Apakah benar Han Chen Tiong mati?, ataukah tubuh An In Mey juga mati, akibat racun yang beredar di Lembah Tengkorak seperti dugaan Han Chen Yang yang gila?.
Dua tubuh terpisah di dasar jurang di kedalaman Lembah Tengkorak, dimana sumber Energi Merah dan Energi Biru beracun berada, kedua sumber energi ini sangat berbeda dengan Energi yang beredar di permukaan tanah Dunia Merah Biru atau Dunia Sembilan Benua.
Tubuh pemuda remaja itu diam tidak bergerak, sementara tubuh satunya lagi adalah seorang wanita cantik yang sangat mulus kulitnya, namun kemulusan pada kulit tubuh wanita itu berubah-ubah warna, terkadang merah dan terkadang berwarna biru, jika berwarna merah, wanita itu akan berusaha melepaskan pakaiannya seperti kepanasan, namun tidak lama kemudian saat warna biru di kulitnya berkembang, maka wanita itu akan menggigil kedinginan, namun yang lebih berbahaya adalah, perubahan warna kulit tubuh wanita itu disertai pula dengan sorot matanya, seperti orang yang tidak menguasai akan dirinya sendiri, dimana dua pupil matanya akan berputar secara liar dan bergerak dengan lincah.
Sehari terlewati, dua hari terlampaui sampai hari ketiga, pada tubuh lelaki remaja itu ada pergerakan, Han Chen Tiong menggerakkan kedua tangannya,
“Ahhkk…, tempat apa ini?’, dia bangun namun seluruh tubuhnya terasa sakit, dia mengerahkan persepsi jiwanya, dengan itu dia dapat menebak posisi An In Mey yang berjarak sekitar puluhan meter dari dirinya, dia segera mengerahkan energi kultivasi miliknya, berusaha mengobati lukanya, Han Chen Tiong heran bahwa luka pada tubuhnya hanya luka luar, tidak ada luka dalam, padahal dia ingat bahwa dirinya terlempar ke jurang ini disebabkan oleh sebuah pukulan yang sangat kuat menumbuk punggungnya.
Merasakan hal ini, Han Chen Tiong segera mengobati bagian tubuh yang terluka dari tubuh bagian luarnya, dengan tingkat kultivasi Manusia Dewa, tampaklah luka-luka itu disembuhkan dengan cepat, luka-luka itu pulih sedemikian rupa tanpa meninggalkan bekas.
Han Chen Tiong segera berdiri ketika dia merasa bahwa tubuhnya telah pulih seperti semula, dia berjalan menghampiri posisi An In Mey, namun alangkah terkejutnya dia, darahnya seketika menggelegak, melihat tubuh seorang gadis dengan pakaian yang sudah terobek hampir di semua bagian tubuh An In Mey.
Lelaki remaja itu terlongong menatap sesuatu pemandangan yang baru di depannya, dia sempat terhenyak beberapa saat sebelum menghampiri posisi An In Mey yang hampir telanjang itu.
Dengan menguatkan batinnya, Han Chen Tiong mendekati posisi An In Mey.
“Akkkhhhhh panas…., sangat panaaasss….!!!” seru An In Mey sambil dia berusaha melepaskan kain terakhir yang melekat pada tubuhnya.
“Uuuhhhgggg…. dingin…. sangat dinginnn hhhiiiiiyyyy….”, katanya kemudian sampai giginya bergemeletuk menggigil, Han Chen Tiong yang melihat kakak seniornya seperti tersiksa, dia cepat menghampiri tubuh An In Mey dan langsung mendekapnya dari samping.
“Aaakkkkhhhh panas….., panas sekali… pergi…pergiiii”, kata An In Mey sambil mengusir Han Chen Tiong, bahkan tubuh Han Chen Tiong sampai terlempar, karena An In Mey dalam kepanikannya mengerahkan seluruh kekuatannya.
Han Chen Tiong terbengong lagi, dia bingung mengatasi persoalan yang menimpa diri kakak seniornya, dia melihat dirinya sendiri, apa yang dialami oleh kakak seniornya, dia tidak merasakan sama sekali.
Tiba-tiba sebuah akal muncul dalam benaknya, dia menghampiri An In Mey, menunggu saat An In Mey berteriak kedinginan, dan hal itu tidak butuh waktu lama karena seruan An In Mey kedinginan segera terdengar, dengan cepat, Han Chen Tiong memeluk tubuh telanjang kakak seniornya, dan dia segera mengoperasikan energi kultivasinya.
An In Mey tertotok lemah tidak berdaya dalam pelukan Han Chen Tiong, Han Chen Tiong segera mengalirkan energinya pada tubuh An In Mey, maka An In Mey pun diam dengan tenang, ketika ada sebutir keringat akan keluar, Han Chen Tiong tetap mengalirkan energi dari dalam tubuhnya untuk dialirkan pada tubuh kakak seniornya, dan sedikit demi sedikit An In Mey menjadi tenang, terjadi perubahan juga pada kulit wajah gadis itu, warna kulitnya kembali normal, putih bersih.
Penyaluran energi dari Han Chen Tiong dilakukan terus menerus pada tubuh An In Mey, padahal sebelumnya An In Mey sudah tersiksa selama berhari-hari, dengan penyaluran energi dari Han Chen Tiong membuat An In Mey merasa nyaman, dan dia pun tertidur pulas.
Memeluk tubuh gadis telanjang dan semulus An In Mey baru kali ini terjadi dan itu membuat degup jantung Han Chen Tiong bergemuruh tidak karuan, kasihan sekali pada pemuda remaja 13 atau 14 tahunan ini, dia tidak sadar bahwa hal itu juga disebabkan oleh perkembangan hormon dalam tubuhnya untuk menuju menjadi pria dewasa.
Antara jengah, malu dan penasaran bercampur aduk dalam pikiran Han Chen Tiong, untungnya dia segera mengerahkan kekuatan jiwanya agar tidak terlena dalam hal-hal lain.
Yang semestinya dilakukan, adalah menolong dulu kakak seniornya ini, diangkatnya tubuh An In Mey untuk mencari tempat yang sedikit lebih nyaman.
Setelah berkeliling, Han Chen Yang menemukan dan memasuki sebuah lorong pada sebuah tebing, sambil membopong tubuh telanjang An In Mey, Han Chen Tiong membawa masuk tubuh An In Mey dengan sangat hati-hati.
Ternyata yang dikira sebuah lorong itu, membentuk ruangan yang cukup luas di dalamnya, setelah disusuri ke dalam sampai sekitar lima puluh meteran, gua ini membentuk ruangan yang cukup menampung dua puluh orang, malah ada air mancur kecil di dalamnya, Han Chen Tiong mencicipi air tersebut, dan ada rasa manis dari air tersebut.
Han Chen Tiong menggunakan tangannya dan berusaha memberi An In Mey air minum, tubuh An In Mey menggeliat sedikit menghindar, namun air itu berhasil ditelan oleh An In Mey, tapi mata An In Mey tetap terpejam, dan selanjutnya, terdengarlah dengkuran halus, tanda An In Mey kembali tertidur.
Melihat Hal Ini, Han Chen Tiong lalu meletakkan tubuh kakak seniornya, dia pun mencari sebuah tempat datar, membersihkan tempat itu, dari kantong langitnya dikeluarkan beberapa kain dan dihamparkan di tanah datar yang sudah dibersihkannya, diletakkannya tubuh telanjang An In Mey, lalu dia mengambil sebuah bajunya sendiri dan menyelimuti An In Mey kakak seniornya dengan baju tersebut.
Sambil menunggu pemulihan kakak seniornya, Han Chen Tiong mengambil posisi kultivasi dan dia pun mulai menyerap energi yang beredar di kedalaman jurang itu.
Di lain tempat di luar goa, tempat Han Chen Tiong dan An In Mey berada, seorang pria berkeliaran seperti mencari sesuatu, Han Chen Yang berkeliaran di area dimana Han Chen Tiong pingsan dan tersiksanya tubuh An In Mey, namun dia tidak menemukan mereka berdua, sebenarnya hal ini disebabkan juga oleh kekacauan alam pikirannya yang telah dipengaruhi oleh Energi beracun di Lembah itu, jadi antara sadar atau tidak, Han Chen Yang sendiri sudah tidak mampu mengendalikan dirinya, makanya dia hanya bisa mondar-mandir tidak karuan di dasar jurang itu.
Sedangkan Han Chen Tiong memusatkan konsentrasinya untuk menyerap energi disekitarnya, dan ternyata energi ini sangat cocok bagi tubuhnya.
Sementara bagi yang lain merasakan dampak negatif dari dua energi Lembah Tengkorak, tapi bagi Han Chen Tiong justru energi ini malah meningkatkan tingkat kultivasinya tanpa hambatan, bahkan memiliki kecepatan hingga dua kali lipat dari sebelumnya.
Doummm…
Doummm…!!!
Han Chen Tiong mengalami peningkatan beruntun, sudah tiga bulan Han Chen Tiong berkultivasi, dan pada saat An In Mey akan terbangun dari tidurnya, ada keanehan terjadi pada tubuh An In Mey, dia pun mengalami kenaikan kultivasi dalam tidurnya, sekalipun tidak secepat yang diperoleh Han Chen Tiong.
Dan pada saat An In Mey terbangun dari tidurnya, kulit tubuh An In Mey akan kembali berubah, kalau sudah demikian maka Han Chen Tiong akan kembali memberikan energi kultivasi miliknya untuk dialirkan ke tubuh An In Mey bahkan Han Chen Tiong akan memberikan dua kali lipat energi dari sebelumnya karena tingkat kebutuhan tubuh An In Mey pun meningkat sesuai dengan tingkat kultivasinya dan An In Mey akan kembali tenang, kembali tertidur, namun sekarang dia akan tertidur selama enam bulan, hal itu terus menerus terjadi.
Tidak ada saksi yang memperhatikan kedua pemuda remaja dan gadis itu, dimana pemuda remaja itu dapat mengasimilasikan energi beracun tanpa dampak apapun, malah energi ini adalah energi yang paling cocok bagi dirinya, sementara yang wanita, sekalipun tertidur, dia dapat berkultivasi dengan energi hasil asimilasi melalui tubuh pemuda remaja tersebut.
Jadi An In Mey hanya dapat berkultivasi karena menerima hasil pemurnian energi jahat dari tubuh Han Chen Tiong.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan singkat, kondisi An In Mey dan kultivasi Han Chen Tiong telah berjalan selama empat tahun, kini pemuda remaja ini telah tumbuh dewasa, usianya sekitar 18 tahunan, selama itu pula Han Chen Tiong tidak beranjak dari tempatnya, dia lebih mencemaskan kondisi kakak seniornya, karena An In Mey suka tiba-tiba terbangun dan mulai meracau.
Kini kekuatan An In Mey sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-5 Awal, yang tidak terduga adalah pencapaian Han Chen Tiong, dia sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-8 Awal.
Han Chen Tiong membuka matanya, dengan persepsi jiwanya dia dapat mengetahui dimana Han Chen Yang berada, kini dia memiliki kekuatan untuk mengatasi ayahnya yang gila, namun yang dia cemaskan adalah bila An In Mey terbangun dari tidurnya dan mengacaukan segala rencananya untuk keluar dari Lembah Tengkorak ini.
Han Chen Tiong memperhatikan sejenak ke arah An In Mey yang terlelap, wajah gadis matang ini sangat cantik, ada anak rambut di pelipisnya yang putih, hidungnya kecil dan menjungkat ke atas, bibirnya berwarna merah muda dengan lekukan dagu yang terbentuk sempurna, benar-benar seorang gadis yang amat cantik.
Han Chen Tiong sebenarnya merasa tertarik secara jasmani pada An In Mey sejak dia berusia sembilan tahun, atau tepatnya saat dia memasuki Sekte Guntur, karena gadis ini sangat lembut menyambut dirinya kala itu, dan senyum kakak seniornya ini terlihat tulus dan bersahaja, dan rasa tertarik itu dia simpan dengan rapi, karena Han Chen Tiong tahu bahwa dirinya masih anak-anak di depan kakak seniornya ini.
Han Chen Tiong secara alami ingin melihat tubuh telanjang wanita idamannya, dia ingin menikmati keindahan wanita dihadapannya.
Dengan perlahan-lahan pemuda itu mendekati An In Mey yang saat itu dalam posisi miring, sehingga bentuk pinggul yang ditutupi oleh kain pakaiannya membentuk sebuah imajinasi yang sangat menggoda, mata Han Chen Tiong terbelalak, dengan tangan gemetaran, dia meraih ujung kain itu dan menariknya secara perlahan, dia menemukan warna kulit putih bersih tanpa cacat di dua otot pinggulnya dengan bentuk yang sempurna.
Rasa penasaran dan nafsu sudah sulit dibedakan, pemuda ini melangkah melewati tubuh telanjang An In Mey, dia ingin melihat dari depan, namun gerakannya tertahan karena An In Mey seketika membuka matanya,
”Dimana aku?”, ujar An In Mey sambil bangun untuk duduk, dia belum menyadari keadaan dirinya.
Betapa terkejutnya Han Chen Tiong melihat kakak seniornya tiba-tiba bangun, dan sepertinya dia sudah menetralisir racun pada tubuhnya.
”Kakak senior, apakah kau baik-baik saja?”, kata Han Chen Tiong dengan muka merah menahan rasa malu yang sangat hebat.
”Kamu siapa?, Dan kenapa aku seperti ini?”, tanya An In Mey menatap tajam.
”Aku Han Chen Tiong, mengapa kakak bertanya seperti itu?, apakah kakak tidak tahu apa yang terjadi, kita berdua ada di Lembah Tengkorak”, jawab Han Chen Tiong sambil mengeluarkan sepasang pakaian pria dan menyerahkan pada An In Mey.
An In Mey menatap lurus pada Han Chen Tiong, dia tidak segera menyambut pemberian Han Chen Tiong, sepertinya dia berusaha mencerna informasi yang didengarnya.
”Apakah kau adikku?, mengapa aku tanpa pakaian seperti ini?”, Tanya An In May.
”Aku adik Juniormu, dan kau sendiri yang melepaskan pakaianmu sendiri akibat racun energi yang kau asimilasikan di tempat seperti ini”, kata Han Chen Tiong.
”Ketika aku melepaskan pakaianku sendiri, apakah kau berada disini? dan kau melihat seluruh tubuhku, apakah kau adikku atau suamiku? dan siapa aku?”, kata An In Mey lagi.
Han Chen Tiong malah kebingungan dengan pertanyaan beruntun dari An In Mey, apalagi dengan pertanyaan terakhir.
”Kau tidak tahu tentang dirimu sendiri, lalu apa yang kau rasakan?”, tanya Han Chen Yang.
”Aku yang bertanya, malah kau bertanya pula, siapa yang akan menjawab?,
aaakkkhhhh dingin… sangat dingiiiin…”, keluh An In Mey, tubuhnya sampai menggigil dan giginya mengeluarkan gemeletuk beradu.
Han Chen Yang mendekati An In Mey, dan An In Mey tiba-tiba langsung menubruk pemuda itu dan langsung memeluk tubuh pemuda itu, namun hal itu hanya berlangsung sesaat saja, karena tubuh An In May berkeringat sangat deras,
”Aaahhkkk… sangat panas, paaannnaaaasss…” , teriak An In Mey lagi.
Segera Han Chen Tiong mengerahkan energinya untuk menenangkan An In Mey.
”Bagaimana aku keluar dari Lembah ini, jika kondisi kakak senior seperti ini? aku harus mencari cara”, pikir Han Chen Tiong setelah melihat An In Mey tertidur lagi.
Segera dia meletakkan tubuh An In Mey di hamparan kain kembali, dia pun bergerak keluar dari goa dan melangkah keluar.
”Ayaaaahhh….!!! ini aku Chen Tiong”, teriak Han Chen Tiong
Sesosok tubuh pria dewasa muncul di hadapan Han Chen Tiong,
”Aarrgghh…, ha ha ha…, kamu siapa?
Aku tidak tahu siapa-siapa?
bahkan aku tidak tahu siapa diriku? He he he…”,
Kata Han Chen Yang di depan Han Chen Tiong.
Kini Han Chen Tiong berhadapan dengan ayahnya sendiri, tubuh keduanya agak mirip, sama tingginya, sama gagah dan tampan, hanya penampilan Han Chen Yang berantakan dengan rambut tergerai, acak-acakan dan di sekitar mulutnya tumbuh bulu-bulu kasar berantakan.
”Ayah lihatlah, ini aku Chen Tiong, aku kemari karena aku ingin menjenguk ayah, kakak Mey sedang tertidur di dalam goa, maukah ayah melepaskan kami berdua, kami harus kembali, sudah lama kami meninggalkan lbu, kasihan ibu”, kata Han Chen Tiong.
Mata Han Chen Yang bergerak liar,
”Aaargh…, kau penyusup, kau ingin merampas tempat ini, kau harus mati, kalian harus mati, semua orang yang melawanku harus matiiii…, rasakan ini!!!”, teriak Han Chen Yang, seketika dia menerjang ke arah Han Chen Tiong, yang sudah waspada sebelumnya,
ayah dan putra ini mengerahkan teknik beladiri dan kultivasi yang sama, hingga
Heeaaaa….!!!
Deesssshh….
Duaaarrrrr….!!!
Tubuh kedua-duanya terlempar saling bertolak belakang, mencelat ratusan meter.
Aaaarrgghhhh…..!!!
Han Chen Tiong tidak mengerahkan seluruh tenaga karena takut membunuh ayahnya, sebaliknya Han Chen Yang mengerahkan seluruh tenaganya secara total, disinilah kesalahan fatal Han Chen Tiong, dia menerima luka dalam yang lumayan parah.
Tubuh Han Chen Yang mencelat jauh ke arah berlawanan, tubuhnya memang kuat, ada semburan darah berwarna merah keemasan dari mulutnya,
” He he he…, sangat kuat…, sangat kuat…, jika kau ingin memiliki tempat ini ambillah, sebenarnya aku juga bosan dengan tempat ini, yang ada di sini pun hanya binatang-binatang aneh, saat aku ingin bercakap-cakap dengan mereka,
mereka malah sembunyi, ha ha ha…, ambillah…”, kata Han Chen Yang,
dia mengerahkan kekuatan terakhirnya lalu menghilang dari tempat itu.
Han Chen Tiong terlempar jauh, dia menderita luka parah hingga tidak sadarkan diri.
An In Mey yang masih tertidur di dalam goa, akhirnya terbangun, dia menengok sekelilingnya, beberapa saat lamanya dia hanya terdiam, dan kemudian dia terkejut bahwa dirinya tanpa busana.
”Apa yang terjadi?
Kenapa aku telanjang?
Tempat apa ini?”
pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya.
”Bukankah ini pakaian adik Tiong?, dimana dia?”
pikir An In Mey sambil mengenakan pakaian Han Chen Tiong.
Dengan mengerahkan persepsi jiwanya An In Mey memindai ruangan goa itu,
dan didapatkan ruangan itu kosong tiada apapun, kemudian dia melangkah keluar goa, kembali dia mengarahkan persepsi jiwanya, dia menemukan sosok tubuh pria yang tertelungkup.
Tiba-tiba sesuatu terjadi pada An In Mey,
”Aaakkhhhh… panas..panaaas..” jeritnya, tangannya segera membuka bagian depan pakaian yang dikenakannya, sambil An In Mey tetap mengarahkan langkahnya ke arah tubuh pria yang sedang telungkup.
”Huuu… huuyyy… dingin…”, An In Mey tersiksa oleh racun energi di tubuhnya,
namun dia tetap menghampiri sosok itu, dia membalikan tubuh pemuda itu,
maka terlihat wajah seorang pemuda tampan.
Tapi sebaliknya, An In Mey sudah tidak mengenali dirinya sendiri,
”Kamu Bajingan…, keparat…, kamu rupanya yang mengambil keuntungan dari ku, r
asakan ini!”, kata An In Mey sambil tangannya terkepal memukul dada Han Chen Tiong dengan mengerahkan energi kultivasinya.
Duuuggg, duggg, buukk…
Seluruh tubuh Han Chen Tiong menjadi bulan-bulan pukulan bertenaga An In Mey,
tubuh itu terpental puluhan meter, dikejar kembali, terpental lagi dan dikejar lagi.
Sungguh naas nasib Han Chen Tiong, setelah bentrokan dengan ayahnya sendiri,
kini dia disiksa oleh gadis yang dia sukai.
Hal itu berlangsung beberapa hari, ketidaksadaran An In Mey didorong ketika dia menyadari dirinya dalam keadaan telanjang, dan dia berpikir bahwa juniornya sudah mati, dan ada seseorang yang memanfaatkan situasi dan sudah melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya.
An In Mey secara tidak sadar malah mendekati sumber energi beracun energi Merah dan Energi Biru, sambil di memukuli tubuh Han Chen Tiong.
Jika bukan tubuh Han Chen Tiong yang dipukuli, atau tubuh orang lain maka sudah dipastikan tubuh itu menjadi onggokan daging tumbuk, tubuh Han Chen Tiong sangat kuat karena sebenarnya, esensi tubuh Han Chen Tiong sebenarnya selaras dengan energi Lembah Tengkorak.
Bagi Orang Lain, energi ini sangat beracun, tapi Han Chen Tiong adalah bayi yang dilahirkan dari rahim ibu yang terkontaminasi saat ayahnya sendiri adalah satu-satunya orang yang berhasil keluar dari Lembah Tengkorak, bisa dikatakan Han Chen Tiong adalah bayi Lembah Tengkorak.
Hanya dia satu-satunya manusia yang dapat mengasimilasikan energi lembah ini.
Semakin mendekati sumber dua energi lembah ini, pikiran An In Mey semakin kacau, bahkan kini dia menyeret tubuh Han Chen Tiong dengan tubuh telanjang, demikian juga tubuh Han Chen Tiong, pakaian yang dipakainya telah dirobek-robek oleh An In Mey.
An In Mey menyeret tubuh Han Chen Tiong dengan mencengkram rambut dikepala, sehingga tampilan dua makhluk ini jadi menyeramkan, tapi terjadi perubahan pada tubuh Han Chen Tiong yang selama ini tidak sadarkan diri, tubuh itu berubah warna, bukan merah atau biru, tapi berkilau bagai emas, perubahan ini terjadi secara perlahan namun pasti.
”Kakak senior, Apa yang kau lakukan padaku?, aku Chen Tiong, ingatlah!”, kata Han Chen Tiong dia berusaha menggapai tangan An In Mey, namun dirinya masih lemah.
”Omong kosong apa yang kau lontarkan he he he…, dan siapa kakakmu? karena kau sudah mencicipi tubuhku sekarang kau adalah suamiku, maka sebagai suami kau harus mengikutiku, karena aku lebih kuat darimu hi hi hi…”, jawab An In Mey tertawa genit.
”Kakak sadarlah, biarkan aku menolongmu, hanya energiku yang dapat menolongmu”, kata Han Chen Tiong.
Tapi dijawab dengan tertawa tidak karuan, An In Mey menyeret tubuh Han Chen Tiong sampai ke sumber energi Merah dan Biru beracun, tepat antara kedua sumber energi itu, tubuh Han Chen Tiong semakin bertransformasi, lalu
Doummm… Kretaakkk !!!
Seluruh sendi tulang dan otot Han Chen Tiong berbunyi.
Aaaarrggghhhh…!!!
Han Chen Tiong melompat lalu berdiri didepan An In Mey, dengan gerakan kilat Han Chen Tiong segera meraih pinggang telanjang An In Mey yang saat itu terkejut akan perubahan mendadak dari tawanannya, Han Chen Tiong memeluk tubuh An In Mey.
An In Mey merasakan aliran energi hangat masuk dalam tubuhnya, An In Mey merasa nyaman dengan aliran itu, sedikit demi sedikit kesadarannya kembali pulih, dia melihat secara samar bahwa di dekatnya ada seorang pria tampan yang memeluk dirinya, namun pelukan itu terasa lembut, lama-kelamaan An In Mey dengan jelas mengenali wajah Han Chen Tiong, namun tubuh pemuda ini terlihat lebih tinggi dan berisi.
“Adik Tiong, apa yang terjadi?”, katanya sambil menatap adik juniornya ini,
“Kakak, engkau diracuni oleh energi di lembah ini dan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun , hanya dengan cara ini aku dapat menyelamatkan kakak”, kata Han Chen Tiong dengan wajah merah karena jengah, dia menyadari bahwa dirinya memeluk seorang wanita cantik dalam keadaan telanjang bulat keduannya, An In Mey pun memaklumi bahwa dirinya tidak ditutupi oleh sehelai benangpun, dia hanya dapat menundukkan kepalanya dan akhirnya, karena ada rasa nyaman dalam pelukan Han Chen Tiong dia menyandarkan kepalanya, maka Han Chen Tiong dapat mencium aroma kewanitaan seorang gadis dewasa dalam pelukannya.
Sambil terus menyalurkan energinya pada An In Mey, tanpa disadari oleh Han Chen Tiong dari arah berlawanan, kedua energi Merah dan Biru saling berebutan dan menyerobot masuk dalam dirinya secara deras, tanpa halangan apapun.
Gairah muda yang menghinggapi pada diri Han Chen Tiong serta kenyamanan yang dirasakan oleh An In Mey dalam pelukan pria yang sepantasnya adalah juniornya, membuat mereka berdua menikmati kebersamaan itu.
Han Chen Tiong telah berubah menjadi seorang pria tampan dan perkasa, ada perubahan dalam hati An In Mey dalam memandang sosok juniornya dan perasaan ini sangat menyenangkan dirinya, merasa nyaman dan tentram dalam pelukan kokoh pemuda yang usianya terpaut 8 tahun lebih muda.
An In Mey tidak menolak saat bibir Han Chen Tiong menyentuh bibirnya, bahkan yang tadinya hanya diam tidak terucap satu kata pun dari bibirnya, dia mulai membalas ciuman tersebut, dan hal ini membuat perlakuan yang semakin berani dari Han Chen Tiong yang selama ini hanya bisa mengagumi kakak seniornya, karena dirinya selalu dianggap masih anak-anak, namun sekarang dia telah tumbuh dewasa, dan rupanya An In Mey menyambut perasaannya.
Gairah semakin memuncak pada kedua pemuda dan pemudi ini, baik An In Mey maupun Han Chen Tiong, baru pertama kali melakukannya, dan itu pun karena situasi saling membutuhkan, tapi rupanya An In Mey juga memendam rasa suka kepada juniornya sudah sejak awal pertemuan dengan bocah itu, itu terbukti karena dia tidak menolak saat bibir Han Chen Tiong menyusuri daun telinganya dan sampai pada bibirnya.
Doummm…..
Doummm….!!!
Baik Han Chen Tiong maupun An In Mey merasakan peningkatan tingkat kultivasi milik masing-masing, mereka sekarang adalah pasangan kultivasi, dengan sendirinya tubuh An In Mey mengasimilasikan energi dari Han Chen Tiong dan akibat kultivasi ganda yang mereka lakukan memberikan manfaat bagi An In Mey, dia dapat anugerah untuk menyempurnakan sendiri energi di Lembah Tengkorak sama halnya dengan Han Chen Tiong tanpa dampak negatif lagi, bahkan An In Mey merasa nyaman di Lembah Beracun ini, keduanya langsung mengkonsolidasikan peningkatan yang sekarang mereka telah capai, saat dua mata terbuka, ada senyum gembira di wajah Han Chen Tiong, dia mendapatkan wanitanya dan juga tingkat kultivasinya yang semakin bergerak naik, demikian juga dengan An In Mey, dia tersenyum bahwa dia sekarang memiliki pasangan yang akan mengantarkan dirinya menjadi kuat, dan pasangan ini adalah pria yang dia cintai, satu hal yang menjadi kekurangan dari An In Mey, dia hanya memiliki Teknik Beladiri Kategori Surga kelas Sempurna, dan ini juga pemikirannya, namun tiba-tiba sorot mata An In Mey semakin cerah karena dia teringat akan suatu Teknik yang pernah diberikan oleh Han Long yang tercantum dalam lukisan acak di Kerajaannya dan teknik itu adalah Kategori Dewa kelas Sempurna.
Dia segera berkultivasi lagi, maka terbayanglah dalam pikirannya semua simbol dan setiap kalimat dalam lukisan itu, semua ini adalah jasa dari Han Long, pria rendah hati yang tidak pernah mau menonjolkan kekuatannya, kecuali terhadap orang yang lebih kuat darinya, inilah yang dikagumi oleh An In Mey kala itu, sekarang dia memiliki pasangan, dan ternyata pasangannya itu adalah adik dari pemuda yang dia kagumi.
Waktu tidak bisa ditahan, setahun kemudian keduanya menyelesaikan kultivasinya, utamanya Han Chen Tiong yang menunggu An In Mey,
“kakak apa yang kau kultivasikan”, tanya Han Chen Tiong.
“Kakak?, apakah aku kakakmu?...”, An In Mey kembali bertanya dengan wajah cemberut.
“Oh, maksudku, istriku sayang…”, jawab Han Chen Tiong dengan gugup.
Dengan tersenyum An In Mey berdiri menghampiri Han Chen Tiong, dia meraih leher pemuda yang ternyata lebih tinggi dari dirinya, dia hanya sampai dibawah telinga Han Chen Tiong.
“Su-a-mi-ku, kau adalah suamiku, ingat aku sekarang bukan kakak seniormu, tapi istrimu, walaupun belum diresmikan, tapi dunia ini adalah dunia kultivasi dan kita telah masuk pada Tingkat Manusia Abadi, dan aku sekarang adalah Raja Dewa ke-9 Awal, tapi setahun yang lalu, aku menemukan kelemahan dalam kekuatanku, yaitu teknik beladiri yang kumiliki masih kurang, namun sekarang aku telah menguasai teknik pemberian dari kakakmu Han Long, sewaktu kami masih di Benua Chong Yang dan Teknik itu dalam Kategori Dewa kelas Sempurna”, jawab An In Mey.
Han Chen Yang terdiam ketika mendengar sebuah nama disebutkan, ‘Han Long’, nama yang menggelegar di seluruh Benua Thian Agung karena tindakan heroiknya, sekarang apakah dia merasa bangga bahwa dirinya adalah adik dari seorang tokoh yang demikian dahsyat namanya.
Han Chen Tiong tahu bahwa ibunya dianggap merebut suami dari Thian Sian Li, orang tua dari Han Long itu, dan Thian Sian Li belum menerima hal ini, Han Chen Tiong tidak berani mengungkapkan perasaan sebenarnya pada An In Mey, dia khawatir akan menimbulkan salah paham.