“Menjadi utusan dari Benua sampah seperti Benua Merah membuat dirimu semakin tidak terkendali, dan engkau Coa Kun, dengan sombong menindas sekelompok anak muda yang jauh lebih lemah darimu, dimana kebanggaanmu sebagai kultivator muda berbakat?, apalagi sekarang melihat ibumu yang tidak tahu malu itu, melihat dua pemuda itu dengan hasrat yang demikian rakus seakan ingin melahap keduanya, hi hi hi…. , apa yang terjadi selama ini Coa Kun?” Ucapan itu diiringi dengan kemunculan sekelompok wanita yang memakai gaun halus seragam putih yang menempel dengan ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna dan sangat menarik, mereka tampil dengan anggun, dan barisan ini hanya terdiri dari para wanita yang berjumlah sekitar 15 orang saja, namun semuanya menutup wajah mereka dengan topeng putih seperti terbuat dari perak.
Coa Kun tidak merasakan energi kedatangan kelompok tersebut, dia dan ibunya menatap dengan waspada,
“Siapa kalian?, apakah aku mengenal kalian?, benar aku adalah utusan dari Benua Merah, aku adalah Pangeran Kun, murid tersayang Yang Termulia Kui Lok Mo, Penguasa Benua Merah”, kata Coa Kun menyombongkan statusnya agar lawan tidak bertindak sembarangan, karena dia tahu bahwa tingkat lawan dihadapannya sangat kuat walaupun hanya beberapa gadis belia yang menutupi wajah mereka, tapi dia yakin bahwa di balik topeng-topeng ini ada kecantikan yang indah.
“Hi hi hi….!, aku tidak peduli kalau si tua Lok Mo itu ada disekitar ini, aku hanya memperingati dirimu Coa Kun, bahwa aku akan selalu menjadi lawanmu”, kata seorang gadis bertopeng perak terdepan.
“Apakah begitu?, aku akan mencoba menghadapimu”, jawab Mo Eng yang merasa jengkel, dia cemburu melihat jajaran kecantikan yang baru datang ini, apalagi ucapan wanita itu membongkar hasrat yang tadinya dia pendam dengan penampilan keanggunan seorang gadis bangsawan.
Gadis itu hanya menggerakkan kepalanya memberi tanda pada salah satu anggotanya untuk melayani Mo Eng, maka majulah seseorang yang tubuhnya lebih menggiurkan dan menggoda, dan lekuk tubuh itu sangat sempurna dengan bongkahan dada dan otot pinggul yang membulat dengan sempurna sehingga Mo Eng semakin rendah diri mendapati lawan yang mengalahkan keindahan fisiknya yang dulu sangat dia banggakan.
Dua Wanita berhadapan, dan keduanya menawarkan keindahan tubuh yang sangat menggoda, namun udara yang ditimbulkan langsung berubah dingin mencekam ketika keduanya mengeluarkan energi kultivasi masing-masing, suasana ini merubah pandangan Kam Lin dan kawan-kawannya.
Heaaaa….!!!!
Kedua wanita itu saling menerjang.
Rombongan yang baru datang menghalangi maksud Coa Kun adalah rombongan dari Manor Langit, yang dipimpin sendiri oleh Putri Langit.
Putri langit berada di kerajaan Buana Nirwana ini adalah sebagai perintah dari Si Tua Ong, untuk memberi peringatan pada Kerajaan Buana Nirwana, agar menghentikan rencana mereka.
Dengan persepsi jiwanya Si Tua Ong tahu setiap gerakan yang terjadi di Benua Eng Hian, dia pun tahu bahwa Benua Merah hendak menanamkan pengaruhnya di benua dimana dia tinggal, dan dia tahu misi Coa Kun untuk mempengaruhi para pejabat Buana Nirwana dengan mengatasnamakan Benua Merah dan menekan para pejabat tinggi kerajaan ini.
Coa Kun melihat ke arah pertempuran ibunya dengan salah satu anggota dari kelompok lawannya, dan dia melihat bahwa lawan ibunya ternyata sangat kuat, Coa Kun menjadi khawatir, tadinya dia merasa di atas angin, namun sekarang dengan campur tangan dari kelompok yang belum diketahuinya, maksud dan rencananya menjadi berantakan, hatinya menjadi cemas, yang dia khawatirkan adalah pertanyaan dari gurunya, apalagi jika gurunya tahu bahwa misinya di Benua Eng Hian ini gagal, dan dia mengenal watak gurunya yang sangat kejam sekalipun dia akan dibela oleh ibunya yang sudah menjadi selir dari Kui Lok Mo.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama,
Desss…
Bugh…!!!,
Ada sosok yang terlempar dari arena pertempuran dua wanita itu, setelah tubuh terlempar itu berhenti bergerak, terlihat bahwa Mo Eng yang menderita kekalahan dengan menderita luka yang cukup parah, dari mulut dan hidung Mo Eng mengalir darah merah tanda bahwa dirinya terluka akibat pukulan lawannya.
“Dengan kekuatan yang kau miliki, kau berniat menguasai benua ini?, sungguh kebodohan apa yang ada di otakmu Coa Kun?, apa kau akan turun tangan dan mencoba kekuatan penghuni Benua ini?”, kata Putri Langit itu dengan suara lembut namun bertenaga.
“Aku sudah berada disini, majulah aku ingin merasakan kekuatanmu?”, tantang Coa Kun, yang memang memiliki mental tidak pernah takut.
Putri Langit maju selangkah dan tubuhnya melayang, dan dia telah tiba di arena yang tadi digunakan oleh anggotanya melawan Mo Eng.
“Tunjukkan gerakanmu!”, kata Putri Langit dengan mata di balik topeng itu menatap tajam pada Coa Kun.
Heeeeiiiiyyyaaaaa……!!!
Doummmm……!!!
Keduanya langsung mengerahkan energi kultivasi, dan nampak disini perbedaan tingkat kekuatan kultivasi keduanya yang jauh dari pertandingan Mo Eng dan lawannya.
Wusss….
Srettt…Sretttt…srettt…!!!
Dari pinggangnya yang ramping, Putri langit mengeluarkan sebilah pedang tipis berwarna biru dengan gagang pedang berwarna emas, yang tadinya terlihat seperti hiasan dikepala ikat pinggangnya.
Gerakan Putri langit sangat anggun seperti menari, namun selalu terjadi perubahan gerakan yang tiba-tiba, sementara Coa Kun memiliki gerakan yang kuat dan kasar, kedua tangan Coa Kun berubah warna menjadi Hitam Legam mengkilat bagai terbuat dari baja Hitam yang sangat tebal dan kuat.
Setiap gerakan dari Coa Kun menimbulkan hawa udara yang panas menyengat dan bau busuk yang sangat pekat, namun setiap uap beracun yang berkeliaran di antara dua petarung itu selalu mengarah pada posisi Putri Langit, dan sebaliknya Putri Langit mengarahkan pedangnya ke angkasa seperti mencacah bidang kosong dan menghiraukan posisi Coa Kun, gerakan aneh dari Putri langit ternyata sangat ampuh membuyarkan uap beracun Coa Kun.
Tiba-tiba gerakan Putri Langit berubah lagi, dengan kecepatan perubahan ini memberi kejutan yang tidak disangka sebelumnya oleh Coa Kun, kini kecepatan Putri Langit sulit diikuti oleh Coa Kun, apalagi di mata para penjaga dan kelompok anak muda seperti Kam Lin dan kawan-kawan, tubuh Putri Langit menghilang hanya ada sosok yang mengitari tubuh Coa Kun yang terlihat kebingungan menentukan posisi lawannya.
Dan setelah itu,
Cep… Cep…!!!
Aduuuuhhhh….. Argghhhh…!!!
Coa Kun mundur terhuyung, dia sudah terkena beberapa tusukan pada tubuhnya, ada darah yang keluar dari pakaian mewahnya.
“Aku memberimu kesempatan Coa Kun, tinggalkan Benua ini dan katakan pada Si tua Lok Mo, agar jangan menginjakkan kakinya lagi dan juga antek-anteknya di benua ini, jika dia masih bersikeras, maka kami para penduduk Benua Eng Hian akan memberikan pukulan terbaik pada dirinya”, kata Putri langit, dia menggerakkan tangannya maka, pedang di tangannya ikut lenyap, dan di pinggangnya yang ramping ada sebuah hiasan emas yang melengkapi keindahan tubuh itu.
Coa Kun hanya menatap dengan kemarahan yang tidak terkira melihat lawannya memberi pengampunan atas nyawanya, dia semakin jengkel, dia lebih baik mati daripada meninggalkan rasa malu seperti ini di depan banyak orang, di dalam hatinya selalu penasaran akan kekuatan dua orang dan keduanya adalah wanita yang dulu dia anggap remeh dan ringan yaitu Han Eng, seorang gadis muda dan yang kedua adalah adik tirinya sendiri Coa Leng In, keduanya selalu tampil mengungguli dirinya dari dia kecil, padahal keduanya jauh lebih muda usianya daripada dirinya.
Sekarang bertambah satu gadis lagi yang dia taksir pasti jauh lebih muda dari dirinya, dia selalu beranggapan bahwa wanita adalah sasaran terlemah, keberadaan wanita hanya untuk melayani kaum pria karena pria lebih kuat dan bertenaga, tapi kenyataan yang dia hadapi, dia dikalahkan oleh para wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.
“Tinggalkan tempat ini!!”, kata Coa Kun memberi perintah pada para pengawalnya, sambil dia menyeret dirinya memasuki kereta yang dibawanya, dan memerintahkan orang-orangnya membawa ibunya masuk juga.
Setelah rombongan Coa Kun pergi, para penjaga memandang barisan Putri langit dengan ketakutan, mereka tidak menyangka akan perubahan situasi ini, terutama komandan jaga yang atdi hendak mempermainkan kelompok Kam Lin.
Tiba-tiba,
Sret…Srettt… Srett…!!!
Aduuuhhhh…., Aaaarggghhh!!!
Komandan dan para pasukannya yang berjumlah sekitar dua belas orang bergulingan dan tangan kiri mereka memegang tangan kanannya, dimana tangan kanan masing-masing penjaga itu sudah hilang sebatas siku.
Kam Lin memandang para penjaga itu dengan kemarahan yang memuncak, di tangannya ada sebuah pedang salah satu pengawal yang berlumuran darah.
“Masih untung aku hanya meminta tangan-tangan kotor ini, lain waktu aku kan mengambil kepala kalian!”, kata Kam Lin sambil mengarahkan matanya melirik ke arah Putri Langit, dan tersenyum manis.
Putri Langit sedikit terkejut, melihat tindakan Kam Lin, namun dia tidak bisa mencegah tindakan gadis itu yang terlihat sangat marah pada para penjaga, diantara anggotanya terutama orang yang tadi mengalahkan Mo Eng malah tersenyum puas.
“Adik ini ternyata sangat tegas, aku suka akan tindakanmu”, kata wanita itu sambil tersenyum simpatik di bawah topeng peraknya.
“Terima kasih atas pertolongan yang diberikan, aku yang rendah Chen Ciao Pit menghaturkan penghormatan ini”, kata Chen Ciao Pit membungkukkan badannya
“Hm, Pangeran Chen aku tahu kau ada disini, justru kedatanganku diminta oleh ayahmu”, kata Putri Langit,
“Sebaiknya segera tinggalkan tempat ini, situasi ini tidak aman untuk orang yang memiliki status seperti dirimu”, kata Putri Langit lagi.
“Baiklah aku akan pergi karena kalian sudah aman sementara ini”, kata Putri Langit sambil memberi tanda pada rombongannya untuk segera meninggalkan tempat itu secepatnya.
“Maafkan kelancanganku Putri, bilakah kami kan dapat menemuimu dan dimana kami akan melihatmu?”, kata Wang Jie penuh hormat, yang di dampingi oleh Zhang Mei disampingnya dengan takut-takut.
“Tempatku tidak mudah dikunjungi, namun aku memberi kesempatan pada teman wanitamu jika mereka ingin bergabung dengan rombonganku aku akan menjaga dirinya dengan selamat di bawah tanggung jawabku, namun aku tidak bisa menerima kehadiran lelaki dalam rombonganku kali ini”, kata Putri Langit pada Wang Jie.
Namun tawaran Putri Langit ini segera ditolak oleh Kam Lin dan Zhang mei, karena mereka bersama-sama keluar dari benua Khui Ning, dan ada ikatan emosional antara Zhang Mei dan kam Lin yang sudah mengenal sosok Wang Jie ini.
Rombongan Putri langit segera meninggalkan tempat itu, ternyata mereka juga membawa kereta yang sangat besar dengan ditarik oleh sepuluh kuda killin angin yang sangat besar, dimana sekali melompat hewan ini dapat menjangkau puluhan meter dengan kecepatan secepat angin.
“Ternyata, oh ternyata engkau seorang pangeran saudara Chen”, kata Kam LIn dengan kening berkerut menegur kawan seperjalanannya ini.
Chen Ciao Pit, berusaha mendampingi Kam Lin dengan jalan sejajar, namun Kam Lin berusaha menghindari Chen Ciao Pit, karena dia masih jengkel, kawannya menutupi statusnya, yang ternyata seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan besar di benua ini.
Chen Ciao Pit telah mengenal watak Kam Lin yang terbuka dan lincah, dengan sabar dia menjelaskan kalau status yang melekat pada dirinya bukan kehendak dirinya, dia ingin menjadi orang biasa dan mengarungi kehidupan dengan menjelajahi semua benua, sama seperti Kam LIn.
Lama kelamaan Kam Lin pun mau menerima alasan yang disampaikan oleh Chen Ciao Pit dan mau berjalan berdampingan lagi bersama para sahabatnya.
Benua Eng Hian, di Kota Awan Ungu di Gerbang sebelah Selatan sepasang pria wanita memasuki kota dengan langkah tenang, penampilan mereka sederhana hanya pakaian keduanya terlihat rapi dan bersih, sosok wanita yang berjalan di samping pemuda itu terlihat sebagai wanita matang, dan umur wanita itu lebih tua beberapa tahun, sehingga orang lain akan menebak bahwa keduanya bersaudara kandung dan yang wanita pasti kakak dari pemuda tersebut.
“Ibu, kemana tujuan kita selanjutnya”, tanya Han Long pada ibunya, kini keduanya merubah wajah mereka, dan pakaian yang dikenakan oleh keduanya tidak lagi di dominasi warna hitam namun ada warna-warna cerah yang serasi, namun percakapan mereka berlangsung dengan menggunakan komunikasi jiwa.
Ibunya menoleh sejenak, lalu katanya,
“Kita akan membeli sebuah pondok sederhana di kota ini, jangan ditengah keramaian tapi sedikit ke pinggir kota agar tidak menarik perhatian”, jawab ibunya.
Maka pasangan ibu dan anak itu terus berjalan menyusuri kesibukan kota, lalu berbelok ke sebelah barat, menjauhi pusat kota, tidak berapa lama han Long dan Ibunya telah sampai pada sebuah jalan lebar namun aktivitas pejalan kaki di jalan raya itu sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.
Terlihat sebuah pondok yang kosong, keduanya mampir dan melihat-lihat, serta menanyakan sekitarnya kalau ada hunian yang dijual ditempat itu mereka bermaksud membelinya, mendengar hal itu ada seorang pria paruh baya menawarkan jasanya untuk mencari, dan setelah disetujui oleh Thian Sian Li, pria itu dengan gembira melakukan pekerjaannya, namun dia membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga hari, dengan begitu Han Long memesan sebuah tempat penginapan di jalan raya tersebut untuk menginap dua atau tiga hari.
Pada hari ketiga Han Long dan ibunya telah menempati sebuah rumah yang cukup luas namun bangunan itu sederhana karena pemilik sebelumnya hanya orang tua yang tidak memerlukkan tempat seluas itu, dengan harga murah Han Long dan ibunya membeli rumah tersebut, jelas pria paruh baya ini menerima upah yang jauh dari bayangannya semula, bahkan dirinya menawarkan diri untuk menjadi pegawai pembantu untuk sekedar membersihkan kondisi rumah, namun ditolak oleh Thian Sian Li.
Setelah menemukan ruang yang cocok bagi dirinya Han Long langsung melanjutkan kultivasinya, berbeda dengan para kultivator lain yang ingin segera meningkatkan kultivasi, tapi Han Long malah mengunci kecepatan kultivasinya karena yang dia butuhkan kekuatan kedagingannya, agar dantian dan pembuluh darahnya semakin kuat dan elastis, sekalipun sekarang pada tubuh Han Long telah berasimilasi dengan Buah Darah Naga, Rumput Surga Jiwa dan Air Mutiara Kehidupan namun menurut penuturan ibunya ini semua belum cukup untuk membuka segel pada dirinya, karena sekalipun tubuhnya tersegel dan kultivasinya terkunci, kecepatan tingkat kultivasinya berjalan lebih cepat dari perkiraan ibunya, karena konstitusi tubuh Han Long adalah unik, sementara dia bernafas ada energi yang tersedot oleh tubuhnya dan mengisi setiap pembuluh darahnya dengan energi tersebut, dan kondisi ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, justru ini yang paling dicemaskan oleh Thian Sian Li.
Karena dasar seseorang yang berkultivasi dan menjadi kuat adalah tersedianya wadah yang kuat menampung energi tersebut, sedangkan Han Long justru tubuhnya menjadi incaran energi dunia untuk berdiam di tubuhnya, bagi energi dunia itu sendiri, tubuh Han Long adalah tempat ideal untuk energi itu mencari tempat tinggal.
Masalahnya adalah kedagingan Han Long belum siap menerima energi itu, jika hal ini dibiarkan maka tubuh Han Long akan meledak, sama seperti sebuah balon yang terus diisi oleh gas, dan akhirnya akan meledak karena balon itu adalah wadah yang elastis tapi kekuatannya terbatas, itulah konstitusi istimewa tubuh Han Long.
Dengan mengerahkan 9 Tubuh Bintangnya, Han Long terus memperkuat dantian dan pembuluh darahnya serta otot dan tulangnya sedemikian rupa agar terus diperkuat dan kelenturannya terjaga.
Jia Han Long mau, sejak kecil dia sudah dapat melewati kultivasi Raja Dewa sejak lima tahun lalu, namun apa artinya, jika itu hanya terjadi sesaat dan dirinya tewas karena tubuh kedagingannya tidak dapat menampung energi yang demikian besar.
Di bagian lain dari kota Awan Ungu, ada serombongan orang yang juga memasuki Gerbang selatan dengan sebuah kereta yang sangat besar memasuki kota, tapi rombongan ini tidak masuk ke pusat kota tapi berbelok ke sebelah timur dan menuju Gunung Mega Puncak Biru, dimana terletak sebuah perkampungan yang dihuni oleh keluarga yang melayani sebuah Manor di Puncak gunung tersebut, dan manor itu bernama Manor Langit.
Dengan kekuatan dan kecepatan yang dimiliki Kuda Kilin Angin yang menyeret kereta yang membawa rombongan anggota Manor Langit, tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di lereng gunung yang dibatasi sebuah benteng tinggi yang mengelilingi pemukiman itu dan pintu gerbang yang tingginya puluhan meter.
Melihat kereta itu, pintu gerbang itu berderit dan terbuka, rombongan tersebut masuk dan setelah itu gerbang kembali menutup.
“Salam Putri Langit”, kata sebuah suara lelaki, “Leluhur menyampaikan agar Putri langsung menghadap di ruangannya”, kata lelaki itu.
“Terima kasih Saudara han Wo, aku akan segera pergi”, kata Putri Langit, dia menggerakkan tubuhnya dia segera melayang pergi dengan beberapa lompatan saja tubuhnya sudah menghilang di kabut yang selalu menutupi keberadaan manor Langit.
“Saudari senior Phang aku akan meninggalkan perkampungan ini, dan kau ditugaskan bertanggung jawab atas wilayah pelataran ini atas kehendak para senior di atas”, kata Han Wo kembali sambil membungkukan badannya, sebagai tanda hormat bahwa pesan ini harus disampaikan.
“Baiklah, memang sudah bagianku dalam bulan ini”, kata Phang Cui Lin yang ternyata dia lah yang mengalahkan Mo Eng di kerajaan Buana Nirwana.
Di kedalaman Manor Langit, seorang pria paruh baya duduk di sebuah bantal pada ruangan yang sederhana, di dalam ruangan ini tidak ada barang apapun, hanya dirinya dan bantal yang didudukinya.
“Salam Guru”, kata sebuah suara gadis, diikuti sosok anggun yang masuk di ruangan itu.
“Eng, apa yang kau dapatkan?”, kata Pria paruh baya itu dengan mata bersinar lembut menatap gadis bertopeng perak itu.
“Guru, aku sudah mengunjungi Kerajaan Buana Nirwana dan membebaskan Raja dan keluarganya, serta melenyapkan Panglima pengkhianat Chi Ma Chung, serta mengusir utusan dari si tua Lok Mo sesuai perintah guru”, kata Putri Langit .
“Hmm, pekerjaanmu belum tuntas, ada dua orang yang lolos dari penyelidikanmu di kerajaan itu, kau akan tahu siapa mereka, namun demikian biarkan saja, sekarang keduanya ada disini dengan jati diri yang berbeda, kau hanya kultivator Manusia Suci tidak akan tahu jati diri mereka, dan sebaiknya kau cepat meningkatkan kekuatanmu, juga aku tertarik pada dua orang yang kau terima belum lama ini sebagai Pelayan inti, satu hal, sekalipun pemuda itu terlihat lemah jangan kau tertipu oleh penampilannya, dia memiliki kekuatan, yaitu tekadnya, jangan sampai kau melihat akhirnya, bahwa pemuda itu akan lebih kuat darimu” kata Si Tua Ong.
“Baik guru, aku akan mengingat semua ini”, kata Putri langit.
Si Tua Ong menggerakkan tanganya tanda bahwa dirinya sudah tidak diperlukan lagi.
Di tempatnya, han Long terus dengan rajin berkultivasi meningkatkan kekuatan kedagingannya serta meningkatkan kekuatan jiwanya sehingga kini jiwanya dapat membentuk tubuh jasmani yang sama persis dengan dirinya, dan tampilan jiwa ini mendekati kesempurnaan dengan aslinya, hanya tampilan ini belum bisa berubah bentuk seperti yang diharapkan.
Dengan Teknik Beladiri kategori Dewa Kelas Sempurna yang dimiliki oleh Han Long. kekuatan tubuhnya semakin meningkat, kini dia sudah masuk pada puncak kultivasi Manusia Suci ke-9 Puncak dengan sendirinya, maka Han Long dengan susah payah berlatih kekuatan daging dan dantiannya agar dapat mengimbangi kecepatan kultivasi yang dimilikinya.
“Long er, apakah kau di dalam?”, tanya Thian Sian Li.
“Kenapa ibu?, aku akan segera keluar”, kata Han Long
Tidak lama kemudian sosok tinggi seorang pemuda tampan keluar dari ruang kultivasi, dan Thian Sian Li selalu mengagumi sosok gagah anaknya ini, dia merasa bangga sebagai ibu dari putra setampan dan segagah ini.
“Long er, ibu merasa keberadaan kita di tempat ini seperti ada seseorang yang mengintai diri kita sekalipun kita telah memakai segala artefak yang menutupi jati diri kita, namun orang ini selalu mengawasi kita, ibu dapat merasakan ketika ibu mengerahkan persepsi jiwa ibu seperti menabrak sebuah tembok untuk mengawasi keadaan kota ini”, kata Thian Sian Li mengungkapkan kecurigaannya.
“Ibu jika demikian tingkat kekuatan orang itu pasti diatas milik ibu, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini”, kata Han Long memberi saran.
“Itu hanya mudah diucapkan, sekali seorang kultivator di atas diri kita mendeteksi keberadaan kita maka dia pasti sudah melepaskan teknik jiwanya dan menandai kita, dengan demikian kemanapun kita pergi orang itu pasti menemukan kita”, jelas Thian Sian Li pada Putranya.
Betapa kagetnya Han Long mendengar penjelasan ini, berarti keberadaan mereka sudah diketahui oleh seseorang, masalahnya apakah pihak ini lawan atau kawan.
Saat keduanya termenung, seseorang tiba-tiba berseru,
“Apakah ada penghuni di rumah ini?” kata suara pria tua yang terdengar berat.
Han Long terkejut karena kedatangan orang ini tidak dapat terdeteksi oleh han Long juga oleh ibunya, dengan perasaan terkejut keduanya berjalan ke arah depan rumah mereka, mereka berdua bahwa di gerbang rumah yang sudah terbuka telah berdiri seorang pria paruh baya dengan kumis dan jenggot yang tercukur rapi dan rambut yang digelung ke atas.
“Maaf atas kelancangan orang tua ini yang langsung memasuki halaman rumah tanpa permisi, aku hanya ingin meminta segelas air dingin jika itu tidak keberatan”, kata Pria setengah baya tadi.
“Oh, silahkan masuk orang tua, namun aku ingin tahu siapa nama orang tua ini, dan permintaan sederhana itu pasti memiliki arti lain ya kan?” Kata Han Long langsung, baginya kepura-puraan adalah tindakan palsu dari orang tua ini, dan tingkat kultivasi yang dimiliki oleh orang tua ini pasti jauh di atas milik ibunya apalagi dirinya.
“Ho ho ho…., aku suka caramu anak muda, langsung pada pokok tujuannya”, kata pria paruh baya tersebut, yang langsung berubah sikap, tidak sesopan yang tadi, kini penampilannya berubah kembali tidak sejom[po barusan malah sekarang tampil sama mudanya dengan Han Long.
“Apakah pantas golongan leluhur menghina kaum muda seperti yang kau lakukan dengan anakku?”, kata Thian Sian Li waspada, dia tahu bahwa lawan dihadapannya memiliki kekuatan jauh di atas dirinya.
“Ha ha ha…, aku merasa muda dengan adanya kalian, aku bertanya padamu wanita, apa kabar dengan si kecil Thian Kong Jie?”, kata pria itu lagi, kini perhatian Thian Sian Li makin waspada, karena orang ini mengenal leluhurnya, karena Thian Kong Jie yang disebut itu sekarang adalah kepala klan Thian dan sekaligus Ketua Dewan Keadilan Tinggi Benua Thian Agung.
“Ha ha ha…, aku senang melihatmu gadis kecil, kalau si kecil Thian Kong Jie melihatmu bereaksi seperti ini, mungkin dia akan menertawakanmu, atau akan memarahimu karena kau tidak berlaku hormat pada leluhurmu sendiri?”, kata Pria itu tertawa terbahak-bahak seperti geli melihat reaksi Thian Sian Li dan Han Long yang mewaspadainya seperti harimau yang menjaga jatah buruannya dari pemangsa yang lain.
“Leluhur???, apa maksudmu?, siapa dirimu?”, Kata han Long heran demikian juga Thian Sian Li.
“Buka matamu lebar-lebar, aku adalah leluhur kalian, semua klan Han dan Klan Thian adalah keturunanku, aku mengenal kalian berdua karena mengenal energi yang keluar dari tubuh wanita itu, namun aku tidak bisa mendeteksi aroma energimu anak muda”, kata Pria transenden itu.
Thian Sian Li menggosok-gosokkan matanya menatap lekat pada pria dihadapannya,
“Apakah kau leluhur Thian Han Ong?”, kata Thian Sian Li.
Pria itu tidak menjawab hanya tersenyum lembut.