Kerajaan Chong Yang adalah kerajaan terbesar di Benua Chong Yang, yang dipimpin oleh seorang raja dari klan Duan bernama Duan Leng pada tingkat kultivasi Insan Raja ke-4 Lanjutan, dulu kekuatan tingkat kultivasi ini sudah cukup untuk menduduki Seluruh benua Chong Yang, namun kini perubahan terjadi, sekalipun kerajaan ini didukung sepenuhnya oleh Sekte terbesar di Benua Chong Yang yakni , Sekte Samudera Naga, namun dengan kedatangan utusan Benua Merah di Kota Yang In, kedudukan Kerajaan ini menjadi tidak aman.
Kota Yang In telah berubah, Kota ini sekarang bernama Kekaisaran Yang In dengan dengan seorang pemimpin yang memproklamirkan diri bernama Sri Maharatu Mo Eng, dengan jajaran pembantu beberapa Panglima yang memiliki tingkat kultivasi Insan Raja ke-5 sampai Tingkat Insan Raja ke-6.
Beberapa Panglima ini sangat terkenal akan ketegasannya dalam bertindak, yang tidak disangka adalah kecepatan kultivasi dari Han Ek, Cui Man Ek dan Meng Li, yang memiliki tingkat kultivasi pada tingkat Insan Raja ke-5 Awal bagi Cui Man Ek dan Meng Li, sedangkan Han Ek malah melebihi juniornya dengan tingkat kultivasi Insan Rajai ke-6 Puncak.
Kepala Klan yang dulu memimpin Kota Yang In tidak berkutik menghadapi para juniornya, bahkan kepala klan Han, Han Wi Teng terbunuh oleh anggota juniornya sendiri, Han Ek karena dia satu-satunya yang menentang pendirian Kekaisaran Yang In yang dipimpin oleh Mo Eng.
Han Ek sekarang berbeda dengan Han Ek yang dahulu, dia menjadi kekasih Mo Eng yang paling banyak menerima manfaat dari Sang Ratu Mo Eng, dengan teknik kultivasi ganda, Han Ek menerima manfaat terbesar dengan kenaikan Tingkat kultivasinya sehingga Mo Eng sendiri hampir kewalahan menghadapi nafsu Han Ek, yang berambisi untuk menjadi kuat.
Sri Maharatu Mo Eng sangat mencintai Han Ek karena keperkasaan Han Ek, sehingga bukan hanya fisiknya saja tapi sekaligus hati Sang Ratu, hal ini menimbulkan kecemburuan bagi semua junior yang direkrut oleh pihak Coa Kun, terutama Cui Man Ek, namun bakat Cui Man Ek tidak sekuat dan setinggi Han Ek, bahkan sedikit lemah terhadap nafsu Mo Eng, dengan sendirinya Cui Man Ek tidak bisa bertingkah di depan Han Ek.
Meng Li menjadi pasangan kultivasi bagi Coa Kun, dan dia meningkatkan kultivasinya hingga mencapai tingkat yang dulu hanya angan-angannya saja, sekarang ayahnya saja sudah tidak bisa memerintah dirinya apalagi para tetua klan Meng lainnya, dengan melihat terbunuhnya Kepala Klan Han yang terbunuh oleh Han Ek karena berusaha menyadarkan Han Ek adalah sebuah contoh yang sengaja diperintahkan oleh Coa Kun dan Mo Eng, karena rata-rata tingkat kultivasi para kepala klan ternama kota Yang In dan tetua lainnya hanya pada tingkat Kultivasi Imajinasi Roh ke-4 Puncak.
Kembali kekerajaan Chong Yang di dalam Istana Kerajaan Chong Yang, telah berkumpul semua pejabat, para panglima dan Raja Duan Leng, termasuk di dalamnya semua Tetua dari Sekte Samudera Naga, diantaranya Hwa Kong, Phang Kok, Bing Siauw, Wong Kay , Kim San Kui dan lain-lain.
Sang Raja Duan Leng mengerutkan keningnya, dia telah mendengar akan ancaman terhadap kerajaannya, saat ini kerajaan tersebut telah dikepung dari beberapa sudut dan arah, karena tiga kerajaan dan empat sekte lainnya di Benua Chong Yang telah menyatakan takluk dan bergabung dengan Kekaisaran Yang In.
“ Menurut informasi dari para penyidik, di selatan Kerajaan Chong Yang telah berkumpul barisan pasukan yang jumlahnya ribuan orang dari Kerajaan Ming Lan dan Sekte Angin Guntur, dan di utara sudah berbaris Kerajaan Kao Monarki dengan dukungan dari Sekte Gunung Abadi, dan di sebelah barat ada pasukan Kerajaan Thi Agung dengan dua sekte pendukung dari Sekte Lembah Api dan Sekte Puncak Merah, sementara di sebelah timur sedang berjalan kekuatan yang dahsyat dari pasukan Kekaisaran Yang In yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Coa dan antek-anteknya”, kata Raja Duan Leng menjelaskan.
“Raja Duan, kita harus mengirim berita pada Benua lainnya untuk meminta bantuan”, kata salah satu pembantunya.
Sang raja mengernyitkan keningnya dengan tatapan mata serius,
“Jarak antar benua sangat jauh, sekalipun kita dapat mengirim seseorang ke benua terdekat dengan teleportasi formasi, tapi mustahil menerima bantuan untuk menyelamatkan Kerajaan ini, karena yang terdekat adalah Benua Khui Ning, dan mereka akan memerlukan waktu yang lama dalam mengerahkan pasukan besar mereka, itupun kalau mereka berkenan, karena setahuku di Benua itu harus melalui persetujuan Sembilan anggota Penguasa Benua”, kata Raja Duan Leng.
“Tapi itu sebaiknya kita lakukan, karena kita tidak sudi menyerah pada perempuan bejat itu, apalagi terhadap nafsu anaknya yang menjadi utusan Benua Merah”, kata Phang Kok tegas.
“Adik Phang Kok, kurasa kita tidak dapat melakukan tindakan itu, karena sekte kita pun sebenarnya telah meminta bantuan dari benua tersebut, namun hingga kini belum ada hasil dari utusan yang kita kirim”, Kata Hwa Kong kepala Sekte Samudera Naga.
“Benar, apa yang dikatakan oleh kakak Kepala Sekte, kita sebetulnya telah mengirim utusan enam bulan lalu ke Benua Khui Ning namun kita belum mendengar berita selanjutnya, aku curiga, jangan-jangan utusan yang kita kirim telah mati, atau mungkin juga terbunuh oleh orang-orang dari pihak wanita itu”, kata Bing Siauw anggota Tetua wanita satu-satunya setelah Phang Cui Lin pergi.
“Lalu sikap apa yang harus kita ambil?”, kata Kim San Kui, salah satu Tetua Sekte Samudera Naga.
“Yang membuatku tidak berdaya adalah, 3 kerajaan lainnya yang dengan mudah menyatakan bergabung dengan kehendak dari utusan Benua Merah itu, belum lagi empat Sekte lainnya”, kata Raja Duan Leng.
“Dimana keberadaan saudari Phang Cui Lin?, sebenarnya dia lah yang pantas menjadi ketua sekte, karena hanya dia yang telah mencapai tingkat kultivasi Manusia Suci, sehingga kekuatanku pun tidak berarti banyak di hadapannya”, kata Hwa Kong.
Disebutkan nama wanita itu, Raja Duan Leng menatap pada tetua Phang Kok,
“Tetua Phang, adakah berita tentang tetua Phang Cui Lin?, aku bersedia menyerahkan harta kerajaan yang paling berharga kalau dia mau memegang jabatan sebagai guru negara kerajaan ini”, kata Raja Duan Leng.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Raja, namun mereka memaklumi juga karena tingkat kekuatan yang dimiliki oleh Phang Cui Lin memang diatas mereka semua yang hadir, apalagi ucapan kepala Sekte Samudera Naga yang ingin menyerahkan jabatannya pada wanita tersebut, dan mereka mengerti akan keinginan raja mereka tentang diri wanita cantik ini yang semakin cantik akibat peningkatan kultivasi yang dimilikinya.
Phang Kok menatap wajah Raja Duan Leng, dia hanya menggelengkan kepalanya serta berucap,
“Aku sendiri yang menjadi kakak kandungnya, tidak tahu keberadaannya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti kemana tuannya pergi”, kata Phang Kok putus asa.
Hanya keheningan dan kebingungan yang melanda dalam ruangan megah aula istana Kerajaan Chong Yang, masing-masing tokoh dan pejabat istana disibukkan oleh rencana masing-masing demi menyelamatkan diri dan keluarganya jika situasi sulit yang menimpa kerajaan ini.
Seorang kasim kerajaan dengan tergopoh-gopoh menghampiri, meja persidangan dengan menghampiri Raja Duan Leng dan membisikan sesuatu,
“Persilahkan Komandan itu masuk!”, kata Raja Duan Leng.
maka masuklah seorang penjaga tingkat komandan yang menjaga gerbang istana,
“Lapor pada Sang Raja!, diluar gerbang istana ada dua orang wanita yang ingin menemui sang raja, mereka dari Benua Khui Ning”, kata komandan tersebut.
“Bawa mereka!”, kata sang Raja.
Setelah mendengar titah raja komandan itu dengan segera berbalik, dan tidak lama kemudian dia masuk dengan dibelakangnya terdapat dua orang wanita cantik yang berpakaian sederhana dan ringkas,
“Kami dua orang yang menjadi utusan dari Benua Khui Ning atas perintah Penguasa Tunggal Leluhur Yap Kun Tek”, kata salah satu wanita yang tubuhnya sedikit lebih tinggi.
Semua orang yang hadir menatap kehadiran dua orang wanita cantik ini,
“Terima kasih atas kedatangan dua utusan dari Benua Khui Ning, kami sangat berharap utusan untuk segera menerangkan maksud kedatangan dua tamu terhormat ini”, kata raja Duan Leng.
“Kami adalah ibu dan anak, aku bernama Coa Leng In, dan ini ibuku Yap Ing, kami berdua menuruti perintah Penguasa Benua sebagai tenaga pembantu bagi kerajaan ini, untuk menghadapi kehendak utusan Benua Merah”, kata Coa leng In.
Melihat pasangan ibu dan putrinya, semua orang mengerutkan kening, karena mereka tidak percaya akan kekuatan dua wanita yang mengaku sebagai utusan penguasa Benua Khui Ning di hadapan mereka termasuk para tetua Sekte Samudera Naga, namun akhirnya Raja Duan Leng dengan tersenyum menyambut kedatangan mereka dengan senyum di wajahnya,
“Terima kasih atas kehadiran tamu terhormat, kami akan menempatkan kalian berdua di istana ini, dan mohon maaf atas penerimaaan kami jika pelayanan ini kurang berkenan”, kata Raja Duan Leng.
Raja lalu memberi isyarat pada kasim yang tadi memberitahukan kedatangan dua tamu wanita itu untuk menyiapkan ruangan bagi keduanya, namun terdengar suara,
“Tunggu, kami harus diyakinkan bahwa pihak tamu adalah berniat untuk bersama dengan kami menghadapi serangan dari kekaisaran Yang in, bukan menjadi masalah jika mereka berdua adalah dari pihak musuh”, kata Phang Kok.
“Oh begitu, dengan apa kami harus membuktikan niat tulus kami?”, yang berbicara adalah Yap Ing.
“Kekuatan yang akan kami hadapi jauh di atas kekuatan kami semua, jadi kalau dua tamu tidak dapat melebihi kekuatan kami, maka sama halnya menjadi beban bagi kami semua, juga sebagai bukti ketulusan bahwa kalian adalah utusan penguasa Benua Khui Ning, apakah ada surat yang menandakan identitas kalian berdua?”, kata Phang Kok lagi, dimana semua orang yang hadir menganggukan kepala sebagai tanda persetujuan.
“Leluhur kami berada di ketinggian diluar imajinasi semua orang yang hadir ditempat ini, bagi kami berdua untuk melumpuhkan semua yang hadir ditempat ini, tidak memerlukan surat identitas yang menyatakan bahwa kami adalah utusan sejati dari Penguasa benua Khui Ning, jadi jika diantara kalian yang merasa ragu maka kami berdua dapat pergi meninggalkan kerajaan Chong Yang ini dan menjadi penonton atas kehancuran kerajaan ini”, Coa Leng In, dengan menatap tajam Phang Kok.
Mendengar nada angkuh dari wanita itu, semua jajaran tetua Sekte Samudera Naga bermuka merah tanda mereka tersinggung atas ucapan Coa Leng In.
Apalagi gadis itu tadi bermarga yang sama dengan orang yang menjadi utusan Benua merah yang disebut dengan Pangeran Coa.
“Aku mencurigai mereka adalah bagian dari kekaisaran Yang In”, kata Hwa Kong sambil berdiri dan melangkah menghadang di muka Yap ing dan Coa Leng In, demikian juga Tetua yang lain, bergerak mengelilingi Coa Leng In dan Yap Ing.
Melihat perubahan situasi ini Raja Duan Leng tidak berkata apa-apa, dia pun penasaran dan ingin tahu sejauh mana kekuatan yang mengaku sebagai utusan Benua Khui Ning ini.
“Hi hi hi…, jadi ini yang dimaksud oleh kalian, baiklah tidak perlu ibu turun tangan, cukup aku seorang diri mengatasi para bangkotan ini, dan ingat kalian telah menyinggung penguasa benua Khui Ning”, kata Coa Leng In, yang melangkah maju dan menyuruh ibunya menyingkir menjadi penonton, dan Yap Ing hanya tersenyum, sambil mundur keluar dari kepungan para tetua Sekte Samudera Naga.
Doumm….!!!
Tussshhh…!!!
Ledakan energi kultivasi masing-masing tetua meletus yang dipimpin oleh Ketua Sekte Samudera Naga sendiri Hwa Kong,
Hemm…!!!
Coa Leng In hanya mendengus tanpa mengerahkan energi kultivasinya dia menggerakkan tubuhnya denga teknik beladiri yang sudah dikuasainya yaitu Badai dan Guntur Mencabik Semesta, maka di sekitar Coa Leng in beredar asap berwarna putih yang mengitari tubuhnya, kini Coa Leng In sudah pada tingkat kultivasi Manusia Suci ke-6 Puncak, menghadapi para tetua Sekte Samudera Naga pada tingkat Insan Raja ke-9, dia mengambil keputusan tidak perlu mengerahkan energi kultivasinya, karena jika dia menunjukkan tingkat kultivasi itu, maka ruangan aula ini akan runtuh, dia cukup mengandalkan energi Teknik beladiri Kategori dewanya saja.
Heaaaaa….
Wuuussshhhh….
Duaaaarrrrrrrrr……!!!!
Beberapa energi menghantam tubuh indah Coa Leng In, namun Coa Leng In menerima semua itu dengan tersenyum tanpa kecemasan di wajahnya, dia hanya menggerakkan sedikit tubuhnya serta mengangkat tangannya maka keluarlah sebuah cahaya putih menyilaukan dari telapak tangan Coa Leng In yang menuju ke arah Hwa Kong, melihat ini, Hwa Kong terkejut melihat energi sebesar itu mengarah pada dirinya, maka tanpa ampun,
Desss … Duarrr…!!!!
Aaaarrrgghhhhh…. Uhuhghg…!!!
Hwa Kong yang menerima terjangan energi yang sangat besar hanya dapat melotot, dia berusaha melindungi dirinya dengan kekuatan yang dimilikinya, namun semua itu sia-sia, dirinya terlempar beberapa puluh meter dan menghancurkan dinding aula istana, dan dia batuk darah dari mulutnya, dan kejatuhan itu disertai juga oleh Bing Siauw, Phang Kok, Kim San Kui, Wong Kay dan lain-lain berturut-turut ke segala arah dan menghancurkan dinding aula yang di bangun dengan tembok yang sangat tebal.
“Aku Coa Leng In, masih memberi kesempatan pada kalian para tetua, namun penghinaan ini akan selalu kuingat”, kata Coa Leng In menatap ke segala arah, diman Raja Duan Leng menatap kejadian ini dengan mulut terbuka, dia tadinya berharap menyaksikan pertarungan yang menarik dan lama, namun kini di wajahnya tergambar kekhawatiran yang tinggi demikian juga para menteri dan panglimanya, dibandingkan dengan kekuatan mereka, maka kekuatan yang dimiliki oleh kedua wanita ini dapat dengan mudah menghancurkan kerajaan Chong Yang ini.
Menyesal adalah perasaan yang muncul setiap sebuah kejadian berakhir, dan ini pula yang dirasakan oleh pihak kerajaan Chong Yang, seketika Raja dan para Menterinya berlutut menghadap pada Coa Leng In dan Yap Ing yang saat itu berjalan dengan anggun menghampiri putrinya.
“Ampuni kesalahan kami, dua tetua wanita perkasa, kami memiliki mata namun kami tidak bisa melihat ketinggian yang menghadang di pelupuk mata kami”, kata Raja Duan Leng.
“Kami sudah bersabar, dan kau membiarkan para semut menghadapi kami, apakah ketulusan kami masih kalian ragukan?, hei tetua para Sekte Samudera Naga, apakah masih perlu aku datang menghampiri markas sekte kalian?”, kata Yap Ing, sambil menatap para tetua sekte Samudera Naga yang kini tidak ada lagi bermata tajam di wajah mereka, mereka semua sudah menderita luka, tidak ada lagi kekuatan yang mereka miliki, bahkan jika masih ada tetua 3 Manusia Abadi, kekuatan yang melanda mereka sekarang jauh diatas 3 Manusia Abadi.
“kami mengaku salah, dan kami siap menerima hukuman dari kalian berdua sekalipun kematian di depan kami, tapi kesalahan ini adalah perbuatan kami, jangan timpakan pada ke kerajaan Chong Yang, kami mohon akan kebesaran dua Kultivator untuk membantu kesulitan yang sedang dihadapi oleh Kerajaan ini”, kata Hwa kong setelah menyadari betapa lemahnya kekuatan Sekte yang mereka miliki, baru menghadapi dua wanita yang mereka curigai dan lemah ini, ternyata kekuatan Benua Khui Ning jauh dari apa yang dapat mereka bayangkan.
“Siapa yang berani mengancam Sekte Samudera Naga?, berarti berhadapan dengan kami”, sebuah suara bergema tiba-tiba, dan tidak lama kemudian hadir di tengah-tengah ruangan itu sembilan sosok tubuh dengan wajah yang ditutupi oleh topeng yang seragam berwarna putih perak.
Kedatangan sembilan orang ini sangat mengejutkan semua orang yang hadir, karena kehadiran mereka tidak dapat mereka rasakan kecuali Coa leng in dan ibunya, namun dia merasa tidak takut,
“Kami sudah menduga bahwa kalian tidak tahan, dan akan segera muncul, lalu bagaimana kalian akan menghadapi kami, apakah kalian akan mengeroyok kami berdua?”, kata Coa Leng In.
“Aku akan menghadapimu sendiri, dan kawanmu boleh memilih salah satu dari kami” kata seorang gadis yang merupakan pemimpin rombongan yang baru muncul itu.
Yap Ing hanya melirik kelompok sembilan orang ini dengan mata cantiknya, dia pun berucap,
“Tempat ini tidak akan kuat menampung pertempuran kita, kita tidak boleh menghancurkan ruangan ini sehingga orang-orang yang tidak berhubungan dengan urusan kita tidak menjadi korban yang sia-sia’, katanya.
Mendengar usulan ini, Phang Cui Lin di balik topengnya memahami sesuatu, bahwa kedua wanita ini memiliki hati yang baik, dia pun sedikit reda akan amarah di hatinya melihat penderitaan saudara-saudaranya yang masih bersila dan bersemedi, mengatur pernafasan serta berusaha mengobati diri mereka masing-masing.
“Kita keluar, dan mencari yang lebih lapang”, kata Phang Cui Lin, sambil matanya menatap Yap Ing, dia menilai bahwa kekuatan Yap Ing setidaknya setara dengan dirinya namun kekuatan kultivasi wanita cantik di depannya tidak terduga.
Semua orang keluar dari aula Istana Kerajaan Chong Yang, yang saat itu sedikit terkena dampak kerusakan.
Dan semuanya berkumpul di sebuah tanah lapang yang sangat luas di bagian tanah yang merupakan tempat latihan markas tentara kerajaan.
Coa Leng In dan yap ing melayang di udara dan tiba di tengah-tengah lapang, yang kemudian disusul oleh Phang Cui Lin dan Putri Langit yang juga melayang di udara mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Coa Leng in.
Barisan dari kelompok Menara langit menyebar, menjadi pagar, jika terjadi pertempuran dari dua sosok wanita itu mereka dapat melindungi orang-orang yang menjadi penonton karena pertempuran ini melibatkan para ahli yang memiliki kekuatan tingkat Manusia Suci.
Para pejabat dan Tetua sekte Samudera Naga hanya dapat berdiri dari sekitar dua ratus meteran, untuk menyaksikan pertempuran yang bagi mereka menambah wawasan tentang tingkat kultivasi yang jauh diatas mereka semua, Sang Raja Duan Leng pun merasa menjadi orang lemah dihadapan kekuatan yang besar ini.
“Tunjukkan gerakanmu!”, kata Coa Leng In, setelah gadis bertopeng itu tiba di depannya.
Putri Langit pun tanpa mengucapkan sepatah kata langsung menngerahkan energi kultivasinya dan,
Douuummmm….!!!
Secara bersamaan keduanya mengerahkan energi kultivasi masing-masing baik Putri Langit maupun Coa Leng In, seketika udara di arena itu bergetar dan hawa di sekelilingnya berubah dengan drastis, ada tekanan yang sangat kuat menyebar sekeliling arena dan hal itu tampak terasa oleh semua penonton yang mengelilingi arena pertempuran dan tidak lama berselang, tekanan kekuatan energi bertambah ketika Yap Ing dan Phang Cui Lin pun mengerahkan energi kultivasi milik mereka berdua.
Para penonton hanya melihat bayangan empat sosok tubuh yang berseliweran dan berkelebatan seperti bayang-bayang hantu yang bergerak dengan sangat cepat di tengah-tengah arena lapangan yang biasanya menjadi tempat latihan pasukan penjaga istana, namun kini terlihat bahwa luasnya lapangan ini tidak sanggup menerima ledakan kekuatan energi dari empat orang yang bertarung, hawa udara sering berubah-ubah secara ekstrim.
Jika pertarungan ini, berlangsung di ruangan aula pertemuan para pejabat istana kerajaan Chong Yang, selain dinding ruang akan runtuh, kemungkinan akan ada korban berjatuhan dari penonton sekitarnya, melihat kekuatan yang sedang berlangsung ini.
Belum ada tanda-tanda, kapan pertempuran empat orang ini berakhir?, sudah berlangsung empat jam pertarungan ini, yang terdengar hanya ledakan-ledakan energi kekuatan empat orang ini yang saling bentrok dan bertabrakan atau berbenturan.
Tiba-tiba terdengar suara,
“Aiiiihhhh….. kakak-kakak cantik hentikan pertempuran sia-sia ini, aku tidak tahaaaaannnn, lihat! arena ini jadi berantakan, apa yang kalian ributkan?, heran apa yang ada di otak para wanita dewasa ini, aku jadi ngeri kalau aku tumbuh dewasa”, kata sebuah suara keras seorang anak kecil yang sekarang menonton bersama dengan belasan orang yang menyertai anak lelaki tanggung itu.
Salah satu lelaki dari rombongan 20 orang itu tiba-tiba meloncat ke tengah-tengah pertempuran antara Phang Cui lin dan Yap Ing,
“Hentikan pertempuran sia-sia ini, lihat sekitar kalian berdua”, ujar lelaki itu yang tidak lain adalah Duan Wu Hong atau An Wu Hong, sambil berdiri ditengah-tengah Yap Ing dan Phang Cui Lin, dia merentangkan kedua tangannya menghadapi dua serangan dari para wanita itu.
“Kalian juga harus hentikan!”, sebuah suara seorang gadis cantik lainnya yang berusaha melerai pertempuran antara Putri Langit dan Coa Leng In, yang tidak lain adalah Duan Ling atau An Ling.
Keempat wanita itu secara serentak menatap orang yang menghalangi pertempuran masing-masing, karena terasa ada kekuatan yang sedikit lebih besar yang melanda pada mereka berdua, baik Phang Cui lin dan Yap Ing serta Putri langit dan Coa Leng In sedikit terkejut melihat ada orang yang berani menghalangi kekuatan energi mereka berdua dengan kekuatan yang jauh lebih kuat.
“Maafkan perbuatan kami, kami tidak bermaksud jika kalian bersenang-senang menikmati pertempuran ini, namun lihatlah akibat pertempuran kalian, banyak orang yang tersiksa oleh kekuatan yang kalian kerahkan”, kata Duan Wu Hong pada kedua wanita cantik di kiri dan kanannya, demikian juga ucapan yang sama dilontarkan oleh Duan Ling yang menghalangi Putri langit dan Coa Leng In.
“Perkenalkan aku Duan Wu Hong, kerabat Raja Duan Leng, dan itu adikku Duan Ling”, kata Duan Wu Hong.
Mendengar kata-kata itu, yang terkejut adalah Sang Raja Duan Leng yang dari kejauhan mengamati pertarungan dua pasang petarung, yang sekarang terpisah.
Rupanya, diantara petarung seperti terjalin komunikasi untuk hanya sekedar menguji kekuatan masing-masing lawan, namun akibatnya tidak mereka sadari telah merusak arena latihan para prajurit penjaga Istana, dimana kini banyak lubang-lubang besar menganga di sekitar arena dan beberapa bangunan markas yang sudah runtuh menjadi abu di sekeliling arena itu, di tambah lagi beberapa pejabat dan sejumlah pasukan yang sudah jatuh pingsan menerima tekanan kekuatan energi di sekitar arena.
Yang masih bertahan menyaksikan pertandingan ini hanya barisan dari Manor langit, para tetua Sekte Samudera Naga dan Raja Duan leng, itu dengan pakaian yang sudah compang-camping tanpa Mahkota yang biasanya menghiasi kepala sang Raja.
Empat wanita yang melihat sekeliling arena menjadi malu, mereka terlalu terlena dengan pertandingan yang mereka hadapi, karena baru sekarang mereka mendapatkan lawan yang sebanding dengan kekuatan yang dimiliki masing-masing, walaupun Putri langit memiliki Tingkat Kultivasi lebih tinggi dibandingkan dengan Coa Leng In, namun Teknik Beladiri Coa Leng In menutupi kelemahan tingkat kultivasi yang dimilikinya, sehingga dia berimbang dengan hasil di bawah sedikit dari kekuatan Putri langit.
“Saudari leng In, tidak kusangka kau memiliki tingkat yang demikian tinggi”, kata Putri langit pada Coa Leng In.
“Apaaaaa…!!??. dari mana kau mengetahui namaku, siapa kau sebenarnya?”, kata Coa Leng In.
“Ini aku, Sahabatmu Han Eng”, kata Putri Langit sambil menggerakkan tangannya melepas topeng di wajahnya., dan wajah itu terpasang senyum yang sangat menarik di wajah yang cantik, seorang gadis muda 20 tahunan.
“Saudari Eng?, benarkah itu dirimu?”, jawab Coa leng In, sambil kakinya melangkah maju, meyakinkan dirinya akan apa yang dilihat oleh matanya, dan tidak lama kemudian Coa Leng In dan Han Eng saling melangkah lalu keduanya saling berpelukan.
Melihat peristiwa itu beberapa, petinggi sekte Samudera Naga yang mengenal Han Eng yang juga merupakan Kejeniusan langka seorang murid Sekte, dan menjadi murid tunggal dari salah satu tetua Sekte yaitu Phang Cui Lin.
Namun kini sang murid memiliki ketinggian Kultivasi di atas mereka semua bahkan jika dibandingkan dengan leluhur mereka 3 Manusia Abadi, tingkat Han Eng sudah melampaui jauh diatas mereka.
Demikian juga Phang Cui Lin yang ada di seberang arena yang berhadapan dengan Yap ing, tidak menyangka bahwa murid yang dicarinya adalah atasannya sendiri yang memiliki gelar Putri Langit, jadi selama ini, murid yang dipikirkannya karena menjadi tanggung jawab terhadap tuannya Thian Sian Li, ternyata selalu mengawasi kelakuannya, wajahnya sedikit memerah, bukan karena marah namun malu, bahwa sang murid ternyata telah melampauinya, bahkan membantu dirinya meningkatkan kekuatan dirinya sehingga mencapai apa yang sekarang menjadi miliknya.
Phang Cui lin meninggalkan Yap Ing dan berjalan menghampiri han Eng,
“Hamba Phang Cui Lin, meminta pengampunan karena tidak menjalankan perintah Tuan Sian Li dengan meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajibanku”, kata Phang Cui Lin , dengan hormat setelah melihat Coa Leng In melepaskan pelukannya terhadap Han Eng.
“Aihh bibi Phang lupakan hal itu, malah aku bersyukur karena aku berhasil menemukan bibi, kata Han Eng sambil menghampiri Phang Cui Lin dan mengangkat tubuh Phang Cui Lin agar berdiri.
“Dan sekarang aku selalu menganggap bibi adalah kerabatku, perjalanan hidupku mengajarkan itu semua”, kata Han Eng lagi.
(bersambung ke Chapter 43)