Benua Eng Hian atau tepatnya di dalam ruangan tempat Si Tua Ong, Putri Langit duduk berhadapan dengan gurunya,
”Eng, kau harus pergi ke Benua Chong Yang, utusan Benua Merah membuat ulah sudah setahun yang lalu, gunakan kecerdikanmu, bukan hanya kekuatanmu, aku menduga si Bangkotan Lok Mo tidak sesederhana yang terlihat, kau harus hati-hati”, ujar Si Tua Ong.
”Baik Guru, akan kuingat semua pesan guru”, kata Putri Langit.
Dia lalu keluar dari ruangan gurunya setelah menerima pesan dan mempersiapkan segalanya sesuai petunjuk gurunya.
Setelah tiba, dia memanggil 20 pelayan inti dan berkata,
”Nama-nama yang kusebutkan, harus segera bersiap diri, dalam waktu 3 jam kita akan berangkat menuju Benua Chong Yang”, kata Putri Langit.
Berturut-turut disebut nama-nama pelayan yang akan segera mempersiapkan diri berangkat menuju Benua Chong Yang, dimana ada nama Phang Cui Lin juga Han Wo, dan keduanya sangat gembira mendengar hal itu, karena mereka akan pulang kampung.
Setelah semuanya siap, lengkap dengan kereta mewah Manor Langit dan dua Belas Hewan Kuda Kilin Angin sebagai penariknya, maka berangkatlah delapan pelayanan inti dan Putri Langit menuju Benua Chong Yang.
Sementara itu, di Sekte Guntur Benua Thian Agung, Ketua Sekte Duan Wi Hong mengumpulkan para ‘murid dalam’ Sekte Guntur yang jumlahnya ribuan di sebuah aula besar, termasuk Duan bersaudara dan Bu Chen Tiong yang bergabung di antara anggota berstatus murid dalam.
”Dengarkan para murid, kami Sekte Guntur sebagai sekte yang menjaga perdamaian di permukaan dunia ini, bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mengancam rusaknya ketertiban dan perdamaian tersebut, untuk hal itu, kami memerlukan tenaga sukarela untuk menjalankan misi Sekte yang akan kami kirim ke Benua Chong Yang, misi ini adalah melawan dan menggagalkan rencana apapun yang menjadi niat utusan Benua Merah yang saat ini mengacau di Benua itu, masing-masing tenaga sukarela bila dapat menyelesaikan misi akan menerima hadiah misi seperti biasa, ditambah dengan berkultivasi selama 3 bulan di kolam energi guntur, tanpa melihat tingkat kultivasi yang bersangkutan”, kata Duan Wi Hong.
Mendengar berita itu, para ‘murid dalam’ kurang antusias karena misi itu hanya ke benua kecil dan terpencil, dan hadiah yang ditawarkan tidak sebanding dengan resikonya, rata-rata para murid tahu tentang Benua Chong Yang, yaitu benua buangan atau benua sampah, barang apa yang berharga ada disana?, dan hadiah tambahannya adalah kolam guntur, dimana yang disebut kolam guntur adalah tempat kultivasi yang mengerikan, jangankan 3 bulan, diberi waktu 3 hari saja tidak ada yang tahan berlama-lama disana.
Namun suasana itu tidak berlangsung lama karena ada suara jernih seorang anak tanggung berkata,
”Kalau begitu aku akan pergi kesana”, teriak anak kecil itu, memecahkan kebisingan suara orang-orang yang saling berdiskusi.
Saat semua mata menatap seorang anak lelaki tanggung yang maju dengan langkah kaki yang meyakinkan, para murid dalam menarik napas, menggeleng-gelengkan kepala melihat bahwa anak itu tidak mengerti akan bahaya dalam menjalankan misi ini.
Semua orang melihat seorang anak tanggung berumur 9 tahun maju menghadap pada Kepala Sekte Duan Wi Hong, dan Duan Wi Hong tahu status anak lelaki tanggung itu, dia mengerti kalau anak ini bukan anak sembarangan karena tingkat kultivasi dan teknik beladiri yang dimiliki lebih kuat dibandingkan sebagian besar para murid yang menyandang status murid dalam Sekte Guntur.
beberapa orang dengan status murid dalam bergerak keluar dari kerumunan, dan berkata,
”Kami juga mengajukan diri”, kata beberapa suara yang dikeluarkan secara serempak, terlihat 3 orang maju menghampiri anak lelaki tanggung tadi sambil salah seorang dari tiga orang itu tersenyum, seorang gadis cantik 18 tahunan.
”Apa kabar adik Tiong, kami bertiga akan menemanimu”, kata An In Mey dan An Ling.
Melihat ada dua orang wanita cantik yang maju dan seorang pria gagah, beberapa murid dalam terpancing untuk ambil bagian dari misi ini,
”Aku juga ikut”, kata yang lainnya susul menyusul, maka sekitar 20 orang maju, termasuk Bu Chen Tiong dengan 6 diantaranya wanita, termasuk An In Mey dan An Ling.
”Baiklah, misi ini adalah menjaga agar warga benua itu terhindar dari pemusnahan, yang harus kalian lakukan adalah selama 3 bulan kalian hanya mengamati, atau melawan antek-antek dari utusan Benua Merah dan menggagalkan setiap rencana mereka, hindari konfrontasi yang mengakibatkan peperangan besar”, kata Duan Wi Hong sambil matanya mengitari kedua puluh peserta misi, dia mengangguk-anggukan kepalanya, bahwa misi ini tidak terlalu sulit karena rata-rata yang mengajukan diri pada tingkat kultivasi Manusia Suci ke-7 sampai ke-9.
Duan Wi Hong maju selangkah dan berkata,
”Dan kalian diberi kebebasan memilih senjata apapun baik tingkat dan kelas senjata yang merupakan alat pertahanan diri kalian, hanya satu buah yang menjadi hak kalian dan itu adalah milik kalian tidak boleh lebih”, kata Duan Wi Hong, mendengar hal itu, para murid yang menyatakan menyesal tidak ambil bagian dalam misi hanya bisa mengeluh tanpa akhir, sedangkan mereka yang menerima tersenyum lebar, karena koleksi senjata yang dimiliki sekte rata-rata adalah senjata tingkat Dewa kelas sempurna yang harganya selangit.
Dengan gembira, 20 ‘murid dalam’ ini menerima kabar tersebut, apalagi setelah mereka dipersilahkan menuju gedung gudang senjata, dimana An In Mey memilih sebuah busur lengkap dengan lusinan anak panah, sedangkan An Ling memilih sebuah pedang pendek berwarna perak, dan An Wu Hong memilih senjata Tombak Panjang berwarna hitam.
Ketiganya dengan gembira membawa senjata-senjata tersebut, namun ketika mereka melihat Bu Chen Tiong, ditangannya hanya ada pisau kecil seukuran telapak tangan orang dewasa saja, dengan lincah dia menggerak-gerakan pisau itu seperti menebas kekiri dan kekanan
”Adik Tiong, kenapa kau memilih senjata sekecil itu?”, tanya An Ling penasaran.
Wajah Bu Chen Tiong berkerut dengan senyum masam,
”Senjata-Senjata yang lain terlalu berat dan besar, tidak sesuai dengan tubuhku”, jawaban spontannya ini sudah diduga oleh lainnya.
”Dengan senjata sekecil itu, bagaimana kau mempertahankan nyawamu dari serangan musuh?”, tanya An In Mey.
Bu Chen Tiong tersenyum malu, dengan suara berbisik, dia mendekatkan kepalanya pada ketiga bersaudara itu katanya,
”Dengan berlari”, jawabnya pasti dan meyakinkan.
Jawaban ini membingungkan bagi An Wu Hong.
”Apakah kau memiliki teknik meringankan tubuh tingkat tinggi untuk menghindari serbuan musuh?” tanya An Wu Hong serius.
Bu Chen Tiong mengerutkan kening,
”kenapa harus tingkat tinggi?, maksudku sebelum musuh datang aku akan berlari sejauh mungkin dari musuh itu”, jawabnya dengan muka serius, dan dibalas oleh dua saudara perempuannya dengan cekikikan.
An Wu Hong hanya bisa menggaruk kepala tanpa gatal.
“Adik Tiong jika demikian, engkau jangan terlalu jauh dengan kami jika seandainya terjadi pertempuran disana, dan lebih baik kau selalu bersama kami, karena kami lebih mengenal Benua itu”, kata An In Mey.
Bu Chen Tiong mendengar omongan An In Mey, namun kemudian mengerutkan keningnya dan berkata,
“Kakak-kakak cantik, kalian terlalu mengkhawatirkan aku, tapi aku tidak keberatan atas perlindungan para kakak, namun jika aku di belakang kalian maka aku sebenarnya tidak terlalu bebas, jika mengekor pada kalian bertiga dan akhirnya aku tidak bisa bermain sepuas hatiku”, kata Bu Chen Tiong.
An Ling yang mendengar ucapan bocah ini dan berkata,
“kami tidak akan membatasimu kalau situasinya memungkinkan, hal ini hanya berlaku bila kami terlibat dalam perkelahian saja”, katanya.
An Wu Hong pun maju, dia seperti mau memberi penjelasan tapi dalam hatinya dia takut terlihat bodoh di mata anak ini,
“Bocah Kecil, kita kesana bukan untuk bermain, tapi mengawasi, jadi disana kita harus melaksanakan tugas, apa kau pikir disana arena bermain?”, Kata An Wu Hong.
“Maafkan aku kakak, bukan karena aku tidak mengerti tentang tugas dan kewajiban, tapi aku kan masih kecil, jadi bermain adalah tugasku juga”, kata Bu Chen Tiong menatap An Wu Hong dengan mata polos.
“ya ya ya, kamu bebas bermain tapi jangan terlalu jauh dari kami”, kata An In Mey dengan lembut.
“Kalau begitu aku suka, tapi bagaimana kalau kalian bertiga berpisah karena menghadapi musuh yang kuat dan lebih banyak, aku harus ada di belakang siapa?, atau ikut siapa?”, tanya Bu Chen Tiong dengan polos.
Mendengar pertanyaan sepolos itu, mereka bertiga saling menatap, tidak menduga ada pertanyaan anak-anak seperti ini, tadinya mereka bingung harus menjawab apa, namun akhirnya,
“Kau harus ikut aku, kakakmu yang cantik ini”, kata An In Mey, dengan tersenyum, dia merasa suka dengan anak lelaki ini yang mukanya sangat lucu menggemaskan.
Setelah semua persiapan dilakukan, 20 ‘murid dalam’ Sekte Guntur berangkat menuju benua Chong Yang dengan menggunakan kereta besar yang ditarik oleh Kuda Kilin Angin yang dapat melompat ribuan meter, dalam sekali hentakkan kakinya.
Apa yang terjadi di Benua Chong Yang atas tindakan Coa Kun, sebenarnya telah diketahui oleh pihak yang merasa berkepentingan terhadap keberadaan benua tersebut.
Para penyidik dari Benua Thian Agung selalu memberikan informasi pada para atasan mereka, demikian juga para penyidik benua lainnya, sekalipun ada jarak jutaan kilometer dari masing-masing benua namun di dalam dunia kultivasi ini bukanlah sesuatu yang sulit, kontak jiwa dan teleportasi melalui formasi yang di bangun dimasing-masing benua, memudahkan transportasi dan komunikasi masing-masing orang yang berkepentingan.
Bagi para kultivator di bawah tingkat Manusia Dewa, mereka masih memerlukan tunggangan, namun pada tingkat Manusia Dewa mereka akan berteleportasi dengan membuat formasi perpindahan fisik melalui bantuan beberapa kristal yang digerakkan oleh energi kultivasi mereka masing-masing, namun untuk kultivator yang sudah mencapai tingkat Raja Dewa, hanya dengan pikiran mereka saja, mereka sudah bisa pindah sendiri sesuai dengan apa yang diinginkan, namun tidak terlepas juga dari penguasaan kategori Teknik jiwa seperti apa yang mereka olah dan kuasai.
Di dalam ruangan rahasia Menara kediaman Bu Mei Ling, anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, muncul sosok wanita muda nan anggun, sosok ini bagaikan peri surgawi tidak ada cacat di sekujur wajah dan tubuhnya, sosok ini sangat transenden dan suci, bentuk tubuhnya sangat sempurna, sosok ini hanya dibalut oleh kain berwarna putih yang sangat lembut sehingga benar-benar menempel di tubuhnya dan mengikuti lekuk tubuh yang sempurna tersebut.
Dengan bebasnya, wanita muda ini memasuki ruangan rahasia Bu Mei Ling tanpa ragu-ragu, dia seperti sudah terbiasa keluar masuk ruangan yang sebetulnya milik anggota Dewan Keadilan Tertinggi.
Bibirnya yang ranum berwarna merah muda tanpa pelapis bibir, benar-benar alami, sorot matanya tajam dengan bulu mata lentik berwarna hitam sehingga menambah daya tarik setiap lelaki yang melihatnya, namun mata itu tersimpan wibawa yang membuat setiap orang tidak akan bertahan lama.
”Mei Ling, kemarilah!”, kata wanita itu.
Bu Mei Ling saat itu dalam posisi kultivasi, betapa dia terkejut mendengar suara yang memanggil dirinya,
”Guru…!”, Bu Mei Ling langsung terbangun, tanpa menunda waktu dia langsung berdiri dan bergerak ke arah suara itu.
Dan kemudian di ruangan itu pun sudah berdiri sosok pria yang entah muncul dari mana, lalu bersujud pada sosok wanita ini, pria ini adalah Kepala Sekte Phoenix Agung, Bu Tek Ong.
”Guru, terimalah hormat kami”, kata mereka berdua.
”Dimana saudara mudamu?”, kata wanita cantik itu.
Bu Tek Ong menjawab,
”Adik Wang akan segera datang”.
Dan sebagai balasannya,
”Guru, maafkan keterlambatanku”, sosok pria lain datang, dia adalah Wang Kok Han anggota Dewan Keadilan Tertinggi juga.
”Baiklah semua sudah disini”, kata Wanita Cantik ini.
”Murid-muridku, sengaja kukumpulkan kalian di tempat Mei Ling, para bangkotan tua itu sudah membuat ulah lagi, aku ingin kalian waspada, ribuan tahun lalu aku meninggalkan benua ini akibat ulah mereka, kini mereka melalui keturunannya masing-masing sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila, terutama kegilaan si tua Lok Mo”, wanita ini berhenti sejenak, mengatur nafas.
”Ratusan tahun lalu, aku menyuruh kalian pergi dari Benua Ketiga agar kalian menetap di Benua ini dengan satu tujuan, agar kalian menyiapkan kondisi seperti yang akan terjadi sekarang ini, tempat ini kemungkinan akan jadi sasaran ulah si Lok Mo tua itu, muridnya ternyata lebih gila dan ambisius, mereka akan mulai dari Benua terkecil di ujung sebelah timur, untuk kalian bertiga, jangan sampai terungkap persekutuan kalian di depan siapapun terutama pada klan Thian”, Kata Wanita itu.
Wanita itu menatap pada ketiga muridnya, dan matanya menatap tajam kepada Bu Mei Ling, ada sedikit kerut di keningnya, dan Bu Mei Ling yang merasa tatapan gurunya aneh pada dirinya, langsung bersujud,
“Guru, maafkan aku, aku tahu kesalahanku”, kata Bu Mei Ling sambil punggungnya menyembah pada wanita di depannya sampai tersungkur, kedua pria di sebelahnya, terkejut melihat tindakan Bu Mei Ling.
Bu Tek Ong melirik pada Bu Mei Ling,
“Adik ada apa ini?, kenapa kau meminta maaf pada guru?”, tanyanya.
Bu Mei Ling tidak berani mengangkat wajahnya, dia tetap pada posisinya, sedangkan wanita misterius di depannya kembali pada roman wajah sebelumnya,
“Siapa Pria itu?, apakah aku mengenalnya?”, tanya wanita itu.
“Ya guru”, jawab Bu Mei Ling.
“Dimana anakmu?”, tanya wanita itu lagi
“Dia menyusup di Sekte Guntur”, jawab Bu Mei Ling.
“Mei Ling, dari aroma energi badanmu kau berhubungan dengan pria berbahaya,dia terkena energi terkutuk dari Lembah Tengkorak, kalau dibiarkan pria itu akan mati dalam sepuluh tahun”, kata wanita tersebut sambil menarik nafas.
“Dan anakmu akan menerima akibat ketika anak itu mencapai usia 21 tahun”, lanjut wanita itu lagi.
Mendengar keterangan dari gurunya, Bu Mei Ling sangat terkejut, wajahnya berubah pucat,
“Apakah ada jalan keluar masalah ini?”, tanya Bu Mei Ling penuh harap sambil mengangkat wajahnya langsung menatap wajah cantik wanita tersebut.
Wanita itu merenung, sedangkan dua pria di sebelah Bu Mei Ling, berusaha mencerna percakapan yang mereka dengar, sebagian arti dari percakapan ini mereka pahami tapi sebagian masih buram.
“Sebenarnya pria itu sudah beruntung dapat keluar dari kurungan Lembah Tengkorak, jika seandainya diriku, belum tentu dapat lolos, artinya dia mendapatkan keuntungan dari tempat terkutuk tersebut, aku dan dua kawanku yang lain yang menciptakan kurungan pada tempat itu, karena energi yang keluar dari tempat itu sangat merusak kehidupan permukaan dunia, jika pria itu dapat selamat melewati sepuluh tahun hidupnya ke depan berarti dia memiliki keberuntungan, untuk saat ini aku tidak tahu cara mengobatinya”, kata Wanita itu.
“Apakah dua kawan guru memiliki cara yang lain?”, tanya Bu Mei Ling.
“Huh, mana mungkin mereka punya, karena dua orang itu sumber masalah yang akan kita hadapi”, kata wanita tersebut, sambil wajahnya menyiratkan kekesalan.
“Apa!?, mereka adalah Thian Han Ong dan Kui Lok Mo!”, kata Bu Mei Ling dan dua saudara lelakinya bersamaan.
“Sudahlah, aku kemari akan menugaskan kalian untuk mengawasi gejolak di Benua Chong Yang, utusan Benua Merah sudah menunjukkan taringnya, dan kalian mengawasi saja tidak perlu kalian turun tangan dalam kekacauan, kalian hanya siaga bila melibatkan nyawa yang tidak berdosa di benua tersebut, karena di Benua itu, sebetulnya adalah karya kami bertiga, dan aku yang tidak rela melihat kehancuran Benua tersebut, kalian Mengerti!?”, kata Wanita tersebut yang ternyata adalah Penguasa Benua Ketiga, Bu Ling Moy.
“Baik Guru, kami mengerti apa yang seharusnya kami lakukan, namun satu pertanyaan guru, kenapa kita harus mewaspadai Klan Thian juga?, bukankah mereka sekutu kita?, sekalipun aku belum menyatakan secara terbuka misi kita kepada mereka”, kata Bu Mei Ling.
Bu Ling Moy menarik nafas panjang,
“Aku hanya menduga ada penyusup di klan Thian, dan rupanya dua kakek bangkotan itu saling merencanakan sesuatu yang lebih besar dan saling bertentangan, ini terkait dengan sumber energi dunia tersembunyi yang mengakibatkan semua kultivator terhenti di tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak, coba kalian bayang bila benua ini berkumpul jutaan Kultivator Raja Dewa ke-7 Puncak, kekacauan apa yang akan terjadi?, maka akan ada ledakan Energi dahsyat ketika ada dua petarung yang berselisih dimana Dunia ini tidak akan sanggup menampung kekuatan kultivator tersebut, karena adanya tambahan energi dunia yang terkumpul di benua ini, dan khususnya adalah klan Han, dimana ada beberapa orang yang memiliki konstitusi tubuh khusus yang memiliki kecepatan kultivasi sangat cepat dibandingkan yang lain, termasuk anakmu, Bu Mei Ling”,
kata Bu Ling Moy sambil terakhir menatap Bu Mei Ling yang saat itu bercampur aduk di dalam hatinya, karena dia mengerti akan konstitusi yang ada di tubuh suaminya, itu pula yang menyebabkan dirinya menikmati peningkatan kultivasi namun terhenti di tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak untuk Han Chen Yang, sedangkan dirinya hanya di Raja Dewa ke-7 Awal saat ini.
Pantesan anaknya memiliki tingkat kecepatan kultivasi yang mencengangkan dibandingkan anak-anak seusianya, dan saat ini anaknya sudah ditingkat Manusia Suci ke-8 Puncak.
Kedua saudara laki-laki Bu Mei Ling melirik saudari wanitanya dan mereka berdua mengerti satu hal akan peningkatan kultivasi saudarinya, yang sekarang berada diatas mereka berdua.
“Baiklah aku sudah menyampaikan pesan pada kalian bertiga, ingat pula kalian harus melatih teknik kultivasi dan Teknik beladiri yang kuberikan, tidak hanya berlatih, usahakan mencapai kesempurnaan demi keselamatan diri kalian sendiri kelak, sekarang aku akan pergi”, kata Bu Ling Moy, dia menggerakkan tangannya dan kemudian menghilang, Bu Mei Ling mengangkat wajahnya hendak mengatakan sesuatu namun Bu Ling Moy sudah menghilang.
“Kakak Mei Ling, apakah kau berkultivasi dengan orang hukuman itu?, maksudku Han Chen Yang, apakah benar dia berhasil keluar dari Lembah Tengkorak?”, kata Wang Kok Han.
Bu Tek Ong pun menatap saudaranya, menanti reaksi dari Bu Mei Ling.
“Ya benar, aku tadinya tidak menyangka akan dirinya yang dapat lolos dari lembah Tengkorak itu, dia tadinya mengunjungiku untuk melakukan persekutuan melawan Thian Lok, dan aku ingin menguji dirinya yang tadinya ku anggap dirinya lemah namun ternyata dia memiliki tingkat diatasku, bahkan mungkin di atas Thian Kong Jie kepala Dewan Keadilan Tertinggi”, kata Bu Mei Ling sambil dia meneruskan cerita itu, sehingga dia hamil dan bersembunyi dari dunia luar di menaranya selama setahun lebih.
Bu Tek Ong dan Wang Kok Han mendengarkan tanpa membantah, setelah itu mereka berdua mengerti akan situasi yang dihadapi oleh saudarinya itu, dan juga menurut keterangan Bu Mei Ling, Han Chen Yang, dengan kekuatan yang dimilikinya menjadi tenaga pembantu yang paling penting bila perang pecah di antara klan, karena Han Chen Yang tidak memiliki klan pendukung dari Klan Thian maupun Klan Han karena dia menghindari dari dua klan tersebut, otomatis Han Chen merupakan bagian dari sekutu Benua Ketiga.
Mereka sepakat untuk menyiapkan perencanaan yang lebih penting dan saling melengkapi informasi untuk kepentingan Benua Ketiga, dengan tenaga ahli seperti Han Chen Yang di pihak mereka, mereka tidak perlu khawatir akan pihak lain lagi.