Di salah satu manor dengan halaman yang luas di kota Yang In, banyak berseliweran anggota Klan Han keluar masuk. Walaupun markas Klan keluarga Han terletak ke arah timur Kota Yang In bahkan bersebelahan dengan Hutan Kabut Putih, Klan Keluarga ini memiliki manor yang cukup untuk menampung anggota Klan berjumlah 200-an orang di dalam kota Yang In.
Manor ini adalah peninggalan dari Leluhur Klan Han di masa Jayanya.
Disinilah tujuan yang ingin dicapai oleh penatua Han Leng yang memimpin rombongan Klan Han.
Berselang beberapa jam kemudian, muncullah rombongan Penatua Han Leng yang langsung memasuki gerbang manor yang diberi nama “Pesona Kabut Putih”, nama ini diambil dari kebiasaan markas klan Han yang selalu diselimuti kabut berwarna putih, makanya tidak heran jika hutan di sebelahnya disebut Hutan Kabut Putih.
“Salam Kepala Klan Han!”, sapa penatua Han Leng setibanya di gedung manor menemui Patriak Han Wi Teng.
“Saudara ke-3 bagaimana kabarmu?” Ucap Han Wi Teng, menyambut Han Leng.
“Baik-baik saja Kepala Klan, walaupun tadi ada sedikit kejadian”, jawabnya sambil terus menceritakan peristiwa pertemuan dengan rombongan dari klan Cui.
“Kita selalu dianggap rendah oleh klan keluarga Ras Iblis, baiklah, beristirahatlah dahulu, karena perjalanan ini pasti merepotkan dan melelahkan bagi saudara ke-3”. Balas Han Wi Teng kemudian.
Han Eng tidak langsung menemui Han Wi Teng ayahnya, tapi dia langsung keluar dengan mengajak Han Long untuk menemaninya berjalan-jalan, sekedar menghilangkan kekesalan hatinya akibat pertemuan tadi dengan klan Cui.
Bagi Han Eng ada kekesalan di hatinya mengingat peristiwa 6 bulan lalu, ketika para junior klan Ras Iblis baik Klan Meng, Klan Cui maupun Klan Coa.
Dia masih terbayang wajah-wajah yang telah menindas dirinya, seperti Meng Li yang merupakan putri dari kepala Klan Meng, atau Cui Hok yang merupakan putra dari salah satu petinggi Klan Cui.
Terlebih lagi kepada Coa Kun yang telah memukulnya bertubi-tubi.
Di salah satu jalanan Ibukota Yang In, Han Eng dan Han Long berjalan berdampingan, mereka terlihat takjub dengan berdirinya gedung-gedung di sisi kiri maupun kanan jalan, jika seseorang melihat pasangan ini, selalu diakhiri dengan geleng-geleng kepala.
Han Long sebenarnya termasuk anak yang tampan namun karena sorot matanya jenaka dengan senyum di bibirnya terlihat tidak serius, maka ketampanannya pudar digantikan oleh tampilan seorang pelawak.
Kontras dengan penampilan Han Eng yang anggun, walaupun usianya mendekati 10 tahun tapi keanggunannya sudah tampak akan menjadi gadis yang cantik.
Tiba-tiba muncullah rombongan anak-anak yang berjumlah sekitar 10 orang, mereka langsung berjalan mengarah pada keberadaan dimana Han Eng dan Han Long berada.
“Nah ini dia anak kecil Ras Manusia yang tidak pernah jera”, ujar salah satu suara seorang anak perempuan, yang ternyata adalah Meng Li putri kepala Klan Meng.
“Apa maksudmu, adik Meng Li?” kata anak lelaki berusia sekitar belasan tahun lainnya.
Dia adalah Cui Man Ek, putra kepala Klan Cui.
“ Oh ya, dia Han Eng, anak yang tempo hari mau menjual pil Giok Sutera” jawab Cui Hok disebelah Cui Man Ek.
“Mau apa kalian?” tanya Han Eng dengan waspada.
Dia sekarang tidak takut terhadap mereka, yang diwaspadai hanya Cui Man Ek, karena yang lain adalah anak-anak yang sudah diketahuinya tingkat kultivasinya, paling juga Kekuatan Tubuh ke-8 Puncak.
“Kakak Man Ek, anak ini yang menyebabkan kami cedera oleh seseorang,
sehingga diantara kami menderita sakit hampir seminggu lebih,
tolong balaskan sakit hati kami,” Jawab Meng Li meminta bantuan kepada Cui Man Ek.
Mendengar permintaan Meng Li terhadap dirinya, hati Cui Man Ek berbunga-bunga, baginya permintaan Meng Li adalah hal amat penting, bagi seorang anak remaja 14 tahunan, permintaan ini adalah bukti bahwa dirinya sangat berarti.
Dengan gagahnya Cui Man Ek melangkah ke depan bersiap memukul Han Eng yang terlihat lemah dan kecil.
Sebelum dia berbuat, tiba-tiba ada sesosok anak yang berjalan terbungkuk-bungkuk menghampiri Cui Man Ek dengan wajahnya meringis ketakutan dan hampir menangis.
“Kakak besar tolonglah jangan bertindak”, sambil badannya menyeruduk ke arah Cui Man Ek.
Cui Man Ek terkejut melihat perbuatan Han Long namun kejutan selanjutnya adalah dia tiba-tiba terduduk di jalan sambil merasakan rasa mulas yang hebat di perutnya.
Han Eng Khawatir melihat perbuatan Han Long terhadap Cui Man Ek, dengan kemarahannya yang meluap, dia menghentak tenaga saktinya dan menyerbu sendirian ke arah Cui Man Ek, namun karena Cui Man Ek sudah terduduk dengan pantatnya, maka serangannya menerpa angin, namun disaat berikutnya gerakan itu tidak berhenti, dia teruskan ke arah Meng Li dan Cui Hok.
Plak !....., Desss !
Brrukkk, Brrukk.
Ada 2 suara yang menandakan 2 tubuh yang jatuh seperti sebatang pohon rubuh.
Dengan ilmu Tangan Samudera dengan kombinasi Pesona Dewa Surga, jurus beladiri klan Han, Han Eng melabrak Meng Li dan Cui Hok, sehingga keduanya terpental beberapa meter dan jatuh terjengkang.
Gerakan Han Eng tidak diduga oleh kelompok anak-anak ini, mereka pikir dengan majunya Cui Man Ek cukup berurusan dengan keduanya.
Tapi yang lebih tidak terduga adalah perbuatan Han Long yang terlihat akan sujud kepada Cui Man Ek untuk belas kasihan, malah membuat Cui Man Ek terduduk dengan mulut menyeringai menahan mulas di perutnya.
“Aduhh..!”, “Aaargh…!!”, “Awww..!!!”.
Seruan ini keluar susul menyusul dari mulut Cui Man Ek, kemudian Cui Hok dan Meng Li.
Dengan konyolnya Han Long menampilkan wajah terkejut, lalu dia menghampiri Cui Man Ek dengan maksud membantunya berdiri, tapi kejadian selanjutnya adalah Cui Man Ek tidak dapat berdiri bahkan kedua tangannya meremas perutnya makin erat.
Secara diam-diam Han Long menyalurkan tenaga saktinya ke perut Cui Man Ek, sehingga bukannya sembuh malah makin menjadi.
Di hadapan semua orang, termasuk rombongan Meng Li, perbuatan Han Long murni terlihat sempurna sebagai anak yang ingin menolong Cui Man Ek.
Tapi anehnya kondisi Cui Man Ek makin menderita.
“Han Long, ayo pergi”, kata Han Eng.
“Maaf kakak besar”, Kata Han Long terbungkuk-bungkuk sambil mengulang perkataan itu berkali-kali kepada Cui Man Ek.
Sambil berjalan mundur Han Long’ meninggalkan tempat itu bersama Han Eng.
Meninggalkan suara anak-anak yang mengerang kesakitan.
Meng Li merasa menderita karena pukulan yang dia terima dari Han Eng terasa perih dan menyengat kulit wajahnya, sangat sakit.
Padahal dia merasa bahwa tubuhnya telah terlindung dengan tingkat kultivasi yang dia capai, yang dia tidak tahu adalah tingkat kultivasi Han Eng jauh di atasnya sehingga energi yang dilepaskan sangat dahsyat terasa, demikian juga yang dirasa oleh Cui Hok.
Han Eng dan Han Long segera meninggalkan tempat kejadian itu, walau bagaimana mereka takut diketahui oleh petugas pengawal kota.
Kalau sudah ketahuan maka masalahnya menjadi tidak sederhana, akan melibatkan seluruh Klan.
Di markas Klan Coa, Coa Kun sedang duduk di sebuah taman bersama dengan ibunya, Mo Eng.
“Kun er, bagaimana perkembangan kultivasimu?”, tanya Mo Eng, sang ibu.
“Aku sudah menyelesaikan jurus Guntur Pelangi hingga jurus ke-36 ibu, dan tingkat kultivasi ku sudah tahap Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak”. Coa Kun Menjawab.
“Anak baik, Ingatlah untuk selalu berlatih dan meningkatkan kultivasimu”, kata Mo Eng selanjutnya.
“Tapi ibu, aku heran dengan adik Leng In, kekuatan kultivasinya ada di tahap Kekuatan Tubuh ke-9 Menengah tapi aku tidak dapat menjatuhkannya dalam perdebatan hari ini, padahal aku sudah mengeluarkan jurus Guntur Pelangi sampai gerakan ke-36’, lanjut Coa Kun kepada ibunya dengan tatapan heran.
“Bagaimana mungkin??, apakah dia menyembunyikan tingkat kultivasinya?, tapi itu pun mustahil, lalu bagaimana cara dia mengalahkanmu?” kembali Mo Eng bertanya.
“ Aku tidak kalah ibu, dia menyerah karena kehabisan nafas dan kelelahan”, jelas Coa Kun.
“Baguslah engkau tidak kalah, sebaiknya kamu selalu fokus dalam kultivasi” demikian pesan Ibunya, Mo Eng.
Mendengar keterangan Coa Kun, Mo Eng berpikir keras, tidak mungkin seorang gadis remaja dapat menyembunyikan tingkat kultivasi dirinya karena hanya orang-orang yang sudah mencapai tingkat Manusia Suci yang memiliki Ilmu semacam penyembunyian kultivasi seseorang.
Dimana Tingkat kultivasi Manusia Suci adalah pengolahan tubuh kultivasi yang dilatih hingga puluhan bahkan sampai ratusan tahun.
Itupun masih ada tingkatan yang disebut Tingkat Kultivasi Raja yang harus dilewati sebelum mencapai Tingkat Manusia Suci.
Tidak lama kemudian seseorang masuk menghampiri kedua anak dan ibu itu dengan gemetaran.
“Maaf Tuan Muda, ada beberapa murid klan Keluarga Meng dan Klan Keluarga Cui, yang ingin menemui Tuan Muda” , kata seorang pelayan wanita ras manusia dengan tergopoh-gopoh ketakutan.
“Baiklah Ibu, aku akan terus meningkatkan kekuatanku”, kata Coa Kun kepada ibunya.
“Terima mereka di Paviliun Barat”, kata Coa Kun melanjutkan kepada pelayan wanita itu.
Coa Kun pergi menyusul kepergian pelayan tadi,
“Tuan Muda Coa, tolong tegakkan keadilan bagi kami”, kata kata yang diucapkan secara serempak oleh sekelompok anak-anak remaja dari Klan Keluarga Cui dan Klan Keluarga Meng bergema.
Bagi mereka, lebih mudah meminta pertolongan kepada Coa Kun daripada harus menghadapi patriak masing-masing keluarga.
Karena urusan mereka tidak dianggap penting di hadapan para patriak, sekalipun mereka adalah putra dan putrinya.
Apalagi kalau para penatua ini mendengar bahwa mereka dipukuli oleh Ras Manusia yang lebih muda dan kecil dibandingkan dengan mereka.
“Apa maksud kalian?,
apakah aku ini pesuruh kalian?
tukang pukul kalian?”,
kata Coa Kun dengan tatapan tajam.
Coa Kun sudah bosan menghadapi mereka yang manja sebagai anak-anak para petinggi klan keluarga masing-masing.
“Bukan itu maksud kami, kami sebetulnya meminta izin untuk dapat menghajar anak perempuan Ras Manusia itu, tapi kami tidak dapat melakukannya di kota Yang In, karena peraturan yang ditetapkan oleh ayahmu”, Kata Cui Hok beralasan.
“Ohhh… itu yang kalian maksud, jadi kalian akan mengeroyok anak perempuan itu seperti peristiwa 6 bulan lalu, apakah itu yang akan kalian lakukan?”, balas Coa Kun makin sebal.
Karena peristiwa itu mengingatkan dirinya atas serangan tiba-tiba dari seseorang yang tidak diketahuinya.
Dan lagi hal itu tidak sesuai dengan prinsip Ras Iblis, bagi Ras Superior di benua Chong Yang, bahwa ‘kekuatan adalah segalanya’.
“Tuan Muda Kun, maksud kami, biarkan kami memberikan tantangan kepada anak perempuan Han Eng dari Ras Manusia itu”, jawab Meng Li dengan air mata menghiba.
“Itu tidak dapat dilakukan karena beberapa hari kedepan, semua arena dipersiapkan untuk kepentingan Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga”.
Balas Coa Kun.
“Dan alangkah lucunya untuk kalian semua, apakah kalian akan mengalahkan Han Eng anak perempuan itu dengan maju satu per satu sehingga dia akan kalah karena kehabisan tenaga?” tambahnya kemudian.
Dengan wajah malu, Cui Man Ek mengajak anak-anak lainnya untuk berpamitan, apa yang dikatakan oleh Coa Kun tidak ada yang salah, tapi sakit hati oleh karena merasa dikalahkan sangat membekas terlalu dalam.
Berita kedatangan para anak petinggi keluarga Klan didengar juga oleh Coa Leng In, dan dia menaruh sedikit salut terhadap pendirian kakak tirinya.
Memang begitulah seharusnya yang dilakukan oleh keturunan Ras Iblis murni, jangan hanya bisa merengek karena lemah, harus menjadi kuat untuk menyelesaikan masalah.
Tidak berselang lama, muncullah seorang wanita 30 tahunan yang cantik dan kelihatan matang mempesona, dia adalah Yap Ing, ibu dai Coa Leng In.
Yap Ing sebenarnya berdarah campuran, ayahnya seorang Ras Manusia, sementara ibunya Ras Iblis.
Walaupun berdarah Campuran tapi tingkat kultivasinya tidak kalah dari Mo Eng, madunya.
Tingkat kultivasi Yap Ing adalah Kekuatan Jiwa ke-3 awal. namun karena dia berdarah campuran, maka dia hanya diterima sebagai selir saja oleh kehendak para penatua Klan Coa.
Apalagi Yap Ing tidak memiliki dukungan seperti halnya Mo Eng yang mendapatkan dukungan keluarga Mo di ibukota Kerajaan Chong Yang.
Yap Ing hanya sebatang kara ketika dia bertemu dengan Coa King Hun muda.
Walaupun faktanya Coa King Hun sangat mencintai Yap Ing, tapi karena kehendak mayoritas para tetua Klan, jadilah Mo Eng sebagai istri sahnya, dan Yap Ing hanya sebagai selir.
Kedua orang tua Yap Ing telah lama meninggal dunia ketika mereka memasuki Hutan Kabut Putih menuju benua Chong Yang.
Orang Tua Yap Ing bukan berasal dari kota Yang In, mereka adalah pendatang yang masuk dari arah Hutan Kabut Putih menuju kabupaten Yang In.
Menurut penuturan ibunya, Yap Ing berasal dari Benua Khui Ning, sebuah benua terletak sebelah selatan dari benua Chong Yang. jadi sebenarnya terletak sebelah tenggara dari Benua Tengah yang dikenal dengan nama Thi Agung.
“In er, apakah ada perkembangan berita tentang Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga?”, tanya Yap Ing kepada putrinya, Coa Leng In.
“Bu, tinggal 7 hari lagi kegiatan itu dilaksanakan, mungkin dalam 2 hari ke depan para Tetua Sekolah Samudera Naga akan tiba”, Jawab Coa Leng In.
Kondisi Yap Ing berbeda dengan Mo Eng, Yap Ing tidak memiliki kekuasaan untuk mengetahui peristiwa yang terjadi diluar istana klan Coa, maka sumber informasi tentang dunia luar, dia sering bertanya dari putrinya.
“Sejauh mana persiapanmu?” tanya Yap Ing selanjutnya.
“Ibu, aku tidak memiliki ambisi untuk masuk Sekolah Beladiri Samudera Naga, bagiku menjadi anggota di sekolah kota Yang In sudah cukup”, balas Coa Leng In.
Yap Ing merasa heran dengan jawaban dari putrinya, sementara anak yang lain berusaha keras untuk dapat masuk ke Sekolah Beladiri Samudera Naga, putrinya malah memiliki pendirian sebaliknya.
Namun Yap Ing tidak mengejar dengan pertanyaan selanjutnya, dia cukup bijaksana atas kehendak sendiri putrinya.
Coa Leng In memang tidak bermaksud meninggalkan Kota Yang In, karena kekuatan kultivasi yang dia miliki sebenarnya ada di balik gunung kediaman Klan Coa, dimana dia telah menemukan sebuah goa yang didalamnya dia menemukan Mustika Darah, Rompi Setipis Sayap Serangga dan 12 Lembar kulit Binatang yang sampai saat ini masih dia pelajari.
Selama ini memang Coa Leng In merahasiakan penemuannya dari orang lain termasuk kepada ibunya sendiri, hal ini bermaksud bahwa, dia belum mengetahui rahasia dari simbol dan tulisan kuno yang tercantum pada kulit binatang yang mengering itu.
Yang dia yakini bahwa ‘Kulit’ itu mengandung rahasia besar.
Dugaan ini dipicu karena Coa Leng In melihat pada Mustika Darah yang sudah dia asimilasikan dengan tubuh dan darahnya sehingga kecepatan peningkatan kultivasinya sangat pesat, saat ini dia sudah mencapai tingkat Kekuatan Jiwa ke-2 Awal.
Dan benda yang dikenakannya yaitu rompi setipis bulu sayap serangga adalah barang yang benar-benar ajaib.
Di tempat lain, di dalam klan keluarga Klan Han, terlihat Han Eng dan Han Long di halaman belakang Manor Kabut Putih dan bergabung dengan anak-anak lainnya.
“Ha…ha…ha…, puas hatiku melihat mereka kesakitan, dasar anak-anak sombong, suatu saat akan kutambahkan penderitaan mereka, aku harus bertambah kuat”, kata Han Eng
“ Noda Muda memang apa yang terjadi?”, salah seorang anak 10 tahunan bertanya.
“Kalian dapat bertanya pada Han Long”, jawab Han Eng.
“ Han Long ada apakah? sehingga Nona Muda terlihat gembira”, tanya yang lainnya.
“Tidak tahu, aku tidak ingat” kata Han Long menjawab dengan wajah bodohnya.
“Nona Muda ceritakan kepada kami”, tuntut lainnya, namun Han Eng malah terdiam dan menutup mulutnya, takut berita ini menyebar dari mulut anak-anak yang polos, sehingga akan melibatkan masalah yang besar bagi klan.
“Sebaiknya kalian berfokus untuk meningkatkan kekuatan masing-masing, supaya kalian tidak direndahkan oleh orang lain, karena menjadi kuat adalah pencapaian yang sangat berarti bagi masa depan kita sendiri”, jawab Han Eng menutup pembicaraan itu.
Tanpa diketahui oleh seluruh Klan Keluarga Han, ada seorang wanita 30 tahunan yang mengawasi Manor Kabut Putih, penampilan wanita itu, kalau tidak ada bekas luka yang menggurat wajahnya akan terlihat cantik bagaikan dewi surgawi, berhubung dengan luka itu, membuat sebuah kerutan yang menarik dari sebagian otot pada wajah wanita itu, sehingga penampilan wajahnya menjadi buruk.
Sian Li menyewa sebuah rumah sederhana di dalam Kota Yang In.
Dengan tingkat kultivasinya, dia dapat mengawasi setiap orang di dalam seluruh Kota Yang In.
Bagi orang-orang di benua Chong Yang tingkat kultivasi ini tidak dapat dimengerti.
Apalagi kalau hanya kota kecil Kota Yang In.
Apa yang sudah terjadi, ketika ada peristiwa yang menimpa Cui Man Ek dan kawan-kawannya, ada senyum geli pada wajah Sian Li, dia merasa geli dengan peran yang ditampilkan oleh anaknya sendiri, Sian Li tidak menduga kalau anaknya mengambil sikap dan peran menjadi ‘Anak Bodoh’.
Sian Li tidak mengkhawatirkan keselamatan Han Long, dengan Tingkat Kultivasi Han Long yang telah menembus Kekuatan Jiwa ke-2 Puncak, tidak akan ada lawan di generasinya, sekalipun ada anak remaja lainnya seperti putri Klan Coa, Coa Leng In.
Sian Li mengetahui tingkat kultivasi orang-orang di kota Yang In, termasuk Para Patriak Keluarga Ternama Kota Yang In.
Kemanapun Han Long bergerak, tidak terlepas dari pengamatan Sian Li, dan hal itu dapat dirasakan pula oleh Han Long, adanya pengawasan dari sang ibu karena ada getaran yang beresonansi antara ibu dan anak ini.