Bu Ling Moy membawa Han Long kembali ke tempatnya, Benua Ketiga.
Tanpa izin dari Penguasa Benua, tidak seorangpun dapat masuk, sekalipun Kui Lok Mo dan Thian Han Ong, para pimpinan puncak penguasa Benua.
Goa yang dulu terdapat telaga dingin sebagai sumber Energi Inti Es, kini telah berubah, beberapa bangunan didirikan di tempat itu, ada ratusan orang yang merupakan penghuni asli Benua Ketiga yang dipanggil bekerja di tempat ini.
Sekarang tempat ini menjadi tempat kediaman Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy, dan memiliki nama Istana Inti Es
Kedatangan Bu Ling Moy disambut oleh para pelayannya, mereka berbaris dengan rapi.
”Ibu…!”, seru seorang anak lelaki kecil berwajah tampan, berusaha melepaskan diri dari seorang pelayan wanita yang memeluknya, dia terus meronta melihat Bu Ling Moy dan pelayan itu, dengan tersenyum melepaskan pelukannya, kedua mata anak itu bergerak dengan lincah sebagai tanda seorang anak yang cerdas.
Anak ini berusia sekitar 3 tahunan wajahnya putih dengan dua mata yang menatap lebar ke arah tubuh Han Long dan Ibunya, dia berlari, menggerakkan kedua kaki kecilnya, dan langkah kaki ini melayang tanpa menyentuh permukaan tanah dan bebatuan yang menjadi lantai di koridor jalan itu, dan dengan cepat tubuh kecil ini menghampiri Bu Ling Moy, ibunya.
”Ibu, ini siapa?”, tanya anak itu.
Dengan tersenyum cerah, Bu Ling Moy menangkap pangkal lengan anak itu dan mengangkat tubuh anak itu dan melemparkannya ke udara, tubuh kecil itu melayang di udara yang direspon oleh anak itu dengan tertawa-tawa kegirangan, dia malah menambah tenaga luncurannya ke arah Bu Ling Moy, sebaliknya nya Bu Ling Moy menangkap tubuh itu dan melemparkan tubuh kecil itu kembali, dan hal ini terjadi berulang kali, lalu Bu Ling Moy menangkap dan menggendongnya,
”Liong, aku pulang, masa kau malah bertanya tentang orang lain, sapa dulu pada ibumu”, kata Bu Ling Moy, dengan memperlihatkan sederet gigi mutiara miliknya.
”Ah ibu, aku penasaran, aku ingin tahu siapa dia ibu?”, tanya anak yang dipanggil Liong itu.
Bu Ling Moy tidak segera menjawab pertanyaan anaknya, tapi dia mengalihkan tatapannya pada semua pelayan yang hadir,
”Semua pelayan dengarkan, ini adalah Tuan Benua, dia adalah pasanganku, saat ini dia dalam keadaan terluka, Cang Min !, persiapkan kolam Inti Es dan letakan Tuan disana”, perintah Bu Ling Moy.
Segera orang tua bernama Cang Min, menghampiri Bu Ling Mou dengan hormat dan diikuti oleh sekitar delapan pria muda di belakangnya untuk membawa tubuh Han Long.
Anak bernama Liong, memperhatikan semua itu, walaupun usianya baru tiga tahun, tetapi dengan kecerdikannya dia mulai mengerti akan yang terjadi di depan matanya.
”Apakah dia ayahku?”, tanya Liong pada ibunya, Bu Ling Moy hanya mengangguk dan tersenyum.
”Untuk pelayan dan para murid lainnya, mulai sekarang berlatih dan meningkatkan kekuatan dengan kultivasi, setiap enam bulan sekali, semua orang akan dievaluasi dan ditinjau setiap perkembangan kekuatan masing-masing, mereka yang lemah akan menerima hukuman, mereka yang berkembang akan menerima hadiah”, kata Bu Ling Moy lagi.
SIAP RATU PENGUASA !.
Jawab mereka serentak dan bergemuruh.
Di Benua Ketiga tidak ada negara atau kerajaan, para penghuni disini di Benua Ketiga, awalnya dibawa sendiri oleh Bu Ling Moy, kemudian mereka membentuk keluarga dan berkembang selama ribuan tahun, sehingga jumlahnya mencapai jutaan jiwa.
Setiap orang yang memiliki bakat akan dinilai oleh para Murid Inti Bu Ling Moy, para penghuni Istana Inti Es atau disebut juga Pelayan Istana Inti Es, orang berbakat ini akan dilatih, setelah mereka memasuki Tingkat Manusia Dewa, mereka ditugaskan untuk mengelola sebuah wilayah, dan membentuk peradaban dan budaya sendiri tanpa di batasi oleh Bu Ling Moy.
Hanya orang-orang tertentu yang diambil kemudian oleh Bu Ling Moy sebagai Pelayan yang sama saja dengan menjadi murid inti Penguasa Benua ini, dan rata-rata tingkat kultivasi yang dipromosikan menjadi Pelayan atau Murid Inti Istana Inti Es ini pada tingkat Kultivasi Raja Dewa ke-3.
Para Murid Inti memiliki tugas utama yaitu mengawasi dan mengontrol kehidupan Benua Ketiga, setiap murid berbakat yang memegang sebuah wilayah akan disebut sebagai Gubernur wilayah tersebut dan promosi orang berbakat itu harus menembus tingkat kultivasi Manusia Dewa ke-9 Puncak, dengan dibantu oleh beberapa orang yang disebut Dewan Wilayah atau semacam provinsi dimana kekuatan masing-masing anggota Dewan ini pada tingkat Raja Dewa ke-1 sampai ke-3.
Dan luasnya sebuah provinsi, tiga kali luas kerajaan Chong Yang.
Maka dari itu, status Pelayan atau Murid Bu Ling Moy, statusnya malah lebih tinggi dari Gubernur penguasa sebuah wilayah, dan juga para pelayan atau status Murid Inti adalah serendah-rendahnya pada tingkat Raja Dewa ke-3 Awal.
Karena para Murid atau Pelayan ini bisa disebut juga Dewan Hakim Benua dimana mereka memiliki otoritas dalam menyampaikan kehendak Penguasa Benua, serta memutuskan pengadilan bila ada perseteruan yang terjadi antar Gubernur penguasa wilayah.
Bu Ling Moy dan Dewan Hakim Benua mengizinkan peperangan antar wilayah dengan catatan tidak boleh menyentuh kaum lemah, yakni masyarakat atau warga yang ditakdirkan tidak memiliki kultivasi atau mereka yang hanya berkultivasi di bawah Manusia Suci, mereka adalah warga pekerja sebagai petani, pedagang kecil atau orang-orang lemah, namun memiliki profesi tertentu atau memiliki kepentingan lainnya.
Peperangan ini adalah sebuah bentuk upaya meningkatkan pasukan di wilayah tersebut, dalam hal kekuatan dan meningkatkan kultivasi setiap personil pasukan, jika sebuah wilayah menerima kekalahan maka wilayah itu akan menjadi milik pemenang, dan yang kalah harus menurut kehendak pemenang.
Jumlah Gubernur atau Wilayah Propinsi di Benua Ketiga saat ini berjumlah 42 propinsi.
Setiap sepuluh tahun sekali akan diadakan kompetisi untuk merekrut orang-orang di wilayah Benua Ketiga, untuk menjadi Pelayan atau murid inti di kediaman Bu Ling Moy, atau dikenal juga Murid Istana Inti Es, bagi mereka yang berhasil, sudah jelas akan masa depan yang membentang luas.
Murid tertua Bu Ling Moy sebenarnya adalah Bu Tek Ong, Bu Mei Ling dan Wang Kok Han, namun karena ketiga murid ini menyusup atau ditempatkan di Benua Thian Agung, maka ketiganya masih pada tingkat Raja Dewa ke-6 Puncak dan hal ini berbeda pada tingkat yang dimiliki oleh para Pelayan Inti di Istana Inti Es, bahkan ada Pelayan yang tingkatnya sudah melebihi tingkat murid tertua Bu Ling Moy, namun Tiga Murid tertua ini memiliki kelebihan lain selain tingkat kultivasi yaitu Teknik beladiri yang dimiliki oleh ketiga Murid di Benua Thian Agung ini lebih kuat dan murni dan sanggup melawan dua hingga tiga orang kultivator Raja Dewa ke-8 di Benua Ketiga ini.
Setelah Bu Ling Moy berkultivasi Ganda dengan Han Long, dia mengalami peningkatan kultivasi menjadi Kaisar Dewa Sempurna Lengkap, Sempurna yang lengkap karena Teknik Beladirinya melesat akibat energi yang dimilikinya naik kelas menjadi tingkat Kategori Mustahil kelas Sempurna, dan karena hal itu pula Bu Ling Moy memberikan Teknik itu pada para pelayan Inti yang menjadi kepercayaannya sehingga tingkat murid ini melebihi kakak seperguruan di Benua Thian Agung.
Ada tujuh orang pelayan inti kepercayaan Bu Ling Moy atau merupakan adik seperguruan dari Bu Mei Ling dan kawan-kawan di Benua Thian Agung, dan saat ini, ketujuh pelayan ini memiliki tingkat kultivasi Raja Dewa ke-8 Lanjutan, dua diantaranya adalah Cang Min dan wanita pengasuh anaknya, bernama Giok Eng.
Melihat kekuatan yang dimiliki oleh Benua Ketiga di bawah kepemimpinan Bu Ling Moy, sebenarnya mudah saja menginvasi benua sekelas Benua Thian Agung, namun Bu Ling Moy tidak mau melakukannya, karena hal itu tidak begitu penting, Bu Ling Moy lebih fokus pada benua miliknya, apalagi dengan kehadiran putra yang sangat dicintainya.
Cang Min dan Anggotanya membawa tubuh Han Long ke sebuah gedung berbentuk kubah raksasa, dimana di dalam kubah itu, ada air telaga dengan uap yang mengepul di permukaan air itu, dan terasa sangat dingin.
Anehnya air telaga ini yang seharusnya membeku karena saking dinginnya, namun air itu tetap seperti air biasa, di tengah-tengah telaga itu terdapat sebuah Lempengan batu giok, yang disebut Batu Pusaka Inti Es milik Bu Ling Moy.
Oleh Cang Min dan anggotanya, tubuh Han Long diletakkan dengan sangat hati-hati, dia tahu bahwa tubuh manusia ini jangan sampai salah posisi, karena Bu Ling Moy adalah pasangan kultivasi pria ini, artinya tubuh ini adalah tuannya juga.
Sementara itu di Benua Merah, tepatnya di kawah Gunung ke-12, Coa Kun dan anggotanya yang sekarang berjumlah hanya 50 orang saja mengalami peningkatan signifikan dalam hal kultivasi.
Coa Kun saat ini pada tingkat Manusia Dewa ke-5 Puncak, sedangkan Meng Li dan Cui Man Ek pada tingkat Manusia Dewa ke-4 Awal dan Lanjutan, dan anggota lainnya bervariasi di antara Manusia Dewa ke-1 dan ke-3.
Sebuah bayangan tubuh melayang tinggi di dalam kawah Gunung ke-12,
”Coa Kun!, dimana orang yang bernama Coa Kun?, cepat datang !!!”, sebuah teriakan bergema di dalam kawah gunung ke-12.
Suara ini penuh dengan kekuatan, banyak puing-puing bebatuan yang tadinya menempel di langit-langit dinding dan atap kawah, jatuh berguguran.
Coa Kun mendengar suara ini, dia pun menghampiri ke arah suara itu, dia melihat seorang pria yang melayang di udara,
”Aku Coa Kun”, katanya.
Pria ini melihat ke arah Coa Kun,
”Ikut aku, Yang Mulia Kui Lok Mo memanggilmu”, kata pria itu yang tidak lain adalah Kui Lok.
Coa Kun merasa bahwa tubuhnya terangkat, dia berusaha mengerahkan energi kultivasinya namun seperti terkunci, dia kini seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, yang bisa dilakukan hanya mengikuti tubuh melayang dari Kui Lok.
Tidak butuh waktu lama bagi Kui Lok membawa tubuh Coa Kun sekalipun jarak yang ditempuh dari Gunung ke-12 ke Markas utama Istana Merah tempat Kui Lok Mo sekitar ribuan Kilometer.
Memasuki sebuah ruangan di dalam tanah, Coa Kun dibawa masuk ke Ruang isolasi dimana Kui Lok Mo berada dalam pemulihan tubuhnya, terlihat di dalam ruangan itu seorang pria yang sangat tua sedang duduk bersila di atas sebuah lempengan batu Obsidian Merah, dengan Rambut yang sudah memutih dan Kumis serta jenggot yang menutupi seluh wajahnya.
Coa Kun hampir tidak mengenali wajah gurunya lagi, namun dia masih tahu ketika melihat sorot mata di wajah itu yang menatap dengan tajam dan menyala merah.
“He he he…., Coa Kun kamu kupanggil untuk memenuhi tugas luhur yang akan membuat dirimu mendapatkan kekuatan super sehingga kamu dapat menjadi orang terkuat di permukaan dunia ini, ha ha ha…. uhugh..!!!”, kata Kui Lok Mo sambil terbatuk sangat kuat.
Coa Kun sangat terkejut melihat penampilan gurunya sekarang, pria dengan tampilan 30 tahunan ini telah berubah, dan dia sudah menduga bahwa gurunya sedang mengalami luka dalam yang sangat parah, karena sampai merubah penampilannya.
“Guru, aku siap menerima tugas tersebut guru, walau tanpa hadiah kekuatan, karena aku berterima kasih kepada guru karena dengan ditempatkannya diriku di kawah Gunung ke-12, kekuatanku meningkat sangat cepat, bahkan teman-temanku mengalami pertumbuhan kekuatan tingkat kultivasi yang sama denganku”, kata Coa Kun, dia duduk dan bersujud di depan Kui lok Mo.
“He he he…, aku tidak salah menilai terhadap dirimu, kau selalu paling cerdik, dan dapat menilai bahwa hukuman yang kau terima sebenarnya adalah dalam upaya meningkatkan kekuatanmu, namun tugas yang akan kuberikan padamu adalah, aku memerlukan darahmu untuk diasimilasikan dengan tubuhku, apakah kau bersedia memberikan darah yang kumaksud?”, tanya Kui Lok Mo.
Coa Kun terkejut akan permintaan gurunya, dia sudah mengenal watak gurunya, kalau hanya sekedar darah pada dirinya, tidak masalah baginya, namun itu sepertinya hanya permulaan saja dari sesuatu yang dibutuhkan oleh gurunya, pasti ada yang lebih,
“Guru, apakah hanya darahku saja?, dan berapa banyak?, agar aku dapat mempersiapkan semuanya demi kesembuhan guru”, kata Coa Kun.
“Ha ha ha…, kau tidak perlu mengkhawatirkan semuanya, itu hal yang kukagumi dari dirimu, kau selalu melihat sesuatu dengan gambar yang lebih besar, memang aku hanya memerlukan darahmu, selanjutnya aku tidak memerlukan hal lain”, kata Kui Lok Mo sambil menyeringai dan,
Tusss…, Tusss…, Tussss….!!!
Tangan Kui Lok Mo bergerak ke tubuh Coa Kun, dan tubuh Coa Kun seketika lemah karena beberapa titik akupunturnya telah dilumpuhkan,
‘Kui Lok, keluarlah!, dan persiapkan ritual pencucian darah di Ruang Suci, jangan lupa dengan ramuan herbal dan letakan Kuali Dewa Neraka diatas Api Neraka Abadi untuk proses peremajaan tubuhku”, kata Kui Lok Mo pada Kui Lok yang langsung direspon dengan cepat oleh Kui Lok sambil menyeringai pada tubuh Coa Kun yang saat itu lemah tidak berdaya,
“Darah segar dan tubuh mudamu sangat berguna bagi guru, nikmati kehormatan ini”, kata Kui Lok sambil berlalu.
Betapa kagetnya Coa Kun mendengar apa yang akan terjadi pada dirinya, dia sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima akibat memberikan darahnya pada gurunya, namun ternyata tidak sesederhana pikirannya, gurunya membutuhkan seluruh tubuhnya, itu berarti dia akan mati, dengan perasaan hancur dia hanya bisa merenung, sebisanya dia mengerahkan kekuatannya, namun semua kekuatannya sudah terkunci.
Coa Kun terus berupaya membebaskan dirinya dari kuncian pada tubuhnya, namun apa daya, yang melakukan kuncian pada tubuhnya adalah tokoh terkemuka Benua Merah, yang sekalipun dalam kondisi terlemah tapi dia masih dapat mengeluarkan tenaga setingkat Raja Dewa, dibandingkan dirinya yang hanya Manusia Dewa, ada perbedaan bumi dan langit.
Saat keputusasaan melanda hati dan jiwanya, Coa Kun teringat akan Teknik yang dulu pernah dilatihnya, yaitu Tapak Iblis Gerhana, dimana dengan teknik ini, darah dalam tubuhnya menjadi racun yang mematikan, dia berpikir biarlah dia mati namun dia masih bisa memberikan pukulan pada orang yang melakukan ini pada dirinya, dengan demikian Coa Kun segera mengalirkan darah dalam tubuhnya dengan teknik pernafasan yang sudah mendarah daging ke seluruh pembuluh darah dan dantian di tubuhnya sehingga darahnya tidak lagi berwarna merah namun menjadi hitam karena asimilasi dengan Kristal Racun Bintang Hitam, dimana dulu dia telah melakukan ritual cuci darah dan penggantian sumsum Tulang pada tubuhnya.
Ku Lok Mo, dalam penderitaannya tidak menyangka bahwa murid kecilnya ini masih memiliki trik kecil, dia dengan gembira membawa tubuh Coa Kun ke sebuah ruangan lain yang disebut Ruang Suci, dimana sebenarnya ruang ini adalah tempat dia berkultivasi.
Ada sebuah altar, dimana di tengah-tengah altar ini ada api berwarna merah pekat, seperti darah yang meluap-luap, dan diatas api itu ada sebuah kuali dengan tinggi dan berdiameter sekitar setengah meter, dengan bahan seperti dari baja yang sangat kuat dan dipenuhi dengan berbagai macam ukiran simbol-simbol kuno dan gambar makhluk-makhluk binatang mistik zaman kuno.
“Coa Kun, berbanggalah aku memilih dirimu, dari sekian muridku kaulah yang mendapatkan kehormatan ini, melalui tubuhmu aku dapat memulihkan kekuatanku dan mewujudkan impian Benua Merah sebagai kekuatan dunia yang paling besar dan tidak terkalahkan”, kata Kui Lok Mo.
Coa Kun hanya dapat menatap gurunya tanpa ekspresi, sambil dia terus mengoperasikan tubuh kedagingannya dan mengedarkan darah hitam dalam tubuhnya sehingga lambat laun, permukaan kulitnya berubah menjadi hitam.
“He he he…, jangan kau marah Coa Kun, aku tahu kau tidak menerima keadaan ini”, kata Kui Lok Mo, yang melihat perubahan wajah Coa Kun yang berubah.
Kui Lok Mo memegang sebuah pisau kecil di depan Kuali Dewa Neraka, dimana tubuh Coa Kun telah diangkat oleh satu tangan oleh Kui Lok Mo dan mengarahkan leher Coa Kun di mulut Kuali tersebut, ketika tangan Kui Lok Mo bergerak, darah di nadi leher Coa Kun menyembur keluar bagai pancuran ke dalam kuali itu.
Luka itu hanya kecil saja namun karena tepat mengarah pada bagian pembuluh besar pada leher Coa Kun darah itu mengalir deras keluar dan di tampung dalam kuali tersebut, Coa Kun hanya dapat melihat darah hitamnya mengalir ke dalam kuali tersebut.
“He he he…, akan kucicipi darah segar ini, sebelum aku menukarkannya”, kata Kui Lok Mo bergumam, sambil dia mendekatkan mulutnya ke leher Coa Kun tanpa memeriksa warna darah di leher tersebut, dengan rakus dia menghisap darah Coa KUn langsung dari luka yang terbuka di leher itu, kemudian,
“Apa ini?, Arrgghhh…..!!!, apa yang kau Lakukan !???..., OUGHH…!!!”, teriak Kui Lok Mo dengan mata terbelalak.
Bibir Kui Lok Mo langsung berubah hitam seperti terbakar, dan segera terjadi perubahan di tubuhnya, kulit keriput di tubuhnya langsung berwarna hitam legam dengan cepat.
“Ku… rang ajar…!!!, Murid laknat….!!!”, hanya itu keluhan terakhir dari Kui Lok Mo pada Coa Kun, tubuhnya lang saung ambruk di ikuti oleh tubuh Coa Kun yang menimpa tubuh dirinya sendiri.
Coa Kun mengoperasikan tubuhnya, dia bergerak ke arah Kuali Dewa Neraka, dan tubuhnya berguling ke dalam kuali itu, dia melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya, dengan telanjang dia berhasil masuk ke dalam kuali itu, dia duduk bersila dan berkultivasi dalam kuali berusaha menyedot kembali darah yang sudah keluar dari luka lehernya, Coa Kun menggunakan teknik rahasia Klan Mo untuk menyedot darah itu melalui permukaan kulit pada tubuhnya.
Apa yang terjadi di Ruang Suci tidak diketahui oleh yang lain, karena mereka tahu bahwa Kui Lok Mo tidak akan mengijinkan siapapun memasuki ruang kultivasinya, termasuk keturunannya, karena teknik yang dikembangkannya adalah teknik yang menjadi rahasia dirinya.
Berhari-hari berlalu dengan tenang, seminggu sudah berjalan di ruang Suci, Coa Kun terus dengan tekun menghisap kembali darah yang sudah tercurah, melalui teknik rahasia klan Mo untuk mengasimilasikan cairan darahnya sendiri, sama persisi ketika dia membangun tubuh beracunnya, dan darah dalam kuali itupun kering terhisap dalam tubuh Coa Kun, hal itu mengakibatkan kekuatan Coa Kun kembali seperti semula.
“Dasar tua bangka, otak sempit, aku telah menduga hal ini saat kulihat betapa tuanya dirimu, dan aku sudah mengenal dirimu yang licik, namun aku sebagai muridmu lebih cerdik, dan kau seharusnya bangga karena memiliki murid yang lebih cerdik daripada dirimu”, kata Coa Kun sambil melangkah keluar dari kuali itu dan menghampiri Kui Lok Mo, yang hanya bisa bersimpuh terduduk dengan lemah.
Dengan Teknik Tapak Iblis Gerhana, Coa Kun menghisap darah Kui Lok Mo yang sebelumnya dia melukai leher lelaki tua itu, dia hanya menempelkan telapak tangannya pada leher terluka itu dan menghisapnya melalui teknik klan keluarga Mo.
Perubahan dahsyat terjadi pada tubuh Kui Lok Mo, dia hanya bisa terbelalak akan tindakan bekas muridnya, dalam hatinya dia mengeluh bahwa dirinya benar-benar sial, apa yang ingin dilakukan pada bekas muridnya ini malah berbalik, dirinyalah yang dengan pasrah menerima kenyataan, darahnya tersedot dengan deras memasuki tubuh Coa Kun.
Dengan tegas dan tanpa terganggu, Coa Kun berkultivasi dan mengasimilasikan darah Kui Lok Mo yang lemah, sosok penguasa Benua Merah itu semakin lama semakin lemah, tubuh tuanya semakin keriput bagai manusia berusia ratusan tahun, dan tubuh itu semakin kecil menyusut terus.
Douss….Dousss…Doussss…!!!
Ledakan beruntun pada tubuh Coa Kun terdengar susul menyusul, kenaikan tingkat kultivasi miliknya terus melaju dengan cepat, dan segera masuk tingkat keabadian Raja Dewa ke-1, ke-2, ke-3…., terus bergerak naik.
“Ha ha ha…., tidak kusangka…, tidak kusangka…, ha ha ha…, sekarang aku Penguasa Benua ha ha ha…., Raja Dewa ke-9 Awal… ha ha ha…, rupanya ini perasaan yang dimiliki oleh kutivator Raja Dewa ke-9 Awal, aku dapat merasakan setiap nafas makhluk di seluruh benua ini, Ha ha ha…”, tawa Coa Kun bergelak-gelak, dia lalu melihat di depannya pada sosok tubuh keriput kecil, dia menggerakkan tangannya dan tubuh itu melayang mengikuti apa yang dipikirkan oleh otaknya.
Dengan hati gembira Coa Kun melangkah dengan tenang, keluar dari Ruang Suci itu, dengan kekuatan pikirannya, dia menggeser batu penutup, dan langsung terbuka dengan bergeser karena kekuatan pikiran seorang kultivator Raja Dewa ke-9 Awal.
“Guru !!!....”, hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Hao Sin Tek dan Kui Lok, ketika mereka melihat ada sosok tubuh yang keluar dari Ruang Suci tempat guru mereka, namun selanjutnya mereka menerima tekanan yang sangat kuat, mengunci kekuatan kultivasi mereka dengan cepat, mereka berdua hanya bisa megap-megap bagai ikan yang terdampar di pasir.
“Kalian berdua lihat tubuh tua ini, aku dapat berbuat hal yang sama pada kalian,
namun aku memberikan kesempatan pada kalian berdua, ikut aku dan jadi pembantuku,
kita memerintah Benua Merah ini bersama-sama,
atau menolak dengan nasib yang kalian lihat di depan mata”,
kata Coa Kun dengan suara dalam bertenaga.
Hao Sin Tek dan Kui Lok menatap tubuh guru mereka yang sudah terdiam bagai mayat, terlihat tubuh mengkerut, keriput tua dan sangat kecil bagai anak berumur lima tahunan, tadinya mereka berpikir bahwa orang di depannya adalah guru mereka setelah melakukan ritual peremajaan tubuh, tapi segera ditepisnya pikiran itu, karena pemuda yang rencananya dikorbankan demi kepentingan guru mereka, sekarang berdiri di depan mereka dan mengancam hidup mereka berdua, dengan cepat keduanya berpikir layaknya tokoh-tokoh tua yang sudah hidup ratusan tahun bahwa sosok ini lebih kuat dari mereka berdua, terbukti dengan persepsi jiwa pemuda ini, mampu mengunci mereka walaupun kekuatan ini lebih rendah dari guru mereka sendiri, tapi guru mereka saja tidak mampu mengatasi pemuda ini, apalagi mereka, dengan segera mengangguk-angguk kepala tanda setuju untuk menjadi pembantu pemuda tersebut.
“Ha ha ha…., bagus, bagus…, bersamaku kalian akan memperoleh kekuatan, melawanku kalian akan mati, sebarkan berita, bahwa Yang Mulia Kui Lok Mo melakukan kultivasi tertutup, dan menyerahkan tanggung jawab Penguasa Benua pada muridnya yang bernama Yang Mulia Coa Kun, siapa yang melawan mati”, kata Coa Kun pada keduanya.
Dengan segera keduanya menyatakan akan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh penguasa muda ini.
“Kurung tubuh ini di Kawah ke-12, dan bebaskan orang-orang yang berada di kawah ke-12 untuk memasuki Istana Merah, juga kalian bebaskan orang-orang di kawah ke-8, serta siapkan ruangan kultivasi bagi orang-orang itu segera, setelah itu kalian berdua menyebar ke seluruh penjuru Benua ini, bahwa dalam seminggu akan ada pengukuhan penguasa baru bernama Yang Mulia Coa Kun”, kata Coa Kun pada Hao Sin Tek dan Kui Lok.
“Siap Yang Mulia Coa Kun, kami akan segera melaksanakan perintah”, jawab keduanya dengan segera, mereka membawa tubuh Kui Lok Mo keluar dari Istana Merah dan menuju Kawah ke-12 sesuai dengan perintah Coa Kun.
Keduanya menyadari bahwa kekuatan Penguasa Muda ini akan mengawasi dan mengikuti gerak-gerik dan perjalanan mereka, hal itu dapat mereka rasakan, dimana persepsi jiwa Penguasa Muda ini seperti mengawasi apa yang mereka lakukan, hal itu adalah lumrah, karena tingkat sensitifitasi sebagai Raja Dewa ke-7 Puncak.