Jiwa Han Long mengikuti rombongan Han Eng, Coa Leng In dan Duan In Mey, sementara diri sejati Han Long terus mengikuti pelarian Coa Kun.
Coa Kun memacu tunggangannya secara maksimal, tujuannya adalah bagian selatan dari Kerajaan Chong Yang, untuk bergabung dengan pasukan ibunya, dimana disana juga berkumpul warga kota Yang In yang dulu dia rekrut menjadi pengikutnya.
Dia ingin memberitahu ibunya, ada kekuatan super yang melindungi Kerajaan Chong Yang, terbukti pembantu yang sangat diandalkan olehnya pada kultivasi Raja Dewa sudah terbunuh.
Sebenarnya Coa Kun sedang menunggu berita dari Benua Khui Ning, namun tidak kunjung datang berita itu, disini dia curiga bahwa sesuatu yang buruk juga menimpa para Putera Merah yang ditempatkan di Benua Khui Ning.
Menurut rencana gurunya, dengan mengutus tiga orang Putra Merah ke Benua Khui Ning, cukup untuk melenyapkan Penguasa Benua tersebut, setelah itu, mereka bertiga akan bergabung di Benua Chong Yang, dimana tiga orang tersebut, masing-masing akan memimpin serangan dari tiga arah dan salah satunya akan membantu pasukan ibunya dari selatan.
Namun utusan Putera Merah tidak kunjung datang.
Tidak ada yang menduga bahwa rencana yang disusun ribuan tahun lalu oleh Kui Lok Mo, tidak memperhitungkan faktor yang dianggap tidak penting, dan yang kurang dari rencana itu adalah keberadaan Han Long yang akhirnya membunuh lima orang, anggota dari Putera Merah tersebut.
Coa Kun memacu tunggangannya tanpa istirahat, dia sangat mengkhawatirkan ibunya, jika ibunya melancarkan serangan sesuai rencana semula, dipastikan akan gagal, karena serangan dari pasukan timur sudah lumpuh, maka serangan dari selatan adalah usaha yang sia-sia.
Han Long mengerahkan Langkah Ajaib Melingkar Nirwana, sehingga kecepatan tubuhnya dapat mengimbangi dengan mudah kecepatan kuda kilin angin yang memiliki lompatan ratusan meter itu.
Akhirnya Coa Kun dapat melihat perkemahan yang dibangun oleh pasukan Mo Eng, dia mengatur nafasnya sejenak, tiba-tiba matanya terbelalak, dihadapannya terpampang api yang melalap tenda-tenda besar di dalam perkemahan ibunya, muncul kekacauan dari suasana tenang di tengah-tengah pasukan ibunya, terjadi kebakaran susul menyusul yang menimpa setiap tenda-tenda besar yang menyimpan perbekalan dan senjata.
Ketika pasukan itu tahu bahwa adanya kebakaran, mereka bergerak secara berkelompok, berusaha memadamkan api di tenda perbekalan tersebut, tapi terjadi lagi kebakaran yang sekarang menimpa tenda-tenda anggota pasukan bahkan api sempat membakar tenda di tengah dimana tenda dari Sri Maharatu Mo Eng berada didalamnya.
Kebakaran ini datang silih berganti, susah melacak dan menebak pengacau yang membuatnya, sesaat perkemahan itu menjadi compang-camping, berikutnya adalah teriakan beberapa prajurit yang berlarian mengejar hewan tunggangan para prajurit yang kabur entah kemana, bahkan hewan penarik kereta dengan keretanya sekaligus kabur ke segala arah.
Bagaimana mereka akan berperang, jika ransum dan tunggangan mereka tidak memadai?
Coa Kun segera berlari menghampiri tenda ibunya, kedatangan Coa Kun sangat mengejutkan bagi semuanya termasuk Mo Eng.
”Kun er, kenapa kau disini?, dimana pasukanmu?”, tanya Mo Eng pada putranya.
Coa Kun tidak segera menjawab, wajahnya terlihat gusar dan lelah,
”Ibu, sebaiknya kita bicara berdua saja”, balas Coa Kun, tidak ada jejak kesombongan lagi, berbeda ketika masih di Kota Kekaisaran Yang In.
Mo Eng mengangguk, dia membawa Coa Kun ke sebuah tenda kecil milik seorang komandan menengah.
”Bicaralah!”, kata Mo Eng.
Coa Kun lalu menceritakan kejadian yang menimpa pasukannya, serta kemunculan Coa Leng In dan Han Eng, dia juga bercerita bahwa dua pembantunya yang menjadi utusan dari gurunya pun sudah mati, dia menghendaki agar ibunya dan dirinya langsung pergi dari benua ini dan melaporkan segalanya pada Kui Lok Mo, Coa Kun meminta ibunya agar membujuk gurunya tidak menghukum dirinya, karena gagal menjalankan tugas, bahkan mengakibatkan tewasnya dua Putra Merah bahkan mungkin utusan Putera Merah di Benua Khui Ning juga sudah mati.
Ibunya terkejut akan perubahan situasi seperti ini,
”Apakah kepergianmu memancing seorang tokoh, sehingga membuat kekacauan pada pasukan disini dengan membakar dan melepaskan semua hewan tunggangan itu?”, kata Mo Eng dengan cemas.
Mendengar hal ini, Coa Kun terkesiap, apa yang di duga oleh ibunya ada kemungkinan akan kebenarannya,
”Aku tidak tahu ibu, tapi ada kemungkinan bahwa kekacauan ini adalah perbuatannya, karena saat aku melihat perkemahan pasukan ibu, kebakaran itu langsung terjadi”, kata Coa Kun sambil matanya mencari-cari, dia sangat takut jika tokoh itu ada didekatnya dan ibunya.
Setelah membakar dan melepaskan semua hewan tunggangan pasukan tersebut, Han Long langsung meninggalkan tempat tersebut, dia malas kalau harus menghadapi tingkat seperti Mo Eng dan Coa Kun, dengan persepsi jiwanya dia menyisir jika ada seorang tokoh penting yang akan membantu pasukan ini, dan karena dia tidak melihat ancaman serius yang akan membahayakan kerajaan Chong Yang, dia pun pergi, dia merasa di dalam tubuhnya ada energi dahsyat yang terus berkembang.
Han Long sempat melirik pada Han Ek yang berdiri di belakang Mo Eng, juga Meng Li dan Cui Man Ek pada barisan di belakang Han Ek, terlihatnya bahwa mereka memiliki status sebagai pelindung Mo Eng.
Han Long ingin bergerak menyusul sosok jiwanya, namun dia mengurungkan niatnya, dia ingin melihat teman-temannya, namun energi dalam tubuhnya semakin liar bergerak.
Di dalam benteng timur Kerajaan Chong Yang, Han Eng, Coa Leng In, Duan In Mey dan Bu Chen Tiong duduk mengelilingi sebuah meja bersama dengan delapan murid anggota Sekte Guntur dari Benua Thian Agung.
”Saudara Leng In, dapatkah kau menduga siapa yang ikut campur dan menolong kita?”, tanya Han Eng.
Duan In Mey mengangkat wajahnya dan bertanya juga,
”Adik Tiong, apakah kau tahu situasi saat kita semua terjebak dalam pengepungan, kau melihat situasi yang aneh?, atau mungkin kau melihat seseorang yang unik?”, tanyanya.
”Saat itu, aku merasa badanku berpindah dengan sendirinya, ketika kulihat aku telah berada di tenda-tenda perbekalan musuh, dan kulihat seorang kakak lelaki membawa api dan membakar salah satu tenda, maka aku pun berinisiatif membakar juga, kakak itu tersenyum dan bilang ’bakar yang kau suka’, dan dengan senang hati kubakar semua tenda itu termasuk tenda persenjataan”, jawab Bu Chen Tiong.
Coa Leng In, Han Eng, Duan In Mey terkejut bahwa Bu Chen Tiong ternyata lebih dulu diselamatkan oleh orang tersebut.
”Apakah dapat kau gambarkan orang itu?”, tanya Coa Leng In.
Bu Chen Tiong berusaha mengingat-ingat sosok orang tersebut, dia hanya tahu bahwa orang itu berbadan tinggi dan tersenyum ramah padanya, setelah disebutkan bahwa ciri-ciri orang itu sama dengan orang kebanyakan atau umum, para anggota yang mendengar sedikit kecewa terutama trio gadis itu.
Seorang prajurit masuk dalam lingkaran mereka dan melaporkan bahwa ada seorang pemuda meminta bertemu dengan kelompok mereka, mendengar hal itu langsung disetujui oleh yang lain, mereka menduga salah satu murid dari Sekte Guntur.
”Hai semua, bagaimana kabarnya?”, kata Han Long tersenyum ramah.
Betapa terkejutnya Han Eng, ternyata yang muncul adalah sosok yang dirindukannya, demikian juga Coa Leng In dan Duan In Mey, mereka bertiga tidak menyangka akan bertemu dengan Han Long lagi, bahkan hampir saja Han Eng bergerak untuk melompat ke pelukan pemuda itu, jika disaat itu tidak ada yang lainnya.
”Saudara Long, apa kabar, kami baik-baik saja”, kata Duan In Mey, melihat dua sahabatnya masih terkejut.
Bu Chen Tiong melihat bahwa sosok pemuda di depannya agak mirip dengan sosok yang mengajaknya membakar tenda musuh, namun wajah mereka berbeda.
Han Long dengan 9 Tubuh Bintang dapat merubah fisik sejatinya, maka yang ditemui oleh Bu Chen Tiong adalah diri sejatinya yang dirubah wajahnya.
Reaksi Bu Chen Tiong tidak terlepas dari pengamatan Duan In Mey, gadis ini selalu menduga bahwa Han Long bukan pemuda sederhana.
”Bagaimana kau tahu bahwa kami ada disini, saudara Han Long?”, tanya Coa Leng In.
”Aku berangkat dari kota raja, disana mereka mengatakan bahwa kalian menjadi satu kelompok untuk menghadang Musuh di bagian timur, akhirnya inilah aku”, kata Han Long.
”Kakak, pernahkah kita bertemu?”, tanya Bu Chen Tiong
”Kurasa belum pernah, kenapa?”, tanya balik Han Long.
”Ah, tidak”, jawab Bu Chen Tiong, dia sebenarnya hanya ingin meyakinkan dirinya, ada resonansi jiwa yang dia rasakan, seperti adanya hubungan kekerabatan, hal ini wajar bagi seorang kultivator yang sudah melewati tingkat Manusia Suci, mereka dapat merasakan aliran energi dari aura seorang kerabat karena jenis darah yang sama, mengalir di dalam tubuh mereka.
Apa yang dirasakan oleh Bu Chen Tiong, itu juga yang dirasakan oleh Han Long, justru ini sebenarnya yang membuat dia diselamatkan lebih dulu oleh Han Long, dan dibawa ke tenda musuh dan membakarnya untuk memecah konsentrasi musuh yang mengepung kawan-kawannya.
Han Eng dari tadi sibuk menentramkan gemuruh di hatinya, kini dia melihat sosok gagah dan tampan, pemuda yang selalu mendampinginya dengan setia, pemuda yang menghuni hatinya, pemuda yang selalu mengisi mimpi-mimpinya.
Apa yang dialami oleh Han Eng, tidak lepas dari perhatian Coa Leng In, dia masih ingat kata-kata Leluhur Yap Kun Tek, bahwa latar belakang pemuda di depannya tidak sesederhana yang terlihat, mengingat hal itu, pandangan Coa Leng In berubah, dia selalu penasaran dengan sosok Han Long ini, sejak terjadinya kegiatan Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, banyak orang mencari peserta yang menembus lantai sembilan namun kembali lagi dan memperlakukan Pagoda Teleportasi itu seperti taman bermain, inilah yang mengherankan, pada saat itu Han Long sudah Tingkat apa kultivasinya?, ingin dia bertanya pada pemuda yang sekarang tumbuh tinggi melewati dirinya dengan wajah bersih dan senyum ramah dan menawan.
Han Long merentangkan kedua tangannya,
”Apakah kedatanganku tidak disambut dengan baik?”, katanya
Seketika itu juga Han Eng maju dan memeluk pinggang Han Long, diikuti oleh Coa Leng In dan Duan In Mey, sedangkan Bu Chen Tiong hanya melihat Han Long dipeluk oleh tiga wanita tercantik itu dengan muka masam,
”Seandainya aku cepat dewasa, aku juga akan memeluk kakak-kakak cantik…”, katanya seperti bergumam pada dirinya sendiri, namun suara itu terdengar oleh semua orang yang ada disitu.
”Apakah adik kecil ingin kupeluk?”, kelakar Duan In Mey.
”Mari kita peluk adik kecil ini, dia sudah berjasa mengalihkan pasukan pengepung kita, sehingga kita dapat terbebas dari bahaya”, kata Coa Leng In sambil dia mendahului yang lain untuk memeluk Bu Chen Tiong.
Bu Chen Tiong tergagap, dia pikir suara keluhannya tidak terdengar, dia lihat Duan In Mey malah mengecup pipinya yang diikuti pula oleh Coa Leng In dan Han Eng, namun dia menolak dipeluk oleh anggota lainnya apalagi oleh lelaki dalam kelompok mereka.
Suasana gembira itu menghangatkan kelompok tersebut, dengan kehadiran Han Long mereka berpikir bahwa kekuatan yang mereka miliki cukup untuk menghadapi pasukan lawan.
Setelah menunggu sekitar dua bulan, tidak ada tanda kedatangan pasukan lawan, demikian juga pada benteng selatan, menurut informasi benteng selatan dan benteng timur, adalah benteng teraman.
Sebulan kemudian mereka mendengar bahwa serangan dari pasukan musuh sudah tidak ada lagi, bahkan pasukan Raja Duan Leng menang mutlak, mengalahkan musuh dengan pasukan tambahan dari para murid Sekte Samudera Naga, dan musuh menyatakan menyerah, demikian juga yang terjadi di benteng utara, dimana Kerajaan Kao Monarki menyatakan menyerah dan mau bergabung dengan Kerajaan Chong Yang.
Seminggu kemudian datang utusan dari Kerajaan Chong Yang ke benteng timur bahwa musuh dari semua arah menyatakan menyerah, dan semua pasukan harus kembali, bersama dengan para komandan.
Atas perintah Coa Leng In, benteng timur akan ditambah pasukan menjadi seribu lima ratus orang dan dijanjikan akan membangun akomodasi serta pemukiman baru bagi pasukan tambahan beserta dengan keluarganya dan disetujui oleh Duan In Mey sebagai Putri Kerajaan Chong Yang.
Jati diri Han Long masih berkeliaran di wilayah Kerajaan Chong Yang, bahkan dia masuk ke Kota Kekaisaran Yang In, dia melihat bahwa Coa Kun dan Mo Eng tidak kembali ke Kota Kekaisaran Yang In.
Beberapa orang yang berasal dari kota Yang In, rupanya mengikuti Coa Kun, seperti Han Ek, Cui Man Ek, Meng Li dan beberapa pemuda pilihan yang dulu menjadi talenta terpilih di masing-masing Klan Keluarga Ternama kota Yang In.
Sudah seminggu jati diri Han Long tinggal di pondok sederhana yang berbatasan dengan Hutan Kabut Putih,
Seorang wanita memasuki pondok sederhana itu,
”Long er, ibu datang”, seru wanita itu sambil menghampiri Han Long.
”Ibu, akhirnya kau disini, kita kembali”, kata Han Long.
”Aku membawa Jamur Giok Nirwana, bagaimana dengan konstitusi tubuhmu?, apakah baik-baik saja atau semakin parah?”, Tanya Thian Sian Li setelah berjumpa dengan putranya, dan menunjukkan sebuah tumbuhan herbal berbentuk jamur berwarna hijau transparan seukuran kepala anak lima tahun, Thian Sian Li tidak dapat mengetahui lagi tingkat kultivasi yang dimiliki putranya.
”Ibu, sengaja aku kembali ke tempat ini, dan aku sudah melepaskan jiwaku, dia sekarang bersama kawan-kawanku, aku merasa kedaginganku seperti mau meledak”, kata Han Long dengan wajah seperti menahan sakit.
”Long er, berapa lama kau dapat bersatu dengan jiwamu?, karena jamur ini harus diasimilasikan bersama dengan jiwamu juga”, kata Thian Sian Li cemas.
Han Long terdiam lama, dia sedang berkomunikasi dengan jiwanya yang jaraknya ribuan kilometer,
”Kecepatan jiwaku hanya kultivator Manusia Dewa, kemungkinan dia tiba secepatnya dalam tiga hari”, jawab Han Long.
”Apakah kamu dapat menahan penderitaan tubuhmu?”, tanya Thian Sian Li, ibunya.
”Aku akan bertahan semampuku, ibu tinggalkan jamur itu, aku tidak ingin membahayakan nyawa ibu”, kata Han Long.
”Anakku, jika kau tiada, untuk apa aku berada di dunia ini, kau harus bertahan, dengan demikian kau menyelamatkan ibumu juga”, kata Thian Sian Li mantap.
”Tapi ibu….”,
”Tidak ada tapi, bertahanlah !!”, tegas Thian Sian Li.
Han Long kembali terdiam, dia mengatur pernafasannya, dia berusaha bertahan atas penderitaan dirinya, karena segel dalam dirinya kini sudah terlepas, tubuh kedagingannya menampung terus energi dunia, sekalipun di Benua yang sangat tipis tingkat energinya seperti Benua Chong Yang, Benua buangan.
“Sebaiknya kau kubawa ke dalam Hutan Kabut Putih, untuk mencegah segalanya menjadi lebih buruk, Han Long kita harus pindah ke Danau Merah Misterius”, Kata Thian Sian Li, Han Long menyetujuinya, dia dan ibunya lalu keluar pondok.
Bagi mereka berdua yang tingkatnya sudah di Tingkat Kultivasi Raja Dewa hanya membutuhkan sekejap mata untuk pindah ke Danau Merah Misterius di Kedalaman Hutan Kabut Putih, jika Han Long masih bertahan di pondok sederhana, dikhawatirkan ketika dia tidak dapat bertahan maka daya ledaknya akan mencapai ribuan meter dan membuat masalah semakin runyam.
Dua hari berlalu dengan cepat, kondisi Han Long makin mencemaskan hati Thian Sian Li, didalam tubuh Han Long mulai memancarkan energi panas yang menyengat dan ada sinar cahaya di daerah dantiannya, jika besok sang jiwa Han Long belum bersatu dengan diri sejatinya, maka semua yang diusahakan oleh Thian Sian Li menjadi sia-sia belaka.
Sementara itu di Kerajaan Chong Yang, Han Eng dan Coa Leng In mencari-cari Han Long, karena Han Long tadi mengatakan bahwa dia akan berkultivasi tertutup, namun ketika Han Eng menyusul keruangan Han Long ternyata Han Long tidak berada di tempat kultivasinya, padahal Han Eng selalu berada di pintu masuk ruang kultivasi, karena dia juga sengaja menunggu di area itu untuk mengajak kultivasi bersama-sama, namun Han Long sudah tidak ada.
Kebingungan Han Eng adalah, dari arah mana Han Long pergi?, karena dia menjaga tempat itu dengan mengerahkan persepsi jiwanya, bagaimana mungkin Han Long dapat menghilang begitu saja.
Sebenarnya yang tidak dipahami oleh Han Eng bahwa yang muncul sebagai Han Long ketika masih di Benteng Timur adalah sosok Jiwa Han Long yang solid karena tingkat Teknik Jiwa yang dimiliki Han Long telah sampai pada Tingkat Sempurna di 9 tahapan Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa.
Sementara itu, seberkas sinar meluncur dengan cepat melewati jurang dan melompati gunung, sinar itu mengarah pada Kekaisaran Yang In, dan terus melaju ke arah markas Klan Han di pinggir Hutan Kabut Putih.
Jati diri Han Long telah berada di kedalaman Danau Merah Misterius dihari Ketiga, dinginnya suhu di dasar Danau berubah menjadi hangat, seiring waktu berjalan air permukaan danau mendidih, dan uap air membumbung ke udara.
Ternyata dasar Danau Merah Misterius, benar-benar berwarna merah darah seperti terhampar oleh lantai yang terbuat dari batu obsidian merah, sangat licin dan rata, dasar itu sendiri memiliki diameter ratusan meter, dan warna merah itu sendiri rupanya pantulan dari dasar danau.
waktu demi waktu mengalir, Thian Sian Li menunggu di permukaan danau, tubuhnya melayang, dia mengerahkan persepsi jiwanya untuk memeriksa tubuh putranya, Han Long, jejak kecemasan semakin nampak diwajah wanita transenden itu, bagai seorang dewi yang mencemaskan harta miliknya yang akan hancur, Thian Sian Li berusaha mengerahkan energi dingin dari energi kultivasinya hingga,
Duuuaaarrrrrrr….!!!!
Ledakan dari dasar Danau Merah Misterius membuncah air danau sangat tinggi,
“TIIIIIIDDDDDAAAAAAAAAKKKKKK…., AAANNNNNAAAAAKKKKKUUUUU!!!!!”,
Teriakan pilu Thian Sian Li menggema di kedalaman Hutan Kabut Putih, para hewan penghuni hutan langsung bersembunyi di tempat masing-masing, secara naluri mereka tahu ada bahaya.
Syuuuuuuttttt….. Dooouuummmm….!!!!
seberkas sinar yang menyilaukan dengan segera masuk di kedalaman danau, jati diri Han Long sempat melihat sinar itu yang langsung bersatu dengan tubuhnya,
Plop !!!
Han Long langsung memasukan Jamur Giok Nirwana ke mulutnya, yang sedari tadi dia genggam di tangan kanannya, jamur itu langsung larut di mulutnya dan memasuki perutnya, Han Long langsung memutar dan mengerahkan konstitusi tubuhnya, dengan teknik 9 Tubuh Bintang, jamur itu segera diasimilasikan walaupun hal itu tidak mudah.
Kini tubuh Han Long berpijar sangat terang, sehingga di dasar Danau itu menjadi terang benderang berwarna merah, akibat pantulan dasar Danau.
Panas tubuh Han Long bukan mereda malah makin menyengat dengan dahsyat, air danau mendidih seketika, lantai Danau yang tadinya mulus kini muncul retakan kecil, akibat suhu tubuh Han Long meningkat sepanas inti api, retakan lantai danau semakin besar seperti akan pecah,
Klak…, Kraaaakkkk…., Kretaaaaaakkkkk…!!!!
Dasar danau pecah berantakan, tubuh Han Long amblas, ikut terkubur karena dasar yang tadinya sebagai tumpuan tubuh Han Long hancur berantakan, tubuh itu meluncur turun di kedalaman air danau yang rupanya seperti lapisan pemisah yang memisahkan sebuah ruang tertentu, dan ruangan di dasar danau ini membentuk dimensi ruang kosong, dan tubuh Han Long meluncur deras, turun ke bawah yang jaraknya hingga puluhan meter.
Han Long sudah tidak dapat mengendalikan tubuh kedagingannya, hawa panas semakin menyengat, dia merasakan bahwa dirinya akan meledak, Han Long sudah tidak berdaya, dia sudah pasrah,
“Ibu, selamat tinggal”, ucap Han Long melalui kontak jiwa.
Thian Sian Li menangkap ucapan Han Long, air mata sudah membasahi wajah wanita cantik ini,
“Anakkuuuu…, aku akan selalu bersamamu…, aku akan ikut serta denganmu…”, gumam Thian Sian Li, diapun mengerahkan Energi Raja Dewa ke-6 Puncak dan meluncurlah tubuhnya masuk ke dalam dasar Danau Merah Misterius,
Byuurrrr…!!!
Tubuh Thian Sian Li menyusul masuk, terus meluncur turun, dia ingin memeluk tubuh putranya yang dia lihat semakin terang bersinar.
Rasa putus asa ibu dan putranya terkadang tidak sesuai dengan kenyataan akhir, sekalipun ibu dan putranya sudah menyerah namun jika takdir memiliki ketentuan lain maka semua itu hanya angan-angan belaka, demikian juga Thian Sian Li di dalam pikirannya akan meledak bersama tubuh putranya, namun tiba-tiba,
Byurr….., Byurrr…!!!
Dua sosok tubuh jatuh susul menyusul ke sebuah cairan kental berwarna merah terang, seperti larutan karamel, dan tubuh berpijar Han Long menunjukkan reaksinya terhadap cairan merah kental ini.
Area cairan ini sangat luas dan dalam, Han Long sudah tidak sadarkan diri, sebaliknya Thian Sian Li melihat tubuh berpijar putranya seperti menyedot larutan merah ini dengan kecepatan luar biasa, dan tubuh berpijar Han Long tidak seterang sebelumnya, ujung jari-jari tangannya meredup dan kembali seperti kulit normal.
Wajah Thian Sian Li sedikit cerah, sekalipun ada cairan merah di wajah putihnya, namun anehnya cairan itu pun seperti meresap kedalam kulitnya,
“Long er, gunakan energi kultivasimu, serap sebanyak mungkin cairan ini”, kata Thian Sian Li berbicara secara jiwa.
Jiwa Han Long langsung merespon, dia lalu mengerahkan energi kultivasi jiwa Manusia Dewa, maka cairan itu pun mengalir memasuki tubuh Han Long, Thian Sian Li pun berkultivasi dan menyerap cairan merah ini sebanyak-banyaknya.
Terjadi perubahan pada tubuh Han Long, cahaya terang di dalam tubuhnya berangsur-angsur meredup, dan diri sejati Han Long pun sadar, dia memiliki pengertian dari jiwanya maka dikerahkan energi kultivasi Raja Dewa ke-7 Lanjutan milik Han Long, maka aliran cairan merah yang meresap ke dalam tubuhnya mengalir sangat deras.
Doummm…Dooouuummmmm….. Dooouuuummmmmmmm…!!!!
Berturut-turut terjadi letusan di dalam tubuh Han Long dan Thian Sian Li, malah Han Long terus memutar dan mengerahkan energi kultivasinya dengan Teknik kultivasi yang dipadukan dengan tiga teknik Beladiri Kategori Dewa kelas Sempurna yang dioperasikan secara maksimal maka terjadi perubahan yang sangat cepat akan pemulihan tubuh Han Long, seluruh barang dan benda-benda mustika yang mengendap dalam tubuhnya semua larut menyatu dengan dantian dan seluruh pembuluh darah di tubuhnya, dan hal ini mengakibatkan seluruh teknik Kultivasi dan Beladiri milik Han Long mencapai kesempurnaan, Kulit tubuh Han Long makin halus wajahnya seperti dipahat dengan kehalusan dan presisi yang sangat halus , kini wajah Han Long dan Thian Sian Li seperti wajah Giok yang sangat halus dan licin, semakin tampan dan Thian Sian Li pun secara pasti mendongkrak tingkat kultivasinya, Raja Dewa ke-6, Raja Dewa ke-7, Raja Dewa ke-8 masih terus melaju.
Sebenarnya semua orang terhenti di tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak, sekarang dipatahkan oleh duo Ibu dan Putranya, bahkan Han Long dengan gembira merasakan perubahan pada tubuhnya, tidak sepanas atau membara seperti sebelumnya, dengan rakus tubuhnya menyedot cairan merah kental seperti cairan karamel itu, semakin dia terima cairan merah kental itu kondisi tubuh Han Long semakin baik, berulang kali tubuhnya merespon dengan ledakan kultivasi yang bergerak naik.
Han Long dan Thian Sian Li terus berkultivasi di bawah kedalaman Danau Merah Misterius, ruang kosong itu pun seperti menciut seiring dengan jumlah Cairan Merah Kental yang berkurang karena diasimilasikan oleh Han Long dan Thian Sian Li, terutama tubuh Han Long yang seperti spons terus menyerap cairan Merah Kental tersebut yang kecepatannya tiga kali lebih cepat dari yang dilakukan oleh tubuh Thian Sian Li, hal ini berlangsung hingga berbulan-bulan.