Han Chen Yang terus berlari meninggalkan Inti Lembah Tengkorak sambil tertawa gila menyeramkan, suara ini bahkan sangat menakuti hewan-hewan mistik di Lembah Tengkorak, mereka lebih baik bersembunyi menghindari pertemuan dengan sosok pria pembunuh ini.
Sampai juga Han Chen Yang di dinding formasi pelindung Lembah Tengkorak yang memisahkan dengan dunia luar.
Han Chen Yang menatap Dinding Labirin ini, dia sudah tahu apa yang akan dilakukan untuk membuka dinding tersebut, namun dia terdiam cukup lama, rupanya ada perang batin antara kesadaran sejatinya dengan kondisi dirinya yang dipengaruhi oleh Energi beracun Lembah ini, makanya dia tidak segera bertindak untuk bergerak keluar, antara nurani dan pengaruh racun dalam pikirannya sedang bertarung untuk menguasai tubuh Han Chen Yang.
“Aaakkkhhhh…, apa urusanku tentang dunia ini?, aku berhak menikmati udara bebas Ha ha ha…, persetan dengan semua norma, persetan dengan aturan, mereka dulu yang membuat aturan adalah penjahat sesungguhnya, aku yang menerima akibatnya, ha ha ha…. istriku tunggu aku, aku datang!”, kata Han Chen Yang, dia menggerakan teknik Beladiri miliknya dan,
Wusss….!!!
Sebuah Lorong terbentuk seukuran tubuh manusia, dengan pikirannya Han Chen Yang melesat ke arah Lorong tersebut lalu menghilang dari tempatnya berdiri.
“Ha ha ha…. aku bebas, aku akan berkunjung pada istriku ha ha ha…, Mei Ling tunggu aku… ha ha ha”, tawa berderai bergema di pinggir hutan yang mengelilingi Lembah Tengkorak bagian Luar, Han Chen Yang sudah berada di luar Lembah, dia bersiap meninggalkan tempat itu,
Dugh, dugh… dugh…. dess….!!!
Sebuah serangan tiba-tiba menyerang pada tubuh Han Chen Yang, semua serangan itu mengarah pada titik akupuntur bagian vital pada tubuh Han Chen Yang dan mengunci kekuatannya,
Bruuugggghhh…
Tubuh Han Chen Yang langsung lumpuh tidak berdaya, matanya bergerak liar menatap penyerang di depannya.
Sosok pemuda tinggi ada di depannya,
“Ayah tenanglah, aku akan mengobatimu”, kata sosok itu yang ternyata Han Long.
kini Han Long sudah menjadi pria dewasa sekitar 30 tahunan kurang, disisinya berdiri sosok wanita yang sangat cantik, dia adalah Bu Ling Moy, Penguasa Benua Ketiga.
Baik Han Long dan Bu Ling Moy dapat datang dan pergi tanpa diketahui oleh para kultivator tingkat tinggi lainnya dikarenakan kini Han Long adalah seorang kultivator tingkat Kaisar Dewa yang Sempurna, dimana tingkat ini hanya dimiliki oleh diri dan istrinya, bahkan istrinya adalah Kaisar Dewa Sempurna yang Lengkap.
Serangan terhadap Han Chen Yang, dilepaskan oleh Han Long dengan menggunakan energi jiwanya saja, dia takut melukai ayahnya, setelah Han Long bergerak untuk membuat Han Chen Yang tidak sadarkan diri, dia membawa tubuh ayahnya dengan pikirannya.
Tubuh Han Chen Yang yang tidak sadarkan diri itu, melayang mendekati pasangan Han Long dan Bu Ling Moy,
“Sekarang kita bawa kemana suamiku?”, tanya Bu Ling Moy pada Han Long, sebutan ‘suamiku’ sekarang adalah bentuk pengakuan bahwa Han Long lebih kuat dari Bu Ling Moy, karena Han Long selama diam di Benua Ketiga, dia berkultivasi dengan cepat dan hampir menyusul tingkat yang dimiliki oleh Bu Ling Moy, tapi bukan itu saja dasarnya, dalam hal Teknik Beladiri Han Long telah membuat sebuah gebrakan dengan menyatukan seluruh teknik miliknya untuk menjadi teknik Beladiri Kategori Mustahil kelas Sempurna, dan itu sudah diuji oleh Bu Ling Moy dalam perdebatan yang pernah mereka lakukan di luar angkasa, dan hasilnya Bu Ling Moy harus mengakui keunggulan juniornya ini.
“Aku akan menemui ibu, sedangkan dirimu terserah padamu”, kata Han Long sambil menatap ke arah mata cantik istrinya,
“Apakah kau malu memperkenalkan aku sebagai istrimu pada ibumu, karena aku seorang nenek-nenek”, kata Bu Ling Moy, keningnya sedikit mengkerut, tapi dimata Han Long, wajah Bu Ling Moy sangat cantik walaupun ada nada marah dalam ucapannya.
“Istriku sayang, kau jangan salah paham, justru karena aku menghargaimu, karena orang tuaku yang seharusnya memohon untuk bisa menghadap padamu, karena ibuku adalah generasi yang jauh darimu, serta tingkatannya jauh di bawahmu”, kata Han Long sambil memeluk pundak halus Bu Ling Moy.
Ucapan itu membuat wajah Bu Ling Moy merona merah, dia salah tafsir atas ucapan orang yang sekarang menjadi suaminya, kemudian dia tersenyum manis, kepalanya mengangguk,
“Itu tidak menjadi masalah, aku akan menjadi menantu yang baik, tapi…, jika aku datang di depan ibumu maka akan kacau penyebutannya, karena salah satu muridku adalah ibu tirimu, sebaiknya hubungan kita dirahasiakan didepan umum untuk kebaikan bersama, dan pula, aku tahu bahwa ada dua orang gadis yang mencintaimu, suamiku apakah kau akan menerima cinta mereka?”, tanya Bu Ling Moy dengan tatapan mata menyelidik.
Han Long menarik nafas panjang, dia tahu yang dimaksud istrinya adalah Han Eng dan Coa Leng In, dia pun sebenarnya tidak bisa menutupi perasaannya, bahwa mereka berdua memberi warna dalam hidupnya, apalagi dia mengenal keduanya sedari mereka masih anak-anak.
“Istriku, atas izin mu, aku akan melepaskan jiwaku…, biarlah jiwa kedaginganku yang akan menemani mereka, karena jika aku bersama mereka, aku takut kekuatan sejatiku membahayakan mereka berdua karena tidak seimbang dengan tingkat kultivasi yang mereka miliki, bahkan mungkin hal itu menjadi bencana atas tubuh mereka, karena tingkat kultivasi yang kumiliki terus meningkat, bagaimana mereka mengimbanginya?, terlepas dari kasih sayang yang mereka limpahkan padaku, namun aku harus melindungi mereka”, kata Han Long meminta izin dari istrinya.
Patut dipahami bahwa tingkat kultivasi Han Long, jauh diatas Han Eng maupun Coa Leng In, akibat konstitusi tubuhnya yang unik apalagi setelah dia berkultivasi ganda dengan Bu Ling Moy keduanya menikmati peningkatan yang di luar imajinasi, khususnya Han Long, dalam dirinya memiliki tiga energi murni, yaitu Energi khas klan Thian energi biru Murni, lalu Inti Energi Merah dari Danau Merah Misterius peninggalan leluhurnya Han Cui Eng dan yang terakhir dia juga berasimilasi dengan Energi Kabut Putih milik Bu Ling Moy.
Jika dia berpasangan dengan Han Eng dan Coa Leng In, dicemaskan keduanya tidak dapat menampung tiga energi tersebut karena siapapun yang berkultivasi ganda dengan dirinya akan menerima kelimpahan energi sehingga meningkatkan tingkat kultivasinya, sementara dalam tubuh Han Long berkembang Tiga Energi paling Murni, apakah daya tahan Han Eng maupun Coa Leng In dapat bertahan menerimanya?, itulah mengapa Han Long selalu menghindari keduanya agar mereka tidak terlalu akrab, namun rupanya semua sudah terlanjur, keduanya sangat mencintai Han Long.
Bu Ling Moy terdiam sejenak, lalu dia tersenyum manis, “Itu artinya hanya aku yang akan selalu bersama diri sejatimu, dan mereka akan berpasangan dengan jiwa kedaginganmu. Sebetulnya sebagai sesama wanita aku memperlakukan mereka dengan tidak adil, tapi demi keselamatan mereka sendiri, aku menyetujuinya”, jawab Bu Ling Moy sambil tangannya melingkari pinggang Han Long.
Maka setelah mendengar ucapan dari istrinya Han Long melepaskan Jiwanya.
Dari kening Han Long muncullah sosok tubuh manusia, yang tadinya hanya berupa asap, kini menjelma menjadi sosok yang sama persis dengan Han Long, seorang pemuda tampan yang gagah, Han Long mengeluarkan seperangkat pakaiannya dan menyerahkan pada jiwanya, dan sosok ini tersenyum serta matanya menggoda Bu Ling Moy, Bu Ling Moy cemberut.
“Apa kau mau menggoda istri saudaramu juga, berani kau?”, kata Bu Ling Moy pada sosok jiwa itu,
Jiwa Han Long hanya tertawa, “dia adalah aku dan aku adalah dia, apakah aku harus cemburu pada diriku?, ha ha ha…”, kata Jiwa Han Long sambil tertawa bersama Han Long sendiri.
“Aku akan membawa ayah ke tempat ibu, sebaiknya kau bawa diriku itu ke Benua Ketiga, ingat jangan sekali-kali keluar dari Benua Ketiga jika segala sesuatunya aman-aman saja”, kata Jiwa Han Long, dengan kekuatan jiwanya, Jiwa Han Long membawa tubuh Han Chen Yang melayang menghampirinya, lalu dia melompat tinggi serta jauh, lalu menghilang dari tempat itu.
Tinggal Bu Ling Moy dan diri sejati Han Long, keduanya berpegangan tangan dan,
Wusssshhhh…
Keduanya telah menghilang dari tempat itu. Jiwa Han Long membawa Han Chen Yang langsung mengarah pada komplek Istana Menara Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Jiwa Han Long sudah mencapai Tingkat Kaisar Suci yang Sempurna.
Di dalam komplek Menara Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, tepatnya dalam sebuah ruangan tempat Thian Sian Li berkultivasi, muncul sosok tubuh yang dibelakangnya diikuti sosok melayang, tubuh yang tidak sadarkan diri, Han Long telah tiba di pintu ruangan ibunya,
“Ibu, ini aku di depan pintu”, Han Long melakukan kontak jiwa pada ibunya. Thian Sian Li membuka matanya, kini Thian Sian Li sudah di tingkat Kaisar Suci Awal, dia sangat senang mendengarkan suara putranya, dia menggerakkan energi jiwanya maka pintu itu terbuka, dan masuklah Han Long dengan membawa tubuh pingsan ayahnya.
“Putraku, bagaimana keadaanmu?, dan tubuh siapa ini?”, tanya Thian Sian Li, kini Thian Sian Li berusia sekitar 40 tahunan namun tidak ada kerutan di wajahnya, malah kini Thian Sian Li makin Cantik dengan otot-otot di semua bagian yang memperlihatkan keindahan sosok wanita dewasa dan matang berkembang dengan sangat indah dan menggairahkan.
Thian Sian Li sekarang adalah makhluk abadi, wajahnya putih halus dengan rambut yang digelung ke atas khas wanita bangsawan tinggi dan memperlihatkan lehernya yang panjang serta putih tanpa cacat dengan tengkuk yang dihiasi anak rambut yang melingkar dengan halus.
“Ibu, lama tidak bertemu, ibu semakin cantik dan terlihat sangat muda, aku membawa ayah, aku ingin ibu dan ayah bersama lagi”, kata Han Long sambil menatap wajah cantik ibunya.
Thian Sian Li terdiam , dia menatap pada tubuh pria yang menelungkup, dia sudah mengenal ciri khas tubuh suaminya, sulit menerima bahwa suaminya memiliki pasangan lain tanpa persetujuan dirinya, inilah yang menjadi masalah.
”Ibu, tindakan ayah kemungkinan besar adalah akibat energi beracun di tempat itu, dan tahukah ibu, aku terpaksa melumpuhkan ayah karena ayah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, bila dibiarkan maka ayah akan hancur dan tubuhnya akan meledak, hanya diriku, energi dalam diriku yang bisa merawat tubuhnya, dan tempat yang cocok untuk merawatnya adalah dasar Danau Merah Misterius, sampaikan pada bibi Bu Mei Ling dan adikku, jika mereka mau mencari ayah”, kata Han Long, mendengar penjelasan putranya, Thian Sian Li terdiam.
Setelah lama diam, Thian Sian Li menjawab,
”Long er, bawalah ayahmu ke tempat itu, aku akan memberitahukan pada Mei Ling dan Chen Tiong, aku juga akan menyerahkan jabatanku pada Leluhur Thian Kong Jie, lalu aku akan menyusulmu”, kata Thian Sian Li.
Han Long tersenyum mendengar jawaban ibunya,
”Baiklah ibu, aku akan segera berangkat”, kata Han Long.
”Long er, tinggalkan tubuh ayahmu dulu, pergilah ke puncak gunung Thian, gadis itu setia menunggumu”, kata Thian Sian Li.
”Apa maksud ibu?, siapa yang ibu maksud?”, tanya Han Long berpura-pura.
Thian Sian Li hanya tersenyum,
”Pergilah!”, katanya.
Han Long membalas senyum ibunya dengan tertawa kecil, seketika itu juga tubuhnya telah menghilang.
Di Puncak Gunung Thian, Han Eng sedang berkultivasi, dia sudah empat tahun tinggal di puncak ini tanpa pernah beranjak, kini dia telah menjadi gadis dewasa yang matang, tingkat kultivasi nya telah mencapai Kaisar Suci Awal, sebuah tingkat yang dapat memerintah dunia, hal ini juga diketahui oleh Thian Sian Li, dan memberikan persetujuan untuk dijodohkan pada putranya Han Long.
”Adik Eng, apa kabarmu?” sapa Han Long yang muncul tiba-tiba di depan Han Eng.
Han Eng membuka mata cantiknya, kini di sinar matanya bercahaya bagai bintang, kecantikannya semakin terpancar, pipinya merona merah, bibirnya kecil namun penuh berwarna merah muda, wajah cantik ini ditopang oleh leher putih dan jenjang, serta bagian-bagian tubuh yang sangat mempesona, baik dari punggung yang tegap, dada yang membusung, pinggang yang kecil dan pinggul yang membulat, sungguh citra seorang dewi dari kahyangan tercipta di depan Han Long.
Sebaliknya bagi Han Eng, Han Long telah mengisi hatinya, terbayang di benaknya, anak yang dulu dikenal karena bertingkah bodoh dan konyol, kini menjelma menjadi tokoh muda yang sangat kuat, wajahnya tidak berhias senyum bodoh, dan matanya seperti memiliki pengaruh terhadap orang yang ditatapnya, sungguh pria yang memiliki kharisma, tampan, tinggi dan kuat, akan memberikan kenyamanan bagi setiap wanita, yang bersandar pada bahu yang kokoh dan lebar.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Han Eng menghampiri Han Long, memeluk pinggang pemuda itu dan dia menyandarkan kepalanya di dada Han Long yang tebal dan kokoh, terdengar isak tangis Han Eng di tubuh Han Long, dan Han Long pun memeluk tubuh Han Eng dengan semua perasaan yang ada dihatinya.
Kondisi ini berlangsung cukup lama, setelah menumpahkan semua emosi dihatinya, Han Eng berucap,
”Kakak Long, kita harus pergi ke Benua Merah, saudari Leng In berada disana dan beberapa kawan kita menyusup di Benua itu, lawan kita Coa Kun semakin merajalela, dia sekarang penguasa benua itu”, kata Han Eng.
Han Long menatap wajah gadisnya,
”Adik Eng, masih ada yang harus kulakukan, setelah selesai aku akan datang menjemputmu dan kita akan berpetualang bersama, serta mencari saudari Leng In”, kata Han Long.
”Berapa lama aku harus menunggu”, tanya Han Eng.
Han Long menggerakkan jari telunjuknya ke kening Han Eng,
”kau tunggu saja, juga dirimu harus mengkonsolidasikan tingkat kultivasimu, bukankah kau baru memasuki tingkat Kaisar Suci?, tadi aku meninggalkan teknikku untuk kau sempurnakan, karena teknik itu merupakan bagian dari teknik khas klan Han, dan rupanya peninggalan leluhur Han Cui Eng”, jawab Han Long.
Han Eng merasakan aliran energi di kepalanya, ada memori yang menyusup di benaknya, dan dia sudah mengenal teknik ini, tapi ada bagian-bagian yang dulu tersembunyi kini terbuka.
”Seperti yang kakak katakan, aku butuh waktu setahun untuk berlatih ilmu ini, rupanya teknik klan Han yang dulu, adalah pecahan terkecil dari teknik yang sekarang diberikan kakak Long padaku”, kata Han Eng pada Han Long.
”Baiklah, adik Eng tunggulah aku!”, kata Han Long yang kemudian tubuhnya telah menghilang dari tempat itu.
……….
Di sebuah perut Gunung ke-12, Coa Leng In berkultivasi disini selama empat tahun lebih, dengan energi yang diberikan oleh Kui Lok Mo, dia berhasil menyempurnakan teknik yang tertulis pada 12 lembar kulit binatang yaitu Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta, kini tingkat kultivasi milik Coa Leng In melesat dengan cepat, tingkat Raja Dewa ke-9 Puncak yang saat ini sedang dikonsolidasikan.
Coa Leng In membuka matanya, nafasnya berhembus dengan lembut, kulit pada tubuhnya semakin putih dan halus, matanya bagai bintang dan bersinar sangat tajam, tubuhnya tegap dengan bahu lurus, buah dada yang menonjol dengan bangga dan anggun, kakinya terpentang lurus dan panjang, dipadu dengan bentuk pinggul bulat dan besar menyangga pinggang yang sangat ramping, apa yang dipandang dari tubuh Coa Leng In adalah sosok wanita 30 tahunan yang kuat, penuh daya tarik dan menggairahkan.
Di matanya, ada tatapan membunuh dengan senyum mengejek di bibirnya yang penuh dan ranum.
”Sudah waktunya aku memburu, dulu aku diburu, kini saatnya aku membalas, hutang darah dibayar darah, kau tunggulah Coa Kun!”, katanya dalam hati.
Coa Leng In menggerakkan kakinya, tubuhnya terangkat dengan cepat, dia terbang melesat, maka dia telah menghilang dari tempat itu.
Saat ini di sebuah kota bawah tanah Benua Merah, sekelompok orang berkumpul di sebuah hunian yang berbentuk goa, terlihat orang-orang ini bergerak dengan menggerakkan beberapa kode rahasia, dan orang-orang ini sudah berkumpul di dalam goa yang dapat menampung puluhan orang tanpa berdesakkan.
”Leluhur Yap bagaimana kondisimu akhir-akhir ini?”, tanya seorang pria di seberang pria setengah baya, dia adalah Yap Kun Tek.
”Kekuatanku baru pulih setengahnya, terima kasih atas perhatiannya”, jawab Yap Kun Tek yang sekarang terlihat lebih tua.
”Saudara Wu Hong, apa kabar?”, tanya seorang pria pada pria yang baru bertanya pada Yap Kun Tek.
”Hei ternyata anda saudara Wo, apakah kau bersama adikku?”, balas An Wu Hong pada Han Wo.
”Kakak aku disini”, seorang wanita maju dan melepaskan topeng tipis berbentuk wanita setengah tua, dan tampaklah wajah cantik di balik topeng itu, dia adalah An Ling atau dulu bernama Putri Duan Ling
”Baiklah semua orang sudah berkumpul, aku minta kalian untuk melakukan misi menyelamatkan saudari Phang, aku tidak bisa melakukan sendiri, aku tahu bahwa kekuatan Istana Merah di atas kita, kita telah berusaha, namun selama ini misi kita selalu gagal, apakah ada saran?”, kata Yap Kun Tek.
Semua terdiam, mereka tahu bahwa salah satu anggota mereka tertangkap beberapa tahun lalu, segala upaya telah dilakukan namun hasilnya selalu gagal, bahkan ada beberapa orang dari kelompok mereka terluka parah.
Suasana seketika hening, tidak ada yang mengusulkan sesuatu, karena itu hal percuma tanpa kekuatan yang memadai.
Aliran udara di ruangan itu berubah, ada energi yang sangat kuat yang sengaja dilepaskan, semua orang dengan rasa cemas bersiap menantikan yang terburuk terjadi,
”Leluhur aku akan membebaskan istri pura-puramu, namun sebelumnya engkau harus pulih dulu”, sebuah suara merdu terdengar di sekitar ruangan itu namun orangnya belum muncul, menandakan seorang kultivator tingkat tinggi, yang melebihi mereka semua disini.
Semua yang hadir celingukan, mencari sumber suara itu,
Namun mendengar suara itu, dibalas oleh suara wanita lain, ”Putriku, dimana dirimu?, aku ibumu”, seru wanita disebelah An Wu Hong.
”Ibu aku datang”, seruan ini disertai dengan hembusan angin lembut, Coa Leng In muncul di tengah-tengah ruangan.
”Maafkan cara kedatanganku, Leluhur, aku berbuat seperti ini agar aku dapat mengetahui apakah ada pengkhianat di tempat kita”, kata Coa Leng In pada Yap Kun Tek dan ternyata ada tiga sosok tubuh tidak dikenal dalam kelompok ini yang jatuh tidak bergerak lagi, mati.
Yap Kun Tek hanya dapat melongo, dia sudah tidak dapat melihat tingkat kultivasi keturunannya, dia malah terkejut melihat cara datang Coa Leng In, ini adalah tingkat yang jauh di atasnya karena sosok yang mati itu rata-rata adalah tingkat Raja Dewa ke-3 yang sudah dikenal oleh mereka semua sebagai sukarelawan dari Benua Thian Agung sebelumnya.
”Leng In cucuku, bagaimana kau meningkatkan kekuatanmu?, apa yang sudah terjadi padamu?”, tanya Yap Kun Tek.
Coa Leng In menghampiri Yap Kun Tek, dengan persepsi jiwanya, Coa Leng In mengunci tubuh Yap Kun Tek,
”Leluhur, jangan bergerak melawanku, terimalah energi ini dan konsolidasikan”, kata Coa Leng In.
Seketika Yap Kun Tek merasakan aliran energi yang sangat kuat menerobos ke dalam tubuhnya, dia hanya bisa terpaku, tubuhnya yang menderita selama bertahun-tahun dimana pembuluh darah dan dantiannya mengalami kerusakan, kini sedikit demi sedikit diperbaiki oleh energi yang mengaliri tubuhnya, energi ini lebih murni dan terasa hangat.
Yap Ing mendekati putrinya, dia memperhatikan perbuatan Coa Leng In terhadap Yap Kun Tek leluhurnya, jari tangan Coa Leng In bergerak dengan lincah di sekitar punggung dan tengkuk Yap Kun Tek, dan berikutnya telapak tangan Coa Leng In menempel pada punggung Yap Kun Tek.
Sekitar satu jam berlalu, ada butir keringat halus di kening Coa Leng In, gadis itu berdiri dan mundur dari tubuh Yap Kun Tek yang masih dalam posisi berkultivasi, mengkonsolidasikan energi yang baru diterimanya, mata Yap Kun Tek terpejam, wajahnya memerah dan keriput nya sedikit demi sedikit mengencang kembali, hanya rambut di kepalanya tetap memutih, kini tampilan Yap Kun Tek seorang kultivator Raja Dewa ke-4 Lanjutan kembali seperti semula, seorang pria 30 tahunan dengan rambut seputih perak.
Coa Leng In berdiri di tengah-tengah ruangan itu, tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari sebagian tinggi wanita yang normal, memberikan kesan wibawa dan anggun, kini Coa Leng In memiliki tampilan berbeda, dia dapat disejajarkan dengan para tokoh penguasa benua.
”Setelah Leluhur Yap mengkonsolidasikan tubuh barunya, aku akan menyerang langsung ke Istana Merah, aku berharap Coa Kun dan para pembantunya melawanku, disaat itulah tim kecil yang dipimpin oleh Leluhur Yap menyusup dan membebaskan Tetua Phang”, kata Coa Leng In, matanya berkeliling pada orang-orang yang hadir, tidak ada yang sanggup melawan tatapan mata itu, semua tertunduk tanpa kecuali.
”Baiklah dalam waktu sebulan aku akan mendatangi Istana Merah, segala persiapan lakukan dari sekarang terutama posisi yang tepat dari Tetua Phang dipenjara, harus segera diketahui”, kata Coa Leng In kembali, dia mendekati ibunya dan menatap wajah cantik ibunya dengan kerinduan yang mendalam.
Yap Ing merasa bangga, kini putrinya memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi diantara orang yang hadir di ruangan ini, dengan senyum di bibir, dia merentangkan kedua tangannya dan memeluk sang putri dan melepaskan rasa rindu dan khawatir yang ditahannya selama bertahun-tahun dan An Wu Hong di sebelahnya ikut gembira, karena dia sering kali mendengar Yap Ing untuk mengajaknya mencari putrinya ini, masalahnya harus mencari dimana?, kini kekhawatiran itu sirna.
Setelah mendengar ucapan Coa Leng In, semua orang keluar dari ruangan itu dengan penuh harapan, karena di pihak mereka ada seorang yang dapat menandingi Penguasa Benua Merah, terbukti dengan teebunuhnya tiga sosok tubuh kultivator Raja Dewa yang demikian mudah dilakukan oleh Coa Leng In, sekarang setiap rencana memiliki bobot, tidak lagi seperti menyusun cerita omong kosong.
Setelah di ruangan itu hanya tinggal empat orang saja, yaitu Yap Ing, An Wu Hong, Yap Kun Tek dan Coa Leng In, Coa Leng In berkata,
”Ibu juga harus berkultivasi seperti halnya Leluhur Yap, waktu sebulan adalah cukup, aku akan memberikan sesuatu pada ibu”, kata Coa Leng In sambil tangannya mengetuk dahi ibunya dengan lembut, maka mengalirlah energi yang halus pada ibunya, ternyata Coa Leng In memberikan teknik kultivasi yang lengkap Energi Membelah Bintang agar dikultivasikan oleh ibunya.
Merasakan sebuah energi yang mengalir ke tubuhnya, Yap Ing langsung mencari posisi duduk kultivasi, dan An Wu Hong pun duduk tidak jauh dari posisi Yap Ing, Coa Leng In kini mengerti bahwa pemuda itu akan selalu mendampingi ibunya, dan dia maklum bahwa ibunya tidak sendiri lagi, dia pun setuju bila sang ibu menemukan pasangan kultivasinya dengan pria segagah An Wu Hong.
Melihat ibunya telah berpasangan dengan seorang pria, Coa Leng In melihat dirinya sendiri, dengan kultivasi yang dimilikinya, siapakah pemuda yang mau bersanding dengan dirinya?, penting baginya bahwa di dunia kultivasi, wanita seperti dia memiliki seorang pria yang sebanding atau lebih tinggi tingkatnya agar dirinya merasa nyaman, dia ingin menyandarkan tubuhnya pada sosok yang lebih kuat, dia ingin dirinya bermanjaan pada pria yang lebih hebat.
Sosok Han Long mengisi pikirannya, seorang pemuda yang sekarang menjadi tokoh super di dunia ini, pemuda yang berani menentang dua penguasa sekaligus, bukan penguasa Benua biasa, tapi Penguasa Tertinggi di Dunia Sembilan Benua, dua penguasa yang tingkatnya telah mencapai Kaisar Dewa Sempurna.
Namun dimanakah dia berada?, kawan yang dikenalnya dari masa mereka masih remaja kecil, dan sosok Han Eng pun muncul, bersama dengan Han Long ketiganya mengangkat saudara, kini dia tahu bahwa Han Eng adalah pewaris Leluhur Thian Han Ong, Tokoh tertinggi Dunia ini, dimana saudara perempuannya itu?, dimana Han Long?, Coa Leng In hanya bisa menarik nafas panjang.