Tiga Tahun berlalu dengan cepat setelah pertempuran antara Han Long melawan leluhurnya Thian Han Ong
Di dalam kawasan gedung-gedung mewah yang dilengkapi Bangunan tinggi beberapa menara yang menembus awan di komplek pemerintahan Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung berkumpul semua anggota.
Thian Kong Jie duduk di meja persidangan, di kiri dirinya ada Bu Tek Ong diikuti oleh Hao Sin Tek, Sie In Hong dan Bu Mei Ling, dan di kanan ada Duan Wi Hong, lalu diikuti oleh Thian Lok, Thian Ming, dan Wang Kok Han.
9 orang ini berkumpul untuk membahas beberapa informasi yang harus ditanggapi dengan serius, sehubungan dengan ancaman gerakan penyusupan orang-orang dari Benua Merah, dimana sebagian kecil Pasukan Benua Merah diperkirakan akan melakukan sebuah aksi untuk merebut sumber daya energi benua Thian Agung.
”Ketua dewan, aku rasa ini hanya isu yang sengaja dilepaskan oleh pihak Benua Merah agar kita menjadi Panik”, kata Bu Tek Ong.
”Ketua Dewan, sebaiknya kita menanggapi informasi ini dengan baik, mencegah lebih baik daripada mengobati kerusakan”, kata Thian Lok.
“Ketua Dewan, beberapa tahun yang lalu ada peperangan di Benua Chong Yang, dimana ada beberapa orang yang tingkat kultivasinya terlalu tinggi untuk dihadapi oleh orang-orang dari benua tersebut sehingga menimbulkan korban ratusan ribu orang”, kata Wang Kok Han sambil matanya melirik ke arah Thian Lok secara sepintas, dimana gerakan ini ditangkap oleh anggota Dewan yang lain.
Thian Lok mengangkat kepalanya dan berkata,
“Perlu diingat kejadian beberapa tahun lalu seorang bernama Yap Kun Tek mencuri beberapa harta milik 3 sekte Benua Thian Agung, dan kini dirinya telah muncul di Benua Khui Ning, malah dia menjadi penguasa tunggal benua tersebut”, katanya sambil melirik kembali ke Wang Kok Han dan lainnya dengan tatapan lurus tanpa emosi.
“Ketua Dewan, demikian juga yang terjadi di benua Eng Hian, adanya seseorang yang mengaku sebagai utusan Benua Merah bernama Pangeran Kun, dan utusan itu berbuat sewenang-wenang, untungnya ada seorang wanita yang mengaku sebagai utusan Manor Langit dan menggagalkan rencana utusan tersebut”, Kata Sie In Hong.
“Ya ketua, di benua yang sama pula, ada pertempuran yang melampaui tingkat para kultivator di Benua Eng Hian hingga hampir menghancurkan setengah Kota Awan Ungu”, kata Hao Sin Tek.
Thian Kong Jie melirik dua kawannya yang memiliki status sebagai Ketua Sekte, yaitu Bu Tek Ong kepala Sekte Phoenix Agung dan Duan Wi Hong sebagai kepala Sekte Guntur, sedangkan Thian Kong jie sendiri sebagai Kepala Sekte Naga Agung, Thian Kong Jie berharap kedua tetua ini memiliki pendapat,
Duan Wi Hong angkat bicara,
“Saudara Ketua Dewan, untuk masalah Yap Kun Tek bisa kita kesampingkan dahulu, karena barang-barang yang diambil olehnya tidak begitu berarti bagi Sekteku demikian juga yang kudengar bagi Sekte Phoenix Agung, namun aku menyerahkan sikap pada saudara Bu Tek Ong”, katanya.
“Aku berpikir hal yang sama tentang orang bernama Yap Kun Tek, sebaiknya kita fokus pada hal yang lebih penting, yaitu keamanan dunia ini, artinya mari kita fokus akan adanya utusan Benua Merah yang mengaku sebagai Pangeran Kun itu”, kata Bu Tek Ong.
Thian Lok kembali berucap,
“Ketua Dewan, kita juga harus mewaspadai seseorang yang ikut campur pada peperangan di Benua Chong Yang, dimana ada seorang ahli yang membunuh sembilan orang kultivator tingkat Manusia Dewa dan kemungkinan tokoh ini sudah masuk pada jajaran kultivasi yang dimiliki oleh kita semua”, kata Thian Lok, kini wajahnya menyiratkan kekhawatiran, dimana dia merasa semua utusannya telah terbunuh di Benua itu.
Bu Mei Ling hanya mengerutkan kening saja, dia sudah menebak bahwa ini akan diangkat oleh Thian Lok.
“Bagaimana Tetua Thian Lok mengetahui tingkat kultivasi yang terbunuh tersebut dan tingkat pembunuhnya?”, tanya Bu Mei Ling.
Mendengar pertanyaan ini anggota lainnya juga melihat kearah Thian Lok dengan wajah ingin tahu, sementara Thian Lok sedikit terkejut awalnya, dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan dari anggota Dewan wanita itu, namun perubahan wajahnya kembali normal dan dia menjawab,
“Tidak perlu ku jelaskan bagaimana aku mengetahuinya, masing-masing dari kita memiliki orang-orang yang bertugas sebagai penyidik di masing-masing benua demi menjaga stabilitas benua itu sendiri, ya kan?”, kata Thian Lok sedikit berkilah.
Dalam beberapa tahun ini, orang-orang Bu Mei Ling sering bentrok dengan orang-orang dari Thian Lok di benua lain, dia sudah sepakat dengan Han Chen Yang yang sekarang sudah dianggap sebagai suaminya untuk mengikis kekuatan pasukan pribadi Thian Lok ini.
Alasan itu dapat diterima oleh anggota lainnya, namun kepala Thian Kong Jie sedikit menunduk seperti berusaha menyembunyikan emosinya, dan hal ini dianggap biasa oleh anggota lainnya.
“Baiklah, aku memutuskan bahwa, konsentrasi kita yang utama adalah mengawasi keberadaan utusan yang mengaku dari Benua Merah, dan menyelidiki jati diri orang tersebut, jangan mengambil tindakan karena akan membangunkan Naga yang tertidur, selanjutnya kita akan mengawasi tiga benua, yaitu Benua Chong Yang, Khui Ning, dan Benua Eng Hian, dan Saudara Thian Lok bertanggung jawab atas pengendalian serta pengaturan orang-orang di tiga benua tersebut, tanpa harus menyebutkan identitas mereka pada para penguasa daerah setempat, apakah ada saran lain?”, kata Thian Kong Jie.
“Untuk sementara itu yang terbaik”, kata Duan Wi Hong yang disetujui oleh Bu Tek Ong.
Maka pertemuan para anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung pun berakhir, masing-masing dari mereka akan kembali ke tempatnya, sedangkan Thian Lok bersama Thian Ming dan Thian Kong Jie masih tinggal, untuk membicarakan detail persiapan pasukan yang akan menempati posisi di tiga benua yang dimaksud.
“Saudari Bu Mei Ling, aku akan berkunjung ke tempatmu, kapan kau ada waktu?”, kata Sie In Hong pada rekan wanitanya, Bu Mei LIng.
Bu Mei Ling menengok rekannya dan berkata,
“baiklah, mungkin dalam tiga hari aku ada waktu, silahkan berkunjung pada tempatku”, jawab Bu Mei Ling.
Sie In Hong menganggukan kepalanya, dia pun lalu pergi keluar ruang rahasia pertemuan anggota Dewan Keadilan Tertinggi tersebut, yang diikuti oleh Bu Mei Ling.
Kini penampilan Bu Mei Ling lebih cerah, wajahnya makin cantik, dan temperamennya berubah, biasanya dia cerewet dan banyak bicara sekarang dirinya terlihat lebih tenang dan anggun, dengan wajah cerah dia memasuki gedung menara pribadinya yang jaraknya dari Aula Pertemuan Rahasia sekitar dua ribu meter, ketika dia masuk,
“Ibu, kenapa begitu lama?”, suara bocah lelaki yang gemuk sekitar 8 tahunan menghampiri Bu Mei Ling dengan wajah cemberut lucu.
“Aiiihhh… Tiong er, apakah itu terlalu lama?, biarkan ibu beristirahat dulu”, kata Bu Mei Ling dengan wajah ceria, ada rona kebahagiaan ketika dia melihat anak kecil ini yang memanggilnya ibu.
Pada delapan tahun lalu di menara Bu Mei Ling, hadir seorang bayi merah yang di pangku di tangan Bu Mei Ling, dan Bu Mei Ling mengumumkan bahwa dia mengangkat anak ini sebagai anaknya sendiri dan diberi nama Bu Chen Tiong, kabar mendadak ini diterima oleh warga Benua Thian Agung dengan berbagai reaksi dan rumor, namun Bu Mei Ling tidak memperdulikannya, dia merawat anak lelaki itu hingga sekarang.
Anak ini berkulit putih bersih dan menggemaskan, selalu ada senyum di bibirnya dan matanya bersinar terang serta jernih, anak umur 8 tahunan ini sudah mencapai tingkat kultivasi Manusia Suci ke-8 Puncak, dan memiliki kekuatan Teknik Beladiri warisan dari Bu Mei Ling sendiri dan dibantu oleh sosok misterius yang selalu mengunjunginya secara rahasia.
Wajah anak ini sebenarnya mirip dengan wajah Bu Mei Ling, sehingga anak ini terlihat tampan, dan memang sebenarnya adalah anak kandung dari Bu mei Ling dengan Han Chen Yang, namun demi keselamatan anak tersebut maka identitas anak ini hanya disebutkan sebagai anak angkat Bu Mei Ling, Han Chen Yang sendiri selalu datang mengawasi pertumbuhan Bu Chen Tiong dan melatih anak tersebut dengan tingkat kultivasi dan Teknik Beladiri kelas tinggi, dengan sendirinya pertumbuhan anak ini diawasi langsung oleh orang tua kandungnya sendiri, dan hal itupun sudah diketahui oleh Bu Chen Tiong tentang identitas aslinya, dan kejeniusan anak ini di atas rata-rata anak seusianya, baik daya tangkap maupun cara menganalisa setiap masalah, dengan pengertiannya dia dapat mengerti maksud orang tuanya untuk menyembunyikan rahasia dirinya.
“Ibu, ada ayah didalam”, Kata Bu Chen Tiong sedikit berbisik, sambil tangan kecilnya menarik tangan lembut Bu Mei Ling ke arah dalam.
Bu Mei Ling tidak menyangka bahwa hari ini dia menerima orang yang selalu dirindukannya, karena Han Chen Yang akhir-akhir ini jarang datang, sulit untuk ditentukan kedatangannya, karena ada masalah dalam diri Han Chen Yang, sehubungan dengan energi kultivasi yang dimilikinya yaitu gabungan energi Merah dan Energi Biru yang dia dapatkan dari Lembah tengkorak.
Energi ini sering mempengaruhi diri Han Chen Yang, dia sering bertindak diluar kontrol dirinya, maka kalau energi ini sudah kumat maka Han Chen Yang akan menghilang pergi entah kemana, dan Bu Mei Ling menyadari hal ini, bahwa suaminya masih bergelut dengan energi yang sangat dahsyat yang menaikkan tingkat kultivasinya dengan cepat.
Namun sekarang ini suaminya merasa ada sesuatu yang menjadi masalah tambahan bahwa tingkat kultivasinya macet di Raja Dewa ke-7 Puncak, dan Han Chen Yang pernah mengungkapkan bahwa tingkat selanjutnya seperti terkunci dan terhalang oleh sebuah dinding yang sangat tebal sehingga dia berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya, selain pengaruh energi dalam tubuhnya juga kemacetan tingkat kultivasinya.
Dengan tergesa-gesa, ibu dan anak itu masuk kebagian dalam ruangan, dan di tempat rahasia dalam menara itu ada seorang pria tampan yang duduk dalam posisi kultivasi, warna kulit di wajahnya sering berubah-ubah warna antara biru dan merah, kedua energi ini seperti berebutan menguasai tubuh pria itu.
Han Chen Yang tahu kedatangan Bu Mei Ling dan anaknya, namun saat ini dia masih berkonsentrasi untuk mengendalikan energi di dalam tubuhnya.
Setelah beberapa saat keduanya menunggu, pernafasan Han Chen Yang menjadi teratur, dan warna pada kulit tubuh dan wajahnya kembali normal kembali, dan saat mata Han Chen Yang terbuka, ada senyum di wajah tampannya, kedua tangannya terbuka untuk memeluk ibu dan anak itu.
Bu mei Ling dengan gembira melompat pada pelukan Han Chen Yang dengan segera, dan gerakan itu tidak diikuti oleh Bu Chen Tiong, yang masih berdiri sambil mengerutkan keningnya dengan wajah cemberut.
“Ibu dan ayah sebaiknya aku pergi dulu, aku akan bermain keluar dari menara ini, nanti setelah selesai urusan ibu dan ayah, tinggal panggil saja”, kata Bu Chen Tiong, sambil dirinya hendak keluar, kedua orang itu terkejut mendengar ucapan anak tanggung ini, tiba-tiba keduanya tertawa terbahak-bahak, dan keduanya bangit berdiri lalu secara bersamaan memeluk tubuh bocah tanggung tersebut dan menciumi wajah bocah itu.
“Sudah ayah, ibu, aku tahu diri, nikmati waktu kalian, aku pergi”, kata Bu Chen Tiong sambil melepaskan diri dari pelukan kedua orang tuanya, dengan cepat keluar dari ruangan itu.
Beberapa jam berlalu dengan cepat, pada keesokan paginya, Bu Mei Ling memanggil putranya di gedung menara pada ruang rahasia.
“Ting er, aku memanggilmu hanya ada satu alasan bahwa aku, ayahmu sudah menerima murid yang sekarang mereka ditempatkan di Sekte Guntur , dan aku bermaksud mengirimmu kesana juga, namun kau harus ingat untuk tidak membuka identitasmu termasuk pada murid yang dibawa olehku, disana kau akan tahu siapa mereka, hanya seorang gadis muda yang kuanggap sebagai murid langsung dariku, dan gadis ini memiliki dua orang kakak”, kata Han Chen yang menjelaskan.
“Ayah, apa yang harus kulakukan disana, aku bingung kalau harus berlatih dan berkultivasi disana, apa bedanya aku berlatih disini?”, kata Bu Chen Tiong serius, dia belum memahami maksud ayahnya.
“Ini berhubungan dengan rencana ayah di masa depan, seiring waktu kau akan mengerti, untuk saat ini kau ikuti saja rencana itu, dan aku sebagai ibumu akan selalu mengawasimu”, kata Bu Mei Ling dengan tatapan lembut, karena dia juga tadinya menentang rencana suaminya itu, dia tidak mau dipisahkan oleh putra satu-satunya ini.
“baik Ibu dan ayah, kapan aku berangkat, dan bagaimana cara aku masuk?, karena untuk diterima di dalam sekte itu tidak semudah bayangan kita”, kata Bu Chen Tiong dengan mata menatap tajam ke arah kedua orang tuanya.
“Semua sudah kuatur, kau tinggal datang dan menyatakan kehadiranmu disana”, Kata Bu Mei Ling lagi.
Bu Chen Tiong mengangguk tanda dia mengerti, sebagai anak yang hidup di Menara salah satu tokoh anggota Dewan Keadilan Tertinggi di Benua Thian Agung ini, wajar bila pendidikan yang diterima berbeda dengan kebanyakan anak seusianya di luar sana, dia sudah mengenal intrik dan politik di benua ini, apalagi ibunya memiliki kedudukan yang tinggi, melalui pengamatan matanya yang cerdas, dia sedikit demi sedikit mengerti akan segala tindakan dan perilaku setiap orang yang berdatangan di menara ibunya ini.
Tiga hari kemudian, seorang tamu wanita berkunjung ke gedung menara Bu Mei Ling, dia adalah Sie In Hong, yang merupakan Nenek dari Han Chen Yang.
Han Chen Yang sebelumnya sudah diberitahu tentang akan berkunjungnya Sie In Hong, dan Han Chen Yang berkeputusan menghindari pertemuan dengan nenek sekaligus gurunya, dan dia pergi sehari sebelum kedatangan neneknya ke tempat Bu Mei Ling, demikian juga Bu Chen Tiong sudah berangkat ke Sekte Guntur, jadi Sie In Hong hanya dihadapi oleh Bu Mei Ling saja.
Ada wajah kecewa tersirat di wajah cantik Sie In Hong, wanita ini ingin melihat Bu Chen Tiong, namun yang dimaksud tidak berada ditempat.
Namun Sie In Hong tidak mengungkapkan kekecewaannya, dia akan menyelidiki sendiri ke Sekte Guntur kelak, yang lebih utama adalah meyakinkan dirinya atas kecurigaannya pada Bu Mei Ling tentang cucunya, atas penyelidikan dari orang-orangnya,
”Saudari Mei Ling, aku langsung ke pokok masalah, apakah kau pernah bertemu dengan cucuku?”, tanya Sie In Hong.
”Adik In Hong, pertanyaanmu aneh?, bagaimana aku menjawabnya?”, balas Bu Mei Ling.
”Tidak usah berpura-pura, aku mengucapkan terima kasih jika kau melindunginya, akupun tahu kau tidak leluasa mengungkapkannya, namun satu hal harus kau tahu, selama itu berkaitan dengan keselamatan cucuku, aku siap membantumu”, tegas Sie In Hong.
Bu Mei Ling terdiam, dia tidak segera bereaksi, dia hanya menarik nafas panjang dan lembut.
”Aku pamit saudari Mei Ling, ingat beri kabar secepatnya, aku tahu di Benua ini ada penyusup, dan cucuku hanya korban, dan sebaiknya kau menemui kakak Thian Kong Jie”, kata Sie In Hong sambil beranjak dan tersenyum misterius saat mengucapkan kata Thian Kong Jie.
Di Tempat lain di Sekte Guntur, ada tiga bersaudara di kedalaman komplek sekte ini, mereka adalah Duan bersaudara, namun sekarang mereka menggunakan marga An.
An Wu Hong, An Ling dan An In Mey, sekarang adalah anggota Sekte Guntur, mereka dapat masuk atas upaya Bu Mei Ling atas permintaan suaminya Han Chen Yang.
Seperti yang diprediksi oleh Han Chen Yang, tiga bersaudara ini ketika memasuki benua Thian Agung, berturut-turut kultivasi mereka langsung melesat, kini mereka bertiga telah masuk pada tingkat Kultivasi Manusia Suci ke-8 lanjutan dan Puncak bagi An Ling dan An Wu Hong, yang mengejutkan adalah tingkat kultivasi An In Mey yang melesat sehingga melewati kedua kakaknya dan An In Mey pada tingkat kultivasi Manusia Suci ke-9 Lanjutan pada usia 19 tahun.
Ada seorang anak tanggung berusia 8 tahunan yang diterima sebagai ‘murid dalam’ di Sekte Guntur, anak ini diperkenalkan dengan nama Bu Chen Tiong, dia adalah anak yang memiliki tubuh istimewa, di usianya yang baru 8 tahun sudah memiliki tingkat kultivasi Manusia Suci ke-8 Puncak, tingkat yang termasuk anak jenius bila dibandingkan dengan usianya, yang sama dengan seorang pemuda yang baru beberapa tahun disitu, yakni An Wu Hong.
“Hei adik yang lucu, aku An In Mey, kita sekarang bertetangga”, sapa An In Mey.
“Aku An Ling, aku tahu namamu adik, tapi aku suka memanggilmu adik Tiong, ya kan?”, kata An Ling.
“Terserah kakak-kakak cantik saja, mau memanggilku apa, asal jangan memanggil ku ‘babi’, karena tubuhku sedikit gemuk”, jawab Bu Chen Tiong, sambil tersenyum.
Yang disambut tawa berderai dari dua gadis cantik itu, yang melihat betapa lucunya sikap Bu Chen Tiong.
Di tempat lain di benua kecil yang terpencil Benua Chong Yang, khususnya di Kota kecil Yang In, warga disana menerima kedatangan serombongan tamu-tamu yang tidak diharapkan kedatangannya, mereka adalah rombongan Pangeran Kun dan ibunya, Mo Eng, kali ini mereka datang ke kota itu dengan maksud menguasai wilayah tersebut atas perintah Kui Lok Mo, Penguasa Benua Merah.
Seorang pemuda berusia 24 tahunan maju ke depan, dan berkata,
“Hari ini !, saat ini juga!, aku mau melihat para tetua kepala klan ternama, Klan Coa, Klan Meng, Klan Tang, Klan Cui dan Klan Han tampil di hadapanku segera, jika dalam beberapa waktu tidak hadir aku akan menghancur klan yang tidak memenuhi undangan ini”, suara yang dikeluarkan dengan tenaga yang kuat itu, bergema di seluruh penjuru kota Yang In, dimana asal suara itu dari tengah-tengah alun-alun kota.
Betapa terkejutnya seluruh warga yang saat itu sedang mengerjakan tugas rutin mereka masing-masing, termasuk para kepala keluarga dan tetua karena hari masih pagi, berita langsung menggelegar ke seluruh penjuru kota.
menjelang siang hari, berduyun-duyun warga kota Yang In, berdatangan ke alun-alun kota dengan berbagai reaksi, demikian juga para keluarga klan ternama bersama Tetua dan Kepala klan mereka masing-masing.
“Coa Kun apa maksudmu, kau sudah kelewatan tidak memandang klan yang membesarkanmu?”, Kata salah satu sesepuh klan Coa.
Coa Kun melirik ke arah datangnya suara itu, dan
“Hem..!”, keluar dengusan dari hidungnya, maka tetua klan Coa itu terdiam seketika, dan roboh dengan darah yang keluar dari lubang hidung, telinga dan mulutnya, dia sudah tidak bernyawa lagi, padahal tingkat kultivasinya sudah mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-2, melihat situasi itu, yang lain hanya terdiam, tidak berani bersuara lagi.
“Ada lagi yang berani?, perlu kutegaskan lagi, namaku Pangeran Kun dari Benua Merah,dan sekarang atas otoritas guruku, aku mengumumkan bahwa Kota Yang In berada di bawah kekuasaan Benua Merah, dan aku menunjuk ibuku sebagai penguasa Tunggal kota ini.” Kata Coa Kun dengan angkuh sambil tubuhnya berputar berkeliling.
Kepala klan Han, Han Wi Teng melangkah maju, dan berkata, ”apa artinya kota kecil ini?, mengapa harus kau peduli pada daerah yang tidak berarti ini?”, kata Han Wi Teng dengan kening berkerut, dia menyadari bahwa junior ini memiliki tingkat kekuatan yang jauh diatasnya, namun dia memberanikan dirinya untuk mengetahui secara jelas maksud penguasa Benua Merah ini.
“Hmmm…, Klan han…, jika aku tidak dipesan oleh penguasa Benua Merah sudah lama aku akan melenyapkan klan ras manusia ini, itu bukan urusanmu!, ingat semuanya, jangan pernah bertanya hal-hal kosong lagi jika kalian masih sayang pada nyawa kalian”, Kata Coa Kun lagi, sambil tubuhnya berjalan-jalan dan matannya menatap ke semua orang.
Seorang wanita matang dengan pakaian terbuka dan berbahan tipis maju melangkah, dia Mo Eng ibu Coa Kun dan berkata,
“Baik, jika tidak ada lagi, kalian akan bubar, dan aku membutuhkan gedung klan Coa sebagai tempat tinggalku sekarang, dan orang-orang ku akan kutempatkan di kota ini dan mereka harus kalian terima dan layani, siapkan tempat tinggal bagi orang-orangku dan penuhi segala keinginan mereka”, kata Mo Eng dengan nada dingin menusuk.
Mendengar hal itu banyak kepala Klan mengerutkan kening mereka, sebenarnya mereka keberatan dengan apa yang diucapkan oleh bekas istri Coa King Hun ini, namun apa boleh buat, kekuatan mereka sangat kecil sementara kelompok Benua Merah demikian kuat, para kepala klan ini tidak dapat mengetahui tingkat kultivasi dari pasukan yang dibawa oleh Coa Kun yang berjumlah sekitar seribu orang ini, itu artinya tingkat terendah dari pasukan ini di atas mereka, para kepala klan.
Saat semuanya bubar, beberapa anak muda maju ke depan,
“Tuan Muda Kun, masih ingatkah kau padaku?”, ujar seorang gadis manis yang kulitnya sedikit gelap namun terlihat cantik karena warna kulit itu terlihat terpelihara dan eksotis.
“Dan juga padaku Tuan Muda Kun?”, kata seorang pemuda.
“Hm, kalian pikir aku pelupa dan bodoh, Meng Li, Cui Man Ek!, mulai sekarang kalian akan mengikutiku, dan aku akan membuat kalian menjadi seorang kultivator yang kuat”, kata Coa Kun dengan dingin.
“Terima kasih Tuan Muda Kun”, kata keduanya serempak.
“Tahan pemuda itu!” Seru seorang wanita di belakang Coa Kun, yang ternyata Mo Eng dengan jari telunjuknya menunjuk seorang pemuda dari klan Han yang berjalan sambil menundukkan wajah.
Pemuda yang dimaksud itu terkejut lalu menoleh kebelakang, dia tidak menyangka akan ditunjuk oleh Mo Eng.
“Apa salahku?, aku tidak melakukan apa-apa”, Kata Pemuda itu.
“Siapa namamu?”, tanya Mo Eng.
“Aku Han Ek”, kata pemuda itu sambil wajahnya menunjukkan kebingungan.
“Kamu beruntung, mulai sekarang kamu tidak usah kembali ke klan mu, aku akan menjadikan dirimu seorang kultivator terkuat, aku tidak memintamu tapi ini perintah dariku”, kata Mo Eng.
Coa Kun hanya diam saja, sejak ibunya dijadikan pasangan kultivasi ganda oleh gurunya, Kui Lok Mo, hasrat ibunya terhadap para pemuda semakin besar, ibunya tidak pernah puas, malah dalam satu malam ibunya sengaja berkeliaran mencari para pemuda, khususnya dari Ras Manusia, sampai puluhan orang, dan pada keesokan harinya, para pemuda itu sudah menjadi mayat kering, dan Mo Eng akan terlihat segar dan tampil bersemangat, kehalusan kulit wajahnya semakin halus dan elastis, dan dirinya semakin cantik.
Bagi Coa Kun, asal ibunya senang dia pun ikut gembira, dan juga Kui Lok Mo tidak pernah mempersoalkan kesukaan baru dari ibunya ini.
Han Ek ingin membantah, namun dia tahu jika dia tidak menuruti kemauan wanita ini, hanya ada kematian yang menanti di depannya, dia bingung, dia melirik pada Han Wi Teng, kepala Klan Han yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Kepala klan Han pun tidak bereaksi, artinya semua terserah pada dirinya, Han Ek makin bingung, ketika dia melirik pada Mo Eng, dilihatnya wanita itu tersenyum manis, Mo Eng menghampiri Han Ek dengan langkah berayun menggairahkan, apalagi gaya pakaian Mo Eng memakai gaun yang bagian dadanya berpotongan sangat rendah, dan dua bulatan penuh dadanya benar-benar seperti mau melompat,
”Ikuti aku sekarang”, kata Mo Eng berbisik dekat telinga Han Ek.
Han Ek jadi jengah dan malu, karena tindakan Mo Eng disaksikan oleh banyak orang yang masih belum beranjak dari tempat itu.
Dengan kepala tertunduk, Han Ek mengekor di belakang Mo Eng dan mengikutinya.
Saat itu di Benua Khui Ning di markas Klan Yap, Coa Leng In dan Yap Ing telah keluar dari kultivasi tertutupnya, kini Coa Leng In dan Yap Ing telah menyempurnakan Teknik Beladiri dan Kultivasi yang tercantum di 12 Lembar kulit binatang kering bernama Teknik ‘Beladiri Badai dan Guntur Mencabik Semesta’ dengan didalamnya ada teknik Kultivasi ‘Energi Membelah Bintang’.
Namun mereka berdua masih kesulitan dalam Penyempurnaan Teknik Kultivasi Energi Membelah Bintang, karena menurut Leluhur Yap mereka membutuhkan sebuah pendorong suplemen, sejenis tanaman Herbal yang bernama ‘Buah Obsidian’ jadi walau mereka telah melatihnya dan berkultivasi menurut teori yang tercantum pada 12 lembar kulit binatang kering itu, namun energi yang mereka peroleh kurang sempurna namun demikian tingkat kultivasi mereka berdua sudah menembus tingkat Manusia Suci Ke-6 Puncak dan Lanjutan.
Saat keduanya keluar dari ruang kultivasi, leluhur mereka sudah menanti,
”Kalian berdua sudah menyempurnakan Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta, namun kalian belum mencapai teknik kultivasi yang sesungguhnya, aku hanya bilang bahwa kalian harus segera mencari herbal itu segera”, kata Yap Kun Tek.
”Leluhur, kemana kami harus mencari?”, kata Coa Leng In.
”Akupun tidak tahu, karena barang aneh dan mujizat seperti itu tidak mudah ditemukan, dan itu adalah tugas kalian berdua, dan aku tidak akan menyertai kalian karena aku memiliki tujuan sendiri”, kata Yap Kun Tek.
”Kakek buyut, apakah kami akan pergi berdua saja?”, tanya Yap Ing.
”Benar, kalian harus memperluas wawasan sendiri, satu hal harus kukatakan, Benua Chong Yang bukan seperti dulu lagi, ada kekuatan besar yang sekarang menguasai benua itu, dan sambil kalian berdua mencari benda Herbal, sebaiknya kalian menyelidiki benua itu”, kata Yap Kun Tek, ada rasa khawatir yang ditangkap oleh mata jeli Coa Leng In saat leluhurnya mengucapkan Benua Chong Yang.
”Kalau begitu, kami akan bersiap kembali ke Benua Chong Yang”, kata Coa Leng In.