Dengan persepsi jiwa, Han Long memindai daerah dimana dia berada, karena tempat ini terasa asing baginya.
Setelah dia memindai dengan jiwanya dia merasakan sosok yang dikenalnya, dan itu adalah Yap Kun Tek, seorang tokoh penguasa Benua Khui Ning, yang saat itu sedang berhadapan dengan lima orang, tiga diantaranya memiliki tingkat kultivasi di atas diri Yap Kun Tek.
Lima orang yang menghadang Yap Kun Tek ini, dua diantaranya sudah dikenal oleh Han Long yaitu Pejabat Souw yang bernama Souw Beng dan Pejabat Liu yang bernama Liu Mong Ki.
Yang mengherankan bahwa kedua Pejabat itu dengan angkuh menatap Yap Kun Tek dengan berani, bahkan kedua pejabat itu tersenyum dengan gembira, dan di sekitar mereka sudah bergelimpangan tubuh beberapa orang yang terluka sangat parah, diantaranya Pejabat Kam, Pejabat Wang dan beberapa anggota Dewan Penguasa Benua Khui Ning.
”Ha ha ha, baru kau tahu bangkotan Yap Kun Tek, ini adalah kekuatan asli dari klanku, dan leluhur kami adalah Liu Heng atau disebut juga Putra Merah ke-6 dari Benua Merah”, kata Liu Mong Ki dengan tawa berderai menunjuk seorang yang wajahnya menyeramkan dengan rambut yang tumbuh di sekitar wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang melotot dengan cahaya merah menakutkan.
”Dan ini adalah Leluhurku Souw Kang atau Putra Merah ke-4 dari Benua Merah, selama ini kami bersembunyi, menunggu kedatanganmu menunjukkan batang hidungmu, dan kau dengan arogan mau memerintah Benua ini yang sudah jelas berada pada genggaman kami, mimpi apa yang kau alami malam tadi?, kekuatanmu tidak berarti dihadapan leluhur kami”, kata Souw Beng sambil ha ha hi hi dengan tawa berderai.
”Aku tidak gentar menghadapi kalian bertiga, majulah!”, kata Yap Kun Tek.
Orang yang disebut Souw Kang oleh Souw Beng, menghadapi Yap Kun Tek dengan tenang, dan suara ini terdengar halus seperti suara seorang wanita,
”Aku akan memberi kesempatan padamu, menyerahlah, maka kami akan mempertimbangkan dirimu, dan memohon pada guru untuk menjadikan dirimu sebagai Putera Merah Ke-14, dan saudara saudariku kemungkinan akan menerima dirimu, bagaimana?”, kata Souw Kang dengan lembut.
”Ha ha ha…, Benar apa yang dikatakan oleh kakak Souw, sayangi dirimu yang sudah berlelah payah sampai tingkat kultivasi sekarang ini, kalau akhirnya hanya kematian yang sia-sia, untuk apa pencapaian yang kau raih ini?”, bujuk Liu Heng dengan suara bercampur dengan geraman.
”He he he…, kakak berdua sepertinya sia-sia bujukan kalian berdua, sebaiknya habisi saja nyawa anjing bangkotan tua itu”, kata orang ketiga yang rupanya memiliki status sebagai Putra Merah dari Benua Merah juga.
”Tenang adik Louw Lei In, dia tidak memiliki pilihan lain, kecuali kematian”, kata suara lembut Souw Kang.
Rupanya dari tiga orang Putera Merah ini, salah satunya adalah wanita, namun wanita itu ternyata berpakaian seperti pria, dan wajahnya berbentuk persegi, sehingga tidak menunjukkan keanggunan wanita yang sesungguhnya dan cara berdiri wanita ini berdiri dengan gagah, tidak ada sisi lembut sebagaimana layaknya seorang wanita, dia merupakan Putra Merah ke-12 dengan tingkat kultivasi pada Raja Dewa Ke-3 Lanjutan.
Melihat ketiga lawan yang dihadapinya, Yap Kun Tek sedari tadi sudah berpikir, bahwa lawannya kali ini dapat membunuhnya, jangankan melawan Souw Kang, melawan orang yang bernama Louw Lei In saja sudah cukup membuat dirinya terbunuh, Yap Kun Tek tidak habis pikir, mengapa ketiganya hadir di Benua ini?, apa yang mereka cari dari Benua ini yang sebenarnya tidak berarti bagi kekuatan setingkat para Putera Merah yang merupakan Murid Langsung dari Penguasa Benua Merah Kui Lok Mo?, apakah ada sesuatu yang dilewatkan?, yang dicemaskan adalah kedatangan para ahli dari Benua Thian Agung, tapi yang datang adalah tiga orang dari 13 Putera Merah, apa sebenarnya yang terjadi?.
”Aku tidak akan bergabung dengan kalian, lebih baik aku mati, aku tahu aku tidak berdaya menghadapi satu diantara kalian, namun aku juga tahu jika aku bergabung dengan kalian dan status Putera Merah adalah sesuatu yang kalian banggakan namun tidak bagiku”, jawaban Yap Kun Tek disuarakan dengan tegas, dan itu sudah cukup bagi Louw Lei In untuk bergerak, yang dari tadi mengawasi gerakan Yap Kun Tek, maka
Booouuummm…!!!
Ledakan energi pada tubuh Louw Lei In meledak dengan dahsyat, tanpa menunda waktu dirinya langsung melesat menuju Yap Kun Tek yang sudah siap mengerahkan segenap kekuatannya menghadapi lawan.
Duarrrrr…!!!
Dua energi bertabrakan, dan tubuh Yap Kun Tek langsung terpental ke belakang dengan kecepatan seperti peluru yang ditembakan oleh senjata api, mencelat dengan dahsyat dan menabrak bangunan di belakangnya hingga hancur berkeping-keping, dan tubuh Yap Kun Tek langsung terkubur oleh puing-puing reruntuhan bangunan tersebut.
Beberapa orang yang hadir di arena pertempuran itu terkejut atas bunyi ledakan energi tersebut, namun Pejabat Souw dan Pejabat Liu dengan tertawa-tawa gembira melihat hasil dari tubuh Yap Kun Tek yang mencelat dan menabrak bangunan di belakangnya.
Selama ini mereka dilanda ketakutan atas sosok Yap Kun Tek menguasai Benua Khui Ning, namun sekarang dengan hadirnya para Leluhur mereka yang merupakan Putra Merah dari Benua Merah, ketakutan itu tersapu bersih, yang ada adalah kenyamanan, karena sudah terbayang akan masa depan di hadapan mereka berdua.
Dengan tatapan putus asa, para pejabat lain yang selama ini disebut sebagai Dewan Penguasa Benua Khui Ning melihat reruntuhan yang menimpa tubuh Yap Kun Tek.
Berbeda dengan sekutu pejabat Souw dan Pejabat Liu, yaitu dua orang, yakni Pejabat Zou dan Pejabat Gao, mereka percaya diri tidak akan menderita, karena selama ini mereka adalah sekutu yang selalu mendukung keputusan dari dua koleganya, sekalipun keputusan itu tidak selalu menguntungkan mereka berdua.
”Ha ha ha…, siapa lagi yang masih sangsi akan kekuatan klan kami?, jika masih ada sebaiknya kalian mempersiapkan diri untuk menerima akibat seperti bangkotan tua Yap Kun Tek”, kata Liu Mong Ki dengan sombong.
”Saudara Liu dan Saudara Souw, kami berdua selalu mendukung apa yang menjadi keinginan kalian, jangan lupakan kami”, kata Pejabat Gao dengan senyum ramah bersama dengan Pejabat Zou.
”Ha ha ha, tentu saja kami tidak akan melupakan kontribusi kalian berdua, dengan syarat, seluruh kekayaan klan kalian diserahkan pada kami sehingga kami dapat mengaturnya dengan baik, tentu saja bagian kalian berdua jelas lebih besar diantara klan lainnya”, kata Souw Beng dengan gembira.
Mendengar ucapan dari rekannya Souw Beng, Liu Mong Ki tertawa terbahak-bahak menyetujuinya, dia manggut-manggut atas ide yang dianggapnya sangat cemerlang, namun direspon dengan mata terbelalak oleh dua pejabat yang selama ini adalah sekutunya, Pejabat Zou dan Pejabat Gao, mereka tidak menyangka tingkat keserakahan dari dua koleganya, mereka berdua melirik sekitarnya dan melihat Pejabat Kam, Pejabat Wang, Pejabat Yap dan yang lainnya mencibir melihat kebodohan yang mereka buat.
”Segala semut ingin bernegosiasi dengan kami, apa yang kalian andalkan?”, kata Souw Heng dengan suara lembut namun di dalamnya ada ancaman yang sangat dingin.
”Hi hi hi…, mereka lupa akan diri mereka sendiri, kuberi kalian kesempatan untuk bunuh diri, cepat lakukan!, jika tidak aku akan melakukan penyiksaan dan kalian akan merasakan penderitaan tanpa akhir sehingga kalian tidak dapat melakukan bunuh diri, sekalipun itu yang kalian inginkan”, kata Louw Lei In mengancam.
Setelah suara habis dari Lauw Lei In, terdengar sebuah suara di sekitar area itu,
”Rupanya disini antek-antek Benua Merah, dalam hitungan ketiga, jika kalian masih berada di Benua Khui Ning, aku akan membunuh kalian bertiga”, sebuah suara terdengar entah dari mana mengancam para Putera Merah dengan nada dingin yang menyeramkan.
”Siapa disana?”, teriak Souw Kang,
Douumm…!!!
Douumm…!!!
Douumm…!!!
Tiga letusan energi kultivasi langsung meledak dari tiga tubuh kultivator Putera Merah.
Souw Kang pada tingkat Raja Dewa ke-5 Puncak, diikuti oleh Liu Heng pada tingkat Raja Dewa ke-5 Awal diikuti oleh Lauw Lei In pada tingkat Raja Dewa ke-3 Lanjutan, udara di sekitar mereka langsung berubah, terjadi perputaran energi kultivasi yang dahsyat di sekitar mereka bertiga mengakibatkan orang-orang yang sedang mengalami luka parah makin menderita, karena ada tekanan yang tak terhingga bagi para kultivator yang rata-rata hanya tingkat Manusia Dewa.
”Waktu kalian sudah habis”, sebuah suara terdengar lagi, dan secara mengejutkan tiga tubuh para Putera Merah terlempar ke segala arah, dan yang paling parah adalah Lauw Lei In, karena dia memiliki tingkat terendah dari para Putera Merah dari Benua Merah ini.
Tubuh Souw Kang mencelat , namun dia masih bisa bergerak dengan darah yang keluar dari mulutnya, sedangkan Liu Heng mencelat sangat jauh dengan tubuh babak belur dan darah keluar dari setiap lubang di tubuhnya, sementara Lauw Lei In, tubuhnya sudah tidak terbentuk lagi, hanya onggokan daging yang tersisa dengan sisa cabikan bekas kain bajunya, perubahan peristiwa ini sangat mengejutkan semua orang, terutama bagi Souw Beng dan Liu Mong Ki yang tadi masih tertawa terbahak-bahak.
”Pejabat Kam, Pejabat Wang sisanya kuserahkan pada kalian, dan aku minta Pejabat Yap merawat luka Leluhur Yap, dia belum mati”, suara itu sangat jelas terdengar di telinga masing-masing orang.
Mendengar semua itu semua orang yang tersisa dan masih memiliki kekuatan langsung menyerbu pada dua orang, yakni Pejabat Souw dan Pejabat Liu, dengan kekuatan yang mereka miliki, mereka mengepung dua pejabat ini, termasuk dengan Pejabat Zou dan Pejabat Gao yang masih memiliki kekuatan sempurna, dengan muak melampiaskan amarah mereka, karena mereka merasa dikhianati.
Pejabat Souw dan Pejabat Liu seketika bersiap dan mengerahkan energi kultivasi milik mereka namun keduanya hanya bisa mengeluarkan nafas yang tersengal-sengal karena ada kekuatan yang menekan kultivasi mereka berdua, terdengar jeritan yang menyayat hati dari dua orang pejabat sombong itu, jasad mereka dicincang oleh orang-orang yang sebelumnya adalah koleganya yang bersama-sama menjabat sebagai anggota Dewan Penguasa Benua Khui Ning, karena perubahan nasib yang terjadi secara mendadak.
Sesosok tubuh berkelebat dengan cepat dan membongkar puing-puing reruntuhan bangunan yang menimpa tubuh Yap Kun Tek, tidak lama kemudian tubuh Yap Kun Tek muncul di permukaan tanah, dan sosok ini menempelkan telapak tangannya pada dada Yap Kun Tek, lalu melemparkan tubuh Yap Kun Tek ke arah Pejabat Yap yang menerima tubuh Leluhurnya dengan sigap, ketika Pejabat Yap menengok ke arah sosok itu, orang tersebut telah menghilang.
Ketika semua orang hendak mengejar kearah mencelatnya dua tubuh tersisa dari anggota Putera Merah, tempat itu sudah kosong, tidak ada jasad kedua orang tersebut, rupanya dengan sisa kekuatan yang mereka miliki keduanya telah pergi.
Han Long melihat kepergian kedua orang tersebut, dia tidak langsung mengambil tindakan karena dirinya ingin tahu kemana keduanya menuju, dia harus membersihkan semua masalah yang ditimbulkan oleh antek-antek Benua Merah, dan dia bermaksud mencabut hingga ke akarnya, Han Long sekarang memiliki modal kekuatan, kalau hanya membersihkan para Putera Merah ini, dia masih mampu, dia merasa tubuhnya semakin kuat menyedot energi dunia ini.
Jika waktu tidak cukup, minimal dia akan melemahkan kekuatan pengacau dunia ini semampunya, waktu hidupnya berjalan seperti bom waktu, dia ingin melihat ibu dan kawan-kawannya dapat hidup tanpa mencemaskan akan kekuatan dari Benua Merah yang akhir-akhir ini, menjadi horor tidak berkesudahan di setiap benua.
Pergerakan kedua anggota Putera Merah yang terluka selalu diikuti oleh Han Long, sehingga dia menyadari bahwa keduanya akan meninggalkan Benua Khui Ning dan mengarah ke Benua Chong Yang, dengan cepat Han Long bertindak,
”Aku sudah memberi kesempatan pada kalian berdua, namun kalian yang terlambat meninggalkan benua ini, terimalah Kematian kalian”, kata Han Long dengan suara dingin.
”Aku sudah akan meninggalkan benua ini mengapa anda masih mengejar kami berdua?”, jawab Souw Kang mengarahkan dirinya ke arah datangnya suara.
”Kalian berdua yang berjalan terlalu lambat sehingga aku dapat mengambil nyawa kalian, itu pula yang sering kalian katakan pada lawan kalian yang lemah bukan?, gelar kalian sangat menakutkan, tapi bagiku kalian hanya beberapa ekor ayam potong saja”, kata Han Long lagi.
”Mengapa kau harus memburu kami, kami tidak pernah bermusuhan dengan dirimu”, kata Liu Heng.
”Siapa bilang kalian tidak bermusuhan denganku, namaku Han Long dari Benua Thian Agung”, kata Han Long dengan tiba-tiba muncul di hadapan Souw Kang dan Liu Heng.
”Bukankah kau pemuda yang mengaku sebagai pelayan Putri Kam itu?”, kata Souw Kang dengan perasaan terkejut, di dalam penyamarannya di klan Souw dia melihat Han Long yang saat itu tengah dikerumuni oleh barisan tentara, karena kematian salah satu anggota Klan Liu yaitu Liu Teng, dan pemuda ini menghindari kepungan tersebut, namun pemuda itu berubah setelah mendengar suara seorang wanita yang harus melumpuhkan pengepungan tersebut bahkan pemuda itu dengan bodohnya melawan Pejabat Liu, namun yang mengejutkan adalah pemuda ini dapat melawan pejabat Liu dengan tingkat kultivasi yang jauh dibawah pejabat tersebut dengan hasil imbang.
”Ya, itu aku, dan sekarang kita sudahi percakapan ini”, kata Han Long langsung menggerakkan energi jiwanya, dan tidak lama kemudian keduanya tewas dengan tengkorak yang pecah.
Han Long langsung pergi berteleportasi, tujuannya adalah Benua Chong Yang.
Sementara itu, Thian Sian Li telah kembali ke Benua Ketiga, namun dia terkejut melihat Penguasa Benua Ketiga hanya seorang diri saja, dan kondisi goa yang menjadi kediaman sang Penguasa telah berubah menjadi puing-puing seperti bekas pertempuran,
”Penguasa apa yang terjadi?, dimana anakku?”, tanya Thian Sian Li dengan cemas.
Melihat kehadiran Thian Sian Li, Bu Ling Moy pun terlihat terkejut untungnya kecepatan kesadaran dirinya di atas orang-orang normal lainnya, hampir saja dia berteriak ‘Ibu Mertua’, namun dia dapat menjaga roman wajahnya tetap dingin seperti semula.
”Anakmu telah pergi, tapi kau harus segera menyusulnya, dia ada di Benua Khui Ning sekarang ini, namun sebaiknya kau mengejar dirinya ke Benua Chong Yang, karena dia bersiap ke benua itu, tapi jika kau tidak mendapatkan Jamur Giok Nirwana, percuma kau temui, seharusnya ditanganmu sudah ada barang itu”, kata Bu Ling Moy.
Thian Sian Li gembira mendengar keterangan Penguasa Benua Ketiga ini, dia meyakini bahwa putranya telah sadar kembali dan saat ini masih berada di Benua Khui Ning,
”Terima Kasih Penguasa Benua, aku akan pamit dan barang herbal itu berada di tanganku”, kata Thian Sian Li lagi.
”Kau tidak boleh mengungkapkan barang herbal itu dengan sembarangan, bila hal ini diketahui oleh para kultivator di atasmu, itu akan jadi kesulitanmu sendiri, dan aku tidak dapat selalu melindungi putramu, kau harus menyelamatkan putramu”, kata Bu Ling Moy dengan sedikit penekanan akan kata ‘menyelamatkan putramu’, yang sangat jelas didengar oleh Thian Sian Li, bahwa kalimat ini mengandung makna tersembunyi dan arti lain, jika ditangkap maknanya oleh orang selembut Thian Sian Li yang merupakan Ibu Kandung Han Long dan juga kalimat untuk selalu merahasiakan barang mustika yang dibawanya tidak memerlukan penegasan pada tingkat kultivasi yang mereka miliki, dan Thian Sian Li bukanlah wanita bodoh, dia adalah seorang kultivator tingkat Raja Dewa.
”Terima kasih atas perhatian Penguasa Benua, aku akan segera menyusul anakku”, jawab Thian Sian Li lagi.
”Pergilah, selamatkan anakmu”, kata Bu Ling Moy kembali, Thian Sian Li hanya menganggukan kepalanya, dengan kepekaan seorang wanita, berulang kali Penguasa ini melepaskan kata ‘selamatkan anakmu’, dan selalu berbekas di hati Thian Sian Li akan penekanan kata yang ditangkap olehnya, dia adalahadalah ibunya, pasti akan berusaha untuk menyelamatkanmenyelamatkan putranya tidakt perlu di ulang-ulamg oleh wanita ini sekalipun dia adalah Penguasa Benua.
Saat ini persiapan di Kerajaan Chong Yang sudah matang, pasukan akan dipecah dimana sebagian besar paaukan akan dipimpin secara militer oleh Raja Duan Leng sendiri untuk menghadang pasukan musuh dari barat bersama dengan para tetua dari Sekte Samudera Naga, sedangkan para anak murid sekte Samudera Naga Akan Dipimpin oleh Phang Cui Lin disertai oleh enam Pelayan Inti Manor Langit, untuk menghadapi musuh dari utara, kelompok pasukan ketiga, dipimpin oleh Pangeran Duan Wu Hong dengan didampingi oleh Duan Ling, Yap Ing dan Han Wo sebagai komandan pembantu, menghadang musuh dari bagian selatan, Coa Leng In, Duan In Mey dan Han Eng, memimpin pasukan yang terdiri dari para murid dari Sekte Guntur yang rata-rata sudah berada di tingkat Manusia Suci ke-6 ke atas dan para kultivator perorangan yang akan menghadang dari arah timur, dimana kekuatan sejati dari utuasan Benua Merah ini terpusat di sebelah timur ini hasil dari informasi para penyidik.
Semua pasukan telah bergerak menuju benteng pertahanan masing-masing di setiap arah datangnya musuh.
Bu Chen Tiong dengan setia mengekor pada Duan In Mey, dan bagi Duan In Mey merasa bertanggung jawab melindungi anak tanggung ini.
Sementara itu di sebuah tempat bernama Kekaisaran Yang In, berdiri dengan megah gedung-gedung pencakar langit dengan beberapa menara yang menerobos pekatnya awan, sangat tinggi beberapa ratus meter ke atas, di dalam salah satu ruangan gedung, dua sosok tubuh lain jenis tanpa busana saling berpelukan dengan erat dan aktifitas ini dipenuhi oleh erangan kedua belah pihak yang mengandung suasana erotis, mereka adalah Mo Eng dan Han Ek.
Kini terjadi perubahan pada tubuh Han Ek, tubuhnya penuh dengan otot yang menonjolkan keperkasaan seorang pria, wajah tampannya dihiasi oleh bentuk dagu yang berbentuk persegi dan tekukan yang kokoh, tatapan pada matanya sedingin es dan seringai di mulutnya mencerminkan ketidakpedulian dirinya atas sekitarnya.
Han Ek sekarang adalah sosok penakluk hati wanita di atas ranjang, dan Mo Eng sangat memuja akan keperkasaan Han Ek dalam hal yang satu ini, bahkan Han Ek diberikan kebebasan jika dirinya tidak memuaskan Han Ek, untuk memilih pasangan lain namun semua itu ditolak oleh Han Ek, inilah yang sesungguhnya sangat menggembirakan hati Mo Eng, bahwa kekasihnya sangat setia pada dirinya dibandingkan lelaki yang pernah menggauli sebelumnya
Kecepatan kultivasi Han Ek dibangun atas dasar paham yang selaras dengan Penguasa Benua Merah, namun bakat Han Ek masih belum melampaui kejeniusan Coa Kun, maka tingkat kultivasi Han Ek selalu berada di bawah Coa Kun yaitu pada tingkat Manusia Suci ke-3 Awal, sedangkan Mo Eng sudah di Manusia Suci ke-5 Awal dan Coa Kun pada tingkat Manusia Suci Ke-6 Puncak.u diingatkan berulang kali.
Saat ini di Benua Chong Yang, di Kekaisaran Yang In, kota yang dulu sangat kecil ini, telah berubah menjadi sebuah kota besar dengan bangunan-bangunan megah yang berjejer di sepanjang jalan raya yang dulu hanya selebar beberapa meter namun kini diperlebar dengan bentangan puluhan meter, dan banyak kereta-kereta mewah dan besar keluar masuk ke kota kekaisaran ini.
Sebuah tanah lapang yang sangat luas yang dulu merupakan tempat ujian Pra Seleksi Samudera Naga pun berubah total, kini alun-alun kota ini diperluas dan bangunan disekitarnya dirobohkan dan diganti oleh menara-menara besar pencakar langit, dan bangunan menara-menara ini mengelilingi sebuah bangunan sangat besar, disinilah Mo Eng dan Coa Kun tinggal.
Kehidupan warga Kota Yang In pun berubah, penduduk asli yang dulu tinggal di perkotaan menyingkir ke arah luar kota kekaisaran dan bangunan-bangunan itu sekarang dimiliki oleh para sekutu dari utusan Benua Merah Pangeran Kun.
Pada sebuah bangunan yang sangat megah, dimana bangunan ini berdekatan dengan bangunan utama tempat kediaman Pangeran Kun, berdiri seorang pemuda di atas jendela sebuah menara, pemuda itu adalah Han Ek.
Kini penampilan Han Ek yang dulu telah berubah total, dirinya yang sekarang sudah menjadi seorang komandan kepercayaan Sri Maharatu Mo Eng, pakaian yang dikenakan olehnya seperti pakaian seragam panglima besar yang terbuat dari baja pilihan lengkap dengan pelindung kepala di kepalanya, dan Han Ek memiliki jabatan sebagai Kepala Pengawal Pelindung Sri Maharatu sekaligus merangkap kekasih sang Maharatu.
Tatapan mata Han Ek sangat tajam seperti memendam perasaan yang sulit diduga, selang beberapa saat, seorang pengawal memasuki ruangannya dan berkata,
“Maaf Komandan, diri paduka di harap menghadap ke Sri Maharatu sekarang juga”, kata pengawal tersebut.
Han Ek hanya mengangguk, dia lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk menuju ruangan pribadi sang Maharatu.
Jika orang lain yang menghadap harus melalui beberapa aturan dan protokol istana kekaisaran, namun bagi Han Ek dia bisa langsung masuk tanpa seorangpun dapat mencegah perbuatannya,
“Aku berada disini yang mulia Sri Maharatu”, kata Han Ek setelah tiba di ruangan Mo Eng, dimana Mo Eng berada didalam sebuah bilik yang terhalang oleh selembar kain tipis untuk menghalangi pandangan orang luar.
“Tidak perlu sesopan itu, kau adalah lelakiku, langsung saja kau masuk, pelayan semua segera keluar!”, perintah Mo Eng.
Han Ek tanpa sungkan langsung menyibakkan kain tipis penghalang tersebut, setelah tidak ada satupun pelayan yang tersisa di ruangan tersebut.
Mo Eng pada posisi duduk dengan kedua kaki yang berada pada sebuah tempat tidur yang mewah dan sangat lembut, ketika dilihatnya seorang pemuda tampan dan gagah, hasrat Mo Eng seperti dipicu melihat sosok pemuda ini, dirinya langsung berdiri dimana tubuh Mo Eng hanya berbalut kain yang sangat tipis sehingga terlihat bahwa bagian sebelah dalam dari tubuh Mo Eng sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.
Kedua tangan Mo Eng langsung memeluk leher Han Ek yang masih berdiri tegak dan berpakaian lengkap seorang komandan jaga.
“Aku merindukanmu sayang”, kata Mo Eng
“Hemmm…”, hanya itu yang dikeluarkan oleh Han Ek, karena selanjutnya mereka berdua melaksanakan ritual Kultivasi Ganda untuk sama-sama melepaskan hasrat purba yang dimiliki setiap makhluk hidup, khususnya Mo Eng yang kini selalu mengejar kenikmatan birahi, alih-alih untuk peningkatan kultivasi, namun yang sebenarnya malah Han Ek yang menikmati manfaat terbesar karena dirinya dapat menyedot inti energi dingin di tubuh Mo Eng, dan kondisi ini sebenarnya diketahui oleh Mo Eng, namun rasa cinta pada Han Ek, Mo Eng malah memberikan dengan sukarela pada pemuda ini.
Setelah beberapa lama, keduanya beristirahat,
“Sayang, apakah kau tahu bahwa ada jejak benih kehidupan di tubuhku?”, kata Mo Eng menatap Han Ek.
“Apa maksudmu?, aku tidak mengerti”, kata Han Ek terkejut.
“Jangan berpura-pura, namun aku tidak keberatan kalau kau mau mengingkarinya, bagiku memiliki seorang anak lagi yang menjadi adik dari Pangeran Kun bukan masalah besar”, kata Mo Eng sambil kepalanya menunduk, namun matanya melirik Han Ek.
“Perbuatlah apa yang kau sukai, apalah artinya diriku ini?, bahkan sebelumnya aku hanya seorang pria yang kau ambil dari klanku, dan kau mengambilku dengan sebuah tujuan dan aku selalu mematuhimu, apakah aku memiliki pendapat dihadapanmu itu semua tidak penting lagi”, kata Han Ek, dia menyadari bahwa dirinya hanyalah pemuas nafsu dari iblis wanita cantik ini, namun apa yang dapat dia perbuat, malah dengan perintah Mo Eng dia membunuh Kepala Klannya sendiri.
“Hi Hi hi…, aku mengerti perasaanmu, tapi aku hanya mengatakan bahwa anak dalam rahimku adalah milikku, anak ini akan kurawat dan kudidik untuk menjadi anak terkuat, karena di dunia ini yang terkuatlah yang mendapatkan segalanya”, kata Mo Eng lagi.
Han Ek terdiam, dalam hatinya dia menyetujui ucapan Mo Eng, tentang kekuatan, namun sebagian dirinya telah hilang sejak dia membunuh sendiri kepala klannya, sekarang dirinya tidak tahu tujuan hidup sebenarnya, dulu cita-citanya sederhana, hanya ingin menjadi salah satu tetua di dalam klannya sendiri, namun perubahan peristiwa seringkali tidak dapat diduga, sekarang dia seperti mengikuti arus dimana dia hanya berusaha bertahan hidup saja.
Keesokan harinya, di kekaisaran Yang In, kesibukan orang-orang yang menjadi sekutu Pangeran Kun bertambah, karena rencana besar akan segera diwujudkan yaitu menundukkan kerajaan terakhir di Benua Chong Yang, yakni Kerajaan Chong Yang.
Di dalam Aula istana Kekaisaran Yang In, terdapat ratusan orang yang merupakan para komandan dan utusan yang menjadi sekutu Kekaisaran Yang In,
“Dengar semua!, dalam waktu tiga bulan akan dilaksanakan penyerbuan untuk menaklukan Kerajaan Chong Yang, di bagian Barat sejauh mana kekuatan dipersiapkan?”, Kata Coa Kun di atas tahtanya.
Majulah tiga orang utusan yang merupakan dari kerajaan Thi Agung dan utusan sekte Lembah Api dan Puncak Merah,
“kami telah siap dan menunggu perintah”, jawab ketiganya.
“Persiapan sebelah Utara?”, kata Coa Kun lagi.
“Kami juga siap”, kata utusan dari Kerajaan Kao Monarki dan sekte Gunung Abadi.
“Bagian Selatan?”, tanya Coa Kun
“Maaf Pangeran Kun, kami utusan dari sekte Angin Guntur sudah siap, tapi utusan dari kerajaan Ming Lan mengakui bahwa mereka tidak memiliki kekuatan yang memadai, kami mohon bantuan dari pangeran Kun memperkuat pasukan kami di bagian selatan”, kata utusan dari Sekte Angin Guntur.
Coa Kun melirik utusan dari kerajaan Ming Lan, dia tahu akan pembalasan yang dilakukan oleh salah satu tokoh Sekte Samudera Naga yang menghabisi para tokoh di Kerajaan Ming Lan beberapa tahun lampau.
“Baiklah, tidak perlu kau khawatirkan, Ibu maukah kau memperkuat bagian selatan?”, kata Coa Kun sambil dirinya menghadap pada ibunya Mo Eng.
“Aku akan membawa pasukanku untuk bergerak dari selatan kerajaan Chong Yang, kita akan segera berangkat”, kata Mo Eng dengan anggun.
“Semua rencana telah diputuskan, ingat segala kontribusi ini akan diingat, dan ketika ini berakhir semua yang berjasa akan menerima hadiah dari guruku, Penguasa Benua Merah Yang Maha Mulia Leluhur Kui Lok Mo”, kata Coa Kun dengan suara keras dan dalam.