Suasana tegang mencekam melingkupi Kotaraja Benua Thian Agung, peristiwa yang baru saja terjadi bagai dunia dilanda kiamat, sisa getaran akibat tabrakan tiga energi kekuatan kultivator kelas tertinggi dunia kultivasi masih mempengaruhi setiap orang.
Kretak…!
Bunyi bebatuan yang menimpa tubuh Han Long berguling, sosok pemuda itu keluar dengan darah keemasan membasahi bajunya yang berwarna putih kebiruan, dan tidak lama kemudian puing dan batu yang menimpa Kui Lok Mo pun bergerak,
”He he he…, tidak kusangka, keturunan Bangkotan Ong lumayan juga, tapi ini belum selesai”,
Kui Lok Mo keluar dari puing-puing bangunan menara yang telah hancur.
”Orang tua, kau berpikir terlalu banyak, jika kau memaksa, aku rela mati, namun aku akan melukaimu dengan sangat parah, boleh kau coba”, jawab Han Long.
”Lok Mo tua, lawanmu adalah aku, lihat kondisimu, jangan kau sentuh para junior ini”, kata Thian Han Ong, badannya membalik ke Han Long.
”Nak pergilah, bawa ibumu, aku akan menghadapi orang itu”, kata Thian Han Ong, pada Han Long.
”Aku tidak membutuhkan perlindunganmu, apalagi jika aku pergi, kau akan membunuh ayahku, kau Leluhurku, tapi kau juga yang merusak keturunanmu”, kata Han Long.
Jawaban ini sangat menghujam di hati Thian Han Ong, dia ingin marah pada Han Long, tapi dia menyadari juga kesalahannya, sekelas dia ditegur oleh junior yang jauh dibawah generasinya, ini sangat memalukan.
”He he he…, sungguh kau bangkotan Ong, memiliki keturunan yang kurang ajar, tapi aku senang ha ha ha…”, ejek Kui Lok Mo.
”Diam kau orang tua, buatlah gerakanmu, dan Cobalah kekuatanku”, hardik Han Long pada Kui Lok Mo.
Sosok Thian Sian Li melesat menghampiri Han Long,
“Ibu akan bersamamu”, katanya.
”Ibu, ini pertarunganku, aku belum mengeluarkan seluruh kekuatanku”, kata Han Long sambil tersenyum lembut pada wanita yang membesarkannya.
Heeaaaaa…..!!!
Doooouuuummmm….!!!
Kekuatan energi dari Kui Lok Mo memancar dengan buas, energi merah pekatnya terpancar dengan sangat kuat, hingga tempat dalam radius kiloan meter dilanda badai mengamuk.
Han Long menyingkirkan ibunya, lalu dia pun mengerahkan seluruh energi miliknya maka,
Dooouuuummmm….!!!
Cahaya merah terang berpijar dari dalam tubuhnya, dan asap biru keluar dari kepalanya, dari kedua tangannya keluar dua gelombang cahaya terang yang diselimuti oleh asap biru, melesat dengan kecepatan kilat membawa suara yang menderu, menabrak energi kekuatan yang dikeluarkan oleh Kui Lok Mo.
Thian Han Ong kali ini hanya menonton, dalam hatinya dia terkejut melihat energi yang dikeluarkan oleh Han Long keturunannya yang sangat membenci dirinya, dia baru tahu bahwa ada dua energi dalam tubuh Han Long, dan kedua energi itu salah satunya sama dengan yang dimilikinya, tapi Han Long memiliki energi yang juga mirip dengan Kui Lok Mo, tapi milik Han Long lebih cerah dan murni.
DUUUUAAAAARRRR…!!!
Benturan dahsyat terjadi, kini semua orang dalam radius dibawah lima ratus meter terbang melayang, tidak bisa mempertahankan dirinya, kecuali Thian Han Ong dan Thian Sian Li, bahkan Thian Sian Li memburu tubuh Han Long dengan melesat untuk menangkap tubuh itu yang sudah tidak sadarkan diri dan melayang bagai peluru.
Kui Lok Mo pun menerima akibat benturan energi tersebut, energi itu menghantam dadanya cukup kuat hingga dari mulutnya keluar cairan merah, dia sadar bahwa dirinya terluka.
Sesosok tubuh terbang, dan berdiri ditengah-tengah,
”Para bangkotan tua tidak tahu diri, kalian berhadapan dengan anak kecil, sungguh memalukan”, suara ini diucapkan oleh sosok yang kemudian muncul secara tiba-tiba, seorang wanita transenden yang sangat cantik.
”Guru…!!!”, panggilan ini diserukan oleh Bu Mei Ling, Bu Tek Ong dan Wang Kok Han bersamaan.
Dengan memaksakan diri, Kui Lok Mo berdiri,
”Apakah kau mau menghalangiku?,
Apakah kau sekarang membela Bangkotan Ong?”, tanya Kui Lok Mo.
”Aku tidak peduli dengan urusan tua bangka seperti kalian,
namun jika kalian menyentuh sedikit saja pemuda itu,
aku akan membunuhmu”, kata Bu Ling Moy pada Kui Lok Mo.
”Kenapa kau membelanya, bicaramu harus seiring dengan kekuatanmu,
dan selama ini kau tidak peduli pada urusan siapapun,
bahkan kami berdua tidak mendapat perhatian sebesar ini?”,
kata Thian Han Ong.
”Bukan urusan kalian, jika ada yang bergerak akan kubunuh”,
kata Bu Ling Moy, dia kemudian melirik pada Thian Sian Li,
”Sian Li, tinggalkan anakmu padaku, kau kutunjuk sebagai pemimpin tertinggi benua ini, tidak ada yang boleh menentang perintahmu, sekalipun leluhurmu”,
kata wanita itu tenang dan mantap.
”Apa maksudmu?, kau tidak memandang keberadaanku, aku pemimpin benua ini dan aku pemiliknya”, kata Thian Han Ong dengan gusar, setahu dia wanita ini memiliki kekuatan yang lebih lemah, jauh dibawah dirinya.
”Pemilik setiap benda ditentukan oleh kekuatan, kau boleh coba melawanku,
dan kau Lok Mo boleh bersama-sama mengeroyok ku”, jawab Bu Ling Moy.
Kui Lok Mo dan Thian Han Ong Terkejut mendengar tantangan yang dikeluarkan oleh bekas adik junior mereka, namun kemarahan keduanya sudah meluap, secara bersamaan mereka berdua seperti di komando menyerang wanita itu, mereka ingin tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki wanita tersebut.
Dooooouuuummmmm…!!!
Dunia bergoyang-goyang, semua orang yang tadi terpental karena terlalu dekat menyaksikan pertempuran Han Long, kini mereka terengah-engah seperti menahan beban berat ratusan ton yang ditimpakan pada tubuh mereka, hanya Thian Sian Li saja yang berwajah merah sambil memeluk Han Long.
”Dasar tua bangka tidak tahu diri, kasihan orang-orang ini”, kata-kata ini lembut, dan Bu Ling Moy tidak terlihat mengerahkan tenaga, kedua tangannya melakukan gerakan menyapu ke udara, maka keluar gumpalan awan putih yang melesat ke arah Thian Han Ong dan Kui Lok Mo,
Cusss….,
Benturan itu tidak mengeluarkan suara berdentum kuat, malah seperti bara api yang dimasukan dalam air dingin, tapi akibatnya, Thian Han Ong terpelanting dengan mulut mengeluarkan darah, terlebih dengan nasib Kui Lok Mo,
Aaaaarrrgggghhhh… uhugh..!!!
Kondisi Kui Lok Mo sangat parah, seluruh pakaiannya tercabik-cabik, ikatan rambutnya terputus, rambut panjang dikepalanya terurai menutupi wajahnya yang berlumuran darah, tubuhnya langsung terlihat tua, seperti manusia usia 70 tahunan, dia meluncur jatuh dari ketinggian ratusan meter,
Bruk…
Kui Lok Mo menderita luka dalam parah, membutuhkan pengobatan berbulan-bulan.
”Kalian dari Benua Merah, bawa tubuh gurumu, kembalilah ke benua kalian sekarang”, perintah Bu Ling Moy.
Maka Kui Lok dan Hao Sin Tek cepat bergerak, mereka ngeri kalau mereka masih disini, melihat ke arah Thian Sian Li yang tidak terduga, apalagi dengan wanita yang masih terbang melayang, yang mengalahkan guru mereka, juga sekaligus dengan Penguasa Tertinggi Benua ini, dengan gerakan sederhana.
Kui Lok juga membawa jasad saudara- saudaranya, dan Hao Sin Tek dengan cepat membawa tubuh terluka gurunya,
”He he he…, Bu Ling Moy, aku tidak menyangka kekuatanmu,
namun aku akan mencarimu, kejadian hari ini tidak akan kulupakan”,
kata Kui Lok Mo, saat dia sudah sadar.
Bu Ling Moy hanya tersenyum masam,
”Makin tua bukanya semakin sadar diri, malah makin jadi, aku akan selalu menunggu kedatanganmu, namun pada saat itu aku akan mencabut nyawamu sampai ke akar-akarnya, aku ingin hidup tenang, demikian juga padamu Ong, aku tidak akan mengganggu siapapun namun aku akan membunuh orang yang datang padaku dengan niat jahat, atau pada pemuda itu”, jawab Bu Ling Moy dengan suara dalam dan bertenaga.
Pernyataan ini tidak hanya tertanam pada Thian Sian Li saja, bahkan oleh semua orang yang hadir menyaksikan pertempuran demi pertempuran, demikian juga dengan para murid Penguasa Benua Ketiga ini, dan sejak kapan guru mereka begitu peduli pada seseorang, pada mereka saja kadang-kadang guru mereka ini peduli.
Thian Sian Li sebagai ibu Han Long, yang tahu setiap gerak putranya termenung menduga-duga, namun itu tidak lama, dia harus membereskan kekacauan ini.
”Dinda Sian Li, maafkan aku”, seru Han Chen Yang dalam pelukan Bu Mei Ling, Thian Sian Li melirik pasangan itu, ada kerutan di dahinya yang mulus dan dia berucap
”Sudahlah lupakan saja, kupikir kau telah tiada, aku dan putramu berkeliling ke seluruh Benua untuk mengobati tubuhnya, namun kini malah kau juga ikut menderita, apakah dia istrimu yang baru?”, tanya Sian Li dengan dingin.
”Ayah, ibu…!!!”, seorang remaja 12 tahunan melompat keluar dari kerumunan, Bu Chen Tiong berlari dan menghampiri orang tuanya, kini semua yang hadir terkejut, kecuali Bu Ling Moy dan Duan Wi Hong.
Bu Tek Ong dan Wang Kok Han, tidak luput dari rasa terkejut, apalagi Sie In Hong, dia tidak menyangka bahwa cucunya menikahi wanita yang lebih tua darinya dan memiliki anak yang sangat sehat, anak lelaki yang sangat berbakat, dia melirik rekannya Thian Kong Jie, yang dibalas oleh pria itu dengan senyum simpatik,
”Apakah aku memiliki kesempatan?”, tanya Thian Kong Jie dengan senyum menggoda,
”Kau…, apa maksudmu?” tanya Sie In Hong dengan wajah sedikit merah.
”Hmm… kau tahu maksudku”, jawab Thian Kong Jie.
Bu Chen Tiong menghampiri ayah ibunya dan memeluknya, sedangkan Thian Sian Li mendekati Bu Ling Moy, dan jari-jari tangannya bergerak di tubuh belakang Bu Ling Moy,
Tuss…
Tusss…
Tussss..
Bu Liang Moy terbebas dari segel yang dipasang oleh Hao Sin Tek, lalu Thian Sian Li menghampiri Duan Wi Hong, dia membebaskan segel yang mengunci kekuatan Duan Wi Hong juga.
”Terima kasih atas pertolonganmu, aku yang tua akan mendukungmu selalu”,
kata Duan Wi Hong.
Thian Sian Li menghampiri Thian Kong Jie,
”Kakek…, dengan berat hati aku ambil alih tugasmu, atas perintah Penguasa Benua Ketiga, dialah yang menolong Han Long keturunanmu selama ini”, katanya dengan lembut, Thian Sian Li menundukkan kepala memohon pengertian pada leluhurnya.
”Jangan kau sungkan Sian Li, kau lebih dari pantas dan layak, kekuatan kultivasimu di atas kami semua, kau dan Han Long telah mematahkan belenggu dunia kultivasi ini, dan aku justru lega, sekarang aku harus memikirkan diriku sendiri, bagaimana adik In Hong?”, kata Thian Kong Jie sambil menengok pada Sie In Hong yang pura-pura tidak menghiraukan.
Seorang anak remaja lelaki, Bu Chen Tiong, tiba-tiba bersujud di depan Thian Sian Li,
”Bibi, apakah kau marah pada ayah dan ibu, aku siap menggantikan hukumannya”, kata Bu Chen Tiong mengejutkan Thian Sian Li, Thian Kong Jie dan Sie In Hong.
Namun Thian Kong Jie tersenyum lebar,
”Kau cucu buyutku, ha ha ha…, Bu Mei Ling kau cucuku…. Ha ha ha…”, yang disambut tawa berderai dari Sie In Hong juga, namun wajah cemberut nampak dari Bu Tek Ong dan Wang Kok Han saudara seperguruan Bu Ling Moy.
Sebelum Thian Sian Li bertindak, suara lembut memanggilnya,
”Sian Li serahkan tubuh putramu”, kata suara lembut Bu Ling Moy.
Dengan gerakkan tangannya, Bu Ling Moy membawa tubuh pingsan Han Long melayang dan menghampiri Bu Ling Moy dan kemudian Bu Ling Moy dan Han Long telah menghilang.
Serombongan orang memburu pada posisi Thian Han Ong,
Guru…!!!
Tuannnn…!!!
Rombongan dari Manor langit menghampiri Thian Han Ong, dimana Han Eng, Han Wo dan Phang Cui Lin serta Yap Kun Tek, Yap Ing dan Coa Leng In ikut bersama.
Ketika Bu Ling Moy menghilang dengan membawa tubuh pingsan Han Long, ada desahan beberapa wanita,
Kakak Han Long…
Saudara Han Long…
Dua sebutan ini disuarakan dengan sedikit berbisik oleh Han Eng dan Coa Leng In, ketika tubuh Han Long melayang dan menghilang, namun masih terdengar oleh orang-orang yang hadir karena mereka adalah para ahli tingkat Raja Dewa.
Thian Han Ong berkata,
”Kong Jie, aku menyerahkan mereka, mereka adalah bakat-bakat terbaik bagi klan kita, dia Han Eng muridku langsung, aku akan memasuki kultivasi tertutup, hanya Han Eng yang boleh menjengukku”, kata Thian Kong jie, kemudian dia pun menghilang dari tempat itu.
Setelah Leluhur Thian Han Ong menghilang, Thian Kong Jie melihat barisan Manor Langit, dia melirik salah satu pria yang sudah dikenalnya,
”ternyata yang menyelamatkanmu adalah Leluhur sendiri, bukankah engkau Yap Kun Tek penguasa Benua Khui Ning?”, tanya Thian Kong Jie.
Yap Kun Tek maju selangkah, dia menangkupkan kedua tangannya di dada sambil menundukkan kepala,
”Benar tetua, aku yang dulu menyusup dan mengambil buah Darah Naga, dan barang itu sudah diambil kembali oleh cucumu, maafkan kesalahanku, saat itu aku ditipu oleh orang yang mengaku dari klanmu, tapi sekarang kutahu dia adalah penyusup dari Benua Merah, dia Kui Lok”, jawab Yap Kun Tek Jujur.
Dan pada saat itu, sepasang pria dan wanita, Han Chen yang harus disangga oleh Bu Mei Ling, dengan tertatih-tatih dia melangkah dan menghampiri Thian Sian Li, diapun bersujud di sebelah Bu Chen Tiong.
Dari rombongan Sekte Guntur, tiga orang pemuda berlari ke arah Thian sian Li, dua diantaranya adalah wanita,
”Terimalah Hormat kami guru”, kata ketiganya pada Han Chen Yang,
tapi Han Chen Yang tidak merespon dia tetap tunduk di bawah Thian Sian Li,
ketiga pemuda dan pemudi itupun menghadap pada Thian Sian Li,
”Ibu Guru, kami mohon, maafkan guru, dia menemukan kami di Benua Chong Yang dan berusaha menemukan Ibu Guru dan saudara Han Long, namun ibu guru dan saudara Han Long tidak berada disana, atas kebaikan guru, kami dibawa ke benua ini, dengan harapan kami dapat membantu kelak menemukan ibu guru dan Saudara Han Long,
kami para Putra Kerajaan Chong Yang”, kata Duan In Mey atau An In Mey.
”Tidak Perlu kalian membelaku”, kata Han Chen Yang.
”Tapi kebenarannya guru, dan ibu guru harus tahu”, jawab An In Mey keras kepala.
Thian Sian Li hanya melihat dan mendengar percakapan di antara mereka, namun akhirnya dia bersuara
”Aku sudah memaklumi kejadian sebenarnya, tidak ada yang patut disalahkan,
kita hanya korban keadaan…., namun aku tidak dapat mengikutimu Chen Yang,
satu hal lagi, tubuhmu bisa diobati oleh putramu Han Long, namun kau tahu, dia sekarang dalam perawatan Penguasa Benua Ketiga, dan bila dia sembuh akan kuminta dia menengokmu, tapi itupun tergantung kehendaknya sendiri, aku tidak ingin memaksanya”, kata Thian Sian Li.
Han Chen Yang sambil menundukkan kepalanya, dia berkata,
”Aku hanya minta maaf padamu dan pada anak kita Han Long, aku mengucap terima kasih karena kerja kerasmu, putraku Han Long tumbuh menjadi seorang yang kuat, jauh lebih kuat daripada diriku , akupun tidak berharap dia mau menyembuhkan diriku, dan aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus kembali ke Lembah Tengkorak, aku harap kau dapat melindungi putraku Chen Tiong dan ibunya”, kata Han Chen Yang, dan lanjutnya,
”Chen Tiong, inilah ibu tirimu, dan kakakmu ternyata adalah orang terkuat diseluruh muka dunia ini, kau harus bangga, bahwa kau dilindungi oleh orang terkuat di dunia ini”, kata Han Chen Yang pada putranya, Bu Chen Tiong atau sekarang di panggil Han Chen Tiong.
Bu Mei Ling melangkah, dia tidak bersujud seperti suami dan anaknya,
”Sian Li seharusnya aku memanggilmu kakak Sian Li, tapi aku malu, sekalipun aku lebih lemah, tapi usiaku jauh lebih tua”, kata Bu Mei Ling, masih mempertahankan senioritas, dan hal itu memancing reaksi dari rekannya,
”Mei Ling, kau sekarang harus memanggilku nenek dan kakek pada saudara Thian Kong Jie, ha ha ha….”, kata Sie In Hong, dengan tawa berderai, tidak berapa lama, sepasang pria dan wanita menghampiri kelompok mereka,
”Chen Yang anakku, benarkah berita yang kudengar bahwa putramu Han Long, sanggup melawan Leluhur Thian?”, seru suara wanita yang berlari sangat cepat dengan didampingi pria gagah 30 tahunan, menghampiri Han Chen Yang.
Han Chen Yang dan Han Chen Tiong melihat ke arah pasangan pria dan wanita itu,
”Ibu kau juga disini?”, kata wanita itu, yang ternyata Sie In Lei dan Han Wi Ong, ayah dan ibu kandung Han Chen Yang,
belum dijawab oleh Han Chen Yang maupun Sie In Hong pertanyaan Sie In Lei, dua orang pemuda maju, bersujud pada Han Wi Ong,
”Leluhur Han, terima hormat kami”, Han Eng dan Han Wo mendatangi Han Wi Ong, Han Wi Ong terkejut melihat keturunannya ada di benua Thian Agung.
Thian Kong Jie terbengong dengan Sie In Hong,
”Bagaimana ini?, kau adalah menantuku, tapi Han Eng, murid langsung Leluhur Thian memanggilmu juga leluhur, kenapa jadi kacau seperti ini, aku tadi gembira melihat kolegaku jadi cucu menantu, tapi sekarang tambah runyam”, kata-kata yang diucapkan oleh Sie In Hong membuka pikiran semua orang.
”Ha ha ha…, rasakan saja!, beruntung kita tidak menikahi salah satu junior kita, nanti tambah pusing otak kita dengan tugas penyebutan yang semrawut ini” kata Bu Tek Ong dan Wang Kok Han yang hanya tertawa bergelak-gelak.
”Aaiiihhh…, sudahlah itu hanya sekedar panggilan saja, sebut saja yang pantas disebut, diantara kita sekarang adalah keluarga, tidak perlu memusingkan hal sepele seperti itu, dan yang merasa dipanggil atau disebut, tidak perlu tersinggung, ini dunia kultivasi, dan kau Sian Li, apa tingkatmu sekarang dan juga Han Long?”, tanya Thian Kong Jie pada cucunya.
”Aku tingkat Raja Dewa ke-9 Puncak, dan Han Long tingkat Kaisar Suci Sempurna”, jawab Thian Sian Li.
APA….!!!!
Semua orang berseru serentak, baik junior maupun senior, mereka terkejut, ternyata ada tingkatan antara Raja Dewa dengan Kaisar Dewa yaitu Kaisar Suci, dan mereka semua tertawa-tawa pada orang sekelas Than Sian Li begitu saja, menertawakan tingkatan yang hanya angan-angan, bagaimana jika wanita di tengah-tengah mereka ini marah dan tersinggung ketika mereka menertawakan berbagai hal tadi, hanya dengan lambaian tangannya saja, sudah cukup membunuh mereka.
Bagi para Junior, tadinya dengan kultivasi sampai Raja Dewa adalah tujuan mereka, namun sekarang ada tingkat Kaisar Suci, yang justru disandang oleh seorang anak muda yang dulu dikenal bodoh.
An Wu Hong dan An Ling tersipu malu, mereka sekarang tingkat Manusia Dewa ke-1 Lanjutan, tapi pemuda yang mereka sebut bodoh itu, puluhan kali lipat dapat membunuh ketua sekte sekaligus dengan guru-guru mereka dengan sekali gerakan saja.
Coa Leng in dan Yap Ing saling melirik, mereka mengenal Han Long, namun sekarang pemuda yang selalu tampil konyol itu bukan golongan mereka lagi, mereka pada tingkat Manusia Suci Ke-9 Lanjutan dan Awal, dan pemuda itu sudah masuk jajaran tingkat di luar imajinasi mereka, keduanya hanya bisa menarik nafas panjang.
Demikian juga Han Eng, dia hanya menarik napas seperti mengeluh, tingkat Han Long, pemuda impian itu melambung terlalu tinggi, diluar jangkauan tangannya.
Atas usulan Thian Kong Jie, mereka semua meninggalkan tempat itu dan menuju ke Klan Thian, rombongan dari Manor Langit segera mengikuti dan tidak kecuali rombongan dari Sekte Guntur, karena Duan Wi Hong merasa perlu untuk mengawal Thian Sian Li, karena status Thian Sian Li adalah sebagai Kepala Tertinggi dari Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, demikian juga dengan Bu Tek Ong dan Wang Kok Han, mereka perlu mengatur suatu hari untuk pengukuhan atas Thian Sian Li sebagai Kepala Anggota Dewan Keadilan Tertinggi.
Han Chen Yang harus segera memasuki Lembah Tengkorak, karena dia mencemaskan akan tercemarnya Benua Thian Agung dengan kondisi tubuhnya.
Sementara itu di suatu tempat, markas besar Benua Merah, tiga pria sedang duduk mengelilingi sebuah meja, mereka adalah Kui Lok Mo, Hao Sin Tek dan Kui Lok,
“Guru, apa langkah kita selanjutnya?, apakah kita menyerah sekarang?, Benua kita masih belum merebut energi di benua itu, aku prihatin atas warga benua ini”, kata Hao Sin Tek pada Kui Lok Mo.
“Kakak Sin Tek, yang harus kita lakukan adalah kesembuhan guru dulu, dan mungkin kita harus berkultivasi untuk meningkatkan kekuatan kita, karena apapun rencana kita tanpa kekuatan semua adalah sia-sia”, kata Kui Lok.
Kui Lok Mo menatap keturunan dan muridnya, dia menghela nafas berat,
“Apa yang diucapkan oleh Kui Lok ada benarnya, namun kita harus tetap memperhatikan gerakan di seluruh benua, sebagian orang kita masih menyebar sebagai mata-mata di semua lini dan itu kekuatan kita juga selain kita perlu meningkatkan kekuatan kita”, jawab Kui Lok Mo, sambil menghela nafasnya yang terasa berat, dia melanjutkan,
“Hal Lain yang harus diperhatikan adalah kekuatan pemuda bernama Han Long, Kui Lok, mengapa kau melewatkan pertumbuhan pemuda itu, bukankah dulu semua itu di bawah pengawasanmu?, bahkan kau menginginkan wanita itu yang ternyata adalah ibunya, kau harus lebih waspada akan kekuatan pasangan ibu dan anak muda tersebut, kerahkan para penyidik, apapun yang terjadi tentang pemuda dan wanita itu, menjadi tanggung jawabmu, agar kita dapat menyusun rencana cara menghadapinya”, kata Kui Lok lagi, dia sedikit menyalahkan Kui Lok, karena menganggap ringan pertumbuhan Thian Sian Li dan anaknya.
Hao Sin Tek menatap gurunya,
“Guru, apa kekuatan yang dimiliki oleh Penguasa Benua Ketiga?, gerakan yang dia miliki sangat sederhana namun kedahsyatannya sungguh mengerikan”, tanya Hao Sin Tek sambil tubuhnya sedikit menggigil.
“Kupikir dia masih dalam tingkatan yang sama denganku, namun tenaga yang dikeluarkan puluhan lebih kuat dariku, kemungkinannya hanya satu hal, tenaga itu lebih murni dan Teknik yang dimiliki sudah masuk Kategori Mustahil kelas lanjutan atau bahkan Sempurna, yang harus kalian lakukan adalah kalian mengawasi perkembangan di gunung 8 dan 12, aku membawa beberapa orang dari benua Chong Yang aku melihat mereka memiliki potensi kekuatan yang akan mengimbangi musuh-musuh kita dalam beberapa tahun saja, apapun itu kalian harus melaporkan setiap perubahan yang terjadi di gunung-gunung tersebut”, kata Kui Lok Mo.
Setelah melakukan percakapan dan rencana-rencana yang lain, mereka bertiga sepakat untuk mengobati luka-luka yang mereka derita terutama luka Kui Lok Mo yang termasuk amat parah, dan berkultivasi untuk meningkatkan kekuatan mereka masing-masing.