Sementara itu di Benua Khui Ning, di stasiun Formasi Teleportasi yang dijaga oleh para penjaga tingkat Manusia Dewa, kedatangan serombongan orang-orang yang dipimpin oleh seorang Pria paruh baya.
Wajah Pria ini masih kemerahan dengan rambut berwarna hitam legam, di bibirnya tersungging senyum yang memandang rendah semuanya, dia adalah Leluhur Thian Han Ong.
Jumlah rombongan Thian Han Ong berjumlah dua puluh lima orang, melihat rombongan ini, para penjaga yang berkumpul waspada, apalagi mereka mendapatkan perintah baru untuk menahan orang-orang yang masuk dari warga yang bukan warga Benua Thian Agung.
Thian Han Ong langsung menghampiri petugas,
”Kumpulkan semua petugas sekarang!”, katanya sambil matanya melihat ke beberapa orang dari petugas yang berkumpul, ada sekitar lima puluh orang di stasiun ini.
Seorang petugas yang menjadi penanggung jawab stasiun ini melangkah maju, wajahnya terlihat marah dan kesal,
”Siapa kalian?, beraninya kalian memerintah kami, kami yang ha…”, ucapannya terhenti, petugas itu terdiam.
Hal ini mengejutkan petugas lain, saat seorang bawahannya datang menghampiri dan menyentuh petugas tersebut, tubuhnya langsung jatuh dan mati.
Kejadian ini langsung membuat petugas lain berkumpul semuanya, mereka bersiap untuk bertempur, namun berikutnya, sepuluh orang diantara mereka pun langsung jatuh dan mati.
”Sungguh tolol anak-anak itu, membiarkan penyusup benua Merah dijadikan petugas Stasiun Formasi teleportasi, Lok Mo tua aku kagum akan kegigihanmu”, gumam Thian Han Ong.
”Kalian berlutut semuanya!”, perintah Thian Han Ong pada sisa petugas yang masih hidup, tanpa menunggu lama, segera direspon oleh sisa petugas itu dengan berlutut tidak berani bergerak.
”Aku penguasa Benua Thian Agung, dan kalian para semut berani kurang ajar padaku, hanya kematian tebusannya, aku membunuh para penyusup dari Benua Merah yang kalian biarkan bersama dengan kalian warga asli Benua Thian Agung, coba kalian perhatikan orang-orang yang mati itu, siapa yang mengirim mereka”, tanya Thian Han Ong pada para petugas yang ketakutan apalagi setelah mendengar bahwa pria paruh baya ini adalah penguasa benua, tapi mereka heran pertanyaan pria paruh baya ini, kalau dia salah satu anggota Dewan Keadilan Tertinggi mengapa masih bertanya perihal identitas anggota Dewan yang lain?, justru anggota yang terbunuh itu dikirim oleh para penguasa Benua Thian Agung.
”Ampun Tetua yang Mulia, mereka yang mati dikirim oleh tetua dari Klan Thian”, kata seorang petugas.
Thian Han Ong terdiam sesaat,
”Hm…, baiklah siapkan formasi teleportasi bagi orang-orangku sekarang, atur mereka langsung ke tempat klan Thian”, kata Thian Han Ong.
”Eng dan kau Kun Tek kecil, pimpin rombongan ini, setelah kalian tiba, kalian tunggu aku”, kata Thian Han Ong pada Han Eng dan Yap Kun Tek.
Dan Thian Han Ong pun sudah menghilang dari tempat itu.
Han Eng dan Yap Kun Tek membagi tugas, karena rombongan ini lebih dari lima belas orang, maka upaya teleportasi di bagi dua, dengan demikian, Han Eng memimpin rombongan pertama dimana Coe Leng In dan ibunya termasuk, dan Yap Kun Tek memimpin rombongan kedua dimana Phang Cui Lin dan Han Wo termasuk didalamnya.
Kembali di komplek bangunan megah Menara Bu Mei Ling, salah satu anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Chong Yang.
Saat ini Bu Mei Ling sedang menerima dua orang tamu yang merupakan kolega dari Bu Mei Ling, yaitu Thian Lok dan Hao Sin Tek.
Keduanya datang dengan maksud untuk membicarakan tentang situasi Benua yang akhir-akhir ini terasa tegang mencekam, mereka mendengar rumor ini dari para penyidik yang dimiliki oleh masing-masing anggota Dewan Keadilan Tertinggi.
”Saudari Mei Ling, aku perlu ungkapkan sebuah informasi ini padamu, dan aku sudah bicarakan dengan kakak Hao Sin Tek, bahwa kami memerlukan dukunganmu untuk mengerahkan Pasukan Istimewa dalam upaya menjaga stabilitas keamanan Benua”, kata Thian Lok, dengan senyum kecil di bibirnya.
”Benar saudari Mei Ling, dukunganmu diperlukan untuk rapat Anggota Dewan nanti”, kata Hao Sin Tek.
Bu Mei Ling menatap keduanya,
”Apakah separah itu?, aku belum mengerti situasi Benua ini, karena menurut informasi dari orang-orangku, situasi yang kalian sampaikan kepadaku berbeda jauh dengan yang kuterima”, kata Bu Mei Ling, sambil matanya menatap pada dua pria koleganya.
Thian Lok melirik pada Hao Sin Tek, lalu,
”Baiklah kakak Hao Sin Tek, dari dulu hingga sekarang, usulanku tidak pernah diterima oleh Bu Mei Ling ini, sayang sekali kalau kecantikan ini harus hilang”, kata Thian Lok sambil menyeringai ke Hao Sin Tek dan terakhir ke Bu Mei Ling sendiri, yang saat itu terasa udara berubah dengan cepat,
“Celaka!!!”, seru Bu Mei Ling.
“Terlambat, kau sudah kami kuasai”, Kata Hao Sin Tek yang diam-diam mengerahkan energi kultivasinya dan sudah menyergap Bu Mei Ling serta menguncinya.
“He he he…, sayang…, sangat disayangkan…, aku tadinya ingin memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk meningkatkan kultivasiku, namun guru bilang bahwa rencana ini harus dipercepat”, kata Thian Lok.
“Adik Lok, kita harus segera berangkat dan membawa wanita ini”, kata Hao Sin Tek.
Kedua pria ini tidak menunda lama, mereka berdua segera meninggalkan Menara Bu Mei Ling dengan membawa tubuh lemah wanita itu, keluar dari komplek hunian Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Dan di tempat lain, di Menara kediaman Duan Wi Hong.
Duan Wi Hong kedatangan tokoh anggota Dewan Keadilan Tertinggi Thian Ming, dan dengan alasan yang sama yang diungkapkan oleh Thian Lok dan Hao Sin Tek, Duan Wi Hong pun menolak usul itu, namun serangan tiba-tiba Thian Ming terhadap Duan Wi Hong rekannya terjadi dengan cepat dan tidak terduga, Thian Ming membawa tubuh Duan Wi Hong keluar dari menara dengan melayang cepat.
Di tempat lain di Benua Thian Agung di Lembah Tengkorak, Han Chen Yang membuka matanya, dia merasakan getaran yang menandakan Bu Mei Ling dalam keadaan bahaya, dia segera bergerak membuka tabir kabut yang melingkupi Lembah Tengkorak.
“Apa yang terjadi dengan istriku?”, katanya dalam hati.
Hanya Han Chen Yang dapat masuk dan keluar dari Lembah Tengkorak, karena dia lah yang memiliki kunci energi Merah dan Biru dalam tubuhnya, ditambah bahwa tingkat kultivasinya telah mencapai tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak dimana keberadaan tubuh yang sudah berasimilasi dengan kedua energi jahat itu.
Sebenarnya kondisi tubuh yang dimiliki Han Chen Yang tidak dapat bertahan Lama bila dia keluar dari Lembah Tengkorak ini, dia hanya bertahan selama beberapa hari saja di luar Lembah Tengkorak ini, makanya dia sering berkultivasi di tempat ini, dimana hanya dialah yang dapat melakukannya.
Karena dia yang berhasil menyatu dengan kedua energi tersebut, jadi tempat yang menakutkan bagi kultivator lain adalah rumah yang baik bagi Han Chen Yang.
Han Chen Yang merasakan apa yang menimpa istrinya, Bu Mei Ling, karena kontak jiwa yang selama ini menjadi komunikasi di antara mereka mengalami fluktuasi energi yang meredup tiba-tiba, dan perasaannya terganggu akan hal yang menimpa Bu Mei Ling.
Dan Han Chen Yang pun berteleportasi untuk menolong Bu Mei Ling, dengan persepsi jiwanya, dia berusaha mendeteksi keberadaan istrinya.
Insiden yang menimpa dua tokoh anggota Dewan Keadilan Tertinggi, dilakukan dengan sangat sunyi dan rapi, kecuali tindakan terhadap Bu Mei Ling, terasa oleh suaminya Han Chen Yang, namun warga belum mengetahui bila Bu Mei Ling adalah istri dari Han Chen Yang selama ini.
Di dalam Menara kediaman Thian Lok berkumpul lima orang anggota Dewan Keadilan Tertinggi, dimana Bu Mei LIng dan Duan Wi Hong dalam posisi lemah tanpa kekuatan.
“Kakak Sin Tek, sekarang kita tinggal menunggu kedatangan guru”, kata Thian Lok pada Hao Sin Tek.
“Apa yang harus kita lakukan dengan wanita dan pria ini?”, tanya Thian Ming pada keduanya.
“Kita harus melenyapkan keduanya, untuk melemahkan kekuatan Benua Thian Agung, ini perintah guru”, kata Hao Sin Tek.
“Membunuh seorang kultivator tingkat Raja Dewa tidak semudah diucapkan, bagaimana kita melenyapkan mereka berdua? karena pasti akan menimbulkan keributan di Benua ini, karena daya ledak yang ditimbulkan”, kata Thian Ming lagi.
“Artinya kita harus keluar dari Benua ini, dan membunuh di tempat lain”, jawab Thian Lok.
“Sebaiknya kita menunggu kedatangan guru, karena tidak mudah membawa dua pejabat anggota Dewan Keadilan Tertinggi, mereka selalu dikelilingi oleh para penyidik tersembunyi”, kata Hao Sin Tek.
Hao Sin Tek sebenarnya adalah Putera Merah Ke-1 dengan Tingkat kultivasi Raja Dewa ke-7 Puncak demikian juga dengan Thian Ming dan Thian Lok pada tingkat kultivasi Raja Dewa ke-7 Puncak, yang selama ini mereka sembunyikan dan status mereka adalah Putra Merah ke-2 dan ke-3 dari Benua Merah yang berhasil menyusup dan tinggal di Benua Thian Agung selama ratusan tahun.
Mereka bertiga menikmati peningkatan kultivasi karena sumber energi terpusat yang berada di benua ini, sehingga mereka dapat menikmati peningkatan kultivasi dan bersembunyi selama ratusan tahun tanpa di curigai oleh anggota yang lain, apalagi untuk Thian Ming dan Thian Lok yang dengan cerdik dapat menyusup ke klan Thian bahkan memiliki posisi strategis di Dewan Keadilan Tertinggi, karena masing-masing memegang jabatan logistik dan Panglima tertinggi Pasukan Ketertiban Benua Thian Agung.
Saat ketiganya bercakap-cakap, masuklah lima orang keruangan itu, mereka juga adalah para Putra Merah, yang berhasil menyusup ke Benua Thian Agung atas upaya dari Thian Lok, kini dalam ruangan itu berkumpul delapan orang anggota Putra Merah karena sisanya telah dibunuh oleh Han Long.
Bu Mei Ling dan Duan Wi Hong hanya dapat menghela nafas, mereka berdua kini dikelilingi oleh delapan Putra Merah, disinilah keduanya mengetahui bahwa nama asli dari Thian Lok adalah Kui Lok yang merupakan keturunan langsung dari Kui Lok Mo, demikian juga dengan Thian Ming, nama sebenarnya adalah Kui Thian Ming yang merupakan kakak sepupu dari Kui Lok, dan Hao Sin Tek menggunakan nama sebenarnya.
“SIAPA!!!?”, bentak Hao Sin Tek ke arah jendela menara.
Kedua koleganya terkejut mendengar Hao Sin Tek membentak ke arah jendela Menara, diantara ketiganya Hao Sin Tek lah yang memiliki kekuatan yang paling tinggi, walaupun pada tingkat kultivasi yang sama, selama ini dia menyembunyikan kekuatannya untuk maksud rencana hari ini.
Sesosok tubuh masuk dari jendela besar menara itu, dengan langkah ringan kakinya mendarat di ruangan tersebut, seorang lelaki tampan berusia 30 tahunan, Han Chen Yang.
“Lepaskan Mereka berdua”, kata Han Chen Yang.
Kui Lok mengamati pria didepannya,
“Bukankah engkau Han Chen Yang, suami dari Thian Sian Li?”, tanya Kui Lok, namun Han Chen Yang tidak menanggapinya, dia sudah marah dan gusar melihat kondisi istrinya yang lemah.
“Apa hubunganmu dengan mereka?, bagaimana engkau meloloskan diri dari Lembah Tengkorak?”, pertanyaan Kui Thian Ming pun tidak direspon oleh Han Chen Yang.
Hao Sin Tek melangkah maju dengan waspada,
“Junior yang kurang ajar, kau sombong seperti Leluhurmu, jika begitu aku akan membunuhmu !”, katanya.
Doummm….!!!
Doummm….!!!
Doummm…!!!
Bunyi letusan energi di tubuh masing-masing orang diruangan itu meletus, delapan orang Putra Merah siap menghabisi Han Chen Yang, yang juga sudah mengerahkan energi kultivasinya, maka ruangan itupun bergetar seperti akan hancur dan runtuh.
Energi dahsyat masing-masing kultivator berputar di sekitar ruangan itu, membentuk gelombang yang tidak terlihat, semua benda dan barang dalam ruangan itu hancur menjadi debu, akibat tekanan dan semburan energi para kultivator tingkat Raja Dewa yang bisa menghancurkan sebuah negara, untungnya setiap bangunan menara di komplek hunian anggota Dewan Keadilan Tertinggi telah dilengkapi oleh formasi perlindungan bangunan, sehingga dapat menahan dari getaran gelombang energi dahsyat para kultivator di dalamnya.
“Cepat, bunuh orang itu, jika tidak akan memancing yang lainnya”, kata Hao Sin Tek sambil tubuhnya melompat menerjang ke arah Hao Sin Tek yang sudah waspada.
Heeeaaaa…..!!!
Plak…, Dug … Dug…!!!
Srettt…, Srettt… Srettt…!!!!
Pertempuran delapan melawan satu berkecamuk dengan riuh, masing-masing kultivator mengerahkan teknik tertinggi yang dimilikinya, lima orang yang barusan datang mengeluarkan berbagai macam senjata dan menyerang bergantian pada Han Chen Yang.
Ough….Aaaaagghhh… Uhugh…!!!
Beberapa teriakan dari mulut lima orang itu keluar, empat diantaranya sudah terlempar akibat menyerang Han Chen Yang yang kekuatannya di atas mereka semua.
Namun Han Chen yang pun menerima beberapa pukulan yang dilancarkan oleh Hao Sin Tek dan kawan-kawannya.
Tekanan dan perputaran energi di tempat itu bertambah berat dan parah, tatkala Han Chen Yang mengerahkan energi Merah dan Biru yang dikeluarkannya, racun mematikan langsung terbentuk di sekitar ruangan itu, dan ini mengakibatkan lima orang Putra Merah tidak dapat bertahan lagi, mereka pun jatuh tidak sadarkan diri lagi ketika Han Chen Yang dengan kecepatannya yang seperti kilat memukul satu persatu pada lawan yang lemah, namun gerakan itu dimanfaatkan oleh Hao Sin Tek, dia berhasil memukul punggung kiri Han Chen Yang dan disusul oleh gerakan Kui Thian Ming yang berhasil menendang perut Han Chen Yang hingga terpental ke belakang dan menabrak dinding ruangan tersebut hingga hancur berantakan.
Kini Hao Sin Tek, Kui Thian Ming dan Kui Lok, berhenti bergerak mereka mengawasi reruntuhan yang menimpa Han Chen Yang.
Bagi Duan Wi Hong dan Bu Mei Ling, pertempuran ini membuat mereka berdua cemas dan gelisah, sekalipun Bu Mei Ling mengetahui kekuatan suaminya, apalagi bagi Duan Wi Hong yang belum mengenal Han Chen Yang, dia sudah gelisah karena pemuda itu hanya mengantarkan nyawa, melawan tiga kultivator tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak.
Duan Wi Hong dan Bu Mei Ling adalah kultivator tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak, jadi keduanya merasa cemas, sekalipun mereka berada pada kekuatan aslinya tapi melawan tiga lawan di depan mereka, mereka berdua pesimis untuk menang.
Puing-puing reruntuhan itu bergerak, tangan Han Chen Yang muncul dipermukaan, ketiga lawannya bersiap untuk melancarkan serangan akhir jika Han Chen Yang berdiri.
“Kalian rupanya para penyusup itu, aku tidak menyangka bahwa kalian bertiga adalah orang-orang Putra Merah dari Benua Merah”, sebuah suara wanita yang bertenaga tiba-tiba mengejutkan Hao Sin Tek dan kawan-kawannya.
Thian Kong Jie dan Sie In Hong melayang turun, begitu mendarat, dia berkata
“Hm… aku tidak menduga sama sekali bahwa Saudara Hao dan kedua saudara Thian adalah para antek-antek Benua Merah”,
”Aku pun tidak menyangka, sungguh hebat penyamaran kalian bertiga”, muncul suara dengan dua sosok tubuh melayang, mereka adalah Bu Tek Ong dan Wang Kok Han.
Kedatangan Thian Kong Jie dan kawan-kawan, tidak membuat Hao Sin Tek takut dan khawatir, mereka bertiga malah tersenyum dan tertawa,
“Ha ha ha …, aku tidak perlu menemui kalian satu persatu, ini memudahkan kita untuk melenyapkan mereka sekaligus”, kata Hao Sin Tek, dan….,
Booouuummmm….!!!!
Tiga energi kultivasi meletus sangat dahsyat dari tiga tubuh tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak, Hao Sin Tek, Kui Thian Ming dan Kui Lok, mereka sudah sepakat mengerahkan Teknik beladiri terbaik yang selama ini mereka latih bersama, maka tekanan energi makin berkembang dengan sangat dahsyat.
Barulah Thian Kong Jie dan kawan-kawannya terkejut setelah melihat luapan energi yang dimiliki lawan-lawan mereka, ternyata mereka bertiga menyembunyikan kekuatan mereka sangat baik.
Ha ha ha ….!
Para Putra Merah tertawa-tawa dengan perasaan gembira dan puas.
Walaupun posisi Putera Merah kalah jumlah karena ada empat orang Anggota Dewan Keadilan Tertinggi yang sudah melingkari mereka bertiga, namun ketiganya tidak khawatir karena yang diwaspadai hanya Thian Kong Jie saja, itupun cukup dilawan oleh Hao Sin Tek sendiri, sedangkan sisanya diserahkan pada Kui Lok dan Kui Thian Ming yang mana keduanya memiliki tingkat Kultivasi lebih tinggi dari Bu Tek Ong, Sie In Hong dan Wang Kok Han.
Bu Tek Ong dan Sie In Hong hanya pada tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak, yang terendah adalah Wang Kok Han pada tingkat Raja Dewa ke-6 Lanjutan, dibandingkan dengan kekuatan Kui Thian Ming dan Kui Lok, sehingga ketiga Putra Merah ini memandang rendah dari kepungan lawan yang jauh lebih lemah.
Doummm….Doummmm….Doummm…!!!!!
Masing-masing kultivator kelompok Thian Kong Jie mengerahkan energi kultivasinya, namun memang energi yang mereka lepaskan tidak sedahsyat Hao Sin Tek dan kawan-kawan, disinilah perbedaan besar dari dua kubu yang siap bertempur
HEEEEYYYYAAAA….!!!!
Genderang perang telah bertalu, setiap kultivator mengerahkan teknik tersembunyi dan terbaik.
Dibandingkan dengan pertempuran sebelumnya, maka pertempuran ini menjadi pertempuran paling semrawut dan kacau, karena tingkat energi kekuatan yang meningkat dengan sangat tajam, kelima anggota Putra Merah yang pingsan, sudah sadarkan diri, mereka tidak berani campur tangan, hanya berjaga-jaga saja, karena mereka pun percuma kalau ikut mengeroyok kelompok Thian Kong Jie dan kawan-kawannya, terbukti ketika mereka berusaha membantu kakak-kakak mereka dan melakukan pengeroyokan terhadap Han Chen Yang malah mereka yang terpukul mundur hingga tidak sadarkan diri.
Sebagian besar tembok menara tempat Kui Lok, sudah hancur menjadi debu dan puing-puing, Bu Mei Ling berusaha merangkak untuk melindungi suaminya yang terluka parah akibat pukulan dari Hao Sin Tek dan Kui Thian Ming.
Akibat pertempuran itu, mengundang perhatian semua warga yang kebetulan lewat, bahkan ada diantara mereka sengaja datang dari jauh mendengar suara pertempuran yang hiruk pikuk, bagi kultivator dibawah Manusia Dewa, suara pertempuran ini cukup untuk membunuh mereka.
Karena atap menara telah hancur, warga di bawah menara, menonton pertempuran tingkat tinggi para tokoh Benua Thian Agung dengan leluasa, sekalipun dari bawah menara hanya terlihat bayangan tubuh-tubuh yang berkelebatan dan berseliweran, dan susah menentukan setiap orang yang melakukan pertempuran tersebut.
Di antara penonton dibawah, tiba-tiba melayang sosok tubuh pria setengah baya, tubuhnya terus melayang naik tinggi sehingga melampaui tinggi menara yang menjadi arena pertempuran,
“Ha ha ha…, Bangkotan Ong lihat kehancuran generasimu sudah di depan mata !!!”, suara ini disuarakan oleh lelaki setengah baya tersebut, dia adalah Kui Lok Mo.
Dan ada jawaban dari antara penonton juga, tubuh itupun melayang tinggi, posisinya berseberangan dari Kui Lok Mo
“Biarkan para junior bertempur, namun lawanmu adalah aku”, jawab orang itu, yang tiada lain adalah Thian Han Ong.
“Ha ha ha…., kehancuran keturunanmu di depan mata, itu semua akibat kesombongan dan keegoanmu sendiri …ha ha ha…!!!”, kata Kui Lok Mo, menatap Thian Han Ong dengan tersenyum mengejek.
“Apakah begitu?, aku menyadari kesalahanku, bagaimana dengan dirimu? kau masih mempraktekan ilmu sesat mu sehingga kau semakin tidak terkendali, jika aku harus membiarkan dirimu hidup, maka kesalahanku semakin besar dan tidak terampuni, lihat benua yang kau tinggali, semakin rusak di tanganmu”, kata Thian Han Ong.
“Jangan asal menuduh, semua adalah gara-gara keangkuhanmu, egomu, untuk mendirikan tanah para dewa di tempat ini, kau merebut semua energi dunia untuk berkumpul di benua mu yang konyol ini”, kata Kui Lok Mo.
Dia hanya menarik nafas sejenak lalu melanjutkan,
“Dan lihatlah keturunanmu, dia sengaja ku arahkan ke lembah tengkorak melalui hukuman yang diprakarsai keturunanku Kui Lok, Han Chen Yang, dia Han Chen Yang…,anak buyut dari Thian Han Jie, anakmu!, keturunan dari Han Cui Eng istrimu, wanita yang kau rebut dariku, sekarang, keturunanmu sendiri yang menjadi penyebar energi beracun itu, dan sebentar lagi akan rusaklah seluruh benuamu ha ha ha…! Keturunanmu Sendiri, Kesombonganmu Sendiri, Bangkotan Ong !, lihatlah kehancuranmu”, kata Kui Lok Mo sambil tangannya menunjuk Han Chen Yang yang terbaring di pelukan Bu Mei Ling dengan tertawa bergelak-gelak.
Mendengar hal ini, Thian Han Ong melirik sebentar pada Han Chen Yang, keningnya sedikit berkerut.
”Kalau begitu, biarlah semua dosa ini ditimpakan padaku, HAN CHEN YANG !, Dengarkan perintahku, demi kebaikan Dunia Kultivasi dan Kepentingan Seluruh Dunia ini, aku menghukummu dengan hukuman MATI, maafkan kesalahanku nak”, kata Han Thian Ong.
Tangan Han Thian Ong bergerak, terlihat ada asap putih kebiruan dari tangannya, dia siap membunuh keturunannya sendiri,..membunuh Han Chen Yang.
Tiba-tiba, suara menggelegar mengejutkan semua orang termasuk Han Thian Ong dan Kui Lok Mo.
”Cukup Leluhur Han Thian Ong, dosamu sudah cukup, jangan kau tambah lagi, kau buang nenekku, kau buat ibuku pergi, lalu kau mau melepaskan tangan jahatmu untuk membunuh ayahku?, apa gunanya menjadi terkuat jika hanya untuk menyakiti yang lemah, dan kau Leluhur Thian Lok Mo, bawa orang-orang mu, kalau tidak aku akan membunuh mereka semua, aku Han Long putra Han Chen Yang, keturunan langsung dari nenek Han Cui Lin akan selalu menentang ambisi kalian berdua, !” kata sosok muda tinggi berwajah tampan yang didampingi wanita yang sangat cantik, mereka adalah Han Long dan Ibunya Thian Sian Li.
Yang bertempur berhenti, yang menonton terperangah melihat pasangan ibu dan anak ini.
Thian Kong Jie dan Sie In Hong, terkejut melihat keturunan mereka, buyut mereka berani menentang perintah Leluhurnya sendiri.
Han Chen Yang dan Bu Mei Ling sangat terkejut melihat pasangan dewa dan dewi ini, ada rasa sesal di hati Han Chen Yang melihat pemuda di samping istrinya Thian Sian Li.
Pasangan ini pun menarik perhatian penonton di bawah menara, mereka adalah para kultivator sehingga mereka cukup mengerahkan persepsi jiwa masing-masing sehingga kedatangan sepasang manusia ini menarik minat mereka, dan di antara penonton ini, ada yang sudah mengenal Han Long bahkan mereka adalah para sahabatnya.
Han Eng, Phang Cui Lin, dan Han Wo pada satu kelompok, Coa Leng In, Yap Ing dan Yap Kun Tek adalah kelompok lain, demikian pula rombongan Sekte Guntur, ada Duan In Mey yang selalu menduga Han Long pemuda istimewa, Duan Ling dan Duan Wu Hong selalu menganggap pemuda ini pemuda biasa, disamping mereka bertiga ada Bu Chen Tiong dengan mulut terbuka, menganga lebar, sekarang dia tahu, itu adalah kakak dan ibu tirinya.
Kui Lok Mo menatap geram pada pasangan yang datang ini,
”Pasangan semut, berani kalian bertingkah didepanku”, kata Kui Lok Mo.
”Kalau kau tidak mau terima, maka aku akan membunuh orangmu sekarang”, jawab Han Long
”Coba saja kalau kau berani!, aku pun akan membunuh mereka”, kata Kui Lok Mo lagi.
”Long er, aku bertindak sekarang”, kata Thian Sian Li , suaranya halus dan lembut,
Bruk !
Bruk !
Bruk !
Bruk !
Bruk !
Bruk !
Namun kelembutan itu dijawab dengan kematian enam orang Putra Murah sekaligus dengan kepala pecah berserakan mereka berjatuhan bagai pohon pisang ditebas senjata yang sangat tajam, satu diantaranya adalah Thian Ming, hingga yang tersisa adalah Hao Sin Tek dan Kui Lok saja.
”Kurang ajar, kubunuh kalian semua !!!!”, kata Kui Lok Mo,
dia mengerahkan energi Kaisar Dewanya, sinar merah pekat keluar dari tangannya, maka perputaran energi mengerikan dengan cepat bersiuran menerjang Pasangan Han Long dan Ibunya, juga mengarah pada Kelompok Thian Kong Jie dan kawan-kawan.
Deru energi kultivator setingkat Kaisar Dewa memang tidak bisa dianggap ringan, energinya belum tiba namun hawanya sudah sangat mengerikan.
”Lok Mo tua hentikan!” kata Thian Han Ong, sambil dia pun mengeluarkan energi biru terang dari tangannya, untuk menghadang energi merah pekat membunuh Thian Kong Jie dan kawan-kawannya.
Han Long seketika berteriak,
Heeeaaaaaaaaa….!!!
Energi Merah, bahkan sangat merah yang diselimuti asap Biru keluar dari tubuh Han Long, menderu dengan suara memekakan telinga para kultivator Raja Dewa, cakrawala angkasa berubah redup, diiringi kekuatan 9 Tubuh Bintang dengan dan teknik Beladiri Tinju Langit dan Badai Mengamuk, menabrak energi yang dikeluarkan oleh Kui Lok Mo, maka
Duuuuaaaarrrrrr……!!!
Tiga tubuh manusia terpental keluar, membalik dengan kecepatan luar biasa, tubuh Han Long meluncur dengan cepat dan menabrak salah satu bangunan menara entah milik siapa, dan menara itu hancur berkeping-keping, demikian juga dengan Kui Lok Mo, nasib yang sama menabrak bangunan menara di belakangnya, dia tidak menduga kekuatan pemuda ini dapat mengimbanginya, hasil berbeda dengan Thian Kong Jie, dia dapat mengontrol kecepatan tubuhnya sendiri tanpa menabrak bangunan di belakangnya, namun tubuhnya sempat mental ke belakang ratusan meter jauhnya.
Kultivasi Han Long masih dibawah Kui Lok Mo yang sudah tingkat Kaisar Dewa Sempurna, makanya Kui Lok Mo percaya diri berhadapan dengan Thian Han Ong, tapi pemuda itu berani menantangnya, itu artinya pemuda ini hanya peringkat Kaisar Suci, tapi kekuatan Teknik Bela Dirinya di atas milik dirinya, inilah yang tidak terduga.