Raut wajah Phang Cui Lin lelah dan tidak berdaya, tubuh yang dulu sangat menggoda kini terlihat membungkuk, pakaian penutup tubuhnya sudah robek di setiap bagian, kekuatannya terkunci, dia kini tidak jauh berbeda dengan seorang wanita paruh baya biasa, dengan guratan-guratan tua menghiasi wajah dan lehernya.
Dia terduduk lemah, tatapan matanya yang dulu tajam menghujam kini sayu dan lemah, rambutnya berwarna abu-abu campuran warna putih dan hitam, tidak ada lagi harapan dalam dirinya, hanya kematian yang menjadi tujuannya.
Dia dikurung di dalam sebuah tempat yang tidak diketahui oleh dirinya, karena ketika dia dibawa ke tempat ini, dirinya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ada beberapa penjaga diruangan itu yang dipisahkan oleh semacam dinding pembatas antara mereka dan Phang Cui Lin, ”Hei nenek tua, bagaimana keadaanmu?, jika dulu engkau mau menerima tawaran tetua Kui Look untuk menjadi pasangannya, mungkin nasibmu tidak separah sekarang”, kata penjaga itu, seorang kultivator Manusia Dewa.
”Sekarang siapa yang berminat pada tubuh tua milikmu?, aku pun jijik melihatmu”, kata penjaga lain.
”Aku heran, mengapa kita harus menjaga seorang yang tidak berharga seperti ini selama bertahun-tahun?”, kata yang lain.
”Sssttt, jangan kau ucapkan itu, jika Yang Maha Mulia mendengar ocehanmu, kematian bagianmu”, kata penjaga pertama yang tadi berbicara pada Phang Cui Lin.
Apa yang diucapkan oleh penjaga itu adalah benar, bahwa Coa Kun tidak mau membunuhnya, karena dia ingin memancing kedatangan dua saingannya yaitu Han Eng dan Coa Leng In, dia tahu hubungan Phang Cui Lin dengan Han Eng.
Phang Cui Lin adalah bekas Tetua Samudera Naga, dimana Han Eng adalah murid pribadinya, Coa Kun ingin sekali membunuh Han Eng karena gadis itu menjadi iblis di hatinya dalam peningkatan kultivasi, dia tidak akan dapat meningkatkan kultivasinya jika dia belum bisa mengalahkan iblis di hatinya, jiwanya terkunci dalam berkultivasi.
Demikian juga dengan sosok Coa Leng In, karena ketika Phang Cui Lin ditangkap oleh Kui Lok, Phang Cui Lin sedang bersama Coa Leng In.
Dengan memenjarakan Phang Cui Lin, Coa Kun tidak perlu menyerbu ke Benua Thian Agung, karena di Benua itu banyak ahli yang akan melawannya, kekuatan dirinya belum cukup, sehingga dengan keberadaan Phang Cui Lin di tempatnya dapat memancing kedatangan dua gadis yang menjadi musuh besarnya, setidaknya dia memiliki kekuatan atas Benua ini dan pasukannya.
Sementara itu di dalam Istana Merah terdapat sebuah bangunan yang cukup megah, mungkin bangunan kedua termegah di komplek Istana Merah ini dan bangunan ini adalah milik Mo Eng, atau dikenal dengan sebutan Istana Ibu Ratu Merah.
Mo Eng berkultivasi di tempat ini bersama dengan Han Ek, pria yang sangat dicintainya, dan Mo Eng pada tingkat Raja Dewa ke-2 Awal sedangkan Han Ek pada Tingkat Raja Dewa ke-3 Lanjutan, ciri khas Klan Han yang selalu lebih cepat dari manusia lainnya dan mereka telah memiliki putra yang berusia sekitar delapan tahunan bernama Mo Cun Ek.
Mo Eng sangat memperhatikan pertumbuhan Mo Cun Ek, anak ini terlahir dengan sisik ular dikulitnya ciri khas anak Ras Iblis, namun seiring dengan pertumbuhan kultivasinya Mo Cun Ek, sedikit demi sedikit, kulit di tubuhnya seperti menghilang menjadi kulit biasa pada manusia normal dan tingkat anak itu sudah menjadi Manusia Dewa ke-1 Lanjutan, namun saat ini masih ada beberapa bagian tubuhnya yang masih bersisik.
Han Ek tidak begitu peduli dengan pertumbuhan putranya, sampai dia tidak mau memberikan klan keluarganya untuk disematkan pada nama putranya, hal ini disebabkan oleh penyesalan dalam dirinya, karena oleh tangannyalah kepala klan Han, Han Wi Teng terbunuh oleh dia.
Han Ek menyadari bahwa dia sedang dicari oleh Han Eng, yang dia tahu telah menjadi pewaris tetua Thian Han Ong, penguasa Benua Thian Agung, Han Ek pun tahu bukan hanya Han Eng yang ingin membunuhnya, tapi juga bekas juniornya Han Wo yang dia tahu menjadi salah satu ahli di Benua Thian Agung.
Seorang anak berkeliaran di Istana Merah,
”Ibuuuuu…, dimana kau?”, teriak Mo Cun Ek mencari ibunya.
Mo Eng yang berkultivasi dengan Han Ek diruang rahasia membuka matanya, dia melirik pada Han Ek yang tetap tidak peduli akan sekitarnya, dia pun bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Han Ek.
”Anakku, ibu disini”, kata Mo Eng setelah dia berada di kamarnya yang memiliki terowongan rahasia ke tempat kultivasinya.
Tidak lama kemudian muncullah seorang anak delapan tahunan, Mo Cun Ek di ruang itu,
”Ibu tadi aku periksa kamar ini, apakah ibu memiliki ruang rahasia?, dan dimana ayah?”, tanya Mo Cun Ek.
”Ayah tidak dapat diganggu, kenapa kau mencari ibu?”, tanya Mo Eng.
Jika tidak ada sisik yang terdapat pada kening dan lehernya, anak ini termasuk tampan, mata anak ini menatap jernih pada wajah ibunya.
”Ibu aku selalu dikatakan sebagai anak yang tidak diharapkan oleh ayah kata saudara Cui Kun”, kata Mo Cun Ek dengan pandangan jernih pada ibunya, Mo Eng balas menatap mata anaknya.
“Semakin berani saja anak itu, dia pikir dia siapa?, nak, maka dari itu kau harus tumbuh menjadi kuat, hanya kekuatan yang dapat menyelesaikan masalah yang membuatmu menderita. Ingat hanya kekuatan, sudah waktunya kau meningkatkan terus kekuatanmu, jangankan anak kecil itu, bahkan kau dapat menguasai dunia dengan kekuatanmu”, kata Mo Eng memberikan motivasi pada anaknya tanpa menjawab ya atau tidak pada pertanyaan sesungguhnya.
Mo Cun Ek pun seperti diarahkan agar dia tidak perlu mempertimbangkan hal yang remeh seperti itu, dia pun lalu mengangguk dan pergi dari ruangan tersebut, sementara ada kilatan cahaya di mata Mo Eng dan senyum ganas menyeringai di mulutnya.
Sedangkan di ruangan lain Meng Li dan Cui Man Ek sedang melakukan pembicaraan tentang suatu informasi, bahwa akan adanya serbuan yang akan menyerang ke Istana Merah, mereka berdua sedang membicarakan tentang pelarian mereka dengan anak mereka karena yang mereka ketahui, pihak musuh datangnya dari setiap penjuru, yang mereka khawatirkan adalah keselamatan putra semata wayang mereka.
“Kakak Man Ek, bagaimana cara kita keluar dari Benua ini, setiap saluran Formasi Teleportasi dijaga oleh orang-orangnya Coa Kun?”, kata Meng Li.
“Aku akan mengusahakan dan membujuk beberapa orang penjaga, namun kita tidak dapat menentukan posisi pendaratan teleportasi itu, karena aku tidak mengerti koordinat posisi yang kita harapkan”, kata Cui Man Ek.
“Aku tidak peduli akan hal itu, yang penting kita dapat menghindari serbuan dari pihak Benua Thian Agung, yang jelas kekuatan benua itu bukan kekuatan yang ringan”, kata Meng Li, Cui Man Ek pun setuju dia lalu menggerakan persepsi jiwanya untuk memanggil putra mereka Cui Kun.
Tidak lama kemudian seorang anak berusia delapan tahunan, memasuki ruangan tersebut, ada tatapan angkuh pada anak itu, dan seringai kejam menghiasi senyum di bibirnya,
“Ayah, ibu, ada apakah?”, tanya Cui Kun.
“Ibu dan Ayah akan mengajakmu pergi, kau ikut saja tanpa bertanya”, kata Cui Man Ek.
“Ayah aku bukan anak kecil biasa, kenapa aku tidak harus tahu kemana kita pergi?, atau haruskah aku memberitahukan pada paman Coa Kun?”, kata Cui Kun dengan angkuh.
“Nak, dengarkan ibu, apa yang dilakukan oleh ayahmu demi kebaikanmu, ingat demi kebaikanmu dan masa depanmu”, kata Meng Li sambil menyentuh kepala Cui Kun dengan lembut, kasih sayang seorang ibu terhadap putranya terpancar dan meredakan kesombongan anak itu.
Baik Meng Li maupun Cui Man Ek telah mencapai tingkat Raja Dewa ke-2, sedangkan Cui Kun sendiri telah mencapai Manusia Dewa ke-1 Awal, dengan konsumsi Buah Obsidian Merah, keluarga itu memiliki konstitusi tubuh khusus yang dapat beradaptasi dengan lingkungan Benua Merah.
Cui Kun menganggukan kepalanya, dia mengikuti ayahnya Cui Man Ek dan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Meng Li, ketiganya akan mendatangi saluran Formasi Teleportasi, namun baru saja mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut sosok wanita hadir mencegat langkah mereka, sosok itu adalah Mo Eng.
“Mau Kemana kalian bertiga?”, tanya Mo Eng.
“Ibu Ratu, kami akan berjalan-jalan”, kata Meng Li pada Mo Eng.
Cui Man Ek menatap waspada, juga Cui Kun, sedangkan Mo Eng menatap tajam pada Cui Kun,
“Kalian berdua, apakah kalian lelah hidup sehingga kalian membiarkan anak kalian berani menghina putraku?”, ancam Mo Eng pada keluarga itu.
“Apa maksud Ibu Ratu, kami sama sekali tidak berani menghina pada paduka Ibu Ratu?”, jawab Cui Man Ek dengan wajah cemas.
“Hmm…, apakah begitu?, ajarkan pada anak kalian bagaimana harus bersikap, anakku adalah seorang pangeran Benua ini”, kata Mo Eng dengan mata menatap tajam pada Cui Kun, sedangkan Cui Kun hanya berani menundukkan kepala, dia sadar bahwa ucapan darinya akan menimbulkan masalah padanya.
“Putraku, apa yang telah kau lakukan?”, tanya Meng Li.
“Aku tidak melakukan apapun, apa maksud ibu dan Ibu Ratu?”, kata Cui Kun dengan pandang mata polos, anak ini masih dapat mengendalikan emosi jiwanya, sekalipun dia tahu bahwa sumber masalah ada padanya, namun dia masih berpegang bahwa pamannya, Coa Kun akan selalu membelanya.
“Cui Kun, kau harus tahu diri, putraku memiliki status yang lebih tinggi darimu, ingat itu, jika kau menyebarkan berita bohong tentang putraku, kau akan dihukum diasingkan di kawah gunung yang amat panas, mengerti!”, kata Mo Eng pada Cui Kun yang menatapnya dengan wajah polos, kecerdikan Cui Kun memang diatas rata-rata anak seusianya, dia tahu bahwa hukuman itu sama saja dengan kematian bagi anak seusia dirinya.
Mo Eng langsung pergi setelah memberi ancaman pada Cui Kun.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Mo Cun Ek, ingatlah selalu berhati-hati di Benua ini, apa yang kau ucapkan harus selalu melihat kondisi, karena disini kekuatan adalah hukum sekalipun kau selalu dibela oleh Penguasa Benua”, kata Cui Man Ek memperingati, untung bahwa Mo Eng masih mengingat hubungan diri mereka dengan Coa Kun, kalau tidak putra mereka tidak akan selamat, dan rencana mereka akan gagal untuk melarikan diri dari Benua ini.
Saat Mo Eng meninggalkan mereka, mereka bertiga melanjutkan berjalan menuju Formasi Teleportasi namun tiba-tiba,
“Coa Kun keluarlah, aku menuntut darah ayah!”, seruan suara seorang wanita terdengar sangat kuat sehingga menggetarkan dinding Istana Merah.
Dan seruan ini dibalas dengan tawa berderai dari dalam Istana Merah, “Ha ha ha…, adikku Leng In, lama tidak bertemu, rupanya engkau mengandalkan kekuatanmu untuk menemuiku, sudah lama aku menantikan saat ini”, jawab Coa KUn yang terbang melayang menghampiri sumber suara yang menantangnya.
Dari dalam Istana Merah berkelebatan beberapa bayangan orang yang langsung menuju sumber suara wanita tersebut, dimana Coa Leng In berada.
“He he he…, perhitungan Yang Mulia ternyata benar-benar membawa hasil, satu orang gadis yang cantik mendatangi kita, dan aku masih mengingat janji yang mulia untuk mempersembahkan gadis ini padaku”, kata Kui Lok.
“Adik Lok bukan hanya dirimu saja yang akan menikmati kemolekannya, aku pun dijanjikan oleh Yang Mulia”, kata Hao Sin Tek yang kemudian telah mengurung Coa Leng In sambil menyeringai buas pada kecantikan yang dimiliki gadis tersebut.
Kini Coa Leng In telah dikelilingi oleh orang-orang dari Istana Merah, jumlah mereka yang mendekati Coa Leng In sekitar dua puluh orang dan tingkat rata-rata yang mengelilingi Coa Leng In pada tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak.
“Ha ha ha…, saudara Coa Kun inikah salah satu musuhmu?, serahkan padaku dan orang-orangmu dapat duduk manis, biarkan kami menunjukkan kerja sama dengan mu dengan cara menundukkan gadis ini untukmu”, kata seorang pria yang ikut mengelilingi Coa Leng In.
“Siapa Kau, kalian tidak ada hubungannya dengan urusan ini, ini urusan pribadi”, kata Coa Leng In.
“Oh, Ho ho ho…, kami lupa. kami utusan dari benua tetangga, Benua Hu Zhao Barbar Kuno,
he hehe…, namaku Zhao Kwan, Tetua ke-2 dari Istana Kuno”, kata tokoh baru ini memperkenalkan diri.
Coa Leng In sedikit terkejut karena Coa Kun mendapat bantuan dari Benua Barbar Kuno yang merupakan benua yang terletak di sebelah selatan dari Benua Merah, konon para penghuni di benua itu terkenal dengan keganasannya dan memiliki tingkat kultivasi diatas rata-rata sama halnya dengan para kultivator di Benua Merah.
“Baiklah, aku tadinya tidak bermaksud menambah musuh namun aku juga tidak akan lari dari orang-orang yang bermaksud memusuhi kami, ingat aku utusan dari Benua Thian Agung, apakah kalian berani menghadapi konsekuensinya?”, kata Coa Leng In sedikit menggertak.
“Ha ha ha…, aku tahu tentang Benua itu, dan akupun tahu bahwa Keparat Thian Han Ong sudah mati, terus apa lagi yang harus kami takuti?”, kata salah seorang dari Benua Barbar Kuno.
Coa Leng In terkejut mendengar berita itu, dia tidak menyangka bahwa leluhur Thian Han Ong telah tiada, diapun bersiap menghadapi orang-orang ini, rencananya terganggu akan hadirnya bantuan dari Benua Barbar Kuno, dia berharap bahwa leluhurnya Yap Kun Tek telah menyusup ke penjara Istana Merah untuk membebaskan Phang Cui Lin.
Maka ketika Coa Leng In mengerahkan energi kultivasinya, disambut oleh para lawan-lawannya yang juga sudah bersiap dari tadi, langsung mengerahkan energi mereka masing-masing dan terjadi ledakan dimana-mana yang ditimbulkan oleh ledakan energi kultivasi yang serta merta mengguncang Istana Merah yang terletak di dalam tanah.
Heeeeiiiyyyaaaaa…..!!!!
Wwwwwwrrrrrrrr……..!!!!
Teriakan bergema dimana-mana, sekitar belasan orang langsung mengarahkan energi mereka mengarah pada satu tubuh yaitu tubuh Coa Leng In, sementara Coa Kun, Kui Lok dan Hao Sin Tek hanya menonton, mereka mempercayakan urusan ini pada sekutu baru mereka dari Benua Barbar Kuno.
Coa Leng In mengerahkan kekuatan energinya dan sinar cahaya yang sangat terang terpancar dari kedua tangannya, tangannya mengayun ke udara dan energi dari Teknik Badai dan Guntur Mencabik Semesta segara melingkupi arena pertempuran tersebut, energi yang dikeluarkan oleh Kultivator Raja Dewa ke-9 Puncak, menghantam sekeliling orang yang mengepungnya.
Aaagggghhhhhh…..!!!!
Ooouuuggghhhh…..!!!!
Ketika cahaya tersebut menyentuh tubuh orang-orang yang mengelilingi Coa Leng In banyak teriakan yang keluar dari mulut penyerangnya, namun Coa Leng In pun menghadapi tekanan yang sangat dahsyat, berusaha mencabik-cabik tubuhnya.
Boummm…!!!
Bentrokan energi dahsyat menerpa tubuhnya, membuat Coa Leng In terpental jauh dan menabrak dinding goa besar itu.
Sedangkan di tempat lain di penjara Phang Cui Lin, kedatangan lima sosok orang yang langsung menyerang para penjaga yang berjumlah dua belas orang, penyusup ini dipimpin oleh seorang pria berambut perak, dia adalah Yap Kun Tek yang telah tahu posisi penjara Phang Cui Lin, bersama dengan, Han Wo, An Ling, Yap Ing dan An Wu Hong, menyerbu penjara tersebut, sementara Phang Cui Lin dalam kelemahannya hanya dapat melihat rekan-rekannya membunuh sebagian besar penjaga, namun jumlah penjaga itu dua kali lipat dari penyerangnya.
“Lindungi penjara, jangan biarkan mereka mendekati sangkar penjara itu!”, teriak salah satu penjaga, yang merupakan pemimpin penjara tersebut.
“Saudari Phang kami datang menyelamatkanmu”, kata Yap Kun Tek.
“Kalian hanya berlima, pergilah ! Aku siap mati, jangan merepotkan diriku, segera pergi, laporkan pada Tetua Thian, mereka bersekutu dengan Benua Barbar Kuno”, kata Phang Cui Lin pada Yap Kun Tek dengan suara lemah seperti berbisik.
Heiyaaa…!!!
Doummm….!!!
Doummm…!!!
Yap Kun Tek segera melepaskan energi kultivasinya, dia ingin segera menyelesaikan operasi ini, apalagi setelah mendengar tentang disebutnya orang-orang dari Benua Barbar Kuno, kekhawatirannya semakin bertambah, dia ingat akan cucunya Coa Leng In yang bertarung sendirian diluar.
Argghhh…., aduuuhhh….,
Desss…, Bruggghhh…!!!
Beberapa tubuh kembali berjatuhan dari barisan penjaga yang berkultivasi hanya tingkat Manusia Dewa, sementara Yap Kun Tek adalah kultivator Raja Dewa, sedangkan orang-orang yang dibawanya rata-rata adalah para kultivator Manusia Dewa ke-9 Puncak, maka mudah saja mereka melenyapkan para penjaga ini.
Dengan cepat mereka segera membunuh para penjaga tersebut, tapi itu pun memerlukan beberapa jam karena setelah itu banyak bermunculan pasukan bantuan yang memenuhi ruang penjara tersebut dan hal ini sangat merepotkan kelompok lima orang tersebut.
Yap Ing mendekati dinding pembatas yang mengurung Phang Cui Lin,
“Leluhur, dinding ini sangat aneh aku tidak mengerti cara menghilangkannya”, katanya.
“Sudahlah, kalian cepat pergi, karena sebentar lagi akan bermunculan para kultivator yang akan mengepung tempat ini yang tingkatnya lebih tinggi”, kata Phang Cui Lin, dia lebih mengkhawatirkan rekan-rekannya.
“Ha ha ha… segala semut telah terperangkap, apa yang akan perbuat di dalam sana”, sebuah suara yang mengandung kekuatan besar, bergema di ruang penjara tersebut, mengejutkan Yap Kun Tek dan kawan-kawannya.
“Terlambat…”, desah halus Phang Cui Lin, dengan tatap mata cemas menatap rekan-rekannya.
Dan diruang itu muncul sosok tubuh pria gemuk dengan wajah yang dipenuhi dengan rambut yang tumbuh secara sembarangan di sekitar mulut dan hidungnya, rambutnya dibiarkan riap-riapan, tampilan ini sangat menyeramkan.
“Kalian telah terjebak, menyerahlah…, oh…. rupanya ada dua wanita cantik diantara kalian , ha ha ha… akhirnya aku menemukan kecantikan ini, kalian para wanita adalah milikku, kalian jangan cemas, aku Hu Sheng, salah satu tokoh terkemuka setelah penguasa Benua Barbar Kuno, akan merawat kalian berdua dan kalian para lelaki sebaiknya mati saja”, kata Pria tersebut yang bernama Hu Sheng, pada tingkat Raja Dewa ke-8 Puncak.
Wussshhh….. !!!
Tekanan udara di ruang itu seketika berubah seperti ada energi padat yang menekan Yap Kun Tek dan kawan-kawan, yang sangat payah dari kelima orang ini adalah An Ling dan Han Wo, karena mereka berdua yang memiliki tingkat kultivasi terendah, hanya tingkat Manusia Dewa ke-9 Awal.
Lima orang yang berniat membebaskan Phang Cui Lin berada dalam posisi kritis, kelima orang tersebut bernafas tersengal-sengal seperti ikan yang terlempar ke daratan.
Wouusssshhhhhhh…., Boummmmm!!!
Ledakan terjadi disaat Yap Kun Tek dan kawan-kawan tidak memiliki harapan lagi, mereka berniat meledakkan diri mereka, namun niat itu terhenti karena perubahan yang terjadi secara mendadak, terlihat orang yang bernama Hu Sheng terpental menghantam dinding ruangan yang dijadikan tempat untuk mengurung Phang Cui Lin dan orang-orang yang tadi mengiringi Hu Sheng pun terpental ke segala arah.
Sosok tubuh yang anggun melayang di udara, meluncur mendekati dinding pembatas yang mengurung tubuh Phang Cui Lin, dengan mengibaskan tangannya dinding itu seperti terurai dan menghilang sedemikian rupa, menguap entah kemana.
Sosok itu menghampiri tubuh Phang Cui Lin dengan cepat, dia berdiri di belakang Phang Cui Lin,
Cus, cus, cus…!!!
Sosok wanita ini dengan segera menotok beberapa bagian pada tubuh Phang Cui Lin, lalu tangan kanan sosok ini menyentuh kepala Phang Cui Lin,
“Bibi, maafkan Eng datang terlambat, terimalah energi ini dan teknik ini sebagai tebusan salahku”, kata sosok itu yang ternyata Han Eng adanya.
Hu Sheng bangkit kembali, “kurang ajar, siapa yang berani lancang mencampuri urusanku?, siapa kau?”, kata Hu Sheng, dari mulutnya keluar sedikit darah kental, yang membasahi brewoknya.
“Apakah Benua Barbar Kuno siap melakukan perang terbuka dengan Benua Thian Agung?”, kata Han Eng pada Hu Sheng.
Hu Sheng sedikit terkejut melihat sosok wanita yang lebih cantik dan lebih muda yang melayang berdiri di hadapannya, dia tidak menyangka bahwa yang melawannya ternyata sosok yang demikian muda, seorang gadis lagi.
“Siapa Kau? Aku Tetua ke-1 dari Istana Kuno di Benua Barbar Kuno”, kata Hu Sheng.
“Aku Han Eng, bukan siapa-siapa di Benua Thian Agung”, jawab Han Eng tenang.
“Apakah kau bermaksud ikut campur urusanku?”, tanya Hu Sheng
“Justru aku yang bertanya padamu bangkotan tua, apa maksudmu dengan kata-katamu barusan yang hendak membunuh para pria dan mengambil para wanita, aku paling membenci pria dengan mental bejat sepertimu, aku akan memberi kesempatan sekali saja , pergi dari sini atau mati”, kata Han Eng.
“Kurang ajar, sombong sekali, kawan-kawan bunuh mereka semua!!!”, kata Hu Sheng memerintahkan pasukannya.
Para pasukan yang berdiri di belakangnya dengan segera merespon perintah itu, namun semua itu adalah sia-sia belaka, karena tidak lama kemudian sekitar sepuluh orang berjatuhan dari udara dengan nyawa yang sudah melayang, dan tubuh yang berjatuhan itu, dengan kepala yang hancur, melihat hal ini Hu Sheng terkejut setengah mati diapun lalu mengerahkan energinya dan menyerang pada Han Eng namun perbuatan itu dalam sekejap menghempaskan dirinya dan dia pun hanya terbelalak dengan nyawa yang telah tiada.
sisa pasukan yang masih berada di tempat itu menghentikan gerakan mereka, nyali mereka seketika menciut melihat pemimpin mereka yang sudah tidak bernyawa, padahal tadi dengan arogan membentak kearah kelompok orang yang hanya sedikit saja, tapi rupanya ancaman Han Eng bukan omong kosong dan segerombolan orang itu pun jatuh ke tanah dan bersujud.
“Ampun Tetua, kasihani kami, kami hanya menjalankan perintah”, kata salah satu orang dalam pasukan itu.
“Pergilah kalian semua, cepat sebelum aku berubah pikiran”, kata Han Eng dirinya terlalu malas menghadapi sekelompok orang yang lemah ini.
Dengan serta merta mereka pun secepatnya melarikan diri, karena ucapan wanita itu bukan ucapan kosong terbukti pemimpin mereka langsung mati tanpa terlihat wanita itu melepaskan kekuatannya, hal itu sangat mengerikan.
Sementara itu Coa Leng In masih dikurung oleh orang-orang dari Benua Barbar Kuno, keadaan Coa Leng In semakin terdesak, sekalipun dia memiliki kultivasi pada Raja Dewa Ke-9 Puncak, namun para pengeroyok juga bukan sembarang kultivator karena yang terendah pada tingkat Raja Dewa ke-7 Puncak, dan jumlah pengeroyoknya sekitar 12 orang belum termasuk Coa Kun, Hao Sin Tek dan Kui Lok.
Keadaan yang kritis bagi Coa Leng In ini, menjadi kesempatan bagi orang yang bernama Zhao Kwan untuk mempermainkan Coa Leng In,
“Saudara Zhao Kwan, cepat tundukan wanita itu sebelum kawan-kawannya datang”, kata Kui Lok.
“Mengapa harus khawatir, kita tahu kawan-kawannya memiliki kekuatan yang lebih rendah dari gadis ini bukan?, untuk apa terburu-buru?, ha ha ha…., aku ingin mempermainkannya sepuas hatiku, jarang di tempatku melihat kemolekan seorang gadis seperti ini, aku ingin mengelus pinggulnya, apalagi bongkahan didadanya itu”, kata Zhao Kwan mengutarakan otak mesumnya, yang disambut oleh kawan-kawannya dengan tertawa terbahak-bahak.
Coa Kun sedikit mengerutkan kening mendengar ucapan dari sekutunya, dia hanya tersenyum masam,
“Saudara Zhao, jika demikian cepat kau tundukan gadis itu, dan kau bebas memiliki tubuh wanita itu jangan berlama-lama”, kata Coa Kun.
Belum habis air ludah ditelan muncul sosok pria di tengah pertempuran itu, pria ini memandang para pengepung Coa Leng In, dan ucapnya,
“Otak bejat dari Benua Barbar Kuno memang terkenal, namun karena dia adalah kawanku, maka aku akan membantunya”, kata Pemuda ini, seraya dia menggerakkan tangannya ke udara maka, para pengepung yang tadi mengelilingi Coa Leng In tiba-tiba berhenti tertawa digantikan dengan raut wajah memerah seperti menahan sebuah tekanan yang menghimpit tubuh mereka masing-masing.
“Han Long, kau Han Long….!!!”, kata Kui Lok dan Hao Sin Tek yang terkejut melihat pemuda ini, mereka berdualah yang menjadi saksi ketika Han Long menahan pukulan dari leluhur Thian Han Ong dan Leluhur Kui Lok Mo, dan hal itu menimbulkan kegentaran di hati keduanya.