan jatah makanannya, sekalipun ada kejengkelan dalam hatinya, namun wajahnya menampilkan senyum tawar, agar terlihat lebih baik dimata Thian Sian Li, dan Thian Sian Li membiarkan kelakuan putranya, malah mendorongnya,
“Makan yang kenyang, karena kita akan melakukan perjalanan yang jauh besok hari”, Kata Thian Sian Li sambil melap sisa makanan di bibir Han Long dengan lembut, dimana perbuatan itu di mata Chen Ciao Pit membuat dia jengah sendiri.
“Akhirnya aku kekenyangan, sudah beberapa bulan ini, aku tidak mendapatkan makanan selezat ini, terima kasih saudara Chen, anda sangat baik sekali”, kata Han Long sambil matanya melirik ibunya sedangkan wajahnya menghadap Chen Ciao Pit tanpa rasa berdosa.
Chen Ciao Pit pun tidak dapat berbuat apapun, hatinya seperti diiris sembilu, dia tidak dapat berbuat apapun hanya senyum masam yang menghias di bibirnya, apalagi Thian Sian Li mengucapkan nada yang sama kepadanya, dan memberikan senyum yang manis, sehingga Chen Ciao Pit hanya bisa menggaruk kepala, apalagi ketika sudah selesai membabat makanannya,
“Saudara Chen mohon maaf , karena kami akan segera beristirahat, kami sekali lagi mengucapkan terima kasih atas keramahan yang saudara buat buat akami”, Kata Han Long dengan nada biasa tanpa rasa salah, demikian juga Thian Sian Li menanggapi semua itu dengan wajah lurus-lurus saja, dan dia sengaja mendahului Han Long untuk meninggalkan meja makan itu, dan Han Long menyusulnya dengan memeluk pinggang ibunya yang ramping sambil sebelumnya menengok ke belakang pada Chen Ciao Pit.
Setelah tiba di kamar Thian Sian Li berkata,
“Long er, pemuda itu tidak sederhana, sekalipun tingkat kultivasinya jauh dibawahmu”, Kata Thian Sian LI.
“Aku curiga, kalau dari namanya bukankah dia bermarga yang sama dengan Raja Dunia Biru, kelihatannya ada misi pada dirinya untuk datang ke kerajaan Buana Nirwana”, kata Han Long mengiyakan dugaan ibunya.
“Ibu melihat bahwa ini ada kaitannya dengan orang menyebalkan yang sangat sombong di kereta itu”, kata ibunya.
“Ibu aku akan keluar menyelidiki langsung ke istana, terutama reaksi dari orang yang dibunuh ibu sore tadi”, kata Han Long.
“Long er, hati-hati ibu merasa ada kekuatan yang sangat tinggi di benua ini, karena ibu merasakan sejak masuk benua ini ada seseorang yang sangat tersembunyi yang juga menyembunyikan tingkat kekuatannya, jangan lupa pakai artefak penyembunyian kultivasi’, kata Thian Sian LI mengingatkan.
Han Long menyetujuinya, dia lalu keluar tanpa diketahui oleh yang lainnya, tubuh Han Long saat itu juga sudah menjadi seorang pemuda biasa dengan tampilan seadanya bahkan pakaian putih bersih yang dipakai tadi siang berubah menjadi kain hitam dengan wajah yang sudah berubah, karena dia dapat menggerakkan otot wajahnya karena Teknik 9 Tubuh Bintang yang sekarang telah mencapai tahapan ke-6 dari sembilan tahapan, sehingga kekuatan tubuh kedagingannya dapat memanipulasi penampilannya sendiri.
Banyak orang yang melewatinya tidak menaruh curiga kalau sosok yang melewati mereka adalah sosok wajah tampan yang tadi siang berjalan-jalan dengan seorang wanita cantik, kini dengan penampilannya yang baru han Long dengan bebas melangkah langsung menuju arah istana kerajaan Buana Nirwana.
Sosok bayangan melompati atap berbagai bangunan komplek Istana Buana Nirwana dengan lincah tanpa menimbulkan suara yang mengejutkan para penjaga, namun demikian Han Long cukup berhati-hati dengan tindakannya, sekalipun dia mengerahkan tingkat kultivasinya, namun di istana Buanan Nirawan banyak para ahli yang sudah mencapai tingkat Manusia Dewa, seperti halnya Raja kerajaan ini, ditambah dengan pasukan pelindung raja yang pasti banyak Naga tersembunyi dan Harimau jongkok di lingkungan istana ini.
“Siapa disana!”, sebuah bentakan terdengar,
Han Long menghentikan gerakannya, dia merasa sudah sangat hati-hati, tapi masih dapat diketahui oleh para penjaga Istana yang dia tahu tingkat kekuatan para penjaga ini jauh dibawahnya, dengan heran Han Long terdiam tanpa menimbulkan suara, hanya tubuhnya siap bertindak.
Banyak pengawal yang berlari ke arahnya, karena Han Long bersembunyi di sebuah pohon besar yang kala itu tubuhnya sedikit terhalang dari kerimbunan daun-daun di pohon tersebut, dia sudah siap bertindak, namun para penjaga ini melewati pohon tempat dia bersembunyi, ketika Han long menoleh kebelakang, dia melihat sosok yang dikenalnya sudah dilingkari oleh para penjaga istana, dan sosok itu adalah Chen Ciao Pit, sekalipun pemuda itu menutupi wajahnya, tapi Han Long mengerahkan persepsi jiwanya, dan Han Long mengenal cara berdiri dan gerak tubuh Chen Ciao Pit sewaktu di rumah makan.
“Ringkus orang ini, dan bawa ke ruang pemeriksaan”,kata kepala Pengawal.
Heeeeaaa….!!
Dugh…, dughh… ough… sret…, sret…., sretttt….!!!
Serang !!, jangan biarkan dia melarikan diri!!!
Kurung !!
Segala seruan dan komando diteriakan dari pertempuran yang berat sebelah ini, Han Long tidak mempedulikan pertempuran tersebut, dia hendak pergi, namun terdengar jerit kesakitan dari mulut Chen Ciao Pit, walau bagaimana Chen Ciao Pit adalah orang yang sudah menyediakan makanan bagi Han Long, Han Long menengok ke arah pertempuran dan melihat bahwa Chen Ciao Pit terlihat sudah payah, dan sudah banyak luka-luka akibat senjata tajam dari banyak senjata para penjaga.
“Awas….!!!”
“Siapa ini?”,
“Hati-hati!”,
“Kejar orang itu”
Han Long menggerakan badannya, dengan cepat dia meraih tubuh Chen Ciao Pit lalu melarikan diri.
Dan di suatu tempat sepi di sebuah jalan yang sempit, Han Long melepaskan pegangannya dan tubuh Chen Ciao Pit menggelosor dengan luka pada tubuhnya, dia masih sadar bahwa seseorang telah menolongnya, Chen Ciao Pit berusaha mencari tahu siapa penolongnya, namun orang itu membalikkan badannya dan langsung pergi, meninggalkan dirinya dengan cepat dan menghilang.
Han Long kembali lagi ke Istana Buana Nirwana namun sekarang dia lebih berhati-hati memanfaatkan kericuhan para penjaga yang mencari sosok terluka di tempat itu, dia masuk melumpuhkan salah satu penjaga dan menggunakan seragam prajurit itu untuk menyusup ke dalam komplek istana dan melompati berbagai atap istana, setelah dia menggunakan persepsi jiwanya dia menemukan sekumpulan orang-orang yang diduga para pejabat dengan dipimpin oleh seorang perwira militer.