Di sebuah dataran, jauh masuk di dalam tanah terlarang, di puncak gunung Agung, dimana letak gunung itu tepat berada ditengah-tengah Klan Thian, di Benua Thian Agung, seorang pria setengah baya sedang duduk di altar batu berwarna biru.
Tidak lama kemudian sosok tubuh seorang gadis muda melayang diudara dan mendarat beberapa meter dari posisi altar tersebut,
”Guru, Han Eng menghadap”, kata gadis itu, yang ternyata Han Eng, dia lalu bersujud ke Thian Han Ong gurunya.
”Eng, mendekatlah duduk di depanku, kau sengaja kupanggil, karena waktuku tidak lama lagi”, kata Thian Han Ong.
Han Eng terkejut mendengar ucapan gurunya, seorang pria yang berusia ribuan tahun dan memiliki tingkat kultivasi Kaisar Dewa Sempurna, ada nada kesedihan saat mengucapkan kalimat ‘waktuku tidak lama’,
”Guru apa maksudmu?”, tanya Han Eng.
Thian Han Ong menarik nafas lembut dan panjang,
”Eng, sudah waktunya engkau membantuku menyelesaikan persoalan yang timbul akibat kesombonganku, hanya engkau yang menjadi harapanku”, katanya dengan lembut, dan lanjutnya,
”Eng…, kau memang mirip dengan mantan istriku Han Cui Eng, aku selalu berpikir apakah engkau reinkarnasinya?, tapi sekalipun kau bukan reinkarnasinya, aku bersyukur kau menjadi muridku”, katanya lagi.
Han Eng makin bingung melihat sifat gurunya, menurut dia kali ini gurunya sangat berbeda, ada jejak kesedihan di wajahnya, dan raut wajahnya sedikit lebih tua dari sebelumnya.
”Guru aku semakin tidak mengerti?”, kata Han Eng.
Thian Han Ong menatap ke angkasa, dia merenung sesaat, lalu katanya,
”Eng, aku akan bercerita tentang kondisi sebenarnya benua ini, sebelum aku menjadi orang terkuat di dunia ini”, kata Thian Han Ong.
Lalu dia pun menuturkan,
Thian Han Ong, Kui Lok Mo dan Bu Ling Moy adalah saudara seperguruan yang dibawa oleh guru mereka ke dunia ini melalui portal dimensi dunia lain.
Asal mereka berasal dari dimensi lain, yang bernama Dunia Kabut Putih
Hanya mereka bertiga yang dibawa masuk oleh guru mereka, saat itu, tingkat pencapaian mereka pada tingkat Manusia Dewa, dengan maksud berlatih dan berkultivasi di dunia ini, untuk mencapai tingkat di atas Kaisar Dewa yaitu Tingkat Maha Dewa.
Ketiga orang murid dan guru ini, merupakan murid dari sekte Nirwana Sakti Putih, sebuah sekte yang berada pada dimensi Dunia Kabut Putih.
Mereka berempat, guru dan ketiga murid ini muncul dan berada di Benua Thian Agung, tepatnya kemunculan mereka sebenarnya di wilayah Lembah Tengkorak, dan lembah inilah yang membunuh guru mereka, akibat racun energi Merah dan Energi Biru Beracun, dimana kematiannya dalam upaya melindungi murid-muridnya dari serangan beracun energi tersebut.
Melihat guru mereka mati, ketiganya sangat sedih lalu melarikan diri dari lembah tersebut, dan ketiganya kembali lagi ketika ketiganya telah meningkatkan kekuatan mereka dan berusaha membatasi penyebaran energi mematikan itu, dan mereka bertiga lah yang menutup Lembah Tengkorak ketika mereka mencapai tingkat Raja Dewa.
Di dimensi Dunia Kabut Putih, penyebutan Benua ini memiliki nama ‘Dunia Merah Biru’, sedangkan masyarakat benua ini memberi nama ‘Dunia 9 Benua’.
Penyebutan Dunia Merah Biru memiliki dasar Energi Biru dan Energi Merah yang selalu melingkupi permukaan dunia ini, hal itu sangat dipahami oleh Thian Han Ong, Kui Lok Mo dan Bu Ling Moy.
Kui Lok Mo sangat menyukai Energi Merah, karena sangat cocok dengan teknik kultivasi dan konstitusi tubuhnya, sedangkan Thian Han Ong lebih cocok dengan Energi Biru, sementara Bu Ling Moy lebih cenderung pada Energi dunia asalnya, yaitu Dunia Kabut Putih yaitu energi di dimensi awalnya.
Pertumbuhan kultivasi Thian Han Ong dan Kui Lok Mo berkembang dengan cepat, bahkan Kui Lok Mo, dengan ambisi untuk segera menjadi kuat, dia menemukan dan menjelajahi sebuah Benua yang menjadi sumber Energi Merah yaitu yang disebut Benua Merah.
Dalam mengejar obsesinya, Kui Lok Mo sampai berupaya melawan penghuni Benua Merah kala itu selama puluhan tahun, dan penguasa Benua itu bermarga Han, sehingga demi terwujudnya ambisi yang dia miliki, dengan kejam dia membunuh seluruh Klan Han Di Benua Merah, namun saat dia hendak menghabisi anggota klan Han terakhir yaitu putri satu-satunya klan Han, yakni Han Cui Eng, dia mendapat perlawanan dari kakak seniornya sendiri, Thian Han Ong, dan Han Cui Eng dapat diselamatkan oleh Thian Han Ong, karena Kui Lok Mo kalah kuat dari Thian Han Ong.
Kui Lok Mo pun menyimpan dendam pada kakak seniornya sendiri, menuduhnya egois dan serakah pada Thian Han Ong, karena masing-masing diantara mereka sebelumnya telah sepakat, bahwa mereka akan berkultivasi dengan energi yang cocok dengan konstitusi tubuh masing-masing, dan Thian Han Ong telah memilih Energi Biru, mengapa dia merebut energi bagian dirinya.
Rupanya Han Cui Eng sebagai Putri Klan Han diduga oleh Kui Lok Mo, telah mengambil dan merebut Inti Energi Merah Murni.
Dengan ikut campurnya Thian Han Ong, Kui Lok Mo menduga bahwa kakaknya hendak merebut Energi itu demi kekuatannya sendiri, padahal motivasi Thian Han Ong menyelamatkan Han Cui Eng, murni demi kemanusiaan dan rasa ketertarikan hatinya pada kecantikan Han Cui Eng.
Dan Thian Han Ong tidak pernah menduga kalau dalam diri Han Cui Eng saat itu, sambil membawa Inti Energi Merah Murni dan keluar dari Benua Merah ke Benua Thian Agung.
Dengan kekuatannya, Thian Han Ong mengumpulkan energi Dunia Merah Biru pada satu Benua saja, di Benua Thian Agung untuk menciptakan Dunia Para Dewa, hal itu diperbuat, demi tercapainya maksud Thian Han Ong, agar dirinya dapat kembali ke Dunia Kabut Putih, karena untuk melewati portal Dimensi antar Dunia, harus pada tingkat di atas tingkat kultivasi Kaisar Dewa.
Namun perbuatannya, disalah artikan oleh Kui Lok Mo, juniornya, apalagi dengan adanya Han Cui Eng, yang membawa Inti Energi Merah Murni, kecurigaan Kui Lok Mo terhadap Thian Han Ong semakin kuat, bahwa kakaknya ingin menguasai seluruh energi Dunia Merah Biru ini untuk dirinya sendiri.
Sementara perseteruan antara Kui Lok Mo dan Thian Han Ong makin meruncing, Bu Ling Moy menjadi bosan sebagai penengah, dan dia pun akhirnya membiarkan persaingan dan perseteruan dua kakaknya, dan dia sendiri mulai berkultivasi saat menemukan sebuah benua yang memiliki sedikit energi yang mirip dengan Energi seperti Dunia Kabut Putih.
Dan yang dimaksud adalah Benua Ketiga, dia pun akhirnya meninggalkan kakak-kakak seniornya dan berkultivasi di Benua Ketiga itu.
”Eng, kau kini telah mengerti kebenarannya, bahwa kami sebenarnya berasal dari dimensi Dunia lain yang bernama Dunia Kabut Putih, baru aku sadari juga, bahwa istriku Han Cui Eng memiliki konstitusi tubuh istimewa, ketika seluruh Energi Dunia ini terpusat di Benua Thian Agung, kecepatan kultivasi dirinya bergerak sangat cepat mendahului diriku bahkan kekuatannya dapat disembunyikan dariku, dan memang Inti Energi Merah Murni itu ada pada dirinya, namun sudah disembunyikannya dengan rapih, dan aku tidak tahu dimana letaknya.
Pernah suatu ketika, aku memaksanya dengan segala kekuatanku, dengan maksud untuk kuberikan pada juniorku Kui Lok Mo, namun dengan mudah aku dikalahkannya, dan dia tidak membunuhku, mengingat kami saat itu sudah memiliki putra bernama Thian Han Jie, dan celakanya, putra kami itu sangat membenci diriku, sampai dia membuang marga Thian, dia ingin meneruskan Klan Han dari ibunya”, kata Thian Han Ong.
Han Eng mengerutkan keningnya sedikit, dia tidak setuju atas perbuatan gurunya pada istrinya sendiri.
”Eng, aku tahu kaupun sangat membenci tindakan diriku saat itu, hmm…, kau tahu, aku pun baru menyadari sekarang ini, tindakan itu memalukan seumur hidupku, dan ternyata Han Cui Eng pun berasal dari Dimensi Dunia lain, aku tidak tahu nama Dunianya, dan kemungkinan besar dia telah kembali ke dunianya, namun sebelum dia pergi, dia bersama putra kami membentuk klan Han, dan sebagian Klan Han ada yang ditempatkan di perbatasan dengan Hutan Kabut Putih, di Benua Chong Yang,yang kami anggap benua buangan.
Baru kutahu bahwa penempatan itu memiliki maksud tertentu, apakah kau tahu?”, Thian Han Ong bertanya pada Han Eng.
Han Eng tersentak dengan pertanyaan gurunya,
”Guru, aku tidak mengerti, sekalipun aku berasal dari tempat itu”, kata Han Eng.
Thian Han Ong menatap lembut Han Eng,
”Eng, kamu tidak asing dengan Danau Merah Misterius, di dalam Hutan Kabut Putih, apakah kau ingat pemuda bernama Han Long?, melihat dia saat melawan Kui Lok Mo, terjawablah teka-teki yang menghantui diriku selama ini”, kata Thian Han Ong.
Han Eng semakin bingung dengan pernyataan gurunya Thian Han Ong, matanya semakin terpana, tanda semakin tidak mengerti, Thian Han Ong melanjutkan ucapannya,
”Klan Han ditempatkan di Benua Chong Yang, semata-mata untuk mengawasi orang-orang yang hendak memasuki Hutan Kabut Putih, dimana terdapat Danau Merah Misterius, karena di dasar danau itulah, istriku Han Cui Eng, menyimpan Inti Energi Merah Murni, dan ternyata dasar danau itu menembus ke ‘dimensi dunia bawah’ Benua Thian Agung, dan pemuda Han Long itu telah mengasimilasikan energi tersebut dengan dirinya, kau dan Han Long adalah keturunan terpilih dari aku dan istriku Han Cui Eng, aku tahu kau sangat memperhatikan Han Long, dan hanya kau yang dapat mendekatinya demi kepentingan dunia ini agar nanti kau dapat menghilangkan kesalah pahaman diantara kami, aku akan membantu mewujudkan hal itu, mendekatlah Eng”, kata Thian Han Ong pada Han Eng.
Han Eng mendekati posisi gurunya, saat dia duduk kembali tiba-tiba tubuhnya menjadi lemah tidak berdaya,
”Eng, jangan melawan, terimalah, dan lakukan kultivasi ditempat ini, aku telah melarang siapapun mendekati tempat ini”, kata Thian Han Ong melalui kontak jiwa.
Tusss…, Tusss…, Tusss…!!!
Beberapa titik akupuntur diketuk oleh Thian Han Ong pada tubuh Han Eng bahkan sampai pada ubun-ubun, dimana bagian yang paling beresiko pada tubuh manusia karena akan menimbulkan kematian cepat, tapi di tangan seorang ahli Kaisar Dewa malah digunakan untuk mentransfer kekuatan pada ahli warisnya, dan Han Eng merasakan sebuah energi yang meluncur pada dirinya, dan hal ini berlangsung selama berhari-hari.
Dengan posisi Thian Han Ong berada di belakang Han Eng.
Ketika kekuatan Han Eng, kembali, Thian Han Ong menotok bagian titik akupuntur di tubuh Han Eng kembali dan Han Eng kembali lemah, Han Eng merasakan kembali aliran energi yang semakin hebat, membanjiri dirinya dengan deras.
Dan transfer energi itu memerlukan waktu berbulan-bulan kembali, hal ini hingga berlangsung selama setahun lebih.
Suara lembut gurunya bergema di dalam pikiran Han Eng,
”Eng, berkultivasi disini, dan konsolidasikan kekuatanmu yang baru, di dalam pikiranmu telah kutanam teknik beladiri kategori Dewa kelas Sempurna, berlatihlah !!!,
tidak usah kau memikirkan diriku, jangan kau melihat kebelakang, aku akan menjadi debu dan melayang ke angkasa, selamat tinggal cucu buyutku”, kata Thian Han Ong lembut,
Dan saat itu tubuh Thian Han Ong memudar bagai debu, dan melayang ke udara serta menghilang, dia telah mewariskan kekuatan dan energinya pada Han Eng tanpa tersisa bagi dirinya.
Dengan air mata bercucuran, Han Eng merasakan melalui persepsi jiwanya, bahwa guru yang sangat dihormatinya, kini telah tiada, gurunya harus mengorbankan dirinya sendiri untuk dapat menebus kesalahan masa lalu.
Han Eng menuruti semua instruksi dari gurunya, dan tidak pernah beranjak dari altar bekas gurunya, ketika dia mengerahkan energi kultivasinya, maka tubuh Han Eng menyedot energi dunia dengan kecepatan tiga kali dari sebelumnya.
Dengan konstitusi tubuh ciri khas klan Han keturunan asli dari Han Cui Eng, Han Eng merasakan peningkatan yang berturut-turut pada kekuatan tubuhnya, dan tingkat kultivasinya melesat dengan kecepatan yang mencengangkan.
Doummm…., doummm…, doummm…!!!
Ledakan di dalam tubuh Han Eng, berturut-turut bereaksi, setahun berikutnya dia berkultivasi, kini Han Eng telah mencapai tingkat kultivasi Raja Dewa ke-9 Lanjutan.
Dalam benak Han Eng, tergambar semua teknik beladiri yang pernah dia pelajari, baik dari klam Han sewaktu masih di Benua Chong Yang, dalam lukisan acak di Kerajaan Chong Yang dan semua teknik yang diberikan tuannya Thian Sian Li dan terakhir adalah teknik yang diberikan oleh gurunya sewaktu di Manor Langit.
Dengan kecerdasannya, Han Eng merangkai semua Teknik itu, dia berusaha menciptakan Teknik ciri khasnya, maka terciptalah sebuah teknik beladiri yang ditunjang oleh konstitusi kekuatan tubuhnya yang diberi nama ‘Teknik Beladiri Bahana Langit Mengamuk’, yang tanpa disadarinya, teknik ini adalah teknik kategori Mustahil kelas Lanjutan, karena teknik ini dipadukan pula oleh teknik yang diberikan oleh Thian Han Ong yang ditanam dalam benaknya.
Han Eng terus menyempurnakan teknik beladiri miliknya, dan tanpa terasa dua tahun lagi berlalu, sudah empat tahun Han Eng berkultivasi dan berlatih di puncak gunung klan Thian, tempat terlarang dan suci bagi klan Thian, dia tidak memperdulikan apa yang terjadi di bawah gunung.
Di markas Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, Thian Sian Li dan para anggota Dewan merasakan perubahan energi di benua, mereka melalui persepsi jiwa, merasakan bahwa ada sesuatu yang dahsyat terjadi di puncak gunung klan Thian selama empat tahun terakhir, tapi mereka takut untuk memeriksa perubahan itu, karena tempat itu adalah tempat Thian Han Ong pribadi, mereka hanya bisa menunggu.
Empat tahun sebelumnya di Sekte Guntur, Bu Chen Tiong atau Han Chen Tiong remaja 13 tahun, meminta izin pada ibunya Bu Mei Ling untuk mengunjungi ayahnya Han Chen Yang di Lembah Tengkorak, dia hanya ingin melihat ayahnya di luar labirin, dia yakin ayahnya akan menemuinya.
Bu Mei Ling mengizinkan anaknya, tapi dia akan turut mendampinginya, namun waktunya belum ada karena kesibukan akan adanya ancaman dari Benua Merah, dan hal itu membuat Han Chen Yang tidak sabar, tanpa didampingi oleh ibunya, Han Chen Yang pergi tapi dia ternyata ditemani oleh kakak seniornya An In Mey, yang juga merasa kesepian karena kedua saudaranya ikut misi penyusupan ke Benua Merah.
”Adik Tiong, apakah kau yakin, karena tempat itu sangat mengerikan”, kata An In Mey mengingatkan.
”Kakak senior tenanglah, aku akan memanggil ayah di luar Lembah itu”, kata Han Chen Tiong dalam perjalanan mereka berdua.
Tingkat yang dimiliki keduanya sudah mencapai Tingkat Manusia Dewa ke-3 Lanjutan, sekalipun Han Chen Tiong lebih muda delapan tahun dari An In Mey namun konstitusi tubuh Han Chen Tiong mungkinkannya menyusul tingkat An In Mey karena dalam diri Han Chen Tiong ada warisan ciri unik tubuh klan Han.
Han Chen Tiong dan An In Mey telah tiba di sebuah hutan sebuah gunung, yang menjadi perbatasan Lembah Tengkorak.
Rangkaian pegunungan ini mengelilingi sebuah lekukan daratan yang merupakan lembah besar dimana diTiong luar lembah ini ditutupi semacam formasi istimewa yang membentuk dinding asap putih yang sangat tebal.
”Ayaaahhhh…!!!, aku Chen Tiong anakmu…!!!”, teriak Han Chen Tiong dengan mengerahkan segenap kekuatannya.
Dia dan An In Mey menunggu balasan dari dalam lembah, dan menunggu beberapa waktu, Han Chen Tiong akan melakukan teriakannya kembali, hal itu berlangsung hingga tiga hari, namun tidak ada respon dari dalam lembah.
Hal ini mengundang kecurigaan Han Chen Tiong dan An In Mey, keduanya belum berani melangkah masuk karena tahu bahaya tentang dinding formasi ini.
Karena kecemasan Han Chen Tiong terhadap ayahnya, dia mendekati formasi dinding itu, ketika berusaha menyentuh dinding formasi tersebut melalui ujung jarinya,
Rrrrrr…., Duaarrr !!!
”Adik Tiong … aaahhh…!!!”, teriak An In Mey, memperingati Han Chen Tiong.
Tubuh Han Chen Tiong terpental ke belakang menabrak sebuah pohon raksasa di belakangnya, dan pohon besar itu pun hancur dengan batang setebal satu meteran hancur menjadi serpihan kayu bakar, dari mulut lelaki remaja itu mengalir darah merah segar.
An In Mey memburu Han Chen Tiong, dia menyibakkan reruntuhan kayu yang menutupi seluruh tubuh Han Chen Tiong, setelah ditemukan, An In Mey memeluk tubuh pemuda remaja itu, dan mengangkatnya untuk dibawa ketempat tanah datar.
Tidak lama kemudian setelah penyaluran energi dari An In Mey, Han Chen Tiong sadar dari pingsannya.
”Uhugh, terima kasih kakak cantik”, kata Han Chen Tiong.
An In Mey sedang mengatur pernafasannya,
”Lain kali, saat kau mau melakukan tindakan itu bilang dulu padaku”, kata An In Mey sambil cemberut, wajah cantik gadis itu malah semakin menarik saat bibirnya cemberut, kini usia An In Mey menginjak usia 21 tahun.
”Aih kakak semakin cantik kalau cemberut seperti itu”, kata Han Chen Tiong menggoda.
”Bersihkan dulu darahmu, anak sepertimu memang konyol di usia seperti ini”, kata An In Mey, namun ucapan Han Chen Tiong mempengaruhi hatinya, karena wajahnya muncul rona memerah.
Han Chen Tiong menuruti apa yang diucapkan oleh An In Mey, dengan kedua tangannya dia darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.
Mata Han Chen Tiong menatap pada batas dinding labirin Lembah Tengkorak, tiba-tiba suatu keanehan terjadi, sedikit darah di tangan Han Chen Tiong melayang dan menempel pada dinding formasi itu.
Baik Han Chen Tiong dan An In Mey memperhatikan kejadian itu, mereka berdua saling menatap keheranan, dan sebuah ide di benak Han Chen Tiong keluar,
”Apakah darahku ada hubungannya dengan Lembah Tengkorak, karena ketika itu, ibu menikahi ayahku saat ayah terbebas dari Lembah ini”, gumam Han Chen Tiong.
An In Mey berdiri, lalu katanya,
”Adik Tiong, darah anehmu ini ada hubungan dengan lembah ini, bisakah kau melukai tanganmu dan lihat apakah ada sesuatu yang terjadi”, katanya.
”Tanpa kakak katakan, sebelumnya aku ada ide seperti itu”, jawab Han Chen Tiong.
Dia pun mengeluarkan sedikit darahnya dari ujung jari, dan darah itu mengalir keluar, darah itu dengan cepat mengarah ke dinding formasi, namun darah dari jari Han Chen Tiong terus mengalir, hal ini sangat mengejutkan dirinya, An In Mey yang melihat perubahan wajah pada adik juniornya pun terkejut, dia menghampiri Han Chen Tiong dan menotok tubuh adik juniornya, berusaha menghentikan darah yang keluar dari jari itu, namun darah itu tetap keluar seperti seutas benang yang melayang di udara menempel pada dinding labirin, dan dinding itu seperti terkena korosi, darah Han Chen Tiong seperti menerobos dan mengebor tebalnya dinding formasi.
”Aaahhhkk…, kalau begini aku akan kehabisan darah dalam tubuhku”, keluh Han Chen Tiong.
”Adik Tiong, lihat dinding formasi itu membuat lorong kedalam Lembah”, kata An In Mey.
Han Chen Tiong berdiri dan mengikuti ke arah lorong yang dibuat oleh darahnya yang tetap mengalir dari ujung jarinya, darah yang tadi ditahannya sekarang malah didorong oleh Han Chen Tiong agar lorong itu semakin besar untuk dilalui oleh dirinya.
”Adik Tiong, apakah kau bermaksud masuk ke dalam lembah?”, tanya An In Mey.
”Ya, aku memiliki ide bahwa tubuh dan darahku adalah milik lembah ini”, jawab Han Chen Tiong.
”Kakak, maukah kau menungguku disini?, karena lembah ini sangat berbahaya bagi dirimu”, kata Han Chen Tiong kembali.
”Tidak bisa dan aku tidak mau, ayahmu adalah guruku, dan aku memiliki teknik dari ayahmu, sedikitnya aku tahu tentang energi di lembah ini”, kata An In Mey keras kepala.
Han Chen Tiong tidak berucap lagi, karena dia tahu bahwa kakak seniornya memiliki cara berpikir yang unik, apa yang tidak diduga oleh orang lain, justru itu yang terjadi akibat sensitivitas dalam dirinya sangat tinggi, semacam indera ke enam.
Keduanya memasuki Lembah Tengkorak melalui lorong yang dibuat oleh darah Han Chen Tiong, dan dihadapan mereka tampaklah sebuah lingkungan yang aneh, lingkungan ini sangat suram, sinar matahari seperti susah masuk menembus di ke dalam lembah.
Langit lembah disini pun berwarna merah dan biru, dimana membentuk untaian asap yang melayang-layang di udara.
Han Chen Tiong dan An In Mey melangkah selangkah demi selangkah karena tekanan energi di lembah ini sangat kuat, keduanya berusaha menyesuaikan tubuh mereka akan energi yang tersebar di udara sangat berat, sebenarnya bagi Han Chen Tiong tidak berpengaruh sama sekali hanya saja melihat raut wajah An In Mey yang terlihat berubah seperti ada beban yang sangat berat menekan tubuhnya, maka Han Chen Tiong tidak mau meninggalkan kakak seniornya itu.
Han Chen Tiong justru merasakan sesuatu yang nyaman di lembah ini, dia merasa tubuhnya sangat ringan, dan bertenaga.
Mereka menyusuri lembah Tengkorak ini dengan sangat hati-hati, dulu Han Chen Yang memasuki lembah ini harus berhadapan dengan binatang mistik yang berjumlah ribuan namun sekarang saat Han Chen Tiong memasuki Lembah Tengkorak ini, para binatang tersebut seperti menghindari keduanya terutama pada bau tubuh Han Chen Tiong.
Jika hal ini diketahui oleh Han Chen Yang, dia akan memaklumi satu hal, bahwa di tubuh putranya ada energi menakutkan, seperti miliknya dan mungkin tubuh Han Chen Tiong melebihi kekuatan energi pada tubuhnya karena disaat dia berkultivasi ganda dengan Bu Ling Moy, saat itulah puncak pengaruh energi itu melanda dirinya sehingga rahim Bu Ling Moy sebagian besar karena pengaruh energi tersebut yang sudah berasimilasi dalam darahnya.
Berbeda pengaruh energi di lembah ini dengan An In Mey, sekalipun dia memiliki teknik warisan Han Chen Yang, tapi itu hanya teknik pengoperasian di luar tubuhnya, darahnya belum berasimilasi dengan energi Merah dan Biru di lembah ini, maka berulang kali An In Mey mengerahkan teknik kultivasi ajaran Han Chen Yang hanya sebagai pencegahan atas racun yang melingkupi lembah ini.
Tanpa disadari mereka berdua telah berjalan ke arah inti lembah dimana terdapat jurang retakan sumber dua energi merah dan biru.
”Geerrrrr…., siapa kalian?, cepat pergi dari tempat terkutuk ini!”, teriak sesosok tubuh tinggi manusia, dengan rambut yang menutupi sebagian wajah pria ini, yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka berdua.
”Ayah !, ini aku Chen Tiong”, seru Han Chen Tiong pada sosok manusia tersebut.
”Aku tidak mengenal kalian, cepat keluar dari tempat ini, aku berusaha menahan tubuhku, kalau tidak kalian akan terbunuh olehku”, jawab orang itu.
”Guru ini aku, Duan In Mey dan atas kehendakmu aku dan kakak-kakakku merubah menjadi An In Mey, ingatlah !, dan dia adalah putramu Bu Chen Tiong atau Han Chen Tiong”, kata An In mengingatkan pada Han Chen Tiong, yang saat ini terlihat kacau, dua bola matanya berwarna biru di kiri dan di kanannya berwarna merah, demikian juga kulit di wajahnya terbagi dua warna.
Han Chen Tiong mendengar ucapan putra dan muridnya namun dia tidak berkuasa atas pikirannya,
”Kalian cepat pergi dari tempat ini, ayo cepat…!!!, aku akan mengamuk dan terpaksa membunuh kalian, cepat pergi…!!!, aku sebentar lagi dalam penguasaan energi terkutuk ini, aaaahhhhh…!!!”, kata Han Chen Yang, terlihat dari raut wajahnya yang aneh dia berusaha menguasai pikirannya.
Melihat kondisi ayahnya, Han Chen Tiong tahu bahaya, dia meraih tangan An In Mey, dan melompat jauh menghindari ayahnya, namun nafas An In Mey berubah, nafasnya jadi tersengal-sengal akibat energi racun yang merasuki tubuhnya, karena kemunculan yang tiba-tiba dari Han Chen Yang mengganggu proses pengerahan energi kultivasinya, walau sejenak, tapi itu sudah cukup mempengaruhinya.
Dengan susah payah, Han Chen Tiong berusaha menyeret tubuh An In Mey menjauhi tempat ayahnya,
Aaaarrrrgggghhhh….!!!
Teriakan menggelegar memenuhi udara Lembah Tengkorak, teriakan itu dari Han Chen Yang.
Banyak hewan-hewan mistik bersembunyi, karena bagi mereka teriakan ini sangat menakutkan, sudah banyak korban keganasan Han Chen Yang yang membunuh hewan-hewan ini, dan perubahan ini sudah berlangsung hampir setahun terakhir, kondisi Han Chen Yang setiap bulan berubah seperti sekarang ini.