Han Chen Tiong berlari dan melompati setiap jurang-jurang kecil dengan memangku tubuh An In Mey pada kedua tangannya.
Dan An In Mey sendiri semakin repot dan kepayahan dengan energi racun yang mulai mempengaruhi tubuhnya, dia merasakan energi itu sedikit demi sedikit mempengaruhi jalan pikirannya,
”Adik Tiong kita harus mencari tempat persembunyian yang tenang, agar aku dapat mengendalikan energi dalam tubuhku”, kata An In Mey dengan nafas terengah-engah.
Han Chen Tiong melihat wajah kakak seniornya,
”Kakak, aku sendiri berusaha untuk keluar dari Lembah ini, namun tubuhku seperti tertarik semakin dalam di lembah ini, aku seperti berputar-putar dalam lembah ini”, kata Han Chen Tiong.
”Aku melihat sebuah tempat ketika kita melompati sebuah jurang, kita kembali ke jurang itu”, kata An In Mey.
”Kalau kita kembali, ayah dalam kondisi diluar kendalinya, aku takut dia dapat menyusul kita lalu membunuh kita diluar kesadarannya”, kata Han Chen Tiong dengan wajah khawatir.
Keduanya terus berlari, dan arah yang ditempuh oleh Han Chen Tiong dengan memangku tubuh An In Mey, justru mengarah pada jurang besar di kedalaman Lembah Tengkorak.
Han Chen Tiong berhenti di bibir jurang, dengan mata terbelalak, dihadapannya terbentang jurang yang sangat lebar dan gelap, sekalipun dia dapat melayang terbang, tapi bibir di seberang jurang tidak terlihat.
Tiba-tiba sesosok tubuh melesat dengan kuat dan sangat cepat ke arah tubuh Han Chen Tiong,
Aaaarrrggghhhh….!!!
Deessshhh…!!!
Sebuah pukulan keras melanda punggung Han Chen Tiong tanpa dapat ditahan, dua sosok tubuh, Han Chen Tiong dan An In Mey terpental jatuh ke dalam jurang, meluncur dengan cepat, dan di bibir jurang tempat Han Chen Tiong menggendong An In Mey digantikan sosok lain, sosok pria dengan rambut riap-riapan, mulutnya menyeringai ganas, tapi di kedua bola matanya yang berbeda warna, bercucuran air mata,
”Putraku…, muridku…. Aaahhh, apa yang kulakukan?, mengapa jadi begini?, tidaaaaakkkk…!!!, aku akan menyelamatkan, aku harus menolong kalian !!!...”,
jerit histeris dari Han Chen Yang menggelegar memenuhi udara Lembah Tengkorak ini,
dan sesaat kemudian tubuh Han Chen Yang, terjun meluncur ke dalam Jurang mengikuti tubuh Han Chen Tiong dan An In Mey.
Tragedi di Lembah Tengkorak tidak diketahui oleh siapapun, kini lembah beracun itu kembali sunyi, dan sebagian hewan mistik beracun, berani menunjukkan dirinya kembali, untuk bertarung dengan binatang lainnya demi hidup mereka.
……………………………………………………………………………………………………………
Beberapa tim penyusup Benua Thian Agung berhasil masuk ke Benua Merah, beberapa pasang tim sudah berbaur dengan warga kota dalam tanah di Benua Merah, dengan segala atribut penyamaran yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Tim Yap Kun Tek bersama Phang Cui Lin dan Coa Leng In, telah membuka sebuah toko di sebuah tempat yang tidak begitu ramai, mereka berhasil masuk menggunakan jaringan dari kelompok Naga Angkasa.
Saat ini Coa Leng In menjadi seorang gadis yang dikenal akan kecantikannya, sekalipun toko mereka berdiri di tempat sunyi namun banyak pemuda yang berusaha mendatangi akan toko kecil ini.
Sebetulnya bukan hanya Coa Leng In saja yang menjadi daya tarik toko tersebut, namun istri dari saudagar ini pun tidak kalah cantiknya.
Toko ini akan membeli dengan harga lebih mahal setiap komoditi buah Obsidian Merah, dibandingkan toko lain yang serupa, dengan buah ini kultivasi Coa Leng In merangkak naik, namun semua kekuatan yang dimilikinya disembunyikan dengan sangat rapi.
Kecantikan Coa Leng In dan Phang Cui Lin, serta pembelian buah Obsidian Merah dengan harga mahal, terdengar juga oleh markas pusat Benua Merah, sebagian Pejabat Menengah di markas itu pernah melihat kecantikan dua wanita tersebut.
Cui Man Ek dan Meng Li adalah pejabat Menengah di Istana Merah, Cui Man Ek sudah gatal untuk mendatangi toko kecil tersebut, namun keinginannya akan surut melihat sorot mata Meng Li, saat ini Meng Li telah memiliki seorang putra, dia tidak tahu siapa ayah dari putranya, apakah Coa Kun atau Cui Man Ek.
Tetapi karena sekarang Cui Man Ek sudah menjadi pasangannya maka putra ini diberi nama Cui Kun.
Cui Kun berusia tiga tahunan, dia lahir di tengah ganasnya energi Benua Merah, maka dapat terlihat bahwa anak ini memiliki ciri yang sama sebagai anak Ras Iblis, sekalipun tingkat kultivasinya telah berada di tingkat Manusia Suci.
Meng Li dan Cui Man Ek telah memasuki tingkat Manusia Dewa, teknik kultivasi ganda yang diajarkan oleh Coa Kun, membuat mereka berdua mengalami percepatan kenaikan tingkat kultivasi dengan segera.
Sementara itu, Coa Kun di dalam istananya memanggil Kui Lok dan Hao Sin Tek,
”Salah satu dari kalian kutugaskan untuk mendatangi sebuah toko kecil yang kutunjukan sebentar lagi, aku menaruh curiga, karena salah satu dari pemilik toko itu tidak asing bagiku”, kata Coa Kun.
”Apakah maksud Yang Mulia adalah toko yang jadi perbincangan antara pejabat istana?”, tanya Kui Lok.
”Ya, dan itu menggangguku, dengan persepsi jiwaku, salah satu pemilik toko itu tidak asing bagiku, sebaiknya engkau Kui Lok segera selidiki, ah…, tidak perlu selidiki lagi, tangkap kedua wanita itu dan segera hadapkan kepadaku secepatnya”, perintah Coa Kun pada Kui Lok.
”Segera Yang Mulia”, jawab Kui Lok, dia pun keluar dari ruangan itu.
Sementara itu di pagi hari, Yap Kun Tek merasa gelisah, dia menyadari sesuatu akan terjadi, dia pun memanggil Phang Cui Lin dan Coa Leng In,
”Aku merasa sesuatu akan terjadi menimpa kita, apa yang kalian rasakan?”, kata Yap Kun Tek pada dua wanita cantik di hadapannya.
”Leluhur aku pun merasakan gelisah di hatiku”, kata Coa Leng In.
”Sepertinya, kecurigaanku tidak jauh berbeda dengan kalian”, kata Phang Cui Lin.
”Sebaiknya kita ambil tindakan, cepat berkemas, kita harus segera keluar dari Benua Merah”, kata Yap Kun Tek dengan wajah khawatir.
”Ha ha ha…,kalian mau kemana?, Yang Mulia Coa Kun mengundang kalian bertiga untuk menghadap, ha ha ha…, ternyata engkau Kun Tek, ada hal apa di Benua Merah sehingga engkau berlelah-lelah menyamar di benua ini, bukankah engkau merasa nyaman sebagai Penguasa Benua Khui Ning”, suara itu datang dari luar toko mereka, dan ini sangat mengejutkan ketiga orang di dalamnya.
”Terlambat”, ucapan ini dikeluarkan dari mulut Yap Kun Tek, karena dia mengenal suara ini, suara Kui Lok.
Ketiganya serentak keluar dan segera bunyi letusan di tubuh masing-masing meledak, baik Yap Kun Tek, Phang Cui Lin dan Coa Leng In, tidak menahan lagi kekuatan mereka, energi kekuatan kultivasi mereka langsung meletus, udara di sekitar mereka langsung berubah.
”Kalian para semut, mau bertingkah di hadapanku, baiklah, terimalah ini…!!!”, kata Kui Lok sambil dia mengerahkan energi kultivasinya, tangannya melambai ke udara, dan udara pun berubah semakin berat, menekan Yap Kun Tek, Phang Cui Lin dan Coa Leng In.
Ketiga orang ini, memutar energi kekuatan mereka lebih dahsyat, maka
Doummm…, doummm…, doummm…!!!
Ketiganya siap melawan,
”Leng In pergilah, biar kami yang menahan serangan orang ini”, kata Phang Cui Lin.
”Benar Leng In, carilah bantuan, mungkin ini kesempatan kita semua”, kata Yap Kun Tek melalui kontak jiwa.
percuma saja pembicaraan melalui kontak jiwa di hadapan seorang kultivator setingkat Kui Lok yang sudah mencapai Tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak,
”He he he…, tidak semudah itu, justru gadis itu yang dikehendaki oleh Yang Mulia”, kata Kui Lok, menanggapi pembicaraan diantara mereka bertiga karena tingkat kultivasi miliknya lebih tinggi.
Baik Phang Cui Lin maupun Yap Kun Tek segera mengerahkan teknik beladiri unggulan mereka, dan terlihat dua sinar cahaya milik Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek meluncur dengan deras ke arah Kui Lok.
Kui Lok hanya tersenyum melihat dua energi yang menerjang pada dirinya, dia mengerahkan teknik miliknya, maka energi merah keluar dari tubuhnya, dengan gerakan ringan, tangannya melambai ke udara, dia ingin mempermainkan mangsa di depannya
Duuaaarrrr…!!!
Secara mengejutkan tubuh Kui Lok terpental ke belakang, ada rasa manis di mulutnya, darah menetes keluar dari bibirnya, dia ceroboh, menganggap ringan dua serangan kultivator yang jauh dibawahnya, dia tidak menyangka bahwa keduanya memiliki teknik beladiri tingkat tinggi, disinilah kesalahannya.
Sebaliknya tubuh Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin terpental ke belakang sangat deras, apalagi tubuh Phang Cui Lin, karena tingkat kultivasinya jauh dibawah Kui Lok,
beruntung Kui Lok ceroboh, namun tetap saja dia menerima luka yang cukup parah.
Coa Leng In memburu ke tubuh Phang Cui Lin, hendak menolongnya,
”Kau segera pergi !, jangan hiraukan aku, cepat!, kalau tidak usaha kami akan sia-sia”, kata Phang Cui Lin dengan nafas terengah-engah dan darah mengalir dari sisi bibirnya.
Coa Leng In kebingungan, dia dilema,
”Leng In cepat pergi, kabarkan pada yang lain, cepat pergi”, kata Yap Kun Tek.
Dengan mengeraskan hati Coa Leng In melompat ke udara, hendak meninggalkan arena, namun hal itu tidak lepas dari perhatian Kui Lok,
“Mau kemana engkau pergi, terimalah ini !!”, segera seberkas sinar merah pekat melesat ke arah Coa Leng In, melihat situasi itu, Yap Kun Tek membulatkan tekadnya, dia melompat sambil mengerahkan kekuatan terakhir miliknya, berusaha menghalangi energi merah pekat yang dikeluarkan oleh Kui Lok,
Duuarrrrrr….. !!!
“Leluhur…., Tiiidaaaakkkkkk…..!!!”, jerit Coa Leng In, dia hendak memburu ke arah jatuhnya tubuh Yap Kun Tek, tapi tertahan, terlihat Phang Cui Lin dengan kekuatan terakhirnya malah menangkap tubuh Coa Leng In dan melemparkan sekuatnya ke arah berlawanan dari posisi berdiri Kui Lok, maka tubuh Coa Leng In terlempar sangat jauh, dia tidak menyangka Phang Cui Lin akan mengerahkan seluruh kekuatannya dan melemparkan dirinya sedemikian kuat.
Seketika tubuh Yap Kun Tek terhempas bagai sebatang balok yang dilemparkan dengan kekuatan penuh meluncur deras ratusan meter dan menabrak sebuah bangunan hingga bangunan itu hancur dan puing-puingnya mengubur tubuh Yap Kun Tek.
Phang Cui Lin menatap tajam ke arah Kui Lok, dan Kui Lok sempat terpana akan perbuatan Phang Cui Lin, dia hendak mengejar Coa Leng In, tapi Phang Cui Lin menghalangi gerakannya.
“Hmmm…., akan kutunda sejenak untuk mengejar wanita itu, aku akan membawamu terlebih dahulu”, kata Kui Lok, dia menggerakkan tangannya, maka ada energi yang meluncur pada tubuh Phang Cui Lin, dan seketika itu juga Phang Cui Lin langsung lemah tidak berdaya, dengan segera tubuh Phang Cui Lin melayang mengikuti jalan pikiran Kui Lok yang akan membawanya ke Istana Merah.
Keributan itu membuat warga sekitarnya sedikit terkejut, karena pertarungan yang terjadi walau hanya sebentar, namun kerusakan yang terjadi sangat parah, beberapa hunian di sekitarnya runtuh berkeping-keping.
Namun pertarungan seperti itu sudah menjadi hal biasa di benua Merah, dan warga kota dalam tanah kembali pada kesibukan masing-masing, karena mereka semua menyadari bahwa yang melakukan pertarungan, salah satunya adalah anggota Putra Merah dengan kedudukan Tinggi dari Istana Merah.
Kesibukan warga kota itu dimanfaatkan oleh seseorang untuk menyelinap ke arah puing-puing yang mengubur tubuh Yap Kun Tek, dan tidak lama kemudian seorang wanita setengah tua mendampingi orang tersebut, dengan langkah wajar tanpa menimbulkan kecurigaan, pasangan setengah tua ini membongkar puing-puing tersebut.
Pasangan ini segera mengeluarkan tubuh Yap Kun Tek, ada kesedihan di wajah wanita setengah tua ini, namun dia berusaha tegar dan tidak berani menampilkan kesedihan itu di depan lelaki yang mendampinginya, keduanya segera membungkus tubuh Yap Kun Tek dengan sehelai kain panjang, yang dikeluarkan oleh lelaki itu yang diambil dari kantong langitnya.
Dengan gerakan wajar keduanya pergi membawa tubuh Yap Kun Tek, dan keluar dari kota itu, menuju sebuah hunian sebuah Goa yang sangat terpencil.
Di mulut Goa sudah menanti sepasang Pria dan wanita yang sedang disibukan menggali tanah, seperti orang-orang lain warga Benua Merah dalam mencari komoditi Buah Obsidian Merah.
“Saudara Wo, aku menitipkan tubuh orang ini, mungkin dia masih ada harapan untuk dapat diselamatkan”, Kata wanita setengah tua itu pada pria yang tadinya disibukkan dalam penggalian.
Sang pria itu menoleh pada wanita setengah tua tadi, dia hanya mengangguk dan memberi isyarat pada pasangan wanitanya yang berpakaian lusuh sebagai penggali juga.
“Saudari Ing, siapakah dia?”, kata wanita itu pada wanita setengah tua yang dipanggil Ing.
Yang menjawab justru pria disebelah wanita setengah tua itu,
“Adik Ling, dia leluhur saudari Ing, kami akan segera pergi lagi, putrinya pergi, aku akan mendampinginya untuk mengejarnya”, jawab pria setengah tua itu.
Mendengar hal itu, si Pria yang tadi sibuk menggali, menyambut tubuh Yap Kun Tek untuk segera masuk dalam goa tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Setelah itu, pasangan pria dan wanita setengah tua pamit, pasangan itu mengerahkan energi kultivasinya dan melompat dengan kecepatan tinggi lalu bergerak meninggalkan goa tersebut.
Coa Leng In dengan bercucuran air mata meninggalkan tempat pertempuran, di dalam hatinya sangat kacau bercampur aduk, antara melawan atau meninggalkan tubuh leluhur dan kawan timnya dalam kelemahan melawan keperkasaan musuh yang jauh diatas kekuatan mereka.
“Leluhur maafkan aku, maafkan kelemahanku, saudari Cui Lin, aku akan kembali, aku akan membalas jika terjadi sesuatu pada dirimu, akan ku timpakan tiga kali lipat pada orang yang membuatmu menderita”, gumam Coa Leng In di dalam hatinya.
Kini muncul resolusi, dia harus tumbuh lebih kuat dan akan kembali membantai musuh-musuh yang berani menyakiti orang yang disayanginya.
Coa Leng In terus berlari tanpa tujuan, satu hal yang diingatnya adalah jangan sampai dia muncul di permukaan tanah, karena kematian menantinya, dia harus tetap hidup dan membalas semua ini.
Suatu ketika, Coa Leng In, tanpa disadari sampai pada daerah yang bersuhu sangat panas, dia melihat sekelilingnya, ternyata dirinya dikelilingi oleh sungai lahar yang amat panas, kini dimana dia memandang, hamparan magma mengitari tempat dia berdiri, rupanya dia telah tiba di sebuah tempat yang merupakan perut gunung berapi.
Persepsi Jiwa Coa Leng In dikerahkan, dia memindai area itu, dimana-mana hanya ada magma gunung berapi yang mengeluarkan uap panas, namun dia gembira juga, karena diatas langit-langit goa itu bergelantungan buah-buah Obsidian Merah, selama ini dia hanya melihat Buah Obsidian Merah seukuran jempol orang dewasa, namun disini ukuran buah obsidian Merah lebih besar, bahkan ada yang seukuran kepalan tangan orang dewasa, dengan persepsi jiwanya dia memetik buah-buah itu, maka berjatuhanlah buah-buah itu dengan deras.
Coa Leng In dengan gesit menangkap buah-buah itu, dia sengaja memilih beberapa buah yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.
“Aku mohon, berilah beberapa buah itu…, aku mohon..”, sebuah suara tua dan lemah terdengar oleh telinga Coa Leng In.
Coa Leng In celingukan mencari sumber suara itu, dia mengerahkan persepsi jiwanya lebih besar dan memindai area itu, dalam benaknya ada seonggok benda yang bergerak sangat lemah, dengan hati-hati Coa Leng In melangkah ke arah benda itu dan kekuatan persepsi jiwanya ditambah semakin kuat.
Betapa terkejutnya Coa Leng In setelah sampai pada benda tersebut, ternyata itu adalah sesosok tubuh yang sangat kecil, besarnya seperti tubuh seorang anak berusia lima tahunan, lebih terkejut lagi bahwa tubuh ini sangat keriput, hanya ada tulang yang diselimuti oleh kulit keriput yang sangat tua.
“Apakah kau yang meminta buah ini?”, tanya Coa Leng In, yang dijawab oleh sosok itu dengan goyangan tubuhnya, menandakan dia membenarkan dugaan Coa Leng In.
Coa Leng In segera memberikan satu Buah Obsidian Merah sebesar kepalan tangannya dengan cara melemparkannya, buah itu menggelinding ke arah tubuh tersebut, tangan itu berupaya menggapai buah tersebut, namun gerakannya sangat lemah, Coa Leng In tidak tega dia lalu mendekati sosok itu, dan memberikan buah itu langsung ke dalam tangannya, tapi buah itu tidak dapat diangkat oleh tangan tua sosok tersebut.
Gerakan tangan tua itu sangat lambat, akhirnya Coa Leng In dengan waspada mendekatkan buah itu ke dekat mulut sosok tersebut, ketika buah itu menempel di mulutnya, sosok itu berusaha menggigit buah tersebut, namun rupanya itu merupakan kesulitan bagi sosok tersebut, kembali Coa Leng In mengambil buah itu dengan tangannya, buah Obsidian Merah dia pecah jadi beberapa bagian dan Coa Leng In berusaha menyuapi sosok itu.
Maka dapatlah sosok itu menelan buah tersebut walaupun menelan satu bagian buah itu memerlukan waktu yang cukup lama, tapi dengan sabar Coa Leng In menyuapi orang tua tersebut.
Satu Buah habis, dia meminta buah yang lain, dan Coa Leng In menyuapi seperti semula, sehingga terdengar seruan pelan orang itu,
“Sudah cukup, percuma saja aku memakan buah ini, karena waktuku sudah berakhir, gadis kecil, terima kasih atas perlakuanmu padaku, aku ingin membalas budimu, karena aku tidak suka berhutang tapi kondisi kekuatanku tidak seperti dulu, maka aku akan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku”, kata sosok itu, suaranya sedikit jelas dibandingkan semula.
“Kakek tidak perlu kau membalas budi, satu hal saja yang ingin kuketahui, tempat apa ini?”, tanya Coa Leng In pada sosok tua itu.
“Eh, apakah kau tidak tahu tempat ini?, bukankah kau dikirim kesini karena menerima hukuman dari penguasa Benua Merah yang baru, si Laknat Coa Kun?”, tanya sosok ini.
Tanggapan ini sedikit mengejutkan bagi Coa Leng In,
“Aku justru menghindari penangkapan oleh orangnya Penguasa Benua Merah itu, kamu siapa Kakek?”, tanya Coa Leng In waspada.
“He he he…, aku tahu siapa dirimu, bukankah kau masih ada hubungannya dengan penguasa benua ini?, dan namamu adalah Coa Leng In, he he he…, rupanya ini adalah takdir… he he he…, takdir mempermainkan aku, he he he…, Han Ong…, Ling Moy …, sepertinya aku akan duluan meninggalkan dunia ini, aku tidak dapat kembali ke Dunia Kabut Putih”, kata sosok tua itu sambil tertawa dan menyebut dua nama.
Coa Leng In semakin bingung dengan jawaban sosok tua ini, dia berusaha mencerna maksud orang tua ini, orang ini mengetahui dirinya dan hubungan dia dengan Coa Kun, tiba-tiba pikiran Coa Leng In tersentak.
“Apakah kau Kui Lok Mo?”, kata Coa Leng In langsung berdiri dengan segera, dia mengerahkan kekuatan energi kultivasinya.
“Gadis kecil, kau tidak perlu panik dan waspada padaku, memang benar aku Kui Lok Mo, aku sekarang tanpa kekuatan, kekuatanku sudah tersedot habis oleh pengkhianat Coa Kun, dan dipikirnya aku sudah mati, tapi memang aku lebih baik mati, namun aku berharap sebelum kematianku ada seseorang yang mau datang ke tempat ini, tempat ini adalah kawah gunung berapi ke-12.
Gadis Kecil, aku akan memberikan sesuatu yang berharga pada dirimu, dan dengan barang itu maka engkau akan dapat kekuatan lebih dari apa yang dapat kau capai, hanya aku memerlukan janji darimu, apakah kau tertarik?”, tanya Kui Lok Mo.
“Apa yang akan kau berikan belum tentu cocok denganku, dan apa yang harus kujanjikan, itu semua tergantung manfaat apa yang akan kuterima, jika janji itu merugikan diriku sendiri untuk apa aku berjanji, karena aku bukan seorang yang mudah berjanji, apalagi pada orang sepertimu”, kata Coa Leng In.
“He he he…, aku tahu tentangmu…, dan aku mengagumi keterus-teranganmu, namun aku juga tahu kau mewarisi ilmuku yang tercantum dalam 12 lembar kulit binatang, dan teknik kultivasi serta teknik beladiri yang kau kuasai sangat mentah, karena pencapaianmu hanya pada kulit luar saja sehingga esensi sejatinya sangat berkurang, apakah aku benar, bahkan kau merasa sudah menguasai Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta dan teknik kultivasimu adalah Energi membelah Bintang dengan mengandalkan Buah Obsidian Merah He he he….”, kata Kui Lok Mo.
Kembali Coa Leng In terkejut, apa yang diutarakan oleh Kui Lok Mo adalah benar, tapi kesimpulan bahwa dirinya hanya menguasai kulit luar dari teknik yang dimilikinya, inilah yang sangat mengejutkan, tapi apa yang harus dia bantah, sekarang Coa Leng In mengerti bahwa pemilik asli Teknik ini ternyata bekas Penguasa Benua Merah Kui Lok Mo.
“Kau tidak perlu heran, Teknik itu tadinya kuberikan pada keturunanku Kui Lok, namun ternyata dia tidak berbakat melatih teknik tersebut, tapi catatan yang tertulis pada 12 lembar kulit binatang itu dia bawa kemana-mana, hingga suatu hari hilang tercuri oleh seorang bernama Yap Kun Tek, kalau tidak salah, itu artinya kau dan pencuri kecil itu ada hubungannya”, kata Kui Lok Mo menjelaskan kronologi catatan itu sampai pada dirinya.
“Baiklah, kalau begitu apa kehendakmu?, janji apa yang harus kubuat dan kutepati?”, kata Coa Leng In.
“Aku hanya menginginkan kematian murid laknat itu, Coa Kun, dan kau harus berjanji demi hidupmu, yang kedua adalah mengembalikan energi Benua Merah yaitu Inti Energi Merah Murni, walaupun energi itu telah disempurnakan oleh pemuda bernama Han Long, bunuh pemuda itu di Benua Merah dan energi itu akan menyebar di benua ini, agar warga Benua Merah dapat hidup di permukaan tanah ini, apakah kau sanggup?”, kata Kui Lok Mo.
Coa Leng In tidak segera menjawab, baginya membunuh Coa Kun adalah hal yang akan dilakukannya, tetapi membunuh Han Long, inilah persoalannya, selain kekuatan Han Long sekarang diluar imajinasinya, tapi seandainya kekuatan yang dimilikinya dapat mengatasi Han Long, dia tetap tidak mau melakukan.
“Menjanjikan syarat pertama aku sanggup, tapi syarat yang kedua, apakah ada cara lain, selain membunuh pemuda Han Long itu, maksudku aku akan berusaha mengembalikan energi itu agar warga benua disini dapat hidup normal seperti benua lainnya”, kata Coa Leng In.
“Hm…, he he he…, aku tahu kau memiliki hubungan dengan pemuda itu, tapi setahuku tidak ada cara lain, selain membunuh pemuda itu di Benua Merah, namun yang kukehendaki adalah warga Benua Merah dapat hidup Normal di permukaan dunia ini, dan ingat, berjanjilah atas hidupmu, seorang kultivator akan menerima murka alam jika tidak menepati janjinya maka dari itu ada batas waktunya, setelah engkau menyempurnakan kekuatan yang kuberikan padamu, maka hanya ada waktu selama lima tahun saja”, jawab Kui Lok Mo pada Coa Leng In, dengan mata tuanya, Kui Lok Mo ingin menegaskan bahwa hal ini bukan untuk dipermainkan, dia puas saat Coa Leng In menatap dengan mantap tanpa keraguan diiringi dengan anggukan kepalanya.
Segera Coa Leng In duduk bersujud menghadap Kui Lok Mo, melakukan sujud tiga kali terhadap tubuh keriput Kui Lok Mo, lalu dia juga mengucapkan janji atau sumpah demi langit dan bumi, maka terdengarlah suara guntur menjawab sumpah tersebut, dan hal ini memuaskan Kui Lok Mo.
“Baiklah, hidupku tidak akan lama, Coa Kun hanya menyempurnakan kekuatanku pada bagian luar, dia tidak tahu akan kekuatan inti sesungguhnya dari diriku, sekalipun kekuatan Energi Merah ini hanya di permukaan dunia Benua Merah karena inti itu menghilang, namun aku mengumpulkannya selama ribuan tahun, dan energi itu sudah mengkristal.
Bukalah pikiranmu dan terimalah teknik sesungguhnya milikku yang pernah kau lihat di 12 lembar kulit binatang”, kata Kui Lok Mo, sambil dia memberi isyarat pada Coa Leng In agar mendekat, tangan keriput Kui Lok Mo, mengetuk beberapa titik akupuntur di sekitar dahi dan kepala Coa Leng In, maka terbayanglah dalam benak Coa Leng In, teknik sesungguhnya dari Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta dan teknik kultivasi Energi Membelah Bintang.
Dan saat Coa Leng In melihat teknik dibenaknya,
“Leng In, segera kau telan kristal ini, Uhugh…!!!”, ucapan terakhir Kui Lok Mo, karena kemudian tubuh keriput itu memudar menjadi debu dan terbang ke langit-langit goa serta menghilang, sekarang di tangan Coa Leng In ada benda berwarna Merah berselaput dengan darah Kui Lok Mo yang masih menetes-netes turun.
Mata Coa Leng In terbelalak, menatap dengan jijik dimatanya, dia tidak menyangka barang yang akan diasimilasikan dengan dirinya berbentuk barang yang sangat menjijikan, namun rasa jijik itu segera ditepisnya, dengan tangan kiri menutup hidungnya, tangan kanan mengarah pada mulutnya, mulutnya hendak menolak, tapi Coa Leng In mengeraskan hatinya, maka
Sluuurppp…..
Benda itu langsung ditelannya, tidak butuh waktu lama, barang itu langsung masuk ke dalam perutnya, rasa panas yang dahsyat mengamuk di dalam perutnya, seluruh tubuh Coa Leng In serasa dibakar dalam api neraka yang dahsyat, dia segera memutar dan mengerahkan Teknik kultivasi Energi Membelah Bintang sesuai petunjuk yang ditanam oleh Kui Lok Mo di benaknya,
Duuuuaaaarrrrrrr…..!!!!