Han Long masih terpaku, dia masih menatap orang yang menjadi leluhurnya, seorang pria yang memiliki kekuatan yang tidak terbatas, pria yang dapat berbuat sekehendak hatinya tanpa takut, pria yang membuat ibu dan dirinya meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak berani kembali karena pusat energi dunia dikumpulkan oleh pria tersebut di Benua Thian Agung.
”Ibu bangunlah dan berdiri, untuk apa ibu menghormati seseorang yang egois seperti dia”, kata Han Long pada ibunya.
Thian Sian Li terkejut mendengar ucapan putranya yang bernada tajam seperti itu,
”Putraku, dia adalah leluhurmu, karena dia, kita ada di dunia ini”, kata Thian Sian Li.
”Aku tidak minta di lahirkan di dunia ini, apalagi dunia yang demikian rusak karena perbuatannya, dimana kita harus keluar dari tanah kelahiran kita karena kelakuannya, perbuatannya yang egois, kita harus menjadi orang asing di negeri orang lain, apa yang dapat dibanggakan pada nenek moyang seperti dia”,
kata Han Long dengan berapi-api, baru sekali ini dia merasakan kemarahan yang besar pada seseorang, dan orang itu adalah sosok Nenek Moyangnya sendiri.
Thian Sian Li makin terkejut mendengar ucapan putranya, dia tidak menyangka Han Long memendam kemarahan pada orang yang seharusnya dia menaruh hormat tinggi daripada sosok orang lain, karena selain kekuatan leluhur Thian Han Ong, namun ini adalah orang yang melahirkan dua klan yang berada di dunia ini.
”Long er, tahan amarahmu, leluhur adalah orang yang harus kau hormati dan perintah yang keluar dari mulutnya adalah sabda suci yang harus dijalani setiap orang, bukan hanya klan Thian dan klan Han, tapi semua orang”, kata Thian Sian Li dengan khawatir dan cemas, dia takut leluhur di depannya akan marah dan membunuh putranya hanya dengan mengedipkan matanya saja.
”Ha ha ha…., anak kecil, nyalimu luar biasa, keberanianmu sangat besar, tapi keberanian tanpa kekuatan sama dengan kebodohan, apa kau sanggup menerima hukuman dariku?”, kata Thian Han Ong.
”Apa hak mu menghukumku?, walau aku lemah dihadapanmu saat ini, namun aku akan sekuat dirimu kelak, bahkan melebihimu, jika kau turun tangan sekarang, dengan mata terbuka aku menerima kematianku”, kata Han Long lebih berani.
”Long er jangan kau berkata demikian, jangan kau berkata tidak sepantasnya, oooohhhh…, Han Long… Kasihani ibu nak!”, kata Thian Sian Li dengan nada sedih, dia sudah membayangkan hukuman pada Han Long putranya yang ditimpakan oleh karena kemarahan Leluhurnya yang dianggap kurang ajar tidak menghormati orang yang lebih senior dan terhormat.
”Ha ha ha…. Keturunanku sendiri menentang otoritasku, jika ini diketahui oleh dunia, apa kata orang, heh…!!!, jika itu maumu, terimalah!”, ucap Thian Han Ong, tidak ada gerakan apapun dari dirinya, tapi tubuh Han Long bergetar menahan tekanan dahsyat yang berusaha merobek-robek kedagingannya.
Heemmmm..,!!!
Weeeerrr….!!!
Wuuusss.., Rrrrrrrr…!!!
Tubuh Han Long tersiksa, dia berusaha bertahan dengan kekuatan yang sudah dilatihnya, tubuhnya bergetar terus menerus,
”Leluhur….., ampuni putraku…, aku yang salah, aku ibunya…,hukum aku leluhur…, aku kurang mendidiknya…”, kata Thian Sian Li sambil tubuhnya bersujud dan kedua tangannya menyembah-nyembah pada Thian Han Ong.
Melihat perbuatan ibunya, Han Long makin marah dan sakit hati pada orang di depannya yang berdiri dengan angkuh.
Heaaaa…..!!!
Huuussshhh….!!!
Han Long mengerahkan kultivasinya, 9 Tubuh Bintang dikerahkan demi menahan tekanan kekuatan dari leluhurnya.
”Heh, anak kecil kau telah mengolah tubuhmu dengan Teknik 9 Tubuh Bintang itu, aku ingin tahu kekuatannya”, kata Thian Han Ong, tangannya bergerak seperti mengibas ke udara, maka tekanan energi pada Han Long meningkat dua kali lipat.
Han Long terus memutar energi yang dimilikinya, selain 9 Tubuh Bintang dia juga memadukan dengan Tinju Langit Badai Mengamuk, maka dari tubuh Han Long keluar uap putih pekat yang melindungi dirinya dari terjangan energi yang tidak terlihat yang berusaha menekannya.
”Eeehhh, pantas anak ini berani padaku, hanya kekuatan sekecil ini kau bertingkah padaku?, kita lihat, Heemmm…!!!”, kata Thian Han Ong sambil menambah tekanan pada Han Long, sekarang tekanan yang diterima Han Long menjadi empat kali lipat.
Thian Sian Li dengan bercucuran air mata memohon pada leluhurnya untuk mengampuni putranya, namun upaya dirinya tidak dihiraukan oleh Thian Han Ong.
Tekanan besar pada diri Han Long bertambah, Han Long berusaha bertahan, dia mengerahkan teknik Langkah Ajaib Melingkar Nirwana, maka tubuhnya dapat berpindah-pindah ratusan meter, namun tekanan itu tetap mengejarnya kemanapun dia pergi, Han Long tidak bisa jauh dari ibunya, dia bisa saja pergi meninggalkan tempat itu, namun ibunya bersama orang jahat itu, dia bertahan terus berharap orang tua itu kehabisan nafas, namun, tekanan yang diterimanya semakin kuat, kemanapun dia berada.
Dari sini dia tahu bahwa kemanapun dia pergi, orang sekelas Leluhurnya ini dapat mengejarnya, dan ini baru tekanan energi biasa, bukan Teknik Penyerangan yang sesungguhnya dari sang Leluhur, namun Han Long dengan keras kepala mengatupkan kedua bibirnya, tidak bicara untuk minta ampun seperti yang diserukan oleh ibunya.
”Hemm…, tekadmu lebih baik anak kecil, atau ini termasuk anak bodoh yang keras kepala”, kata Thian Han Ong.
Akhirnya Han Long tidak dapat bertahan lebih lama,
Heeeaaaaa…!!!
Han Long menggabungkan seluruh energi dari Teknik Beladiri dan Kultivasinya, dengan demikian tubuhnya terbuka, yang selama ini terkunci, tubuhnya tanpa dapat ditahan lagi menyedot seluruh energi permukaan dunia dengan deras, maka…
Boummm…!!!
Boummm…!!!
Bunyi ledakan berturut-turut dari dalam tubuhnya terdengar berulang kali,
”Tiiidddaaaaaakkkk…..!!!!”,
Jeritan pilu Thian Sian Li meraung ke angkasa…,
”APAA…!!!”,
Thian Han Ong terkejut setengah mati melihat perubahan tubuh keturunannya
”Putraku, aku akan bersamamu, lebih baik mati denganmu dan meninggalkan dunia rusak ini, leluhur perbuatanmu sungguh tidak memancarkan seorang yang agung, jika anakku mati maka aku bersumpah jika aku tidak mati hari ini, aku akan keluar dari klan yang membesarkanku dan akan membunuhmu”, teriak Thian Sian Li pada Thian Han Ong yang masih terlongong bengong pada tubuh Han Long.
Tubuh Han Long berpijar seperti Lampu di malam hari, dan sinar dari tubuh Han Long semakin terang, mata Han Long bersinar dengan kuat, dan cahaya pada matanya sekarang tertuju pada Thian Han Ong,
Shuuuttt…!!!
Blaaarrrr….!!!
Sinar cahaya pada mata Han Long menabrak tubuh Thian Han Ong, tadinya Thian Han Ong menganggap sinar itu tidak berarti apa-apa, maka dia menggerakkan ujung jarinya seperti menepis, namun akibatnya, tubuh transenden Thian Han Ong bergetar, dan ujung pakaiannya terbakar, Thian Han Ong terkejut akan dahsyatnya energi yang keluar dari mata Han Long.
Thian Sian Li memutar energi kultivasinya,
Doummm…!!!
Ledakan energi kultivasi tingkat Raja Dewa ke-2 Puncak Thian Sian Li meletus,
Heeaaaa… !!!
Pukulan bertenaga sekuatnya meluncur dari kedua tangan Thian Sian Li menuju tubuh Thian Han Ong, leluhurnya
”Apa yang kau lakukan?, Hm…, masih banyak keturunanku yang lebih berbakat dari kalian berdua, jika kalian mau mati maka matilah”, kata Thian Han Ong, dengan posisi kuda-kuda, dia kali ini serius untuk menghabisi pasangan ibu dan anak ini
Baginya kehilangan generasi seperti kejeniusan yang dimiliki oleh Thian Sian Li dan Han Long dapat digantikan dengan mudah, maka tanpa membuang waktu lagi, dia berniat melumpuhkan keduanya dengan sekali gerak.
Han Long yang melihat ibunya telah berdiri dipihaknya, semakin khawatir, karena dia sudah merasakan kekuatan yang dilawannya, jauh di atas ibunya, leluhur ini adalah eksistensi tingkat Kaisar Dewa Sempurna dimana ini adalah satu-satunya kultivator tertinggi di permukaan dunia yang menguasai 9 benua.
Heeeeaaaaa….!!!
Teriakan dan erangan dari Han Long menggetarkan lingkungan sekitarnya, banyak bangunan yang runtuh berubah menjadi debu, kini disekitar mereka bertiga berubah menjadi padang belantara dimana debu bekas bangunan di sekitarnya luluh lantak bertumpuk membentuk bukit-bukit kecil.
Energi dunia mengalir dari segala arah menyerbu ke satu target, tubuh Han Long, dan kedua mata Han Long makin berpijar sangat terang.
Kini sinar terang di mata Han Long mencelat ke arah Thian Han Ong berbentuk gelombang besar berdiameter sekitar satu hingga dua meter dengan hawa panas yang melelehkan sekitarnya, kali ini Thian Han Ong tidak menganggap remeh sinar cahaya yang menuju pada dirinya, dia pun mengerahkan kekuatan dirinya, maka dirinya berubah menjadi asap yang menggumpal sangat solid.
Blaaarrr….!!!!
Dua kekuatan bertabrakan, tubuh Han Long terlempar ratusan meter, sedangkan tubuh Thian Han Ong masih di posisinya namun bergoyang-goyang bagai pohon yang diterpa oleh angin yang kuat, dan pakaian yang dikenakannya tercabik-cabik sobek di bagian depan tubuhnya, malah ada yang berwarna gelap seperti gosong.
”Anakkuuuu….!!!”, jerit Thian Sian Li, dia menggerakkan tubuhnya mengejar tubuh Han Long.
Napas Thian Han Ong sedikit tersengal, dia melihat gerakan Thian Sian Li yang mengejar tubuh putranya, keningnya sedikit berkerut melihat kekuatan keturunannya, dia tidak menyangka salah satu keturunannya memiliki kekuatan yang sanggup merepotkan dirinya.
“Jika keduanya dibiarkan tumbuh, akan menimbulkan ancaman di masa depan, sebaiknya melenyapkan penyakit sedari dini”, pikir Thian Han Long pada dirinya sendiri, dia lalu memutar energi kultivasi dirinya dan membuat kepalan di tangannya lalu mengarah pada Han Long yang saat itu dipeluk oleh Thian Sian Li.
Shuuutttt…!!!
Blaaarrrr…!!!
Ada tabrakan keras dari beradunya dua tenaga raksasa, seorang wanita berdiri menghalangi laju energi dari Thian Han Ong dan menahannya, wanita ini tertutup wajahnya oleh cadar putih, ada mahkota di atas rambutnya, penampilan wanita ini termasuk sederhana yang istimewa adalah hiasan diatas kepalanya yang membentuk mahkota kecil berwarna biru transparan.
“Saudara Han Ong, cukuplah perbuatanmu, apakah kau mau membunuh keturunanmu sendiri?, tidak cukupkah perbuatanmu atas dunia ini?, dimana harga dirimu dengan melawan seorang junior bahkan dari klanmu sendiri”, kata-kata tajam ini diucapkan wanita itu tanpa ekspresi apapun, tidak ada emosi dalam setiap ucapannya, semua ucapannya mengalir tanpa tekanan apapun.
“Apakah kau akan ikut campur urusan klanku, mereka adalah keturunanku jadi terserah padaku, aku tahu kau selalu berdiam diri dan bersembunyi di tempatmu, mengapa kau keluar sekarang ini?, apa kepentinganmu Bu Ling Moy?”, kata Thian Han Ong dengan wajah sedikit penasaran menatap wanita itu.
“aku tidak peduli akan dunia ini, dan akupun sebenarnya tidak peduli atas perbuatanmu yang mengumpulkan energi dunia pada satu tempat, yaitu benua mu sendiri, namun sekarang aku perlu mengingatkan dirimu, kerusakan apalagi yang akan kau buat, lihat sekelilingmu, berapa nyawa telah mati akibat pertarunganmu, mereka tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk hidup dan bertahan, namun kau membunuh mereka tanpa berkedip, lalu siapa yang lebih jahat?, dirimu atau ditua Lok Mo?”, kata Bu Ling Moy, seorang wanita Penguasa Benua Ketiga yang misterius.
Thian Han Ong menatap wanita itu, yang dulu adalah sosok yang pernah bersamanya saat mereka masih muda bersama dengan pemuda lain bernama Kui Lok Mo.
Mereka bertiga sudah mengenal satu dengan lainnya, ketiganya mengejar kekuatan di seluruh permukaan dunia ini, dan menjelajahi seluruh dunia dengan rasa persaingan diantara mereka, namun mereka bertiga menjalin persahabatan yang kuat, namun akhirnya persahabatan itu retak karena mereka bertiga selalu bersaing siapa yang lebih kuat.
“Aku tidak perlu nasehatmu, aku hanya menghukum keturunanku yang berani melawanku”, kata Thian Han Ong.
“Leluhur ampuni kesalahan putraku, dia masih muda dan semua ini adalah kesalahanku yang tidak mendidiknya dengan benar, untuk itu aku akan menggantikan hukumannya”, kata Thian Sian Li sambil badannya memutar menghadap Thian Han Ong siap mati terbunuh menerima hukuman dari Leluhurnya.
“Han Ong, aku akan menghadapimu jika kau turun tangan membunuh anak dan ibu ini”, Kata Bu Ling Moy dengan tegas.
Kening Thian Han Ong semakin berkerut melihat dua wanita yang menghadangnya, dia memiliki kenangan dengan wanita yang bernama Bu Ling Moy ini, bahkan dia pernah ada niat menyatakan rasa suka namun semua itu tertutup oleh persaingan diantara mereka.
saat Thian Han Ong terdiam dan menundukkan kepalanya,
Wusssshhh…
dua tubuh menghilang yaitu tubuh Han Long dan tubuh Thian Sian Li,
“Aku membawa mereka, kalau kau mampu menembus Benua ku maka aku akan menunggumu, tergantung itikadmu, apakah kita bertempur atau kita kembali berteman”, kata Bu Ling Moy, dan perlahan-lahan tubuhnya memudar dan menghilang.
Thian Han Ong hanya menatap bayangan tubuh wanita itu yang semakin memudar, tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun sebagai reaksi atas perbuatan Bu Ling Moy yang mengambil dua orang yang tadinya akan dilenyapkan, tidak lama kemudian dirinya juga menghilang meninggalkan reruntuhan sebagian sudut kota yang terpencil menjadi tumpukkan debu.
Di gunung Puncak Mega Biru, di Manor Langit, semua pelayan yang berstatus Pelayan Inti dalam keadaan siaga menunggu kemunculan Putri Langit, karena mendengar letusan pertempuran dari sebelah barat Kota Awan Ungu ini, dan hal ini baru terjadi bunyi pertempuran dimana setiap ledakan terdengar sangat keras, mereka membayangkan bahwa ada seorang tokoh yang berani menentang otoritas penguasa Manor Langit, artinya tokoh ini seorang yang memiliki tingkat kultivasi yang tinggi.
Lain lagi yang terjadi di Istana Kerajaan Dunia Biru, para pejabat tinggi termasuk Raja dan jajaran pembantunya, Para Menteri dan Panglima berkumpul di aula persidangan dengan wajah cemas terutama sang Raja Dunia Biru, Raja Chen.
Dentuman suara yang terjadi telah membuat panik seluruh penghuni Kota raja demikian juga suara itu menembus dinding istana, maka begitu sduara pertama dari dentuman pertempuran itu, aula istana sudah diserbu oleh para pejabat penting istana Kerajaan Dunia Biru, mereka sudah berdiskusi, langkah apa yang akan mereka perbuat.
Namun Raja pun belum mengambil keputusan, dia hanya mengatakan bahwa sebaiknya menunggu, kemungkinan suara pertempuran ini akan menarik reaksi dari para penghuni Manor Langit.
Kembali ke Manor Langit,
“Semuanya, kembali ke kegiatan masing-masing, kita tidak perlu mengambil tindakan apapun”, suara wanita yang dalam bergema sampai ke kaki gunung bagian komplek penghuni pelayan pelataran.
Mendengar suara itu serentak semua Pelayan Inti menarik nafas lega, mereka menduga bahwa leluhur telah mengambil tindakan dan mengusir musuh yang kuat.
Dalam pelukan ibunya, Han Long telah berpindah tempat, Thian Sian Li pun tidak mengenal tempat ini,
“Dimana ini?”, katanya dalam hati, dia lalu menengok wajah putranya yang sangat pucat tanpa darah yang mengalir, bibirnya sudah membiru, tapi tubuh putranya sangat panas.
“Aku akan memeriksa tubuh anak ini, berikan dia padaku”, sebuah suara lembut muncul dari belakang tubuh Thian Sian Li, Thian Sian Li memutar tubuhnya dan dia melihat wanita yang wajahnya tertutup cadar tipis, dan wajah wanita ini terlihat samar, tidak ada senyum atau raut wajah yang menandakan reaksi emosinya, hanya datar-datar saja.
Dengan ragu-ragu Thian Sian Li berdiri dan melepaskan pelukannya pada tubuh Han Long, anehnya tubuh Han Long tidak terbanting ke tanah, seperti tertahan oleh kekuatan yang tidak tampak.
Wanita itu menghampiri tubuh Han Long yang panas, dengan tenang dia mengangkat tubuh itu dengan energi yang tidak tampak sehingga tubuh Han Long seperti melayang, dan tubuh itu bergerak mengikuti wanita tersebut yang berjalan meninggalkan Thian Sian Li, dan Thian Sian Li pun akhirnya memburu wanita itu di belakang tubuh Han Long yang melayang mengikuti tubuh wanita itu yang terus berjalan dengan langkah anggun dan tenang.
Wanita itu berhenti pada sebuah lubang goa yang terdapat di kaki gunung wilayah itu, lalu dia menggerakkan tangannya seperti menyapu, dan kemudian dia masuk ke lubang goa itu, dimana diameter lubang itu sekitar dua atau tiga meter.
Menyusuri jalan setapak yang terdapat di dalam goa yang gelap bagi wanita itu melangkah biasa, dia mengenal liku-liku kedalaman goa tersebut, sampai masuk kira-kira dua ratus meteran, maka ruang goa itu melebar dan menjadi luas.
Wanita itu menjentikkan jarinya maka, ada sepercik sinar yang melesat dari jarinya dan,
Byarrr…,
Ruangan goa itu menjadi terang karena kini ada api terang di setiap sudut ruangan gua tersebut.
Di tengah-tengah ruangan goa itu ada telaga kecil, dan ditengah-tengah telaga itu ada sebuah lempengan berbentuk plat altar yang terbuat dari batu berdiameter sekitar empat meter, dan tubuh Han Long melayang mendekati altar batu tersebut, tanpa menimbulkan suara tubuh Han Long mendarat dengan lembut.
“Buka seluruh pakaian putramu, biarkan dia menyerap energi yang akan mendinginkan tubuhnya”, kata wanita itu, dan wanita itu berbalik untuk meninggalkan ibu dan anak itu.
“Budi tetua akan selalu kuingat, aku yang rendah ingin tahu siapakah yang mulia ini?, Tanya Thian Sian Li.
“Kalian berada di Benua Ketiga, dan ini adalah tempatku, aku akan membiarkan putramu di altar suciku, hanya itu yang dapat kulakukan, selamat atau tidak tergantung pada dirinya sendiri”, kata wanita itu lalu,
Wuuussshhh…!!!
Wanita itu sudah menghilang, tinggal Thian Sian Li yang masih disisi telaga, dia menggenjot tubuhnya, dan tubuh Thian Sian Li melayang dan mendarat dimana Han Long terbaring.
Thian Sian Li segera mengerjakan apa yang sudah diperintahkan oleh wanita tadi, dia melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Han Long, hanya bagian sensitif Han Long yang masih tertutup oleh selembar kain tipis.
Thian Sian Li pun lalu mengambil sikap bersemadi dan mengatur nafasnya serta memejamkan matanya.
Pada sebuah sudut ruangan goa itu sosok wanita cantik, bahkan sangat Cantik itu menatap apa yang dilakukan oleh Thian Sian Li, kepala wanita itu terkadang menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas halus dari hidungnya, kemudian dia pun lenyap dari sudut ruangan goa tersebut.
Pada Keesokan harinya rombongan Kam Lin tiba di kotaraja Dunia Biru, dia dengan kawan-kawannya memasuki gerbang kota dari arah selatan juga, setiap penjaga yang menjaga benteng menundukkan kepala dan memberi penghormatan militer pada Chen Ciao Pit, dan aksi para penjaga ini menjadi poin penting bagi Kam Lin dan kawan-kawannya, mereka menebak bahwa kawan mereka memiliki pangkat yang tinggi di kemiliteran juga, bukan hanya sekedar seorang bangsawan dengan status pangeran dari Kerajaan Dunia Biru.
”Saudara Chen, apa jabatanmu di kemiliteran?”, tanya Wang Jie penasaran.
”Oh aku tidak memiliki jabatan penting, hanya seorang perwira menengah”, kata Chen Ciao Pit
”Oh kukira pejabat tinggi militer”, kata Wang Jie kembali.
”Sebaiknya kalian menginap di tempat ku, daripada kalian menginap di tempat penginapan yang belum tentu kebersihannya terjaga”, kata Chen Ciao Pit menawarkan jasa.
Oleh ketiga kawannya saran itu disetujui, sekalian mereka ingin tahu siapa Pangeran ini.
Langkah keempat pemuda dan pemudi itu menuju ke arah Istana Kerajaan Dunia Biru.
Disepanjang perjalanan yang mereka tempuh banyak kabar beredar, yang intinya ada keributan besar yang berlangsung kemarin, yaitu sebuah pertempuran yang menghancurka banguan di sebelah barat kota Awan Ungu, dan akibat pertempuran itu hanya menyisakan setumpuk debu yang membukit tanpa ada puing atau bongkahan batu, semuanya berubah menjadi debu dan abu saja, mendengar peristiwa sebesar ini bahkan para pejabat tinggi istana tidak berani keluar dari Istana, termasuk bala tentara Kerajaan yang terdiam tanpa adanya pengerahan pasukan, bahkan hegemoni Manor Langit pun tidak bereaksi.
Berita-berita yang didengar keempat pemuda itu bahkan lebih dahsyat lagi, bahwa pertempuran itu berlangsung dengan perubahan awan di sekitar arena pertempuran, bahkan ada pula yang menambahkan terlihatnya sosok binatang raksasa yang menjadi tunggangan para dewa yang melakukan pertempuran besar.
Chen Ciao Pit membawa rekan-rekannya langsung memasuki kedalaman komplek istana, dimana dia memiliki sebuah istana di sebelah timur dari Istana Kerajaan, setelah sampai keempat anak muda itu disambut oleh para pelayan istana Pangeran Chen Ciao Pit, dan Pangeran Chen Ciao Pit memberi perintah untuk menyiapkan akomodasi bagi kawan-kawannya.
Kam Lin dan kawan-kawan sempat takjub akan kemegahan Istana Kerajaan Dunia Biru, ternyata kerajaan ini sangat besar dan megah dibandingkan setiap bangunan yang terdapat di benua mereka, Benua Khui Ning.
Waktu berlalu, dan peristiwa di kota sebelah barat kota Awan Ungu akhirnya mereda dengan sendirinya, dan Manor Langit pun tidak ada aktifitas luar biasa, karena tidak ada perintah yang dikeluarkan oleh Putri Langit sebagai pemegang otoritas tertinggi.
Dan di Kerajaan Dunia Biru pun, kembali kepada aktifitas seperti biasa, disini Kam Lin dan kawan-kawannya baru tahu kalau Chen Ciao Pit adalah seorang Pangeran yang sangat berpengaruh di istana ini, dia banyak bersahabat dengan para Menteri yang membantu pemerintahan ayahnya, ada juga seorang pangeran yang memiliki pengaruh di kerajaan Dunia Biru itu, Pangeran ini adalah kakak dari Pangeran Chen Ciao Pit bernama Pangeran Chen Ciao Kun yang merupakan Pangeran Ke-3 di kerajaan ini.
Perbedaan terbesar diantara kedua pangeran ini adalah Pangeran Chen Ciao Kun sangat pendiam dan misterius, segala tindakannya sedikit orang yang tahu, namun dia memiliki ambisi yang besar terlihat bahwa dirinya mengarahkan untuk menjadi Putra Mahkota, dan hal ini sangat berbeda dengan karakter yang dimiliki oleh Pangeran Chen Ciao Pit, seorang Pangeran yang ramah dan sikapnya terus terang dan sedikit terbuka, bahkan kepada ketiga kawan-kawannya yakni Kam Lin, Wang Jie dan Zhang Mei.
Perhatian Pangeran Chen Ciao Pit terhadap Kam Lin berbeda, apapun yang diinginkan oleh Kam Lin, putri tomboy klan Kam dari Benua Khui Ning ini selalu dituruti oleh sang Pangeran dan ini tidak lepas dari perhatian dari dua sahabat Kam Lin, Wang Jie dan Zhang Mei, namun mereka berdua tidak memperlihatkan perhatian itu secara terbuka, mereka takut merubah situasi karena mereka hanya sebagai tamu di kerajaan ini.