Jauh di ujung sebelah barat dari Benua Thian Agung atau disebut juga Benua Tengah terdapat sebuah tempat yang terpisahkan oleh samudera yang sangat luas yang jaraknya jutaan kilometer.
Tempat ini dikelilingi oleh jurang dan tebing yang sangat tinggi, tidak ada pantai berpasir yang mengelilingi daratan maha luas ini dan tidak ada kapal pedagang yang bisa bersandar di daratan ini, selain daratan ini selalu diselimuti oleh kabut berwarna merah yang sangat tebal dan bersuhu sangat panas.
Benua Merah mendapat julukan 3 benua misterius bersama dengan Benua Ketiga dan Benua Thian Agung, konon dipermukaan tanah di benua ini seperti tidak ada kehidupan, yang ada hanya tiga belas gunung berapi yang sewaktu-waktu mengeluarkan uap merah, dimana masing-masing gunung berapi ini dikuasai oleh sekelompok orang yang bernama kelompok Putra Merah.
Semua daratan di Benua Merah yang ada adalah padang pasir yang sangat panas, saking panasnya dapat membakar atau membunuh setiap makhluk hidup yang berdiri di atas permukaan tanahnya, dan sebagian wilayahnya ada juga yang tumbuh rumput atau alang-alang yang hanya setinggi lutut manusia.
Makhluk hidup yang bertahan di benua ini ternyata hidup di bawah tanah, di bawah rumput-rumput tadi, dan kehidupan di bawah tanah ini dikembangkan oleh para kultivator yang menganut sistem kultivasi yang unik, sesuai dengan kondisi alam Benua Merah.
Tidak ada aturan yang baku dalam kehidupan sosial makhluk hidup di bawah tanah ini, yang kuat adalah raja, dan menentukan hukum sesuai kehendak hatinya, kehidupan sebuah keluarga di tempat ini sangat kacau, tidak memandang jenis kelamin apapun baik pria dan wanitanya dengan bebas memilih pasangannya sesuai kehendak hatinya, jika ada anak yang terlahir, pasangan tersebut akan membiarkan anak itu tumbuh sendiri setelah lepas susu, karena sang ibu akan mencari kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri, setelah itu dia akan mencari pasangan kultivasi berikutnya.
Maka anak-anak yang berhasil tumbuh adalah anak yang sangat kuat, karena dapat bertahan dari kondisi tatanan sosial yang demikian kacau.
Hukum yang berlaku di benua ini adalah bila Penguasa Benua mengeluarkan sebuah titah maka itu adalah aturan yang tidak boleh dilanggar, jika ketahuan adanya pelanggaran maka yang lain akan memburu si pelanggar tersebut dan membunuhnya, tidak ada area pemakaman disini, karena setiap orang yang terbunuh akan dimangsa oleh yang hidup, makanya setiap kultivator akan memandang waspada terhadap satu dengan lainnya, selebihnya mereka bertahan pula dengan mengkonsumsi buah-buah yang bergelantungan di langit-langit goa besar yang mereka sebut buah Obsidian, buah ini semacam umbi dari alang-alang yang tumbuh dipermukaan tanah Benua Merah.
Ukuran buah-buah inipun, yang paling besar seukuran kepalan orang dewasa, namun khasiatnya, sekali makan mereka dapat bertahan dari kelaparan selama berbulan-bulan.
Baik pria atau pun wanita bertampang ganas dan siap membunuh, makanya banyak warga disini menjadi individu penyendiri, mereka akan berkumpul ketika ada perintah dari penguasa benua atau perintah dari Putra Merah.
Di dalam bawah tanah ada, di kedalaman ratusan meter, terbentuk ruangan yang luasnya ratusan meter, ada sebuah tahta yang terbuat dari batu Obsidian merah, dimana ada seorang pria paruh baya yang duduk.
Di belakang tahta itu, berdiri lima sosok orang terdiri dari dua wanita dan tiga pria, mereka adalah para Putra Merah, penguasa gunung merapi, wajah mereka terkesan dingin tanpa emosi, menatap pada sekelompok orang yang dibawa oleh rombongan Coa Kun dan Mo Eng.
“Tuanku Yang Maha Mulia Kui Lok Mo, aku sengaja datang untuk melaporkan apa yang terjadi di Benua Chong Yang, karena….” kata-kata Mo Eng tidak dilanjutkan, karena gerakan tangan orang di tahta itu menyuruhnya diam.
“Aku sudah tahu, tidak perlu kau lanjutkan, aku kecewa pada kalian, terutama pada kau Coa Kun, menangani masalah di Benua terpencil dan sangat kecil saja kau tidak dapat diandalkan, apalagi malah kakak-kakak seperguruanmu tewas dan kau tidak tahu siapa pelakunya, itu hal yang sangat bodoh dan terjadi di depan matamu!”, kata-kata Kui Lok Mo seperti guntur di telinga Mo Eng dan Coa Kun.
Mo Eng maju di depan Kui Lok Mo, dia jalan berlenggang, sengaja dia menggerakkan pinggulnya dengan gerakan erotis, Mo Eng sengaja menyiapkan gaun yang transparan sehingga setiap gerakan yang dibuatnya menimbulkan reaksi dari rombongannya sendiri, karena pinggulnya mengayun sedemikian rupa dan membayangkan lekuk tubuh yang demikian menggoda.
“Tuanku Yang Maha Mulia, ampuni kecerebohan anakku, dia masih muda dan kurang pengalaman, aku akan mendidiknya lebih baik sehingga dia akan terus menjadi kuat dan menjadi pribadi yang kau harapkan dalam setiap rencana yang kau buat”, kata Mo Eng dengan suara mendesah menggoda.
“He he he…, Mo Eng…. Mo Eng…., tidak perlu kau katakan lagi, aku mengerti akan maksudmu, akupun tahu bahwa dalam dirimu ada janin yang berkembang, dan itu bukan darah dagingku, dan aku tidak peduli anak siapa itu, yang perlu kau ketahui adalah anakmu Coa Kun mulai sekarang harus diasingkan di Gunung ke-12 bersama-sama dengan rombongannya, sedangkan kau di gunung ke-8, berangkat sekarang juga sebelum aku berubah pendirianku”, kata Kui Lok Mo sambil menggoyang-goyangkan tangannya tanda mengusir.
Mo Eng memandang pucat atas keputusan Kui Lok Mo, dia tidak akan mengucapkan sepatah kata apapun karena hal itu sangat percuma, mungkin bukan diasingkan seperti yang baru saja diucapkan, jika dia membantah akan langsung membunuh semua orang termasuk dirinya, Mo Eng sangat mengenal watak Kui Lok Mo.
Dia lalu mundur bersama putranya Coa Kun,
“Kun er, jadilah kuat!, ini hanya sementara, mungkin ini satu-satunya cara kita menjadi kuat di tengah kesulitan yang kita hadapi, dan dimasa depan kita akan bertemu lagi, ibu sangat yakin, jangan jadi orang lemah”, kata Mo Eng pada putranya.
“Ibu, ini adalah yang terbaik, beruntung guru tidak mencabut nyawa kita, aku pasti bertahan, aku akan membawa semua orang, siapa yang akan ibu ajak?”, tanya Coa Kun.
“Ibu hanya membawa lelaki ibu, Han Ek kemarilah, mulai sekarang kita harus menjadi kuat, jangan hanya jadi bidak saja”, kata Mo Eng, percakapan itu terjadi selagi mereka berjalan keluar mengarah pada formasi teleportasi yang akan menempatkan diri mereka di lokasi yang sudah di tentukan oleh Kui Lok Mo.
Kembali keruangan Kui Lok Mo berada,
“Rupanya kini aku harus membuka kartu truf ku, demi jalannya rencana yang kususun selama ribuan tahun ini, kalian berlima segera mempersiapkan diri, cepat hubungi kakak-kakak kalian yang menyusup di Benua Thian Agung, saatnya kita melancarkan teror di Benua utama itu”, kata Kui Lok Mo pada lima orang yang berdiri di belakangnya.
“Siap Guru!, pasukan pendam di beberapa titik di Benua Thian Agung telah menunggu begitu lama, aku akan menyusup dan menjumpai kakak”, Kata Putera Merah ke-7, Hek Tong
Empat saudaranya menganggukan kepala, mereka adalah Putra Merah ke-9, 10, 11 dan Putra Merah ke-13.
“Kalian harus berusaha menyusupkan kekuatan Pasukan Merah kita, ditengah-tengah Sekte dan masyarakat di Benua tersebut, segera laksanakan!”, lanjut Kui Lok Mo lagi.
Yang dimaksud dengan Pasukan Merah adalah anggota Pasukan Ketertiban di Benua Merah yang jumlahnya ribuan orang mereka rata-rata telah mencapai kultivasi terendah adalah Manusia suci ke-6 hingga yang tertinggi adalah tingkat Manusia Dewa, tugas mereka adalah mengawasi seluruh kegiatan warga Benua Merah dan memberikan hukuman pada pelanggar atas perintah Kui Lok Mo atau Putra Merah.
Gunung berapi ke-12 adalah Gunung dengan kabut merah yang menutupi dari puncak hingga kaki gunung, di dalam kawah gunung inilah Coa Kun ditempatkan, kultivasi Coa Kun sudah berada di tingkat Manusia Suci ke-6 Puncak, sedangkan Meng Li dan Cui Man Ek pada tingkat Manusia Suci ke-1 dan ke-2, sedangkan yang lainnya hanya pada tingkat Insan Raja, rombongan ini berjumlah sekitar seratusan orang saja.
Saat Rombongan Coa Kun menempati tempat ini, mereka mendapati bahwa lingkungan disini teramat panas, tidak ada sudut ruangan yang sedikit dingin, semua panas membara, rombongan ini satu persatu mengerahkan tingkat kultivasi mereka agar dapat bertahan menghadapi kondisi yang menyiksa seperti ini.
Medan yang sangat membara ini seperti tungku pembakaran logam, karena banyak bebatuan yang menyala dan membara bagaimana mereka akan beristirahat, beruntung mereka masih bisa menemukan umbi-umbian buah OBSIDIAN MERAH, dengan buah itu mereka bertahan dari kelaparan namun tidak dengan rasa haus di kerongkongan mereka.
sehari berlalu, masih bertahan, pada tujuh hari berikutnya, beberapa orang di rombongan Coa Kun ada yang tewas kekeringan, namun mayat mereka diperebutkan untuk sekedar menyedot cairan di tubuh tersebut.
Pada rombongan Coa Kun, anggota yang bertahan dan belum tewas, naik tingkat kultivasinya, dan Coa Kun, Meng Li dan Cui Man Ek mengetahui manfaat terselubung dari tempat ini, sehingga mereka bertiga diam-diam suka memburu anggotanya sendiri demi mendapatkan darah dari orang tersebut dengan demikian tingkat kultivasi mereka merangkak naik dan hal ini membuat mereka merasa segar dan nyaman, bahkan Coa Kun mendapatkan dirinya dapat beradaptasi dengan kondisi seperti ini, demikian juga yang terjadi pada dua sahabatnya.
Meng Li dengan rela hati menjadi pasangan kultivasi ganda bagi Coa Kun, dan Coa Kun tahu akan manfaat teknik Kultivasi Ganda yang diwarisi dari gurunya, selain Meng Li dia memilih beberapa anggota wanita untuk meningkatkan kultivasi mereka masing-masing dengan demikian kekuatan kelompok Coa Kun meningkat dengan cepat, bahkan Meng Li pun akan memilih pasangannya tidak hanya dengan Coa Kun saja, Cui Man Ek pun mendapat kesempatan merasakan kelembutan kulit Meng Li yang memang sangat dia dambakan, namun dia tidak berani menunjukan di depan Coa Kun.
Akhirnya, dari ratusan anggota yang dibawa oleh Coa Kun tersisa setengahnya, namun setelah setahun, tingkat kultivasi lima puluh orang ini meningkat dengan tajam, Coa Kun saja sudah pada tingkat Manusia Dewa diiringi berturut-turut kenaikan yang dialami oleh Meng Li dan Cui Man Ek.
Di balik medan yang sulit selalu ada berkat yang terselubung, mereka yang menganut Kekuatan adalah segalanya, sebenarnya Coa Kun dan Kawan-kawan seharusnya sangat berterima kasih pada Kui Lok Mo, karena kini kekuatan mereka berkembang dan tumbuh, belum lagi buah-buahan Obsidian Merah yang ternyata banyak tumbuh di langit-langit kawah gunung berapi ke-12.
Sama halnya yang terjadi di kawah Gunung ke-8, Mo Eng rajin berkultivasi dengan Han Ek, bayi di rahim Mo Eng terus tumbuh dan berkembang, namun pasangan ini tidak berhenti melakukan teknik kultivasi yang mereka kuasai yang sama halnya dengan Coa Kun, bahkan Mo Eng rupanya memiliki kekhasannya sendiri karena dia menerima teknik itu tidak hanya teori, tapi dirinya adalah bahan praktek dari Kui Lok Mo, sehingga jelas bahwa teknik yang dimilikinya lebih detail dan itu adalah kunci bagi Han Ek dan Mo Eng yang melaju dengan pesat tingkat kultivasi yang mereka capai, hanya dalam setahun pula keduanya secara bersamaan mencapai tingkat Manusia Dewa.
Dibalik anugerah selalu ada bahaya yang mengintip, dibalik berkat maka ada kutuk yang tersembunyi, khususnya Han Ek yang perangainya berubah, dia sudah tidak tahu tentang nurani kemanusiaan yang dulu merupakan nasehat dari para leluhur klan Han, yang ada pada dirinya adalah Ambisi untuk menjadi kuat.
Mo Eng telah melahirkan seorang bayi lelaki, tubuh merah bayi ini sangat berbeda dengan tubuh bayi di luar Benua Merah, karena di tubuh bayi ini diselimuti oleh sisik seperti ular yang sangat keras seperti lempengan baja, dan bayi ini lahir sudah pada tingkat kultivasi Manusia Suci.
Awalnya Mo Eng sangat terkejut melihat wujud bayinya, namun Han Ek tidak bereaksi apa-apa, dia seperti tidak peduli bahwa dia memiliki keturunan bersama Mo Eng, wanita yang lebih tua lima belas tahunan, namun karena tingkat kultivasi mereka sudah masuk ranah abadi, yaitu tingkat Manusia Dewa, perbedaan usia itu tidak nampak, penampilan mereka seperti pasangan usia 30 tahunan.
“Suamiku, anak ini belum kau beri nama”, kata Mo Eng.
“Terserah kau, kau sajalah yang memberi nama”, kata Han Ek sambil memejamkan matanya lagi.
“Baiklah, anak ini mulai sekarang bernama Mo Cun Ek, karena kau tidak mau memberi margamu”, kata Mo Eng datar.
Han Ek hanya melirik pada wajah cantik Mo Eng, dan melihat ke arah anaknya,
“Itu yang terbaik”, kata Han Ek.
“Ayo kita lanjutkan”, tambah Han Ek pada Mo Eng,
Mo Eng mengerti apa yang dikatakan oleh Han Ek, padahal dia sedang menyusui bayi Mo Cun Ek, dengan satu tangan Mo Eng memangku bayinya, dia melangkah berhadapan dengan Han Ek dan menduduki kedua paha Han Ek dan tangannya bergerak ke bawah, setelah dirasa pas, pinggul Mo Eng bergerak, dan mereka melakukan ritual kultivasi itu hampir setiap saat, energi di sekitarnya berputaran, pori-pori kedua tubuh manusia itu dalam posisi terbuka, menyerap esensi energi di sekitarnya.
Dan ternyata apa yang diserap oleh Mo Eng juga diterima oleh Mo Cun Ek, putranya.
Rencana Kui Lok mo sedang dijalankan, dimana dia berencana menginvasi benua Thian Agung.
Di Benua Chong Yang, Coa Leng In dan Han Eng kembali bertemu dengan kelompoknya masing-masing, Coa Leng In, menemukan ibunya sedang berbincang-bincang dengan Duan Wu Hong di Istana Kerajaan Chong Yang, suasana semua orang dalam kondisi gembira karena bencana yang akan menimpa Kerajaan Chong Yang telah berlalu, hanya dua orang yang terlihat kurang gembira, keduanya adalah Han Eng dan Coa Leng In.
Duan Ling terlihat berbicara akrab dengan Han Wo, terlihat perubahan perangai Han Wo di hadapan Putri Kerajaan ini, padahal tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Duan Ling jauh diatas dan melampaui Han Wo, namun karena Han Wo terlihat ramah dan sangat sopan, Duan Ling menerima persahabatan itu dengan baik, apalagi mereka dalam satu tim ketika mereka siap berhadapan dengan musuh walaupun musuh yang mereka tunggu tidak kunjung datang.
“Ibu, aku akan kembali segera ke Leluhur di Benua Khui Ning”, kata Coa Leng In pada ibunya, Yap Ing.
“Oh, putriku jangan tidak sopan, ini adalah Pangeran Duan Wu Hong”, kata Yap Ing berusaha memperkenalkan Duan Wu Hong ke putrinya.
“Salam Pangeran, mohon maaf aku tidak bermaksud lancang tapi suasana hatiku sedang tidak tenang”, kata Coa Leng In lagi.
Duan Wu Hong hanya tersenyum, dia melihat pasangan ibu dan anak ini sama-sama cantik, tapi Yap Ing lebih lembut dan halus di balik kekuatan yang dimilikinya.
“Maafkan aku, bukan bermaksud lancang, seharusnya kita bergembira semua, bahkan sebentar lagi kita akan menikmati jamuan dari kanda Raja Kerajaan Chong Yang”, kata Duan Wu Hong sopan.
“Baiklah aku akan menunggu, memang diriku saja yang keterlaluan”, kata Coa Leng In, dimana hal ini ditangkap oleh Yap Ing yang benar-benar sudah mengenal putrinya itu.
“Sebenarnya ada apakah putriku?”, tanya Yap Ing melalui komunikasi jiwa.
“Tadi kami semua bertemu dengan Han Long, apakah ibu masih ingat?”, jawab Coa Leng In.
Disebutnya nama pemuda itu, Yap Ing sedikit bergetar dalam hatinya, untungnya dia dapat menyembunyikan semua itu sehingga tidak tampak di permukaan,
“Apa ibu langsung teringat?”, tanya Coa Leng In menyelidik.
“Aahh…, ibu ingat siapa dia, apakah kau sangat mengingatnya?”, tanya Yap Ing bertanya dengan dua arah.
“Apa maksud ibu, dia adalah pemuda yang sudah banyak membantu, apakah ibu tertarik pada Han Long atau pada pemuda di depan ibu?”, kata Coa Leng In memutar keadaan.
“Kalau saja ibu seusiamu dan Han Long tertarik pada ibu dengan sukacita ibu akan memeluk pemuda Han Long itu dengan erat”, kata Yap Ing menggoda putrinya.
“Ibuuuu…, apa benar ibu tertarik padanya?”, tanya Coa Leng In menatap tajam ibunya.
dan Yap Ing hanya tersenyum misterius, sambil meninggalkan putrinya yang masih bengong, dan Coa Leng In tidak menyangka reaksi genit ibunya di depan matanya.
Di sudut ruangan, Han Eng memegang secangkir anggur dan menikmatinya secara perlahan,
“Adik Eng, atau aku harus memanggilmu Putri Langit?”, kata Han Wo yang datang menghampiri.
“Kakak Wo, apakah kau tidak bertemu dengan pembunuh ayah, Han Ek sialan itu?”, tanya Han Eng.
“Akupun heran, kami menunggu berbulan-bulan akan kedatangan pasukannya, namun mereka tidak kunjung datang, menurut laporan para penyidik di garis depan, pasukan musuh bubar dengan sendirinya setelah mereka mengalami kebakaran sejumlah besar tenda-tenda perbekalan mereka, bahkan tunggangan mereka sudah berlari ke segala arah, para penyidik kita pun berusaha menyelidiki, siapa pihak yang membantu kita?, ketika aku berusaha mencari tahu, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya”, kata Han Wo, dengan kening berkerut seperti berpikir.
Han Eng berusaha mengarahkan perbuatan itu dikerjakan oleh pemuda yang selama ini ada di dalam pikirannya, tapi segera di tepisnya, karena Han Long masih bersama mereka di Benteng Timur, dan jarak antara dua tempat itu terpisah ribuan kilometer.
Ting !
Ting !
Ting !
“Aku mengucapkan terima kasih, atas bantuan semua tokoh yang hadir di tengah-tengah jamuan ini, tanpa bantuan kalian para tetua dan kawan-kawan serta saudara-saudaraku, kerajaan ini akan hancur, hanya ini yang dapat kuhaturkan, tidak ada yang berharga yang dapat kuberikan pada semua tokoh yang hadir, Kerajaanku tidak memiliki barang-barang istimewa, tapi kiranya persembahan ini dapat kalian terima”, kata Raja Duan Leng sambil tangannya bertepuk tangan tiga kali, maka keluarlah beberapa pelayan yang membawa nampan berisi barang-barang yang bernilai tinggi.
Semua sekutu menatap barang-barang itu dengan wajah gembira kecuali dua orang gadis yaitu Han Eng dan Coa Leng In, dan hal ini tidak terlepas dari pengamatan mata jeli Duan In Mey dan Bu Chen Tiong.
”Kakak berdua, mengapa tidak segera memilih benda-benda itu?, nanti yang terbaik diambil orang lain”, kata Duan In Mey memancing.
Han Eng hanya melirik dan menggelengkan kepala, Coa Leng In melihat barang-barang yang sekarang sedang di kerumuni oleh kaum muda dan para tetua Sekte Samudera Naga,
”Ah tidak, biarkan untuk mereka”, jawabnya.
Han Wo menatap Han Eng, dan membawa sebilah pedang pendek,
”Putri Langit, mungkin pedang ini cocok untukmu”, kata Han Wo sambil menyodorkan pedang itu pada Han Eng.
”Terima kasih Kakak Wo, tapi aku sudah memiliki pedang pemberian guruku yang sesuai untukku”, jawab Han Eng menolak.
Di kejauhan Duan Ling memperhatikan sikap Han Wo, dia pun berjalan menghampiri keduanya,
”Saudara Han Wo, aku akan berterima kasih jika pedang itu untukku”, kata Duan Ling sambil menatap wajah Han Wo, seperti menegaskan sesuatu.
”Putri Duan Ling, aku khawatir pedang ini tidak pantas untukmu, karena ini berasal dari perbendaharaan kerajaanmu”, jawab Han Wo.
”Pantas atau tidak itu urusanku, apakah kau mau memberikannya itu hal lain lagi”, kata Duan Ling sambil terus menatap Han Wo.
”Jika Putri berkenan maka aku dengan sukacita memberikan padamu, tetapi apakah aku layak memberikan kepadamu, karena benda ini tadinya akan kuserahkan pada adikku”, kata Han Wo berdiplomasi.
”Adik?, apakah benar kau hanya menganggap dia adikmu?”, kata Duan Ling sambil melirik juga pada Han Eng.
”Putri aku tahu maksudmu, kasihan kakakku, kami berasal dari klan yang sama, sekalipun mungkin kami tidak memiliki aliran darah yang sama sebagai sekandung, tapi dia hanya ingin memberikan sesuatu pada adik juniornya saja”, jawab Han Eng, karena sebagai wanita dia tahu arah mana yang dituju oleh Duan Ling.
”Kakak Ling, apakah maksudmu, kita semua adalah saudara”, kata Duan In Mey.
”Sudahlah, aku hanya menggoda saudara Han Wo”, kata Duan Ling tersenyum.
”Aha aku tahu, kakak Ling menyukai kakak Wo”, teriak Bu Chen Tiong.
”Husss….”, baik Han Wo dan Duan Ling bereaksi bersama.
”Tuuuuhhhh kan apa kubilang, mereka sudah sepakat”, kata Bu Chen Tiong lagi.
Sementara yang lain langsung tersenyum, sedangkan Han Wo dan Duan Ling diliputi rasa malu dan jengah, walau akhirnya pedang itu oleh Han Wo diserahkan pada Duan Ling dan Duan Ling menerimanya dengan malu-malu.
Hari pun berlalu, setiap kelompok akan meninggalkan kerajaan Chong Yang, kelompok Manor Langit segera meninggalkan istana dan menaiki kereta mewah mereka, demikian juga dengan anggota Sekte Guntur yang dipimpin oleh Duan Wu Hong, Raja Duan Leng sempat meminta Phang Cui Lin untuk tinggal tapi wanita itu tidak mau jauh dari Han Eng, padahal Han Eng mengijinkannya jika Phang Cui Lin bersedia.
Setiap kelompok telah meninggalkan Benua Chong Yang, demikian Juga dengan Yap Ing dan Coa Leng In, mereka berdua langsung menuju Benua Khui Ning, hanya dalam sebulan mereka telah memasuki Benua Khui Ning.
Betapa marahnya Yap Ing dan Coa Leng In begitu mendengar keterangan dari Pejabat Yap akan Kondisi Leluhurnya yang sedang terluka, beruntung luka itu telah ditangani dengan baik, berkat pertolongan seorang kultivator tidak dikenal bahkan berhasil membunuh tiga orang sekaligus, lawan dari Yap Kun Tek Leluhur mereka.
Pejabat Yap tidak mengetahui sosok penolong tersebut, namun leluhur Yap Kun Tek mengetahuinya,
”Leng In, Yap Ing, setelah aku sembuh total, persiapkan diri kalian berdua, kita akan pergi ke Benua Thian Agung, melalui Benua Eng Hian, kita minta pertolongan kawanmu Putri Langit”, kata Yap Kun Tek, yang direspon keheranan oleh pasangan putri dan ibu ini.
”Kakek Leluhur, apa hubungannya dengan Putri Langit, dan satu hal Kakek apakah kakek tahu siapa penolong kakek?”, tanya Yap Ing dan Coa Leng In.
Yap Kun Tek berusaha duduk, dia menarik nafas panjang,
”Pertanyaan pertama kujawab setelah kita tiba di Benua itu, kita bertanya pada sahabatmu, dan pertanyaan kedua, temanmu Han Long, tingkat kultivasi dan kekuatannya jauh diatasku, dia yang menolongku dan menyembuhkanku”, jawab Yap Kun Tek.
Kedua wanita itu seketika terdiam, yang membuat mereka tidak bersuara lagi adalah jawaban yang kedua, Han Long memang tidak sederhana.
Yap Ing melirik putrinya,
”Sayang aku tidak muda lagi, kalau saja pemuda itu tidak memandang usia, ingin aku mendapatkan perhatiannya”, kata Yap Ing.
”Ibu, apa maksud ibu, apakah ibu menginginkan sahabatku jadi ayah tiriku?,
daripada aku membiarkan sahabatku yang lebih muda dariku jadi ayah tiriku,
lebih baik aku jadi istrinya, aku akan bersaing dengan ibu”,
kata Coa Leng In sengit.
”Hi hi hi…”, Yap Ing hanya tertawa renyah dan masuk kedalam ruangan,
meninggalkan Yap Kun Tek dan Coa Leng In.