Di pusat Kota Yang In saat ini terlihat ramai, berbeda dengan situasi bulan-bulan yang lalu.
5 keluarga Klan terkemuka kota Yang In terlihat berjalan-jalan secara berkelompok sesuai dengan kelompok klannya masing-masing.
Klan Coa dengan kepala klan, Coa King Hun memimpin klan keluarganya, sibuk mengatur situasi Kota Yang In, 4 penatua Klan Coa dengan didampingi 2-3 orang Elit Klan bertugas masing-masing pada sektor-sektor penting kota Yan In.
Seperti halnya Coa Hun Ti yang merupakan Penatua ke-2 setelah Coa King Hun, sibuk di dalam Aula Klan Coa untuk mempersiapkan dan memasang dekorasi ruangan yang nantinya akan dipersiapkan untuk menyambut tamu agung dari beberapa tetua Sekolah Samudera Naga. Jadi pada dasarnya Coa Hun Ti diserahkan bertanggung jawab terhadap urusan Internal Klan Coa.
Ada juga Coa Min sebagai Penatua ke-3 yang bertanggung jawab terhadap pasokan dan akomodasi para tamu-tamu terhormat. Dan masih banyak para tetua klan yang terlibat dan bertanggung jawab pada sektor bagian masing-masing.
Semua itu dilakukan karena dalam beberapa hari selanjutnya atau sekitar seminggu kemudian, akan ada acara besar, kegiatan ini sangat disambut oleh warga Kota Yang In karena menyangkut masa depan klan masing-masing.
Bagi mereka yang tidak termasuk dalam 5 Klan ternama kota Yang In pun berharap untuk menaikkan derajat dan kehidupan yang lebih baik yang nantinya sangat berguna bagi kelangsungan keluarga yang bersangkutan untuk memperoleh prestise sebagai klan ternama.
Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga adalah sebuah kegiatan penerimaan calon murid baru yang menyeleksi seorang calon siswa Sekolah Samudera Naga tingkat Junior dengan kriteria yang sudah ditentukan, dimana eksistensi masa depan klan ditentukan oleh kualitas murid-murid junior ini dalam ujian-ujian yang diselenggarakan.
Ada barisan sekelompok anak-anak muda yang berjalan santai dengan dipimpin oleh beberapa pria setengah baya, mereka berjumlah puluhan tidak mencapai seratus anggota dengan kelompok yang diatur berdasarkan kelompok umur masing-masing, berjalan santai menuju ke arah alun-alun kota. Mereka melewati jalan raya, dimana banyak bermacam-macam toko yang menjual berbagai barang, seperti macam-macam persenjataan, tumbuhan herbal, atau macam-macam bentuk botol giok yang dipastikan berisi macam-macam pil pengobatan untuk kepentingan untuk kultivasi.
Mereka adalah Klan Meng salah satu klan terkemuka kota Yang In, dimana Meng Du sebagai penatua ke-3 terlihat berjalan mempertahankan kewibawaannya sebagai salah satu tokoh terkemuka kota Yang In, dia berada di barisan depan dengan didampingi 3 orang tetua klan Meng lainnya yang posisi jabatannya lebih rendah.
Seperti diketahui Klan Meng adalah ras yang mempertahankan kemurnian Ras Iblis.
Di barisan belakangnya para tetua klan Meng mengiringinya, beberapa pemuda sekitar usia 15-20 tahunan berjalan mengikuti, dan berikutnya sekelompok anak-anak remaja usia 9-14 tahunan berjalan dengan sorot mata menyala penuh harapan.
Tidak lama kemudian, dari arah berlawanan, muncul kelompok lainnya berjumlah melebihi seratus anggota, terlihat memakai pakaian yang seragam dengan emblem yang menempel pada dada sebelah kiri, dari pakaian mereka bertuliskan ‘Tang’.
Ketika masing-masing kelompok berpapasan,
“Apakah sekelompok serangga lemah masih diperbolehkan mengikuti acara ini, Penatua Meng Du?”,
Ujar salah satu tetua Klan Meng pada Meng Du dengan maksud menyindir pada kelompok di depannya.
Ucapan ini tidak terlalu keras namun cukup terdengar oleh semua anggota kelompok.
Kelompok klan Tang terlihat berubah rona wajah menahan marah, namun raut wajah Tang Han tetap mempertahankan raut wajahnya, Tang Han adalah Penatua ke-3 dari klan Tang yang sudah mencapai kultivasi Imajinasi Roh ke-1 Awal, namun bila dibandingkan dengan Meng Du, dia kalah sedikit karena Meng Du pun pada tahap Imajinasi Roh ke-1 Awal yang solid.
“Apa kabar saudara Meng Du?”.
Sapa Tang Han, pada Meng Du dengan mulut tersenyum tipis.
“Siapa Saudaramu?
masih pantaskah engkau menyebut aku saudara?,
bagaimana dengan kemurnian darah yang mengalir pada tubuhmu?
Huh!”,
Balas Meng Du sambil mengeluarkan dengusan dari lubang hidungnya dengan wajah tidak terarah pada Tang Han malah sambil mengangkat dagunya wajahnya menatap ke arah lain.
“Jika aku tidak pantas menjadi saudaramu tidak apa-apa,
Mari kita lihat hasil seleksi junior kita masing-masing”.
Balas Tang Han sambil bersiap melanjutkan memimpin anggota lainnya untuk tidak terjadinya perkelahian yang tidak perlu.
“Kepercayaan diri yang berlebihan klanmu akan runtuh oleh kekuatan Ras Iblis Klanku, lihat saja!”.
Kata Meng Du, sambil memberi gerakan tangan kepada anggota klannya untuk melanjutkan berjalan menuju arah alun-alun kota.
Klan Tang adalah klan keluarga yang tidak memperdulikan kemurnian ras, mereka adalah klan yang berdiri karena campuran pernikahan yang terjadi antara Ras Iblis dan Ras Manusia, sekalipun Klan Tang dipimpin oleh Tang Hun Beng yang masih berdarah murni Ras Iblis, namun pendirian Klan Tang tidak melihat kemurnian darah, Klan ini hanya mengutamakan bakat seseorang.
Ada rasa superioritas yang lebih tinggi dari Ras Iblis terhadap Ras Manusia, maka dari itu Meng Du menganggap rendah Klan Tang karena ketidak murnian darah klan mereka. Memang kekuatan Klan Meng sedikit lebih kuat dari Klan Tang kalau dilihat dari jajaran kekuatan kultivasi pengurus Klan masing-masing.
Namun jika dilihat dari jumlah anggota klan, maka jumlah anggota biasa Klan Tang dua kali lebih banyak daripada klan Meng.
Berbicara tentang Kekuatan Klan, seorang pada tingkat “Imajinasi Roh “ dapat mengimbangi ratusan orang pada tingkat “Kekuatan Jiwa”, demikian juga seseorang pada tingkat “Kekuatan Jiwa” dapat mengimbangi ratusan orang pada tahap “Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak”, Jadi jumlah anggota Klan tidak berarti apa-apa dengan kualitas tingkat kultivasi masing-masing klan.
Akhirnya kedua kelompok itu memisahkan diri, mereka menghindari bentrokan antar kelompok, karena tahu bahwa perkelahian yang terjadi di jalanan kota sangat dilarang demi keamanan dan ketertiban kota.
Keluarga Klan Coa sangat memperhatikan kondisi keamanan kota, apalagi mereka bertindak sebagai tuan rumah dalam penyambutan para tetua terhormat dari sekolah yang memiliki gengsi tinggi di benua Chong Yang.
Ditambah lagi para tetua terhormat ini mau mengunjungi sebuah kota kecil yang berada di sudut paling timur dari wilayah kerajaan Chong Yang, wilayah yang sebenarnya sangat terpencil dengan berbatasan langsung dengan ‘Hutan Kabut Putih’ yang dihuni oleh berbagai kelompok binatang buas yang kekuatan dari masing-masing binatang ini dapat mengalahkan seorang kultivator tingkat Imajinasi Roh ke-6.
Nama Sekolah Beladiri Samudera Naga sangat terkenal di pusat ibukota Chong Yang dibandingkan dengan 4 sekolah lainnya yang berada pada benua ini.
Dari beberapa jalan yang arahnya menuju alun-alun kota Yang In, dari arah gerbang kota, sekelompok murid klan Han berbaris dengan tertib, barisan terdepan adalah anak-anak berusia 9-15 tahun, lalu di belakangnya adalah barisan para pemuda dengan diikuti oleh beberapa orang yang berusia setengah baya.
Han Eng berjalan paling depan, memimpin kelompok junior klan, ada perubahan sikap yang terlihat dari tatapan mata pada raut wajah Han Eng, wajah Han Eng termasuk cantik dengan rambut yang diikat sederhana dibiarkan jatuh melewati punggungnya, beberapa anak perempuan anggota klan Han menemaninya.
Ada Han Long di barisan paling belakang dari kelompok junior ini, dia terlihat lebih tinggi dari kelompok junior ini. Sebenarnya Han Eng ingin berjalan berdampingan dengan Han Long sahabatnya, tetapi para Tetua klan memintanya untuk memimpin kelompok junior dan berjalan di barisan terdepan.
Persahabatan Han Long dengan Han Eng sudah terjalin selama 4 bulan sejak diterimanya Han Long memasuki Klan Han, sebenarnya Han Long tidak dapat mengikuti ujian Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga karena persyaratan kultivasi, namun Han Eng memaksa ayahnya untuk mengijinkan Han Long menemaninya.
Diam-diam Han Long dengan kecerdasan otaknya sering memberikan petunjuk teknik kultivasi kepada Han Eng, dan Han Eng tanpa dia sadari menunjukkan peningkatan yang pesat, baik tingkat kultivasinya yang sudah mencapai Kekuatan Tubuh ke-9 Lanjutan, yang sedikit lagi menyentuh Tingkat ke-9 Puncak.
Dan tidak lupa Han Long dengan caranya yang cerdik, memberikan petunjuk tentang kesempurnaan setiap gerakan dari jurus-jurus khas keluarga klan Han pada Han Eng.
Jurus-jurus beladiri keluarga Han dengan mudah disempurnakan oleh Han Long karena tingkat penguasaan dan pemahaman Han Long terhadap Ilmu beladiri berada pada kualitas yang lebih tinggi dibandingkan ilmu beladiri Klan Han. Kecerdikan Han Long dalam memberikan petunjuk tersebut disampaikan dengan raut wajah yang bodoh, sehingga Han Eng tidak merasa diajari oleh Han Long.
Peningkatan kultivasi serta penguasaan ilmu beladiri Han Eng sangat membanggakan Patriark Han Wi Teng, sehingga Han Wi Teng memberikan keleluasaan pada Han Eng untuk membawa Han Long menyertainya dalam Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga, karena hanya dalam 4 bulan terakhir semenjak persahabatannya dengan Han Long terjalin, maka Han Wi Teng menganggap Han Long adalah penyemangat latihan bagi Han Eng.
Dengan tampil bodoh dan polos yang ditampilkan oleh Han Long dihadapan seluruh anggota Klan Han tidak disadari oleh Klan Han tentang kultivasi sejatinya, mereka hanya tahu bahwa pribadi Han Long menyenangkan bagi semua orang, bahkan sikapnya yang tidak serius dalam latihan beladiri keluarga Klan Han tidak dianggap penting.
Sikapnya yang ramah tanpa kesan menjilat terhadap semua kalangan baik tingkat junior maupun senior klan terkadang memberikan nuansa baru sebagai selingan menyegarkan dalam fokus latihan yang pahit demi peningkatan kultivasi masing-masing anggota klan.
Kejujurannya dalam tindakan dan ucapan Han Long sangat berkesan, Han Long bukan ancaman yang bersaing dalam supremasi kultivasi, dia anak jujur dengan sikap yang bodoh dan mudah dimintai pertolongan, sehingga anggota klan sangat mempercayainya. Hanya saja Han Long selalu masuk ke kamarnya ketika hari berubah menjadi malam untuk langsung tidur dan beristirahat, dan dia tidak mau diganggu.
Padahal jika seseorang tahu, disaat semua orang beristirahat atau sedang melatih kultivasi, dengan ilmunya, di setiap malam hari, Han Long akan keluar dari ruangannya, menuju tempat rahasia yang sudah dia siapkan sebelum masuk ke klan Han.
Tempat itu tidak ada orang yang mau mengunjunginya karena lokasinya sedikit masuk dalam Hutan Kabut Putih, dia akan berlatih 4 ilmu yang menjadi amanat dari ibunya.
Diantaranya adalah melatih kultivasi dengan 9 tahapan yang disebut sebagai Teknik 9 Tubuh Bintang. Walaupun ilmu itu memerlukan suplemen untuk pencapaian sempurna yang belum didapatkannya, namun gerakan yang dilatih dapat meningkatkan kultivasi dan penguasaan ilmu bela dirinya secara signifikan.
Han Long usianya baru 10 tahun tapi dia adalah anak super jenius, hanya dengan melihat tulisan teori maupun gerakan dari sebuah ilmu beladiri maupun ilmu kultivasi, dia dapat menemukan kelemahan maupun sisi kekuatan ilmu tersebut. Semua itu berkat melatih Teknik 9 Tubuh Bintang.
Kekuatan daya ingat dalam dirinya sangat kuat, sekali dia membaca atau hanya melihat maka semua itu dapat diingatnya dengan jelas.
Berkat latihan jiwa dengan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, Han Long secara mental, memiliki kepribadian yang kuat dan teguh, yang sebenarnya bagi orang lain, apa yang ada pada dirinya adalah semacam anugerah tubuh seorang dewa.
Ironisnya kelebihan dalam dirinya tidak dia sadari, karena di bawah bimbingan sang ibu sebagai Mahagurunya, potensi dalam dirinya tidak diberikan penilaian yang spesial atau istimewa oleh Sian Li sang ibu. Maka dari itu Han Long tidak menganggap potensi dalam dirinya adalah istimewa.
Walaupun dia melihat bahwa orang-orang di sekitarnya sangat lemah, baik tingkat kultivasi yang dilatih, maupun ilmu beladiri orang itu.
“Minggir!!!.”
Sebuah kata yang diucapkan secara bersamaan oleh sekelompok orang dari arah belakang Klan Han.
“Jangan menghalangi kami, kalau kalian tidak mau menanggung resikonya”,
Dilanjutkan ucapan yang keras dan berwibawa.
Serempak semua anggota klan Han menengok ke belakang barisan mereka, di belakang mereka ada kelompok lainnya yang berjumlah ratusan orang dan anak-anak dengan seragam hitam-hitam, ciri khas anggota klan Cui.
“Jalan ini milik bersama, mengapa harus berucap kasar dengan berteriak?” kata Han Leng pemimpin Klan Han sebagai penatua ke-3 klan Han.
Cui Kong seorang pria 40 tahunan adalah pemimpin barisan Klan Cui, dia adalah Penatua ke-2 yang berteriak pada barisan Klan Han. Provokasi ini sengaja dilakukan karena mereka melihat yang ada di depannya adalah Klan Han, Klan Ras Manusia yang lebih lemah dibandingkan dengan klan Cui.
Dan dia melihat bahwa senior pada Klan Han adalah Han Lie penatua ke-3, sementara dirinya adalah penatua ke-2 yang memang lebih kuat dari Han Lie dalam tingkat kultivasi, apalagi saat ini Klan Cui disertai juga oleh Cui Beng penatua ke-3 dan Cui Leng Kok penatua ke-4.
Dengan demikian Klan Cui merasa di atas angin dihadapan Klan Han yang hanya ada satu penatua yaitu Han Leng.
“Jadi mau apa?
Kalian hanya menghalangi perjalanan kami, menyingkirlah!” kata Cui Leng Kok dengan mata menatap tajam kepada Han Leng
“Perihal memberikan jalan kepada kalian adalah pekerjaan mudah, dan kami juga tidak sengaja menghalangi kalian, namun kekasaran ini tidak mudah diselesaikan begitu saja, apakah kami lebih lemah dari kalian?, tapi disini ada Klan Coa sebagai penanggung jawab ketertiban Kota, apakah kalian mau menghadapinya?”. Balas Han Leng.
“Jadi begitu. Kami Klan Cui selalu berucap sama dengan tindakan, jadi kata-kata kami adalah sikap klan kami terhadap Klan Han, dan kami tidak takut menghadapi resiko atas apa yang akan kami hadapi di kemudian hari”
jawab Cui Kong dengan angkuh.
Karena baginya kalau harus terjadi bentrokan dengan Klan Han, walau bagaimanapun Klan pemimpin kota adalah Klan Ras Iblis, yang sama dengan klan mereka yang mempertahankan kemurnian Ras Iblisnya juga.
Dengan demikian Klan Coa akan membela Klan Cui.
Melihat tanggapan yang diberikan oleh Cui Kong, Han Leng mengerutkan keningnya dengan wajah berubah warna menahan marah, dia tahu kalau dirinya lebih lemah dari Cui Kong, namun ini menyangkut harga diri klan Han, dia harus bersiap menanggung semua resiko dan dia siap menggerakkan seluruh anggotanya untuk bertempur.
Maksud Cui Kong memprovokasi Klan Han adalah semata-mata untuk menghilangkan sebagian peserta Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga karena saat ini, dia membawa kekuatan yang lebih banyak dibandingkan Klan Han, minimal dia dapat menimbulkan cedera pada sebagian anggota Klan Han dan akhirnya meminimalkan jumlah peserta saingan bagi Klan Cui untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar.
“Apa yang paman-paman lakukan!”
Sebuah seruan terdengar, mereka menengok datangnya arah suara itu, terlihat seorang gadis remaja cantik berusia 12 tahunan dengan diiringi oleh beberapa petugas keamanan kota, berjalan ke arah mereka.
Cui Kong bersama dengan Cui Beng dan Cui Leng Kok terkejut melihatnya, karena dia tahu bahwa gadis remaja ini adalah salah satu jenius klan Coa, Coa Leng In.
Han Lie buru-buru menangkupkan tangannya memberi salam, dia pun tahu bahwa jenius remaja klan Coa ini adalah seorang gadis remaja Ras Iblis yang sangat disayang oleh Coa King Hun selain Coa Kun anak Patriak Klan Coa.
”Apakah saya harus menerangkan kembali peraturan kota Yang In?, bahwa perkelahian di luar arena dilarang!”. Kata Coa Leng In.
“Apalagi saat ini kota kita sedang bersiap menerima tamu agung dari Ibukota”, Lanjutnya lagi.
Perlu diketahui bahwa, jika ada perselisihan antara warga kota atau penduduk lain dari luar kota Yang In kekuatan seseorang yang paling menentukan namun tidak diperkenankan perkelahian di tempat umum maupun di jalanan kota. Coa King Hun selaku pemimpin kota dan seluruh Klan Keluarga ternama Kota Yang In, telah menyiapkan beberapa tempat berbentuk arena dalam penyelesaian perselisihan melalui kekuatan seseorang. dengan demikian setiap pertarungan akan menjadi sebuah pertunjukan dimana pihak pemimpin kota akan mendapatkan pemasukan dengan penjualan tiket. Karena di dunia kultivasi, pertarungan adalah hiburan dan membuka wawasan untuk proses peningkatan kekuatan seseorang.
Cui Kong bersama dengan rombongannya memasang muka cemberut, rencananya gagal, kehadiran Coa Leng In sangat tidak diharapkan.
Dia tahu yang menggagalkan rencananya hanya seorang gadis remaja, tapi dia adalah putri pemimpin kota, yang dianggap sebagai salah satu permata Klan Coa, bila terjadi sesuatu terhadap gadis belia ini maka akan menimbulkan kemurkaan seluruh klan Coa.
Dengan hadirnya Coa Leng In, maka Cui Kong, Cui Beng dan Cui Leng Kok membawa rombongannya melewati Klan Han dan berjalan menuju ke arah alun-alun kota.
Setelah rombongan Klan Cui lewat,
“Terima kasih atas tindakan nona Coa Leng In” Kata Han Leng.
Coa Leng In melirik ke rombongan Klan Han, dia sempat berhenti sejenak ketika matanya melihat ke arah rombongan junior Klan Han, karena Han Long berdiri paling tinggi diantara anak remaja seusianya. Namun Karena tampang bodoh Han Long, Coa Leng In menggeser pandangannya pada sosok yang dikenalnya, Han Eng anak yang pernah ditolongnya.
Namun sosok Han Eng berbeda dengan 6 bulan lalu, Coa Leng In sedikit terkejut melihat tingkat kultivasi Han Eng sudah berada pada tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 Lanjutan, peningkatan yang termasuk cepat bagi Ras Manusia.
Coa Leng In pun hanya mengangguk dan meninggalkan Rombongan Klan Han.
“Han Long jika ada peristiwa seperti tadi, sebaiknya kamu berdiri di belakang kami”, kata Han Eng pada Han Long.
“ Baik Eng Senior”, balas Han Long.
”Dasar bodoh, dengan badan sebesar ini malah jadi beban seluruh klan”, timpal lainnya dengan mulut mencibir.
“Maaf kepada para senior, saya tahu diri, kalau ada peristiwa ini lagi, dapat dipastikan saya akan langsung melarikan diri”.
Kata Han Long menjelaskan posisi dirinya kepada orang-orang lain.
Mendengar percakapan itu, warga sekitar mengerutkan kening, mereka tidak menyangka ada seorang anak yang dibawa oleh klan Han terlalu lemah.
“Semuanya!, bersiap menuju tempat penginapan kita yang sudah disiapkan oleh Patriak Kepala”, perintah Han Leng kepada seluruh anggota Klan.
Para anggota klan pun berbaris kembali dan berjalan menuju arah yang ditentukan oleh penatua Han Leng menuju tempat penginapan mereka.
Sementara itu, kesibukan di dalam Klan Coa semakin padat, mereka berusaha menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.
Coa Kun remaja berusia 14 tahun, salah satu jenius Klan Coa berada dalam ruangan yang khusus berkultivasi, fokus kultivasinya sedikit meningkat dibandingkan 6 bulan lalu. Ambisinya untuk lolos seleksi sangat kuat.
“Akhirnya tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak terselesaikan, apa yang telah dicapai oleh adik Leng In ?”, katanya dalam hati, ada senyum puas dalam raut wajahnya atas pencapaian latihan kultivasinya.
Coa Kun bangun, dan melangkahkan kakinya keluar ruangan kultivasi, dia tahu ada kesibukan baru yang terjadi di klannya, tiba saatnya dia menunjukan hasil latihan kerasnya kepada semua orang dan membuktikan bahwa dirinya adalah bakat yang membanggakan bagi klannya terutama sang ayah Coa King Hun.
Dia lalu berjalan menuju tempat latihan klan Coa, ada arena yang dipersiapkan oleh klan dimana semua itu dijadikan tempat bagi anggota klan untuk berdebat satu dengan lainnya dan untuk melihat perkembangan yang sudah dilatihnya.
Di dalam arena terlihat ada 2 orang yang berdebat, salah satu dikenal sebagai Coa Leng In, dan lainnya adalah seorang pemuda 17 tahunan yang bertugas sebagai petugas penjaga kota.
Keduanya tidak menggunakan senjata, hanya tangan dan kaki yang bergerak, terlihat gerakan Coa Leng In lembut tapi ada angin yang terasa ganas menerpa dan menyengat panas. lawannya bergerak dengan kokoh dan tegas.
Sekalipun Coa Leng In masih berumur 12 tahunan, pemuda itu tidak menganggap rendah, karena dia tahu bahwa gadis kecil ini adalah putri kepala Klan, sementara Coa Leng In pun tidak menggerakkan tenaga sepenuhnya dia hanya mengeluarkan tenaga saktinya sekitar 20 persen saja. perdebatan beladiri ini dianggap oleh Coa Leng In sebagai latihan ringan agar kondisi tubuhnya selalu dalam kondisi siap dan siaga.
Coa Kun sangat memperhatikan gerakan Coa Leng In, karena sang adik adalah satu-satunya yang memiliki bakat hampir melampauinya.
Setelah lama dia perhatikan, Coa Kun tersenyum lega, dia tidak tahu bahwa Coa Leng In hanya melepaskan 20 persen tenaganya, karena Coa Leng In pandai menutupi kemampuannya ditambah dengan artefak yang dipakainya yang memiliki kemampuan untuk menutupi tingkat kultivasi sejatinya.
Coa Kun tidak tahu kalau Coa Leng In telah meninggalkan dirinya dalam tingkat kultivasi, Coa Leng In sudah mencapai tingkat Kekuatan Jiwa ke-2 Awal, serta penguasaan ilmu beladiri Guntur Pelangi telah dikuasainya secara sempurna berkat Mustika Darah yang sudah berasimilasi dengan tubuhnya, bahkan di tangannya jurus demi jurus di dalam teknik Guntur Pelangi telah menjadi Kategori Surga kelas Sempurna,
Ayahnya sendiri dalam penguasaan jurus Guntur Pelangi hanya dalam Kategori Bumi kelas Sempurna. Perbedaan ini bagai tingginya langit dengan rendahnya bumi, bila saja Coa Leng In harus berdebat dengan ayahnya menggunakan teknik beladiri Guntur Pelangi, maka dapat dikatakan Coa King Hun akan menyerah secara telak dengan mengabaikan tingkat kultivasi.
“Adik Leng In ayo berdebat denganku!,” kata Coa Kun sambil melompat ke arena.
“Kakak Kun silahkan, tapi bersikaplah lembut” balas Coa Leng In.
Pemuda yang menjadi lawan Coa Leng In pun menyingkir.
Coa Kun mengambil sikap kuda-kuda yang kokoh dan memutar esensi tubuhnya, dengan dengusan nafasnya, tubuh itu meletup, menunjukkan tingkat kultivasi Kekuatan Tubuh ke-9 Akhir.
Coa Leng In berpura-pura bersikap serius, dia pun memutar esensi tubuhnya dan kekuatan kultivasi tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 menengah meletus seiring dengan hembusan nafasnya.
Coa Kun melepaskan kepalan tangannya maka pesona jurus Guntur Pelangi meledak.
Duarrr!!,
Disambut oleh gerakan tangan Coa Leng In dengan gerakan yang sama,
Booommm!!!
Dua kekuatan bertabrakan, menimbulkan suara yang keras, keduanya bergoyang dan bergetar, gerakan itu pun dilanjutkan oleh keduanya dengan jurus-jurus selanjutnya menimbulkan angin panas di sekitarnya. keduanya terlibat dengan pertarungan yang sengit.
Hanya ada perbedaan sifat gerakan dimana Coa Kun bertindak ganas dan kokoh, sementara gerakan yang ditampilkan oleh Coa Leng In lembut namun perubahan gerakan selanjutnya cepat dengan variasi yang tidak terduga oleh Coa Kun.
Disinilah Coa Kun mengernyitkan keningnya, dia menganggap bahwa gerakan jurus nya sudah sempurna dalam menguasai 36 jurus Guntur Pelangi, namun Coa Leng In dapat menghadapinya, walaupun gerakan Coa Leng In terasa kaku. padahal semua itu disengaja oleh Coa Leng In.
Kalau mau Coa Leng In dapat mengalahkan Coa Kun dari awal dengan satu gerakan saja.
Perdebatan ini berlangsung selama beberapa jam, akhirnya terlihat Coa Leng In menunjukkan kelelahannya. Dia lalu melompat mundur’
“Kakak Kun aku menyerah” katanya,
“Adik Leng In, bagaimana bisa?, perdebatan ini belum berakhir, kamu belum kalah” Kata Coa Kun menolak berakhirnya perdebatan di antara mereka, karena dia merasa penasaran, tingkat penguasaan dirinya dalam teknik Guntur Pelangi tidak dapat mengalahkan adik tirinya dengan segera, dia sudah menguasai seluruh jurus itu yang sebanyak 36 jurus.
Ditambah lagi dia sudah melakukan latihan yang pahit dan sangat keras selama berbulan-bulan namun hasilnya tidak dapat berbuat apapun terhadap adiknya yang disangkanya lebih lemah.
“Ahh sudahlah, aku lebih lemah dari kakak, dan aku harus menengok bunda Yap Ing”,
Kata Coa Leng In sambil dia melangkah keluar arena, lalu meninggalkan Coa Kun.
Coa Kun tidak merespon kembali, dia termenung, tatapan matanya kosong melihat kepergian Coa Leng In.