”Eng, persiapkan seluruh Pelayan Inti untuk melakukan perjalanan jauh”, kata pria setengah tua di dalam ruangan utama Manor Langit pada Han Eng.
”Guru, apakah kita akan memindahkan seluruh penghuni Manor?”, tanya Han Eng pada Si Tua Ong.
Si Tua Ong tidak segera menjawab, dia hanya menunduk,
”Dalam usia setua ini, baru kusadari, banyak kesalahan yang telah kubuat dan kulakukan, bahkan tadinya aku tidak mengerti mengapa keturunanku sendiri membenci dan menentang aku, bahkan aku tega menurunkan tangan jahat untuk membunuhnya. Aku telah ceroboh dan membahayakan tanah kelahiranku dalam kekacauan yang kubuat ribuan tahun lalu, Eng…! kamulah harapanku untuk memperbaikinya, nanti pun kau akan tahu, persiapkan saja semuanya untuk meninggalkan tempat ini, dan kita masih menunggu temanmu”, kata Si Tua Ong, dan matanya menatap jauh ke depan melewati bahu Han Eng.
”Baik Guru, aku akan melakukan yang terbaik, aku pamit guru”, jawab Han Eng, baru kali ini gurunya terlihat berbeda, biasanya Si Tua Ong terlihat tenang tanpa emosi, semua kata-katanya disampaikan dengan datar tanpa riak emosi sedikitpun, namun sekarang ada rasa penyesalan terhadap sesuatu dan Han Eng tidak mengerti.
Di luar ruangan tersebut, Phang Cui Lin bersama Han Wo dan delapan orang Pelayan Inti telah menunggu perintah dari Si Tua Ong, mereka baru tiba dari Benua Chong Yang, saat Han Eng mengatakan pada mereka bahwa mereka jangan bubar dulu, karena gurunya berkata demikian.
Sesaat kemudian Han Eng keluar dari ruangan dalam, kini wajahnya sudah tidak menggunakan topeng lagi, ada sedikit kerutan di dahi putihnya yang terhalang oleh anak rambut.
”Semuanya dengarkan!, dalam beberapa waktu kedepan, kita semua akan berangkat dalam perjalanan jauh, tingkatkan fisik dan mental kalian, katakan pada saudara-saudara yang lain, seluruh Pelayan Inti wajib dalam misi ini”, kata Han Eng.
”Siap!!!!”
Maka mereka membubarkan diri dan menyebar, untuk memberitahu para Pelayan Inti lainnya.
Sebulan kemudian di kaki gunung Puncak Mega Biru, ada berita bahwa, ada tiga orang yang ingin menemui Putri Langit, mereka mengaku sahabat Putri Langit.
Han Eng di dalam ruangannya, teringat akan ucapan gurunya, bahwa mereka menunggu akan datangnya seorang kawan, dia lalu memberi perintah pada salah satu pelayan inti untuk membawa masuk tamu tersebut ke aula penerima tamu.
Phang Cui Lin yang saat itu bertugas di kaki gunung, datang menemui para tamu dan tamu itu adalah Coa Leng In dengan ibunya dan seorang pria dengan penampilan gagah dan bersih, pria berusia 30 tahunan.
”Silahkan ikuti aku, Putri Langit akan menerima kalian bertiga di ruangannya”, kata Phang Cui Lin.
Yap Kun Tek melihat wanita itu,
”Terima kasih atas keramahan penghuni Manor Langit, aku yang rendah Yap Kun Tek membawa keturunanku yang juga sahabat dari Putri Langit”, kata Yap Kun Tek sewajarnya.
Phang Cui Lin sedikit terkejut mendengar pria ini memperkenalkan dirinya dengan nama yang sama sebagai Penguasa Benua Khui Ning, dia menengok ke belakang untuk memastikan bahwa ketiga orang tersebut mengikuti dirinya.
Han Eng keluar dari ruangannya, bermaksud menemui para tamunya,
”Ternyata kalian, silahkan masuk, saudari Leng In, leluhur Yap apa kabar?”, sapa Han Eng ramah dan melemparkan senyum pada Yap Ing.
Coa Leng In menghampiri Han Eng dan berucap,
”Aku dan ibu hanya mengikuti Leluhur Yap, kami berdua mohon Saudari Eng mau menerima kami untuk membawa kami ke Benua Thian Agung”, kata Coa Leng In sambil badannya sedikit menengok pada Yap Kun Tek.
Phang Cui Lin dan sebagian Pelayan Inti yang berjaga di aula itu terkejut, mendengar permintaan Coa Leng In, dalam hati mereka, apa hubungan Han Eng dengan Benua Misterius itu?, kenapa harus meminta pertolongan Han Eng?, kalau Han Eng bisa mengantarkan seseorang untuk memasuki Benua tersebut, mereka pun pasti bisa, mereka sudah hidup bersama bertahun-tahun di Manor Langit, baru sekarang ada orang luar yang minta tiket masuk pada Putri Langit ke tempat Para Dewa, Benua Thian Agung.
Bukan hanya Phang Cui Lin dan para Pelayan Inti, bahkan Han Eng sendiri terkejut,
”Saudari Leng In, apa kau tidak salah orang?, sejak kapan aku memiliki kuasa membawa seseorang ke Benua para Dewa itu, aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Benua suci itu”, kata Han Eng dengan mimik wajah heran.
Yap Kun Tek maju selangkah,
”Maafkan atas ucapan cucu buyutku, maksudnya adalah untuk mengajukan permintaan ini pada penguasa Manor Langit”, kata Yap Kun Tek.
Mendengar ucapan Yap Kun Tek, baru lah Han Eng dan yang lain sadar, sang gurulah yang dimaksud sahabatnya.
Tiba-tiba ruangan aula itu beredar tekanan energi yang luar biasa,
”Kun Tek kecil, inikah cucu-cucumu?, Ha ha ha…!!!, aku akan membawa kalian, ingat akan janjimu !!!” sebuah suara bergema di ruangan itu dan mengejutkan semua orang, bahkan Yap Kun Tek langsung sujud bersimpuh di lantai ruangan.
”Aku yang rendah menghormati Leluhur Thian Yang Agung, terima kasih atas semua pertolongan yang diberikan padaku, sehingga selembar nyawa ini masih berada di tubuhku, dan janjiku akan kutepati”, kata Yap Kun Tek.
Semua yang hadir, baik Coa Leng In dan ibunya termasuk penghuni Manor Langit sangat terkejut, Leluhur Yap menyebut penguasa Manor Langit dengan sebutan lain ‘Leluhur Thian Yang Agung’, yang baru didengar.
Masing-masing orang berpikir dengan imajinasi sendiri, mereka semakin heran dengan orang yang menjadi tuannya sendiri ternyata memiliki banyak sebutan dan identitas, dan hal ini baru mereka dengar saat ini.
”Dalam waktu sebulan, semua orang dengan status pelayan Inti harus siap berangkat dan meningkatkan kekuatannya, aku akan membawa kalian ke tanah leluhurku, ingat tanah itu tanah para kultivator Dewa, jika kalian mati itu karena lemah, itu kesalahan kalian sendiri, kelemahan tidak dapat diterima di Benua Thian Agung, tidak ada diantara kalian yang ku ijinkan keluar dari Manor, mengerti !”, suara Si Tua Ong bergema memenuhi ruangan.
SIAP !!!
Jawab semuanya
”Eng, temui aku!”, perintah Si Tua Ong lagi.
Han Eng memberi tanda pada yang lain agar menyiapkan akomodasi bagi tiga tamunya, dan dia sendiri masuk ke ruangan dalam.
Di dalam ruangan Si Tua Ong,
”Katakan pada kepala pelayan pelataran di kaki gunung untuk menutup gerbang Manor dan tidak menerima siapapun, pasang formasi persembunyian”, kata Si Tua Ong atau Leluhur Thian Han Ong.
Han Eng menganggukan kepala dan keluar ruangan, dia sendiri langsung melayang turun untuk memerintahkan pada kepala pelayanan pelataran, sesuai perintah gurunya.
Kembali ke Benua Chong Yang, di bagian ujung paling timur benua, di kedalaman Hutan Kabut Putih, Danau Merah Misterius, danau itu sudah tidak berwarna merah lagi, danau itu berwarna bening kebiruan, warna merah yang semula menjadi warna utama sudah tidak tampak lagi.
Di bawah dasar danau ternyata membentuk ruang hampa yang tidak dapat ditembus oleh air danau, ruangan ini membentuk dimensi ruang sendiri.
Dua tubuh manusia, seorang wanita dan seorang pemuda berada dalam posisi semedi, mata keduanya terpejam.
Mereka adalah Han Long dan Thian Sian Li, pasangan ibu dan anak, namun sekarang terlihat bahwa keduanya seperti pasangan kembar hanya beda jenis kelamin, Thian Sian Li berwajah sangat cantik dan Han Long sangat tampan.
Tidak ada lagi wajah berkerut, menahan sakit pada Han Long, wajahnya bagai dipahat dari giok yang sangat halus, putih sedikit kemerahan demikian juga dengan wajah ibunya, yang putih bersih sangat halus.
Jika ada orang tahu bahwa tingkat kultivasi yang dimiliki Thian Sian Li pada Tingkat Raja Dewa ke-9 Puncak, maka orang tersebut langsung bersujud bagai berhadapan dengan Dewi Surgawi ini.
Jangankan orang biasa, bahkan Thian Kong Jie yang merupakan Kepala Klan Super keluarga Thian di Benua Thian Agung sekaligus sebagai Kepala Sekte Naga Agung akan gemetaran menghadapi keturunannya sendiri, dimana Thian Sian Li adalah cucu dalam dari Thian Kong Jie.
Apalagi Han Long, dibandingkan dengan tingkat yang dicapai oleh Thian Sian Li, maka dia diatas tingkat Thian Sian Li, ibunya, setelah mengasimilasi Jamur Giok Nirwana, konstitusi 9 Tubuh Bintangnya telah mencapai kesempurnaan, dimana teknik ini adalah teknik kultivasi kategori Dewa kelas Sempurna yang membuat seluruh tubuh kedagingannya menjadi sempurna untuk menampung energi dunia, bahkan sekarang hanya dengan pikirannya, Han Long dapat mengendalikan energi itu sekehendak hatinya.
Kini kekuatan Han Long telah mencapai di atas kultivasi Raja Dewa, yaitu Kaisar Suci Sempurna, selangkah menuju Kaisar Dewa Awal.
Sesuai dengan kemajuan yang diharapkan untuk kelak menghadapi leluhurnya sendiri Thian Han Ong, seorang kultivator Kaisar Dewa Sempurna.
Pasangan ibu dan anak ini telah mematahkan belenggu kultivasi dunia yang selalu tertahan di tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak.
Mata kedua orang itu terbuka secara bersama, baik Han Long maupun Thian Sian Li saling berhadapan,
”Bagaimana kondisi ibu?”
”Long er, ibu baik-baik saja, dan kamu?”
”Aku pun baik-baik saja, selamat ibu, ibu telah mencapai tingkat Raja Dewa ke-9 Puncak, tidak ada lagi lawan yang berarti di permukaan dunia ini kecuali Leluhur Thian dan Penguasa Benua Ketiga”, kata Han Long.
”Long er, tingkat apa dirimu?”, tanya Thian Sian Li.
”Di atas ibu, tapi rupanya masih dibawah Leluhur Thian”, kata Han Long.
”Sudah waktunya kita melihat dunia, Long er tempat ini sebaiknya hanya kita saja yang tahu”, kata ibunya
”Ibu dari awal aku sudah memiliki ide seperti itu, malah aku akan membuat tempat kultivasi dan beberapa ruangan tambahan juga aku harus memeriksa bagian tempat-tempat lain”, kata Han Long.
Keduanya menyempatkan diri memeriksa ruangan independen tersebut yang ternyata sangat luas sekitar ribuan meter, setiap sudut ruangan itu diselidiki, terdapat beberapa tumbuhan eksotis, diantaranya diketahui jenis dan namanya oleh Thian Sian Li, keduanya merasa gembira, karena banyak tanaman yang tumbuh malah ada beberapa jenis pohon yang menghasilkan buah-buahan yang berfungsi sebagai obat dan memelihara tubuh kultivator tingkat abadi, tingkat Manusia Dewa.
Setelah puas, keduanya muncul di permukaan danau, pakaian keduanya tidak terlihat basah, mudah bagi keduanya karena Han Long dan Thian Sian Li sudah menjadi manusia abadi, kultivator Transenden.
Dengan pikiran, keduanya dapat berteleportasi dengan mudah, melalui persepsi jiwa, mereka mendapati bahwa Benua Chong Yang dalam kondisi damai.
Pada tingkat seperti sekarang, baik Han Long maupun Thian Sian Li tidak memerlukan transportasi jika hanya dalam wilayah satu benua, mereka akan menggunakan formasi teleportasi yang dibangun para ahli pada setiap benua, namun posisi stasiun teleportasi antar benua ini dikendalikan oleh orang-orang dari Benua Thian Agung, yang ditempatkan di masing-masing benua secara misterius dan dikontrol oleh anggota Dewan Keadilan Tertinggi, dimana sekali menggunakan formasi teleportasi ini menelan biaya yang sangat mahal dan izin dari pejabat dewan di bawah satu tingkat Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Ketika Han Long dan Thian Sian Li mendatangi stasiun teleportasi di Benua Chong Yang yang ternyata ada di Kerajaan Ming Lan, Thian Sian Li mengeluarkan sebuah Token Giok bertuliskan ‘Thian’, dan token ini berwarna emas, menandakan pemiliknya adalah kaum bangsawan penduduk Benua Thian Agung.
Dengan sikap hormat petugas pertama datang, melayani Thian Sian Li begitu melihat Han Long, petugas kedua yang berpenampilan kasar, menahan Han Long, karena Han Long tidak memiliki identitas diri sebagai warga Thian Agung.
”Anda tidak diperkenankan memasuki wilayah benua, karena anda tidak memiliki identitas, sekalipun anda memiliki harta, kami tetap tidak mengizinkan anda masuk”, kata petugas berwajah kasar tersebut dengan nada dalam sambil matanya melirik pada Thian Sian Li dan menyeringai, lalu kepalanya menoleh pada kawan-kawannya seperti memberi tanda.
Sekitar 20 orang petugas yang menjaga stasiun teleportasi, menghampiri tempat Han Long dan Thian Sian Li.
”Aku yang menjamin, dan aku adalah kaum bangsawan Thian Agung, aku yang bertanggung jawab”, kata Thian Sian Li datar.
”Maaf, aturan ini sudah tidak berlaku, perintah datang dari Dewan Keadilan Tertinggi”, kata salah satu petugas tersebut.
”Siapa yang memerintahkan aturan ini?”, tanya Thian Sian Li lagi.
”Nona, justru dari pejabat klan Thian lah yang memerintahkan kami untuk menjalankan keputusan ini, dan perintah ini sudah berjalan selama tiga bulan terakhir namun aku akan memberikan pengecualian melihat nona”, kata petugas itu dengan angkuh, dia menyeringai melihat kecantikan Thian Sian Li, dia merasa bahwa di benua ini, tidak ada kultivator yang melebihi kekuatannya apalagi kawan-kawannya ada disini dan mereka semua adalah kultivator tingkat Manusia Dewa
Han Long hanya memperhatikan setiap petugas yang menghampiri mereka berdua, Thian Sian Li dengan tenang menatap wajah petugas tersebut.
”Apakah kalian semua tidak melihat Token Giok yang kumiliki? Dan pengecualian apa?”, tanya Thian Sian Li.
”He he he…,Kami tidak peduli status anda nona, kami hanya menjalankan perintah, he he he… pengecualian itu…, pasti anda tahu maksud kami, yang jauh dari istri kami masing-masing”, kata petugas berwajah kasar itu terkekeh-kekeh, yang disambut oleh kawan-kawannya dengan tertawa.
Thian Sian Li tetap tenang, baginya sekawanan semut ini tidak berarti banyak, dia harus mencari tahu siapa pejabat tinggi di klannya yang menghalangi dirinya masuk dengan alasan menahan Han Long.
”Coba kalian teliti lagi token giok itu, aku hanya mengatakan supaya kalian tidak menyesal”, kata Han Long.
”Anak kecil, kau diam!, kami tahu apa yang kami lakukan”, jawab petugas yang lain.
Begitu Petugas itu selesai bicara, udara di sekitar stasiun berubah, ada tekanan energi melanda semua petugas di tempat itu, bahkan tekanan itu menyebar luas.
Arghhhh….!!!
Dua puluh petugas yang mengitari Han Long dan Ibunya tersengal-sengal, rupanya Thian Sian Li sudah marah,
Dari kejauhan seorang pria paruh baya yang berbadan gemuk, dengan limbung mendatangi tempat itu, rupanya dia adalah penanggung jawab stasiun teleportasi di tempat ini, dia pada tingkat Raja Dewa ke-1 Puncak.
”A a apa yang… ter jadi?, a apa yang ka..li..an laku..kan?”, dengan susah payah dia berkata, sementara anak buahnya sudah terkunci, terlebih petugas berwajah kasar yang tadi terus menyeringai kepada Thian Sian Li, wajahnya sudah merah bagai kepiting rebus dengan nafas megap-megap, kepalanya sudah siap meledak.
”Kamu yang bertanggung jawab atas stasiun ini?, kemarilah, lihatlah token giok milikku”, kata Thian Sian Li datar, tanpa gelombang emosi lain pada petugas gemuk yang baru datang.
Penanggung jawab ini segera terbebas dari tekanan energi yang dilepaskan oleh Thian Sian Li, lalu dia menerima token giok dan melihat benda itu, seketika wajahnya berubah, lututnya gemetar, dia langsung roboh dan bersujud, dia sadar anggotanya membuat ulah, dan menimbulkan masalah besar bagi dirinya,
”Ampuuuunnnn, ampunilah hamba Tuan Putri, hamba bersalah…”, kata Petugas tambun itu sambil kepalanya memutar dan melihat anak buahnya dilanjutkan dengan membentur-benturkan dahinya ke tanah, minta ampun pada Thian Sian Li dan Han Long.
Melihat bahwa atasan mereka bersujud dan menyembah-nyembah pada wanita cantik itu, seluruh petugas terkejut, kepala mereka bagai disambar petir, terutama petugas yang berniat kurang ajar pada Thian Sian Li, kini hidup mereka dipertaruhkan, bukan saja diri mereka, bahkan seluruh keluarga mereka di Benua Thian Agung.
”Katakan padaku, siapa yang memberi perintah akan perubahan aturan ini?” tanya Thian Sian Li.
”Ini semua muncul tiga bulan lalu, dan perintah ini disampaikan ke seluruh stasiun yang menuju Benua Thian Agung oleh Yang Mulia petinggi klan Thian, dengan alasan bahwa ada gerakan musuh yang akan menyerang Benua Thian Agung”, jawab Perwira Kepala Petugas itu.
Han Long hanya memperhatikan kejadian itu, dan matanya menangkap beberapa orang yang mencurigakan, karena dia sedari tadi telah mengerahkan persepsi jiwanya, dan diantara mereka telah melakukan komunikasi kontak jiwa yang memiliki fluktuasi energi kultivasi berbeda dengan sejumlah petugas yang lain.
Bagi tingkat yang dimiliki oleh Han Long komunikasi jiwa diantara mereka dapat terdengar secara jelas,
”Ibu, persoalan ini tidak sederhana, dan ada penyusup pada petugas-petugas ini”, kata Han Long dengan kontak jiwanya.
”Ibu tahu, ibu akan mencabut mereka”, kata Thian Sian Li, tiba-tiba beberapa orang petugas bertumbangan dengan kepala sudah pecah, termasuk petugas pertama dan petugas berwajah kasar.
Perwira bertubuh tambun itu membelalakan matanya, dia sudah menggigil ketakutan, dan Thian Sian Li menghampirinya,
”Kau tidak perlu takut, yang mati itu bukan penduduk asli Benua Thian Agung, mereka adalah petugas palsu, aku akan bertanggung jawab pada anggota Dewan Keadilan Tertinggi, siapkan formasi teleportasi aku akan menghadap kakek”, kata Thian Sian Li.
Perwira itu hanya bisa manggut-manggut, dia lihat ada enam orang telah mati,
sambil berjalan menghampiri altar teleportasi, ada gumaman dari mulutnya,
”Dasar petugas dungu, petugas bodoh, keberanian apa yang kalian miliki, bertindak kurang ajar pada putri klan Thian, wanita ini adalah cucu asli dari Penguasa Benua, sungguh aku dikelilingi oleh orang-orang tolol”, kata perwira ini.
”Siapkan formasi, cepat !, Sang Putri sudah tidak sabar, apa kalian ingin mati!!?”, seru perwira ini, dia sudah marah melihat tingkah laku anak buahnya, yang tidak teliti melihat token yang dimiliki oleh Thian Sian Li.
Thian Sian Li dan Han Long melangkah ke tengah altar teleportasi.
Tindakan sebelumnya yang membunuh petugas penyusup itu bertujuan juga, agar jangan muncul masalah yang tidak perlu, karena dicemaskan mereka akan merubah titik koordinat tujuan Thian Sian Li dan Han Long.
Jauh di pusat Pemerintahan Benua Thian Agung di Komplek Menara Anggota Dewan Keadilan Tertinggi, Thian Kong Jie sedang menerima koleganya Sie In Hong,
”Kakak Kong Jie, kau harus tahu, cucuku Han Chen Yang, masih hidup ataukah sudah mati?, ijinkan aku masuk ke Lembah Tengkorak, aku ingin membebaskannya, dia sudah menjalani hukuman itu selama 20 tahun lebih”, kata Sie In Hong.
Thian Kong Jie mengangkat wajahnya menatap wanita cantik di depannya,
”Adik Hong, aku tahu perasaanmu, apakah kau tidak berpikir bahwa yang kau sebut cucu itu adalah cucuku juga, bukan karena dia menikah dengan cucuku, ada satu hal yang tidak kau ketahui tentang klan Thian, yang terkubur ribuan tahun lalu”, kata Thian Kong Jie,
Sie In Hong menatap pria 30 tahunan ini, walaupun sebenarnya mereka berdua berumur ratusan tahun.
”Apa maksudmu kakak?”, tanya Sie In Hong.
”Aku akan menjelaskan”, kata Thian Kong Jie, menarik nafas dalam maka mengalirlah ucapan-ucapan dari mulutnya.
Penguasa Benua Merah Kui Lok Mo, dulunya adalah saudara seperguruan dari Leluhur Thian Han Ong bersama dengan Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy, dimana dari ketiga orang tersebut, Thian Han Ong selalu lebih unggul dari dua saudaranya, hal ini menimbulkan persaingan dalam hal kekuatan dan tingkat kultivasi yang terjadi diantara mereka, hubungan ketiganya retak hingga sekarang, dan mereka berpisah menentukan jalannya masing-masing.
Leluhur Thian Han Ong sebenarnya memiliki dua orang istri, dari istri pertama, Leluhur memiliki putra yang diberi nama Thian Hay, bakat dan kejeniusan putra ini sama dengan Leluhur Thian Han Ong, dan dari istri keduanya memiliki juga putra yang diberi nama Thian Han Jie.
Antara Thian Hay dan Thian Han Jie, ada selisih umur dimana Thian Hay lebih tua 20 tahun dari adiknya, namun kecepatan kultivasi dan kekuatan Thian Han Jie tiga kali lebih cepat dari kebanyakan kultivator diseluruh permukaan bumi ini, bahkan menandingi tingkat kultivasi kakaknya.
Leluhur Thian Han Ong, awalnya tidak menaruh curiga karena sebagai keturunannya hal itu lumrah-lumrah saja, namun lama kelamaan muncul kecurigaan dalam diri Leluhur Thian Han Ong terhadap istri keduanya, dan kecurigaan itu berkembang menjadi kecemburuan semata.
Ternyata bakat Thian Han Jie ini, diturunkan oleh ibunya yang bernama Han Cui Eng, konon Han Cui Eng adalah Putri Tunggal klan Han yang tersisa, sang Putri lolos dari pembantaian genosida terhadap klannya karena pertolongan yang dilakukan oleh Leluhur Thian Han Ong dari tangan kelompok Pasukan Merah dari Benua Merah.
Thian Han Ong merasa cemas jika Thian Han Jie menyusul kekuatan kakaknya, Leluhur tidak yakin kalau Thian Han Jie adalah putranya, akhirnya konsentrasi pertumbuhan Thian Hay mendapatkan perhatian yang serius dari Leluhur Thian Han Ong, disinilah awal masalah muncul di dalam klan keluarga Thian.
Han Cui Eng pun marah pada Leluhur yang menyangka dirinya berbuat serong, Han Cui Eng menuntut suaminya melakukan uji darah, namun karena Thian Han Ong adalah penguasa Benua bahkan Penguasa Dunia ini, dia menolak bahkan dia mengusir Han Cui Eng dan mengasingkan istri keduanya di ujung benua Thian Agung ini.
Thian Han Jie sangat marah mengetahui perlakuan sang ayah pada ibunya, dia pun membuang marga Thian dan bersumpah bahwa dia akan membentuk klan keluarganya sendiri yaitu Klan Han, klan ibunya, untuk menandingi Klan nomor satu itu.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Han Jie menantang para kultivator termasuk Thian Hay kakaknya untuk bertarung, namun Thian Hay tidak bersedia bertarung dengan adiknya dia pun sebenarnya tidak mau diperlakukan istimewa oleh ayahnya, Thian Hay sebenarnya menyayangkan keputusan ayahnya yang mengusir ibu dan anak itu dari pusat Benua Thian Agung.
Han Jie pun menantang dan melawan setiap kultivator yang dijumpainya, dan hampir seluruh kultivator yang melawannya kalah, mereka harus bersedia mengganti marganya dengan marga Han, disinilah klan Han berkembang kembali.
”Aku tahu bahwa cucumu Han Chen Yang, adalah cucuku juga, karena dia memiliki konstitusi tubuh yang sama dengan leluhur Thian Han Jie, yaitu kecepatan kultivasi diatas normal”, kata Thian Kong Jie.
Sie In Hong yang terdiam hanya menatap kedepan,
”Artinya juga, bahwa mantuku adalah keturunan asli dari Leluhur Thian Han Jie”,
gumam Sie In Hong.
”Itu jelas !!!, sekalipun aku tahu bahwa Han Wi Ong berasal dari Benua Buangan Chong Yang, tapi ketika dia berhasil masuk ke Benua ini, maka kecepatan kultivasi nya langsung melesat”, jawab Thian Kong Jie.
Tarikan nafas Thian Kong Jie semakin berat dan dia melanjutkan ceritanya,
”Dan yang juga belum kau ketahui, adalah cucuku Thian Sian Li, adalah putri klan Thian yang dipersiapkan oleh Leluhur Thian Han Ong untuk menandingi konstitusi tubuh keturunan Thian Han Jie, tetapi takdir bicara lain, Thian Sian Li malah menikah dengan cucumu, aku berpikir ini lebih baik tadinya, namun itu adalah musibah bagi buyutku, karena sebelumnya, ternyata diluar pengetahuanku, Leluhur menanamkan Energi Biru pada Thian Sian Li dengan harapan, Thian Sian Li memiliki kecepatan dan kekuatan kultivasi yang sama bahkan melebihi dari istri keduanya Han Cui Eng, tapi energi itu tidak langsung berasimilasi dengan tubuh cucuku Thian Sian Li, tapi tertanam di rahimnya bukan di dantiannya, apakah kau tahu akibatnya?”, tanya Thian Kong Jie.
Sie In Hong yang dari tadi mendengarkan cerita dari Thian Kong Jie hanya menggelengkan kepalanya,
”ketika Thian Sian Li menikah dengan cucumu Han Chen Yang, tidak lama kemudian dia hamil, saat cucumu menjalani pengasingan di Lembah Tengkorak, beberapa bulan kemudian anaknya lahir, dan rupanya bayi ini telah menyerap energi biru yang tertanam di rahim ibunya, dengan kombinasi darah dari ayahnya, bayi ini begitu lahir sudah mencapai tingkat Raja Dewa, masalahnya kedagingan tubuh bayi ini tidak sesuai dengan tingkat kultivasinya, aku sendiri lalu turun tangan mengunci dan menyegel tubuh bayi tersebut agar tidak dapat berkultivasi, supaya tubuhnya tidak meledak, namun demikian segelku tidak berarti banyak, karena sumber energi Benua ini sudah terpusat, sumber energi yang melimpah akibat perbuatan Leluhur Thian Han Ong, ditambah bakat dari ayahnya yang turun pada bayi itu, tubuhnya seketika dapat menyerap energi dunia ini, sekalipun sudah disegel, tingkat kultivasinya bergerak kembali, maka satu-satunya cara, bayi ini harus keluar dari Benua Thian Agung”, jelas Thian Kong Jie pada Sie In Hong yang menatap pria di hadapannya dengan mata terbuka lebar.
”Mantuku aneh, cucuku juga aneh, tapi buyutku lebih aneh lagi”, kata Sie In Hong.
”Hei yang kau bicarakan adalah Cucu dan buyutku juga”, kata Thian Kong Jie.
“Lalu bagaimana sekarang kondisi cucu menantu dan buyutku itu?, kalau buyutku ada, berarti dia sekarang sudah menjadi seorang pemuda”, tanya Sie In Hong.
“Beberapa tahun lalu, cucuku Thian Sian Li datang menemuiku untuk meminta tanaman herbal satu-satunya milik klanku yang kujaga sepanjang hidupku, katanya herbal itu demi menolong putranya, kau tahu Herbal Jamur Giok Nirwana?”, kata Thian Kong Jie.
“Apakah kau memberikannya?, jika tidak aku akan berusaha membunuhmu dan merebut herbal itu demi hidup buyutku”, kata Sie In Hong menatap tajam pada Thian Kong Jie.
“Aaaahhhh, watakmu belum berubah dari dulu, jelas aku sendiri yang mengambil Herbal tersebut tanpa persetujuan para petinggi klan Thian, aku bersedia dihukum oleh klanku demi menolong cucu dan buyutku itu”, jawab Thian Kong Jie, dengan kening berkerut, dan Sie In Hong merasa lega, dia mengangguk-anggukan kepalanya, sambil tersenyum sangat manis pada lelaki dihadapannya.