“Aaahhh…, ini lebih baik, coba kalian semua dengarkan…, hening…. damai…terasa sejuk kan?.”, kata seorang anak tanggung yang berucap sambil kakinya berjalan-jalan sekeliling arena.
“Adik Tiong, kenapa kau berjalan-jalan sekeliling arena?”, kata Duan In Mey tersenyum melihat tingkah aneh anak lelaki tanggung itu.
“Aku hanya sekedar berjalan, tapi kakak bertanya dengan penasaran ingin tahu, apalagi jika ada yang bertempur bukankah kita bertanya untuk apa mereka bertempur?, bukankah mereka hanya ingin menunjukkan kekuatan yang mereka miliki”, kata bocah ini dengan mimik wajah polos.
Ucapan sederhana dari Bu Chen Tiong, menyadarkan empat wanita yang bertarung itu, dengan senyum malu, ya mereka hanya ingin membuktikan kekuatan yang mereka miliki.
Apa yang terjadi di arena pertempuran empat wanita itu, kini malah menjadi ramai karena sekarang muncul sebanyak dua puluh orang yang entah dari mana kemunculan mereka ini.
Raja Duan Leng hanya bisa menatap dengan heran karena dia mengenal saudara dan saudarinya, di pikirannya kini berkecamuk berbagai pikiran melihat tingkat kekuatan adik-adiknya Duan Wu Hong yang berani memisahkan pertempuran antara Yap Ing dan Phang Cui Lin dan Putri Duan Ling yang berani menengahi pertempuran dahsyat antara Putri langit dan Coa Leng In, dan hatinya kini takjub setelah melihat salah satu wanita itu ternyata sosok yang selama ini sangat dirindukan yaitu tetua Phang Cui Lin, namun ada rasa rendah diri yang makin meningkat dari sebelumnya, melihat tingkat yang dimiliki oleh tetua Phang Cui Lin, bahkan sekelas ketua Sekte Samudera Naga pun tadi sempat mengakui bahwa kekuatan yang dimiliki oleh Phang Cui lin jauh di atasnya.
Lain halnya yang ada di benak Para tetua Sekte Samudera Naga, melihat barisan yang dibawa oleh Phang Cui lin, ada sedikit harapan bagi mereka dalam mengatasi situasi yang sekarang mereka hadapi, yaitu kekuatan dari Kekaisaran Yang In yang menurut mereka sedang berjalan menghampiri kerajaan ini, dengan kekuatan yang dibawa oleh saudarinya ini mereka memiliki peluang akan sesuatu.
“Salam tetua Phang, kami barusan saja membicarakan tentang keberadaan Tetua apalagi dengan barisan yang dibawa oleh tetua”, kata Hwa Kong dengan rendah hati, dia tahu bahwa junior yang sekarang berbeda dengan junior yang dulu.
“Para saudara Sekte Samudera Naga, jangan berlaku sungkan, kita adalah sesama saudara juga dan kini aku hanya mengikuti perintah dari Putri Langit untuk mengawasi perkembangan musuh yang menyebut diri utusan Benua Merah”, kata Phang Cui Lin sambil menghampiri rombongan para tetua Sekte Samudera Naga.
“Apakah kami harus menunjukkan ketulusan kami?”, kata Yap Ing sambil melirik barisan Tetua Sekte Samudera Naga.
“Maafkan keteledoran kami yang tidak melihat tinggi gunung di depan kami, apalah arti kami ini, dibandingkan dengan kekuatan dua wanita perkasa, kami yang rendah meminta ampun atas kesalahan kami”, kata Hwa Kong dan tetua lainnya dengan menundukkan kepala mereka menyadari kesalahan yang mereka buat, dan hampir memunculkan masalah yang semakin rumit yang dihadapi oleh Kerajaan Chong Yang.
“Ibu sudahlah, perkenalkan ini sahabatku, Han Eng, kami berasal dari kota Yang in”, kata Coa Leng In mengenalkan Han Eng pada ibunya.
Di dalam lingkaran penjaga yang mengelilingi arena pertempuran, Han Wo menatap Han Eng dengan sejuta pikiran di benaknya, dia tidak menyangka bahwa Putri Langit adalah sosok gadis yang menjadi tujuannya untuk meraih kekuatan kultivasi, namun kini semakin terbentang jurang yang semakin lebar melihat tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Han Eng.
“Salam kakak raja Duan Leng”, kata Duan Wu Hong dan adik-adiknya yang pergi menghadapi raja Kerajaan Chong Yang.
“Saudara-saudariku, aku merasa malu menerima penghormatan dari kalian semua, terutama pada adikku Duan Ling atas masalah yang lampau”, kata Raja Duan Leng, menyambut kedatangan tiga saudaranya yang dulu merupakan pangeran dan putri kerajaan Chong Yang, kini ketiganya memiliki kekuatan yang dengan mengedipkan mata akan membunuh dirinya.
“Kakak Raja, lupakan semua itu, kedatangan kami atas perintah dari sekte dimana kami menjadi bagian di dalamnya, dan kini kami harus menjaga wilayah ini dari serbuan pasukan utusan Benua Merah, dan rupanya kami tidak sendiri, aku melihat para utusan dari beberapa Benua tetangga kita, mereka masih peduli akan Benua kecil ini”, kata Duan Wu Hong.
“Semua Orang, dengan kerendahan hati kami mengundang semua utusan untuk memasuki Istana, dan kami bermaksud mengadakan jamuan makan bagi para tamu yang sudi berkunjung serta memperhatikan masalah yang saat ini kami hadapi”, seru Raja Duan Leng, mengundang semua orang agar memasuki Istana Kerajaan Chong Yang.
Sementara itu, jauh di kedalaman sebuah benua yang disebut Benua Ketiga yang selalu diselimuti oleh labirin asap putih yang menyembunyikan keberadaan benua tersebut, di sebuah gunung yang sangat terpencil, di dalam sebuah goa, terdapat sosok tubuh yang terlentang tanpa sehelai benang menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian pinggangnya yang tertutup sehelai kain hitam menutupi alat vitalnya, dan disamping tubuh terlentang ini ada sosok wanita cantik yang bersila dalam kondisi kultivasi dengan hembusan nafas lembut.
Wanita itu terlihat sedikit kerut di keningnya yang putih dan halus, wajah cantik wanita itu menyiratkan kekhawatiran yang sangat tinggi karena dari mulut itu sering terdengar helaan nafas berat, seperti keluhan yang tidak berucap.
Kondisi tubuh Han Long dalam posisi ini sudah berlangsung lebih dari tiga tahun, namun yang mengherankan, di dalam tubuh ini selalu muncul suara ledakan energi yang menandakan bahwa tingkat kultivasi Han Long terus meningkat dengan sendirinya, hal ini semakin membuat cemas Thian Sian Li ibunya, karena energi yang berkumpul pada tubuh anaknya, ditakutkan akan meledakkan tubuh kedagingan Han Long.
“Sian Li, aku tahu siapa dirimu, pemulihan tubuh anakmu berkaitan dengan sebuah tumbuhan herbal yang disebut dengan nama Jamur Giok Nirwana, namun tumbuhan herbal ini sangat langka dan keberadaannya entah dimana, namun baru-baru ini aku tahu dimana letaknya, maukah kau mencarinya?”, kata sebuah suara lembut seorang wanita.
Dengan segera Thian Sian Li membuka matanya, dia menghadapkan wajahnya ke arah datangnya suara itu,
“Dimana aku harus mencarinya?, sekalipun di kedalaman neraka, aku akan mendatanginya”, kata Thian Sian Li penuh tekad.
“Sebenarnya tanaman itu berada di taman rahasia klan Thian di Benua Thian Agung, dan tanaman ini dilindungi oleh Kepala Klan Thian sendiri Thian Kong Jie, aku tidak bermaksud memintanya, karena sesuatu hal yang tidak harus kau ketahui, namun dengan adanya dirimu yang merupakan keturunan langsung dari Kepala Klan Thian mungkin peluangnya lebih besar daripada aku mengerahkan kekuatanku”, kata wanita itu yang ternyata adalah Bu Ling Moy, Penguasa Benua Ketiga.
“Lalu bagaimana dengan kondisi putraku?, aku khawatir akan kondisi tubuhnya, tingkat kultivasinya melaju semakin cepat, aku tidak tahu akan kekuatan tubuh yang menampung energi sebesar ini”, kata Thian Sian Li dengan wajah cemas.
“Aku sendiri yang akan menjaganya, tenangkan hatimu, aku akan mendampinginya”, kata Bu Ling Moy menenangkan Thian Sian Li.
Thian Sian Li sedikit mereda akan rasa cemasnya dia pun bersiap meninggalkan Benua Ketiga, di bawah bimbingan Penguasa Benua tersebut, Thian Sian Li dengan mudah meninggalkan benua tersebut, dan dengan tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Thian Sian Li sekarang ini yang sudah mencapai tingkat kultivasi Raja Dewa ke-6 Lanjutan karena pengaruh dari energi di sekitar tubuh Han Long dimana dia berusaha menyedot energi itu agar tidak tersedot sepenuhnya oleh Han Long maka dengan cepat tingkat kultivasi Thian Sian Li bergerak dengan sangat cepat.
Tinggallah Bu Ling Moy sendiri, menatap tubuh perkasa Han Long yang hanya ditutupi selembar kain hitam yang menutupi bagian vitalnya saja, baru sekarang bagi Bu Ling Moy yang sudah hidup ribuan tahun menatap tubuh telanjang seorang pria muda yang demikian menarik hatinya, di dalam hatinya muncul rasa keingintahuan yang menggoda akan struktur tubuh lawan jenisnya, ada gelitik di hatinya untuk melihat benda apa dibalik kain hitam itu?, namun dia menyadari akan jati dirinya sendiri yang merupakan tingkat yang sangat jauh dari tubuh muda di hadapannya.
Saat ini Han Long dalam kondisi antara hidup dan mati, ada hawa panas dan dingin yang bergantian secara ekstrim muncul di sekitar tubuhnya, hawa panas itu adalah perputaran dari energi dari 9 Tubuh Bintang miliknya, dan hawa dingin adalah dari lempengan batu giok yang menjadi alas bagi tubuh jasmaninya, inilah energi yang berusaha menyeimbangkan kekuatan panas dari tubuhnya, akibat dari terlepasnya segel pengunci kultivasinya yang terpaksa terlepas ketika menghadapi kekuatan super milik leluhurnya sendiri Thian Han Ong yang tidak disukainya.
Melihat tubuh seorang pemuda tampan yang tanpa cacat milik Han Long, hati Bu Ling Moy yang sedingin es itu tergerak, selama ini dia berlatih di atas lempengan giok yang ternyata bernama Altar Inti Es, yang membuat dirinya juga sedingin Es, namun sekarang yang nampak di hadapan wanita ini, seperti membangkitkan emosi dikala dia masih berusia belasan tahun dimana rasa keingintahuan dirinya sangat besar.
Dia tidak tega melihat penderitaan pemuda ini, dia ingin memberikan kekuatan esnya agar rasa panas di tubuh Han Long sedikit mereda, dengan hati-hati dia menyalurkan kekuatan esnya dan menyentuh tubuh Han Long,
Aaaarggghhh….!!!
Suara erangan keluar dari mulut Han Long, dan tubuh itu seperti menggeliat sehingga merubah posisi tubuh itu yang bergulir kekiri dan kekanan, Bu Ling Moy tidak menghentikan penyaluran kekuatan inti es-nya, dia bermaksud memperingan penderitaan tubuh Han Long.
Hal ini berlangsung beberapa waktu, dengan penyaluran Tenaga Inti Es Bu Ling Moy, terlihat perubahan pada warna tubuh Han Long, yang tadinya berpijar kemerahan seperti sebuah lampu pijar, kini tubuh Han Long sedikit demi sedikit berubah menjadi putih bersih sedikit kemerahan, dan wajah Han Long tidak sepucat atau semerah sebelumnya.
Bu Ling Moy mempertahankan penyaluran tenaga yang dimilikinya, namun wajahnya menjadi merah menahan rasa jengah, karena kain hitam itu sudah tidak berada di posisinya dimana tadinya menutupi bagian vital tubuh Han Long sehingga wanita cantik itu kini dapat melihat bagian rahasia seorang lelaki di bagian pangkal paha itu.
Bu Ling Moy menjadi serba salah, dia berusaha beringsut tanpa melepaskan tangannya pada dada bidang Han Long, sedangkan tangan kirinya berusaha menggapai kain hitam itu namun persoalannya, tangan kanannya menghalangi gerakan tangan kirinya karena dia sadari bahwa kedua tangannya saling bersilangan untuk menggapai kain hitam tersebut.
Bagi seorang yang memiliki tingkat kultivasi Kaisar Dewa Lanjutan,seperti Bu Ling Moy adalah sesuatu yang lucu dan menggelikan, dia adalah salah satu dari tiga manusia perkasa, mengerjakan sesuatu yang remeh seperti ini saja memerlukan usaha yang demikian keras, ternyata kelemahan dari kekuatan pada dirinya adalah hatinya sendiri, maka dia berusaha mengerahkan kekuatan jiwanya dan berusaha memindahkan kain hitam itu untuk menutupi bagian tubuh vital Han Long, maka kain hitam itu pun melayang dan menggantung tepat di atas bagian vital tubuh han Long, namun tidak segera Bu Ling Moy menutupi bagian itu, malah dia tersenyum-senyum sendiri melihat benda rahasia milik lelaki itu.
Aaaahhhh….!!!
Ada erangan yang keluar dari tubuh Han Long kembali, dengan terkejut Bu Ling Moy melihat ke tubuh Han Long dan ternyata saking terlenanya dengan pemandangan yang dinikmati matanya, sentuhan tangannya pada dada Han Long terlepas.
“Jika demikian, bagaimana aku harus meninggalkan tubuh pemuda ini?,
sekali aku menempelkan kekuatan Inti Es ku ternyata ini sangat membantunya,
tapi sampai kapan ini akan berlangsung, melihat perkembangan kultivasi yang terus bergerak naik apakah aku akan terperangkap bersama dengan pemuda ini?,
dan mengapa pula aku begitu tertarik dengan pemuda ini?,
aku sudah melihat beberapa bahkan ribuan wajah tampan yang sering kulewatkan ,
bahkan mereka sampai menyembah diriku,
mengapa sekarang sosok tidak penting ini sangat menggodaku?’,
kata Bu ling Moy dalam hatinya.
Perang berkecamuk dalam diri Penguasa Benua Ketiga, ada keangkuhan sebagai Penguasa Benua namun ada pula perasaan kewanitaannya yang tergoda melihat sosok tubuh pria yang dilihatnya yang sangat menggoda dan memuaskan rasa penasaran di hatinya.
Dia berusaha menenangkan gemuruh di hatinya, dan gemuruh itu dia nikmati karena rasa itu pernah hinggap di hatinya ribuan tahun lalu, dan kini muncul lagi, ternyata rasa ini terasa menyenangkan bagi dirinya yang sudah mengarungi kehidupan ini ribuan tahun, ada rasa kesepian yang hinggap dan menetap pada dirinya, apalagi dia menganut kultivasi Inti Es yang mempengaruhi kedalaman jiwa dan hatinya menjadi sedingin es.
Posisi Bu Ling Moy tetap bertahan, diapun berkultivasi dengan memanfaatkan rasa hangat yang keluar dari tubuh Han Long, sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh Bu Ling Moy, energi panas yang dikeluarkan oleh Han Long mempengaruhi gaya kultivasi dirinya.
Bu ling Moy yang tadinya dingin sedingin Es, ada riak kemerahan di wajahnya, aura kehangatan melanda jiwanya, dengan kedipan matanya, kain hitam yang selama ini menutup bagian vital Han Long terbang entah kemana, dirinya sekarang dengan puas menatap bagian itu, dan Bu Ling Moy tanpa rasa malu menatap dengan sepuasnya.
Tiba-tiba tangan Han Long bergerak, dia berguling miring dan kedua tangan besar Han Long merangkul pinggang ramping Bu Ling Moy yang terkejut melihat aksi ini, namun dia hanya terdiam karena pelukan tangan pemuda ini terasa menyenangkan, bahkan kepala pemuda itu kini berada pada paha Bu Ling Moy seperti digunakan sebagai penyangga kepala pemuda itu.
Jauh dibawah alam sadar Han Long, ada jiwa Han Long yang sedang bertahan menghadapi serbuan energi panas dari segala arah yang siap membakarnya menjadi debu, namun dia masih berusaha bertahan, namun suhu udara yang melanda dirinya tiba-tiba berubah, ada rasa sejuk diantara kumpulan energi yang menyerbu dirinya ini, dan energi ini berwarna asap putih, jiwa Han Long berusaha meraih asap putih ini, dan asap ini tidak menghindar ketika jiwa Han Long menghampirinya, dengan segera jiwa ini mengambil posisi bersemedi dengan perlindungan asap yang melindungi jiwa tersebut.
Ketika Han Long dalam kondisi tidak sadar, Bu Ling Moy melihat wajah tampan pemuda itu memperlihatkan rasa nyaman dan kelegaan.
Bu Ling Moy dengan sendirinya merasa ada gesekan yang ditimbulkan antara energi dingin dirinya dengan energi panas yang keluar dari tubuh pemuda ini, tapi yang mengganggunya adalah kenikmatan yang dia rasakan ketika gerakan tubuh Han Long yang bergesekan dengan kulit tubuhnya yang halus yang terhalang oleh gaun tipis yang menutupi tubuh wanita ini, hal ini menimbulkan sensasi tersendiri.
Apalagi Bu Ling Moy yang selama ini berdiri dengan keangkuhan yang tiada tara, dan tidak mengenal hubungan intim secara jasmani akibat pengejarannya atas kekuatan kultivasi, maka gesekan ini adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang pernah hilang ribuan tahun lalu pada dirinya, dan itu semua sudah dilupakan, bahkan dia menganggap rendah atas hasrat jasmani purbakala itu, namun kini dia merasakan sensasi yang merupakan kelengkapan manusia sebagai pribadi yang kurang sempurna jika rasa ini harus menghilang begitu saja, maka dengan senang hati dia menikmati apa yang dilakukan oleh Han Long, di atas ketidak sadaran diri Han Long tersebut.
Gerakan Tubuh Han Long tidak hanya tangannya sekarang, kepalanya bergoyang-goyang sebagai akibat mempertahankan kenyamanan jiwanya atas serbuan energi panas yang menyerbu demikian gencar seiring dengan peningkatan kultivasi miliknya, dentuman pada kedalaman tubuh Han Long berulang kali terdengar, entah sudah mencapai tingkat apa yang dimiliki oleh Han Long, jika orang di dekat Han Long tidak sekuat Bu Ling Moy, maka dapat dipastikan tubuh orang itu akan langsung meledak akibat perpaduan energi sedekat itu, untungnya Bu Ling Moy memiliki tingkat Kultivasi Kaisar Dewa yang sudah merupakan tingkat tertinggi dunia ini, ditambah dengan konstitusi tubuh yang dimilikinya adalah tubuh Inti Es yang menyeimbangkan kekuatan panas tubuh Han Long, bila orang itu tidak memiliki tubuh Inti Es maka dapat dipastikan, lama kelamaan Tubuh setingkat Kaisar Dewa pun akan berpengaruh dan menimbulkan dampak yang sangat kuat.
Rasa yang dimiliki oleh Bu Ling Moy berkembang pada perasaan kewanitaannya, didorong oleh rasa ‘ingin tahu’, Bu Ling Moy melepaskan gaunnya, dia merasakan gesekan yang baru sekarang dirasakan dari rambut hitam pemuda itu yang menyentuh area sensitif dirinya, yang menurutnya sangat indah.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keduanya, akhirnya menimbulkan resonansi saling membutuhkan, Han Long yang tidak menyadari perbuatannya membangkitkan kewanitaan salah satu tokoh terkemuka dari tiga manusia terkuat, terus menggapai-gapai pada tubuh Bu Ling Moy yang malah sengaja mengarahkan tangan pemuda itu untuk menyentuh area sensitif yang mengeluarkan rasa yang demikian misterius, dan rasa itu menuntut kepuasan, Bu Ling Moy sudah terengah-engah atas perlakuan Han Long, sebaliknya Han Long, terus merapatkan tubuhnya pada tubuh Bu Ling Moy mencari sesuatu untuk memadamkan rasa panas yang melanda dirinya, sedangkan Bu Ling Moy mendapatkan rasa hangat yang menyenangkan hatinya, tanpa takut energi panas Han Long meledakkan dirinya, bahkan dengan sukarela mengarahkan tangan Han Long untuk menyentuh atau memijat bagian-bagian tertentu yang menjadi sesuatu yang membangkitkan gairah purba yang dulu dianggap rendah oleh Bu Ling Moy sebagai Penguasa Benua Ketiga.
Tanpa dapat dikendalikan oleh keduanya, hal itu berjalan sampai berbulan-bulan, bagi Bu Ling Moy dia merasakan perubahan pada tubuhnya, karena berulang kali Han Long menyetubuhinya tanpa henti, sepertinya kedua kultivator itu dapat melakukan perbuatan tersebut dengan energi yang berputar sekitar mereka, baik Bu Ling moy yang menerima perlakuan Han Long dengan senang hati dan Han Long tanpa disadarinya, dia menyalurkan energi berlebih pada dirinya pada seorang wanita yang semestinya dia harus menyebutnya nenek leluhur.
Aaaarrrrgghhhhh……!!!!
Keduanya mengerang saat klimaks mencapai, dan hal ini sering terjadi, namun kali ini terjadi perubahan di sekitar ruangan gua dimana kedua tubuh tanpa busana itu saling berpelukan dengan erat, terjadi perubahan suhu yang berubah sangat cepat dimana hawa panas yang menyengat berubah menjadi dingin menggigil dengan sangat cepat dan itu bergantian dengan sangat cepat.
Sementara di luar goa terjadi perubahan alam, awan putih yang tadinya bergerak ke arah timur tiba-tiba seperti tersedot, dan berkumpul di atas Goa di Benua Ketiga ini, dan itu tidak berakhir karena seluruh energi alam permukaan dunia ini seperti tersedot sedemikian rupa seperti berlomba memasuki goa yang berdiameter 2 atau 3 meter itu, dan di atas goa itu berkumpul semua awan, dan awan itu berubah menjadi hitam pekat seperti akan adanya badai dan hujan yang akan mengguyur tanah itu, dan kepekatan awan yang semakin menggumpal menjadi berwarna hitam pekat,
Tar…tar…tar… duarrrrr…!
beberapa kilat sudah memancarkan cahayanya akibat energi yang bertabrakan antara energi negatif dan positif,
Seberkas sinar kilat menghantam permukaan gua dengan sangat cepat dan tidak lama kemudian,
DUUUUUAAARRRRRR…….!!!!!
Guntur dan kilat saling menyambar, dan titik sambaran itu selalu mengarah pada goa dimana tubuh Bu Ling moy dan Han Long berada,
Booouuummmm…!!!
Dari tubuh telanjang pria dan wanita itu terpancar kekuatan yang sangat kuat, masing-masing tubuh itu terpental dengan arah yang berlawanan dan menghantam dinding goa sehingga dinding goa itu pun runtuh dan puing-puing itu menutupi tubuh Han Long dan Bu Ling Moy.
Keduanya merasakan getaran akibat energi alam yang bereaksi pada kekuatan kultivasi yang ada pada tubuh mereka masing-masing.
Tubuh Han Long yang selama ini seperti mayat hidup bergerak menyingkirkan puing-puing dari tubuhnya, demikian juga yang dilakukan oleh Bu Ling Moy, keduanya tanpa menghiraukan sekelilingnya langsung mengambil sikap bersemedi untuk melakukan konsolidasi tingkat kultivasi yang baru, dan semua ini berlangsung selama beberapa hari.
Sedangkan cuaca di luar goa berangsur-angsur normal kembali, Bu Ling Moy bergerak pertama dengan kekuatan jiwanya dia menggerakkan sebuah gaun untuk digunakan sebagai penutup tubuhnya yang saat itu tanpa busana, namun gerakan itu sulit dilakukannya ketika dia menoleh ada seorang pria muda yang menatapnya dengan tajam, menghalangi dirinya menggerakkan baju itu menghampirinya.
“Siapa kau?”, kata Han Long, menatap tubuh Bu Ling Moy yang saat itu berdiri tanpa busana.
“Jangan kurang ajar anak muda, lihat dirimu”, kata Bu Ling Moy, dengan wajah merah menahan malu.
Ketika Han Long mendengar itu, dia melihat kearah tubuhnya, baru dia tahu bahwa dirinya pun tanpa busana, dengan wajah merah menahan rasa malu, Han Long segera menutupi sebisa mungkin bagian vitalnya.
“Mengapa seperti ini?”, kata Han Long membalikkan tubuhnya dan bergumam pada dirinya sendiri dengan rasa malu yang hinggap pada hatinya.
“Apa yang kau pikirkan?, apa yang kau ingat?”, tanya Bu Ling Moy pada Han Long.
“Dimana ibuku, aku malu kalau ibu tahu aku telanjang, dimana pakaianku?”, kata Han Long lagi.
Mendengar ucapan yang kekanak-kanakan dari Han Long, Bu Ling Moy merasa geli di hatinya, seorang pemuda yang menggaulinya tanpa henti sampai tiga bulan penuh ternyata memiliki pertanyaan bodoh di kepalanya, dan takut perbuatannya diketahui oleh ibunya.
Dengan tersenyum Bu Ling Moy berkata,
“Apakah kau tahu siapa dirimu?, apakah kau tahu apa yang lakukan selama bertahun-tahun di tempat ini?, apakah kau sadar dalam tiga bulan terakhir ini?”, tanya Bu Ling Moy kembali.
Pertanyaan beruntun yang diucapkan oleh Bu ling Moy menggugah rasa penasaran di hati Han Long.
“Aku sudah bertahun-tahun ditempat ini?, apa yang terjadi selama itu, dan ibu kenapa meninggalkan aku?”, kata Han Long makin bingung dan cemas.
“Hi hi hi…., kau berada ditempatku, ibumu pergi mencari obat herbal untukmu, dan sebenarnya kau tadinya bersama dengan ibumu disini selama bertahun-tahun dalam usaha merawat untuk luka yang kau derita akibat pertempuran terakhir, apakah kau ingat siapa lawanmu terakhir?”, kata Bu Ling Moy kembali.
Han Long mengerutkan kening, dia ingat lawannya yang merupakan leluhurnya sendiri, namun dia tidak suka akan arogansi leluhurnya itu yang dengan kekuatannya bertindak sesuka hatinya sendiri.
Bu Ling Moy memberikan penjelasan dengan perlahan dan nada yang lembut, dia tahu kalau pemuda ini berhati baik, dia menduga bahwa pemuda di hadapannya memiliki tingkat yang berbeda dari sebelumnya, dan dia memiliki andil dalam menyadarkan kondisi tubuh pemuda ini, karena Bu Ling Moy sekarang memiliki tingkat Kultivasi yang berbeda dari sebelumnya juga, dia sekarang dapat menandingi kekuatan Thian Han Ong dengan mudah tanpa rasa khawatir yang berlebihan seperti sebelumnya.
Mendengar penjelasan Bu Ling Moy, tatapan mata Han Long berangsur-angsur berubah, bahkan dengan berani dia menatap wajah cantik Penguasa Benua Ketiga itu, dia berjalan menghampiri posisi berdiri Bu Ling Moy, lalu dia menjatuhkan dirinya bersujud terhadap wanita itu,
“Aku yang muda menerima anugerah yang demikian besar, jika tetua tidak menganggap diriku maka aku akan mati dengan rela, karena nyawaku ini telah diselamatkan oleh yang mulia maka selanjutnya nyawa ini milik yang mulia”, kata Han Long.
“Huh dasar anak muda, aku tahu apa maksudmu, jauh didasar hatimu, kau telah menganggap diriku adalah wanitamu, ya kan?, namun satu hal yang harus kau tahu, sekalipun aku sudah menjadi istrimu, dan telah kurasakan benihmu telah membuahiku, keberadaan anak ini adalah tanggung jawabku, dan kau harus melupakan semua yang terjadi, selanjutnya kau harus keluar dari benua ini, dan aku membebaskan dirimu dari tanggung jawab ini”, kata Bu Ling Moy.
Han Long terkejut mendengar pernyataan yang dikeluarkan oleh Bu Ling Moy, dia memang telah menganggap bahwa wanita di depannya adalah istrinya, karena dia juga merasakan resonansi makhluk hidup di rahim wanita cantik di hadapannya, bahkan wanita itu memiliki kharisma seperti dewa-dewi surgawi, dia merasa diri sangat rendah karena dia tahu bahwa tingkat kultivasi yang dimilikinya sangat jauh di bawah wanita ini.
Kini satu tekad terbentuk dalam diri Han Long bahwa dia harus menjadi kuat, untuk dapat berharga di depan wanita cantik yang sekarang adalah istrinya, dia merasa ditolak karena kekuatan yang dimilikinya sangat rendah dibandingkan wanita itu.
Sebenarnya tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Han Long saat ini sudah mencapai tingkat kultivasi Raja Dewa ke-7 Lanjutan, namun tingkat ini tidak berharga di depan seorang Penguasa Benua Ketiga, apalagi dia melihat bahwa tingkat yang dimiliki oleh Bu Ling Moy jauh di atas tingkat Leluhur yang pernah dilawannya, karena terasa aura penindasan yang keluar dari tubuh Bu Ling Moy.
Bu Ling Moy mengetahui, bahwa tindakan ini untuk mendorong Han Long mengatasi dirinya, karena tidak mungkin dia seorang penguasa harus berpasangan dengan seorang yang menjadi juniornya, namun demikian dia harus mengambil keputusan terbaik untuk kedua belah pihak.
Mata Han Long berkilat, dia mengangkat wajahnya dan berkata,
“Aku akan menyusul tingkat yang kau miliki, dan mulai sekarang kau adalah istriku sampai kapanpun kau adalah istriku, mungkin sekarang aku tidak layak dihadapanmu, sekali waktu aku akan kembali melihat anak kita dan mendidik bersama, dengan kekuatan, aku akan memeluk tubuhmu yang menjadi milikku, dan anak itu bukan hanya milikmu saja, tapi milikku juga”, kata Han Long dengan wajah menghadap pada Bu Ling Moy tanpa kenal takut, dimatanya ada ketegasan akan tekad yang dimilikinya.
Melihat tekad yang dimiliki oleh Han Long, Bu Leng Moy tersenyum dalam hati namun di permukaan dia tidak menunjukkannya, malah dia dengan segera menggerakkan tangannya dan suasana itu berubah seketika, dan Han Long tiba-tiba telah keluar dari Benua Ketiga.