Di Benua Thian Agung, Thian Sian Li terlihat mondar-mandir pada sebuah ruangan aula, dimana ada terdapat beberapa sosok tubuh yang sedang duduk memperhatikan dirinya, mereka adalah Thian Kong Jie, Sie In Hong, Bu Tek Ong, Duan Wi Hong, Wang Kok Han dan Bu Mei Ling.
“Sian Li, apa yang kau lakukan?, apa yang menggelisahkan hatimu?”,
tanya Thian Kong Jie, karena hanya dia, sesepuh yang berani menegur Thian Sian Li, yang lain menyadari kekuatan yang dimiliki oleh Thian Sian Li yang jauh melebihi mereka yang hadir.
“Leluhur, aku mencemaskan putraku Han Long, aku ingin berkunjung ke Benua Ketiga”, jawab Thian Sian Li.
Sudah hampir setahun berlalu semenjak insiden yang terjadi di Benua Thian Agung ini berlalu, dan belum ada kabar tentang Han Long dari Benua Ketiga.
Thian Sian Li menatap Bu Mei Ling, lalu ke arah Bu Tek Ong dan selanjutnya ke Wang Kok Han.
Mereka bertiga yang ditatap oleh Thian Sian LI, hanya bisa menundukkan kepala, mereka bertiga juga belum mendapatkan kabar tentang kondisi Benua Ketiga atau perintah dari guru mereka, mereka juga kebingungan apa yang harus mereka jawab kepada Kepala Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
“Apakah hal ini dapat kau tunda dulu, kita menunggu berita dalam tiga bulan ke depan, karena ada berita yang lebih penting, perubahan yang terjadi melalui informasi yang kita dapatkan tentang situasi di Benua Merah saat ini, dan sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu”, kata Thian Kong Jie.
“Benar Kepala Dewan, aku memaklumi perasaanmu, tapi informasi ini harus kita selidiki, karena ditakutkan akan mengancam keamanan seluruh permukaan dunia khususnya Benua Thian Agung”, kata Duan Wi Hong.
Thian Sian Li mengerutkan keningnya, jabatan yang disandangnya sebetulnya dengan enggan dia pegang, namun atas perintah Penguasa Benua Ketiga,
dia mau memegangnya karena putra tersayangnya dalam perawatan Penguasa tersebut, dan kini dia merasa bahwa tugasnya sudah selesai, dia bermaksud menyerahkan tugas ini kepada Leluhurnya kembali.
”Leluhur, aku bermaksud menyerahkan kembali tugas Kepala Dewan Keadilan Tertinggi kepadamu, karena aku akan mencari putraku, dan hal ini telah kuputuskan dengan bulat hati, dan keamanan Benua Thian Agung telah pulih seperti semula”, kata Thian Sian Li.
Ucapan Thian Sian Li ini diluar dugaan para anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, maka Thian Kong Jie berdiri dari tempat duduknya, serta berucap,
”Aku malah berpikir sebaliknya, dan pikiranku kiranya dapat dipahami oleh anggota yang lain”, dia berhenti sejenak, dan lanjutnya,
“benar ini ada hubungannya dengan perubahan yang terjadi di Benua Merah,
ada Penguasa baru bernama Yang Mulia Coa Kun, dan dia memiliki tingkat Raja Dewa ke-9, dan hal ini sangat mengkhawatirkan, jika engkau melepaskan tanggung jawab itu kepadaku, maka keamanan Benua Thian Agung akan terganggu karena ambisi dari Penguasa Benua Merah yang baru”, kata Thian Kong Jie,
dan anggota lainnya setuju dengan pendapat Thian Kong Jie,
sekalipun di Benua Thian Agung masih ada Thian Han Ong,
tapi leluhur itu rupanya melakukan kultivasi tertutup dan tidak mau diganggu,
dan hanya murid tersayangnya Han Eng, yang boleh menjenguk dirinya itu pun harus inisiatif dari leluhur tersebut, dimana sang murid mendapat panggilan dari Leluhur Thian Han Ong.
Thian Sian Li terdiam, dia merenung dan memikirkan pendapat leluhurnya,
karena hanya dia yang bisa mengatasi dan menghadapi Penguasa Benua Merah yang baru, karena Thian Sian Li sendiri sudah di tingkat Raja Dewa ke-9 Puncak.
Bu Mei Ling berdiri dan berkata,
”Bagaimana dengan ini?, aku akan berangkat ke Benua Ketiga,
dan memohon guru untuk memberikan informasi bagimu, dan untuk masalah Benua Merah, sebelum kita ambil tindakan, kita membentuk satuan tugas yang diisi para sukarelawan untuk menyusup ke Benua Merah dan mencari tahu gerakan mereka selanjutnya,
kalau aku tidak salah, orang yang bernama Yang Mulia Coa Kun adalah saudara tiri dari salah satu anggota kita yang bernama Coa Leng In, kita akan meminta informasi dari gadis itu tentang jati diri Penguasa Tersebut”, katanya, dan ini memancing beberapa reaksi dari anggota Dewan.
Thian Sian Li menatap anggota Dewan yang lainnya, dan dia berkata,
”Untuk ke Benua ketiga, aku setuju bila saudara Wang Kok Han yang pergi,
saudari Bu Mei Ling masih harus memiliki tanggung jawab lain, membimbing putra dan merawat suaminya, dan saudara Bu Tek Ong, memiliki tanggung jawab sebagai Kepala Sekte Phoenix Agung, tentang gadis Coa Leng In, aku tahu sedikit tentang keluarga itu,
dan sebaiknya kita membentuk tim sukarela sebagai penyusup di benua Merah,
dimana Coa Leng In akan menjadi salah satu anggota wajib sukarelawan”,
kata Thian Sian Li pada anggota lainnya, dan hal ini disetujui oleh para anggota lainnya.
Berita tentang Penguasa Baru di Benua Merah memang sudah menjadi obrolan penduduk Benua Thian Agung, dan semua orang di benua ini pun tahu bahwa Penguasa yang baru ini adalah murid terakhir dari Penguasa yang lama, yakni Kui Lok Mo, namun hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa dan mereka berasal dari Benua Chong Yang, Penguasa yang baru ini memiliki kerabat di dalam klan Thian Agung, yaitu Coa Leng In, namun orang-orang yang sudah tahu ini pun maklum bahwa Coa Leng In sangat membenci saudaranya itu.
Di dalam ruang kerja Thian Sian Li, selain Thian Sian Li ada dua wanita lagi, yang sedang duduk bersama Thian Sian Li, kedua wanita itu adalah Phang Cui Lin dan Han Eng.
”Tuan, apakah aku boleh ikut dalam misi ke Benua ketiga?”, tanya Han Eng pada Thian Sian Li, wajah Han Eng sedikit pucat, tidak ada keceriaan yang biasanya menghiasi wajahnya.
”Benar Tuan Kepala, aku akan mendampingi dirinya jika tuan menyetujuinya”, tambah Phang Cui Lin sambil dia melirik Han Eng.
”Cui Lin, aku akan memasukan engkau menjadi tim sukarela penyusup ke Benua Merah, dan semua informasi yang didapat oleh mu langsung kau laporkan kepadaku”, kata Thian Sian Li, lalu lanjutnya pada Han Eng,
“dan Han Eng, aku tahu perasaanmu terhadap putraku, namun aku tidak tahu perasaan putraku terhadap dirimu, aku hanya menasehati dirimu, tingkatkan terus kekuatanmu,
agar kau dapat sebanding dengan putraku, dan kupikir dengan menjadi murid langsung Leluhur Thian Han Ong, engkau akan memperoleh kekuatan tersebut, ingat lawanmu sekarang telah menjelma menjadi Penguasa Benua Merah, dan yang kucemaskan, sekali waktu dia akan mengarahkan dendamnya padamu”, kata Thian Sian Li.
Mendengar ucapan Thian Sian Li, Phang Cui Lin menarik nafas panjang dan melihat Han Eng yang sudah dianggapnya seperti keponakannya sendiri, apa yang dikatakan oleh tuannya adalah benar.
Han Eng terlihat kecewa, namun dia menyadari bahwa dirinya belum sebanding dengan Han Long, apalagi dia melihat dengan matanya sendiri, pria idaman hatinya menarik perhatian seorang wanita cantik sekelas Penguasa Benua Ketiga selain sangat cantik juga sangat kuat, dan ucapan Thian Sian Li adalah benar, dia harus tumbuh kuat, agar Han Long mau melihat dirinya.
”Tuan, apakah aku bergerak sendiri atau dalam kelompok tersebut?”, tanya Phang Cui Lin.
Thian Sian Li mengerutkan keningnya, dan menganalisa sesuatu,
”Saat membentuk satuan tugas penyusup, gadis Coa Leng In pasti akan didampingi oleh ibu dan leluhurnya, Yap Kun Tek, engkau cukup mendekati leluhur tersebut, dan kurasa itu adalah tugas mudah”, kata Thian Sian Li sambil tersenyum, dan Phang Cui Lin mengerti akan maksud tuannya.
Keesokan harinya, beberapa orang dihubungi dan orang-orang tersebut direkomendasikan langsung oleh anggota Dewan Keadilan Tertinggi.
Dan di dalam ruang Aula Misi Ibukota Thian Agung, ada misi bagi setiap orang yang sudah dihubungi dengan imbalan hadiah yang sangat menarik, nama misi ini adalah Penyusupan ke Daerah Musuh, membuat semua orang penasaran karena detail tugas tidak dijelaskan secara terbuka.
Saat membentuk satuan tugas, maka muncullah nama-nama sukarelawan yang mengajukan dirinya sendiri, dan benar saja, nama sukarelawan pertama adalah Coa Leng In diikuti oleh Yap Ing dan An Wu Hong dan berikutnya ada nama Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin, serta beberapa nama lainnya, termasuk An Ling dan Han Wo.
Yap Ing sebenarnya telah mengajak leluhurnya namun ditolak oleh Yap Kun Tek, namun An Wu Hong menawarkan dirinya untuk mendampingi dirinya, dan wanita cantik itu menerima tawaran An Wu Hong.
Yap Kun Tek sendiri setelah didesak oleh Coa Leng In bersedia menyertai keturunannya yang sangat dia sayangi.
Han Wo termasuk sukarelawan, karena dia teringat akan klan Han di Benua Chong Yang yang hancur di tangan Han Ek, dia ingin membalas dendam terhadap Han Ek dan Coa Kun, dan Duan Ling atau sekarang bernama An Ling turut mendaftar sebagai sukarelawan.
Sekelompok kultivator telah berkumpul di Aula Misi, pertemuan ini akan diberi arahan langsung oleh anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Serombongan petinggi Dewan memasuki ruang Aula Misi, dipimpin langsung oleh Thian Sian Li, kedatangan mereka disambut dengan hormat oleh para sukarelawan,
”Baiklah semua sudah berkumpul, aku adalah Thian Kong Jie, aku berbicara mewakili Dewan Keadilan Tertinggi Benua, perlu kusampaikan bahwa misi ini sangat berbahaya, karena menyusup ke Benua yang menjadi lawan Benua kita, yang diperlukan bukan hanya kekuatan tapi juga kecerdikan dan strategi yang baik.
Perlu kuingatkan, hindari bentrokan langsung dengan musuh, kalian harus rendah hati, karena kami hanya membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya, sekalipun ada orang kami yang sudah berada lama di benua tersebut, namun, mereka adalah keberadaan hantu dan kalian tidak akan mengenalnya”, kata Thian Kong Jie.
Thian Sian Li maju dan berkata,
”Tugas kalian adalah mencegah ambisi Benua Merah melakukan peperangan terbuka dengan kami, karena siapapun yang menjadi pemenang, hanya akan meninggalkan kehancuran dunia ini,
jadi tugas utama kalian adalah jangan sampai terjadi perang antar benua,
kalian akan menyusup secara berpasangan atau setiap grup tidak boleh lebih dari tiga orang, untuk menghindari kecurigaan musuh, ingat mereka hidup di dalam tanah,
dan kota mereka ada di dalam tanah,
jangan sekali-kali kalian muncul dipermukaan tanah Benua Merah,
itu hanya kematian saja, pilihlah peran masing-masing sesuai dengan lempeng batu giok yang akan kami bagikan pada setiap orang sudah kami bagi dalam setiap regu”,
kata Thian Sian Li, dan tidak lama kemudian muncul beberapa petugas yang membawa nampan berisi lempeng giok, yang merupakan petunjuk pelaksanaan misi masing-masing orang.
Coa Leng In ternyata bersama dengan Leluhurnya dan Phang Cui Lin, Han Wo dan An Ling, Yap Ing dan An Wu Hong, dan beberapa orang lainnya terlihat berkumpul bertiga atau berpasangan, sedangkan Han Eng sekalipun diri nya mengajukan diri namun dirinya tidak mendapatkan lempeng giok, artinya nama dia tidak tercantum, dengan heran dia melihat ke arah Thian Sian Li,
”Tuan apakah tidak salah?, apakah namaku tidak tercantum dalam lempeng giok?”,
kata Han Eng pada Thian Sian Li
Thian Sian Li mengerutkan keningnya dan dia melirik pada leluhur klan Thian, Thian Kong Jie, dan Thian Kong Jie hanya menatap Han Eng, maka terdengarlah suara Thian Kong Jie di benak Han Eng,
”Han Eng, namamu ditolak oleh Leluhur Thian Han Ong,
sekarang juga kau menghadap Leluhur di ruangannya, ada hal untukmu”,
kata Thian Kong Jie.
Han Eng terkejut mendengar ucapan ini, Thian Sian Li pun dapat mendengar ucapan dari Thian Kong Jie, karena tingkat yang dimilikinya lebih tinggi dari Thian Kong Jie leluhurnya, Thian Sian Li hanya tersenyum pada Han Eng.
Dan dengan lirikan matanya, Thian Sian Li memerintahkan Han Eng keluar dari Aula Misi untuk segera menghadap Thian Han Ong.
Han Eng tidak perlu diberi isyarat kedua, sekalipun dia heran dengan maksud leluhur Thian Han Ong, dia segera pergi meninggalkan ruangan itu, hanya Phang Cui Lin yang memperhatikan kepergian Han Eng yang keluar dari ruangan tersebut.
Setelah semua orang yang menjadi tim Penyusup ke Benua Merah selesai mempelajari apa yang tercantum pada lempeng giok melalui persepsi jiwa masing-masing, secara berpasangan atau bertiga mereka mengarah pada stasiun formasi teleportasi, mereka tidak langsung diteleportasi ke Benua Merah namun mereka akan masuk melalui benua lain.
Kelompok yang berisi Coa Leng In, Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek muncul di Benua Eng Hian, dimana Phang Cui Lin sangat mengenal benua ini, dan kebetulan mereka berada di Kerajaan Dunia Biru,
namun pada saat itu Phang Cui Lin selalu memakai topeng bila keluar dari Manor Langit, kini dia menampilkan wajah aslinya.
Dua wanita cantik dan satu pria gagah, berjalan di tengah jalan raya kerajaan Dunia Biru, sesuai kesepakatan Yap KunTek adalah suami dari Phang Cui Lin dan Coa Leng In menjadi adik dari Yap Kun Tek, masing-masing mengubah namanya, maka Yap Kun Tek berperan sebagai seorang saudagar kaya bernama Kun Tek dan istrinya bernama Leng In, dan Coa Leng In menjadi Kun Lin.
Ketiganya memasuki sebuah rumah makan yang terlihat sangat mewah, dan setelah diantar oleh seorang pelayan untuk menemukan sebuah meja, mereka duduk dengan santai.
Saat ini Yap Kun Tek sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-4 Lanjutan, dan Phang Cui Lin pada Manusia Dewa ke-7 Puncak, sedangkan Coa Leng In pada tingkat Manusia Dewa ke-8 Lanjutan, dimana tingkat ketiga orang ini dapat menghancurkan kerajaan Dunia Biru dengan lambaian tangan saja,
karena kultivator tertinggi dan jumlahnya dapat dihitung dengan jari,
hanya pada tingkat Manusia Dewa ke-2 Awal, namun mereka bertiga menyembunyikan tingkat tersebut, dan menjadi orang dengan kekuatan kultivasi biasa yang dimiliki orang kebanyakan.
Tidak lama kemudian muncul beberapa pelayan yang membawa macam-macam hidangan, terlihat oleh ketiganya bahwa hidangan ini sangat menggugah selera, padahal bila mereka menunjukkan tingkat kultivasinya hidangan ini tidak berarti sama sekali, karena mereka sudah masuk tingkat abadi.
”Ayo, waktunya kita makan, sudah lama aku tidak memanjakan lidahku”, kata Kun Tek.
Dengan senyum yang berkembang di bibirnya yang indah, Coa Leng In atau Kun Lin, merespon kata-kata Yap Kun Tek atau Kun Tek saja,
”Kakak memang benar, perjalanan ini sangat melelahkan, sehingga berhari-hari kita tidak merasakan hidangan yang pantas kita nikmati di perjalanan, kakak ipar marilah apa yang kita tunggu”, kata Kun Lin pada Leng In.
Pembicaraan mereka bertiga dilakukan dengan suara wajar, namun cukup terdengar oleh beberapa orang yang berdekatan dengan meja mereka.
Para tamu menduga bahwa mereka adalah pasangan suami istri dan adik iparnya, terlihat ketiganya dengan lahap memakan setiap hidangan yang tersedia, dan hal ini, rupanya menarik perhatian sekelompok orang yang menempati dua meja sekaligus, mereka terdiri dari delapan orang pria berusia 30 sampai 50 tahunan, dan pakaian mereka seperti orang-orang dari dunia persilatan yang mengandalkan kekuatan tubuh belaka dengan tenaga luar dengan tingkat kultivasi yang seadanya.
Rombongan ini dipimpin oleh seorang pria 40 tahunan, ada sebuah senjata tajam di pinggangnya dan anggota lainnya sering melirik pada Leng In dan Kun Lin, dua wanita cantik pada meja Kun Tek, dan Kun Tek tahu, namun dia tidak memperdulikannya, baginya sekarang adalah saatnya menikmati makanan yang telah lama dia lupakan.
Demikian juga dengan Leng In dan Kun Lin keduanya sangat menikmati hal tersebut, tanpa menghiraukan lainnya.
di dalam kelompok delapan orang itu, salah satu dari anggota tersebut mengambil sesuatu dari kantong langit yang dibawanya dan mengeluarkan sesuatu berwarna merah dan memakannya, namun gerakan biasa orang tersebut menarik perhatian Kun Tek, karena benda itu seperti Buah Obsidian Merah yang dibutuhkan oleh Coa Leng In dan Yap Ing, sebuah ide muncul di benaknya.
Dengan mengerahkan persepsi jiwanya, Kun Tek menyelidiki buah yang dimakan salah satu anggota kelompok delapan orang itu, dan ternyata dugaannya benar,
“Leng In, mereka sepertinya memiliki hubungan dengan orang-orang dari Benua Merah, mereka membawa Buah Obsidian Merah”, kata Yap Kun Tek pada Coa Leng In melalui kontak jiwa.
“Leluhur, biarkan aku menggoda mereka dan mendekati mereka”, jawab Coa Leng In.
Selanjutnya Coa Leng In memutar tubuhnya dan berpura-pura melirik menggoda pada kelompok delapan orang itu, dia berlaga seolah-olah akan berdiri dari kursi yang tadi didudukinya, dengan gerakan sensual seperti menggeliat,
“kakak, rasanya puas sekali aku menikmati hidangan ini, dan memang rumah makan ini tidak mengecewakan, sesuai dengan reputasinya, aku akan ke kamar kecil dulu kakak,
dan sekalian aku akan berbicara dengan pemilik rumah makan ini,
untuk memesan kamar bagi kita”, kata Coa Leng In pada Kun Tek dan Cui Lin.
Coa Leng In berdiri dan meninggalkan mejanya, dia sengaja berjalan dengan gemulai sebagai gadis biasa tanpa kekuatan, jalan yang dilaluinya sengaja melewati meja kelompok delapan orang, yang memang searah dengan kamar kecil yang ditujunya, perbuatan Coa Leng In diawasi oleh kelompok delapan orang itu, kecuali kepala rombongan yang terlihat acuh padahal dia berusaha mencuri-curi pandang ke arah tubuh Coa Leng In, seorang gadis dewasa berusia sekitar 25 tahunan, dimana seluruh otot tubuhnya telah berkembang dengan sempurna, apa yang menjadi keindahan bentuk tubuh seorang wanita dalam menggoda lawan jenisnya ditampilkan dengan sempurna dan semua itu dimanfaatkan oleh Coa Leng In.
Salah seorang dari kelompok delapan berdiri, dia dengan bertingkah elegan memberi jalan pada Coa Leng In,
“Mari nona, maaf kami sedikit menghalangi jalanmu”, kata pria tersebut.
Coa Leng In tersenyum manis, dia sedikit menganggukkan kepala dan berucap sopan,
“Terima kasih”, katanya.
“Nona, kalau seandainya tidak keberatan bolehkah kami bergabung,
an biarkan kami membayar hidangan yang sudah kalian nikmati”,
kata pria tersebut sambil menyeringai sok tampan dan memberikan tanda pada seorang pria yang merupakan kepala rombongan.
Coa Leng In memutar kepalanya dan tersenyum,
“Aku akan bertanya pada kakak, kalau masalah uang kami tidak kekurangan,
namun jika kalian menawarkan sebuah perjanjian perdagangan barangkali kakakku akan tertarik”, kata Coa Leng In, sambil meninggalkan kelompok delapan orang tersebut.
Kelompok delapan orang saling melirik satu sama lainnya, mereka tersenyum lebar, mereka adalah sekelompok orang yang memiliki tugas sebagai pengirim barang, bahkan memreka memiliki jaringan yang sangat luas, mencakup perdagangan antar benua.
Kun Tek dan Cui Lin tengah menikmati sisa hidangan di meja ketika seorang pria yang berasal dari kelompok delapan menghampiri meja mereka,
“Salam Tuan Muda, kami mendengar bahwa anda mencari kesepakatan perdagangan, mungkin saya dapat memberikan informasi”, kata pria 40 tahunan tersebut.
Kun Tek berpura-pura terkejut mendengar ucapan pria itu,
“Oh, apakah kalian mendengar itu dari adikku?,
aaahhh…, dasar kelakuan adikku itu selalu berterus terang pada orang lain,
tapi memang kami membutuhkan informasi seputar perdagangan antar wilayah apalagi jika itu sampai mencakup antar benua”, jawab Kun Tek dan Cui Lin manggut-manggut.
“Mungkin ini nasib baik bagi kami, Tuan Muda, karena kebetulan kami sering mengirim barang-barang antar wilayah, bahkan kami pernah memasuki sebuah benua yang orang bilang adalah benua yang tidak mudah dimasuki oleh sembarang orang, bolehkah kami bergabung untuk menceritakan secara detail sehingga kita semua memperoleh keberuntungan”, kata pria tersebut sambil tersenyum lebar, dan tidak lama berselang Coa Leng In kembali.
“Kakak, sebaiknya kita beristirahat dulu, kamar kita telah dipersiapkan”, kata Coa Leng In memotong pembicaraan.
“Benar suamiku, sebaiknya kita beristirahat dulu, untuk membahas segala sesuatu yang besar jangan terburu-buru, apakah saudara ini mau membuat pertemuan nanti malam, agar sesuatunya lebih baik, mungkin di tempat ini, dan kami akan mempersiapkan dengan baik untuk menyambut kalian semua, karena masalah ini harus dibuat ditempat yang tidak boleh sembarangan”, kata Phang Cui Lin pada pria yang memimpin kelompok delapan orang tersebut.
Dengan senyum lebar pria itu menyatakan setuju, mereka akan kembali lagi untuk berkunjung demi membahas secara detail kesepakatan dagang diantara dua kelompok ini.
Yap Kun Tek pun menyambut semua itu dengan senyum ramah pada pria tersebut dan mengangguk kepada anggota kelompok delapan yang disambut dengan senyum lebar semua orang.
Waktu bergulir dengan cepat, Yap Kun Tek mengatur kedua wanita yang menyertainya untuk bertindak wajar sebagai seorang warga yang memiliki kekuatan biasa, khususnya pada Phang Cui Lin yang terlihat sedikit kaku melakukan peran sebagai istrinya, dia memahami Phang Cui Lin yang selalu tidak sabar untuk segera bertindak melihat kelompok delapan ini yang pecicilan tidak membuat hatinya merasa suka.
Sebuah ruangan di penginapan itu dipersiapkan dengan baik, Yap Kun Tek dan kawan-kawan telah bersedia, mereka bertiga akan memerlukan sejumlah harta yang diperlukan.
Bagi kultivator setingkat mereka bertiga, harta bukan masalah karena latar belakang yang mereka miliki, bahkan masing-masing di dalam kantong langit yang mereka bawa, cukup tersedia sampai menggunung jumlah koin emas sebagai alat transaksi perdagangan.
Dan tidak lama kemudian, muncul empat orang, yang tadi siang bertemu di lantai bawah ruang makan penginapan tersebut yang merangkap sebagai Rumah Makan, namun dari empat orang ini, satu orang belum pernah dilihat dalam kelompok delapan siang tadi, berarti orang ini memiliki jabatan yang lebih tinggi dari pemimpin kelompok delapan siang tadi.
“Mari silahkan kita duduk, sambut Yap Kun Tek ramah pada keempat orang tersebut, yang disambut dengan antusias oleh pemimpin kelompok siang tadi, namun orang baru ini hanya menatap Yap Kun Tek dan dua orang wanita ini dengan tatapan misterius tanpa ekspresi, terlihat sekali dia seperti orang yang memiliki wibawa dan menentukan setiap keputusan kesepakatan dagang dua kelompok ini.
“Perkenalkan aku bernama Kun Tek, seorang saudagar dari Benua Khui Ning, dan ini adalah Istri dan adik perempuanku”, kata Yap Kun Tek memulai percakapan.
“Kami adalah kelompok perdagangan dengan bendera bernama Naga Angkasa, mungkin nama kami sudah diketahui oleh saudara Kun Tek, dan ini adalah Tuan kami, Tuan Tek Wi Kong, dan aku adalah adiknya, namaku Tek Sin”, kata Tek Sin memperkenalkan setiap orang dalam kelompoknya.
Phang Cui Lin tersenyum ramah, dia menghadap pada Yap Kun Tek dan berkata,
“Suamiku aku mendengar bahwa mereka sudah sampai ke sebuah benua yang misterius, apakah yang kalian maksud Benua Merah?, ada satu komoditi di benua itu, dan kami siap membayar mahal kalau barang itu ada pada saudara Tek”, kata Phang Cui Lin langsung pada pokok masalah, dan badannya menghadap kembali pada kelompok Tek Wi Kong.
Dengan senyum Lebar Tek Sin hendak menjawab, namun dia melihat kakaknya memberi tanda,
“Aku pernah memasuki Benua itu, dan kebetulan kami memiliki perwakilan di sana, yang kutahu komoditi yang menjadi ciri khas Benua itu adalah Buah Obsidian merah, kebetulan stok kami sudah habis”, kata Tek Wi Kong dengan wajah lurus tanpa ekspresi.
“Lalu bagaimana cara kami mendapatkannya, karena kami memang sangat berminat pada barang itu?”, kata Yap Kun Tek dengan wajah penuh harap.
Tek Wi Kong tersenyum tipis, dalam pikirannya dia mendapatkan pelanggan yang gemuk dan mudah ditangani,
“Dengan memasuki Benua Merah, namun tidak boleh sembarang orang, bahkan selain koneksi, orang-orang yang diperkenankan masuk harus memiliki izin dari penguasa benua, dan izin ini ada biayanya”, kata Tek Wi Kong.
Permainan ini sudah diduga oleh kelompok Yap Kun Tek, namun dia menunjukkan wajah polos seperti orang bodoh di hadapan kelompok Tek Wi Kong,
“Kami tidak khawatir tentang biaya, kami bertiga telah menyiapkan semuanya,
bagaimana jika saudara Tek dan perusahaan perdagangan Naga Angkasa menjadi pelindung kami, sebutkan harganya maka aku akan membayarnya,
dan sebagai ungkapan niat kami maka terimalah cindera mata dari kami ini”,
kata Yap Kun Tek sambil matanya memberi tanda pada Coa Leng In,
dimana Coa Leng In langsung bergerak mengambil sesuatu dari kantong langit di pinggangnya dan menyerahkan sekantong koin emas pada rombongan Tek Wi Kong,
dan hal ini sangat menggembirakan bagi pihak Tek Wi Kong karena mereka mendapatkan rekan dagang yang sangat royal dan berharta banyak.
Melalui saluran yang dimiliki oleh kelompok Naga Angkasa, Yap Kun Tek, Coa Leng In dan Phang Cui Lin akan memasuki Benua Merah, dan Tek Wi Kong segera undur diri dengan membawa sekantong Koin emas pemberian dari Yap Kun Tek.
Waktu keberangkatan segera ditentukan oleh keduanya