Ada dua orang tamu misterius di kedalaman kediaman Coa Kun yang tidak pernah diketahui oleh semua orang di Kekaisaran Yang In, mereka berdua hanya berkomunikasi dengan Coa Kun, ibunya sendiri tidak mengetahui keberadaan tamu misterius ini, karena dua orang ini adalah keberadaan kartu truf yang dimiliki oleh Coa Kun dalam rencana penaklukan terhadap Benua Chong Yang ini.
Dua orang ini adalah bagian dari para Putra Merah dari Benua Merah yang diutus oleh Kui Lok Mo, mendampingi murid terakhirnya.
“Kakak berdua, semua persiapan telah selesai, kini saatnya kita bergerak”, kata Coa Kun menghadap pada dua orang ini.
“Kun kecil, kau harus berhasil, ingat guru tidak menyukai kegagalan, langkah ini hanya tindakan kecil namun sangat penting bagi rencana yang dibangun selama ribuan tahun”, kata seorang pria berwajah putih pucat dengan kepala plontos.
“Kakak Kui Seng tidak perlu kau khawatir akan segala yang remeh, aku mengerti akan segala rencana yang telah disusun oleh guru”, kata Coa Kun
“Kun kecil, ingat keberhasilan rencana ini menjadi kesuksesan yang lebih besar di masa depan”, kata seorang wanita 30 tahunan yang wajahnya ada sebuah tanda hitam di pipinya sehingga tanda ini merusak sebagian kecantikan wajahnya.
“Akan ku ingat kakak Cui Lin”, jawab Coa Kun, dia mengerti akan langkah selanjutnya, dan kedua kakaknya ini adalah yang selalu menyertai dirinya sejak keluar dari Benua Merah.
Mereka berdua adalah sepasang kekasih dimana Kui Seng adalah Putra Merah ke-5 dengan tingkat kultivasi pada tingkat Raja Dewa ke-5 Lanjutan, sedangkan orang yang dipanggil Cui Lin adalah Putra Merah ke-8 pada tingkat kultivasi Raja Dewa ke-4 Lanjutan.
Meninggalkan kesibukan Kekaisaran Yang In, di tempat lain di istana Kerajaan Chong Yang, Raja Duan Leng dikelilingi oleh para Menteri dan para Panglimanya, demikian juga para petinggi Sekte Samudera Naga dan para utusan anak muda dari Manor Langit, serta utusan dari Sekte Guntur.
Jumlah orang yang menjadi utusan dari Sekte Guntur hanya 20 anak muda namun kekuatan mereka tidak bisa dianggap ringan karena mereka memiliki tingkat kultivasi pada tingkat Manusia Suci ke-7 sampai dengan ke-9, yang justru melebihi tingkat para pengurus tinggi Sekte Samudera Naga, apalagi jika dibandingkan dengan para penghuni Istana Kerajaan Chong Yang.
Demikian juga dengan utusan dari Manor Langit jumlahnya hanya 9 orang saja namun kekuatan yang dimiliki rata-rata adalah tingkat Manusia suci ke-3 sampai dengan ke-6, terutama Putri langit telah mencapai Manusia Suci ke-7 Lanjutan, dimana barisan ini dapat menundukkan dan meratakan seluruh Sekte Samudera Naga.
Di Tempat terpisah ada pasangan ibu dan anak, Coa Leng In dan Yap Ing, dimana keduanya adalah kekuatan yang tidak terduga karena Coa Leng In dan ibunya telah menyempurnakan sebagian besar 12 teknik kultivasi dan beladiri yang tercantum di kulit binatang kering, mereka berdua sudah berada pada tingkat kultivasi Manusia Suci ke-6 Puncak dan Lanjutan, sekalipun Tingkat kultivasi yang dimiliki ibu dan anak ini dibawah barisan dari utusan Sekte Guntur, namun dalam pertarungan sesungguhnya Teknik Beladiri yang dikuasai ibu dan putrinya dapat mengimbangi bahkan mengalahkan kekuatan dari utusan Sekte Guntur Benua Thian Agung.
“Baiklah karena semua sudah hadir, aku akan langsung pada pokok masalah”, Kata Raja Duan Leng sambil dia melirik saudara-saudarinya, setelah mengatur nafasnya Raja Duan Leng berujar kembali,
“Menurut para penyidik, Kekaisaran Yang In akan melaksanakan penyerangan dalam waktu tiga bulan, kekuatan yang dimiliki oleh kita sedikit kurang kalau melihat jumlah yang mendukung kekuatan Kerajaan Chong Yang, namun aku dapat menyebutkan bahwa kekuatan yang kita miliki secara kualitas jauh diatas mereka, namun kita semua harus waspada terhadap situasi yang akan merubah semua rencana yang kita persiapkan, dan aku tidak bisa memutuskan rencana apa yang terbaik, semua itu diserahkan pada para sahabat yang mau terlibat dan membantu Kerajaan ini, apapun yang terjadi, di lubuk hatiku, aku mengucapkan terima kasih”, kata Raja Duan Leng, dia lalu memberi hormat pada semuanya dengan membungkukan badannya.
Melihat temperamen saudaranya yang sekarang menjadi Raja, ketiga saudaranya menjadi kagum atas kharisma yang dimiliki oleh kakak sulungnya ini, memang dia pantas memimpin kerajaan ini dibandingkan dengan mereka bertiga.
Semua orang mengusulkan demi mempersiapkan semuanya dengan baik, setelah melalui perdebatan dan pemikiran yang matang akhirnya harus dibentuk empat kelompok besar, dimana Raja Duan Leng akan memimpin pasukan Kerajaan untuk menghadapi musuh dari arah Barat dengan bantuan dari para Tetua Sekte Samudera Naga, dan utusan Manor Langit akan memimpin pasukan untuk menghadapi lawan dari utara, namun kepemimpinan diserahkan pada Phang Cui Lin karena Han Eng dan Coa Leng In meminta sendiri akan dipersiapkan menghadapi Coa Kun, sedangkan pasukan dari selatan akan diserahkan pada Duan Wu Hong yang dibantu oleh Duan Ling dan Han Wo.
Atas permintaan Duan Wu Hong, meminta Yap Ing untuk ikut membantunya, yang ditanggapi oleh Yap Ing sedikit heran, karena pemuda bangsawan ini sedari tadi berusaha melirik dirinya, namun Yap Ing menyetujuinya karena dia ingin melawan Mo Eng bekas madunya, dan Han Wo ingin melihat kakak seniornya Han Ek, yang katanya telah berubah bahkan membunuh Kepala Klan Han, yang sebetulnya Han Eng dengan ngotot ingin membunuh Han Ek yang membunuh ayahnya, namun Han Eng menyadari bahwa sumber masalah adalah Coa Kun, apalagi Coa Leng In ingin mereka berduka memburu Coa Kun.
“Apakah aku tidak disertakan?, minimal aku bisa mengobati yang terluka”, Kata Bu Chen Tiong dengan wajah polos.
“Adik Tiong kau bersamaku saja”, kata Duan In Mey,
“kita bersama dua kakak perempuan itu”, lanjut Duan In Mey sambil jarinya menunjuk pada Han Eng dan Coa Leng In.
“Oh, baiklah”, kata Bu Chen Tiong.
Sambil dirinya mengikuti Duan In Mey menghampiri kelompok pasukan Han Eng dan Coa Leng In.
“Kakak-kakak cantik bawalah aku, aku mohon”, kata Bu Chen Tiong setelah sampai di depan Han Eng dan Coa Leng In.
Han Eng mengerutkan keningnya, demikian juga Coa Leng In, mereka berdua menatap bocah lelaki tanggung ini, dan selanjutnya menatap Duan In Mey yang tersenyum memperhatikan tingkah Bu Chen Tiong,
“Saudari berdua, dia adalah Bu Chen Tiong, jangan kalian lihat anak lelaki ini sebagai anak biasa, dia memiliki tingkat yang berada di atas kalian berdua, dan kupikir dia akan banyak membantu”, kata Duan In Mey dengan tersenyum, dulu dia dibawah Han Eng tingkat kultivasinya namun sekarang malah dia memiliki Tingkat tertinggi dari semua orang yang berada di aula istana Kerajaan Chong Yang, jadi dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk diterima oleh pasukan manapun.
Mendengar Putri kerajaan Chong Yang yang sudah dikenalnya, Han Eng menganggukan kepalanya, melihat persetujuan dari wanita cantik itu Bu Chen Tiong melompat-lompat dengan gembira,
“Apa yang kau lakukan bocah, kita bukan pergi pesiar tapi untuk bertempur”, kata Coa Leng In sambil menahan senyum.
“Aku gembira karena kalian adalah kakak-kakak yang baik juga cantik”, kata Bu Chen Tiong.
Mendengar jawaban konyol anak lelaki ini ketiga wanita itu tersenyum lebar, mereka akhirnya meninggalkan ruangan tersebut serta mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak menjadi masalah bila saatnya tiba.
Pasukan yang dibawa oleh Han Eng, Coa Leng In dan Duan In Mey hanya berjumlah sekitar lima ribu orang, namun kekuatan yang menyertai mereka diikuti pula oleh sekitar sepuluh orang dari sekte Guntur yng memiliki Tingkat Kultivasi Manusia Suci ke-7 dan ke-8 termasuk dengan Duan In Mey dan Bu Chen Tiong.
Pasukan mereka akhirnya telah tiba di perbatasan wilayah bagian timur, ada sebuah benteng pertahanan di bagian timur Kerajaan Chong Yang ini, setelah melapor kepada seorang komandan yang memiliki sekitar lima ratus anggota pasukan, maka total pasukan yang mempertahankan benteng bagian timur berjumlah lima ribu lima ratus orang saja.
Tiba-tiba terbersit di benak Han Eng,
“Saudari Leng In, kita sebaiknya membentuk pasukan kecil, untuk menyelidiki kekuatan musuh”, kata Han Eng pada sahabatnya yang saat itu berkumpul di sebuah tempat bersama dengan Duan In Mey dan Bu Chen Tiong serta dengan 8 orang anggota Sekte Guntur.
“Apakah hal ini perlu, mengingat kekuatan kita hanya memiliki sedikit orang?”, balas Coa Leng In.
“Kakak berdua , aku menyetujui usul dari kakak Han Eng, karena kita memiliki tingkat yang lebih tinggi dibandingkan yang lain, sehingga kita dapat menyiapkan jebakan yang akan membantu, pasukan utama di pihak kita”, kata Bu Chen Tiong, karena baginya ini hanya permainan anak-anak, dia senang menyusun strategi, seperti yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya.
“Siapa diantara kita yang mau bergabung, kita tidak memerlukan tenaga yang banyak, tapi orang yang ikut harus tahu akan bahaya dan menanggung resiko itu sendiri”, kata Coa Leng In lagi.
Maka semua murid yang menjadi utusan dari Sekte Guntur menyatakan kesediaannya, apalagi mereka ingin menguji hasil latihan yang sudah mereka latih selama bertahun-tahun dan ingin mencoba keampuhan senjata yang mereka bawa dari Sekte Guntur.
Maka atas usul Han Eng, regu kecil ini hanya berjumlah 12 orang saja, namun tingkat kekuatan yang dimiliki sanggup untuk menguasai seluruh pasukan.
Diputuskan untuk regu dua belas orang ini untuk berangkat mencegat pasukan dari Kekaisaran Yang In di tengah jalan dengan mengandalkan tingkat kultivasi yang mereka miliki, sebagai komandan ditentukan adalah Coa Leng In, yang walaupun tingkat kultivasinya rendah namun memiliki Teknik Beladiri yang sangat kuat.
Beberapa ribu meter jauhnya dari pertahanan Benteng Timur Kerajaan Chong Yang, pasukan dari kekaisaran Yang In bergerak, menuju arah Benteng Timur, dengan kekuatan dua puluh ribu anggota, pasukan ini bergerak tanpa istirahat sejak keberangkatan mereka dari kota kekaisaran.
Terlihat Coa Kun di atas kereta perangnya yang sangat besar dan megah, sementara di bagian dalam ada dua sosok anggota Putra Merah yang selalu menyertai Coa Kun.
Beberapa bayangan orang berkelebatan dengan jarak sekitar ratusan meter dari pasukan besar ini, keberadaan 12 sosok bayangan ini tidak dapat diduga oleh Coa Kun namun berbeda dengan dua anggota Putra Merah karena dengan persepsi jiwa yang mereka miliki, apa yang dilakukan oleh Coa Leng In, tidak terlepas dari pengamatan mereka.
“Kun Kecil waspada, musuh berusaha mencegat pasukan kita , jumlah mereka hanya sekitar belasan orang namun jangan anggap ringan kekuatan mereka”, kata Kui Seng Putra Merah ke-5.
Sedangkan di bagian lain ada seorang pemuda yang juga mengawasi pergerakan Han Eng dan kawan-kawan, keningnya sedikit berkerut karena dia juga dapat merasakan keberadaan dua orang yang bersembunyi di dalam kereta yang dimiliki oleh Coa Kun.
Sosok pemuda ini bertubuh tinggi dengan wajah bersih dan tampan, rambutnya hanya diikat dengan satu ikatan di punggungnya, dia adalah Han Long, setelah mencurigai utusan Putra Merah di Benua Khui Ning, dia segera berangkat ke Benua Chong Yang, dan tadinya dia akan langsung mendatangi Kota Yang In, namun dalam perjalanannya, dia mendengar akan perubahan yang terjadi di Benua Chong Yang ini, maka dengan persepsi jiwanya dia merasakan ada gerakan besar yang mengarah ke kerajaan Chong Yang dari arah kota Yang In.
Tingkat kultivasi Han Long saat ini adalah Raja Dewa ke-7 Lanjutan, sehingga ketika dia mengerahkan persepsi jiwanya yaitu Jiwa Terpecah Melumat Angkasa yang sudah dikuasai sampai tahap kesembilan, muncullah jiwa Han Long yang sama persis dengan diri sejati Han Long namun ada perbedaan bahwa jiwa ini hanya memiliki kekuatan pada Manusia Dewa ke-7 Lanjutan, dengan sosok tubuh kembarnya, Han Long mengendalikan jiwa ini hanya melalui pikirannya saja, maka berpencarlah dua sosok ini, dimana jiwa ini mengejar rombongan Han Eng dan kawan-kawan, sedangkan Han Long sejati mendatangi kereta Coa Kun dan Pasukannya.
Coa Kun tersenyum mengejek akan tindakan dari dua belas orang pengintai yang hendak membuat jebakan pada pasukannya, dia beruntung akan adanya dua anggota Putera Merah ini, jika sebelumnya dia tidak diperingati oleh kakak seperguruannya mungkin dia akan mendapat masalah.
Dua belas pengintai pimpinan Coa Leng In, bergerak dengan cepat, baik Duan In Mey dan Bu Chen Tiong menunjukkan keahlian mereka berdua sehingga bayangan mereka bergerak sangat cepat melebihi gerakan Han Eng dan Coa Leng In, semua itu hanya menimbulkan rasa kagum keduanya pada bocah lelaki tersebut.
Saat itu, di barisan pasukan yang di bawa oleh Coa Kun terjadi teriakan -teriakan kesakitan di antara anggota pasukan, bahkan ada yang kedapatan sudah tidak bernyawa lagi, namun Coa Kun menerima berita dari masing-masing komandan dengan tersenyum,
“Kita istirahat, buat perkemahan disini!”, Perinta Coa Kun.
Dengan serentak barisan pasukan ini menyibak untuk bersiap membuat perkemahan, hal ini adalah sesuatu yang tidak terduga oleh Coa Leng In,
“Celaka, keadaan kita akan diketahui, cepat menyebar, lumpuhkan anggota pasukan, pakai seragam mereka”, Kata Coa Leng In pada rombongannya.
“Ha ha ha…, semua sudah terlambat, kalian sudah terkurung”, sebuah suara menggema, dan pasukan telah membuat lingkaran dan ditengah-tengah lingkaran terdapat sebelas orang yang terkurung.
Coa Leng In terkejut melihat perubahan mendadak ini, dia tidak menyadari ketika masing-masing komandan memberikan kode rahasia pada pasukannya masing-masing, dengan kode ini, komunikasi antar pasukan menemukan kecurigaan pada beberapa sosok yang menyelinap di antara mereka.
“Coa Kun , aku tidak takut, aku akan jadi lawanmu, dan siapkan dirimu untuk menebus dosa karena telah membunuh ayah”, kata Coa Leng In dengan gagah.
Coa Kun heran bahwa barisan penyelinap itu adalah pimpinan adik tirinya sendiri,
“Apakah itu kau. adik Leng In?, aku sudah mencarimu kemana-mana, justru aku ingin mengajakmu bergabung denganku, kau lebih berbakat dibandingkan denganku”, kata Coa Kun dengan nada ramah, menghampiri kelompok Coa Leng In.
“Aha…, ternyata kau juga berada disini, apa kabar saudari Han Eng?”, kata Coa Kun kembali.
“Aku akan membunuhmu, karena kau, ayahku terbunuh”, kata Han Eng dengan mata tajam menatap Coa Kun.
“He he he…, kau salah, yang membunuh ayahmu adalah kakak seniormu sendiri, dan juga untuk membunuhku, hal itu hanya mudah diucapkan namun sulit dilakukan, apalagi kalian sudah terkurung seperti ini, apa yang dapat kalian lakukan?”, kata Coa Kun kembali.
Han Eng tahu, bahwa situasi menjadi sulit, namun dia masih percaya diri, jika harus melawan pasukan besar ini, minimal dia dapat membunuh ribuan musuh,
“Kawan-kawan, ini semua adalah ideku, biarlah aku menebus kesalahanku”, Kata Han Eng pada rombongannya, dan
Doummm…!!!
Tingkat kultivasi Manusia Suci ke-8 Lanjutan Han Eng langsung meledak, dia sudah siap mati, demi melindungi yang lainnya.
Doummm…!!!
Doummm…!!!
Secara berturut-turut sepuluh orang lainnya mengerahkan energi kultivasi yang dimiliki setiap orang, maka di tengah kepungan ini berputar arus energi yang kuat,
“Aku kan menyertaimu saudari Eng”, kata Coa Leng In.
“Kami Juga!!!”, kata Duan In Mey dan orang-orang Sekte Guntur, anehnya diantara mereka tidak terlihat Bu Chen Tiong, anak itu menghilang.
Perputaran energi yang melanda kepungan itu memberikan efek kejut bagi pasukan yang dibawa oleh Coa Kun, bahkan ada diantara mereka langsung berubah menjadi daging cincang, sebagian besar langsung lumpuh, untungnya lebih banyak yang mundur karena energi kultivasi Para Manusia Suci bukanlah lawan bagi para kultivator tingkat Imajinasi Roh yang dimiliki sebagian besar komandan pasukan, apalagi bagi pasukan biasa.
“Jika kami harus mati, maka kami akan meminta korban ribuan dari pasukanmu, untuk menemani kematian kami”, Kata Han Eng dan Duan In Mey.
Ucapan keduanya disambut dengan tawa, dan muncullah sepasang manusia dari kereta yang tadi ditumpangi oleh Coa Kun,
“Ha ha ha…, semut bertingkah, kalau kalian harus mati, maka matilah sendiri”, sebuah suara yang keluar dari pria berkepala botak sementara yang wanita ada tanda hitam di wajahnya sehingga merusak kecantikan wajah tersebut dan keduanya menggunakan busana yang aneh seperti pakaian yang dipakai oleh sekelompok pengemis dengan aneka warna yang ditambal sejadinya.
Coa Kun sangat senang melihat kemunculan kakak-kakak seperguruannya ini,
“Ha ha ha…, kalian sudah terkepung, perkenalkan, mereka berdua adalah kakak-kakak seperguruanku, jika kalian ingin mati, maka matilah sendiri”, kata Coa Kun sambil tertawa terbahak-bahak.
Coa Leng In dan Han Eng sangat terkejut melihat sepasang manusia aneh ini,
“Coa Kun, aku akan mati bersamamu !!”, jerit Coa Leng In, dia sangat membenci saudaranya ini, karena orang ini telah membunuh ayah kandung mereka.
“Apakah bisa?”, jawab Coa Kun dengan senyum di wajah.
Coa Leng In dan kawan-kawan tersentak karena dirinya tidak dapat bergerak lagi, ada tekanan yang mengunci tubuhnya demikian juga kawan-kawannya, wajah mereka berubah sangat merah, Han Eng merasakan tekanan energi yang membuat dirinya tidak dapat melakukan apapun, hal ini semakin mencemaskan kelompok Han Eng dan Coa Leng In.
Saat keputus-asa-an melanda kelompok Coa Leng In dan kawan-kawannya, tiba-tiba dibagian lain terjadi keributan, beberapa kereta yang memuat perbekalan dan senjata terbakar, bukan hanya satu tapi hampir semua kereta perbekalan di dalam pasukan yang dibawa oleh Coa Kun, ditambah lagi sejumlah komandan pada tingkat Insan Raja ke bawah, tiba-tiba jatuh roboh dan mati, hal ini jelas saja mengejutkan pihak Coa Kun dan dua kakak seperguruannya, ternyata masih ada penyusup yang menimbulkan keributan dan kekacauan dalam pasukan.
Tekanan yang melanda kelompok Coa Leng In sedikit longgar, hal ini dimanfaatkan oleh mereka untuk bergerak menghabisi sebanyak-banyaknya pasukan yang mengelilingi mereka, dan hal itu menimbulkan kepanikan tersendiri di antara pasukan Coa Kun, namun hal ini segera dikuasai kembali oleh Kui Seng dan Cui Lin sepasang kekasih dari Putra Merah, dengan tingkat Raja Dewa ke-5- Lanjutan, insiden ini segera diatasi.
“Rupanya kalian tidak sesederhana yang terlihat, maka sebaiknya kematian kalian harus dipercepat”, kata Kui Seng.
Maka dia memutar dan mengerahkan energi kultivasinya,
Boummm…!!!
Tingkat Raja Dewa dari dua orang anggota Putera Merah seketika meletus, dan tekanan besar energi dari seorang kultivator tingkat Raja Dewa itu, siap menghantam kelompok Coa Leng In yang hanya seorang Kultivator Manusia Suci.
Coa Leng In dan kawan-kawannya sudah pasrah, tekanan hebat langsung mendera dan menghantam diri mereka.
Namun saat energi itu menghampiri mereka, hanya ada hembusan angin lembut, mereka tidak merasakan kerusakan apapun, ketika mata Coa Leng In, Han Eng dan Duan In Mey melihat ke arah Kui Seng, malah Kui Seng yang sekarang mengeluarkan darah dari lubang hidung, telinga dan mulutnya, tidak hanya Kui Seng bahkan pasangannya juga, Cui Lin menderita lebih parah.
“Matilah!”, suara itu terdengar tenang tanpa emosi, namun bergema di tengah-tengah kepungan pasukan Coa Kun yang mengelilingi kelompok Coa Leng In dan kawan-kawanya.
Setelah suara itu menghilang, robohlah dua tubuh ke tanah, yakni tubuh Kui Seng dan tubuh Cui Lin kekasihnya.
Semua itu terjadi di depan mata Coa Kun, dan sekarang Coa Kun berdiri dengan gemetaran, dirinya sangat heran dan terkejut, rasa ketakutan melanda dirinya sangat besar, dengan gugup dia berteriak,
“Serbu, Serang!, Bunuh mereka semua”, Kata Coa Kun berteriak panik, memberi perintah pada pasukannya.
Mendengar teriakan Coa Kun, Coa Leng In dan kawan-kawannya bereaksi dengan sigap, apalagi energi kultivasi mereka masih berada ditengah-tengah pengoperasiannya, maka,
“Saudara-saudaraku inilah saatnya”, kata Coa Leng In
Heeaaaaaa…!!!
Dooouummm….!!!
Haaaaaaaaiiittt…!!!
Duaaarrrr….!!!
berbagai teriakan dikeluarkan oleh Coa Leng In, Han Eng, Duan In Mey dan kawan-kawannya, terjadilah pertempuran antara sebelas orang melawan ribuan anggota pasukan, namun keberadaan ribuan pasukan ini seperti serangga yang menghampiri api yang panas begitu mendekat mereka hangus, hanya menyetor nyawa saja.
Kekacauan ini dimanfaatkan oleh Coa Kun untuk berlari sembunyi, Coa Leng In dan Han Eng berusaha menghampiri posisi Coa Kun namun jejak Coa Kun telah menghilang.
Coa Kun tahu bahwa dirinya bukan lawan dari para wanita perkasa itu, baik Coa Leng In maupun Han Eng adalah iblis di dalam hatinya, dari kecil hingga saat ini, Coa Kun melihat bahwa kekuatan adiknya Coa Leng In dan Han Eng selalu berada di atasnya, inilah yang membuat dirinya takut setengah mati, apalagi dia sudah membunuh ayah mereka berdua, karena perintah gurunya demi untuk hasrat pada ibunya Mo Eng membunuh Coa King Hun, adapun Han Wi Teng demi kepentingan ibunya Mo Eng
Kelompok sebelas orang ini seperti sekelompok petani yang menuai padi disawah, dengan mudah mereka membabat anggota pasukan ini yang memiliki kultivasi jauh lebih rendah, lama-kelamaan mereka pun bosan, karena komandan tertinggi pasukan ini sudah kabur entah kemana.
“Sudah, sudah tinggalkan pasukan itu, kasihan mereka juga memiliki keluarga”, kata Han Eng pada kawan-kawannya.
Mendengar seruan Han Eng mereka pun menghentikan pembantaian tersebut, dan anggota pasukan yang menjadi lawan mereka pun berhenti mempertahankan nyawa mereka, mereka semua hanya bisa menatap lawan mereka yang demikian perkasa,
“Pergilah kalian, terserah kalian mau kemana, jika kalian berniat melakukan penyerbuan ke benteng Timur Kerajaan Chong Yang maka kalian akan menemui kami sebagai lawan, dan saat itu kami akan membunuh kalian tanpa memberi kesempatan seperti ini lagi’. kata Coa Leng In, yang direspon oleh pasukan dengan kebingungan karena hampir sebagian besar komandan tingkat tinggi sudah mati, yang tersisa tinggal tingkat komandan Imajinasi Roh ke-1, dan itupun hanya tinggal beberapa orang saja, dari dua puluh ribu anggota pasukan yang dibawa oleh Coa Kun, yang tersisa tinggal lima belas ribuan saja, artinya pasukan ini sudah kehilangan sekitar lima ribu dalam menghadapi kelompok kecil dari regu Han Eng dan Coa Leng In.
Sekarang setelah lawan dikalahkan, kelompok sebelas orang memiliki pertanyaan besar di setiap otak mereka,
Dimana Bu Chen Tiong?
Siapa Penolong mereka?
Dua pertanyaan ini, menghantui pikiran mereka.
Dan tidak lama kemudian,
“Kakak, Kakak…, aku datang, lihat aku telah membakar persedian ransum mereka”, suara bocah lelaki terdengar, dan terlihat ada bayangan yang melesat di antara pasukan itu, melihat bahwa masih ada kekuatan yang menjadi bagian dari kelompok Coa Leng In, pasukan ini sudah kehilangan nyali dan keberanian, apalagi dikatakan bahwa ransum makanan yang mereka bawa sudah hangus dibakar oleh anak lelaki tanggung tersebut yang memiliki kekuatan di atas mereka semua.
“Adik Tiong, kemana saja kamu”, kata Duan In Mey dengan wajah lega.
“Aku menyelinap di antara mereka, lalu aku membakar gudang senjata dan persediaan makanan mereka”, kata Bu Chen Tiong dengan polos.
“Ayo tinggalkan mereka, terserah apakah pasukan ini akan terus bertempur atau kembali ke kota Yang In, itu urusan mereka”, kata Coa Leng In dan Han Eng, yang disetujui oleh lainnya.
Maka kelompok Coa Leng In pergi meninggalkan pasukan itu yang masih bingung, mereka harus berbuat apa, tanpa ada seorang yang berani bertindak sebagai pemimpin atau komandan mereka.
Dengan cepat Coa Leng In memasuki benteng Timur Kerajaan ChongYang, dan masing-masing anggota lalu memasuki ruangan istirahat untuk memulihkan kekuatan mereka, karena besok ada tantangannya sendiri.